Lanjutan Cierta Ratna Mutu manikam (3)
MUTIARA KISAH KASIH KELUARGA
Nurain, demikian ia diberi nama oleh ayah-ibunya, dilahirkan di pengungsian, di Kecamatan Siantar Marihat, kampung Silau Malaha. Nama yang baik, yang berati cahaya mata, mungkin dimaksud dan doa agar ia menjadi cahaya mata ayah-ibunya kelak. Ayahnya bernama Nurdin Silalahi dan ibunya Nurmiah Saragi. Ia adalah anak yang pertama atau paling besar. Pekerjaan kedua orang tuanya adalah berdagang sayuran di pasar tradisional, ‘Pajak Horas’ begitu penduduk Pematangsiantar menyebutnya. Terakhir setelah pasar itu terbakar, mereka beralih perkerjaan, kembali bertani di sawah mereka.
Mereka bersaudara ada sebelas orang, yang masih hidup sebanyak tujuh orang termasuk dirinya. Ada empat adiknya yang telah meninggal dunia. Yang pertama adalah mendiang almarhum Sain, ia tidak pernah mengenalnya. Yang kedua almarhumah atau mendiang Nurhayati yang sehari-hari diasuh dan dibawanya kemana-mana. Yang ketiga mendiang Misnah Addrah dan yang keempat meninggal ketika masih berumur dibawah setahun, keduanya meninggal setelah ia merantau ke Bandung.
Bermacam tingkah laku, sifat dan tabiat masing-masing adik-adiknya ini. Tiga orang di antaranya: Kamisah, Zahara, dan Zuliah tinggal menetap di Pematangsiantar. Yang pernah tinggal bersamanya dan kini telah bekerja adalah Nurbaya, Sakdiyah dan Abdul Rahim. Kini Kamisah bekerja sebagai guru Agama Islam di SD, Zahara bekerja sebagai wiraswasta kecil-kecilan. Zuliah lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini mengajar Bahasa Inggris di salah satu SLTA di Pematangsiantar.
Pada saat ia pulang setelah lima tahun diperantauan, banyak hal terjadi di kampungnya. Rumah mereka sudah pindah dari Jalan Daliltani ke Jalan Terong, ia sendiri tidak tahu sebabnya. Kabar dari tetangga yang sama-sama berjualan di pasar Pajak Horas, mengatakan bahwa rumah itu di jual untuk membayar hutang.
Rumah di Jalan Terong sebenarnya tidak pantas disebut rumah, hanya pantas disebut sebagai gubuk. Lantainya masih tanah, dindingnya sebagian papan, sebagian lagi gedeg atau anyaman bambu, atapnya atap rumbia dan sering bocor diwaktu hujan. Kalau matahari bersinar cerah, cahayanya masuk ke rumah bagaikan pedang-pedang sakti menerobos dari lubang anyaman bambu itu. Malam hari, angin masih bisa akrab membelai penghuni rumah. Mereka adik-beradik tidur di atas tanah beralaskan tikar, kesehatan penghuninya kurang terjamin, lalu ayahnya sakit berkepanjangan.
Perekonomian keluarga di dukung sebagian besar oleh adiknya Kamisah, sebagian lagi dari penghasilan sawah, upahan membuat kotak korek api, dan selebihnya kiriman dari abangnya di perantauan seadanya, termasuk biaya kuliah adiknya Zuliah. Kamisah nasibnya lebih baik karena telah diangkat sebagai guru agama di sekolah dasar, setelah beberapa tahun lulus dari PGA Islam di Pematangsiantar. Keadaan ekonomi seperti ini, yang sangat sederhana, sangat berpengaruh pada semua adik-adiknya, terutama Nurbaya dan Rahim, yang kelak terlihat pada saat keduanya datang ke Bandung. ***
Nurbaya tinggal bersamanya di Bandung dan Jakarta sejak lulus SD tahun 1974. Ia membawanya ke Bandung, berusaha mengarahkan kembali pendidikan dan program masa depannya. Pada saat pulang setelah lima tahun merantau, ia melihat Nurbaya telah pasrah dengan keadaan kedua orang tuanya yang hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Telah setahun Nurbaya tak bersekolah lagi setelah lulus SD. Ia banyak berharap dari belas kasihan orang lain, dengan berjualan entah apa sambil mengumbar penderitaan dan keadaan dirinya, berkeliling kampung. Dan sudah tidak berfikir lagi untuk sekolah. Terbersit dari dalam batinnya, kalau Nurbaya tak sekolah, tentu kehidupan masa depannya kelak lebih suram lagi dan akan menjadi beban dan menyusahkan orang lain. Lalu ia berunding dengan ayah-ibunya, dan Nurbaya setuju di bawa ke Bandung. Dalam hal ini, ibunya diam saja, sudah tidak bisa lagi menitikkan air mata, dengan muka merah memelas.
