PANGKALAN KOTO,
KELOK 9 DAN
PAYAKUMBUH, Bagian 2
Laporan perjalanan ini ditulis pada malam hari, ketika senja telah ditanggalkan waktu, dan matahari telah kembali keperaduannya. Dengan selalu mengingat sang Khalik dan namaNya yang pengasih dan penebar kasih sayang, Penulis berusaha mengingat-ingat kembali semua perjalanan dinas yang mungkin, ketika singgah di tempat-tempat tertentu, ditambah dengan informasi terkini sebagai tambahan. Seingat yang tersimpan di ingatan, ada 10 kali pergi ke Padang selama 4 tahun bertugas di Riau. Bermula dari hutan lebat sekitar Tanjung Pauh menuju Pangkalan Koto yang termasyhur dengan hasil hutannya, gambir dan karet, dan diakhiri saat keluar di Kota Payakumbuh. Kota dengan berjuta pesona, keindahan alam, sawah-sawah dan ladang tempat mengembala sapi, bukit, air terjun, sungai yang mengalir ke kota, penduduknya yang ramah dan terpelajar dan lain-lain. ****
Beberapa saat setelah beristirahat, bang supir menghidupkan mesin sebagai pertanda taxi akan segera berangkat. Musik-musik berirama minang mulai bergema kembali. Laruik sanjo, kampuang nan jauah di mato, uda pulanglah dan lain-lain yang judulnya tidak kami kenal. Perjalanan masih jauh, kira-kira 260km lagi sampai tiba di Padang, atau 8 km lagi menuju Pangkalan dan 17 km lagi tiba di Payakumbuh. Perjalanan menembus hutan belantara dimulai dari hutan Rantau Berangin. Pohon-pohon tinggi yang menaungi jalan, terkadang terlihat burung terbang melayang di angkasa, kadang juga ada monyet hitam ekor panjang bergelantungan di cabang dan ranting pohon.
Jalan yang kami lalui mulai banyak bertemu dengan tanjakan dan tikungan mengikuti alur sungai. Di sisi kiri sungai Kampar mengalir tenang, adakalanya beriak pelan, adakalanya juga suara air berdesau mengalir deras diatas bebatuan ketika kontour sungai menurun tajam..
Banyak pohon-pohon tinggi yang menjulang ke angkasa tumbuh subur di kiri-kanan jalan dengan dedaunannya yang lebat. Beberapa di antaranya telah berumur tua. Pohonnya besar, dengan kulit yang coklat tua bersisik tebal. Beberapa cabang dan rantingnya ada yang mati, kering tak berdaun. Akarnya sebagian kelihatan menonjol kekar, sebagian lagi tertimbun dedaunan kering yang jatuh dan berwarna kecoklatan. Sesekali juga terlihat dekat akar itu tanah berwarna hitam seperti aspal jalanan, yang menurut beberapa keterangan, mungkin saja itu adalah batu bara terpendam di sana.
Taxi yang kami tumpangi mulai menanjak dan memindah gigi pemindah kecepatan mesin bergantian, gigi dua ke gigi tiga dan sebaliknya. Mesinnya berderum lebih keras, karena memerlukan tenaga dorong yang lebih besar ketika menanjak. Perjalanan banyak menenemui tanjakan, maklum karena posisi kontour daerah Pangkalan itu brervariasi dari 90mdpl ke 1200mdpl,
Kami pernah dua kali menjadi driver melewati daerah ini. Agak gamang juga membawa mobil disini. Pernah kami alami, naik taxi yang membawa kami ketika pulang ke Pekanbaru, bertemu daerah ini pada malam hari. Jalanan sangat gelap, tertutup oleh dedaunan pohon rindang yang tinggi. Penerangan jalan hanyalah bersumber dari lampu mobil. Kelihatan supirnya berdoa khusuk dan membaca al Qur'an, Ayat Kursi dari surah Al Baqoroh. Kami juga turut berdoa, semoga perjalanan berakhir selamat.
