BANGKINANG,
PANGKALAN KOTO,
Bagian 1
Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, berjarak kurang lebih 63 km dari Pekanbaru ibu kota provinsi Riau. Ia juga sebagai ibu kota kabupaten yang berdekatan dengan ibu kota provinsi, dan menjadi daerah penghubung dengan Propinsi tetangga, Sumatra Barat. Mayoritas penduduk Bangkinang beragama Islam berlatar belakang budaya Minang dan Melayu. Tidaklah mengherankan, kalau masjid tertua di Riau ada disini, berumur ratusan tahun.
Kota ini juga memberikan alumni madrasahnya sebagai karyawan di Telkom Pekanbaru. Lima dari sepuluh karyawan bagian operasi kami adalah lulusan madrasah MTsN dari Bangkinang dan Air Tiris.
Daerah ini awalnya merupakan bagian dari Sumatra Barat, tetapi setelah penjajahan Jepang, dengan pembagian distrik yang ditentukan oleh Jepang, Bangkinang dan Kabupaten Kampar dipindahkan ke dalam Propinsi Riau bersama Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu.
Pukul setengah sepuluh kami sudah berada di kota Bangkinang ini. Cukup cepat, karena jalannya relatip lurus dan tanjakannya tidak ada yang curam. Kami tidak singgah, karena masih pagi, belum tiba saatnya makan siang. Beberapa sepeda, motor (kereta menurut istilah di daerah ini) dan mobil tampak parkir di sisi jalan. Saat itu, kira-kira tahun 1983, para wanita muslimahnya, memang masih belum banyak yang mengenakan hijab, hanya baju kurung saja, pakaian yang cukup sopan secara syar'i.
Sesekali ada bus yang membawa penumpang dari daerah-daerah sub-urbannya untuk datang ke kota, atau akan melanjutkan perjalanan jauh, ke Pekanbaru atau ke Padang. Ada juga truk yang membawa barang keperluan sembako dan lain-lain. Anak sekolah madrasah dan sekolah umum sedang belajar, sehingga kegiatan kota Bangkinang kelihatan agak sepi. Hanya ada kegiatan pedagang, ada yang sedang menerima sales, meladeni beberapa pembeli, ada pula yang sedang menyiapkan sarapan pagi, dengan kopi khas minuman daerah sini.
Perlahan dan hati-hati, bang supir membawa taxi di tengah kota dengan tenang, melewati Islamic Center, Masjid Al-Ikhsan. masjid yang menjadi lambang keagungan kabupaten Kampar. Dulu masih belum seindah ini, karena dibangun dengan multi-years project. Satu persatu tempat indah di Bangkinang dilewati, sampai jumpa batas kota, menuju propinsi Sumatra Barat. Kontour jalannya lurus, tidak banyak tanjakan atau penurunan. Kalaupun ada tanjakan, itu tak membuat taxi yang kami tumpangi melambat dan mesinnya berderam lebih keras karena memerlukan tenaga ekstra di tanjakan. Pohon pinang di sisi jalan selalu ada, karena sejarah penduduk Riau dan Minang yang selalu makan sirih merupakan bagian adat pergaulan di kala itu. Masih ingatkan lagu Sekapur sirih seulas pinang, bukan?
Perjalanan berlanjut. Kini memasuki hutan rimba kabupaten Kampar, yang mengarah ke Sumbar, Kota Pangkalan sebelum Payakumbuh. Dari Bangkinang ke Payakumbuh berjarak 131 km, mengikuti panjang jalan raya yang berbelok ke kiri dan berbelok ke kanan, lurus, menurun dan ataupun mendaki. Sebenarnya secara line-of sight (pandangan garis lurus yang ditarik di peta) jarak fisiknya hanya 77 km saja.
Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang seperti keberangkatan kami. dari Pekanbaru
Dalam perjalanan, taxi-taxi ini akan berhenti dan bertemu di Rantau Berangin. Kota dekat Perbatasan Riau-Sumbar, masih daerah Kecamatan Koto Panjang yang bernama Tanjung Pauh, Kuok. Tempat pemberhentian istirahat bagi supir taxi dan penumpang. Berada di tengah rimba belantara, ditepi sungai Kampar, di tengah hutan rimba lebat pegunungan Bukit Barisan. Kini menjadi sebuah objek wisata sejarah yang terletak di Desa Merangin, Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Dari Bangkinang, jalan harus melalui terowongan yang berjarak lebih kurang
25km. Setelah melewati beberapa desa, di depan telah menanti jalan yang memasuki terowongan. Lokasinya terlihat jelas di depan jalan. Bang supir bersiap memasuki terowongan. Lampu dinyalakan dan aba-aba atau klakson dibunyikan, lampu jauh dikedap-kedipkan, agar ketahuan jika ada mobil lain yang sedang melintas berlawanan dari arah depan. Biasanya diatur, masuk dan keluar mobil secara bergantian. Karena tak ada kode bunyi klakson balasan, dan tak ada kode cahaya lampu dimmer berkedip sebagai balasan, bang supir membawa kami segera masuk. Di tengah-tengah terowongan gelap, ketika mobil kami lewat, banyak kelelawar terbang berhamburan dari sarangnya.
Relief-relief terowongan disorot lampu mobil jelas kelihatan, dan tahun pembuatannya, masih kelihatan, tahun 1929, juga menempel di dinding terowongan. Beberapa tempat ada genangan air, tapi tidak menjadi berlumpur, karena memang beralaskan batu terowongan. Bang supir tidak menyalakan tape utk memutar lagu-lagu, karena di terowongan ini suara akan bergema. Setelah keluar dari terowongan, sungai Kampar terlihat di sebelah kiri. Hutan yang subur dan lebat, hutan rimba Sumatra yang terkenal itu menaungi jalan dengan pohon-pohon besar. Saking lebatnya, diatas jalan ranting dan dahannya banyak yang bersambungan di atas jalan, sehingga membentuk gerbang jalan yang berpayung hutan. Beberapa desa kami lalui dan akhirnya terdengar sayup-sayup suara aliran sungai Kampar, desiran lembut suara air mengalir di kiri jalan. Ada beberapa tanjakan dan jembatan kami lalui.
Selama satu jam setengah kami melipir dari Bangkinang hingga tempat ini. Lalu kamipun beristirahat di daerah pemberhentian taxi dan bus di Rantau Berangin. Rumah makan kampung yang terkenal saat itu adalah rumah makan Densiko, termasyhur dengan gulai ikan emas, ayam goreng serundeng, telor dadar, dendeng badariak, sayur lalap, sambal hijau, daun ubi rebus, selain rendang minang yang legendaris dan masakan lain-lain yang lezat cita rasanya. Kini rumah makan itu telah ditenggelamkan bersama kampung tempat peristirahatan itu. Ujung jalan setelah terowongan terputus di tembok bendungan PLTA Koto Kampar itu.
Pada saat kami bertugas di Pekanbaru, kamipun sudah mendengar tentang PLTA ini. Cuma waktu itu kamipun tidak tahu batas-batas perencanaan danau PLTA Koto Panjang itu. Kami juga sering membayangkan, ketika lewat terowongan, andai kata bendungan di buat lebih ke hilir sungai Kampar, maka bendungan akan menelan terowongan, dan jalan akan beralih ke arah Pasir Pengarayan. Dalam kenyataan, bendungan dibangun sebelum terowongan, jalan baru di buat diatas terowongan. sampai melewati bendungan. Terowongan itu kini menjadi objek wisata terkenal di Bangkinang, Riau.
Pada musim kemarau, air danau surut, ujung dahan dan ranting yang belum membusuk, terlihat muncul kepermukaan. Jika kemarau berkepanjangan, air penggerak turbin tidak cukup debitnya, dan pembangkit listrikpun mungkin saja di matikan sebagian atau bahkan seluruhnya. Tapi pada musin penghujan, air bisa melimpah, bahkan 5 pintu-pintu spill-over tak mampu melepaskan air ke hilir. Kalau sudah begini tak jarang membuat banjir di hilir, termasuk di kota Bangkinang. Kalau sebelum PLTA dibangun, hutan sawit belum meraja lela seperti sekarang ini, debit air sungai Kampar itu relatif stabil. Kecuali kalau musin hujan yang berlebihan, bisa membawa bencana banjir dihilir, di sekitar Bangkinang. Dan dalam kenyataannya, kota Bangkinang itu dikelilingi oleh danau, sungai dan kolam-kolam bekas galian.