Air mata ibu telah kering, karena telah puas di dera derita kehidupan yang tak kunjung berhenti. Pasar tempat mereka berdagang sayur terbakar, setelah pasar itu di perbaiki atau renovasi, tak sanggup membayar tebusan, karena terlalu mahal. Akhirnya rumah mereka terjual untuk membayar hutang dan kembali bekerja di sawah. Bengkel sepeda sudah lama tidak berjalan lagi, karena tenaga ayahnya sudah jauh menurun, satu dan lain hal juga karena banyaknya saingan bengkel sepeda yang lain dengan layanan yang lebih baik. Rumah sementara di bangun seadanya di atas tanah orang lain, gubuk di Jalan Terong itu. Sawah sering kebanjiran, padi rusak dan ikan di kolam limpas terbawa air bah yang sering banjir. Ayahnya juga sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kamisah sampai berucap:
“Kalau keadaan kita lebih baik, tentu kita tidak akan terserak-serak, berpisah jauh seperti ini ya Bang”, sambil mengusap aimatanya.
Ia hanya diam seribu bahasa, tak kuasa berkata-kata. Ia tidak mau ikut bersedih hati agar ayah ibunya tidak terus menerus larut dalam kesedihan. Yang masih tetap dibanggakan, adik adiknya ini tidak ada yang tidak bersekolah, walau sesusah apa kehidupan ayah-ibunya. Umumnya semua mereka lulus tingkat SLTA. Hanya Nurbaya saja yang nyaris, itupun setelah lulus SD. Dengan dibawa ke Bandung, ia berharap Nurbaya bisa menyesuaikan diri, paling tidak bisa mendapatkan pendidikan yang kelak bisa menopang hidupnya. Selain itu tujuan membawa ke Bandung, paling tidak bisalah Nurbaya yang menemaninya pada saat ia menikah, karena ayah-ibunya tidak bisa datang. Namun ia tidak mau terus berlarut-larut dalam kesedihan ini. Ia yakin, lambat laun akan ada jalan keluar dari masalah, mengingat ia sudah mengikuti pendidikan untuk siap bekerja. Keadaan keluarganya menjadi begini, adalah akibat tidak bisa meningkatkan kemampuan untuk bisa bersaing dalam kehidupan yang semakin lama semakin memerlukan pemikiran dan tindakan yang lebih baik. Mereka sudah tidak mempunyai keunggulan lagi, karena memang tidak mempunyai kemampuan meningkatkannya sesuai keperluan zaman. Nyaris terlempar dari kancah kehidupan. ***
Penyesuaian kembali Nurbaya untuk mau sekolah, ternyata tidak mudah, dengan segala tingkah polah yang kadang dapat menyesakkan dada. Perilakunya sangat memprihatinkan, ia hendak mengatur di rumah orang lain, makanannya harus sama ketika ia seperti makanan yang di Pematangsiantar, hal yang mustahil dilaksanakan. Ketika itu ia tidak mau makan kalau tidak ada ikan asin. Kadang-kadang ia membuat sambal sendiri, hal yang tidak mungkin untuk dipertahankan. Perilaku yang menjengkelkan, yang sering membuat malu abangnya. Cara bergaulnya dengan orang lain masih harus diperbaiki. Kebiasaannya minta dikasihani oleh orang lain seperti ketika ia di Pematangsiantar, seakan-akan dialah yang paling menderita, terulang lagi. Ia selalu menceritakan penderitaannya kepada orang lain, ketika ia bersama-sama mencuci pakaian di saluran air dekat rumah kontrakan mereka. Begitu juga kepada mertua, hanya tidak ditanggapi. Termasuk kesehatannya yang tidak prima. Waktu itu penyakit lambung atau magnya sudah kronis. Kalau sudah kumat, ia bisa menjerit-jerit sambil terduduk memegangi perutnya yang sakit. Apakah benar sakit, atau mencari perhatian orang lain, tidak ada yang tahu. Apalagi ia tinggal bersama kakak iparnya di Bandung, ia harus menyesuaikan dengan budaya Bandung dan itu tidaklah gampang. Konflik dan keributan kecil-kecilan sering terjadi. Namun demikian, dengan kesabaran semua ditangani dan ditanggulangi sebaik-baiknya, karena ia dan istrinya yang penyabar maklum akan keadaan itu. Nurbaya kemudian didaftarkan untuk melanjutkan sekolah di SMP PGII Bandung, ketika ia awal bertugas di Jakarta. Kemajuan pelajarannya sangat lambat, karena sering menentang kalau disuruh belajar. Pernah ditawari untuk pulang lagi ke Pematang-siantar, tapi tidak mau.
“Karena dibiayai sekolahku, jadi aku musti rajin belajar, ya kan?” ucapnya dengan
mimik agak menantang kalau disuruh belajar.
Kepadanya diingatkan, kalau tidak sekolah dan tidak belajar dengan baik dan rajin, tidak akan ada gunanya nanti. Akhirnya, setelah diberi pengertian dengan susah payah, maka,
“Ya ialah, jelas. Kalau bicara pakai fikiran yang benar! Ke Bandung bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk bersedih-sedih lalu minta dikasihani, tapi untuk belajar, kalau tidak mau belajar, ya pulang ke Siantar,” tegas abangnya.
“Baya belajar bukan untuk kepentingan abang, tapi untuk kepentingan Baya sendiri.
Mumpung ada kesempatan, belajarlah baik-baik. Abang sudah ada di sini, tempat berteduh dan mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak mau ya pulang”.
