Jumat, 30 Agustus 2019

INDAHNYA LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR

Lanjutan cerita Ratna Mutu Manikam (4)

SEKOLAH DASAR




Pada saat berumur tujuh tahun ia di daftarkan ke sekolah SD swasta di depan rumah Nenek Dahlan yang dijalan Pattimura. Kelas satu SD, ia belum mengerti apa-apa, kecuali menangis, untuk menyatakan maksudnya. Karena ayah-ibunya tidak bisa menemaninya di sekolah, maka kalau ia akan ingin melakukan sesuatu terutama jika ingin buang air, ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ia hanya menangis, tidak ada yang mengerti. Satu bulan lamanya keadaan itu terus menerus terjadi. Bulan kedua ia diingatkan ibunya, jika ingin sesuatu, katakan kepada encik guru. Setelah itu barulah keadaan membaik. Ia mulai bisa menyesuaikan diri. Tak lama kemudian, tidak sampai setahun, sekolah itu bubar, tidak jelas penyebabnya apa. Mungkin izinnya belum ada. Atau pengurusnya sudah tidak bisa bekerja bersama lagi. Lalu ia pun didaftarkan ke sekolah negeri, tapi telah terlambat, iapun harus menunggu. Tahun depannya barulah ia bisa menikmati sekolah di SD Negeri. Hatinya gembira bukan alang kepalang dan senangnya bukan main.
Sekolah di kampung halaman semasa kecil di Pematangsiantar memang sangat menyenangkan. Ia sangat menyenangi alam sekitar rumah dan sekeliling sekolahnya. Sekolah SD Negeri 18 (waktu itu namanya adalah sekolah rakyat, SR) tempat dimana ia bersekolah, dibangun sederhana dan bersahaja, tapi waktu itu sudah cukup baik. Salah satu tempat sekolah SD terbesar saat itu, karena di tempat lain di sekitar kampung-kampung terdekat belum ada sekolah seperti sekarang. Muridnya sangat banyak sehingga ada empat  sekolah dasar yang bertempat di sekolah ini. Atapnya terbuat dari seng, berlangit-langit papan, dindingnya dari papan terpilih dicat putih luar dalam. Lantainya sudah disemen. Lapangan bermainnya sangat luas, ada satu setengah kali luas lapangan sepakbola. Lapangan ini sudah ditata sederhana tapi rapi. Pagarnya lamtoro gung, ada lapangan tanah khusus untuk bermain yang perlu lapangan mendatar dan tidak ditumbuhi rumput, seperti bermain kelereng dan lain-lain. Ada lapangan khusus untuk upacara, lengkap dengan tiang benderanya. Kelasnya ada duabelas, ruang kantor ada empat dan kakus atau WC juga sudah tersedia. Bangku sekolahnya khas jaman dahulu, meja dan bangku untuk dua orang, terbuat dari papan yang cukup tebal. Papan tulisnya masih bercat hitam yang belum ada cacadnya, sehingga kalau dipakai menulis masih sangat jelas. Meja guru tersedia dengan meja kerja yang kuat, dan satu lemari untuk menyimpan segala peralatan kelas.


Cempedak
Sekolah ini dibangun bersama pembukaan pemukiman dan perumahan baru disana. Tak heran, pada tahun-tahun pertama sekolah, perumahan masih sepi penduduk. 
Yang ada disekitarnya adalah hutan semak belukar diselingi beberapa pohon kelapa, petai, mangga, cempedak, manggis, salak, jambu pasir atau jambu kelutuk, jambu air dan jambu bol.Ada pohon durian. Ada juga pohon zirsak, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai durian Belanda. Disana sini tumbuh petai cina dan  pohon tebu. Tebu merah ini rasanya manis dan segar. 



Pohon Sirsak
Jalan-jalan belum diaspal, masih dilapis batu cadas yang bersusun kasar dan belum diberi nama, hanya disebut dengan lorong satu, dua, tiga dan seterusnya. Begitu juga rumah penduduk masih jarang. Di belakang sekolah mengalir sungai kecil bernama Bah Sorma, tempat bermain air dan mencari ikan bersama-sama temannya dikala waktu senggang, biasanya setelah pulang sekolah. Di arah Barat, sekolah langsung berbatasan dengan jalan. Gerbang atau pintu utamanya tebuat dari bambu, menghadap ke Utara, agak kesudut Barat. Di halaman belakang arah ke Timur ada sebatang pohon mangga yang besar dan daunnya sangat lebat, berada di dalam pagar sekolah. Bersebelahan di luar pagar ada pohon mangga yang lain milik penduduk setempat tetapi daunnya terpisah, sehingga menyulitkan monyet untuk datang ke pohon ini. 

Bermacam burung sering hinggap di sini, terutama dipagi hari, saat tinggi matahari di ufuk Timur masih sepenggalah sampai tepat diatas ubun-ubun, atau pukul setengah tujuh pagi sampai pukul sebelas menjelang siang. 



Gamar 23.  Burung Kacer


Gambar 22. Burung Punai












Ada burung punai, burung murrai, burung kacer, burung perkutut, burung tekukur, burung pipit dengan sarangnya, kadang ada berpasang-pasang burung cucak rawa. Para murid sering menyebutnya burung cerocok. Sesekali muncul juga monyet, terutama pada musim buah mangga dan sekolah sedang libur. 



Gamar 24.  Tupai Dahan


Gambar 25. Tupai Kelapa
Yang hampir tiap hari ada adalah bajing atau tupai. Ekornya bagus, kalau melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, ekor ini berputar-putar bagaikan baling-baling untuk menjaga keseimbangan. Bajing sanggup melompat dari pohon pinang yang tingginya dua puluh meter ke pohon mangga yang tingginya delapan meter. Ketika hari menjelang senja, juga terdengar nyanyian burung tekukur bersahut-sahutan dengan burung tekukur di pohon-pohon lain dari kejauhan, dari luar pagar.

Pada waktu musim mangga, buahnya sangat lebat, tetapi karena tidak ada yang memanen, buahnya banyak berjatuhan ke halaman sekolah, ada yang masih baik matang di pohon, tapi kebanyakan bekas dimakan tupai, kalong dan kadang-kadang monyet atau busuk di atas pohon. Sesekali ada juga anak-anak yang memanjatnya untuk mengambil buah mangga ini, tapi tidak banyak karena batang pohonnya besar, dahan dan rantingnya rimbun sehingga sukar mengambil buahnya tanpa alat khusus berupa galah bambu. Galah bambu ini yang ujungnya dianyam bagaikan keranjang kecil untuk menampung buah-buahan yang dikait. Ketika buah mangga terlepas dari rantingnya akibat kaitan galah, lalu jatuh ke dalam keranjang ini. Di bawah pohon ini murid sering bermain-main, diantaranya bermain kelereng, agar tidak diterpa panas sinar matahari siang hari.


Gambar 26. Pohon mangga berbuah
Di kompleks ini ada empat Sekolah Dasar, yakni SD 9, 18, 27 dan 30. Konon kabarnya pernah mencapai enam sekolah dasar dengan bangunan gedung bertingkat. Ia sendiri bersekolah di SD 18. Pagar sekolah mereka adalah pohon lamtoro gung (murid menyebutnya pohon sengon), yang ketika ada kerja bakti untuk menghadapi hari-hari besar Nasional, tiap murid diwajibkan membawa sebatang lamtoro gung untuk dijadikan pagar. Jadilah sekolah SD yang berpagar lamtoro gung, kecuali kearah Selatan langsung berbatasan dengan sungai Bah Sorma. Ke arah sungai ini ada pohon bambu dan tebingnya curam, hampir tegak lurus. Juga ada semak belukar dan tumbuhan sanggar yang batangnya sering dipergunakan untuk membuat kerangka perangkap dan sangkar burung pipit. Kerangka ini kemudian diberi dinding dari lidi daun kelapa atau bambu yang diraut menyerupai lidi. Diseberang sungai Bah Sorma banyak ladang penduduk dengan bermacam aneka tanaman keras, diantaranya pohon petai, kelapa, salak, rukam, jambu-jambuan, pisang, langsat atau duku, rambutan, mangga dan lain-lain. Lingkungan yang sangat lestari. Lokasi seberang sungai ini bukan lagi masuk  kampung Tomuan, tapi sudah masuk ke kampung tetangga, kampung Lapangan Bola.

Di luar pagar Timur, berdekatan dengan pohon mangga sekolah ada pohon rambutan hutan, batangnya besar karena sudah lama tumbuh disana. Buahnya besar-besar tapi isinya kecil, karena kulitnya sangat tebal. Rasanya juga hambar, terkadang juga asam, walapun sudah cukup matang yang ditandai dengan kulitnya berwarna merah kecoklatan. Dan juga tidak lekang dari bijinya. Sangat jauh berbeda dengan rambutan Binjai yang terkenal itu. 

Gambar 27. Pohon Rambutan Hutan
Masih berdekatan dengan pohon rambutan ini, tumbuh beberapa pohon kelapa yang sudah tinggi, juga banyak tandan buahnya, jarang dipanen kecuali jatuh sendiri setelah buah kelapanya cukup tua. Di atas pelepah daunnya banyak sarang burung tempua yang bergelantungan, indah dipandang dari kejauhan. Ia sering mengamatinya dan kalau sempat dibawanya pulang untuk melihat keindahan sarang ini. Sarang yang unik, karena masuknya burung dari bawah sarang, terutama yang betina, yang oleh burung ini juga dianyam dari bahan ilalang dan rerumputan lain sebagai pipa jalan masuk dari arah bawah.


