Senin, 30 September 2019

Lulus Sarjana Teknik atau Insinyur

LULUS SARJANA TEKNIK atau INSINYUR



Tahun ke tiga, karena ia mahasiswa pindahan, ia sudah mulai mengambil judul TA, tugas akhir riset dan pengembangannya. Ia banyak berinteraksi dengan pak Asmui Nasution, kepala sub-dinas pendidikan di WITEL IV Jakarta.
Pada saat ada pelatihan SKSO dan praktek penyambungan kabel serat optik, ia minta izin ikut serta.
Aplikasi SKSO
Ia diizinkan, karena ia juga sebagai pengajar disana. Paling tidak ia bisa melihat dan mencoba bagaimana cara penyambungan serat dan setelah itu di ukur tahanan sambungan atau
connection attenuate effectnya. Termasuk membahas Schrodinger effectnya, untuk junction berjarak jauh, long haul junction upto 100km long. Disini hanya menggunakan rumusan akhir, hasil empiris saja.
Dari sini timbul idenya untuk membuat perencanaan SKSO untuk daerah JABOTABEK sebagai judul risetnya. Ia berdiskusi dengan Ibu Rachmah MSc dosennya dari UI dalam rangka riset tugas akhir ini, dan beliau setuju sebagai pembimbing. Kerangka berfikir dan urutan pembahasan ia menggunakan prinsip kendali atau controle principle engineering. Bagaimana prinsip ini bekerja, tentu tidak dapat dijelaskan panjang lebar disini.
Pola Pikir Pengendalian Service,
berakhir pada Perencanaan jaringan FO
Daftar bacaan teori disiapkan, data-data perencanan jaringan penghubung untuk short dan long term planning dipinjamnya dari temannya bagian jaringan junction dan membacanya ditempat, membuat fotocopy yang penting-penting tentang perencanaan jaringan penghubung. Beberapa hal dalam perencanaan itu masih harus diperbaiki. 

Tahun itu, akhir tahun 1983, Telkom belum berencana menggunakan kabel serat optik sebagai jaringan penghubung. Data traffic diperolehnya dari data primer dan sekunder dari tiap-tiap sentral penghubung. Setelah kurang lebih enam bulan, diskusi dengan Ibu dosen Ir. Rachmah MSc sudah dinyatakan cukup, iapun mendaftar sidang ujian TA. Pengujinya adalah pak DR. Tambunan sebagai ketua Jurusan, Pak Arifin dan Pak Zakarias Santoso masing-masing sebagai penguji. Ia didampingi dosen pembimbingnya, Ir. Rochmah MSC, dan setelah sidang ia dinyatakan lulus dengan sangat baik.

Pada saat wisuda, ia tidak berfikir untuk tidak ikut. Namun ketika istrinya menanyakan kenapa tidak ikut, ia menjawab,
“Buat apa lagi Tat, sudah tidak ada pengaruhnya terhadap golongan, sudah lewat. Paling berguna nanti, kalau dipilih untuk menduduki jabatan tertentu” jawabnya.
“Mungkin bagi kak Nur tidak perlu, tapi bagi saya dan anak-anak ini adalah kebanggaan. Berarti pilihan saya dulu ke Kak Nur tidak salah, Kak Nur adalah orang mempunyai semangat hidup yang tinggi. Siapa sih yang tidak bangga, sambil bekerja, biaya sendiri, lulus insinyur sangat baik pula” tambahan,
“Ayolah kita berangkat, paling tidak untuk kenang-kenangan nanti buat anak-anak, walaupun sudah sedikit kesiangan. Kita naik taksi saja ke Srengseng Sawah biar tidak terlalu terlambat”, lanjut Tati.

Rizal, Dian dan Emil  dipersiapkan, diganti bajunya dan segera siap. Taksi dipanggil dan mereka
berempat berangkat ke Srengseng Sawah, dan pada saat tiba acara sudah berjalan setengahnya. Mereka sudah tidak kebagian konsumsi. Ia hanya tinggal mengikuti pelantikan wisudawan saja, dilihat istri dan anak-anaknya. Mereka bangga akan ketabahan dan kegigihan Bapaknya. Teman-temannya mengucapkan selamat kepadanya, ada Agus, Adi, Moses T, Zachri P dan Zul. 
Rumah dan Rumah Makan Padang Jl. Tegalan

Mereka berfoto-foto dan meminta hasilnya. Lalu mereka pulang, juga dengan taksi, dan makan siang bersama, mereka singgah di rumah makan padang di Jalan Matraman di persimpangan Jalan Tegalan. Begitu juga ketika pelantikan sarjana ISTN pada malam penutupan atau inaugurasi mahasiswa baru. Mereka berangkat bersama, dan ketika pulang mereka naik taksi lagi dan makan malam di Rumah Makan  Padang yang sama.

Pada mulanya ia biasa saja perasaannya ketika dinyatakan lulus sebagai seorang insinyur. Wajar saja, karena ia tidak merasa terlalu lelah mengikutinya semuanya. Ia dapat menguasai semua mata pelajaran. Ia kompak dengan teman-teman mahasiswa, bahkan ia diajak belajar bersama, bergaul bersama. Ia merasa tidak ada bedanya ketika ia masih mahasiswa yang pertama sekali, ketika di Bandung dulu. Tapi setelah ia mengingat ke belakang, sejak ia bercita-cita dan mencanangkan menjadi insinyur sejak SD, apa saja yang telah dilakukannya dan berapa lama ia baru mencapainya, barulah ia kagum terhadap pertolonganNya terhadap apa doa-doanya dengan apa yang sudah dicapainya. Apa yang dicita-citakannya sejak ia masih kelas enam SD, kini telah menjadi kenyataan, dua puluh empat tahun kemudian, ia telah menjadi seorang insinyur kini. 

Ia pernah mengajar untuk mencari tambahan biaya hidup dan biaya kuliahnya di IKIP/UPI selama hampir tiga tahun. Ia juga mendapat upahan mengetik skripsi mahasiswa yang akan sidang TA sampai ia lulus sarjana muda. Lalu diterima menjadi karyawan TELKOM. Lama, berliku dan penuh perjuangan. Ia tidak pernah menyerah untuk mencapai cita-citanya itu. Walaupun ia tidak bisa lepas dari mengasuh anaknya, Anwar Rizal, Dian Hidayati dan Emil Himan yang masih kecil. Untuk membuat diktat elektronika di pendidikan D2 Telkom, sambil menggendong anaknya ia mengetik, dan kalau perlu ikut mengepel rumah, ketika pembantu tidak ada.
Laboratorium Elektronika, Kampus Plumpang
Ia juga harus mengikuti praktikum elektronika di daerah Plumpang, Tanjung Priok dalam delapan modul, dimulai pukul dua sore sampai selesai. ****