Nurbaya terdiam, kedengaran menggerutu. Dengan berjalannya waktu, sedikit-demi sedikit kelakuannya berubah. Demikian perilaku adiknya ini selama sekolah dan sampai lulus dari SMP PGII di Bandung.
Salah asuhkah adiknya ini? Mungkin, benar salah asuh. Ketika di Siantar, di rumah sehari-hari tidak ada panutan yang baik sehingga pengasuhan di lingkungan keluarga kurang baik. Mungkin juga sekolahnya tidak mengajarkan cara berpikir yang benar. Kenapa ia tidak bisa berpikir, atau bahkan belum menghayati sebab-akibat? Apakah tidak pernah dijelaskan kepadanya supaya berpikir logis? Seperti kalau lapar, ya makan supaya kenyang. Jadi ya akibat makan maka perutnya kenyang. Begitu juga, pepatah: rajin pangkal pandai. Artinya, kalau orang rajin belajar, maka tentu ia akan pandai. Bukankah guru Bahasa Indonesianya sudah menjelaskan arti pepatah ini? Menjelaskan sebab-akibat dan berpikir logis? Pepatah dalam Bahasa Indonesia sangat baik digunakan untuk memperdalam pengetahuan sebab-akibat. Kalimat yang muncul dalam dialog di atas tidak akan muncul kalau biasa berfikir logis. Itulah sebabnya bagi setiap murid kalau belajar bahasa harus memperhatikan benar-benar sebab-akibat yang sederhana. Begitu juga kepada guru Bahasa Indonesia, pada saat menjelaskan arti pepatah jangan lupa menjelaskan artinya dalam rangkaian sebab-akibat. Berpikir logis.
Guru yang tidak acuh terhadap kemajuan anak-didiknya, yang kalau datang ke kelas menyuruh murid menyalin ke papan tulis, lalu ia mengobrol di kantor atau jajan di kantin, sudah tidak saatnya lagi dipertahankan. Atau guru yang selalu sibuk membuat rencana program pembelajaran dan syllabus, proses pembelajaran terabaikan. Mengutamakan administrasi dari pada proses. CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif hendaknya jangan diterjemahkan menjadi Cul Budak Sina Anteng dalam bahasa Sunda, yang artinya membiarkan anak didik aktif semaunya asal mereka senang. Guru senang, murid senang, proses pembelajaran berantakan, berfikir logis murid terbang menghilang. Atau PAKIEM, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Innovatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif memang ketika pembelajaran di luar kelas. Sebagian aktif bermain bola, sebagian aktif meninggalkan guru yang sedang berteriak-teriak menerangkan. Kreatif menanyakan dan memberi saran sesuai dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Bisa juga terjadi kreatif membelokkan pertanyaan karena melihat suasana di luar kelas. Kreativitas yang harus dapat dikendalikan guru pengajar. Inovatif, selalu mendahulukan penggunaan ide-ide baru. Efektif bagi segelintir siswa yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan bagi yang senang bermain bola ketika pelajaran di luar kelas, menyenangkan bagi mereka yang bisa mengalihkan konsentrasi di kelas menjadi konsentrasi di luar kelas. Juga menyenangkan bagi semua siswa untuk menghindari rasa bosan dalam kelas yang passif, tidak ada perubahan dari hari ke hari. Akhirnya tidak semua siswa mendapat manfaat yang sama. Yang serius juga terganggu oleh kegiatan siswa lain yang tidak sungguh-sungguh belajar. Bagi guru harus bisa memilah-milah, pelajaran mana yang baik dan mana yang tidak baik dilaksanakan diluar kelas.
Pembelajaran di daerah tertentu yang masih ada team sukses untuk meluluskan murid mencapai target kelulusan seratus persen, sebagian besar jawaban dikerjakan guru agar kelulusan sesuai target. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru-guru yang kreatif untuk mencapai kelulusan sesuai dengan target, termasuk peniruan atau nyontek massal. Hal semacam ini akan berdampak pada menurunnya wibawa guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan. Berdampak juga pada terkikisnya idealisme dan inovasi pelajar. Karena mereka tahu bahwa nanti ketika ujian akan dibantu oleh guru demi target daerah setempat, lalu mereka belajar tidak maksimal, bahkan bisa jadi melecehkan guru mereka.
“Ah, nanti juga dibantu menjawabnya, bisa guru bisa siapa saja”, gumam mereka dalam pembicaraan sehari-hari.
“Buat apa sih belajar susah-susah?”, lanjutannya.