Di kiri jalan ada jurang yang 75m dalamnya, dengan sungai Kampar ada di bawah. Di sisi kanan ada bukit dengan hutan lebat. Kami memasuki kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar di Propinsi Riau, yakni Kecamatan Limapuluh Kota, yang ibukotanya adalah Pangkalan Koto Baru, disingkat menjadi Pangkalan saja.
Sepanjang perjalanan banyak melewati jembatan kecil, karena kabupaten ini banyak memiliki anak sungai yang berkuala di Sungai Mahat dan Sungai Batang Malintang. Kedua sungai ini berkuala pula ke Sungai Kampar, yang kini airnya dialirkan dan dikumpulkan menjadi danau pembangkit listrik turbin air PLTA Koto Panjang. Kehulu jembatan, sungai Kampar telah lenyap ditelan waduk.
Di tepi jalan kelihatan Tugu Khatulistiwa di Bonjol, sebagai pertanda bahwa Sumatra Barat memang dilalui oleh garis edar matahari di lingkaran tengah globe bumi. Panas matahari siang terasa menggigit, terutama di daerah terbuka ketika hutan tidak melindungi jalan. Akan tetapi panas itu tidak terasa ketika di sisi kanan dan kiri jalan ada hutan dengan pemandangan yang memanjakan mata, bagi siapa saja yang melihatnya. Bisa jadi, bagi pengembara jalanan tugu khatulistiwa ini tidak kelihatan karena tidak memperhatikan atau lupa, atau karena tertidur kelelahan dalam perjalanan jauh. Namun, pemandangan di sisi-sisi kiri dan kanan jalan, tetaplah menghijau, disela-selanya ada rumah penduduk. Di desa ini kelihatan kebun atau ladang penduduk dengan pohon kelapa, pinang dan pohon-pohon pendukung kehidupan pedesaan yang subur.
Di tikungan terakhir, kelok satu, sudah mulai berjumpa dengan warung-warung kecil. Kami tidak minta bang supir untuk berhenti sejenak, karena hari telah senja. Tikungan terpanjang di lalui, kemudian kecamatan Lima Puluh Kota pun kami tinggalkan.
Perjalanan di Ranah Minang berlanjut, kini menuju Payakumbuh kota batiah. Sebagian lagu-lagu minang kembali diputar bang supir, berdendang lembut dan riang gembira. Asyik juga, karena bukan lagu gundah gulana, tapi memuja budaya setempat.
Wahai pembaca, sebagian liriknya ada yang berbunyi:
"Baranak ampek .... den nanti juo...", masya Allah, sampai sedalam itu kiranya dendam kesumat cinta, sengsara dan merana badan, bisa jadi menanti dan sabar meunggu hingga lebih 6 tahun.
Tapi, apakah yang tidak mungkin demi cinta? Ketika cinta melanda, banyak waktu untuk tak bisa menggunakan akal sehat. Memang cinta tak bermain dengan akal, tapi bergelora dengan perasaan, kadang rindu tapi benci, kadang dendam amarah, tapi hati memaafkan, apapun perilaku orang yang dicintai. Sang kekasih hati selalu dirindukan. Dekat terasa jauh, tapi jauh terasa dekat pula. Demikianlah keagungan cinta, cita rasa keindahan yang dianugerahkan tuhan kepada makhlukNya, manusia. Cinta itu memang melelahkan, tapi menyehatkan, menyakitkan tapi membahagiakan, dendam amarah tapi rela memaafkan. "Baranak ampek...den nanti juoooo...."...
Berjumpa dengan Lembah Harau, di sisi jalan ketika taxi kami akan memasuki kota Payakumbuh. Jalan yang di lalui sudah agak lurus, sudah tidak banyak tikungan atau kelokan. Dinding lembah yang berupa tebing batu berwarna coklat muda, yang nyaris tegak lurus terlihat di kiri-kanan jalan. Ada beberapa rumah di bawahnya selain bentangan sawah yang tertata rapi, indah menghijau pahatan Ilahi Rabbi.
