Senin, 23 September 2019

BEKERJA DI TELKOM JAKARTA

BEKERJA DI TELKOM JAKARTA
Kuliah di STTN/ISTN Cikini



Ditempatnya bekerja, ia masih menyesuaikan diri dari seorang aktifis mahasiswa menjadi karyawan beberapa bulan kemudian. Keluarga, istrinya masih ditinggal di Bandung. Beberapa anak buahnya adalah Puji Hartono, Edi Sumarwoto, Sutono, Astocahyo, Budiono, Indiastono, Tri Setoywati, Ani Risnawati, I Gede dan lain-lain. Sebagai calon ahli switching dot matriks, kombinasi relay mekanik dengan komponen semikonduktor, menyolder kabel yang halus pada saat mengganti relay, mengurut kabel dengan bantuan tabel komputer, ia telah dikursuskan selama sebulan setengah, dan lulus dengan predikat terbaik.
Gedung STO Gambir , tempat kerja yang pertama

Rekayasa Jaringan Kendali

Pada saat ia datang, ada masalah kesalahan pabrik pembuat sentral ini. Sentral itu sering macet alias hang atau blocking. Bisa seharian, call tak ada yang berhasil. Maklum saat itu belum ada yang ahli dalam pengoperasikan dan mencari gangguan sentralnya.

Penyebab gangguanpun dicari. Rangkaian digambar, diurut dengan tabel cetakan dari proses komputer yang lumayan tebal, lalu dianalisis apa gerangan yang terjadi. Diagram alir urutan proses di gambar untuk analisis kesalahan. Hasilnya diketahui bahwa sering terjadi proses zombie, yakni proses yang seharusnya telah selesai dan dihapus dari sistem, tapi masih terus berada dalam sistem ( menjadi bug insidental, atau mungkin bisa disebut pseudo bug) dan menghambat proses lanjutannya. 

Definisi Process Zombie

Pengertian atau definisi zombie proses adalah suatu proses aplikasi yang telah selesai dalam menjalankan suatu perintah eksekusi tetapi masih berada dalam daftar entry tabel proses. Seperti istilah zombie sendiri adalah orang yang telah mati (nyawa telah lepas dari raga) tetapi raga atau badannya masih bisa bergerak layaknya orang yang masih hidup. Biasanya di Indonesia, juga disebut Pocong, yakni orang yang seharusnya mati, tapi masih bisa bergentayangan, layaknya orang yang masih idup. Penyebabbya bisa berbagai hal, dan itu belum tentu juga kesalahan coding program (bug) dari aplikasi itu, karena tidak selalu muncul. Bisa juga suatu proses dari aplikasi yang tidak biasa, akhirnya memicu insidental bug pada operating system yang menimbulkan zombie proses. Tapi tidak bisa juga dikatakan bug dari OS, karena tidak selalu muncul, munculnya hanya jika ada trigger dari aplikasi yg berprilaku tidak biasa (uncommon process)

Dalam hal sistem sentral switching ini, zombie yang terjadi adalah: setelah penyambungan dua pelanggan terjadi selama 2 milli detik harus berakhir, baik penyambungan itu berhasil maupun gagal. Proses pemutusan atau pengakhiran proses ini tidak bekerja. Akibatnya sistem menunggu sampai proses ini berakhir, dan sebelum ada konfirmasi selesai, sentral berhenti bekerja (terjadi blocking), karena ada proses yang seharusnya sudah selesai tapi tetap dianggap belum selesai. Ini yang desebut sebagai zombie process. Penyelesaian interim yang dilakukan sebelumnya adalah dengan me’restart’ atau mengulangi proses sistem. Karena masalah utamanya belum terselesaikan, proses zombie ini sering terjadi berulang-ulang, restart ulangpun sering terjadi dilakukan berulang pula. Hal ini berakibat pada amat menyulitkan pelanggan membangun hubungan. 