Di masa ia masih kuliah, tahun 1982, Emil Hilman lahir di RS Islam di Cempaka Putih Jakarta, bulan Februari tanggal 23. Rumah mereka pindah ke rumah yang lebih baik yang berada di belakang rumah di Jalan Penggalang ke Gang Penggalang I, yang lengkap dengan air PDAM dan lingkungan dan bentuk rumah yang lebih sehat. Yang menjaga Rizal dan Dian masih tetap Nurbaya. Pada hari ketiga, Rizal sudah gelisah demikian juga Dian, karena sudah tiga hari tidak bertemu dengan ibunya. Ini kelihatan dari cengengnya dan sangat mudah menangis, sukar dibujuk untuk diam, selalu menanyakan ibunya. Dibawalah Dian dan Rizal ke RS Islam Jakarta, menggunakan taksi. Ibunya, Siti Nurhayati juga sudah rindu juga, sehingga ketika berjumpa, mereka berpelukan cukup lama. Setelah kerinduannya terpuaskan, Dian dan Rizal diajak pulang. Dian biasanya suka mabuk kendaraan kalau di bawa naik taksi ke dan dari RS Islam Jakarta.
RS Islam Cempaka Putih Jakarta.
 Waktu pulang, karena Dian kelihatannya sudah keringat dingin diperjalanan karena mabuk kendaraan, mereka turun di Pramuka, pasar burung dan berjalan kaki ke rumah. Tahun keempat tepatnya tahun 1981 Rizal ikut TK pagi hari dan sore harinya ia suka ikut ibunya ke sekolah. Karena kelihatannya Rizal dapat mengikuti pelajaran dengan baik, maka ia dapat melanjutkan sekolah SDnya, yang dimulai umur empat tahun.


Pada tahun yang sama saat kelulusannya dari ISTN, iapun dialih-tugaskan menjadi Kepala Kantor di Pekanbaru. Untuk informasi ujian Negara, dikordinir oleh temannya yang juga akan ikut ujian Negara di Jakarta, Densi Mas Agus. Setelah satu setengah tahun di Pekanbaru, tahun 1986 akhirnya mereka ikut ujian Negara. Ia sengaja mengambil cuti dan dengan pesawat ia berangkat ke Jakarta dan menginap di Wisma Postel Jalan Pasar baru Jakarta. Sebelum ujian Negara, semuanya yang ikut diadakan review mata kuliah dan model sidang ujian komprehensif. Ia jumpa temannya yang selalu diajarinya elektronika, Haryanti Lokananta.
“Aku kangen sekali sama Bapak” katanya. Lalu mereka membahas bahan ujian dan cara menjawabnya ketika ia bertindak sebagai asisten dosen elektronika dulu.
“Yang ini rangkaian pengganti searahnya bagaimana dan rangkaian pengganti sinyal ABB, atau rangkaian arus bolak baliknya bagaimana” tanya Haryanti.
Yang lain akhirnya ikut nimbrung. Penjelasan demi penjelasan diurai di papan tulis tempat mereka mengadakan review. Sampai beberapa kali. Yang mengerti ya langsung bisa mengerti, yang setengah mengerti atau bahkan tidak mengerti sama sekali juga ada.

Ada empat mata kuliah yang di uji pada saat ujian Negara. Yang lain diambil dari nilai hasil ujian lokal. Salah satunya apa yang mereka review yakni mata pelajaran elektronika. Yang lain adalah Rangkaian listrik, Teknik Telekomunikasi dan Mesin-mesin Listrik, dan ia semuanya berhasil lulus dengan nilai yang baik. Akhirnya setelah sidang Tugas Penelitiannya selesai, ia dinyatakan lulus ujian negara tahun 1986.

Kesempurnaan dan Kemahatahuan Allah

Demikianlah, hari itu ia telah mendengar semuanya, ia dinyatakan lulus sebagai seorang insinyur. Ia gembira tidak kepalang, tapi tetaplah ia yang harus rendah hati. Ilmu yang dimilikinya belum seberapa, apalagi jika dibandingkan dengan pengetahuan Allah. Pada malam hari ia  dapat melihat bintang di malam kelam, bermilyar-milyar jumlahnya tak terhitung. Kalau dalam angka jumlah itu mengatakan 1 sampai dengan n, berapakah gerangan akhir dari nilai n itu ? Apakah nn? Berapakah nn itu? Masih belum dan tidak akan bisa terjawab.

Bintang gemintang itu berputar mengelilingi lintasan orbitnya masing-masing, ada yang bulat dan ada yang membentuk lintasan ellips, bersilangan satu sama lain. Lalu membentuk lintasan yang lebih besar lagi, yang kalau di ukur dengan kecepatan cahaya, akan diperlukan milyaran tahun dalam satu lintasan yang sangat besar, sedangkan umur manusia hanyalah rata-rata di bawah seratus tahun. Seberapa besarkah kira-kira lintasan terbesar itu? Bagaimanakah kira-kira kombinasi semua bentuk lintasan itu jika di nyatakan dengan persamaan garis? Semuanya kabur, kecuali dapat dikatakan, hal itu telah diatur dengan seksama oleh yang maha mengetahui, maha perekayasa ulung tak tertandingi.
Alif Lam Mim, Kaligrafi
Persis ayat-ayat mutasabihat dalam Al Qur’an, seperti
Alif Lam Mim, yang selalu diartikan hanya Allah SWT yang mengetahui artinya, yang mengetahui rahasia di balik itu semua. Peringatan Allah kepada manusia yang merasa dirinya pintar. Hari ini semua ilmu manusia menjadi tidak berarti, kecuali hanya bagaikan setitik air di atas samudra pengetahuan Allah.

Begitu pulalah gambaran bagaimana Allah dengan sempurna mengatur remah-remah kehidupan seseorang, kehidupan diri pribadinya yang indah tak terperi.  Yang dengan teratur, mengatur remah-remah kehidupan itu menjadi nyata, menjadi satu kesatuan, dengan latar belakang keindahan ayat-ayat kauniyahNya, keindahan alam semesta. Sedemikian indah, Allah menyongsong mimpi-mimpinya sejak SD dengan berlari, walaupun ia hanya datang meminta dengan berjalan kaki. Ia hanya  meminta segelas air, Dia memberinya lautan. Ia meminta secercah cahaya penerang, Dia memberinya matahari. Ia meminta sebatang pohon, Dia memberinya hutan belantara. Semogalah ia menjadi muslim yang kaffah dan seterusnya nanti. Subhanallah …….. Alhamdulilah.. ya Allah, Pelimpah Rahmat dan kasih sayang, kabulkanlah…!    
******

Sabtu, 28 September 2019

Meneruskan Kuliah S1 di STTN/ISTN Cikini Jakarta

MENERUSKAN KULIAH S1 DI JAKARTA



Awal tahun 1979, ia berusaha untuk mengikuti pendidikan lagi. Ia masih memendam cita-citanya yang ingin menjadi insinyur. Bermacam usaha telah dicobanya, untuk mengikuti kuliah di FT-UI Salemba, sebagai mahasiswa pindahan namun gagal.
Kampua FT UI lama Jl. Salemba
Begitu juga ia berusaha untuk menghubungi IKIP/UNJ Jakarta di bilangan Rawamangun, namun petugas mahasiswa yang menerimanya kelihatannya keberatan dengan status pindahan itu. Kemungkinan karena cinta almamter yang berlebihan. Saking cintanya mereka beranggapan, kampus lain itu adalah kampus yang tidak sesempurna mereka, sehingga terkesan meremehkan. Begitu pula, ketika bagian tata usahanya juga tidak bisa bertindak apa-apa, tidak bisa memberi saran apapun yang terbaik yang harus ia lakukan. Tidak ada petunjuk dari atasan. Padahal ketika kita dulu bersama mengorganisir demo mahasiswa, mereka cukup bisa bekerja sama. Sebenarnya ia tidak serius mengurus kuliahnya di IKIP Jakarta, karena tidak sesuai dengan cita-citanya.
UNJ/IKIP Rawamangun Jakarta