Ketika matahari senja tinggal sepenggalah tingginya, pukul 1600, kami memasuki kota Payakumbuh, ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Lembah harau pun kemudian dilalui. Petani di sawah tidak lagi bekerja di sawah, tidak terlihat lagi kecipak cangkul membelah lumpur, menyiangi padi dari rumput liar. Kerbau pembajak sudah dipersiapkan untuk pulang. Margawatwa senja, tonggeret, telah bernyanyi menggantikan kicauan burung pagi hari. Kota Payakumbuh sudah di depan mata. Selamat datang di Payakumbuh, begitu bunyi gerbang yang menyambut kami. Keramaian kota langsung terlihat. Bang supir kembali mebawa mobil dengan tenang dan berhati-hati, karena ramainya lalu lintas. Matahari senja dilindungi awan tipis, warnanya mulai memerah, pertanda senja akan menjemput malam.
Kota Payakumbuh terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentang alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografi daerah kota ini terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Agar jangan terlalu panjang, mungkin saja agak lelah mata membacanya, kami sudahi dulu disini, nanti pada episode terakhir, Paya kumbuh - Bukit Tinggi - Padang, kita sambung lagi.
Bagi yang ingin mendengarkan dendang minang yang mirip selama perjalanan, silahkan di putar di you tube: https://youtu.be/O0XyelYDIiI,
the end.. ns 11/12/19, ankid cicalengka raya 49
KELOK 9 DAN
PAYAKUMBUH, Bagian 2
Laporan perjalanan ini ditulis pada malam hari, ketika senja telah ditanggalkan waktu, dan matahari telah kembali keperaduannya. Dengan selalu mengingat sang Khalik dan namaNya yang pengasih dan penebar kasih sayang, Penulis berusaha mengingat-ingat kembali semua perjalanan dinas yang mungkin, ketika singgah di tempat-tempat tertentu, ditambah dengan informasi terkini sebagai tambahan. Seingat yang tersimpan di ingatan, ada 10 kali pergi ke Padang selama 4 tahun bertugas di Riau. Bermula dari hutan lebat sekitar Tanjung Pauh menuju Pangkalan Koto yang termasyhur dengan hasil hutannya, gambir dan karet, dan diakhiri saat keluar di Kota Payakumbuh. Kota dengan berjuta pesona, keindahan alam, sawah-sawah dan ladang tempat mengembala sapi, bukit, air terjun, sungai yang mengalir ke kota, penduduknya yang ramah dan terpelajar dan lain-lain. ****
Pangkalan Koto, ibu kota Kecamatan Lima Puluh Kota, terkenal dengan TRADISI POTANG BALIMAUnya.
Potang balimau adalah kegiatan mensucikan diri dengan menyirami tubuh dengan perasan air jeruk nipis bercampur bunga rampai dengan aroma yang khas. Tradisi ini adalah tradisi menyambut bulan suci Ramdhan, dilaksanakan sesudah shalat Zuhur dan berakhir sore hari menjelang shalat Magrib tiba. Kegiatan ini sudah merupakan tradisi turun temurun dalam “menyucikan diri” yang dilakukan oleh anak nagari di sepanjang aliran sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Koto Baru di Kecamatan Limapuluh Kota. Selain untuk mensucikan diri, sekaligus sebagai tempat bersilaturahmi antar sesama anak nagari di kampung halaman maupun yang dari perantauan. Setelah selesai, pada sore harinya para pengunjung pulang ke rumah masing-masing untuk mandi balimau dengan ramuan khusus yang dipersiapkan oleh kaum perempuan di Pangkalan.
Mesjid Raya Pangkaan Koto Baru terletak di tepi jalan raya Sumatera Barat - Riau yang merupakan mesjid kebanggaan bagi masyarakat Pangkalan, karena di areal mesjid inilah pusat kegiatan prosesi potang balimau diselenggarakan setiap tahun.
Topografi kecamatan Pangkalan Koto Baru bervariasi antara datar dan berbukit-bukit, daerah terendah dari permukaan laut berada di waduk PLTA di Tanjung Pauh (90 mdpl) dan daerah tertinggi berada pada Bukit Gadih (1330 mdpl) di nagari Koto Alam. Di kecamatan ini banyak sungai-sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air irigasi, mandi, cuci, memancing ikan dan sumber galian C, batu dan pasir. Juga sebagai sarana transportasi yang menggunakan perahu untuk membawa hasil gambir dan karet. Selain di ekspor, di Indonesia gambir dikonsumsi dengan sirih, kapur dan pinang oleh bapak-bapak dan ibu-ibu generasi kolonial, dan masih berlajut ke generasi baby boomers.