Setelah selesai istirahat dan makan siang, hari telah menunjukkan pukul 1230 menjelang senja. Kami melaksanakan shalat zuhur di jamak dengan asar, di musholla sederhana yang disediakan oleh masyarakat setempat. Airnya bersih, bersumber dari mata air. Kami tak lupa berdo'a, semoga nanti setelah berwudlu dan shalat, air dan hati kami bersih pula adanya. Demikian juga badan sudah bertambah segar, sebagian kelelahan telah pulih, siap melanjutkan perjalanan yang masih jauh ke tujuan, Padang kota idaman.
Inilah jembatan indah Rantau Berangin dan hutan yang menghubungkan kedua sisi sungai Kampar. Kami akan melewati ini, sebelum lanjut ke Propinsi tetangga, di Kabupaten Lima Puluh Kota. Hutan Lebat disekelilingnya membuat mata kita yang melewatinya sejuk, nyaman dan menenangkan hati. Semuanya berkat karuniaNya, Pemilik Alam Semesta, Ilahi Rabbi.***
Perjalanan berikutnya akan di sambung pada bagian 2.
PANGKALAN KOTO,
Bagian 1
![]() |
| Islamic Center Bangkinang, Masjid Al Ikhsan Bangkinang |
Daerah ini awalnya merupakan bagian dari Sumatra Barat, tetapi setelah penjajahan Jepang, dengan pembagian distrik yang ditentukan oleh Jepang, Bangkinang dan Kabupaten Kampar dipindahkan ke dalam Propinsi Riau bersama Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu.
![]() |
| Rute 1 bagian 2 Bangkinang-Payakumbuh |
Pukul setengah sepuluh kami sudah berada di kota Bangkinang ini. Cukup cepat, karena jalannya relatip lurus dan tanjakannya tidak ada yang curam. Kami tidak singgah, karena masih pagi, belum tiba saatnya makan siang. Beberapa sepeda, motor (kereta menurut istilah di daerah ini) dan mobil tampak parkir di sisi jalan. Saat itu, kira-kira tahun 1983, para wanita muslimahnya, memang masih belum banyak yang mengenakan hijab, hanya baju kurung saja, pakaian yang cukup sopan secara syar'i.
Sesekali ada bus yang membawa penumpang dari daerah-daerah sub-urbannya untuk datang ke kota, atau akan melanjutkan perjalanan jauh, ke Pekanbaru atau ke Padang. Ada juga truk yang membawa barang keperluan sembako dan lain-lain. Anak sekolah madrasah dan sekolah umum sedang belajar, sehingga kegiatan kota Bangkinang kelihatan agak sepi. Hanya ada kegiatan pedagang, ada yang sedang menerima sales, meladeni beberapa pembeli, ada pula yang sedang menyiapkan sarapan pagi, dengan kopi khas minuman daerah sini.
Perlahan dan hati-hati, bang supir membawa taxi di tengah kota dengan tenang, melewati Islamic Center, Masjid Al-Ikhsan. masjid yang menjadi lambang keagungan kabupaten Kampar. Dulu masih belum seindah ini, karena dibangun dengan multi-years project. Satu persatu tempat indah di Bangkinang dilewati, sampai jumpa batas kota, menuju propinsi Sumatra Barat. Kontour jalannya lurus, tidak banyak tanjakan atau penurunan. Kalaupun ada tanjakan, itu tak membuat taxi yang kami tumpangi melambat dan mesinnya berderam lebih keras karena memerlukan tenaga ekstra di tanjakan. Pohon pinang di sisi jalan selalu ada, karena sejarah penduduk Riau dan Minang yang selalu makan sirih merupakan bagian adat pergaulan di kala itu. Masih ingatkan lagu Sekapur sirih seulas pinang, bukan?