Gambar 28.  Sarang burung Tempua
Kira-kira satu jengkal, lima belas sentimeter panjangnya, bergaris tengah enam sampai tujuh sentimeter. Lalu membelok ke kiri atau ke kanan masing-masing membesar kearah salah satu sisi kurang lebih sampai satu jengkal, tempat burung itu bertelur dan bernaung di malam hari. Lalu mengkerucut ke atas yang panjangnya juga kira-kira duapuluh lima sentimeter. Sarang ini bergantung pada pelepah kelapa, atau bisa juga di dahan pohon lain. Biasanya titik simpul gantungan agak mendekat kearah batang, dengan tali anyaman yang dikerjakan oleh burung tempua itu sendiri. Kalau digambarkan terlihat seperti gambar 14 di atas. Sarang berung tempua di alam terlihat pada gambar 15. Panjang tali gantungan bisa sampai lebih dari empat puluh sentimeter yang juga dianyam oleh burung ini dari bahan rerumputan dan ilalang. Kalau angin bertiup kencang, sarang inipun ikut  bergoyang sesuai irama tiupan angin yang menerpa pelepah pohon kelapa atau batang pohon. Tidak terlampau besar goyangannya karena sarang ini bergantung di pelepah yang dekat dengan batang tapi aman dari gangguan binatang lain. Secara instink atau naluriah, burung ini memilih pelepah kelapa yang seumur dengan usia sarang atau usia burung itu sendiri. Sarang yang sudah usang dan tak terpakai lagi, akan jatuh bersama jatuhnya pelepah daun kelapa yang  tua.




Gambar 29. Sarang burung tempua di alam bebas

Saat itu, masih banyak jenis burung yang lain seperti murrai batu, elang Sumatra, burung puyuh, burung pipit kepala putih, ayam hutan dan lain-lain di hutan di belakang rumah ini. Kini hutan itu telah berubah menjadi perumahan dan padat penduduk.
Burung-burung ini sudah langka dan sudah jarang, bahkan tidak pernah lagi kelihatan di Pematangsiantar. Kalaupun ada hanya di hutan dan kampung di sekitar Kabupaten Simalungun atau wilayah Sumatera lainnya. Ia pernah melihat sarang burung tempua di hutan belantara di pinggir jalan Pekanbaru-Taluk Kuantan, Propinsi Riau, saat bertugas disana tahun 1987 silam. Populasinya banyak terdapat di Sumatra Timur yang berbatasan dengan Propinsi Riau. Di sepanjang jalan dari Kota Pinang ke Bagansiapiapi kita dapat  menikmati pemandangan sarang burung tempua bergelantungan di pohon kelapa atau kelapa sawit.
******

Minggu, 25 Agustus 2019

MUTIARA KISAH KASIH KELUARGA

Lanjutan Cierta Ratna Mutu manikam (3) 

MUTIARA KISAH KASIH KELUARGA




Nurain, demikian ia diberi nama oleh ayah-ibunya, dilahirkan di pengungsian, di Kecamatan Siantar Marihat, kampung Silau Malaha. Nama yang baik, yang berati cahaya mata, mungkin dimaksud dan doa agar ia menjadi cahaya mata ayah-ibunya kelak. Ayahnya bernama Nurdin Silalahi dan ibunya Nurmiah Saragi. Ia adalah anak yang pertama atau paling besar. Pekerjaan kedua orang tuanya adalah berdagang sayuran di pasar tradisional, ‘Pajak Horas’ begitu penduduk Pematangsiantar menyebutnya. Terakhir setelah pasar itu terbakar, mereka beralih perkerjaan, kembali bertani di sawah mereka.
Mereka bersaudara ada sebelas orang, yang masih hidup sebanyak tujuh orang termasuk dirinya. Ada empat adiknya yang telah meninggal dunia. Yang pertama adalah mendiang almarhum Sain, ia tidak pernah mengenalnya. Yang kedua almarhumah atau mendiang Nurhayati yang sehari-hari diasuh dan dibawanya kemana-mana. Yang ketiga mendiang Misnah Addrah dan yang keempat meninggal ketika masih berumur dibawah setahun, keduanya  meninggal setelah ia merantau ke Bandung.

Bermacam tingkah laku, sifat dan tabiat masing-masing adik-adiknya ini. Tiga orang di antaranya: Kamisah, Zahara, dan Zuliah tinggal menetap di Pematangsiantar. Yang pernah tinggal bersamanya dan kini telah bekerja adalah Nurbaya, Sakdiyah dan Abdul Rahim. Kini Kamisah bekerja sebagai guru Agama Islam di SD, Zahara bekerja sebagai wiraswasta kecil-kecilan. Zuliah lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini mengajar Bahasa Inggris di salah satu SLTA di Pematangsiantar.  

Pada saat ia pulang setelah lima tahun diperantauan, banyak hal terjadi di kampungnya. Rumah mereka sudah pindah dari Jalan Daliltani ke Jalan Terong, ia sendiri tidak tahu sebabnya. Kabar dari tetangga yang sama-sama berjualan di pasar Pajak Horas, mengatakan bahwa rumah itu di jual untuk membayar hutang. 

Rumah di Jalan Terong sebenarnya tidak pantas disebut rumah, hanya pantas disebut sebagai gubuk. Lantainya masih tanah, dindingnya sebagian papan, sebagian lagi gedeg atau anyaman bambu, atapnya atap rumbia dan sering bocor diwaktu hujan. Kalau matahari bersinar cerah, cahayanya masuk ke rumah bagaikan pedang-pedang sakti menerobos dari lubang anyaman bambu itu. Malam hari, angin masih bisa akrab membelai  penghuni  rumah.  Mereka  adik-beradik tidur di atas tanah beralaskan tikar,  kesehatan penghuninya kurang terjamin, lalu ayahnya sakit berkepanjangan.
Perekonomian keluarga di dukung sebagian besar oleh adiknya Kamisah, sebagian lagi dari penghasilan sawah, upahan membuat kotak korek api, dan selebihnya kiriman dari abangnya di perantauan seadanya, termasuk biaya kuliah adiknya Zuliah. Kamisah nasibnya lebih baik karena telah diangkat sebagai guru agama di sekolah dasar, setelah beberapa tahun lulus dari PGA Islam di Pematangsiantar. Keadaan ekonomi seperti ini, yang sangat sederhana, sangat berpengaruh pada semua adik-adiknya, terutama Nurbaya dan Rahim, yang kelak terlihat pada saat keduanya datang ke Bandung. ***

Nurbaya tinggal bersamanya di Bandung dan Jakarta sejak lulus SD tahun 1974. Ia membawanya ke Bandung, berusaha mengarahkan kembali pendidikan dan program masa depannya. Pada saat pulang setelah lima tahun merantau, ia melihat Nurbaya telah pasrah dengan keadaan kedua orang tuanya yang hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Telah setahun Nurbaya tak bersekolah lagi setelah lulus SD. Ia banyak berharap dari belas kasihan orang lain, dengan berjualan entah apa sambil mengumbar penderitaan dan keadaan dirinya, berkeliling kampung. Dan sudah tidak berfikir lagi untuk sekolah. Terbersit dari dalam batinnya, kalau Nurbaya tak sekolah, tentu kehidupan masa depannya kelak lebih suram lagi dan akan menjadi beban dan menyusahkan orang lain. Lalu ia berunding dengan ayah-ibunya, dan Nurbaya setuju di bawa ke Bandung. Dalam hal ini, ibunya diam saja, sudah tidak bisa lagi menitikkan air mata, dengan muka merah memelas. 

Air mata ibu telah kering, karena telah puas di dera derita kehidupan yang tak kunjung berhenti. Pasar tempat mereka berdagang sayur terbakar, setelah pasar itu di perbaiki atau renovasi, tak sanggup membayar tebusan, karena terlalu mahal. Akhirnya rumah mereka terjual untuk membayar hutang dan kembali bekerja di sawah. Bengkel sepeda sudah lama tidak berjalan lagi, karena tenaga ayahnya sudah jauh menurun, satu dan lain hal juga karena banyaknya saingan bengkel sepeda yang lain dengan layanan yang lebih baik. Rumah sementara di bangun seadanya di atas tanah orang lain, gubuk di Jalan Terong itu. Sawah sering kebanjiran, padi rusak dan ikan di kolam limpas terbawa air bah yang sering banjir. Ayahnya juga sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kamisah sampai berucap:
“Kalau keadaan kita lebih baik, tentu kita tidak akan terserak-serak, berpisah jauh seperti ini ya Bang”, sambil mengusap aimatanya.
Ia hanya diam seribu bahasa, tak kuasa berkata-kata. Ia tidak mau ikut bersedih hati agar ayah ibunya tidak terus menerus larut dalam kesedihan. Yang masih tetap dibanggakan, adik adiknya ini tidak ada yang tidak bersekolah, walau sesusah apa kehidupan ayah-ibunya. Umumnya semua mereka lulus tingkat SLTA. Hanya Nurbaya saja yang nyaris, itupun setelah lulus SD. Dengan dibawa ke Bandung, ia berharap Nurbaya bisa menyesuaikan diri, paling tidak bisa mendapatkan pendidikan yang kelak bisa menopang hidupnya. Selain itu tujuan membawa ke Bandung, paling tidak bisalah Nurbaya yang menemaninya pada saat ia menikah, karena ayah-ibunya tidak bisa datang. Namun ia tidak mau terus berlarut-larut dalam kesedihan ini. Ia yakin, lambat laun akan ada jalan keluar dari masalah, mengingat ia sudah mengikuti pendidikan untuk siap bekerja. Keadaan keluarganya menjadi begini, adalah akibat tidak bisa meningkatkan kemampuan untuk bisa bersaing dalam kehidupan yang semakin lama semakin memerlukan pemikiran dan tindakan yang lebih baik. Mereka sudah tidak mempunyai keunggulan lagi, karena memang tidak mempunyai kemampuan meningkatkannya sesuai keperluan zaman.  Nyaris terlempar dari kancah kehidupan. ***