Untuk memutus proses zombie ini, rangkaian pengendali waktu proses (istilah tekniknya adalah watch dog timer) harus berfungsi atau berjalan.  Dalam Kenyataannya, rangkaian pengendali waktu, atau yang disebut sebagai Zombie Process killer ini tidak ada atau tidak berfungsi. Hal ini diperbaiki dengan menambah rangkaiannya, rangkaian delay, disesuaikan dengan sistem pensinyalan dari Rekomendasi CCITT. 


Zombie Process killer model.
Setelah selesai, langsung semua panggilan cepat berhasil tersambung dan sentral tidak pernah hang atau blocking. Proses penyambungan yang seharusnya selesai paling lama 4 milli-detik dan kalau lebih diputus paksa, bekerja dengan baik.  Biasanya proses penyambungan yang melebihi empat millidetik harus diputus paksa. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh gangguan yang tidak dapat diramalkan, unpredictable disarter, atau  process zombie.

Tahun  kedua  dan  ketiga,  ada  masalah  lain  yang timbul. Ada alat sederhana yang dibuatnya
bersama karyawan lain untuk mengukur keberhasilan panggil. Istilah tekniknya SCR, Succsesful Call Ratio, yaitu perbandingan antara pelanggan yang ingin membangun hubungan dengan yang berhasil dihubungkan. Menurut pengamatan mereka, SCR ini sangat kecil, jauh di bawah angka rekomendasi, artinya panggilan banyak yang gagal. Setelah diselidiki, pengendali waktu proses selalu bekerja yang berarti panggilan sering diputus paksa dan panggilan itu gagal.  Ternyata ada kontak kerjanya yang sangat banyak menutup dan membuka sebagai kendali penyambungan, bisa mencapai 500 kali perdetiknya, sering tidak bekerja dengan sempurna akibat aus atau fong.  Relay satu strip atau kontaknya saja yang sering diganti kalau sudah aus, tapi tidak bertahan lama. Ini juga menyebabkan adanya zombie. Kerusakan ini sering terjadi, sehingga ‘relay strip’ untuk menggantinya sering kehabisan persediaan. Lalu dicari pengganti kontak dengan kombinasi rangkaian relay mekanik dengan switch transistor yang tahan terhadap keausan. Ia banyak terbantu oleh hasil kuliahnya di ISTN dalam disain rangkaian elektronik seperti gambar berikut ini.
Rangkaian transistor pengganti switch


Setelah didesain rangkaian switching transistor dengan kombinasi relay, dicoba dan diperoleh desain rangkaian yang tepat. Laporan keberhasilan dan rekomendasi disampaikan kepada atasannya, waktu itu pak Sumiardi BcTT dan pak Eko BcTT, untuk diberitahu pabrik sentral di Jerman agar diadakan modifikasi. 

Setelah modifikasi sesuai rekomendasi dari tim, akhirnya semua peralatan switching di seluruh Indonesia bekerja dengan baik dan lancar.  Pelangganpun puas, dan pertumbuhan jumlah pelanggan naik secara drastis. 
Masalah yang sudah hampir tiga tahun tak terselesaikan oleh tim vendor pabrik dari Jerman, dapat diselesaikan bersama bawahannya dengan tepat. Atasannya, termasuk tim vendor dari Jerman, sangat senang dengan penyelesaian ini. Ternyata pekerjaan ini diketahuinya sebagai ‘field study’ atau kajian lapangan yang diikutinya ketika kuliah metodologi penelitian di tingkat akhir di UPI sebelum ia ditempatkan di Jakarta. Akhir-akhir ini semenjak tahun 2000an, tindakan seperti ini bisa dikategorikan sebagai action research atau penelitian tindakan. 

Tiga tahun kemudian, ia diangkat dengan jabatan yang lebih tinggi sebagai kepala seksi. Entah kebetulan atau tidak, pangkatnya dinaikkan setahun lebih cepat. Dengan demikian ia berhak memiliki telepon dinas dirumahnya, Jalan Penggalang I, telepon yang pertama di daerah itu dengan lima tambahan tiang telepon.