Asal usulnya diperkirakan dari Sumatera dan Kalimantan, di mana jenis-jenis liarnya didapati tumbuh di alam. Gambir liar kerap dijumpai di hutan sekunder. Ia tidak tumbuh di wilayah yang kering, namun juga tidak tahan dengan penggenangan. Tumbuh baik dari ketinggian 200 mdpl, gambir bisa juga hidup hingga elevasi 1.000 mdpl, sangat cocok dengan daerah Sumbar, terutama Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Gambir berproduksi dengan baik pada jenis tanah podsolik merah kuning sampai merah kecoklatan. Pada masa lalu gambir dihasilkan dari Sumatera Barat, Riau, Bangka dan Kalimantan Barat, namun kini utamanya diproduksi oleh Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu. Sekitar 90% produksi gambir Indonesia dihasilkan dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia adalah India dan Eropa. Banyak para saudagar kaya raya di Pangkalan karena berdagang gambir dan karet.
Sebagian besar adalah ditopang dari perkebunan karet rakyat. Dan saat itu sebagian kebun karet rakyat dan sawah itu dapat dilihat dari sisi jalan. Bagi yang ingin melihat hutan dan kebun karet rakyat itu kini sudah sangat jauh berkurang, sebagian beralih menjadi kelapa sawit. Sebagian lagi tenggelam bersama di bawah atau di dasar waduk Koto Panjang.
Adapun sungai-sungai yang mengalir di nagari Gunung Malintang ada 6 buah, yaitu Batang Mahat, Batang Malutu, sungai Pimpiang, sungai Luhu dan sungai Lowan. Sungai yang mengaliri di nagari Pangkalan ada 5, yaitu Batang Mahat, sungai Maik, sungai Manggilang, sungai Samo, dan sungai Kasok. Di nagari Koto Alam ada 3 sungai, yaitu sungai Air Gadang, sungai Air Koto Lamo, dan Batang Lui. Di nagari Gunung Malintang ada 2, yaitu Batang Manggilang dan Batang Malagiri. Di nagari Tanjung Balit ada Batang Mahat yang telah mengaliri daratannya menjadi waduk. Sementara di nagari Tanjung Pauh ada 5, yaitu sungai Cilatio, sungai Permato, sungai Picang, sungai Angki, dan sungai Marang.
Semuanya, sangat sempurna sebagai penopang kehidupan masyarakat Pangkalan yang diciptakanNya, masyarakat yang insya Allah tak lagi mendustakan nikmat yang di tebar oleh Penebar kasih sayang itu.
Topografi kecamatan Pangkalan Koto Baru bervariasi antara datar dan berbukit-bukit, daerah terendah dari permukaan laut berada di waduk PLTA di Tanjung Pauh (90 mdpl) dan daerah tertinggi berada pada Bukit Gadih (1330 mdpl) di nagari Koto Alam. Di kecamatan ini banyak sungai-sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air irigasi, mandi, cuci, memancing ikan dan sumber galian C, batu dan pasir. Juga sebagai sarana transportasi yang menggunakan perahu untuk membawa hasil gambir dan karet. Selain di ekspor, di Indonesia gambir dikonsumsi dengan sirih, kapur dan pinang oleh bapak-bapak dan ibu-ibu generasi kolonial, dan masih berlajut ke generasi baby boomers.
![]() |
| Peta Pangkalan = lima Puluh Kota |
Gambir.
Gambir sejak lama telah dibudidayakan di Semenanjung Malaya, Singapura dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Maluku).Asal usulnya diperkirakan dari Sumatera dan Kalimantan, di mana jenis-jenis liarnya didapati tumbuh di alam. Gambir liar kerap dijumpai di hutan sekunder. Ia tidak tumbuh di wilayah yang kering, namun juga tidak tahan dengan penggenangan. Tumbuh baik dari ketinggian 200 mdpl, gambir bisa juga hidup hingga elevasi 1.000 mdpl, sangat cocok dengan daerah Sumbar, terutama Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Gambir berproduksi dengan baik pada jenis tanah podsolik merah kuning sampai merah kecoklatan. Pada masa lalu gambir dihasilkan dari Sumatera Barat, Riau, Bangka dan Kalimantan Barat, namun kini utamanya diproduksi oleh Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jambi dan Bengkulu. Sekitar 90% produksi gambir Indonesia dihasilkan dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia adalah India dan Eropa. Banyak para saudagar kaya raya di Pangkalan karena berdagang gambir dan karet.