Maka ketika dikelas, buku mereka hilang, dan ketika ditanya dimana buku pelajarannya, ia hanya tertawa sinis. Ketika ditanya mengapa pekerjaan rumah mereka tidak dikerjakan, berbagai macam alasan dikemukakan untuk tidak mengumpulkan tugas. Ketika ditanya mana tugas yang telah diberikan, dengan gampangnya siswa menjawab, “lupa pak!”. Atau adanya tindak lanjut remedial bagi mereka yang tidak atau belum lulus, anak didik merasa mereka pasti lulus. Buat apa susah-susah belajar, kalau bisa lulus dengan tanpa belajar. “Kan ada remedial!”, begitu pikir mereka. Maka sewaktu ujian block atau tengah dan akhir semester, belum sampai lima belas menit siswa peserta test sudah keluar, mengharapkan lulus lewat remedial. Apa lagi kalau ketuntasan belajar minimal, atau nilai terkecil yang harus dicapai bukan ditetapkan oleh guru sesuai dengan syarat: kualitas masukan anak didik yang ada (in take), tersedianya sarana dan prasarana (availability of cost, equipment and infrastructure) dan kemampuan dan penguasaan guru terhadap materi pelajaran (teacher capability of subject matter). Adakalanya syarat yang ada sudah ditetapkan oleh sekolah dan guru harus mencapai itu. Dan yang pasti, menurunnya kualitas lulusan. Jika pelajar diluluskan dengan cara seperti ini, maka tidaklah heran kalau produktivitas, kemampuan dan integritas bangsa akan tergerus oleh lulusan yang tidak berkualitas ini. Wibawa guru dalam proses belajar mengajar, hampir hilang atau turun secara cepat ke titik terendah.
Untuk menghindari ini bisa diberlakukan sistem kredit semester, SKS. Bagi mereka yang potensinya kurang, lulusnya lebih lama, yang potensinya baik dan berkualitas, lulus lebih cepat. Karena konsep pendidikan bagi siswa adalah based on potential not on the age, bergantung kepada kemampuan atau potensi, bukan kepada umur. Potensi setiap siswa berbeda, jangan dilupakan dan oleh karena itu tidak boleh disamakan. Mungkin dalam pengajaran bahasa, cara ini banyak terlupakan. Kebanyakan guru Bahasa Indonesia menganggap pelajarannya tidak begitu penting, sehingga cara penyampaiannya kurang sempurna.
Kalau pelajaran bahasa memang seperti ini, maka penguasaan bahasa dalam pengertian sebab-akibat dan berpikir logis akan menurun drastis. Maka pengajar juga harus ditingkatkan kemampuannya secara berkesinambungan, dan berkat pengalamannya bisa memilih metode pembelajaran apa yang paling efektif ketika dihubungkan dengan situasi pembelajaran. Ditingkatkan kemampuannya untuk menerapkan PAKIEM secara benar dengan kendali proses pembelajaran berbasis-pengetahuan (learning control and knowledge-based system). Pengajar hendaknya sadar bahwa pelajaran bahasa sangat penting, karena bahasa adalah pintu untuk masuknya ilmu pengetahuan kedalam pikiran peserta didik. Termasuk bahasa pemrograman computer, yang akhir-akhir ini sangat penting untuk mengakses informasi untuk pemutakhiran kekinian, memperlancar arus informasi. Bila logika bahasanya sudah benar, maka bahasa pemrograman tidak lah susah untuk diikuti. Mungkin adiknya Nurbaya ini adalah salah satu korban akibat penerapan proses yang kurang matang ketika di Pematangsiantar, mungkin juga karena sudah tidak ada semangat belajar. Atau kombinasi keduanya.
Setelah lulus SMP, Nurbaya kemudian ikut serta ke Jakarta, melanjutkan di SMA Indonesia Raya di Jalan Rawasari Jakarta Pusat. Rumah abangnya ada di Jalan Penggalang I, dekat pasar Pramuka dan Pasar Burung Jakarta. Kalau naik Metromini hanya sekali dari Jalan Pramuka ke sekolah ini. Disini juga ia masih susah disuruh belajar serius. Pernah dipersiapkan untuk mengikuti testing calon karyawan TELKOM setingkat lulusan SMP, tapi bukannya menghapal, malah menulis puisi yang tidak jelas. Akhirnya testingnya tidak lulus. Perilaku yang susah diterima akal. Namun demikian, dengan kesabaran, ia dan istrinya tetap mengasuhnya. Sampai akhirnya Nurbaya berhasil lulus dari SMA. Setelah lulus SMA, sambil mengajar di SD swasta, Nurbaya ikut belajar di KPG sampai tahun 1984. Ia tinggal sendirian di Jakarta, dekat rumah dan sekalian dititipkan pada keluarga Pak Zainal Solihin, sepupu atau adik mertuanya yang tinggal di Jalan Penggalang, Jakarta Timur. Sedangkan ia bersama keluarganya pindah karena alih tugas ke Pekanbaru.
Nurbaya mengajar SD di Jakarta setelah lulus KPG. Tak lama kemudian ia menikah dengan suaminya Yoyo, pemuda tampan yang berasal dari Kawali, Ciamis. Perjuangan hidup bersama suaminya tercinta penuh dengan pergolakan nasib. Anak mereka yang baru semata wayang dititipkan kemana-mana di sekitar Jalan Penggalang, karena suaminya dan ia sendiri bekerja. Akhirnya mereka dapat mengatasinya sendiri. Ya itulah, hidup ternyata adalah perjuangan, dan sambil berdoa, Nurabaya dan suaminya tak kenal menyerah. Sampai akhirnya nasib baik memeluknya.