Mengajar Elektronika, Fisika, Matematika dan Sistem Telex dan Telegrap


Gedung belakang STO Gambir,
kelas jauh  PAMTK/TU D2 Telkom 1977-1984
Sambil bekerja, ia juga diminta untuk mengajar lagi, yakni Elektronika, Fisika dan Matematika di D2 (PAMTK/TU tahun pertama) yang bertempat di gedung belakang Telkom Gambir, pagi hari kerja, berlangsung sampai dengan  pertengahan tahun 1984. Ia juga pernah diminta mengajar Sistem Telex dan Telegrap di Akademi Pelayaran Jalan Gunung Sahari Jakarta dan Bagian Perhubungan DEPLU di Jalan Sisingamangarja Kebayoran, dengan rekomendasi pak Eko BcTT atasan langsungnya. 


KULIAH DI STTN/ISTN CIKINI dan SRENGSENG SAWAH

Sejak akhir tahun 1979 ia mulai kuliah lagi di STTN/ISTN YAPERCI Cikini Jalan Cikini Raya pada sore dan malam hari. Sarjana Muda Teknik diselesaikannya selama di kampus Cikini.
Kampus Lama STTN/ISTN Cikini
Untuk kuliah tingkat sarjana, harus ditempuhnya sebagaian besar di kampus ISTN Srenseng Sawah. 



Kampus ISTN Srengseng Sawah
Kadang-kadang harus ke kampus baru ISTN di Srengseng dengan naik Kereta Api, dari stasiun Gambir, atau dari Stasiun Cikini menuju ke stasiun Lenteng Agung. Ia langsung berangkat dari Telkom Gambir di Jalan Merdeka Selatan setelah jam pulang kerja, pukul dua atau 14.00 sore hari. Dari Lenteng Agung dilanjutkan dengan bus ke Kampus ISTN Srengseng. 
Ketika ujian di tingkat akhir, atasannya di Kantor Telex Jakarta, pak Suroto BcTT, sangat mendukung dan membantunya. Ia dipinjami mobil dinas plus seorang supir. Ia juga di kawal oleh teman sekerjanya Pak Sobin atas izin atasannya ini. Semua untuk kepentingan ujian sidang. Sampai akhirnya lulus Sarjana Teknik di awal tahun 1984. Kepada semua yang turut membantu, atasannya Pak Suroto BcTT, rekan-rekannya sesama kepala seksi dan Kepala Sub Dinas Pendidikan dan Latihan di Wilayah Jakarta, semua anak buahnya yang telah membantunya untuk sukses, tak lupa ia mengucapkan terimakasih, semoga mendapat berkah yang setimpal dari Allah SWT.

Riwayat Keluarga di Jakarta

Inilah riwayat beberapa tahun awal keluarganya di Jakarta. Tahun 1976, anak pertamanya lahir di RS Hasan Sadikin Bandung, tepatnya 21 Juni 1976, yang mereka beri nama Anwar Rizal dengan panggilan sehari-harinya Rizal. Entah mengapa, Rizal kesehatannya amat memprihatinkan.
RSUP HASAN SADIKIN Bandung,
Tempat Rizal Lahir
Padahal sampai pada saat berumur enam bulan, gerakannya sangat lincah, sehat tak kurang suatu apa.
Ia mulai sakit, pencernaan tidak sempurna, selalu mencret terus, bahkan sampai lima kali dalam sehari semalam. Ini berlangsung kurang lebih selama enam bulan. Makannya juga tidak sempurna, dan jika sudah merasa sakit ia menangis, menyedihkan, memilukan perasaan apalagi ibunya. Kadang-kadang pada hari Minggu saat di Bandung ia berusaha menggendong Rizal dan memandanginya dengan persaan haru, karena badan Rizal sangat kurus. 