Penyesuaian kembali Nurbaya untuk mau sekolah, ternyata tidak mudah, dengan segala tingkah polah yang kadang dapat menyesakkan dada. Perilakunya sangat memprihatinkan, ia hendak mengatur di rumah orang lain, makanannya harus sama ketika ia seperti makanan yang di Pematangsiantar, hal yang mustahil dilaksanakan. Ketika itu ia tidak mau makan kalau tidak ada ikan asin. Kadang-kadang ia membuat sambal sendiri, hal yang tidak mungkin untuk dipertahankan. Perilaku yang menjengkelkan, yang sering membuat malu abangnya. Cara bergaulnya dengan orang lain masih harus diperbaiki. Kebiasaannya minta dikasihani oleh orang lain seperti ketika ia di Pematangsiantar, seakan-akan dialah yang paling menderita, terulang lagi. Ia selalu menceritakan penderitaannya kepada orang lain, ketika ia bersama-sama mencuci pakaian di saluran air dekat rumah kontrakan mereka. Begitu juga kepada mertua, hanya tidak ditanggapi. Termasuk kesehatannya yang tidak prima. Waktu itu penyakit lambung atau magnya sudah kronis. Kalau sudah kumat, ia bisa menjerit-jerit sambil terduduk memegangi perutnya yang sakit. Apakah benar sakit, atau mencari perhatian orang lain, tidak ada yang tahu. Apalagi ia tinggal bersama kakak iparnya di Bandung, ia harus menyesuaikan dengan budaya Bandung dan itu tidaklah gampang. Konflik dan keributan kecil-kecilan sering terjadi. Namun demikian, dengan kesabaran semua ditangani dan ditanggulangi sebaik-baiknya, karena ia dan istrinya yang penyabar maklum  akan keadaan itu. Nurbaya kemudian didaftarkan untuk melanjutkan sekolah di SMP PGII Bandung, ketika ia awal bertugas di Jakarta. Kemajuan pelajarannya sangat lambat, karena sering menentang kalau disuruh belajar. Pernah ditawari untuk pulang lagi ke Pematang-siantar, tapi tidak mau.
“Karena dibiayai sekolahku, jadi aku musti rajin belajar, ya kan?” ucapnya dengan
mimik agak menantang kalau disuruh belajar.
Kepadanya diingatkan, kalau tidak sekolah dan tidak belajar dengan baik dan rajin, tidak akan ada gunanya nanti. Akhirnya, setelah diberi pengertian dengan susah payah, maka,
“Ya ialah, jelas. Kalau bicara pakai fikiran yang benar! Ke Bandung bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk bersedih-sedih lalu minta dikasihani, tapi untuk belajar, kalau tidak mau belajar, ya pulang ke Siantar,” tegas abangnya.
“Baya belajar bukan untuk kepentingan abang, tapi untuk kepentingan Baya sendiri.
Mumpung ada kesempatan, belajarlah baik-baik. Abang sudah ada di sini, tempat berteduh dan mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak mau ya pulang”.
Nurbaya terdiam, kedengaran menggerutu. Dengan berjalannya waktu, sedikit-demi sedikit kelakuannya berubah. Demikian perilaku adiknya ini selama sekolah dan sampai lulus dari SMP PGII di Bandung.  
Salah asuhkah adiknya ini? Mungkin, benar salah asuh. Ketika di Siantar, di rumah sehari-hari tidak ada panutan yang baik sehingga pengasuhan di lingkungan keluarga kurang baik. Mungkin juga sekolahnya tidak mengajarkan cara berpikir yang benar. Kenapa ia tidak bisa berpikir, atau bahkan belum menghayati sebab-akibat? Apakah tidak pernah dijelaskan kepadanya supaya berpikir logis? Seperti kalau lapar, ya makan supaya kenyang. Jadi ya akibat makan maka perutnya kenyang. Begitu juga, pepatah: rajin pangkal pandai. Artinya, kalau orang rajin belajar, maka tentu ia akan pandai. Bukankah guru Bahasa Indonesianya sudah menjelaskan arti pepatah ini? Menjelaskan sebab-akibat dan berpikir logis? Pepatah dalam Bahasa Indonesia sangat baik digunakan untuk memperdalam pengetahuan sebab-akibat. Kalimat yang muncul dalam dialog di atas tidak akan muncul kalau biasa berfikir logis. Itulah sebabnya bagi setiap murid kalau belajar bahasa harus memperhatikan benar-benar sebab-akibat yang sederhana. Begitu juga kepada guru Bahasa Indonesia, pada saat menjelaskan arti pepatah jangan lupa menjelaskan artinya dalam rangkaian sebab-akibat. Berpikir logis.
Guru yang tidak acuh terhadap kemajuan anak-didiknya, yang kalau datang ke kelas menyuruh murid menyalin ke papan tulis, lalu ia mengobrol di kantor atau jajan di kantin, sudah tidak saatnya lagi dipertahankan. Atau guru yang selalu sibuk membuat rencana program pembelajaran dan syllabus, proses pembelajaran terabaikan. Mengutamakan administrasi dari pada proses. CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif hendaknya jangan diterjemahkan menjadi Cul Budak Sina Anteng dalam bahasa Sunda, yang artinya membiarkan anak didik aktif semaunya asal mereka senang. Guru senang, murid senang, proses pembelajaran berantakan, berfikir logis murid terbang menghilang. Atau PAKIEM, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Innovatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif memang ketika pembelajaran di luar kelas. Sebagian aktif bermain bola, sebagian aktif meninggalkan guru yang sedang berteriak-teriak menerangkan. Kreatif menanyakan dan memberi saran sesuai dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Bisa juga terjadi kreatif membelokkan pertanyaan karena melihat suasana di luar kelas. Kreativitas yang harus dapat dikendalikan guru pengajar. Inovatif, selalu mendahulukan penggunaan ide-ide baru.  Efektif bagi segelintir siswa yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan bagi yang senang bermain bola ketika pelajaran di luar kelas, menyenangkan bagi mereka yang bisa mengalihkan konsentrasi di kelas menjadi konsentrasi di luar kelas. Juga menyenangkan bagi semua siswa untuk menghindari rasa bosan dalam kelas yang passif, tidak ada perubahan dari hari ke hari. Akhirnya tidak semua siswa mendapat manfaat yang sama. Yang serius juga terganggu oleh kegiatan siswa lain yang tidak sungguh-sungguh belajar. Bagi guru harus bisa memilah-milah, pelajaran mana yang baik dan mana yang tidak baik dilaksanakan diluar kelas.  

Pembelajaran di daerah tertentu yang masih ada team sukses untuk meluluskan murid mencapai target kelulusan seratus persen, sebagian besar jawaban dikerjakan guru agar kelulusan sesuai target. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru-guru yang kreatif untuk mencapai kelulusan sesuai dengan target, termasuk peniruan atau nyontek massal. Hal semacam ini akan berdampak pada menurunnya wibawa guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan. Berdampak juga pada terkikisnya idealisme dan inovasi pelajar. Karena mereka tahu bahwa nanti ketika ujian akan dibantu oleh guru demi target daerah setempat, lalu mereka belajar tidak maksimal, bahkan bisa jadi melecehkan guru mereka.
“Ah, nanti juga dibantu menjawabnya, bisa guru bisa siapa saja”,  gumam mereka dalam pembicaraan sehari-hari.
“Buat apa sih belajar susah-susah?”, lanjutannya.
Maka ketika dikelas, buku mereka hilang, dan ketika ditanya dimana buku pelajarannya, ia hanya tertawa sinis. Ketika ditanya mengapa pekerjaan rumah mereka tidak dikerjakan, berbagai macam alasan dikemukakan untuk tidak mengumpulkan tugas. Ketika ditanya mana tugas yang telah diberikan, dengan gampangnya siswa menjawab, “lupa pak!”. Atau adanya tindak lanjut remedial bagi mereka yang tidak atau belum lulus, anak didik merasa mereka pasti lulus.  Buat apa susah-susah belajar, kalau bisa lulus dengan tanpa belajar. “Kan ada remedial!”, begitu pikir mereka. Maka sewaktu ujian block atau tengah dan akhir semester, belum sampai lima belas menit siswa peserta test sudah keluar, mengharapkan lulus lewat remedial. Apa lagi kalau ketuntasan belajar minimal, atau nilai terkecil yang harus dicapai bukan ditetapkan oleh guru sesuai dengan syarat: kualitas masukan anak didik yang ada (in take), tersedianya sarana dan prasarana (availability of cost, equipment and infrastructure) dan kemampuan dan penguasaan guru terhadap materi pelajaran (teacher capability of subject matter). Adakalanya syarat yang ada sudah ditetapkan oleh sekolah dan guru harus mencapai itu. Dan yang pasti, menurunnya kualitas lulusan. Jika pelajar diluluskan dengan cara seperti ini, maka tidaklah heran kalau produktivitas, kemampuan dan integritas bangsa akan tergerus oleh lulusan yang tidak berkualitas ini. Wibawa guru dalam proses belajar mengajar, hampir hilang atau turun secara cepat ke titik terendah.
Untuk menghindari ini bisa diberlakukan sistem kredit semester, SKS. Bagi mereka yang potensinya kurang, lulusnya lebih lama, yang potensinya baik dan berkualitas, lulus lebih cepat. Karena konsep pendidikan bagi siswa adalah based on potential not on the age, bergantung kepada kemampuan atau potensi, bukan kepada umur. Potensi setiap siswa berbeda, jangan dilupakan dan oleh karena itu tidak boleh disamakan.  Mungkin dalam pengajaran bahasa, cara ini banyak terlupakan. Kebanyakan guru Bahasa Indonesia menganggap pelajarannya tidak begitu penting, sehingga cara penyampaiannya kurang sempurna.
Kalau pelajaran bahasa memang seperti ini, maka penguasaan bahasa dalam pengertian sebab-akibat dan berpikir logis akan menurun drastis. Maka pengajar juga harus ditingkatkan kemampuannya secara berkesinambungan, dan berkat pengalamannya bisa memilih metode pembelajaran apa yang paling efektif ketika dihubungkan dengan situasi pembelajaran. Ditingkatkan kemampuannya untuk menerapkan PAKIEM secara benar dengan kendali proses pembelajaran berbasis-pengetahuan (learning control and knowledge-based system). Pengajar hendaknya sadar bahwa pelajaran bahasa sangat penting, karena bahasa adalah pintu untuk masuknya ilmu pengetahuan kedalam pikiran peserta didik. Termasuk bahasa pemrograman computer, yang akhir-akhir ini sangat penting untuk mengakses informasi untuk pemutakhiran kekinian, memperlancar arus informasi. Bila logika bahasanya sudah benar, maka bahasa pemrograman tidak lah susah untuk diikuti. Mungkin adiknya Nurbaya ini adalah salah satu korban akibat penerapan proses yang kurang matang ketika di Pematangsiantar, mungkin juga karena sudah tidak ada semangat belajar. Atau kombinasi keduanya.