Tidak lama kemudian Nurbaya diangkat jadi PNS sebagai guru. Setelah beberapa tahun mengajar, untuk peningkatan mutu dirinya agar terus bisa mengikuti kemajuan pendidikan, ia pun diberi kesempatan oleh atasannya untuk kuliah lagi di UNJ Jakarta. Kini ia telah lulus sebagai Sarjana Pendidikan. Sekarang Nurbaya mengajar di SD di daerah Pisangan, Rawamangun, di Jakarta Timur. Ia pernah tinggal di Cibitung Bekasi bersama suaminya tercinta, salah satu perjuangan hidupnya, setiap hari ulang-alik Jakarta-Cibitung dengan berbagai macam kissah yang memilukan hati. Komplek perumahan mereka pernah dilingkup banjir, ketika di kereta listrik uang dan barang berharga lainnya hilang karena kurang waspada. Dan bermacam-macam kejadian lain-lainnya. Sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, mendekatkan diri dengan tempatnya mengajar.
Nurbaya dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan satu perempuan. Doa dari semua abangnya, semoga ia sehat-sehat selalu, agar ia dapat membesarkan buah hatinya itu dengan sebaik-baiknya. ***
Adiknya Zuliah, Sekolah SD Muhammadiyah di Jalan Merdeka, Setelah lulus SD, melnjutkan SMP dan SMA di sekolahMuhammadiyah yang sama.
Tidak lama akemudian ia mengikuti kuliah UNIVERSITAS NOMMENSEN di jalan Asahan, kampus yang modern saat itu. Tak banyak yang dekrtahinya mengenai adinya Zuliah. Yang diketahuinya adalah, semenjak semester 1 sampai dengan semester lima, aku selalu mengirim uang lewat Bank Mandiri, karena itulah satu-satunya bank di kota itu.
Setelah aku mengirim lewat loket, lewat alamat Kamisah di SD 129567 di kompleks stadion, dengan telegram aku kirimkah konfirmasi ke kKamisahuntuk diambil, dengan engirim telegram gaya orang keuangan bank:
"kuhi 50rb utk kuliah Zuliah via bank mandiri, hrp cekdan cairkan", send by ns."
artmya, kiriman uang utk Zuliah, hari ini lima puluh ribu rupiah, harp cek dan cairkan.
Tidak berapa lama, Zuliah membukan rekening di Bank Mandiri. Oleh karena itu, uang mantan kuliah dan sedikit bantuan utk keluarga, dikirim lewat rekening Zuliah, dengan mengambilnya dari ATM yang ada. Konfrimasi kiriman dikirim ke Kamisah. Ternyata, Zuliah tak bisa mengambil uang lewat ATM, keto
ika i cek utk menambil uang di Bank Mandiri. Aku sangat kesal, karena uantk bantuan keluarga tak pernah diserahkan ke Ibu/Omak dan Kamisah utk tambahan biaya keluarga. Saking kesalnya, ketika kiriman komputer di cek cara pengunaannya utk keperluan kuliah, ternya tak bisa sama sekali.
Dan akhirnya, kiriman uang aku berhentikan.
Untunglah ia dengan gigh meneruskan kuliahnya sambil membiayai kuliahnya sendiri. Entah dengan cara bagaimana aku sendiri tidak parnah mengetahuinya. Tetiba saja ada berita , Zuliah menginap di uamh adik ibu di Medan, ocik Saini, bahwa Zuliah ituk Wisud di Medam sebagai jurusan pendidikan Bahasa Inggris. Alhamdulillah, rupnay Zuliah juga seorang pejuang gigih yang tak mau menyerah dengan keadaan.
Ketika ada pendaftaran sebagai pengajar berhomor, ia di terima sengai guru Bahasa Inggris di SD, Beberapa tahun kemudian, ia minta dipihdahgkan ke SMA 6, salah satu Sekolah Menegah Atas yang muridnya ramai dari kampung sekitarnya. Alamatnya SMA 6 Negeri Pemtang Siantar, di Jalan Raya P. Siantar - Medan..
Yang paling dahulu lulus sarjana adalah adiknya Halimah Sa’diyah. Ia lulus UMPTN tahun 1986 untuk program D3 Pendidikan Matematika, dan oleh ibunya diantar ke Pekanbaru. Lalu Sa’diyah ikut tinggal bersamanya menuntut ilmu di FKIP-UNRI selama ia bertugas di Pekanbaru, sampai lulus D3 berstatus ikatan dinas untuk guru SLTA. Sa’diyah adalah adiknya yang tidak atau jarang menentang kalau dinasihati. Kalau diajarin matematika di rumah ia selalu menurut, yang akhirnya pengetahuan matematikanya meningkat pesat. Kalau dinasihati agar berbicara jangan teralu keras-keras, ia juga selalu menurut.
Tahun 1988, setahun sebelum lulus, Sa’diyah ditinggal di Pekanbaru karena abangnya dialih-tugaskan lagi ke Jakarta. Ibu datang dari Pematangsiantar untuk bertemu sebelum pindah dan sekaligus mempersiapkan dan mengurus indekos Sa’diyah. Peralatan dapur disiapkan seperlunya. Bersama ibu, mereka mengantar Sa’diyah yang akan segera indekos di dekat kampusnya FKIP-UNRI Simpang Panam, di dekat Lapangan Terbang Simpang Tiga Pekanbaru.