Sejumlah dokter telah dikunjungi untuk berobat di Bandung, namun sia-sia. Berat badannya tidak bertambah, bahkan sampai daerah kritis dibawah dari grafik pertumbuhan normal.  Sampai akhrinya dibawa berobat ke Jakarta, ke Dr Odang, spesialis anak dan propfesor dari UI yang buka praktek di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, sore dan malam hari. Mereka menumpang di rumah pak Zainal Solihin, adik mertua yang tinggal di Jalan Penggalang. Kadang-kadang mereka menginap di rumah kontrakan Jalan Paseban 10. 

Alhamdulillah, selama seminggu disini, di Jakarta, kesehatan Rizal membaik dengan cepat. Selera makannya meningkat pesat, dan mencretnya sudah berhenti. Rizal disarankan banyak memakan daging sapi dan sayur bayam agar dapat cepat mengejar ketinggalan pertumbuhan fisiknya. Kebaikan bi Mamah istri pak Zainal Solihin yang baik hati dan penuh perhatian selama mengasuh Rizal dan ibunya, sangat banyak membantu. Setelah merasa sehat di Jakarta, mereka kembali pulang ke Bandung kembali, karena istrinya Siti Nurhayati harus mengajar lagi. Dalam bus Rizal nangis terus, sampai supir itu berhenti sebentar di daerah Batu Jajar, Citatah. Sejenak kemudian Rizal berhenti menangis dan perjalanan dilanjutkan. Selama sebulan memang kesehatannya masih bisa membaik, akan tetapi tak lama kemudian sakit lagi. Dibawa lagi ke Jakarta dan sembuh. Ketika di bawa kembali ke Bandung dan sakit lagi, mereka berkesimpulan bahwa Rizal tidak cocok tinggal di Bandung. Maka diusahakanlah kepindahan keluarganya ke Jakarta.

Keluarga Pindah ke Jakarta

Di Bandung diurus ke Gedung Sate, kantor Gubernur Jawa Barat, untuk mengurus surat kepindahan ke Jakarta, setelah ada surat lolos butuh dari sekolah tempat mengajarnya di Bandung. 
Gedung Sate Bandung
Di Jakarta dibawa ke kantor Gubernur di DKI jalan Merdeka Selatan, dan dari Kantor Gubernur ditanya di mana tempat tinggal sekarang agar ditempatkan di SD terdekat. Karena mereka tinggal di Jalan Penggalang, maka Dinas Pendidikan DKI menunjuk dan ditujukan kekantor Pendidikan Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Waktu ini istrinya sedang hamil 4 bulan, anak yang kedua. Lalu dari Dinas Pendidikan Kecamatan Senen ditempatkan di SD Paseban 18 Petang. Kepala sekolahnya bu Anis. Alhamdulillah, urusan selesai dan awal tahun 1978 istrinya mulai mengajar.
Pada saat ditempatkan di SD Paseban, banyak guru-guru yang terkesima dengan kecantikan istrinya  ini.  Juga caranya  mempersiapkan  pembelajaran  yang diwarisinya dari SD Coblong II tempatnya mengajar di Bandung, istimewa dan lengkap sekali. 
Balaikota DKI
Ketika berangkat mengajar sore hari, berseragam putih berkerah di atas dan rok batik bawahan berwarna coklat berukiran batik yang khas, rambut berombak kadang diikat rapi kadang dilepas bagai mayang terurai, kelihatan amat serasi. Ketika itu pemakaian jilbab belum terbiasa, belum didukung oleh banyak orang seperti sekarang. Matanya hitam berbinar dengan alis yang tebal. Senyum yang selalu tertahan, amat menggoda, menggiurkan dan mengairahkan. Ia sendiri kagum melihat kecantikan istrinya itu, apalagi ketika dibandingkan dengan guru-guru yang lain.
Ketika ada penataran P4, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, tahun 1980, ada seorang guru laki-laki temannya sesama peserta tergila-gila kepada istrinya ini. Sampai pernah mengirim sekotak alat tulis yang lumayan bagus bagi seorang guru ketika itu. Ia pernah datang ke SD Paseban 18, khusus menanyakan istrinya itu, tetapi kepala sekolahnya, Bu Anis,  langsung mengusirnya. 
SDN Paseban 18 Jakarta Pusat.

