Blog ini adalah blog milik pribadi, bukan milik organisasi atau lembaga manapun. Isinya beragam, cerita pendek atau novel, dasar-dasar pengetahuan dan lain-lain. No adult content. Please comment as usual, polite comment are well come.
Kamis, 24 September 2020
Kamis, 03 September 2020
Perjalanan menyusuri Payakumbuh, Bukittinggi dan Padang
Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang dan Padang
Di kesunyian dan gelapnya alam, dengan nyanyian margasatwa malam, adalah waktu ketika tulisan ini diuntai dan dipadu menjadi karangan. ditulis dengan semenarik mungkin, dengan rasa yang penuh keindahan alam karunia Ilahi.
Ada empat kota yang menarik untuk diceritakan dalam perjalanan kali ini, yakni, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Padang Panjang dan berakhir di Padang. Perjalanan yang indah menawan, terutama ketika melewati kota Bukittinggi dan Padang panjang
Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat, terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentangan alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografinya terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Di sekeliling kota ini penuh dengan tempat-tempat rekreasi indah yang menggetarkan hati. Penduduknya, terutama anak gadis dan pemudanya, menarik hati yang melihatnya karena cerdas, tampan dan cantik menarik. Salah satu orang cerdas kelahiran Payakumbuh yang melegenda adalah Tan Malaka dan dikota ini pulalah terletak musium Tan Malaka. Banyak pula terdapat lokasi rekreasi, merupakan tempat istirahat yang bagus untuk melepaskan lelah dan menghirup udara segar, yang masih bersih di lingkungan yang asri. Barangkali inilah yang menjadi inspirasi pencipta lagu Ayam Den Lapeh dari penyanyi cantik Nurseha yang pernah termasyhur di jamannya. Dikala itu, banyak orang muda yang berandai-andai, kalaulah seandainya dapat menyunting gadis Payakumbuh, yang putih bersih bagaikan bunga melati, pintar dan terampil memasak, menyanyi dan mengaji, selalu berpakaian syar'i, alangkah senang dan bahagianya jika kelak dapat diletakkan di jambangan hati.
Berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Payakumbuh terletak di pertengahan antara Pekanbaru dan Padang.
Perjalanan dari Bangkinang ke Payakumbuh memang lebih panjang waktunya, karena harus melalui jalan berliku. Dari Bangkinang lewat terowongan di desa Merangin, desa Tanjung Balit, tanjakan dan tikungan berat di daerah Rantau Berangin, Koto Kampar, Tanjung Pauh terus ke Pangkalan. Dari Pangkalan melewati Kelok Sembilan ke Payakumbuh.
Perjalanan dengan mobil di kedua tempat tersebut memang memerlukan waktu lama, kurang lebih 4 jam, karena jalannya mempunyai kemiringan tanjakan yang lumayan bersudut elevasi besar, penuh pula lika-liku jalan yang berkelok tajam dan sempit, mengikuti kontour sisi Sungai Kampar.
Apalagi di sekitar lintas kelok sembilan. Kendaraan yang datang dari kelok sembilan di atas biasanya menunggu mobil yang sedang naik ke atas dari kelok satu. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu pula, kecepatan di kedua tempat itu maksimum 25km perjam dan memerlukan waktu yang lama.
Di kesunyian dan gelapnya alam, dengan nyanyian margasatwa malam, adalah waktu ketika tulisan ini diuntai dan dipadu menjadi karangan. ditulis dengan semenarik mungkin, dengan rasa yang penuh keindahan alam karunia Ilahi.