Betapa sangat perhatian ibu mereka ini pada nasib anak-anaknya. Walaupun ibu adalah pemabuk kendaraan yang berat, tapi demi anak-anaknya, beliau datang juga dari Pematangsiantar. Menempuh perjalan jauh, kurang lebih lima ratus kilometer, berbilang waktu enam belas jam. Sungguh penderitaan yang cukup berat, tapi letih dan lelah ibu diperjalanan seakan sirna demi setelah melihat mereka, anak-anaknya. Sampai akhirnya ibu mereka pulang kembali ke Pematangsiantar, ia tak dapat membayangkan bagaimana kelak ibu mereka ini mabuk berat lagi diperjalanan. Serangkum doalah yang bisa disampaikan kepadaNya agar ibunya selamat tiba di Pematangsiantar, dan alhamdulillah, kabar yang diterimanya tiba dengan selamat, walaupun harus istirahat selama satu hari.
Peralatan sehari-hari untuk dipergunakan di tempat indekos Sa’diyah, dipersiapkan dengan baik. Biaya bulanan yang tidak seberapa masih terus dibantu dari Jakarta. Belajar di tempat indekos, kuliah di kampus dan berorganisasi di masyarakat bersama teman-temannya mahasiswa, dilakoninya dengan sabar, sampai akhirnya ia dinyatakan lulus dengan peringkat yang baik. Setelah lulus ia pulang dulu ke Pematangsiantar dan sempat bertugas mengajar Madrasah Aliyah selama setahun disana. Ia meminta doa restu ibu sebelum akhirnya ditugaskan mengajar di Bagansiapiapi. Ia bertemu calon suaminya di Bagansiapiapi. Pada waktu lebaran, atas permintaannya, ia dan calon suaminya datang ke Bandung untuk menikah di rumah abangnya, di Jalan Pekalongan, Antapani Kidul, Bandung.
Setelah bertahun-tahun mengajar, Sa’diyah berkesempatan menyelesaikan kuliah tingkat S1 di UNM (IKIP Medan waktu itu). Izin untuk pergi kuliah ke Medan dari sekolahnya tak kunjung keluar. Bahkan cenderung untuk melarang pergi. Iapun mengadu kepada abangnya,
“Bang aku ada program kuliah lagi di UNM/IKIP Medan. Tapi izin dari Kepala Sekolah tak kunjungnya keluar, macam mananya pendapat dan saran Abang?” meminta saran dari abangnya, dengan gaya bahasa keluarga.
“Izin-izin dari Propinsi dan pusat bagaimana dik?”, tanyanya
“Izin dari Propinsi dan dari Kementrian Pendidikan di Jakarta sudah ada”, lanjutnya,
“Termasuk anggarannya“.
“Kalau begitu, ikuti saja kuliahnya, apalagi sudah ada anggaran dan sudah terdaftar di UNM/IKIP Medan” saran dari abangnya.
“Jika nanti tidak diterima lagi di sekolah yang lama, akan kita carikan sekolah yang mau menerima. Insya Allah, niatkan untuk berbuat yang lebih baik dan jangan lupa minta petunjukNya”.
Sa’diyahpun mempersiapkan segala keperluan. Anak-anaknya dibawa ke Pematangsiantar, tinggal bersama neneknya. Dan ia kuliah ulang-alik Pematangsiantar-Medan, semua demi menghemat biaya dan demi anak-anaknya. Setahun kemudian, ia lulus dengan peringkat yang baik. Setelah kembali ke Bagansiapiapi, ia ditegur oleh atasannya. Ia disuruh melapor ke Bengkalis, atasan yang lebih tinggi, tetapi ia tidak kena hukuman disiplin, bahkan teman guru-guru yang lain akhirnya diizinkan pergi kuliah lagi.
Sa’diyah lalu kembali mengajar di SMA Bagansiapiapi. Ia tinggal dan menetap di sana bersama suaminya tercinta, Basuki. Mereka dikaruniai lima anak, empat perempuan yang cantik-manis dan satu laki-laki. Kini Sa’diyah sedang mengikuti kuliah S2 jurusan Matematika di UPI Bandung, semester pertamanya dimuai akhir tahun 2010. Itulah sekelumit kisah Sa’diyah, terucap sebait doa, semoga mereka selalu bahagia untuk membesarkan kelima anak-anaknya.***
Adiknya yang paling kecil, Abdul Rahim ikut bersamanya ketika ia bertugas di ITT/STT Telkom Bandung tahun 1991. Hal yang hampir sama dengan Nurbaya, ia sudah tidak ingin lagi sekolah, hanya mau ikut sekolah pertanian di Pematangraya, Kabupaten Simalungun. Ayah-ibunya sudah dalam keadaan serba kekurangan, anak-anak terkena dampaknya. Akibatnya malah bermanja-manja tidak menentu dan tak mau membantu atau mungkin tidak mengerti untuk meningkatkan diri. Hanya karena sedikit dipaksa Rahim ikut ke Bandung, dan karena itu ia kerap menunjukkan sikap yang kurang menguntungkan dirinya sendiri. Kurang rasa saling menyayangi, miskin empati. Ia harus meningkatkan rasa empati ini, yakni meningkatkan kemampuan untuk berbagi perasaan kepada orang lain, dengan membayangkan apa jadinya pada situasi seperti itu jika terjadi pada dirinya.