Ia tak sudi rumah tangga anak buahnya sebagai guru dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai suaminya, ia tidak banyak bereaksi yang berlebihan, karena ia yakin, cinta istrinya kepadanya bukanlah cinta loyang, tapi cinta dengan emas dua puluh empat karat. Murni, tak berbasa-basi, sepenuh hati. Teman-temannya guru di sekolah dan kepala sekolah atasannya merasa bangga kepadanya dan selalu juga melindunginya dari godaan-godaan itu.

Pada mulanya mereka mengontrak di Jalan Paseban 10 sampai Agustus 1978. Selama dua tahun mereka disini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Masak susah, air juga susah, termasuk menyuci pakain Rizal kecil. Cuma untuk membeli makanan, agak gampang. Pernah sekali, Ntat menggendong Rizal tengah malam, kira-kira pukul sepuluh, hanya untuk membeli sekotak obat nyamuk, saking banyaknya nyamuk dirumah malam itu. Kalau pagi, mereka sering membeli sop kaki sapi Salemba Tengah, Mencos,  dekat masjid yang terkenal enak dan lezat.

Mereka ditemani seorang pembantu bernama Sumi, orang dari Garut. Kemudian pindah ke Jalan Penggalang dirumah yang agak besar. Karena Sumi ingin pulang kampung, mereka ditemani pembantu Bi Iyah seorang perempuan tua, berumur 36 tahun dari Tangerang. Karena bi Iyah sering sakit, ia mengundurkan diri. Kemudian mereka mencari lagi pembantu dengan bantuan Aming, lalu didapatkan seorang perempuan muda berumur 15 tahun dari Subang, Yayat namanya. Lumayan, ia bisa bertahan sampai tiga tahun, sebelum akhirnya Yayat mengundurkan diri dan kembali ke Subang, kabarnya akan menikah. Penggantinya adalah bi Tikah, dari Bandung, orang Garut, diusahakan oleh ibu mertua dari Bandung. Bi Tikah bertahan sampai tiga tahun, dan ia berhenti karena menikah, ketemu jodoh pedagang sayur di Jakarta sesama orang Garut.

Tanggal  6  Desember 78  sore dengan taksi, istrinya di antar ke  RS  Budi  Kemuliaan di Jalan Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, karena kehamilan sudah 10 hari lebih dari sembilan bulan. 
RS Budi Kemuliaan Jakarta,tempat Dian Lahir
Esok harinya, setelah ditunggui semalaman, tanggal 7 Desember 1978, Dian Hidayati lahir, ditengah-tengah kota Jakarta yang sedang banjIr. 


Seorang bidan yang bermarga Silalahi, memperkenalkan diri, mengingat ia bermarga Silalahi juga. Jadilah bidan Silalahi ini menjadi penjaga istrinya yang lagi melahirkan itu dengan perhatian khusus. Karena saat itu pangkatnya masih rendah, maka ia mendapat fasilitas perawatan kelas dua. 
Yang menjaga Rizal di rumah adalah adiknya Nurbaya, demikian pula untuk membawanya berkunjung ke RS Budi Kemuliaan. Dian baru diperbolehkan pulang ketika banjir sudah surut, lima hari kemudian. Rumah mereka juga kebanjiran, tapi mereka masih bisa tinggal di atas tempat tidur, esok harinya banjir surut. Silaturahmi dengan bidan yang pernah mengasuhnya masih diteruskan, sampai enam bulan kemudian terputus, mungkin karena bidan ini telah menikah. 