Ada empat kota yang menarik untuk diceritakan dalam perjalanan kali ini, yakni, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Padang Panjang dan berakhir di Padang. Perjalanan yang indah menawan, terutama ketika melewati kota Bukittinggi dan Padang panjang
Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat, terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentangan alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografinya terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Di sekeliling kota ini penuh dengan tempat-tempat rekreasi indah yang menggetarkan hati. Penduduknya, terutama anak gadis dan pemudanya, menarik hati yang melihatnya karena cerdas, tampan dan cantik menarik. Salah satu orang cerdas kelahiran Payakumbuh yang melegenda adalah Tan Malaka dan dikota ini pulalah terletak musium Tan Malaka. Banyak pula terdapat lokasi rekreasi, merupakan tempat istirahat yang bagus untuk melepaskan lelah dan menghirup udara segar, yang masih bersih di lingkungan yang asri. Barangkali inilah yang menjadi inspirasi pencipta lagu Ayam Den Lapeh dari penyanyi cantik Nurseha yang pernah termasyhur di jamannya. Dikala itu, banyak orang muda yang berandai-andai, kalaulah seandainya dapat menyunting gadis Payakumbuh, yang putih bersih bagaikan bunga melati, pintar dan terampil memasak, menyanyi dan mengaji, selalu berpakaian syar'i, alangkah senang dan bahagianya jika kelak dapat diletakkan di jambangan hati.
![]() |
| Peta perjalanan Payakumbuh, Bukittinggi, Padang |
Berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Payakumbuh terletak di pertengahan antara Pekanbaru dan Padang.
Perjalanan dari Bangkinang ke Payakumbuh memang lebih panjang waktunya, karena harus melalui jalan berliku. Dari Bangkinang lewat terowongan di desa Merangin, desa Tanjung Balit, tanjakan dan tikungan berat di daerah Rantau Berangin, Koto Kampar, Tanjung Pauh terus ke Pangkalan. Dari Pangkalan melewati Kelok Sembilan ke Payakumbuh.
Perjalanan dengan mobil di kedua tempat tersebut memang memerlukan waktu lama, kurang lebih 4 jam, karena jalannya mempunyai kemiringan tanjakan yang lumayan bersudut elevasi besar, penuh pula lika-liku jalan yang berkelok tajam dan sempit, mengikuti kontour sisi Sungai Kampar.
Apalagi di sekitar lintas kelok sembilan. Kendaraan yang datang dari kelok sembilan di atas biasanya menunggu mobil yang sedang naik ke atas dari kelok satu. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu pula, kecepatan di kedua tempat itu maksimum 25km perjam dan memerlukan waktu yang lama.
| Ngalau Indah, jalan ke luar Payakumbuh terlihat dari sini. |
Melewati tempat rekreasi Ngalau Indah, kami meninggalkan kota Payakumbuh menuju Bukittinggi melalui jalan raya Bukittinggi - Payakumbuh. Kami melewati lintas Barat, dari kota Bukittinggi melewati Padang Panjang, Lembah Anai dan langsung ke Padang.
Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.
Di sisi jalan, yang biasanya banyak penjual keripik sanjai, tinggal beberapa tempat yang masih siap dan setia melayani pembeli. Biasanya kami hanya membeli oleh-oleh ini jika perjalanan kembali ke arah Pekanbaru saja.
Pohon-pohon di pinggir jalan tadinya sudah terlihat agak layu daunnya diterpa sinar matahari siang hari, mulai kembali tegak berdiri. Margasatwa senja, tonggeret, suara burung tekukur meningkahi kesunyian dengan suara khasnya. Dan tak lama, kota Bukittinggi sudah terlihat di depan. Bang supir juga menjelaskan kepada kami sedikit tentang Bukittinggi. Hari telah senja, matahari yang sedang bersiap masuk peraduannya, seakan mengintip dari balik pepohonan, dari daun yang rindang khas Bukittinggi. Taxi sengaja kami minta supaya berjalan agak perlahan, suara mesinpun lembut, karena memang lalu lintas sedang ramai, dan kamipun dapat dengan leluasa melihat-lihat ke kiri dan ke kanan, mendengar nyanyian alam senja, melihat jam gadang yang terkenal, pasar atas dan pasar bawah. Berikut ini kami tambahkan catatan tentang kota ini.
Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatra Barat. Pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia., juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah. Pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Lokasi Bukittinggi berada pada ketinggian 909–941mdpl menjadikan Bukittinggi kota berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C.

Pasar Ateh (Pasar Atas) letaknya berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatra Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.
Bang supir menjalankan mobil agak perlahan, karena dia juga maklum kami sedang menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pasar Atas, pasar bawah dan Jam gadang terlihat jelas dan kami lewati dengan tenang dan hati-hati.
Pukul 1700 kami sudah siap untuk meninggalkan kota bukittinggi, secara perlahan tapi pasti, kami mengarah ke kota Padang Panjang. Mentari senja dengan malu-malu menunjukkan dirinya kembali, margasatwa senja masih bernyanyi riang, terkadang diselingin bunyi burung lain yang kami tidak tahu dengan jelas darimana arah bunyi burung itu. Semuanya terdengar datang dari dari sela-sela daun rimbun hutan kota Bukittinggi, merupakan lagu alam yang menyambut datangnya malam..
Kota ini juga disebut kota dingin, berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, di kawasan pegunungan yang berhawa dingin dengan suhu udara yang pada umumnya maksimum 26 derajat Celsius.minimum 17 derajat, dengan curah hujan yang cukup tinggi. Di bagian utara dan agak ke barat berjejer tiga gunung: Gunung Marapi, Gunung Singgalang dan Gunung Tandikek.
Di kota ini berdiri sekolah agama Islam yang terkenal Sumatra Thawalib, yang merupakan kelanjutan dari sekolah agama yang bernama Surau Djembatan Besi yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada masa peralihan abad ke-20, Perguruan Diniyah Putri dan Pesantren Terpadu Serambi Mekkah. Selain itu juga terdapat pula Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Air Terjun Lembah Anai adalah sebuah air terjun yang terletak di Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Air terjun setinggi sekira 35 meter ini berada tepat di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi di kaki Gunung Singgalang. Air Terjun Lembah Anai merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah, anak Sungai Batang Anai yang berhulu di Gunung Singgalang di ketinggian 400 Mdpl. Air terjun ini terletak di batas barat kawasan Cagar Alam Lembah Anai sehingga suasana masih alami dengan hutan lebat serta pepohonan rimbun. Disekitar air terjun pun terdapat monyet yang yang berkeliaran. Pada saat liburan, air terjun ini dikunjungi oleh ratusan pengunjung..Airnya yang jernih berlari seakan mengejar waktu, tak mengenal lelah, mengalir menyusuri perbukitan menuju lereng, lalu mengalir terus melewati hutan Gunung Singgalang sebelum sampai di tepi tebing yang curam.
Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.
![]() |
| keripik sanjai |
Pohon-pohon di pinggir jalan tadinya sudah terlihat agak layu daunnya diterpa sinar matahari siang hari, mulai kembali tegak berdiri. Margasatwa senja, tonggeret, suara burung tekukur meningkahi kesunyian dengan suara khasnya. Dan tak lama, kota Bukittinggi sudah terlihat di depan. Bang supir juga menjelaskan kepada kami sedikit tentang Bukittinggi. Hari telah senja, matahari yang sedang bersiap masuk peraduannya, seakan mengintip dari balik pepohonan, dari daun yang rindang khas Bukittinggi. Taxi sengaja kami minta supaya berjalan agak perlahan, suara mesinpun lembut, karena memang lalu lintas sedang ramai, dan kamipun dapat dengan leluasa melihat-lihat ke kiri dan ke kanan, mendengar nyanyian alam senja, melihat jam gadang yang terkenal, pasar atas dan pasar bawah. Berikut ini kami tambahkan catatan tentang kota ini.
Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatra Barat. Pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia., juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah. Pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang. Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi oleh dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Dari dalam Taxi kami dapat melihat ke dua gunung tersebut.
![]() |
| Kota Bukittinggi |
Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Dari sektor perekonomian, Bukittinggi merupakan kota dengan PDRB (Product Domestic Regional Bruto, Indikator Pendapatan Regional Domestik) terbesar kedua di Sumatra Barat, setelah Kota Padang. Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara jam yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi Bukittinggi.