Setelah lulus SMP, Nurbaya kemudian ikut serta ke Jakarta, melanjutkan di SMA Indonesia Raya di Jalan Rawasari Jakarta Pusat. Rumah abangnya ada di Jalan Penggalang I, dekat pasar Pramuka dan Pasar Burung Jakarta. Kalau naik Metromini hanya sekali dari Jalan Pramuka ke sekolah ini. Disini juga ia masih susah disuruh belajar serius. Pernah dipersiapkan untuk mengikuti testing calon karyawan TELKOM setingkat lulusan SMP, tapi bukannya menghapal, malah menulis puisi yang tidak jelas. Akhirnya testingnya tidak lulus. Perilaku yang susah diterima akal. Namun demikian, dengan kesabaran, ia dan istrinya tetap mengasuhnya. Sampai akhirnya Nurbaya berhasil lulus dari SMA. Setelah lulus SMA, sambil mengajar di SD swasta, Nurbaya ikut belajar di KPG sampai tahun 1984. Ia tinggal sendirian di Jakarta, dekat rumah dan sekalian dititipkan pada keluarga Pak Zainal Solihin, sepupu atau adik mertuanya yang tinggal di Jalan Penggalang, Jakarta Timur. Sedangkan ia bersama keluarganya pindah karena alih tugas ke Pekanbaru.  

Nurbaya mengajar SD di Jakarta setelah lulus KPG. Tak lama kemudian ia menikah dengan suaminya Yoyo, pemuda tampan yang berasal dari Kawali, Ciamis. Perjuangan hidup bersama suaminya tercinta penuh dengan pergolakan nasib. Anak mereka yang baru semata wayang dititipkan kemana-mana di sekitar Jalan Penggalang, karena suaminya dan ia sendiri bekerja. Akhirnya mereka dapat mengatasinya sendiri. Ya itulah, hidup ternyata adalah perjuangan, dan sambil berdoa, Nurabaya dan suaminya tak kenal menyerah. Sampai akhirnya nasib baik memeluknya.

Tidak lama kemudian Nurbaya diangkat jadi PNS sebagai guru. Setelah beberapa tahun mengajar, untuk peningkatan mutu dirinya agar terus bisa mengikuti kemajuan pendidikan, ia pun diberi kesempatan oleh atasannya untuk kuliah lagi di UNJ Jakarta. Kini ia telah lulus sebagai Sarjana Pendidikan. Sekarang Nurbaya mengajar di SD di daerah Pisangan, Rawamangun, di Jakarta Timur. Ia pernah tinggal di Cibitung Bekasi bersama suaminya tercinta, salah satu perjuangan hidupnya, setiap hari ulang-alik Jakarta-Cibitung dengan berbagai macam kissah yang memilukan hati. Komplek perumahan mereka pernah dilingkup banjir, ketika di kereta listrik uang dan barang berharga lainnya hilang karena kurang waspada. Dan bermacam-macam kejadian lain-lainnya. Sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, mendekatkan diri dengan tempatnya mengajar.
Nurbaya dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan satu perempuan.  Doa dari semua abangnya, semoga ia sehat-sehat selalu, agar ia  dapat membesarkan buah hatinya itu dengan sebaik-baiknya. ***

Adiknya Zuliah, Sekolah SD Muhammadiyah di Jalan Merdeka, Setelah lulus SD, melnjutkan SMP dan SMA di sekolahMuhammadiyah yang sama.
Tidak  lama akemudian ia mengikuti kuliah UNIVERSITAS NOMMENSEN  di jalan Asahan, kampus yang modern saat itu.  Tak banyak yang dekrtahinya mengenai adinya Zuliah. Yang diketahuinya adalah, semenjak semester 1 sampai dengan semester lima, aku selalu mengirim uang lewat Bank Mandiri, karena itulah satu-satunya bank di kota itu. 
Setelah aku mengirim lewat loket, lewat alamat Kamisah di SD 129567 di kompleks stadion, dengan telegram aku kirimkah konfirmasi ke kKamisahuntuk diambil, dengan engirim telegram gaya orang keuangan bank:

        "kuhi 50rb utk kuliah Zuliah via bank mandiri, hrp cekdan cairkan", send by ns."
        artmya, kiriman uang utk Zuliah, hari ini lima puluh ribu rupiah, harp cek dan cairkan.

 Tidak berapa lama, Zuliah membukan rekening di Bank Mandiri. Oleh karena itu, uang mantan kuliah dan sedikit bantuan utk keluarga, dikirim lewat rekening Zuliah, dengan mengambilnya dari ATM yang ada. Konfrimasi kiriman dikirim ke Kamisah. Ternyata, Zuliah tak bisa mengambil uang lewat ATM, keto
ika i cek utk menambil uang di Bank Mandiri.  Aku sangat kesal, karena uantk bantuan keluarga tak pernah diserahkan ke Ibu/Omak dan  Kamisah utk tambahan biaya keluarga.  Saking kesalnya, ketika kiriman komputer di cek cara pengunaannya utk keperluan kuliah, ternya tak bisa sama sekali.   
Dan akhirnya, kiriman uang aku berhentikan.

Untunglah ia dengan gigh meneruskan kuliahnya sambil membiayai kuliahnya sendiri. Entah dengan cara bagaimana aku sendiri tidak parnah mengetahuinya. Tetiba saja ada berita , Zuliah menginap di uamh adik ibu di Medan, ocik Saini, bahwa Zuliah ituk Wisud di Medam sebagai jurusan  pendidikan Bahasa Inggris. Alhamdulillah, rupnay Zuliah juga seorang pejuang gigih yang tak mau menyerah dengan keadaan. 
Ketika ada pendaftaran sebagai pengajar berhomor, ia di terima sengai guru Bahasa Inggris di SD, Beberapa tahun kemudian, ia minta dipihdahgkan ke SMA 6, salah satu Sekolah Menegah Atas yang muridnya ramai dari kampung sekitarnya. Alamatnya SMA 6 Negeri Pemtang Siantar, di Jalan Raya P. Siantar - Medan..