Sampai akhirnya ia pergi ke ATTN/STTN Cikini, Jalan CIkini Jakarta, atas saran teman sekerjanya, Densi Mas Agus. Sebelumnya, ketika ia masih belajar di STM dulu di Pematangsiantar, ia sudah mendengar mengenai Akademi ini, karena ada seorang alumninya bekerja di PLN Pematangsiantar. Cuma ia tidak sungguh-sungguh mengikutinya, karena saat itu juga, sekolah atau kuliah di Akademi ini memang cukup mahal, terutama karena memang harus  tinggal di Jakarta.  
Bersama Densi Mas Agus, temannya sesama karyawan TELKOM, mereka mendaftarkan diri untuk mengikuti test pada kahir Nopember 1979. 

Nah, pada saat test, ia sangat terkejut karena materi yang diujikan adalah mata kuliah matematika tingkat tiga, menggunakan persamaan Bessel level dua, sangat sukar, dan memang belum pernah dipelajarinya ketika masih di FKIT-IKIP/UPI maupn ketika belajar di TELKOM.
Persamaan Bessel
Oleh karena itu, STTN menempatkannya di tingkat dua dulu, dan ikut mata kuliah yang diujikan itu. Ia pun mulai mengikuti perkuliahan khusus untuk juruan arus lemah, elektronika telekomunikasi. Kuliah perdananya sekitar bulan Desember tahun 1979, sebelum perayaan natal. Perkuliahannya adalah mengenai Matematika Terapan, awal dari pelajaran ke Persamaan Bessel sampai level 3. Pak Zakarias Santoso sebagai dosen, sangat menguasai materi yang diajarkan dan penggunaannya di lapangan. Contoh-contoh soal dan jawabannya sudah dimiliki copynya oleh mahasiswa lain, dan ia meminta satu copy utk dipelajari. Biasanya dipelajari bersama di kampus. Oleh karena itu, iapun selanjutnya tidak mengalami kesulitan untuk dapat mengerti dan dapat menyelesaikan soal-soalnya.
Kampus STTN Cikini, Pagi hari dipakai oleh SMP Cikini
Untuk mata pelajaran mesin-mesin listrik diajar oleh Pak Harahap dari PLN. Sama seperti pelajaran matematika terapan di atas, teman-temannya mahasiswa lama sudah mempunyai contoh jawaban dari semua soal yang pernah diujikan, dan ia juga memperoleh satu kopi lengkap. 

Sebelum ada kuliah, atau perpindahan satu mata kuliah ke mata kuliah yang lain selalu ada waktu, yang dapat mereka pergunakan untuk membahas cara penyelesaian soal-soal ujian semester atau ujian kenaikan tingkat. Kuliah Fiskia Lanjutan yang berisi tentang teori gelombang lanjutan, yang membahas tentang perambatan gelombang electro-magnetic dan antenna-antena, seperti: parabola, setengah gelombang, satu atau dua gelombang dijelaskan dengan baik sekali, karena pak Zakarias sangat menguasai bahan pelajaran ini. Ia dapat menerangkan dengan jelas. Jika ada yang bertanya, dengan sukarela ia akan memberi jawaban yang lebih dalam lagi. Baik sebagai persamaan gelombang di alam lepas yang dikenal sebagai Propagasi-Radio maupun gelombang terbimbing, guided wave, dalam bumbung gelombang atau wave guide. Persamaan gelombang dengan menggunakan Analisis Vektor, bagaimana persamaan itu tercipta, dan sekarang untuk apa dipergunakan, semua dijelaskan dan dapat ditangkap dan dimengertinya dengan baik. Ia lulus dalam mata kuliah ini dengan nilai tertinggi.

Selain pak Zakarias Santoso, dosen lainnya adalah pak Arifin mengajarkan teknik telekom dan ibu Ir. Rahmah MSC (kini almarhumah, semoga mendapat yang layak sisiNya) dari UI mengajarnya SKSO, Sistem Komunikasi Serat Optik, fiber optic telecommunication.
Applikasi Komunikasi Serat Optik


Ada pak Sahala Silalahi satu semester mengajarnya tentang elektronika dan pak Iwan dari Telkom mengajarkan tentang teknik telekomunikasi sampai degan tingkat empat, saat peralihan sistem tingkat ke sistem semester. 

Untuk pelajaran matematika dengan syarat batas diajar oleh salah seorang dosen terbang dari ITB. Ilmu Komputer saat itu diajar oleh seorang karyawan PLN, dengan basis pelajaran flowchart dan bahasa BASIC yang beroperasi dengan system DOS. Mereka praktikum satu kali saja, menggambar persamaan kuadrat, sambil memperkenalkan komputer desktop pertama di Laboratorium Komputer PLN di Jalah Sisingamangaraja Kebayoran.

Rumah, Gedung TELKOM Gambir, Kampus Cikini dan Srengseng

Ketika pulang bekerja diariTELKOM Jalan Merdeka Selatan, ia langsung berangkat ke kampus di jalan Cikini dengan motor Vespa tahun 1976nya. Biasanya ia menunggu di kelas atau di kantin sampai pukul tiga sore. Ada satu dua kuliah yang diajarkan pada jam-jam ini, tetapi umumnya dimulai pukul empat sore sampai menjelang magrib. Lalu dilanjutkan sampai pukul sepuluh malam. 

Kuliah di Kampus Cikini tidak ada masalah, ia bisa langsung parkir di halaman dan berdiskusi dengan teman-temannya sebelum perkuliahan dimulai, selesai kuliah dan pulang kadang-kadang sampai setengah sebelas. Bisa di kelas dan bisa juga di kantin. Kalau harus ke kampus di Srengseng Sawah, kampus baru mereka, ia langsung ke stasiun KA Gambir ( berada sangat dekat dengan gedung Telkom Gambir) dan beli tiket lalu berangkat, turun di stasiun Lenteng Agung.
Stasiun KA Gambir
Dari sini ia dengan bus ia langsung ke kampus, atau kalau ia mujur, ada temannya yang memakai mobil membawanya ke kampus. Motor Vespa miliknya biasanya kalau berangkat dari Gambir ditinggal di kantor, dan akan diambil ketika sudah kembali dari Stasiun Lenteng Agung. Itupun jika masih ada kereta api terakhir pukul 19.30, setengah delapan malam. Adakalanya malam itu kereta sudah harus parkir di stasiun Manggarai, ia tidak bisa lagi ke kantor. Ia langsung ke rumah mereka ke Jalan Pengglang I, biasanya menggunakan Bajaj.