Daun Gambir dan Buahnya.

Karet.
Nagari-nagari di kabupaten Lima puluh Kota dan sekitarnya atau Sumbar dan Riau pada umumnya, banyak pohon karet yang dimiliki oleh rakyat. Indonesia adalah pengekspor karet ke dunia industri, terutama ban, mobil pesawat atau yang bersangkutan dengan ban. Sebelum ada kelapa sawit, penghasilan utama Sumbar adalah Karet dan Gambir. tapi dengan adanya diversifikasi tanaman, sebagian besar menjadi kebun kelapa sawit. Produksi karet sedikit berkurang. Tapi masih tetap sebagai pengekspor karet nomor dua dunia.![]() |
| Pohon karet rakyat |
Adapun sungai-sungai yang mengalir di nagari Gunung Malintang ada 6 buah, yaitu Batang Mahat, Batang Malutu, sungai Pimpiang, sungai Luhu dan sungai Lowan. Sungai yang mengaliri di nagari Pangkalan ada 5, yaitu Batang Mahat, sungai Maik, sungai Manggilang, sungai Samo, dan sungai Kasok. Di nagari Koto Alam ada 3 sungai, yaitu sungai Air Gadang, sungai Air Koto Lamo, dan Batang Lui. Di nagari Gunung Malintang ada 2, yaitu Batang Manggilang dan Batang Malagiri. Di nagari Tanjung Balit ada Batang Mahat yang telah mengaliri daratannya menjadi waduk. Sementara di nagari Tanjung Pauh ada 5, yaitu sungai Cilatio, sungai Permato, sungai Picang, sungai Angki, dan sungai Marang.
Semuanya, sangat sempurna sebagai penopang kehidupan masyarakat Pangkalan yang diciptakanNya, masyarakat yang insya Allah tak lagi mendustakan nikmat yang di tebar oleh Penebar kasih sayang itu.
Berangkat lagi.
![]() |
| Perjalanan di hutan Rantau Berangin |
![]() |
| Rute 1 bagian 2 Bangkinang-Payakumbuh |
![]() |
| Tugu Perbatasn Sumbar -Riau |
![]() |
| Danau PLTA Koto Panjang di Ulo Kasok, sebagian masuk Kabupaten Lima Puuh Kota |
Kami pernah dua kali menjadi driver melewati daerah ini. Agak gamang juga membawa mobil disini. Pernah kami alami, naik taxi yang membawa kami ketika pulang ke Pekanbaru, bertemu daerah ini pada malam hari. Jalanan sangat gelap, tertutup oleh dedaunan pohon rindang yang tinggi. Penerangan jalan hanyalah bersumber dari lampu mobil. Kelihatan supirnya berdoa khusuk dan membaca al Qur'an, Ayat Kursi dari surah Al Baqoroh. Kami juga turut berdoa, semoga perjalanan berakhir selamat.
Di kiri jalan ada jurang yang 75m dalamnya, dengan sungai Kampar ada di bawah. Di sisi kanan ada bukit dengan hutan lebat. Kami memasuki kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar di Propinsi Riau, yakni Kecamatan Limapuluh Kota, yang ibukotanya adalah Pangkalan Koto Baru, disingkat menjadi Pangkalan saja.
![]() |
| Jembatan di atas waduk PLTA Koto Panjang, sekarang. |
![]() |
| Peta Pangkalan = lima Puluh Kota |
Kembali ke situasi perjalanan, bang supir menjalankan mobil taxi dengan tenang dan penuh konsentrasi. Pangkalan telah dilalui dengan selamat dengan melewati hutan belantara Tanjung Pauh dan Tanjung Balit (sebelum ditenggelamkan waduk).