Kota Bukittinggi semula merupakan pasar (pekan) bagi masyarakat Agam Tuo. Setelah kedatangan Belanda, kota ini menjadi kubu pertahanan mereka untuk melawan Kaum Padri. Pada tahun 1825, Belanda mendirikan benteng di salah satu bukit yang terdapat di dalam kota ini, dikenal sebagai benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah stadsgemeente (kota), dan juga berfungsi sebagai ibu kota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatra, dan dikelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kota ini berada pada ketinggian 909–941 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, dari total luas wilayah Kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82,8% telah diperuntukkan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Topografinya berbukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut rebah dalam pelukan wilayah perkotaan, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan, dan sebagainya. Selain itu, terdapat lembah yang dikenal dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75–110 m, yang di dasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang. Sayang dari mobil taxi yang kami tumpangi kurang jelas kelihatan.
| Ngarai Sianok terlihat dari Panorama Bukititnggi. |
Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang. Untuk mengunjungi nagari Koto Gadang di bawah ngarai, wisatawan bisa melalui Janjang Koto Gadang. Jenjang yang memiliki panjang sekitar 1 km ini, memiliki desain seperti Tembok Besar Tiongkok.
Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan Minangkabau. Kebun Binatang Bukittinggi dan Benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.

Pasar Ateh (Pasar Atas) letaknya berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatra Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.
Bang supir menjalankan mobil agak perlahan, karena dia juga maklum kami sedang menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pasar Atas, pasar bawah dan Jam gadang terlihat jelas dan kami lewati dengan tenang dan hati-hati.
Pukul 1700 kami sudah siap untuk meninggalkan kota bukittinggi, secara perlahan tapi pasti, kami mengarah ke kota Padang Panjang. Mentari senja dengan malu-malu menunjukkan dirinya kembali, margasatwa senja masih bernyanyi riang, terkadang diselingin bunyi burung lain yang kami tidak tahu dengan jelas darimana arah bunyi burung itu. Semuanya terdengar datang dari dari sela-sela daun rimbun hutan kota Bukittinggi, merupakan lagu alam yang menyambut datangnya malam..
Padang Panjang, kota dengan luas wilayah terkecil di Sumatra Barat, memiliki julukan sebagai Kota Serambi Mekkah, dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas (Egypte van Andalas). Sementara wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar.
| Perpustakan Minang di Padang Panjang |
Secara topografi kota ini berada pada dataran tinggi yang bergelombang, di mana sekitar 20,17 % dari keseluruhan wilayahnya merupakan kawasan relatif landai (kemiringan di bawah 15 %), sedangkan selebihnya merupakan kawasan miring, curam dan perbukitan, serta sering terjadi longsor akibat struktur tanah yang labil dan curah hujan yang cukup tinggi. Namun pada kawasan yang landai di kota ini merupakan tanah jenis andosol yang subur dan sangat baik untuk pertanian.
Di kota ini berdiri sekolah agama Islam yang terkenal Sumatra Thawalib, yang merupakan kelanjutan dari sekolah agama yang bernama Surau Djembatan Besi yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada masa peralihan abad ke-20, Perguruan Diniyah Putri dan Pesantren Terpadu Serambi Mekkah. Selain itu juga terdapat pula Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Kota Padang Panjang merupakan kota yang berada pada jalur silang dan terhubung dengan jalur lintas Sumatra, berada pada posisi yang cukup strategis. Terrletak pada lintasan regional antara Kota Padang dengan Kota Bukittinggi, juga dengan Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kota Solok.