Yang paling dahulu lulus sarjana adalah adiknya Halimah Sa’diyah. Ia lulus UMPTN tahun 1986 untuk program D3 Pendidikan Matematika, dan oleh ibunya diantar ke Pekanbaru. Lalu Sa’diyah ikut tinggal bersamanya menuntut ilmu di FKIP-UNRI selama ia bertugas di Pekanbaru, sampai lulus D3 berstatus ikatan dinas untuk guru SLTA. Sa’diyah adalah adiknya yang tidak atau jarang menentang kalau dinasihati. Kalau diajarin matematika di rumah ia selalu menurut, yang akhirnya pengetahuan matematikanya meningkat pesat. Kalau dinasihati agar berbicara jangan teralu keras-keras, ia juga selalu menurut.
Tahun 1988, setahun sebelum lulus, Sa’diyah ditinggal di Pekanbaru karena abangnya dialih-tugaskan lagi ke Jakarta. Ibu datang dari Pematangsiantar untuk bertemu sebelum pindah dan sekaligus mempersiapkan dan mengurus indekos Sa’diyah. Peralatan dapur disiapkan seperlunya. Bersama ibu, mereka mengantar Sa’diyah yang akan segera indekos di dekat kampusnya FKIP-UNRI Simpang Panam, di dekat Lapangan Terbang Simpang Tiga Pekanbaru.
Betapa sangat perhatian ibu mereka ini pada nasib anak-anaknya. Walaupun ibu adalah pemabuk kendaraan yang berat, tapi demi anak-anaknya, beliau datang juga dari Pematangsiantar. Menempuh perjalan jauh, kurang lebih lima ratus kilometer, berbilang waktu enam belas jam. Sungguh penderitaan yang cukup berat, tapi letih dan lelah ibu diperjalanan seakan sirna demi setelah melihat mereka, anak-anaknya. Sampai akhirnya ibu mereka pulang kembali ke Pematangsiantar, ia tak dapat membayangkan bagaimana kelak ibu mereka ini mabuk berat lagi diperjalanan. Serangkum doalah yang bisa disampaikan kepadaNya agar ibunya selamat tiba di Pematangsiantar, dan alhamdulillah, kabar yang diterimanya tiba dengan selamat, walaupun harus istirahat selama satu hari.  
Peralatan sehari-hari untuk dipergunakan di tempat indekos Sa’diyah, dipersiapkan dengan baik. Biaya bulanan yang tidak seberapa masih terus dibantu dari Jakarta. Belajar di tempat indekos, kuliah di kampus dan berorganisasi di masyarakat bersama teman-temannya mahasiswa, dilakoninya dengan sabar, sampai akhirnya ia dinyatakan lulus dengan peringkat yang baik. Setelah lulus ia pulang dulu ke Pematangsiantar dan sempat bertugas mengajar Madrasah Aliyah selama setahun disana. Ia meminta doa restu ibu sebelum akhirnya ditugaskan mengajar di Bagansiapiapi. Ia bertemu calon suaminya di Bagansiapiapi. Pada waktu lebaran, atas permintaannya, ia dan calon suaminya datang ke Bandung untuk menikah di rumah abangnya, di Jalan Pekalongan, Antapani Kidul, Bandung.
Setelah bertahun-tahun mengajar, Sa’diyah berkesempatan menyelesaikan kuliah tingkat S1 di UNM (IKIP Medan waktu itu). Izin untuk pergi kuliah ke Medan dari sekolahnya tak kunjung keluar. Bahkan cenderung untuk melarang pergi. Iapun mengadu kepada abangnya,
“Bang aku ada program kuliah lagi di UNM/IKIP Medan. Tapi izin dari Kepala Sekolah tak kunjungnya keluar, macam mananya pendapat dan saran Abang?” meminta saran dari abangnya, dengan gaya bahasa keluarga.
“Izin-izin dari Propinsi dan pusat bagaimana dik?”, tanyanya
“Izin dari Propinsi dan dari Kementrian Pendidikan di Jakarta sudah ada”, lanjutnya,
“Termasuk anggarannya“.
“Kalau begitu, ikuti saja kuliahnya, apalagi sudah ada anggaran dan sudah terdaftar di UNM/IKIP Medan” saran dari abangnya.  
“Jika nanti tidak diterima lagi di sekolah yang lama, akan kita carikan sekolah yang mau menerima. Insya Allah, niatkan untuk berbuat yang lebih baik dan jangan lupa minta petunjukNya”.
Sa’diyahpun mempersiapkan segala keperluan. Anak-anaknya dibawa ke Pematangsiantar, tinggal bersama neneknya. Dan ia kuliah ulang-alik Pematangsiantar-Medan, semua demi menghemat biaya dan demi anak-anaknya. Setahun kemudian, ia lulus dengan peringkat yang baik. Setelah kembali ke Bagansiapiapi, ia ditegur oleh atasannya. Ia disuruh melapor ke Bengkalis, atasan yang lebih tinggi, tetapi ia tidak kena hukuman disiplin, bahkan teman guru-guru yang lain akhirnya diizinkan pergi kuliah lagi.
Sa’diyah lalu kembali mengajar di SMA Bagansiapiapi. Ia tinggal dan menetap di sana bersama suaminya tercinta, Basuki. Mereka dikaruniai lima anak, empat perempuan yang cantik-manis dan satu laki-laki. Kini Sa’diyah sedang mengikuti kuliah S2 jurusan Matematika di UPI Bandung, semester pertamanya dimuai akhir tahun 2010. Itulah sekelumit kisah Sa’diyah, terucap sebait doa, semoga mereka selalu bahagia untuk membesarkan kelima anak-anaknya.***
Adiknya yang paling kecil, Abdul Rahim ikut bersamanya ketika ia bertugas di ITT/STT Telkom Bandung tahun 1991. Hal yang hampir sama dengan Nurbaya, ia sudah tidak ingin lagi sekolah, hanya mau ikut sekolah pertanian di Pematangraya, Kabupaten Simalungun. Ayah-ibunya sudah dalam keadaan serba kekurangan, anak-anak terkena dampaknya. Akibatnya malah bermanja-manja tidak menentu dan tak mau membantu atau mungkin tidak mengerti untuk meningkatkan diri. Hanya karena sedikit dipaksa Rahim ikut ke Bandung, dan karena itu ia kerap menunjukkan sikap yang kurang menguntungkan dirinya sendiri. Kurang rasa saling menyayangi, miskin empati. Ia harus meningkatkan rasa empati ini, yakni meningkatkan kemampuan untuk berbagi perasaan kepada orang lain, dengan membayangkan apa jadinya pada situasi seperti itu jika terjadi pada dirinya.
Kemudian Abdul Rahim didaftarkan di ITT/STT Telkom ber ID (ikatan dinas) dari TELKOM. Pada saat test masuk ternyata tidak lulus. Ia diambil untuk lulus pada periode terakhir, calon dari pimpinan sekolah. Pendirian dan hatinya keras, maunya mengatur di rumah orang lain, hanya mementingkan dan menuruti kemauannya sendiri, sangat susah untuk dinasihati. Belajar kurang serius dan seenaknya. Daya juangnya amat rendah. Inginnya serba segera jadi, serta merta atau sesaat, tanpa atau hanya dengan sedikit usaha (completly instant without any or a little effort). Suatu hal yang tak mungkin. Seharusnya, kalau seseorang hidup dan menumpang di tempat orang lain, maka dialah yang menyesuaikan diri dengan aturan di tempatnya menumpang. Rahim tidak belajar sungguh-sungguh, tidak maksimal. Dan pada saat tingkat dua, ia dinyatakan drop-out atau dikeluarkan dari mahasiswa peserta ID karena nilainya tidak memenuhi syarat. Ia sudah tidak bisa lagi di atur, mungkin dulu terlalu manja, kemanjaan yang tidak menentu, ketika dekat dengan ibu. Atau bisa juga akibat keadaan ayah-ibunya ketika itu, tidak ada teladan yang baik yang harus ditiru. Setelah dikeluarkan dari status ID, ia sering pergi entah kemana, kadang berminggu-minggu baru pulang. Kabarnya mencari uang.
Akhirnya Rahim berusaha sendiri, menyewa tempat tinggal sendiri karena tak mau diatur. Ia bebas dan ingin mengatur dirinya sendiri. Walaupun dilarang dengan sangat keras, ia tetap menjadi juragan atau pengusaha angkot di Bandung. Pengusaha angkot itu bertahan sampai tiga tahun, dan kemudian berhenti setelah ia sadar kesehatannya tidak mengijinkan untuk terus menjadi pengusaha angkot, apalagi merangkap supir. Pada waktu yang sama, ia terus kuliah dengan sungguh-sungguh, setelah sadar bahwa kurang serius belajar akan mengakibatkan peruntungan nasib yang kurang baik. Sampai akhirnya lulus sarjana teknik dari ITT/STT Telkom. Saat wisuda diurus oleh Siti Nurhayati istri abangnya, kakak iparnya, mengantar dan menjemput ketika wisuda.
Setelah lulus ia banyak mengikuti dan bekerja di proyek-proyek TELKOM baik di darat maupun lepas pantai (off shore). Ia pernah bekerja di BUKAKA TELKOM, kemudian diajak dosennya, Nurbajaya, bekerja di ASTRATEL (ASTRA Telekom). Tapi karena keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis keuangan tahun 1998, iapun diberhentikan dan juga karena  ASTRATEL tidak aktif lagi.
Rahim pernah lama menjadi guru fisika dan matematika di SMP Darul Hikam, sambil juga mengelola UPT Laboratorium Komputer dan Fisika. Ia mahir memotivasi siswa agar tidak takut terhadap mata pelajaran matematika. Ketika sering melihat segala sesuatunya di SMP Darul Hikam yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, maka Rahim sering bereaksi dengan keras. Baginya Darul Hikam bukan tempat yang tepat untuk mengembangkan diri. Karena merasa sudah tidak cocok, tahun 2005 ia minta keluar dari Perguruan Darul Hikam dan banyak mengikuti Proyek-proyek Telekomunikasi bersama teman-temannya.
Demikian juga pada saat menikah, Rahim tidak memberi tahu abangnya, tidak jelas kenapa. Abangnya mengetahuinya dari orang lain. Ia malah menyuruh orang lain yang menemaninya tatkala menikah. Ia sudah tidak menganggap abangnya sebagai saudaranya lagi. Walapun tidak diundang, abangnya bersama istri datang juga ke Cipanas saat pesta pernikahannya berlangsung, karena mereka sudah mengerti sifat Rahim. Segala sesuatu yang dilihat Rahim yang menurutnya tidak baik atau buruk, apalagi kalau tidak menguntungkan dirinya, ia selalu bereaksi keras menantangnya. Ia bukanlah jenis orang yang sabar dan mengayomi orang lain. Seperti telah dijelaskan sebelunya, kurang rasa empati. Narsis? Merasa dirinya paling hebat? Siapa tahu, mungkin saja. Padahal Rahim adalah orang yang cerdas dan sudah belajar agama cukup banyak, dan sering dipergunakannya untuk bisa menyelesaikan masalah, baik teknik apalagi masalah pendidikan matematika. Dan ini adalah ciri khas Rahim, yang mungkin saja ia tidak menyadarinya. Seharusnya Rahim bertindak yang baik apabila melihat atau menyikapi keadaan yang buruk, sehingga yang buruk itu akan menjadi baik, atau bahkan lebih baik.
Akhirnya di tahun 2009 Rahim melamar menjadi guru dan syukur alhamdulillah, ia lulus, dan kini sebagai guru PNS di salah satu SMK di Cianjur, Jawa Barat. Ia menikah dengan Nurlaila, perempuan kelahiran Cipanas Cianjur, lulusan Sarjana Pendidikan UPI dan bertugas mengajar di Cipanas. Mereka tinggal menetap di Cipanas Cianjur dan kini telah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang sehat, gagah dan tampan. Demi membesarkan anak-anak mereka, semogalah mereka berbahagia selalu, sepanjang hidupnya. ***