![]() |
| Tugu Khatulistiwa di Bonjol |
![]() |
| Persiapan memasuki Kelok Sembilan. |
Daerah Harau memperlihatkan tebing-tebingnya yang indah, sebelum melaju ke depan, ke kelok sembilan yang legendaris dan terkenal itu. Hutan yang rimbun menyambut taxi kami, sebelum mulai menuruni kelok sembilan, kelok yang pertama menuju Payakumbuh. Jurang yang dalam menganga di sisi jalan, dan tikungan yang tajam kami lalui dengan berhati-hati. Bang supir tentu saja sudah berpengalaman dan mahir bermanuver di tikungan kelok-kelok ini. Kelok 9 lama dimulai dari atas, menurun mulai kelok sembilan dari arah Pekanbaru atau Pangkalan,
Dalam gambar terlihat,
![]() |
| Dalam gambara ini terlihat kelok sembilan yang lama. lebarnya lebih kecil |
berakhir di kelok satu. Yang lainnya adalah kelok sembilan yang baru dan jalan yang lama terlihat lebarnya lebih kecil..
![]() |
| Kelok sembilan yang lama ke arah Payakumbuh, tahun 1985 |
![]() |
| Kelok 9 lama dan baru dipadukan... |
Wahai pembaca, sebagian liriknya ada yang berbunyi:
"Baranak ampek .... den nanti juo...", masya Allah, sampai sedalam itu kiranya dendam kesumat cinta, sengsara dan merana badan, bisa jadi menanti dan sabar meunggu hingga lebih 6 tahun.
Tapi, apakah yang tidak mungkin demi cinta? Ketika cinta melanda, banyak waktu untuk tak bisa menggunakan akal sehat. Memang cinta tak bermain dengan akal, tapi bergelora dengan perasaan, kadang rindu tapi benci, kadang dendam amarah, tapi hati memaafkan, apapun perilaku orang yang dicintai. Sang kekasih hati selalu dirindukan. Dekat terasa jauh, tapi jauh terasa dekat pula. Demikianlah keagungan cinta, cita rasa keindahan yang dianugerahkan tuhan kepada makhlukNya, manusia. Cinta itu memang melelahkan, tapi menyehatkan, menyakitkan tapi membahagiakan, dendam amarah tapi rela memaafkan. "Baranak ampek...den nanti juoooo...."...
![]() |
| Lembah harau, ketika memasuki Kota Payakumbuh |
Ketika matahari senja tinggal sepenggalah tingginya, pukul 1600, kami memasuki kota Payakumbuh, ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Lembah harau pun kemudian dilalui. Petani di sawah tidak lagi bekerja di sawah, tidak terlihat lagi kecipak cangkul membelah lumpur, menyiangi padi dari rumput liar. Kerbau pembajak sudah dipersiapkan untuk pulang. Margawatwa senja, tonggeret, telah bernyanyi menggantikan kicauan burung pagi hari. Kota Payakumbuh sudah di depan mata. Selamat datang di Payakumbuh, begitu bunyi gerbang yang menyambut kami. Keramaian kota langsung terlihat. Bang supir kembali mebawa mobil dengan tenang dan berhati-hati, karena ramainya lalu lintas. Matahari senja dilindungi awan tipis, warnanya mulai memerah, pertanda senja akan menjemput malam.
Kota Payakumbuh terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentang alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografi daerah kota ini terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang Agam, Batang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Payakumbuh berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Dengan luas wilayah 80,43 km² atau setara dengan 0,19% dari luas wilayah Sumatra Barat, Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat.
Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kendaraan yang di depan memberi kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.
Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kendaraan yang di depan memberi kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.
Agar jangan terlalu panjang, mungkin saja agak lelah mata membacanya, kami sudahi dulu disini, nanti pada episode terakhir, Paya kumbuh - Bukit Tinggi - Padang, kita sambung lagi.
![]() |
| Gerbang Kota Payakumbuh. |
the end.. ns 11/12/19, ankid cicalengka raya 49





