Esok paginya ia naik bus ke kantor.
Rumah Jl, Penggalang I
dibelakang rumah yg kanan
Bisa juga kerumah dulu sambil mengantorkan motor Vespanya diantar dulu ke rumah di Jalan Penggalang, lalu dengan bus ia ke Cikini. Kalau lancar-lancar saja atau jika tak ada gangguan diperjalanan, biasanya hanya memerlukan waktu 15 sampai 20 menit, naik kereta dari stasiun Cikini, melewati stasiun Manggarai, Kalibata, Pasar Minggu dan tiba di stasiun Lenteng Agung. 

Akses Kampus Cikini
Biasanya sesaat menanti, lalu langsung disambung dengan bus ke Srengseng Sawah. Atau kadang-kadang ia berangkat dengan motornya langsung ke kampus barunya.  Kalau naik motor ia perlu waktu 45 menit normal dan kalau macet butuh waktu satu setengah jam.
Stasiun KA Cikini




Stasiun Lenteng Agung di waktu malam
Teman kuliahnya ada seorang perempuan dari kota, istilah tempat di Jakarta Utara dekat Stasiun Kota, dekat perkampungan Glodog di daerah Mangga Dua, tidak jauh dari kota tua dan museum Fatahillah yang sekarang. Haryati Lokananta namanya. Pada saat waktu luang ia sering menerangkan tentang rumus-rumus elektronika kepadanya, terutama pada proses mengubah arus bolak-balik menjadi arus searah. Persamaan Differensial yang menyangkut pengisian dan pengosongan kapasitor. Demikian juga tentang teori penguatan dan transistor switching. Setelah menjelaskan, ia merasa lebih mengerti lebih dalam tentang hal yang diterangkannya. Teman-teman lainnya adalah Moses Tuanakotta, Adi, Zul, Dolon N, Agus S, Purwanto, Zachri Pramudia dari TVRI dan lain-lain, ada kurang lebih sepuluh orang yang rajin aktif kuliah. Mereka adalah angkatan pertama jurusan arus lemah di STTN/ISTN ini. Sampai akhirnya lulus sarjana muda elektro, pada tahun kedua kuliah, ia berhak memakai gelar BE, Bachelor Engineering versi STTN/ISTN.

Rekayasa Total System

Setelah lulus sarjana muda, kuliah berlanjut ke tingkat IV dan V. Pak Zakarias juga mengajar Elektronika pada tahun ketiga pada tingkat empat. Karena ia dapat menguasai elektronika dengan baik, ia sering mengajari teman-temannya termasuk Haryati. Iapun ditunjuk menjadi asisten dosen pak Zakarias Santoso. Ilmu yang diperolehnya dalam design rangkaian elektronik, sangat membantunya dalam pekerjaannya sehari-hari di kantor.  Sesuai   dengan  motto para insinyur atau engineer, tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi, semua masalah selalu ada penyelesaiannya, semua pertanyaan selalu ada jawabnya. Hanya tinggal menunggu waktu saja.  
Pak DR. Ir. Tambunan sebagai ketua Jurusan Elektro mengajarnya Teknik Surja, yang berisikan tentang perlindungan terhadap petir, dengan  menggunakan Teorema Laplace. Persaman Differential tingkat tinggi dapat juga  digunakan, tetapi akan sangat panjang jalannya, sehingga cara ini jarang digunakan.
Begitu juga pelajaran Pembangkit Tenaga Nuklir dengan segala permasalahannya, diajarkan oleh dosen senior dai PLN.

Ada dua orang dosennya yang datang dari salah satu angkatan setingkat master, lulusan luar negeri. Dari salah satu dosen itu, ia mendapat pelajaran tentang komunikasi digital, termasuk teknik deteksi radio atau RADAR, radio detection and ranging, yang banyak dipakai pada sistem pertahanan darat terhadap serangan dari udara, mendeteksi pesawat musuh dan secara otomatis mengarahkan tembakan meriam darat ke pesawat tersebut. Atau deteksi jarak, cuaca dan lain-lain ketika pesawat akan mendarat. Ia juga menjelaskan Teorema Shannon dalam komunikasi digital, hubungan antara lebar pita frekuensi dengan kecepatan kirim data.




Komunikasi digital adalah hal yang masih baru dalam dunia teknik telekomunikasi diwaktu itu tahun 1983, sedangkan Shannon adalah ahli matematikawan yang berlatar belakang ahli telekomuniaksi.  

Dosen yang seorang lagi memberi kuliah tentang Konsep Teknologi, membahas proses-proses rekayasa atau engineering. Basis kuliahnya adalah perencanan pesawat, baik komersial  maupun tempur. Ia banyak bercerita tentang pesawat tempur, diantaranya pesawat Sea Harrier buatan Inggris yang bisa lepas landas dan mendarat tegak lurus. Karena kedekatan teknik ini dengan teknik pengendalian, lalu bapak dosen ini juga menjelaskannya dalam proses pengendalian manajemen terapan. 
Kosep Teknologi

 Sekaligus menjelaskan manajemen yang berbasis pengetahuan,  knowledge-based  system  sebelum  beralih  ke expert system atau sistem pakar. Total system, atau sistem keseluruhan adalah hubungan antara input,  process, output, instrumental dan enviromental input . Yang juga tak kalah penting adalah supporting system atau sistem pendukung yang berdampak pada pembiayaan.

Untuk menjaga kestabilan sistem, pengendalian dilakukan dengan mengambil sebagian out put untuk dibandingkan dengan input yang diinginkan, apakah telah sesuai atau belum. Gap antara apa yang ada dan apa yang diinginkan ini yang disebut masalah yang harus dicarikan apa penyebabnya dan bagaimana penyelesaiannya.
Rekayasa Sistem Total

Dalam merencanakan sistem, aplikasi atau manajemen, apa yang kita inginkan dinyatakan dalam output, masukan utama atau apa yang akan kita olah dinyatakan dalam input, dan bagaimana input diolah dalam process. Instrumental Input, sistem perangkat lunak apa yang diperlukan, bagaimana environmental input, masukan lingkungan, dan yang penting bagaimana dampaknya terhadap pembiayaan sistem sekaligus.  Lalu agar selalu terjadi perubahan menuju yang lebih baik, maka pengendalian sistem dilakukan dengan mengumpan-balik, feed back, output ke input. Seperti terlihat pada gambar berikut dan yan sebelumnya. 

Rekayasa Pendidikan Total
Mebandingkan atau memonitor output untuk dijadikan pembanding antara apa yang dihasilkan dengan apa yang diinginkan, apakah terjadi pertumbuhan, pertumbuhan terlalu cepat,  terlalu lambat, stagnant atau bahkan penurunan. Pengendalian dengan umpan balik dimaksudkan untuk meperoleh jaminan pertumbuhan sistem yang terkendali, controllable and sustainable growth. Setelah dengan pengkajian lebih lanjut, Model Sistem Transformasi Pendidikan Holistik dapat digambarkan dan dijelaskan berikut. Instrumental Inputnya diganti dengan Brain Ware (BW) dan perangkat lunak Software (SW). Pemantauan dikakukan pada sisi proses dan output, untuk pengkajian ulang, review, dan kendali kualitas atau quality control.
Pola atau model setiap desain untuk total system dijelaskannya flow chart pula sebagai berikut.
Flow Chart Total Process design

Preliminary bisa berarti “coming before a more important action or event, especially introducing or preparing for it”. Dalam Preliminary desain diperlukan pandangan atau tinjauan terhadap technology yang sedang dan akan berkembang, keperluan yang diminta saat ini dan harus memperhatikan lingkungannya atau dampak terhadap lingkungannya itu. Kemudian barulan desain itu diproses dan diperiksa poduknya. Jika produknya sudah baik, sudah sesuai pesanan maka produksi massal dapat diserahkan ke pasar, dan seorang insinyur kembali ke meja desain yang baru, mempersiapkan jawaban terhadap tantangan kehidupan yang baru.
Kalau produknya tidak sesuai pesanan, maka diperiksa kembali apakah desainnya bisa di modifikasi atau didesain ulang. Kalau bisa diadakan preliminary desain lagi dengan prosedur yang sama atau yang sudah dikembangkan versinya. Kalau tidak ya desain itu dianggap reject atau ditolak. Bisa karena biaya terlalu tinggi atau bisa juga karena teknologinya belum ada.  