Kemudian Abdul Rahim didaftarkan di ITT/STT Telkom ber ID (ikatan dinas) dari TELKOM. Pada saat test masuk ternyata tidak lulus. Ia diambil untuk lulus pada periode terakhir, calon dari pimpinan sekolah. Pendirian dan hatinya keras, maunya mengatur di rumah orang lain, hanya mementingkan dan menuruti kemauannya sendiri, sangat susah untuk dinasihati. Belajar kurang serius dan seenaknya. Daya juangnya amat rendah. Inginnya serba segera jadi, serta merta atau sesaat, tanpa atau hanya dengan sedikit usaha (completly instant without any or a little effort). Suatu hal yang tak mungkin. Seharusnya, kalau seseorang hidup dan menumpang di tempat orang lain, maka dialah yang menyesuaikan diri dengan aturan di tempatnya menumpang. Rahim tidak belajar sungguh-sungguh, tidak maksimal. Dan pada saat tingkat dua, ia dinyatakan drop-out atau dikeluarkan dari mahasiswa peserta ID karena nilainya tidak memenuhi syarat. Ia sudah tidak bisa lagi di atur, mungkin dulu terlalu manja, kemanjaan yang tidak menentu, ketika dekat dengan ibu. Atau bisa juga akibat keadaan ayah-ibunya ketika itu, tidak ada teladan yang baik yang harus ditiru. Setelah dikeluarkan dari status ID, ia sering pergi entah kemana, kadang berminggu-minggu baru pulang. Kabarnya mencari uang.
Akhirnya Rahim berusaha sendiri, menyewa tempat tinggal sendiri karena tak mau diatur. Ia bebas dan ingin mengatur dirinya sendiri. Walaupun dilarang dengan sangat keras, ia tetap menjadi juragan atau pengusaha angkot di Bandung. Pengusaha angkot itu bertahan sampai tiga tahun, dan kemudian berhenti setelah ia sadar kesehatannya tidak mengijinkan untuk terus menjadi pengusaha angkot, apalagi merangkap supir. Pada waktu yang sama, ia terus kuliah dengan sungguh-sungguh, setelah sadar bahwa kurang serius belajar akan mengakibatkan peruntungan nasib yang kurang baik. Sampai akhirnya lulus sarjana teknik dari ITT/STT Telkom. Saat wisuda diurus oleh Siti Nurhayati istri abangnya, kakak iparnya, mengantar dan menjemput ketika wisuda.
Setelah lulus ia banyak mengikuti dan bekerja di proyek-proyek TELKOM baik di darat maupun lepas pantai (off shore). Ia pernah bekerja di BUKAKA TELKOM, kemudian diajak dosennya, Nurbajaya, bekerja di ASTRATEL (ASTRA Telekom). Tapi karena keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis keuangan tahun 1998, iapun diberhentikan dan juga karena ASTRATEL tidak aktif lagi.
Rahim pernah lama menjadi guru fisika dan matematika di SMP Darul Hikam, sambil juga mengelola UPT Laboratorium Komputer dan Fisika. Ia mahir memotivasi siswa agar tidak takut terhadap mata pelajaran matematika. Ketika sering melihat segala sesuatunya di SMP Darul Hikam yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, maka Rahim sering bereaksi dengan keras. Baginya Darul Hikam bukan tempat yang tepat untuk mengembangkan diri. Karena merasa sudah tidak cocok, tahun 2005 ia minta keluar dari Perguruan Darul Hikam dan banyak mengikuti Proyek-proyek Telekomunikasi bersama teman-temannya.
Demikian juga pada saat menikah, Rahim tidak memberi tahu abangnya, tidak jelas kenapa. Abangnya mengetahuinya dari orang lain. Ia malah menyuruh orang lain yang menemaninya tatkala menikah. Ia sudah tidak menganggap abangnya sebagai saudaranya lagi. Walapun tidak diundang, abangnya bersama istri datang juga ke Cipanas saat pesta pernikahannya berlangsung, karena mereka sudah mengerti sifat Rahim. Segala sesuatu yang dilihat Rahim yang menurutnya tidak baik atau buruk, apalagi kalau tidak menguntungkan dirinya, ia selalu bereaksi keras menantangnya. Ia bukanlah jenis orang yang sabar dan mengayomi orang lain. Seperti telah dijelaskan sebelunya, kurang rasa empati. Narsis? Merasa dirinya paling hebat? Siapa tahu, mungkin saja. Padahal Rahim adalah orang yang cerdas dan sudah belajar agama cukup banyak, dan sering dipergunakannya untuk bisa menyelesaikan masalah, baik teknik apalagi masalah pendidikan matematika. Dan ini adalah ciri khas Rahim, yang mungkin saja ia tidak menyadarinya. Seharusnya Rahim bertindak yang baik apabila melihat atau menyikapi keadaan yang buruk, sehingga yang buruk itu akan menjadi baik, atau bahkan lebih baik.
