Sabtu, 21 September 2019

RENCANA MENIKAH DAN MELAMAR KERJA

RENCANA MENIKAH DAN MELAMAR KERJA


Lulus Sarjana Muda dan Rencana Menikah

Bapak dan ibu Tati sudah berulang kali menanyakan, apakah bisa segera menikah, karena hanya dia lah yang bisa ditanya tentang hal ini. Ia masih tetap berjuang untuk meneyelesaikan kuliahnya, dengan segala tantangan dan kesukaran yang perlu ditangani dengan sesungguh hati. Ia sudah menjelaskan siapa kedua orang tuanya, agar mereka jelas keadaannya, tidak ada yang ditutupi, agar kelak mereka tidak merasa diberi informasi yang salah. Tentang pendidikan orang tuanya. Tentang pekerjaan orang tuanya dan semua sejarah keluarganya. Ibu dan Bapaknya tidak bisa datang, karena keadaan keuangan mereka yang serba terbatas, seperti telah dijelaskan sebelumnya. Andai kelak jadi diadakan pernikahan, maka proses lamaran hanyalah dengan cara yang sangat sederhana, tidak sebagaimana lazimnya. Perundingan dari minggu ke minggu terus dimatangkan, Bapak dan Ibu setuju dengan pendamping orang lain yang dikenal. Acara sudah ditetapkan dilaksanakan pada bulan Ramadlan, hari ke 18, tanggal 29 September 1976.
Mathematics

Mengajar Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam di SMP Darul Hikam, Fisika di SMP PGII dan Matematika di SMEA PGII, masih terus dilakoninya.
Mengetik skripsi teman mahasiswa dari jurusan lain dilaksanakannya di kantor Senat Mahasiswa, malam hari. Atau kalau ada pelajaran tambahan yang singkat bagi anak SMP atau SMA di bimbingnya. Semuanya dalam rangka kehidupan dan kegiatannya sehari-hari, termasuk mengumpulkan uang untuk registrasi ulangnya di Fakultas/Institut nanti.

Fisika, IPA
Demikianlah, tingkat satu diselesaikannya tanpa ada yang mengulang. Tingkat dua ada satu yang mengulang, yakni Aljabar Linier lanjutan. Tahun ketiga, ia melaksanakan proyek kerja praktek mengajar di STM Instruktor (kini SMK Negeri 6) Bandung. Pada ujian atau sidang sarjana muda, pakaian yang pantas untuk ujian tidak ada. Iapun meinjam jas dan baju putih dari seseorang. Sidang ujian sarjana muda berjalan lancar. Dan akhirnya, ia dinyatakan lulus dengan peringkat yang juga terbaik, lulus sarjana muda di jurusan elektro tahun 1973 hanya dalam 3,5 tahun! Saat itu terbilang sangat cepat dan langka.
Kini ia sedang mepersiapkan test calon karyawan TELKOM, atas bantuan informasi dari seorang dosennya. ***

Melamar Pekerjaan

Seorang dosennya yang baik hati, Ir. Teha Tearalangi, karyawan Telkom, seorang Cina keturunan, memberitahu bahwa,  ada lowongan pekerjaan untuk sarjana muda. Kala itu masih belum bernama Telkom tetapi masih bernama PERUMTEL. Lowongan terbuka sebanyak lebih dari seratus orang, dipersiapkan dari seluruh Indonesia. Semua perguruan tinggi ditawari untuk mendaftarkan mahasiswa yang telah lulus sarjana muda. Ada peserta dari Universitas Sumatra Utara, ITB, FKT-IKIP Jogya, FKT-IKIP Bandung,  ATN Bandung dan lain-lain.

Pertama mendaftar, dibalas tapi tidak diterima, biasa alasan basa-basi, bahwa perusahaan belum terbuka lowongan pekerjaan. Dari pengumuman penerimaan yang kedua, ia melamar malas-malasan, menulis surat lamaran di lembar kertas buram, sobek lagi. Eh, ternyata dipanggil, mungkin acuan mereka untuk memanggil adalah surat lamaran yang pertama. Pelamar-pelamar lain dijumpainya ketika diadakan pengumuman khusus bagi para peserta. 