Difficult yes, Imposible No!
Demikianlah gerak-langkah atau dinamika keadaan kehidupan mereka, ia dan adik-adiknya masa lalu dan kini. Satu persatu mereka telah berhasil dalam pendidikan dan kehidupannya. Dan iapun merasa senang, karena tidaklah banyak keluarga yang bisa seperti mereka. Dari keadaan pergaulan rumah tangga yang berpendidikan rendah, yang tidak sanggup menyediakan biaya pendidikan untuk meningkatkan dan menyesuaikan kemampuan terhadap perubahan zaman. Penghasilan pas-pasan bahkan cenderung kurang. Kurang berdaya untuk meningkatkan keunggulan. Kurang daya saing sehingga nyaris terlempar dari lingkungan kehidupan. Yang tadinya kurang berdaya untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan zaman menjadi mereka seperti sekarang ini. Tapi, itulah berkat dari doa yang tulus ikhlas dari kedua orang tuanya. Berkat kegigihan ayah-ibunya untuk menyuruh mereka sekolah, belajar mengaji dan mengutamakan shalat berjamaah di masjid, akhirnya semua menjadi pejuang yang gigih untuk merubah nasib. Walau disana-sini terjadi benturan yang bisa lembut, bisa juga keras. Laiknya gelas yang diletakkan berdekatan, bisa jadi bersenggolan dan mengeluarkan suara. Suara itu lembut ketika senggolan itu pelan saja: “Triling…triling.. !!!”  ketika satu persatu gelas itu disusun dan beradu, dan ”berelaak… !!!”, ketika digeser bersamaan. Akan tetapi jika senggolan berubah menjadi antukan atau benturan yang keras, dentingannya bisa menggema, menggelegar dalam ruangan: “Bluaarrrr…. !!! trat… trangng…. !!!, krompyangng… wangng…. wang… wang.. wang., wang…!!!”, campur aduk suara piring kaleng terjatuh, piring kaca pecah, gelas remuk dan lain-lain bunyi saling beradu. Bagai musik cadas atau musik rock yang keras tapi harmoninya berantakan, tidak enak didengar telinga. Alhamdulillah, belum ada persenggolan itu yang teramat keras sehingga semua perabotan itu musnah. Selalu saja masih banyak yang tersisa.
Budaya hidup keluarganya memang memerlukan proses menuju perubahan yang harus dihadapi dengan sabar, perlu waktu, karena landasan budaya yang ada, sudah sangat tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan jaman. Landasan itu harus diubah dan diperbaiki. Mendobrak resistensi atau keengganan untuk berubah. Bagaikan kupu-kupu yang berjuang memecah kepompong untuk bisa terbang dengan warna-warni keindahannya. Mereka harus terus berusaha membuka diri terhadap perubahan dan menghadapinya dengan sebaik-baiknya serta menyiapkan diri untuk meningkatkan kemampuan yang berkesinambungan. Sukar memang, tapi bukan tidak mungkin. Diificult yes, imposible no!
Ia terus berupaya sambil berdoa, agar semua mereka, ia dan adik-adiknya ini kelak berhasil dan berubah menjadi orang yang berguna bagi sesama, bagi lingkungannya, bagi agamanya dan bagi negaranya. Selaras dengan tugas utama mereka hidup di dunia, mengabdi kepadaNYA, bahagia di dunia, bahagia di akhirat, terhindar dari siksa api neraka. Agar selalu insyaf dan mawas diri, hidup berbakti sepanjang zaman, tak kenal henti. Sebelum datang masanya selimut putih membalut badan dan semua yang dikasihi akan ditinggalkan, meninggalkan dunia. Sampai kelak tabungan akhirat mereka cukup karena banyak bersedekah dan beramal shaleh, ketika malaikat Izrail pencabut nyawa datang, membawa mereka kealam barzah dan untuk menanti di padang mashar. Ia lalu mengingat senandung nasyid Selimut Putih,

Selimut Putih   
Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan

Tak ada lagi…i.. guna harta,
kawan karib, sanak saudara
jikalah ada amal di dunia
itulah hanya kan membela kita

Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sadarlah diri, tahu di untung
Sebelum masa keranda diusung

Datang masanya insyaf lah diri
Selimut putih membalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berbaktilah hidup sepanjang zaman

Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan ….

Nasyid yang selalu dikenangnya, yang mengingatkannya akan arti kehidupan di dunia, agar selalu mengingat kehidupan setelah kehidupan dunia ini.

******











Kamis, 22 Agustus 2019

PEMATANGSIANTAR Kota Tempat Bermanja Keluarga

Lanjutan Buku RATNA MUTU MANIKAM (2)

PEMATANGSIANTAR  
Kota Tempat Bermanja Keluarga






Pematangsiantar berhawa sejuk, kota yang subur, indah dan hijau, kota kedua terbesar di Sumatera Utara. Terletak dikaki bukit pegunungan Bukit Barisan, 118 km ke arah selatan Kota Medan, dan 48 km dari arah 
Parapat kota wisata di tepi Danau Toba yang terkenal itu. 
Di tengah kota mengalir sungai Bah Bolon. Selain untuk kepentingan lain juga digunakan untuk pengairan sawah dan tempat rekreasi. Sungai itu juga digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan pabrik es, khusus untuk penduduk kota. Kini pembangkit listrik sudah tidak dipakai lagi.
Jembatan Sungai Bahbolon

Jalan utamanya adalah Jalan Sutomo sejajar dengan Jalan Merdeka. Keduanya adalah pusat kegiatan ekonomi. Di Jalan Sutomo terletak Ru-mah Sakit Umum Pematangsiantar. Rumah sakit yang sangat luas, dikelilingi pohon-pohon rimbun, pohon cemara dan lain-lain, sebelum dikembangkan tahun 2009 yang lalu.

Gambar 4. Gerbang Rumah Sakit Umum Pematangsiantar
Bangunannya adalah bangunan peninggalan Belanda. Gerbang rumah sakit itu berjarak kira-kira lima ratus meter dari Jalan Sutomo. Jalan masuknya  rindang diteduhi pohon cemara. Rumah sakit yang sangat indah, hijau dan asri. Di seberang depan gerbang rumah sakit ada taman berbentuk bulat agak lonjong dikelingi jalan memutar. 
Di seberang jalan taman banyak pedagang makanan seperti: sate padang, lontong kari, pecal, lemang, pisang goreng, ubi goreng dan lain-lain, terutama di pagi hari. Mereka menggunakan kereta dorong. Ada juga yang dijunjung atau digendong seperti halnya pedagang makanan dan minuman khas suku Jawa, karena memang sebagian pedagangnya banyak suku Jawa. Suku Jawa ini terkenal dengan sebutan puja kesuma, singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Pedagang ini sangat dibutuhkan oleh pengunjung rumah sakit, terutama ketika menunggu giliran dipanggil menghadap dokter, memerlukan waktu yang cukup lama, bisa satu sampai satu setengah jam, karena pasiennya banyak sekali. Maklum, hampir seluruh kampung disekitar kota dan sebagian dari kabupaten berobat ke sini. Peralatannya sudah cukup lengkap. Biaya berobatnya murah, sehingga terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. 
Ia sering dibawa ibunya berobat ke rumah sakit ini. Ketika itu sebagian dokternya masih ada warga negara Belanda. Di kompleks rumah sakit ada juga rumah dinas dokter dan ada bangunan untuk asrama perawat dan bidan.
Gedung-gedung pusat pemerintahan dan perwakilan rakyat terletak di Jalan Merdeka. 


Pasar Pajak Horas
Pasar tradisional, Pajak Horas, terletak antara Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka, juga masih peninggalan Belanda, pasar yang luas yang terdiri dari beberapa los-los atau blok yang teratur. 
Pasar sayur mayur, pasar daging sapi dan babi terpisah, jelas tempatnya. Demikian juga untuk penjualan kain, barang kelontong, sepatu dan rumah makan diatur sedemikian rupa sehingga kelihatannya saling melengkapi dan terletak sesuai dengan peruntukannya. Pada salah satu los terbesarnya masih tertulis ANNO 1926. Sesudah pasar Pajak Horas terbakar, tulisan itu juga ikut terhapus karena los dimana tulisan itu berada, juga terbakar.

Lapangan Taman Bunga atau Lapangan Pagoda, terletak di Jalan Merdeka.
Dibelakang taman terletak Hotel Siantar dengan lingkungannya yang hijau, dilindungi oleh pohon-pohon tinggi, sehingga terasa sangat asri. Kalau ada tamu-tamu penting biasanya menginap di Siantar Hotel ini. Ada sekolah-sekolah yang berdiri di sisi kedua Jalan Itu. 

Gambar 7. Lapangan Pagoda 
Di tengah kota tepatnya di Jalan Thamrin,  dulu terdapat pabrik rokok, permen, kacang kering dan kopi. Dari ujung Timur Jalan Sutomo sampai dengan depan Rumah Sakit Umum ada pohon-pohon pelindung dipinggir jalan. Di persimpangan Jalan Sutomo dengan Jalan Pattimura ada penjara di sebelah kiri dan terminal bus Pantoan untuk terminal antarkota di sebelah kanan. Kini pohon, terminal bus dan pabrik itu sudah tidak ada lagi. Di ujung paling Barat terdapat dua buah bioskop terkenal yakni Bioskop Ria dan Riang. Persimpangan dengan jalan Sekolah ada toko serba ada, namanya toko De Zoon. Toko-toko buku yang besar, rumah makan dan kedai kopi, kedai minuman panas dan dingin yang lezat rasanya, banyak terdapat di Jalan Cipto. Di sebelah Barat kota, tepatnya ke arah Parapat dan Sidamanik masih banyak terdapat mata air yang bersih dengan debit air yang cukup melimpah. PDAM setempat mengolah dan mengalirkannya ke rumah penduduk.

Ciri khas kota ini adalah becak, alat angkut yang dibuat dari motor besar. Sering disebut orang sebagai Becak Siantar. Tempat duduk penumpang dicantelkan ke motor di sebelah kiri pengemudi. Motor besar yang dipergunakan adalah merek BSA, Ariel dan lain-lain. Penumpangnya dua orang, nyaman sekali diduduki ketika sedang berjalan karena sistem peredam getar atau shock-absorbernya terbuat dari per keong atau per ulir yang lembut.

Gambar 10.  Becak Siantar


Gambar 11.  Angkutan Kota Sinar Siantar
Alat  transportasi  dalam  kota  yang  lain diantaranya adalah oplet atau angkot “Sinar Siantar” yang menghubungkan terminal Parluasan di Martoba dengan pasar Pajak Horas melalui terminal Pantoan dan melewati Rumah Sakit Umum. Untuk kampung yang lebih jauh jaraknya menggunakan motor beroda empat atau bus yang lebih besar, seperti misalnya ke arah Bahjambi, Perdagangan, Tanah Jawa, Bandar dan Serbelawan. Ada juga bus ke jurusan Sidamanik, Seribudolok, Parapat, Tigaras dan lain-lain. 
Terminal bus jarak dekat itu berada di jalan sekeliling pasar, kecuali itu tidak diperkenankan berhenti di jalan Sutomo dan jalan Merdeka. 

Untuk jarak jauh, alat transportasi itu ditempatkan di 


terminal Parluasan di sebelah  arah ke utara, yang lain-lain terminalnya di terminal Pantoan.  Ke arah Medan ada angkutan Kereta Api dan Bus, ke arah Parapat, Balige, Tarutung dan daerah Tapanuli ada bus PMH, singkatan dari Persatuan Motor Horas. Juga menghubungkan Pematangsiantar dengan kota-kota Kisaran, Tanjung Balai dan Rantau Perapat. Bus jarak jauh Padang Sidempuan-Medan yang biasanya melintasi Pematangsiantar menggunakan bus ALS, singkatan dari Antar Lintas Sumatra, milik pengusaha pribumi.  