Akhirnya di tahun 2009 Rahim melamar menjadi guru dan syukur alhamdulillah, ia lulus, dan kini sebagai guru PNS di salah satu SMK di Cianjur, Jawa Barat. Ia menikah dengan Nurlaila, perempuan kelahiran Cipanas Cianjur, lulusan Sarjana Pendidikan UPI dan bertugas mengajar di Cipanas. Mereka tinggal menetap di Cipanas Cianjur dan kini telah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang sehat, gagah dan tampan. Demi membesarkan anak-anak mereka, semogalah mereka berbahagia selalu, sepanjang hidupnya. ***
Difficult yes, Imposible No!
Demikianlah gerak-langkah atau dinamika keadaan kehidupan mereka, ia dan adik-adiknya masa lalu dan kini. Satu persatu mereka telah berhasil dalam pendidikan dan kehidupannya. Dan iapun merasa senang, karena tidaklah banyak keluarga yang bisa seperti mereka. Dari keadaan pergaulan rumah tangga yang berpendidikan rendah, yang tidak sanggup menyediakan biaya pendidikan untuk meningkatkan dan menyesuaikan kemampuan terhadap perubahan zaman. Penghasilan pas-pasan bahkan cenderung kurang. Kurang berdaya untuk meningkatkan keunggulan. Kurang daya saing sehingga nyaris terlempar dari lingkungan kehidupan. Yang tadinya kurang berdaya untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan zaman menjadi mereka seperti sekarang ini. Tapi, itulah berkat dari doa yang tulus ikhlas dari kedua orang tuanya. Berkat kegigihan ayah-ibunya untuk menyuruh mereka sekolah, belajar mengaji dan mengutamakan shalat berjamaah di masjid, akhirnya semua menjadi pejuang yang gigih untuk merubah nasib. Walau disana-sini terjadi benturan yang bisa lembut, bisa juga keras. Laiknya gelas yang diletakkan berdekatan, bisa jadi bersenggolan dan mengeluarkan suara. Suara itu lembut ketika senggolan itu pelan saja: “Triling…triling.. !!!” ketika satu persatu gelas itu disusun dan beradu, dan ”berelaak… !!!”, ketika digeser bersamaan. Akan tetapi jika senggolan berubah menjadi antukan atau benturan yang keras, dentingannya bisa menggema, menggelegar dalam ruangan: “Bluaarrrr…. !!! trat… trangng…. !!!, krompyangng… wangng…. wang… wang.. wang., wang…!!!”, campur aduk suara piring kaleng terjatuh, piring kaca pecah, gelas remuk dan lain-lain bunyi saling beradu. Bagai musik cadas atau musik rock yang keras tapi harmoninya berantakan, tidak enak didengar telinga. Alhamdulillah, belum ada persenggolan itu yang teramat keras sehingga semua perabotan itu musnah. Selalu saja masih banyak yang tersisa.
Budaya hidup keluarganya memang memerlukan proses menuju perubahan yang harus dihadapi dengan sabar, perlu waktu, karena landasan budaya yang ada, sudah sangat tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan jaman. Landasan itu harus diubah dan diperbaiki. Mendobrak resistensi atau keengganan untuk berubah. Bagaikan kupu-kupu yang berjuang memecah kepompong untuk bisa terbang dengan warna-warni keindahannya. Mereka harus terus berusaha membuka diri terhadap perubahan dan menghadapinya dengan sebaik-baiknya serta menyiapkan diri untuk meningkatkan kemampuan yang berkesinambungan. Sukar memang, tapi bukan tidak mungkin. Diificult yes, imposible no!
Ia terus berupaya sambil berdoa, agar semua mereka, ia dan adik-adiknya ini kelak berhasil dan berubah menjadi orang yang berguna bagi sesama, bagi lingkungannya, bagi agamanya dan bagi negaranya. Selaras dengan tugas utama mereka hidup di dunia, mengabdi kepadaNYA, bahagia di dunia, bahagia di akhirat, terhindar dari siksa api neraka. Agar selalu insyaf dan mawas diri, hidup berbakti sepanjang zaman, tak kenal henti. Sebelum datang masanya selimut putih membalut badan dan semua yang dikasihi akan ditinggalkan, meninggalkan dunia. Sampai kelak tabungan akhirat mereka cukup karena banyak bersedekah dan beramal shaleh, ketika malaikat Izrail pencabut nyawa datang, membawa mereka kealam barzah dan untuk menanti di padang mashar. Ia lalu mengingat senandung nasyid Selimut Putih,
Selimut Putih
Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan
Tak ada lagi…i.. guna harta,
kawan karib, sanak saudara
jikalah ada amal di dunia
itulah hanya kan membela kita
Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sadarlah diri, tahu di untung
Sebelum masa keranda diusung
Datang masanya insyaf lah diri
Selimut putih membalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berbaktilah hidup sepanjang zaman
Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan ….
Nasyid yang selalu dikenangnya, yang mengingatkannya akan arti kehidupan di dunia, agar selalu mengingat kehidupan setelah kehidupan dunia ini.
******