Pembaca, aduh, sangat rumit ya. Memang rumit, karena dalam rekayasa harus diperhitungkan semua  aspek-aspek  yang  mempengaruhi,  agar  diketahui  dampak  yang timbul sesegera dan seteliti mungkin. Karena, laiknya sebuah pesawat tempur, jika ada kesalahan sedikit saja, akan fatal akibatnya karena pesawat bisa jatuh, menabrak gunung lalu hancur lebur, dan kecelakaan lain yang bisa muncul. Dalam proses manajemen, kesalahan yang terjadi berulang akan mengakibatkan terjadinya degradasi intelektualitas, degradasi idealisme disusul kemudian dengan kebangkrutan sistem. Bahkan rutinitas atau stagnant, tanpa adanya perubahan, sistem akan menjadi usang dan akhirnya musnah, mengikuti Hukum Termodinamika dari sains. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan kita. Semua sistem harus berubah, bertransformasi menjadi lebih baik secara berkelanjutan. Hebat sekali penjelasan dosennya ini. Ilmunya dahsyat, rendah hati, mengagumkan dan sangat mengesankan dalam dirinya. Dosen ini mengajar dengan semangat, sehingga sukar untuk dilupakan apa-apa yang telah diajarkannya. Ia maklum, karena beliau adalah lulusan baru,  bergelar master dalam bidangnya dari salah satu perguruan tinggi di luar negeri.


Skripsi untuk Tugas Akhir

Dosennya untuk pelajaran khusus komunikasi Optik, Ir.  Rahmah MSc, seperti sudah dijelaskan sebelumnya, adalah seorang master Fiber Optik lulusan Universitas Indonesia dan luar negeri. Karena pada saat itu komuniksi fiber optik belum diimplementasikan di Indonesia, iapun lalu tertarik untuk menganalisisnya untuk perencanaan penggelaran kabel Serat Optik di Jakarta Raya dan sekitarnya. Ia lalu meminta dosennya ini sebagai pembimbing untuk skripsi Tugas Akhir, dengan objek penelitian "overlay of fiber optic cable in Jakarta surrounding".
End to End FO Transmission
Untuk isinya,  ia mambahas pokok-pokok sistem komunikasi optik, dan bagaimana penggunaannya dalam sistem telekomunikasi sebagai jaringan penghubung (junction) dan sebagai jaringan akses, FO goes to home. Termasuk aplikasi rumus empirik Schrodinger dalam menentukan panjang junction, long haul FO cable.
Rumus Dasar Schrodinger Effect dalam SKSO
Lalu ia pun mneganalisis perencanaan jangka pendek dan jangka panjang (Short and Long term planning) untuk penggelaran kabel FO di Jakarta Raya dan sekitarnya, sekitar JABODETABEK.
Setelah beberapa kali pertemuan dengan pembimbing, kadang di kampus, kadang di rumah beliau. tapi menjelang ujuan akhir, lebih sering juga ke rumah bu Rahmah di Jagakarsa. Ia pun dinyatakan siap untuk maju dengan TA nya itu. Pada ujian Tugas akhir, bulan Agustus 1984, panitia pengujinya terdiri dari pak Dr. Ir. Tambunan sebagai ketua penguji, pak Zakarias Santoso dan Ir. Arifin dari UI sebagai anggota, dan Ibu Ir. Rahmah MSC sebagai pembimbing utama. Karena ia sudah dapat menjawab dengan baik segala pertanyaan penguji dan pembimbing, ia pun dinyatakan LULUS ujian lokal ISTN dengan nilai sangat memuaskan.

Ilmu dasar manajemen yang pernah dikuasainya ketika di organisasi ekstra maupun ketika aktif di organisasi intra di Perguruan Tinggi, semakin melengkapi dan semakin mudah baginya mengelola sesuatu, baik rekayasa teknik maupun rekayasa bisnis dan manajemen. Termasuk merekayasa percepatan lulus dari  ISTN. Dari program lima tahun ia dapat menyelesaikannya dalam tiga setengah tahun karena tinggal melanjutkan pada tingkat 3 semester akhir, satu dan lain hal juga dibantu oleh sistem kredit semester. ***

Senin, 23 September 2019

BEKERJA DI TELKOM JAKARTA

BEKERJA DI TELKOM JAKARTA
Kuliah di STTN/ISTN Cikini



Ditempatnya bekerja, ia masih menyesuaikan diri dari seorang aktifis mahasiswa menjadi karyawan beberapa bulan kemudian. Keluarga, istrinya masih ditinggal di Bandung. Beberapa anak buahnya adalah Puji Hartono, Edi Sumarwoto, Sutono, Astocahyo, Budiono, Indiastono, Tri Setoywati, Ani Risnawati, I Gede dan lain-lain. Sebagai calon ahli switching dot matriks, kombinasi relay mekanik dengan komponen semikonduktor, menyolder kabel yang halus pada saat mengganti relay, mengurut kabel dengan bantuan tabel komputer, ia telah dikursuskan selama sebulan setengah, dan lulus dengan predikat terbaik.
Gedung STO Gambir , tempat kerja yang pertama

Rekayasa Jaringan Kendali

Pada saat ia datang, ada masalah kesalahan pabrik pembuat sentral ini. Sentral itu sering macet alias hang atau blocking. Bisa seharian, call tak ada yang berhasil. Maklum saat itu belum ada yang ahli dalam pengoperasikan dan mencari gangguan sentralnya.

Penyebab gangguanpun dicari. Rangkaian digambar, diurut dengan tabel cetakan dari proses komputer yang lumayan tebal, lalu dianalisis apa gerangan yang terjadi. Diagram alir urutan proses di gambar untuk analisis kesalahan. Hasilnya diketahui bahwa sering terjadi proses zombie, yakni proses yang seharusnya telah selesai dan dihapus dari sistem, tapi masih terus berada dalam sistem ( menjadi bug insidental, atau mungkin bisa disebut pseudo bug) dan menghambat proses lanjutannya. 

Definisi Process Zombie

Pengertian atau definisi zombie proses adalah suatu proses aplikasi yang telah selesai dalam menjalankan suatu perintah eksekusi tetapi masih berada dalam daftar entry tabel proses. Seperti istilah zombie sendiri adalah orang yang telah mati (nyawa telah lepas dari raga) tetapi raga atau badannya masih bisa bergerak layaknya orang yang masih hidup. Biasanya di Indonesia, juga disebut Pocong, yakni orang yang seharusnya mati, tapi masih bisa bergentayangan, layaknya orang yang masih idup. Penyebabbya bisa berbagai hal, dan itu belum tentu juga kesalahan coding program (bug) dari aplikasi itu, karena tidak selalu muncul. Bisa juga suatu proses dari aplikasi yang tidak biasa, akhirnya memicu insidental bug pada operating system yang menimbulkan zombie proses. Tapi tidak bisa juga dikatakan bug dari OS, karena tidak selalu muncul, munculnya hanya jika ada trigger dari aplikasi yg berprilaku tidak biasa (uncommon process)

Dalam hal sistem sentral switching ini, zombie yang terjadi adalah: setelah penyambungan dua pelanggan terjadi selama 2 milli detik harus berakhir, baik penyambungan itu berhasil maupun gagal. Proses pemutusan atau pengakhiran proses ini tidak bekerja. Akibatnya sistem menunggu sampai proses ini berakhir, dan sebelum ada konfirmasi selesai, sentral berhenti bekerja (terjadi blocking), karena ada proses yang seharusnya sudah selesai tapi tetap dianggap belum selesai. Ini yang desebut sebagai zombie process. Penyelesaian interim yang dilakukan sebelumnya adalah dengan me’restart’ atau mengulangi proses sistem. Karena masalah utamanya belum terselesaikan, proses zombie ini sering terjadi berulang-ulang, restart ulangpun sering terjadi dilakukan berulang pula. Hal ini berakibat pada amat menyulitkan pelanggan membangun hubungan. 

Untuk memutus proses zombie ini, rangkaian pengendali waktu proses (istilah tekniknya adalah watch dog timer) harus berfungsi atau berjalan.  Dalam Kenyataannya, rangkaian pengendali waktu, atau yang disebut sebagai Zombie Process killer ini tidak ada atau tidak berfungsi. Hal ini diperbaiki dengan menambah rangkaiannya, rangkaian delay, disesuaikan dengan sistem pensinyalan dari Rekomendasi CCITT. 


Zombie Process killer model.
Setelah selesai, langsung semua panggilan cepat berhasil tersambung dan sentral tidak pernah hang atau blocking. Proses penyambungan yang seharusnya selesai paling lama 4 milli-detik dan kalau lebih diputus paksa, bekerja dengan baik.  Biasanya proses penyambungan yang melebihi empat millidetik harus diputus paksa. Hal ini bisa terjadi disebabkan oleh gangguan yang tidak dapat diramalkan, unpredictable disarter, atau  process zombie.

Tahun  kedua  dan  ketiga,  ada  masalah  lain  yang timbul. Ada alat sederhana yang dibuatnya
bersama karyawan lain untuk mengukur keberhasilan panggil. Istilah tekniknya SCR, Succsesful Call Ratio, yaitu perbandingan antara pelanggan yang ingin membangun hubungan dengan yang berhasil dihubungkan. Menurut pengamatan mereka, SCR ini sangat kecil, jauh di bawah angka rekomendasi, artinya panggilan banyak yang gagal. Setelah diselidiki, pengendali waktu proses selalu bekerja yang berarti panggilan sering diputus paksa dan panggilan itu gagal.  Ternyata ada kontak kerjanya yang sangat banyak menutup dan membuka sebagai kendali penyambungan, bisa mencapai 500 kali perdetiknya, sering tidak bekerja dengan sempurna akibat aus atau fong.  Relay satu strip atau kontaknya saja yang sering diganti kalau sudah aus, tapi tidak bertahan lama. Ini juga menyebabkan adanya zombie. Kerusakan ini sering terjadi, sehingga ‘relay strip’ untuk menggantinya sering kehabisan persediaan. Lalu dicari pengganti kontak dengan kombinasi rangkaian relay mekanik dengan switch transistor yang tahan terhadap keausan. Ia banyak terbantu oleh hasil kuliahnya di ISTN dalam disain rangkaian elektronik seperti gambar berikut ini.
Rangkaian transistor pengganti switch


Setelah didesain rangkaian switching transistor dengan kombinasi relay, dicoba dan diperoleh desain rangkaian yang tepat. Laporan keberhasilan dan rekomendasi disampaikan kepada atasannya, waktu itu pak Sumiardi BcTT dan pak Eko BcTT, untuk diberitahu pabrik sentral di Jerman agar diadakan modifikasi. 

Setelah modifikasi sesuai rekomendasi dari tim, akhirnya semua peralatan switching di seluruh Indonesia bekerja dengan baik dan lancar.  Pelangganpun puas, dan pertumbuhan jumlah pelanggan naik secara drastis. 
Masalah yang sudah hampir tiga tahun tak terselesaikan oleh tim vendor pabrik dari Jerman, dapat diselesaikan bersama bawahannya dengan tepat. Atasannya, termasuk tim vendor dari Jerman, sangat senang dengan penyelesaian ini. Ternyata pekerjaan ini diketahuinya sebagai ‘field study’ atau kajian lapangan yang diikutinya ketika kuliah metodologi penelitian di tingkat akhir di UPI sebelum ia ditempatkan di Jakarta. Akhir-akhir ini semenjak tahun 2000an, tindakan seperti ini bisa dikategorikan sebagai action research atau penelitian tindakan. 

Tiga tahun kemudian, ia diangkat dengan jabatan yang lebih tinggi sebagai kepala seksi. Entah kebetulan atau tidak, pangkatnya dinaikkan setahun lebih cepat. Dengan demikian ia berhak memiliki telepon dinas dirumahnya, Jalan Penggalang I, telepon yang pertama di daerah itu dengan lima tambahan tiang telepon.


Mengajar Elektronika, Fisika, Matematika dan Sistem Telex dan Telegrap


Gedung belakang STO Gambir,
kelas jauh  PAMTK/TU D2 Telkom 1977-1984
Sambil bekerja, ia juga diminta untuk mengajar lagi, yakni Elektronika, Fisika dan Matematika di D2 (PAMTK/TU tahun pertama) yang bertempat di gedung belakang Telkom Gambir, pagi hari kerja, berlangsung sampai dengan  pertengahan tahun 1984. Ia juga pernah diminta mengajar Sistem Telex dan Telegrap di Akademi Pelayaran Jalan Gunung Sahari Jakarta dan Bagian Perhubungan DEPLU di Jalan Sisingamangarja Kebayoran, dengan rekomendasi pak Eko BcTT atasan langsungnya. 


KULIAH DI STTN/ISTN CIKINI dan SRENGSENG SAWAH

Sejak akhir tahun 1979 ia mulai kuliah lagi di STTN/ISTN YAPERCI Cikini Jalan Cikini Raya pada sore dan malam hari. Sarjana Muda Teknik diselesaikannya selama di kampus Cikini.
Kampus Lama STTN/ISTN Cikini
Untuk kuliah tingkat sarjana, harus ditempuhnya sebagaian besar di kampus ISTN Srenseng Sawah. 



Kampus ISTN Srengseng Sawah
Kadang-kadang harus ke kampus baru ISTN di Srengseng dengan naik Kereta Api, dari stasiun Gambir, atau dari Stasiun Cikini menuju ke stasiun Lenteng Agung. Ia langsung berangkat dari Telkom Gambir di Jalan Merdeka Selatan setelah jam pulang kerja, pukul dua atau 14.00 sore hari. Dari Lenteng Agung dilanjutkan dengan bus ke Kampus ISTN Srengseng. 
Ketika ujian di tingkat akhir, atasannya di Kantor Telex Jakarta, pak Suroto BcTT, sangat mendukung dan membantunya. Ia dipinjami mobil dinas plus seorang supir. Ia juga di kawal oleh teman sekerjanya Pak Sobin atas izin atasannya ini. Semua untuk kepentingan ujian sidang. Sampai akhirnya lulus Sarjana Teknik di awal tahun 1984. Kepada semua yang turut membantu, atasannya Pak Suroto BcTT, rekan-rekannya sesama kepala seksi dan Kepala Sub Dinas Pendidikan dan Latihan di Wilayah Jakarta, semua anak buahnya yang telah membantunya untuk sukses, tak lupa ia mengucapkan terimakasih, semoga mendapat berkah yang setimpal dari Allah SWT.

Riwayat Keluarga di Jakarta

Inilah riwayat beberapa tahun awal keluarganya di Jakarta. Tahun 1976, anak pertamanya lahir di RS Hasan Sadikin Bandung, tepatnya 21 Juni 1976, yang mereka beri nama Anwar Rizal dengan panggilan sehari-harinya Rizal. Entah mengapa, Rizal kesehatannya amat memprihatinkan.
RSUP HASAN SADIKIN Bandung,
Tempat Rizal Lahir
Padahal sampai pada saat berumur enam bulan, gerakannya sangat lincah, sehat tak kurang suatu apa.
Ia mulai sakit, pencernaan tidak sempurna, selalu mencret terus, bahkan sampai lima kali dalam sehari semalam. Ini berlangsung kurang lebih selama enam bulan. Makannya juga tidak sempurna, dan jika sudah merasa sakit ia menangis, menyedihkan, memilukan perasaan apalagi ibunya. Kadang-kadang pada hari Minggu saat di Bandung ia berusaha menggendong Rizal dan memandanginya dengan persaan haru, karena badan Rizal sangat kurus. 

Sejumlah dokter telah dikunjungi untuk berobat di Bandung, namun sia-sia. Berat badannya tidak bertambah, bahkan sampai daerah kritis dibawah dari grafik pertumbuhan normal.  Sampai akhrinya dibawa berobat ke Jakarta, ke Dr Odang, spesialis anak dan propfesor dari UI yang buka praktek di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, sore dan malam hari. Mereka menumpang di rumah pak Zainal Solihin, adik mertua yang tinggal di Jalan Penggalang. Kadang-kadang mereka menginap di rumah kontrakan Jalan Paseban 10. 

Alhamdulillah, selama seminggu disini, di Jakarta, kesehatan Rizal membaik dengan cepat. Selera makannya meningkat pesat, dan mencretnya sudah berhenti. Rizal disarankan banyak memakan daging sapi dan sayur bayam agar dapat cepat mengejar ketinggalan pertumbuhan fisiknya. Kebaikan bi Mamah istri pak Zainal Solihin yang baik hati dan penuh perhatian selama mengasuh Rizal dan ibunya, sangat banyak membantu. Setelah merasa sehat di Jakarta, mereka kembali pulang ke Bandung kembali, karena istrinya Siti Nurhayati harus mengajar lagi. Dalam bus Rizal nangis terus, sampai supir itu berhenti sebentar di daerah Batu Jajar, Citatah. Sejenak kemudian Rizal berhenti menangis dan perjalanan dilanjutkan. Selama sebulan memang kesehatannya masih bisa membaik, akan tetapi tak lama kemudian sakit lagi. Dibawa lagi ke Jakarta dan sembuh. Ketika di bawa kembali ke Bandung dan sakit lagi, mereka berkesimpulan bahwa Rizal tidak cocok tinggal di Bandung. Maka diusahakanlah kepindahan keluarganya ke Jakarta.

Keluarga Pindah ke Jakarta

Di Bandung diurus ke Gedung Sate, kantor Gubernur Jawa Barat, untuk mengurus surat kepindahan ke Jakarta, setelah ada surat lolos butuh dari sekolah tempat mengajarnya di Bandung. 
Gedung Sate Bandung
Di Jakarta dibawa ke kantor Gubernur di DKI jalan Merdeka Selatan, dan dari Kantor Gubernur ditanya di mana tempat tinggal sekarang agar ditempatkan di SD terdekat. Karena mereka tinggal di Jalan Penggalang, maka Dinas Pendidikan DKI menunjuk dan ditujukan kekantor Pendidikan Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Waktu ini istrinya sedang hamil 4 bulan, anak yang kedua. Lalu dari Dinas Pendidikan Kecamatan Senen ditempatkan di SD Paseban 18 Petang. Kepala sekolahnya bu Anis. Alhamdulillah, urusan selesai dan awal tahun 1978 istrinya mulai mengajar.
Pada saat ditempatkan di SD Paseban, banyak guru-guru yang terkesima dengan kecantikan istrinya  ini.  Juga caranya  mempersiapkan  pembelajaran  yang diwarisinya dari SD Coblong II tempatnya mengajar di Bandung, istimewa dan lengkap sekali. 
Balaikota DKI
Ketika berangkat mengajar sore hari, berseragam putih berkerah di atas dan rok batik bawahan berwarna coklat berukiran batik yang khas, rambut berombak kadang diikat rapi kadang dilepas bagai mayang terurai, kelihatan amat serasi. Ketika itu pemakaian jilbab belum terbiasa, belum didukung oleh banyak orang seperti sekarang. Matanya hitam berbinar dengan alis yang tebal. Senyum yang selalu tertahan, amat menggoda, menggiurkan dan mengairahkan. Ia sendiri kagum melihat kecantikan istrinya itu, apalagi ketika dibandingkan dengan guru-guru yang lain.
Ketika ada penataran P4, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, tahun 1980, ada seorang guru laki-laki temannya sesama peserta tergila-gila kepada istrinya ini. Sampai pernah mengirim sekotak alat tulis yang lumayan bagus bagi seorang guru ketika itu. Ia pernah datang ke SD Paseban 18, khusus menanyakan istrinya itu, tetapi kepala sekolahnya, Bu Anis,  langsung mengusirnya. 
SDN Paseban 18 Jakarta Pusat.

Ia tak sudi rumah tangga anak buahnya sebagai guru dirusak oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebagai suaminya, ia tidak banyak bereaksi yang berlebihan, karena ia yakin, cinta istrinya kepadanya bukanlah cinta loyang, tapi cinta dengan emas dua puluh empat karat. Murni, tak berbasa-basi, sepenuh hati. Teman-temannya guru di sekolah dan kepala sekolah atasannya merasa bangga kepadanya dan selalu juga melindunginya dari godaan-godaan itu.

Pada mulanya mereka mengontrak di Jalan Paseban 10 sampai Agustus 1978. Selama dua tahun mereka disini, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Masak susah, air juga susah, termasuk menyuci pakain Rizal kecil. Cuma untuk membeli makanan, agak gampang. Pernah sekali, Ntat menggendong Rizal tengah malam, kira-kira pukul sepuluh, hanya untuk membeli sekotak obat nyamuk, saking banyaknya nyamuk dirumah malam itu. Kalau pagi, mereka sering membeli sop kaki sapi Salemba Tengah, Mencos,  dekat masjid yang terkenal enak dan lezat.

Mereka ditemani seorang pembantu bernama Sumi, orang dari Garut. Kemudian pindah ke Jalan Penggalang dirumah yang agak besar. Karena Sumi ingin pulang kampung, mereka ditemani pembantu Bi Iyah seorang perempuan tua, berumur 36 tahun dari Tangerang. Karena bi Iyah sering sakit, ia mengundurkan diri. Kemudian mereka mencari lagi pembantu dengan bantuan Aming, lalu didapatkan seorang perempuan muda berumur 15 tahun dari Subang, Yayat namanya. Lumayan, ia bisa bertahan sampai tiga tahun, sebelum akhirnya Yayat mengundurkan diri dan kembali ke Subang, kabarnya akan menikah. Penggantinya adalah bi Tikah, dari Bandung, orang Garut, diusahakan oleh ibu mertua dari Bandung. Bi Tikah bertahan sampai tiga tahun, dan ia berhenti karena menikah, ketemu jodoh pedagang sayur di Jakarta sesama orang Garut.

Tanggal  6  Desember 78  sore dengan taksi, istrinya di antar ke  RS  Budi  Kemuliaan di Jalan Budi Kemuliaan Jakarta Pusat, karena kehamilan sudah 10 hari lebih dari sembilan bulan. 
RS Budi Kemuliaan Jakarta,tempat Dian Lahir
Esok harinya, setelah ditunggui semalaman, tanggal 7 Desember 1978, Dian Hidayati lahir, ditengah-tengah kota Jakarta yang sedang banjIr. 


Seorang bidan yang bermarga Silalahi, memperkenalkan diri, mengingat ia bermarga Silalahi juga. Jadilah bidan Silalahi ini menjadi penjaga istrinya yang lagi melahirkan itu dengan perhatian khusus. Karena saat itu pangkatnya masih rendah, maka ia mendapat fasilitas perawatan kelas dua. 
Yang menjaga Rizal di rumah adalah adiknya Nurbaya, demikian pula untuk membawanya berkunjung ke RS Budi Kemuliaan. Dian baru diperbolehkan pulang ketika banjir sudah surut, lima hari kemudian. Rumah mereka juga kebanjiran, tapi mereka masih bisa tinggal di atas tempat tidur, esok harinya banjir surut. Silaturahmi dengan bidan yang pernah mengasuhnya masih diteruskan, sampai enam bulan kemudian terputus, mungkin karena bidan ini telah menikah. 


Sekolah anak-nakak

Tahun 1977, ketika Rizal dibawa ke Jakarta masih berumur setahun. Tahun ketiga, Rizal ikut TK Al Hikmah di Tegalan di pagi harinya. Setelah berumur 4 tahun, ia ikut ibunya yang mengajar di Paseban 18 petang. Pagi di TK dan siang ikut ibunya dikelas satu. Karena kelihatannya ia mampu mengikuti pelajaran, maka dibuatkanlah rapornya, dan resmilah ia menjadi murid termuda di SD Paseban 18 petang. Ia mengikuti sekolah disini sampai umur 7 tahun, sebelum ikut pindah sekolah ke Pekanbaru. Tahun 1981, Dian diikutkan ke TK Hikmah, tidak tammat, karena harus ikut ibunya ke sekolah. Tahun kelima Dian ikut juga pindah ke Pekanbaru masih tetap kelas satu. 


RSIJ Cempaka Putih, tempat kelahiran Emil..
Emil Hilman Lahir

Bulan-bulan berlalu, susul menyusul, hingga bertemu lini masa, titik ujung waktu dua setengah tahun. Kegiatan rutin terus dilakoni, menjaga sentral berfungi dengan baik, interface dengan sistem data billing recorder terus diperbaiki dan akhirnya bisa di implementasikan. Tati masih terus mengajar, sampai umur kehamilan 8 buan.  Untuk menghindari terjangan banjir ke rumah, seperti saat kelahiran Dian dan menjelang kelahiran Emil, mereka pindah rumah lagi ke Jl. Penggalang I. Airnya sumurnya bersih, WCnya juga lebih bagus dan berada dalam rumah dekat dapur. Pada musim hujan bulan Desember 1981 banjir yang datang tidak lagi masuk rumah kontrakan baru mereka.

Tangal 22 Febriari 1980, ia mengantar Tati dengan taksi, istrinya, ke RSIJ Cempaka Putih, karena sudah saatnya akan melahirkan. Tati minta dikirimi bunga dan dipesan sama abang toko bunga untuk dikirim ke kamar bersalinnya. Keesokan pagi harinya Emil lahir. Rizal dan Dian ditinggal di rumah, sampai hari kedua baru dibawa ke RS.  Rizal kelihatan gelisah, mendadak Dian juga menjadi cengeng, kelihatan ingin jumpa mamahnya. Saat itu Dian masih suka mabuk kalau naik mobil. Ketika naik taksi ke rumah sakit, kelihatan pucat mukanya. Setelah jumpa mamahnya barulah kelihatan Rizal dan Dian gembira lagi. Pulang dari Rumah Sakit, di depan Pasar Pramuka Jakarta mereka bertiga turun, karena kelihatan Dian berkeringat karena mabuk naik mobil taksi. Lalu mereka berjalan kaki kerumah, karena memang rumah mereka sudah dekat, di belakang Pasar Burung. Hari ketiga Emil boleh pulang sambil dijemput Dian dan Rizal. 

Seminggu kemudian ada masalah dengan kesehatan Emil, dan terpaksa di rawat inap lagi di RSIJ Cempaka Putih selama lima hari. Dan akhirnya diperbolehkan pulang. 

Ayahandanya Wafat 
Pekuburan Muslim Jl. Pane Pematangsiantar

Tahun 1982 ayahandanya wafat, setelah menderita sakit berkepanjangan. Ia harus pulang. Dari Jakarta ia langsung berangkat ke Medan naik Pesawat Garuda, dilanjutkan dengan taksi ke Pematangsiantar. Ia masih sempat memandikan dan menjadi imam shalat jenazah ayahnya sebelum dikebumikan di pekuburan Muslim Jalan Pane. Neneknya, guru ngajinya dan tetangga dekat, pak B Tambunan, membimbingnya menjadi imam shalat jenazah ini.

Demikianlah kehidupan rutin mereka, mengurus anak-anak yang sakit, sekolah, rekreasi dan bermain. Ia tetap kuliah sore dan malam hari di STTN/ISTN di Jalan Cikini Raya sambil bekerja, dan Tati tetap mengajar di SD Paseban 18 Petang (namanya dulu). Tahun 1984 ia lulus ujian lokal di ISTN Cikini, juara lagi. Sampai akhirnya setelah 9 tahun di TELKOM Jakarta, tahun 1984 ia harus pindah atau alih tugas ke Pekanbaru.***