Di perbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Deli Serdang (sekarang dengan Kabupaten Serdang Bedagai), banyak dan luas sekali sawah bersusun-susun, ladang dan perkebunan penduduk, kopi, sayur dan kelapa. 


Gambar 12 Pemandangan indah Perkebunan Teh Sidamanik








Gamar 13. Buah Nenas Sidamanik

 Gambar 14. Air Terjun Bah Biak



Gambar 15.  Kelapa sawit dengan buahnya
Juga dikelilingi perkebunan negara penghasil devisa, seperti perkebunan teh Sidamanik dengan Air terjun Bah Biak (lihat video Air terjun Bah Biak, video 1), perkebunan tali rami di Laras (kini sudah berganti menjadi kelapa sawit), kelapa sawit dari perkebunan Bahjambi, karet dan kelapa sawit dari perkebunan Marihat dan sekitarnya. Sebagian sawah yang bersusun-susun itu masih termasuk bagian kota, sehingga Pematangsiantar terkenal sebagai lumbung padi untuk Propinsi Sumatra Utara.



Ketika berkendaraan dari kota Tebing-Tinggi ke Pematangsiantar, akan terlihatlah perkebunan karet atau pohon rambong, penghasil getah karet.


 Gambar 16. Perekbunan karet dengan pohon Rambong

Juga terlihat perkebunan kelapa sawit di kiri kanan jalan. Pada gambar terlihat perkebunan kelapa sawit di waktu pagi, di sisi saluran SUTET Perusahaan Listrik Negara.


Gambar 17. Perkebunan Kelapa sawti disisi SUTET PLN.





















Gambar 19. Perkebunan Kelapa Sawit
 
Dinginnya udara mulai terasa disini, pertanda bahwa kita akan segera tiba di kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk itu.   

Toko-toko di Pematangsiantar sudah cukup lengkap, karena semua penduduk di sekeliling kota dan kabupaten-kabupaten yang berbatasan dengannya selalu membeli keperluan sekolah dan keperluan hidup sehari-hari ke kota ini. 

Bermacam-macam sekolah juga tersedia disini, baik Sekolah Kejuruan Teknik (ST dan STM, ST kini berubah menjadi SMP Plus, SMP Negeri 12), Ekonomi (SMEP, kini berubah menjadi SMP Plus dan SMEA), Sekolah Umum (SMP dan SMA), Sekolah Guru (SGB (kini sudah takada lagi), dan SGA) negeri maupun swasta seperti Muhammadiyah, Katholik, Kristen Protestan dan Madrasah Alwashliyah. Juga Perguruan Tinggi Agama Islam UISU Cabang Medan dan perguruan tinggi agama Kristen Protestan, Universitas Nommensen. Buku-buku untuk sekolah-sekolah itu banyak tersedia di sini.  

Kota ini adalah salah satu kota perjuangan melawan Belanda, tempat kelahiran tokoh nasional. salah satunya adalah  Adam Malik. Salah satu nama jalan dan lapangan upacara di kota ini sekarang dinamai Jalan dan Lapangan Adam Malik. Penduduknya adalah campuran atau multi etnis, suku Jawa, suku Batak (Toba, Dairi, Karo, Simalungun, Sipirok Angkola, Mandailing), suku Minang, suku Melayu Deli dan sedikit orang Arab, Cina dan India. 
Mesjid Raya Timbang galung
Oleh karena itu, terkenallah nama-nama kampung berdasarkan suku dan agama, diantaranya ada Kampung Melayu (banyak dihuni penduduk yang beragama Islam karena Melayu disana identik dengan Islam), Kampung Kristen (banyak dihuni oleh penduduk beragama Kristen), Kampung Bantan (banyak dihuni suku dari Jawa, Banten atau Sunda), Kampung Keling (banyak dihuni oleh orang India hitam), Kampung Karo (banyak dihuni oleh suku Batak Karo), Kampung Pematang (banyak dihuni Batak Simalungun), Timbang Galung, Kampung Baru, Martoba dan lain-lain.

Pada waktu itu,  mereka  sekeluarga  bertempat  tinggal  di  Jalan Daliltani nomor 41 Kampung Tomuan, salah satu bagian dari kecamatan Siantar Timur di kota itu. Konon, nama Tomuan adalah nama kampung pertemuan bermacam-macam suku dan penganut agama disana. Perumahan masih sepi, disepanjang Jalan Daliltani yang kurang lebih panjangnya dua kilometer, baru berdiri sedikit rumah. Ujung Jalan Daliltani pada mulanya hanya dari persimpangan Jalan Narumonda, kini telah diperpanjang ke hulu bercabang dua, satu cabang ke kanan tembus ke Jalan Pane, cabang ke kiri tembus ke kampung Karo. Ke hilir, jalan itu berujung di sekitar arah perkampungan Lapangan Bola, masih dipisahkan oleh sungai Bah Sorma. Jalan penghubung sudah ada menggunakan jembatan kayu. Karena sering rusak, jembatannya jarang dipergunakan dan sangat riskan jika dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu, penurunan dan pendakian dari dan ke sisi jembatan itu sangat curam. Kini sudah dibangun jembatan dengan sistem  gorong-gorong  dan  dari  sisi kiri dan kanan ditimbun, sehingga pendakian dan penurunan dari kedua sisi sudah tidak ada lagi. Jalannya sudah mendatar dan sudah ramai dilalui oleh kendaraan.
Sederetan dengan rumah mereka, dari Jalan Narumonda kearah hilir, di kiri jalan hanya ada delapan rumah. Di seberang jalan, ada tiga rumah dengan halaman yang cukup luas, perumahan orang yang lebih dulu berada dan sudah lebih dulu tinggal di sana. Selainnya masih semak belukar, perkebunan karet, ladang penduduk dan sedikit perumahan yang baru dibuka. Tidak jauh ke arah belakang rumah, kira-kira limaratus meter ada rumah sepupu nenek (nenek menurut bahasa Melayu Deli adalah panggilan untuk kakek dan nenek baik dari pihak ibu, maupn pihak ayah. Untuk kakek disebut nenek laki-laki dan yang perempuan disebut nenek perempuan),



Gambar 21. Pematangsiantar di Sumatra Utara

dari silsilah ibunya, nenek M. Dahlan bermarga Pulungan. Rumah itu menghadap ke jalan Pattimura. Halamannya luas, banyak ditanami bunga hebra berwarna-warni. Mereka berasal dari kelompok orang dari Mandailing Tapanuli Selatan, penganjur agama Isalm di kota Pematang-siantar, terutama di kampung Tomuan. Tanah dibelakang rumah itu adalah tanah milik nenek ini, sangat luas hampir dua hektar. 

Di Jalan Pattimura ketika itu masih ada kereta api kecil lengkap dengan relnya, merupakan alat transportasi hasil dari perkebunan ke stasiun Kereta Api mini di kota. Penduduk setempat menyebutnya muntik.

Gambar 22. Kereta Api mini

 
        “Tuiiiit…..tuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit….tuiiit” begitu suara yang terdengar ketika kereta ini setiap pagi lewat di Jalan               Pattimura.
        Lalu ibunya mengingatkan,
       “Nur, sudah siap berangkat ke sekolah? Muntik sudah lewat, sebentar lagi setengah delapan, lonceng                 sekolah segera berbunyi”, ibunya menyambung.
       “Jangan sering terlambat, nanti kau ketinggalan pelajaran”, tambahnya.
       ”Ya mak..!”, Ia menyahut mempersiapkan diri, lalu berangkat sekolah.

Ketika pukul tujuh pagi muntik melewati jalan Pattimura, diiringi desah mesin lokomotipnya, menarik bergerbong-gerbong muatan penuh karet atau kelapa sawit ke arah stasiun Kereta Api. 

Gambar 23.  Stasiun KA Siantar
Salah satu gerbongnya adalah gerbong yang mengangkut anak sekolah atau pelajar yang bersekolah di kota Pematangsiantar. Ada anak sekolah SD, ada SMP dan SMA, ST dan STM ada SGB dan SGA, ada pula SMEP dan SMEA yang turut serta dalam perjalanan ini. Itu sebabnya kereta muntik ini selalu datang ke kota pada pukul tujuh secara teratur. Begitu juga ketika pulang, siang hari pukul dua belas, pukul dua dan terakhir pukul lima sore hari. Bahan bakar lokomotipnya sebagian masih kayu bakar untuk menghasilkan uap penggerak mesin, sebagian lagi menggunakan mesin diesel dengan bahan bakar solar. 
Ia dan teman-temannya masih sering mengikuti kereta api mini ini ketika ingin berjalan-jalan atau melancong ke perkebunan Marihat. Atau sekedar menumpang ke Masjid kampung Tomuan Hilir yang dekat dengan lintasannya. 
Sejak tahun 1962 kereta muntik itu sudah tidak ada. Digantikan oleh truk-truk besar yang lebih bebas pemakaian dan pemilihan rute-rute yang ditempuh, serta pemeliharaan jalan yang lebih sederhana karena tidak perlu memelihara jalan rel kereta muntik ini.


 
Gambar 24. Buah Manggis muda

Gambar  25. Karamunting, bunga dan buahnya




















Di belakang rumah antara Jalan Daliltani dengan Jalan Pattimura, masih ada hutan semak belukar dan sedikit sisa hutan lebat. Disana masih ada pohon asam belimbing, pohon kelapa, pohon manggis, pohon langsat, rambutan, mangga, pinang, dan nangka. Di sana sini ada pohon perdu yang oleh penduduk setempat dinamakan dengan daun senduduk (Karamunting), khas kekayaan hutan dan semak belukar Pulau Sumatra. Pucuk daunnya bisa dipergunakan sebagai obat sakit perut yang mencret-mencret. Rasanya agak manis, ada kelat-sepat, rasa yang menciutkan rongga mulut ketika dikunyah sebelum ditelan. Khasiatnya hampir sama dengan pucuk daun jambu batu. Cuma rasa pucuk daun jambu batu ini pahit sekali. 


