Selasa, 03 Desember 2019

Menyusuri Jalan lintas Pekanbaru - Padang.

Perjalanan Menyusuri Sumatera Bagian Tengah, Pekanbaru - Padang

Rute lintasan Darat Pekanbaru - Padang.
Tulisan ini menceritakan pengalaman perjalanan dinas dari Pekanbaru-Riau ke Padang-Sumatra Barat, perjalanan lintas provinsi. 
Selain rute dengan pesawat, ada tiga rute lintasan yang banyak dilalui untuk keperluan perjalanan Pekanbaru-Padang atau sebaliknya. Baik itu perjalanan dinas, turis lokal, maupun turis manca negara. Rute satu adalah rute yang terpendek waktu 7 jam 2 menit dan jaraknya 311km, yakni: Pekanbaru, Bangkinang, Tanjung Pauh, Kelok 9, Andalas, Payakumbuh, Padang Panjang, Bukittinggi dan Padang. Rute yang kedua, adalah lintasan Pekanbaru, Bangkinang, Kuok, Tanjung Pauh, Kelok 9, Andalas, lalu mengambil jalan ke arah Danau Singkarak, Solok, Cupak, lanjut ke Padang melaui tanjakan atau penurunan Sitinjau Lawuik. Tergantung dari arah mana melihatnya. Jika dari arah Padang, maka Sitinjau Lauik ini adalah tanjakan maut, tapi jika dari arah Solok, ini merupakan penurunan maut juga. Sedangkan rute lintasan ketiga adalah yang paling seru dan jauh, adalah rute yang melewati Taluk Kuantan, desa Lanki, kemudian bertemu dengan pertemuan simpang tiga dari arah Sawah Lunto, lanjut ke Solok dengan lintasan yang sama, via Sitinjau Lauik. Penulis hanya memnceritakan rute satu dan rute dua. Rute pesawat tidak banyak yang akan diceritakan, selain waktunya sangat pendek, hanya 20 menit saja. pandangan dan pengelihatan pun terbatas.

Rute satu Pekanbaru-Padang

Rute 1 Pekanbaru - Padang- via Padang Panjang.
Tulisan ini seakan-akan bersenandung dengan cerita tentang perjalanan dengan taxi. Taxi Legendaris Pekanbaru-Padang pp, merek HOLDEN Buatan Australia.


Jenis Mobil Holden Taxi Pekanbaru - Padang
Dalam gambar dibawah terlihat mobil jenis taxi Holden yang sejenis taxi Pekanbaru-Padang. Jarang sekali ada yang baru, semuanya mobil bekas, buatan tahun tahun 80an ke bawah. Penumpangnya lima orang, dua orang di depan bertiga dengan supir, di barisan kedua bangku belakang bisa tiga orang. Bagasi lumayan besar. Sebenarnya taksi ini cukup nyaman, handal dan stabil, kecuali kalau sudah ada bagian yang bocor dari mesin ke runag penumpang atau peredam kejutnya (shock breaker) yang sudah tidak sempurna. Jika bagian dari mesin ada yang bocor ke ruang penumpang, asap mesin yang masuk ke 

ruang penumpang ini tidak enak untuk pernafasan, terkadang menyesakkan.

Dalam perjalanan terasa sangat nyaman dengan taxi ini, juga gerakannya yang stabil dan lembut, karena cc mesin dan bodinya yang besar. Jika jalan yang dilalui nya kurang mulus, ketika shock braker taxinya sudah tidak berfungsi dengan baik, maka terasa sangat melelahkan dalam kendaraan ini.

Inilah penggalan cerita dan latar belakang perjalanan Pekanbaru-Air Tiris-Bangkinang. Penggalan cerita berikutnya adalah Perbatasan Riau, Tanjung Pauah, Kelok 9 dan Payakumbuh, Payakumbuh-Bukitinggi dan terakhir Bukittinggi-Padang panjang  terus ke Padang. Inilah penggalan pertama.

Lintasan Pekanbaru, Air Tiris dan Bangkinang

Pekanbaru, kota yang terkenal dengan budaya Melayunya, dengan lambang proinsinya adalah Lambang Perahu Lancang Kuning. 
Disana, dari jauh, sayup terdengar, lamat-lamat, seakan-akan ada dan tiada, hilang lalu terdengar lagi. Suara azan subuh menjelang pagi hari. Pertanda orang harus siap membuka hari, menanti mentari menggantikan malam dengan siang, yang didahului embun pagi.

Pagi yang indah
Pohon pinang yang tinggi di sekitar jl. Mangga, samar-samar terlihat matahari mengintip dari balik daunnya dan  dedaunan pohon-pohon lain, pertanda hari sudah menjelang siang. Pucuk daun pinang yang baru keluar dari pelepahnya, merekah berwarna kuning cerah ke hijau-hijauan masih samar dan belum terlihat. Begitu pula dengan tandan buahnya yang telah ranum, berwarna merah tua cerah, masih kelihatan hitam di kegelapan pagi menjelang siang. Burung-burung tekukur telah bangun dan mulai benyanyi satu persatu, entah dari pohon yang mana,  membangunkan ummat yang masih terlena di tempat tidur untuk segera bangun, mengais rezeki, anugrah Ilahi.