Kota ini juga merupakan pertemuan jalur kereta api dari kota Bukittinggi dengan dari Kabupaten Solok yang akan menuju Kota Padang atau sebaliknya, percabangan jalur kereta api ini terdapat pada Stasiun Padang Panjang. Ketika taksi melewati kota ini, disepanjang jalan kelihatan rumah-rumah penduduk dengan kolam dan air mancur yang menghias di depan rumah. dan ketika keluar dari kota Padang panjang, kembali hutan menyambut kami, terutama ketika meuju air terjun yang terkenal, Lembah Anai yang indah permai. Jalanan masih banyak yang berliku dan menurun.
Kota ini juga merupakan pertemuan jalur kereta api dari kota Bukittinggi dengan dari Kabupaten Solok yang akan menuju Kota Padang atau sebaliknya, percabangan jalur kereta api ini terdapat pada Stasiun Padang Panjang. Ketika taksi melewati kota ini, disepanjang jalan kelihatan rumah-rumah penduduk dengan kolam dan air mancur yang menghias di depan rumah. dan ketika keluar dari kota Padang panjang, kembali hutan menyambut kami, terutama ketika meuju air terjun yang terkenal, Lembah Anai yang indah permai. Jalanan masih banyak yang berliku dan menurun.
![]() |
| Lembah Anai dengan latar belakang Jembatan KA dan Jalan berliku |
![]() |
| Air terjun dipinggir jalan Raya |
Dari tebing ini, aliran air kemudian terjun ke dasar lembah Anai dan membentuk kolam tempat air berkumpul. Pantulan-pantulan air yang menghunjam ke air di bawah, menimbulkan titik-titik air yang sangat kecil, dapat diterbangkan angin, kabutpun tercipta. Air terjun yang berkabut membentuk gugusan indah yang berwarna-warni ketika disinari oleh cahaya mentari dikala pagi hari. Begitu cerita dari bang supir. Debit airnya cukup deras dan stabil di musim penghujan namun akan sangat deras saat hujan lebat turun. Tak jarang air terjun ini akan membuat banjir dan airnya meluap ke jalan raya.
Air Terjun Lembah Anai berlokasi di Nagari Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, berada tepat di pinggir jalan yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Bukittinggi, yang dapat kami nikamti di senja itu. Kata bang supir, untuk mencapai tempat tersebut dari Kota Padang bisa ditempuh perjalanan selama lebih-kurang 46 menit menggunakan angkutan umum, kendaraan pribadi atau kereta api pariwisata. Rumah makan di sisi jalan kelihatan tersedia areal parkir yang cukup luas. Kami tak berhenti di sini, bang supir dengan hati-hati mengarahkan taksi lanjut ke arah Padang. Lembah Anai kami tinggalkan dengan segenap pesonanya dan langsung menuju kota Padang.
Jalan yang kami tempuh sudah lebar dan jalanan mulus. Tidak banyak lagi yang dapat dicertakan pada perjalanan ini, kecuali beberapa hutan dengan rumah-rumah penduduk yang terpencar di sana-sini. Bang supir bisa ngebut dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, dan kami tiba di Kota Bengkuang, Padang, 60 menit kemudian. Persis jam mennunjukkan pukul 1845. Lampu-lapu jalanan sudah mulai dinyalakan. Kami langsung diantar bang supir ke hotel langganan kami, Hotel Machudum (kala itu, mungkin sekarang sdah tak ada lagi). Masing-masing masuk ke kamarnya, untuk kemudian berjanji mencari makan malam di sana, di sekitar hotel atau di Pasar Raya Padang yang tidak jauh dari hotel. Setelah selesai makan malam, ada sebagian teman-teman yang membeli jajanan utk dibawa ke hotel sebelum tidur, sambil menanti datangnya tugas-tugas esok paginya. The end
![]() |
| Pasar Raya Padang Thun 1985 |
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Perjalanan Dinas Pekanbaru, Rengat danTembilahan Ada lima kali kami ke Tembilahan dan Rengat ini. Yang pertama dan yang kedua adalah per...
-
BEKERJA DI TELKOM JAKARTA Kuliah di STTN/ISTN Cikini Ditempatnya bekerja, ia masih menyesuaikan diri dari seorang aktifis mahasisw...