Peserta test yang pertama sebanyak 56 orang. Waktu itu tanggal 4 Januari 1974. Sebagian teman-temannya ikut demo ke Jakarta, demo yang dikenal sebagai Peristiwa MALARI, Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari 1974. Ia sedikit merasa menyesal, karena tidak bisa ikut ke Jakarta.
Awal Peristiwa MALARI 1974

 Tapi, karena ia memang perlu pekerjaan untuk memperoleh penghasilan yang lumayan, maka dengan senang hati ia ikut test, tanpa beban sama sekali untuk harus lulus. Namun demikian, pada malam harinya ia melaksanakan shalat tahajjud, shalat malam, agar ia dibimbing dan diberi hidayahNya, menunjukinya jalan yang baik dan benar, tidak lupa berdoa agar ia lulus, agar ia dapat mengerjakan soal-soal dengan baik. Siapa tahu, melamar pekerjaan ini memang salah satu jalan yang harus ditempuhnya demi kesuksesan masadepannya.  

Test matematika dan fisika, dua pelajaran paforitnya diselesaikannya dengan mudah dan ia yakin semua jawabannya benar. Pada saat test psikologi, gambar-gambar test sangat gampang dikerjakannya, karena telah terlatih menggambar proyeksi benda kerja sejak ia sekolah di ST dulu. Test pengetahuan umum dengan Bahasa Indonesia yang sederhana juga dikerjakannya tanpa masalah, karena ia adalah seorang aktivis kampus dan organisasi extra Pelajar Islam, yang sehari-harinya sudah sering diskusi dengan logika bahasa Indonesia yang baik dan benar. 
Lalu Test Psikologi.
Salah satu bentuk test Psikologi
Test Menggambar Pohon, test kepribadian dan test kreativitas. Test menggambar di
 kertas putih untuk mengetahui profil proses dalam mengerjakan sesuatu dilaksanakannya sesuai dengan keahliannya menggambar teknik. Juga menggambar pohon, entah untuk apa ia tidak tahu. Pengetesan ketahanan atau endurance dalam berpikir dengan proses menjumlah angka-angka pada selembar kertas koran dan menuliskan satuannya saja setiap ada aba-aba, dapat dikerjakannya dengan baik. Otaknya bekerja mula-mula dengan lambat, tapi setelah selesai dua baris, otaknya bekerja reflex, cepat sekali. Ia dapat menyelesaikan dua lembar lebih. Test ini berlangsung selama dua jam dan dapat diselesaikannya dengan baik. Setelah selesai test, ia pulang ke Sukajadi dan tertidur hampir dua jam, mungkin otaknya kelelahan mengikuti psikotest.

Setelah mengikuti testing yang melelahkan, test akademis, test psikologi,  dilanjutkan dengan wawancara wawasan Pancasila dan bersih lingkungan, wawancara dunia kerja, akhirnya tahun 1974 awal diterima menjadi calon karyawan. Sekali lagi, karena ia telah banyak berdiskusi pada waktu itu tentang hak-hak bela negara, tentang metode riset, tentang dunia pendidikan, tentang Pancasila, tentang ekonomi Pancasila, tentang kehidupan mahasiswa, ia tidak ragu-ragu berdiskusi panjang lebar dengan pewawancaranya dari petugas negara, mana yang baik mana yang tidak baik dalam praktek pelaksanaan Pancasila di dalam pengelolaan negara, termasuk dalam praktek sehari-hari.
Untunglah pewawancaranya bisa menerima apa yang telah disampaikannya, sambil mengulurkan tangan menyalaminya dan mengucapkan selamat.