Sekolah anak-nakak

Tahun 1977, ketika Rizal dibawa ke Jakarta masih berumur setahun. Tahun ketiga, Rizal ikut TK Al Hikmah di Tegalan di pagi harinya. Setelah berumur 4 tahun, ia ikut ibunya yang mengajar di Paseban 18 petang. Pagi di TK dan siang ikut ibunya dikelas satu. Karena kelihatannya ia mampu mengikuti pelajaran, maka dibuatkanlah rapornya, dan resmilah ia menjadi murid termuda di SD Paseban 18 petang. Ia mengikuti sekolah disini sampai umur 7 tahun, sebelum ikut pindah sekolah ke Pekanbaru. Tahun 1981, Dian diikutkan ke TK Hikmah, tidak tammat, karena harus ikut ibunya ke sekolah. Tahun kelima Dian ikut juga pindah ke Pekanbaru masih tetap kelas satu. 


RSIJ Cempaka Putih, tempat kelahiran Emil..
Emil Hilman Lahir

Bulan-bulan berlalu, susul menyusul, hingga bertemu lini masa, titik ujung waktu dua setengah tahun. Kegiatan rutin terus dilakoni, menjaga sentral berfungi dengan baik, interface dengan sistem data billing recorder terus diperbaiki dan akhirnya bisa di implementasikan. Tati masih terus mengajar, sampai umur kehamilan 8 buan.  Untuk menghindari terjangan banjir ke rumah, seperti saat kelahiran Dian dan menjelang kelahiran Emil, mereka pindah rumah lagi ke Jl. Penggalang I. Airnya sumurnya bersih, WCnya juga lebih bagus dan berada dalam rumah dekat dapur. Pada musim hujan bulan Desember 1981 banjir yang datang tidak lagi masuk rumah kontrakan baru mereka.

Tangal 22 Febriari 1980, ia mengantar Tati dengan taksi, istrinya, ke RSIJ Cempaka Putih, karena sudah saatnya akan melahirkan. Tati minta dikirimi bunga dan dipesan sama abang toko bunga untuk dikirim ke kamar bersalinnya. Keesokan pagi harinya Emil lahir. Rizal dan Dian ditinggal di rumah, sampai hari kedua baru dibawa ke RS.  Rizal kelihatan gelisah, mendadak Dian juga menjadi cengeng, kelihatan ingin jumpa mamahnya. Saat itu Dian masih suka mabuk kalau naik mobil. Ketika naik taksi ke rumah sakit, kelihatan pucat mukanya. Setelah jumpa mamahnya barulah kelihatan Rizal dan Dian gembira lagi. Pulang dari Rumah Sakit, di depan Pasar Pramuka Jakarta mereka bertiga turun, karena kelihatan Dian berkeringat karena mabuk naik mobil taksi. Lalu mereka berjalan kaki kerumah, karena memang rumah mereka sudah dekat, di belakang Pasar Burung. Hari ketiga Emil boleh pulang sambil dijemput Dian dan Rizal. 

Seminggu kemudian ada masalah dengan kesehatan Emil, dan terpaksa di rawat inap lagi di RSIJ Cempaka Putih selama lima hari. Dan akhirnya diperbolehkan pulang. 

Ayahandanya Wafat 
Pekuburan Muslim Jl. Pane Pematangsiantar

Tahun 1982 ayahandanya wafat, setelah menderita sakit berkepanjangan. Ia harus pulang. Dari Jakarta ia langsung berangkat ke Medan naik Pesawat Garuda, dilanjutkan dengan taksi ke Pematangsiantar. Ia masih sempat memandikan dan menjadi imam shalat jenazah ayahnya sebelum dikebumikan di pekuburan Muslim Jalan Pane. Neneknya, guru ngajinya dan tetangga dekat, pak B Tambunan, membimbingnya menjadi imam shalat jenazah ini.

Demikianlah kehidupan rutin mereka, mengurus anak-anak yang sakit, sekolah, rekreasi dan bermain. Ia tetap kuliah sore dan malam hari di STTN/ISTN di Jalan Cikini Raya sambil bekerja, dan Tati tetap mengajar di SD Paseban 18 Petang (namanya dulu). Tahun 1984 ia lulus ujian lokal di ISTN Cikini, juara lagi. Sampai akhirnya setelah 9 tahun di TELKOM Jakarta, tahun 1984 ia harus pindah atau alih tugas ke Pekanbaru.***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar