KEGIATAN KULIAH, ORGANISASI INTRA DAN EXTRA
IKIP/UPI tahun 1971-1973
Dari catatan yang ada dalam buku agenda hariannya, semua dikerjakannya dengan sungguh-sungguh. Untuk menambah kesehatannya dan juga meningkatkan kepercayaan dirinya ia juga mengikuti latihan bela diri, pencak silat, dengan mengambil waktu disela-sela kegiatannya. Kalau sudah kehabisan ongkos, ia harus berjalan kaki dari Masjid Assyifa Fakultas Kedokteran UNPAD di Jalan Pasir Kaliki (sebelum berubah menjadi paviliun RSHS Parahiyangan yang sekarang) ke kampus barunya di kompleks FKIT-IKIP Jalan Setiabudhi Bandung. Hal yang sama ketika ia berjalan-jalan di kampung dekat sawahnya dulu ketika ia mengasuh adik-adiknya terulang lagi. Melipir sisi Sungai Cibarengkok, menyusuri jalan setapak dibawah pohon-pohon bambu yang rindang,
![]() |
| Terong lalap hasil kebun |
Ketika sudah tiba di Kampus UPI/IKIP di Jalan Setia Budhi, ia betah berlama-lama disini menikmati indahnya kampus. Ia bisa diskusi di seputar kampus atau di sekretariat Dewan Mahasiswa berjam-jam lamanya, karena banyak teman-temannya dari Fakultas lain.
Sekretariat IKIP/UPI ada di Gedung Isola, halamannya dipenuhi pepohonan yang rimbun. Rektor dan pembantunya berkantor di gedung ini.
Didepan gedung Isola ada kolam dengan air mancur yang jernih, sedikit bunga teratai yang terawat dan beberapa jenis ikan warna-warni. Di sisi kolam banyak tempat duduk yang dinaungi dedaunan pohon yang rimbun menghijau.
![]() |
Kabut pagi di ISOLA IKIP/UPI Bandung |
Di tengah-tengah kampus berjejer seluruh fakultas yang ada. Dari pintu gerbang dari arah Fakultas Teknik, sebelum mencapai deretan bangunan fa-kultas tadi, ada gedung olah raga bola basket yang sering dipakai untuk wisuda.
Di ujung jalan ke arah Barat ada Asrama Putra. Tidak jauh dari sini ada Asrama Putri.
![]() |
| Gedung ISOLA UPI IKIP Bandung |
Ia juga aktif di Organisasi Mahasiswa Intra, di FKIT ia menjadi Ketua I (satu) Senat Mahasiswa, dan di Dewan Mahasiswa, ia aktif di biro pers, membantu kordinator peliputan tiap fakultas. Senat Mahasiswa FKIT juga mengeluarkan majallah, ia sendiri sebagai pemimpin redaksinya. Karena itu selalu ada saja temannya berdiskusi atau bercanda ria, gaya mahasiswa. Bisa serius, tapi bisa juga berubah menjadi santai.
Ketika akhirnya jam telah menunjukkan pukul tiga, saat turunnya embun senja membawa dinginnya udara di pohon-pohon cemara sekitar Kmpus IKIP/UPI, iapun kembali pulang. Kalau nasibnya mujur, ia mendapat tumpangan ke rute terdekat ke Sukajadi.
Kalau tidak, ia mengikuti rute saat ia pergi, agar tidak banyak dilihat oleh teman-teman mahasiswa yang lain. Begitulah kegiatan hari-harinya ketika menjadi mahasiswa UPI/IKIP dulu.
![]() |
Gerbang Upi dgn latar belakang pohon cemara |
Siti Nurhayati, atau yang biasa dipanggil Tati, aktivis PIIwati seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ikut mendaftar di IKIP/UPI tahun 1972. Karena Siti Nurhayati mengajar pada hari-hari biasa, ia mengambil kuliah tiap Sabtu Sore dan Minggu. Ia sering membantunya menuliskan karangan dan membantu tugas-tugas perkuliahan. Sayang kuliahnya tidak sampai selesai.
Organisasi Pelajar Extra
Organisasi Pelajar Islam dikelolanya dengan senang hati. Karena ia merasa ini adalah tantangan dan juga bagian tanggung jawabnya pada Ilahi, Tuhannya, Sang Penebar kasih sayang dan Pelimpah rahmat. Ia yakin, Allah tidak akan membebani seseorang kecuali ia mampu mengerjakannya, tidak terkecuali dirinya. Perjalanan yang dulu dilaksanakannya bersama Yuyun dalam rangka penyelamatan organisasi kini terulang lagi, Sukajadi-Cihampelas-Manteos-Cisitu dan Dago. Bisa naik angkot atau berjalan kaki. Ia mengatur dan mengendalikan kegiatan, disesuaikan dengan program kerja. Ada program Basic Training, ada perlombaan nyanyian atau pasanggiri lagu-lagu Sunda.
Dari buku agenda hariannya, ia bisa mengatur kegiatan yang lokasi dan tujuannya searah, sehingga dalam hari yang sama, ia bisa melakukan kegiatan yang lebih banyak atau lebih maksimal. Entah kenapa, kadang-kadang atau bahkan secara tiba-tiba, wajah Tati muncul dalam ingatannya. Kalau sudah begini, hatinya berdebar-debar. Ia merasa rindu, tapi ia selalu mengingkarinya, karena seperti sudah disadarinya, ia adalah pemuda yang tidak tampan, apalagi menggiurkan dan mengariahkan. Ia adalah pemuda miskin kemasan, tidak pantas untuk mendekati Tati. Setiap mengucapkan atau ingat nama Tati, hatinya berdebar, jantung bergetar.
Yang sering dirasakannya adalah, jika bertemu di rumahnya di Dago Coblong, ia pasti disuguhi makan. Tidak seperti yang lain, Yuyun misalnya, jarang sekali ditawari makan. Bapak Kyai udah mulai curiga, lalu berkata sambil tersenyum,
“Nahanya, ari Nur’aen sok disuguhan, ari nu sejen mah tara”, godanya suatu ketika kepada Tati. Tati kelihatan senyum tersipu, tidak jelas apakah senang atau malu. Nur’aen adalah namanya versi aksen Sunda.
Ia sendiri tidak mengerti, mengapa Bapak Kyai juga sangat baik kepadanya, dan percaya sepenuhnya. Berbeda dengan temannya yang lain, Bapak selalu sedikit lebih keras mengawasinya. Begitu juga ketika ada tugas perkuliahan, mereka diijinkan untuk mengetik berdua ditemani adik Tati yang masih kecil, di lantai dua kelas sekolah, gedung SD Lama yang sekarang dipakai kantor guru. Pernah juga ditawarin jas Bapak untuk dipakai pulang ke Sukajadi karena udara dingin dan hujan bisa jadi turun di jalan. Mengapa Bapak sayang dan percaya penuh kepadanya, yang ia tahu ini adalah salah satu misteri Kemaha Tahuan Ilahi yang tak ada apa-apanya jika dibanding dengan pengetahuan manusia.
Begitulah, keadaan ini terus menjadi baik terhadap jalannya organisasi, juga karena dukungan adik-adiknya teutama Eni S. Dukungan ibu, tidak kalah besar dukungannya. Kalau ada acara di sekolah SMP Darul Hikam Dago, maka ibulah yang menyediakan konsumsinya. Biaya yang tidak seberapa, selalu digenapi ibu selagi ibu masih punya. Ibu tak pernah berbilang jasa.
Kalau akan pergi belanja keperluan TK Bukit Dago ke Jalan ABC, ia selalu dipercaya dan di izinkan pergi berdua, bertugas menjaga, menemani dan membantu.***
![]() |
| Jl ABC Bandung |






Tidak ada komentar:
Posting Komentar