Gambar 26. Pohon petai dan buahnya
Di hutan yang masih lebat ini ada pohon petai yang tinggi menjulang ke angkasa, yang di pangkal pohonnya merapat pohon sukun yang besar dan daunnya lebat. Diapit dua pohon kelapa yang juga sudah tinggi dan sebatang pohon rambutan yang rindang daunnya dan besar batangnya. Di bawahnya banyak pohon ilalang dan semak belukar yang khas tumbuh dibawah pohon rindang, yakni pakis-pakisan. Di cabang dan ranting pohon yang tinggi ada sarang burung hantu, yang kalau malam hari selalu terdengar bernyanyi. Selain itu, di hutan ini masih banyak bersarang burung puyuh, perkutut, tekukur, cucak-rawa, punai, murrai dan lain-lain. Di pohon pinang, bersarang dan sering terlihat tupai atau bajing. Di pelepah daun pohon kelapa yang tinggi masih banyak terlihat sarang burung tempua, atau yang dikenal juga sebagai burung manyar. Masih ingat pepatah melayu? “Kalau tidak karena ada berada, masakan tempua bersarang rendah”, yang artinya, setiap ada perubahan dari hal yang umum, merupakan pertanda akan atau telah terjadinya sesuatu.
Sarang Burung Tempua
di pelepah daun kelapa yang tinggi

Di semak belukar bisa dijumpai sarang burung pipit, burung puyuh dan kadang-kadang masih bisa dijumpai sarang ayam hutan. Kucing peliharaan mereka sering menangkap burung puyuh  dan membawanya pulang ke rumah, ada yang sudah mati tapi ada juga yang masih hidup. Dan tidak ketinggalan banyak monyet pagi hari.
Jalan pintas dari arah Jalan Daliltani ke Jalan Pattimura melintas di bawah hutan yang berdaun sangat lebat ini. Saking lebatnya, di siang hari matahari tidak terlihat dari bawah. Kalau malam hari, persis dibawah pohon yang lebat ini gelap gulita. ***

Sejarah Kota Pematangsiantar
Pada tanggal 24 April 2011 kota Pematangsiantar kini telah berumur 140 tahun. Kota ini pernah berprestasi secara nasional. Atas kebersihan dan kelestarian lingkungannya, pada tahun 1993 kota ini telah menerima Piala Adipura. Sementara itu, karena ketertiban pengaturan lalu lintasnya, pada tahun 1996  telah meraih penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha. Sampai sekarang beberapa prestasi telah pernah dicapai kota ini.
Kota Pematangsiantar terletak pada garis 3°01’09” sampai 2°54’40” Lintang Utara dan 99°6’23” sampai  99°1’10” Bujur Timur, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dengan luas 79,97 kilometer persegi. Kota ini terletak 400 meter di atas permukaan laut. Pada waktu siang atau malam hari, kehidupan dan aktivitas masyarakatnya tak pernah surut. Siang hari penduduk disekitar kota yang datang dari Kabupaten Simalungun dan daerah-daerah terdekat lainnya, seperti Seribudolok, Tigaras, Sidamanik, Perdagangan, Bahjambi, Bandar, Serbelawan dan lain-lain datang berbelanja pagi dan siang hari untuk keperluan hidup sehari-hari. Menjelang tengah malam, masih banyak restoran dan rumah makan yang buka sampai pukul sebelas malam. Mulai pukul satu esok paginya dari desa sekeliling banyak berdatangan atau masuk barang-barang dagangan di pasar Pajak Horas yang akan diperjual belikan pagi, siang dan sore hari. Dengan udara yang sejuk dan air yang bening dan melimpah dimana-mana, kehidupan di kota ini aman, makmur, tertib dan tenteram. Keadaan yang dapat  menghidupkan perekonomian dan kesehatan masyarakatnya.
Dengan keadaan tersebut, kota Pematangsiantar mempunyai nilai tersendiri yang baik untuk menanamkan modal atau berinvestasi. Karena disamping aman, tertib dan tenteram, jumlah penduduk sebagai tenaga kerja multi-etnis yang relatif banyak, berpendidikan, kemampuan kerja yang  baik dan juga bahan baku yang mencukupi. Khususnya yang berasal dari interland daerah sekelilingnya. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, Pematangsiantar berpenduduk 240.831 jiwa yang menjadikannya kota kedua terbesar setelah Medan, ibu kota Sumatera Utara. Penduduknya terdiri dari campuran beberapa etnis, dengan 49,6 persen dari etnis Batak Toba, 14,2 persen dari etnis Jawa dan 11,43 persen dari etnis Batak Simalungun. Etnis lain kurang dari 10 persen masing-masing dari Melayu, Batak Mandailing, Batak Angkola atau Sipirok, Cina, Minang, Batak Karo, Batak Dairi dan lain-lain. Dari jumlah penduduk tersebut, terdapat angkatan kerja sekitar 85.000 jiwa dengan 86 persen yang bekerja pada lapangan kerja yang bervariasi.
Sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian kota ini adalah industri besar dan sedang. Dari total kegiatan ekonomi di tahun 1999 yang mencapai Rp 1,5 trilyun, pangsa sektor industri mencapai 38 persen atau Rp 593 milyar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyusul di urutan kedua, dengan sumbangan 22 persen atau Rp 335 milyar. Dari ketiga kegiatan di sektor ini, subsektor perdagangan memberikan pemasukan sampai Rp 300 milyar. Diantaranya adalah produksi oleh-oleh khas Pematangsiantar. Para turis atau pelancong yang  mengendarai mobil dari Medan menuju ke Parapat dan Pulau Samosir yang terkenal sangat indah itu, banyak yang singgah barang sejenak di Pematangsiantar, untuk membeli oleh-oleh Teng-Teng, Sarikaya dan Bika Ambon khas Pematangisantar yang sangat lezat, semuanya diproduksi dari hasil pertanian di sekitar Kabupaten Simalungun.
Hasil industri andalan Kota Pematang Siantar adalah rokok putih, filter dan non-filter, serta tepung tapioka. Pada tahun 2000, dengan tenaga kerja sebanyak 2.700 orang, NV Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), produsen rokok yang berdiri sejak 1952, menghasilkan 11,06 milyar batang rokok putih filter dan 75 juta batang rokok putih non-filter. Dari seluruh hasil produksi rokok filter tersebut sebagian besar dijual ke luar negeri terutama ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur. Sisanya dijual di dalam negeri. Sementara itu, Taiwan menjadi negara tujuan penjualan tepung tapi-oka yang diproduksi kota ini.
Sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Pematangsiantar merupakan daerah kerajaan Siantar. Pematangsiantar pada awal-nya berkedudukan di Pulau Holing, suatu tempat di kampung Pematang sekarang, dan raja terakhir dari dinasti keturunan marga Damanik yaitu Tuan Sangnawaluh Damanik, yang memegang kekuasan sebagai raja tahun 1906. Disekitar Pulau Holing kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk, diantaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu:
  1.  Pulau Holing menjadi Kampung Pematang 
  2. Siantar Bayu menjadi Kampung Pusat Kota
  3. Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame, dan Bane.
  4. Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Kampung Karo, Kampung Tomuan, Pantoan, Toba dan  Martimbang.



Gambar 27. Peta Administrasi Kota Siantar
Setelah Belanda memamusuki daerah Sumatera Utara, Simalungun menjadi daerah kekuasaan Belanda dan pada tahun 1907 kekuasaan raja-raja berakhir. Controleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, diantaranya Bangsa Cina, India dan lain-lain. Mereka banyak mendiami kampung Timbang Galung dan Kampung Melayu. Pada tahun 1910 didirikan Badan Persiapan Kota Pematangsiantar. Kemudian Pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Stad Blad No.285, Pematangsiantar berubah menjadi Geemente yang mempunyai otonomi sendiri. Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No.717 berubah menjadi Geemente yang mempunyai Dewan. Pada jaman Jepang berubah menjadi Siantar Estate dan Dewan dihapus. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Pematangsiantar kembali menjadi daerah Otonomi. Berdasarkan UU No.22/1948 status Geemente menjadi ibu kota Kabupaten Simalungun dan Walikota di rangkap oleh Bupati Simalungun sampai 1957. Berturut-turut Pematangsiantar mengalami perubahan menjadi Kota Praja penuh, menjadi Kotamadya dan dengan keluarnya UU No.5/1974 Tentang pokok-pokok pemerintah daerah, berubah lagi menjadi daerah tingkat II Kota Pematangsiantar sampai sekarang.  ***
Ia dan seluruh keluarga besarnya, Nenek laki-laki dan perempuan, paman-paman, beberapa famili dan keluarga kampung yang menumpang, tinggal di Jalan Daliltani No. 41 Kampung Tomuan. Di sekitar kampung inilah cerita masa kecilnya berlangsung, sejak masih Sekolah Dasar, ST dan STM. Di sekitar Masjid, Sungai Bahbolon, Sekolah Dasar, Bah Sorma dan sawah. Kolam renang Swimbath (Sekarang menjadi Detis Sari Indah) di kampung Pematang, Jalan Cipto dan Pajak Horas ada di tengah kota, dan madrasah Alwashliyah berpusat di Timbang Galung. Bengkel sepeda mereka ada di Jalan Asahan, berhadapan langsung dengan rumah salah satu pendeta, pengajar di Universitas Nommensen.
Ke arah Kisaran, bertetangga dengan Universitas Nommensen, pernah ada pabrik Perusahaan Negara pengalengan nenas Sidamanik, sebagai hasil pampasan perang dengan Jepang. Nenas Sidamanik yang sangat terkenal manis, dari ujung sampai pangkal sama manisnya.  Namun karena pengelolaanya yang kurang baik, tak lama kemudian pabrik itu tutup. Juga kelompok tanaman Nenas Sidamanik yang terkenal itu sudah tidak ada lagi, tinggal menjadi kenangan bagi mereka yang pernah mengalami kejayaannya.

******