Penulis bangun dari peraduannya, mengemas surat-surat, pakaian untuk dua hari dan tas seperlunya. Mungkin begitu juga anggota rombongan lain yang akan berangkat. 
Kami berlima berangkat, penulis, pak Muharudin (almarhum), Arief Sugihardi (Bagin Keuangan), Pak Herman (Dinas Teknik dan Umum, sudah almarhum juga), Pak Ali (Dinas Operasi) harus menghadiri RAKER di WITEL II Padang, untuk menentukan RAPB tahun 1985. Pukul 0700 teng, pak Anwar, Siddik, supir kantor yang sudah siap mengantar kami ke tempat taksi, datang ke rumah dan menjemput yang lain.

Taksi Pekanbaru-Padang waktu itu adalah taxi bermesin diesel, merek HOLDEN, 2500 cc buatan Australia. Saat itu kami mendapatkan taksi yang lumayan bagus, taxinya mempunyai bodi, shock breaker dan sound sistem yang baik. Pak Arif Sugihardi biasanya membawa kaset-kaset yang bernada jass, karena kalau nada melow memang tidak enak di dengar dalam perjalanan dengan taxi.


Bus Sinar Riau yang legendaris, ada lirik lagu khusus

Bang supir juga menyediakan kaset-kaset yang khas melayu dan minang. Dari Pekanbaru sampai perbatasan dengan Sumatera Barat, bang supir memutar kaset dengan lagu-lagu melayu non-dangdut, seperti lancang kuning, nirmala, sekapur sirih, timang-timang, rantak dua belas, diselingi lagu "SINAR RIAU" dari penyanyi minang legendaris, Elly Kasim. Walaupun saat itu tidak dapat menikmatinya dengan baik.

Setelah kami naik ke mobil, barang-barang bawaan sudah masuk bagasi, bang supir menghidupkan mesin, memasukkan gigi terendah untuk mulai bergerak ke depan. Ia melihat kearah kanan belakang sambil menghidupkan lampu sain kanan, perlahan-lahan masuk ke jalan Sudirman, dan sambil waspada, ia memindahkan roda gigi pengatur kecepatan ke kecepatan normal dalam kota, gigi tiga atau empat. Dengan kecepatan normal ini, taxi melaju melewati toko-toko kiri kanan jalan, pasar pusat, Kantor Gubernur Riau yang megah,  dan mengarah ke Tangkerang. Musik melayu mulai berdendang, Lancang Kuning disambung dengan Nirmala dan Bunga Seroja. Sebelum Bandar Udara Simpang tiga kami membelok ke arah kanan, masuk jalan Arifin Ahmad yang sedikit menanjak dan di persimpangan depan, belok ke kiri, masuk jalan Sukarno Hatta, di perempatan berikutnya kami belok kanan memasuki Jalan Raya Pekan. Lalu menyusul perempatan ke arah Talu dan Bangkinang, masuk ke Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, di daerah yang bernama Tampan.
Ini gambaran bagaimana sebenarnya perjalanan itu, ada yang lurus, ada yang belok ke kanan dan ada pula yang belok ke kiri. Ada yang datar, ada pendakian dan ada pula penurunan.
Mengarah ke Bangkinang, hutan belantara menyambut kami. ada satu dua rumah dipinggir jalan, berjarak satu sama lain yang cukup jauh. Di pingir jalan di kiri, ada rumah makan khas ikan patin, udang sungai dan burung puyuh sebelum mendapatkan Rimbo Bujang. 
Taxi melaju terus. Jalanan sepi, sesekali berselisih dengan mobil bus, angkutan pedesaan atau taxi jarak dekat. Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang dari Pekanbaru seperti keberangkatan kami. Dalam perjalanan, taxi-taxi ini akan berhenti dan bertemu di  Rantau Berangin. Kota dekat Perbatasan Riau-Sumbar, masih daerah yang bernama Tanjung Pauh, tempat pemberhentian istirahat bagi supir taxi dan penumpang. di tengah rimba belantara, rimba lebat Bukit Barisan, setelah melewati terowongan Koto Kampar. Rumah makan kampung yang terkenal saat itu adalah rumah makan Densiko, termasyhur  dengan gulai ikan emas, sayur lalap, sambal hijau, daun ubi rebus dan lain-lain.

Tak lama kemudian, taxi kami sudah mendekati jembatan, yang dikirinya adalah sungai Kampar dan di sebelah kanannya ada kolam atau rawa yang penuh dengan tumbuhan air, seperti enceng gondok, nipah dan lain-lain. Gerbang Air Tiris sudah dimasuki Ini berarti jarak ke Bangkinang tinggal 27 km lagi, sesuai batu petunjuk di sisi jalan. Dibaliknya ada rumah yang besar, tapi kelihatan samar-samar. Dari perbincangan dengan pak Muhar (yang paling senior di antara kami) itu adalah pesantren, yang beliaupun tidak mengetahu namanya, pesantren apa. Mungkin inilah pesantren yang kini beralih nama menjadi menjadi Pondok Pesantren Assalam Naga Beralih namanya kini, wallohu aklam bis sawab.

Taman Enceng gondok Pinggir jalan Pekanbaru Bangkinang, terlihat indah, walau dari kejauhan dan dari dalam taxi yang melaju dengan kecepatan 60 km perjam. Tak lama kemudian kami tiba di Bangkinang, akhir perjalanan untuk memulai memasuki wilayah Sumbar yang indah, dari Bangkinang Riau lalu ke Payakumbuh. Lagu Sinar Riau dari Elly Kaim berakhir disini. tapi kami tidak berhenti di Bangkinang, ....


kita sudahi dulu disini, nantikan kami di seri Riau, Kelok Sembilan dan Payakumbuh berikutnya. Bagi yang ingin melihat bgmn keqadaan Bankinang, sebagian, dapat dilihat di video ini,

the end..




























Tidak ada komentar:

Posting Komentar