Hasil testnya secara keseluruhan adalah yang terbaik dan hanya lulus 20 orang.  Demikian menurut pak Yusuf bagian penerimaan karyawan. Ia diterima dan diwajibkan mengikuti pendidikan di LEMDIK POSTEL, waktu itu beralamat di Jalan Riau, tetapi operasional perkuliahan beralamat di Jalan Ambon, bagian belakang gedung Pos kini.
Gedung Pos Jl Riau
Dengan uang saku seadanya, sebelum masuk ke asrama. Ia masih harus ulang-alik dari Jalan Ambon tempat mereka kuliah ke Masjid Assyifa di Jl. Pasir Kaliki Sukajadi, selama tiga bulan. Waktu itu uang sakunya hanya sepuluh ribu rupiah saja, cukuplah untuk hidup sebulan. Anehnya, ia merasa lulus ini tidak merasa kebanggaan yang berlebihan, biasa-biasa saja. Ia tidak merayakannya dengan siapapun, kecuali bidadarinya, Siti Nurhayati, mengucapkan selamat.  


Yang paling dulu diperbuatnya adalah menulis surat untuk memberitahu ayah-ibunya di Pematangsiantar. Kepada calon mertuanya ia menyampaikannya secara langsung, termasuk kepada teman-temannya PII di Sukajadi. Semuanya mereka mengucapkan selamat, dan berpesan agar tidak lupa  bersyukur kepadaNya. Dan yang lebih penting lagi, belajarlah sungguh-sungguh agar tidak menjadi masalah di kemudian hari.

Rencana mereka menikah disiapkan dan dibicarakan, dan disetujui setelah selesai dan lulus dari pendidikan di Telkom, karena selama pendidikan mereka tidak diperbolehkan menikah. Itulah sebabnya dipilih tanggal 29 September 1975, karena ia baru dilantik menjadi karyawan tanggal 28 September, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Telekomunikasi. ***

Salah satu titik batu pijakan cita-citanya atau step-step kesuksesan kini untuk sudah tercapai. Ia mendapatkan peringkat satu dalam kelulusan test di Pendidikan di Telkom ini.
Langkah-langkah  mencapai sukses
Ia masih tetap bercita-cita untuk mencapai cita-citanya menjadi insinyur, sebagai mana cita-citanya ketika di SD dulu. Ia berfikir, kelak ketika sudah bekerja ia harus bersekolah lagi. Semangatnya tak pernah pudar untuk mencapai cita-citanya. Oleh karena itu iapun harus belajar dengan semangat di Pendidikan Telekom ini.  


Setelah menunggu selama tiga bulan, dan selama itu pula ia masih tinggal di Masjid Assyifaa, di bulan ke empat ia diwajibkan tinggal di asrama Jalan Dago No. 10, gedung Grapari sekarang.
Asrama Telkom Jl. Dago 10,
sekarang Grapari TELKOM
Ia harus mengikuti pendidikan ahli telekomunikasi satu setengah tahun lebih di LEMDIK POSTEL, dulu di Jalan Ambon, bagian belakang Gedung Pos kini. Karena untuk tempat tinggal sudah ada, uang saku juga sudah diberi tiap bulan, aktivitas mengajar semua diberhentikannya. Semua aktivitasnya di Senat maupun Dewan Mahasiswa tidak diperpanjang lagi, walaupun permintaan dari teman-temannya sesama aktivis kampus datang bertubi-tubi. Aktivitas mengajar di SMP PGII direkomendasikan untuk digantikan oleh pak A. Siregar teman kuliahnya di UPI yang lumayan pintar kepada KepaIa Sekolah, dan disetujui. Aktivitasnya di PII pun sudah dilepas, demi memusatkan perhatian kepada perkuliahan, yang lumayan susah juga. Penyesuaian dengan calon istrinya Siti Nurhayati masih terus berlangsung dan dipupuk terus, maklum dua budaya yang sangat jauh berbeda harus dipadukan kelak dalam satu ikatan batin dan belahan jiwa.

******




Tidak ada komentar:

Posting Komentar