Perjalanan berlanjut. Kini memasuki hutan rimba kabupaten Kampar, yang mengarah ke Sumbar, Kota Pangkalan sebelum Payakumbuh. Dari Bangkinang ke Payakumbuh berjarak 131 km, mengikuti panjang jalan raya yang berbelok ke kiri dan berbelok ke kanan, lurus, menurun dan ataupun mendaki. Sebenarnya secara line-of sight (pandangan garis lurus yang ditarik di peta) jarak fisiknya hanya 77 km saja.
Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang seperti keberangkatan kami. dari Pekanbaru
![]() |
| Pintu masuk jalan terowongan |
![]() |
| Relief-relief dalam terowongan |
25km. Setelah melewati beberapa desa, di depan telah menanti jalan yang memasuki terowongan. Lokasinya terlihat jelas di depan jalan. Bang supir bersiap memasuki terowongan. Lampu dinyalakan dan aba-aba atau klakson dibunyikan, lampu jauh dikedap-kedipkan, agar ketahuan jika ada mobil lain yang sedang melintas berlawanan dari arah depan. Biasanya diatur, masuk dan keluar mobil secara bergantian. Karena tak ada kode bunyi klakson balasan, dan tak ada kode cahaya lampu dimmer berkedip sebagai balasan, bang supir membawa kami segera masuk. Di tengah-tengah terowongan gelap, ketika mobil kami lewat, banyak kelelawar terbang berhamburan dari sarangnya.
![]() |
| Pintu Keluar Terowongan |
![]() |
| Sungai Kampar di sebelah Kiri pintu keluar terowongan. Di kejauhan tampak bendungan PLTA Kotopanjang |
Pada saat kami bertugas di Pekanbaru, kamipun sudah mendengar tentang PLTA ini. Cuma waktu itu kamipun tidak tahu batas-batas perencanaan danau PLTA Koto Panjang itu. Kami juga sering membayangkan, ketika lewat terowongan, andai kata bendungan di buat lebih ke hilir sungai Kampar, maka bendungan akan menelan terowongan, dan jalan akan beralih ke arah Pasir Pengarayan. Dalam kenyataan, bendungan dibangun sebelum terowongan, jalan baru di buat diatas terowongan. sampai melewati bendungan. Terowongan itu kini menjadi objek wisata terkenal di Bangkinang, Riau.
![]() |
| Setelah keluar dari pintu terowongan, jalan lama berakhir disini, |
Pada musim kemarau, air danau surut, ujung dahan dan ranting yang belum membusuk, terlihat muncul kepermukaan. Jika kemarau berkepanjangan, air penggerak turbin tidak cukup debitnya, dan pembangkit listrikpun mungkin saja di matikan sebagian atau bahkan seluruhnya. Tapi pada musin penghujan, air bisa melimpah, bahkan 5 pintu-pintu spill-over tak mampu melepaskan air ke hilir. Kalau sudah begini tak jarang membuat banjir di hilir, termasuk di kota Bangkinang. Kalau sebelum PLTA dibangun, hutan sawit belum meraja lela seperti sekarang ini, debit air sungai Kampar itu relatif stabil. Kecuali kalau musin hujan yang berlebihan, bisa membawa bencana banjir dihilir, di sekitar Bangkinang. Dan dalam kenyataannya, kota Bangkinang itu dikelilingi oleh danau, sungai dan kolam-kolam bekas galian.
Setelah selesai istirahat dan makan siang, hari telah menunjukkan pukul 1230 menjelang senja. Kami melaksanakan shalat zuhur di jamak dengan asar, di musholla sederhana yang disediakan oleh masyarakat setempat. Airnya bersih, bersumber dari mata air. Kami tak lupa berdo'a, semoga nanti setelah berwudlu dan shalat, air dan hati kami bersih pula adanya. Demikian juga badan sudah bertambah segar, sebagian kelelahan telah pulih, siap melanjutkan perjalanan yang masih jauh ke tujuan, Padang kota idaman.
![]() |
| Jembatan Rantau Berangin lama di atas Sungai Kampar. |
Perjalanan berikutnya akan di sambung pada bagian 2.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar