Selasa, 10 September 2019

MENUNTUT ILMU dan KEAHLIAN TEKNIK DI ST NEGERI-PEMATANGSIANTAR

MENUNTUT ILMU dan KEAHLIAN TEKNIK
DI ST NEGERI-PEMATANGSIANTAR




SMP Negeri 12, ex ST Negeri Pematangsiantar
 Lulus sekolah dasar, iapun disarankan oleh guru-gurunya untuk sekolah ke SMP, agar bisa melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi kelak sesuai dengan cita-citanya menjadi seorang insinyur. Karena kesulitan ekonomi keluarganya, ia tidak bisa menuruti saran gurunya itu. Ia memilih 

melanjutkan sekolah yang membekalinya keahlian untuk segera bekerja, karena saat itu ia sudah bertekad untuk bisa membantu kedua orang tuanya, terutama ibunya. Lagi pula, ia selalu merasa rendah diri jika berada di tengah-tengah murid yang lebih kaya, lebih besar, lebih gagah atau tampan dan perempuan yang cantik rupawan. Akhirnya ia memilih melanjutkan 

ke ST (Sekolah Teknik, setingkat SLTP, sekarang SMP Negeri 12) di Pematangsiantar. Dari pengetahuannya selama ini, ITB itu adalah lanjutan dari sekolah teknik, maka iapun memilih sekolah teknik sejak dari awal.  

Banyak guru yang menyayangkan pilihan untuk melanjutkan ke ST itu, mengingat kemampuannya di sekolah selama ini. Tapi apa daya, pilihan sudah ditetapkan berdasarkan keadaan dan kemampuan orang tuanya yang serba terbatas. Syarat-syarat yang diperlukan dipersiapkannya dengan baik dengan bantuan guru, tetangga jauhnya yang baik hati, pak Abdul Hamid Simbolon. Mendaftarkan diri, memeriksa kesehatan ke dokter mengambil surat keterangan berbadan sehat untuk melanjutkan sekolah, semuanya dilakukannya sendiri. Padahal ia baru lulus sekolah dasar, badannya masih kecil. Ia pergi dengan menggunakan sepeda, seorang diri, ke dokter Mahmud di Jalan Simarito memeriksakan diri untuk mengambil surat keterangan berbadan sehat itu. Tanpa ditemani kedua orang tuanya, dan berhasil.

Sekolah Teknik di Pematangsiantar hanya ada satu dan cukup terkenal. Sekolah ini adalah sekolah yang lumayan paforit dan tidak mahal bayaran uang sekolahnya, namun lengkap dengan peralatan bengkel termaju dan modern saat itu, tahun 1963. Karena itu, buku-buku dan peralatan untuk ST di Pematangsiantar cukup lengkap, di sebuah toko buku di Jalan Cipto. Buku Manggambar Teknik, Ilmu Gaya dua jilid dan Aljabar yang diterbitkan olah penerbit buku teknik H. Stam Jakarta juga tersedia. Alat menggambar teknik berupa meja gambar, penggaris siku-siku panjang, jangka dengan pena penggaris, tinta cina dan kertas gambar berbagai ukuran bisa diperoleh di toko itu. Dan ketika di test untuk masuk sekolah, ia nyaris tidak diterima karena ukuran tinggi badannya masih kurang sedikit. Akan tetapi, karena nilai rapor dan ujian akhirnya bagus, akhirnya ia diterima. Jadilah ia murid yang terkecil ketika itu. 

Di sekolah ST ini ada dua jurusan, mesin dan bangunan. Ia sendiri memilih jurusan mesin. Badannya masih tetap yang terkecil ketika itu, walaupun umur hampir setara. Ia masih lebih muda satu tahun dibanding dengan teman-temannya sekelas.

Sekolah itu menghadap dan terletak di Jalan Sibolga no. 25, persis di sudut persimpangan dengan Jalan Pane disebelahnya. Sambil bersekolah, ia tetap mebantu ayahnya di bengkel sepeda di Jalan Asahan. Ia selalu berangkat dan pulang sekolah menggunakan sepeda, hasil perbaikan dari sepeda bekas yang mereka perbaiki bersama ayahnya. Pintu gerbang sekolah yang mewah, terbuat dari besi tempa berukir menghadap ke Jalan Sibolga. Ruangannya semuanya menghadap ke dalam halaman tengah tempat gudang dan lapangan bola volli berada. Jendela kaca ruangan kelas hanya ada yang menghadap ke Jalan Sibolga. Ruang praktek yang khusus kerajinan, ada kaca penerangannya ke arah Jalan Pane, bukan jendela tapi hanya dinding kaca. Di sebelah kirinya ada rumah penduduk kaya, di belakang sekolah adalah pekuburan Muslim dan pekuburan Keling-Hindu.


Gambar lain SMP Negeri 12 ex ST Negeri
Pematangsiantar
Gedung sekolahnya bagus, maklum gedung peninggalan masa Penjajahan Belanda. Konon dulunya sekolah itu bernama AMBAG SCHOOL. Ada ruang tempa, ruang kikir, ada ruang mesin bubut dan ruang kerja bengkel. Juga ada sebuah mesin diesel beroda gila. Mesin diesel ini terhubung dengan ban atau pita sebagai penggerak ke mesin kerja lainnya. Termasuk memutar kipas angin untuk membuat sumber tiupan angin ke ruang tempa, tiupan yang langsung bisa diatur dengan katup pengatur derasnya tiupan angin ke tungku pembakar, pembesar nyala api. Ada juga mesin kerja tersendiri dengan penggerak mesin listrik seperti mesin bubut, frais, ketam besi dan lain-lain. Untuk jurusan bangunan ada gergaji mesin, ada mesin ketam, mesin bor dan mesin bubut kayu yang cukup presisi, digerakkan oleh mesin-mesin listrik. Ada mesin pengasah pisau ketam tangan, bermacam-macam cat dan politur. Ada gudang bahan mentah dan ada pula gudang hasil kerja. Kadang jika ada pesanan lemari atau benda kerja dari kayu, sekolah dapat menyelesaikannya dengan baik.

Karena sifat pelajaran dan pekerjaan di Sekolah Teknik yang berat dan cenderung kasar, tidak satupun perempuan bersekolah di sini. Ukuran fisik teman-temannya cukup besar, karena pekerjaan dan praktek sekolah teknik memerlukan tenaga yang besar. Hal ini sangat menguntungkan baginya, karena ingatannya kepada Mariana ketika masih di SD dulu tidak atau jarang sekali muncul. Kalaupun muncul, dengan mudah ia dapat segera melupakannya mengingat keadaannya sudah lebih dewasa saat itu. Pakaian tidak perlu bagus, karena sewaktu praktek disekolah, pakaian itu harus diganti dengan pakaian warna biru tua yang bersatu dari baju atas dengan celananya.  Oleh karena itu, urusan yang menyangkut perempuan saat itu jauh menghilang dari ingatannya.
Kepala Sekolahnya pak Arman, tinggi besar dan gagah. Guru prakteknya adalah pak Simanjuntak untuk mengikir, pak Hutagaol untuk menempa dan pak Sirait untuk praktek mesin kerja. Guru Bahasa Inggris dan Ilmu Alam adalah Pak Siregar. Olah raga oleh Pak Lumbanraja. Bahasa Indonesia diajarkan oleh Pak Abdul Hamid Simbolon. Guru Ilmu Gaya atau Mekanika dipegang oleh Pak Rasijan, bergantian dengan guru-guru yang lain. Guru agama Islam di pegang oleh pak Zainal Nasution, yang kadang-kadang merangkap sebagai guru mengajinya juga di masjid yang berada di tepi sungai Bah Bolon. Ia sendiri dikhitan dirumah pak Zainal ini.

Guru yang cantik, gagah dan baik hati

Encik Hutapea adalah pengajar pengetahuan umum di kelas dua. Guru baru, kabarnya lulusan sekolah guru di salah satu kota di Pulau Jawa. Encik Hutapea ini adalah suku Batak Toba dari Kota Tarutung di Tapanuli Utara.  Di Tarutung ini umumnya laki-lakinya gagah dan perempuannya cantik menarik dengan aksen bahasa Batak yang lemah lembut. Encik Hutapea kulitnya putih kuning-langsat, pipinya bagaikan pauh dilayang dan betisnya bagaikan bulir padi. Matanya berbinar bagaikan bintang timur. Rambutnya ikal, hitam dan mengkilat, selalu kedepan samping terjurai. Pepatah Melayu mengatakan rambut yang seperti ini, indah bagai mayang terurai. Pakaiannya rapih dan warna serasi dengan bentuk tubuh dan warna kulitnya. Kadang-kadang ia memakai sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi. Tinggi badannya juga sedang, tidak jauh berbeda dengan tinggi umumnya kaum perempuan Melayu yang dikenalnya. Encik Guru ini amat menarik perhatiannya, terutama ketika menerangkan di depan kelas. Teman-temannya selalu usil dibelakang dengan khayalan-khayalan konyol tapi menyenangkan. Maklum, usia sedang menanjak dewasa, semua laki-laki, ABG kata istilah sekarang. Lalu muncul encik guru perempuan, yang bagi mereka bagaikan bidadari turun dari kayangan. Cantik menarik, berpendidikan, tutur bahasa sopan dan lemah lembut. Kalau berjalan langkahnya diatur. Setiap melangkah, tumit diangkat dulu baru digerakkan ke depan, sehingga ketika berjalan terkesan seperti sedang menari. Saat keluar dari kelas, tangan sebelah kirinya memegang buku yang menempel tegak lurus ke dada dan ayunan tangan kanannya mengikuti gerak langkah kaki, indah dan menarik hati. Sambil mengucapkan salam setelah menutup pelajaran, tak lupa ia melemparkan senyum kemurid-muridnya. Kadang-kadang ia juga memakai bahasa Batak dengan murid-muridnya, bahasa Batak Toba dangan aksen khas Tarutung. Encik Hutapea ini dijadikannya model atau contoh dan teladan seorang perempuan idaman, dan bukan hanya sebagai guru.

Gambar       Rura Silindung
Bagi mereka yang ingin mendengar bahasa Batak Toba yang lemah lembut, pemuda dan pemudi atau doli-doli dohot na marbajunya yang ramah, gagah dan cantik menawan, datang dan berkunjunglah ke Tarutung.  Selain itu juga karena di sana ada lembah atau rura yang tersohor, Rura Silindung yang indah permai, di kampung Pahae dekat dengan Tarutung, amat menarik untuk dikunjungi. Rura Silindung merupakan lambang keindahan kota Tarutung itu. ***

Dua puluh lima tahun kemudian, sewaktu ia sedang bertugas sebagai salah seorang pimpinan di STT Telkom, tepatnya tahun 1992, Encik Hutapea ini pernah datang ke rumahnya, ketika itu masih tinggal di Jalan Pekalongan, Antapani, Bandung. Kecantikannya belum banyak berubah, hanya karena sudah sekian lama tak berjumpa dan sedang sakit, kelihatannya sudah lebih berumur. Pada mulanya ia terpana dan terkejut karena tidak mengenal encik guru ini. Tapi setelah berbincang dan menjelaskan siapa dia, barulah semua ingatannya muncul. Dengan terharu iapun memberi salam sambil menjabat tangannya. Lalu diperkenalkannya dengan keluarganya. Rencananya selain mengunjungi kerabat, juga untuk berobat. Karena mengetahui bahwa seorang eks muridnya ada di Bandung, iapun menyempatkan diri datang ke rumah dengan taxi. Kabar keberadaan serta alamat diperoleh dari teman sekelasnya waktu di ST yang masih tetap tinggal di Pematangsiantar. Juga dari pak Abdul Hamid Simbolon, guru Bahasa Indonesia. Rupanya sepeninggalnya dari sekolah ST dan kemudian terdengar berhasil, sangat membanggakan sekolahnya. Setelah cerita dan bernostalgia masa-masa silam dan masa kini, dan karena malam hampir larut, encik Hutapeapun pamit. Lalu dengan mobil diantar-kannya ke Jalan Kiara Condong, kerumah kerabat dekatnya di Bandung. Ia sangat terharu dan bahagia atas kunjungan silaturahmi dari guru yang baik hati dan sangat dikaguminya ini.***

Guru aljabarnya, Pak Sianipar, lulusan B1 Matematika sangat pintar dan menarik ketika menjelaskan Aljabar. Program B1 Matematika adalah program PGSLP, program peningkatan guru untuk guru setingkat SMP. Gagah, rambut dan kumis tebal tertata rapih, bajunya lengan panjang, lebih sering berwarna putih. Suara keras tapi ramah. Kadang-kadang sambil bersenda gurau, mengeluarkan kata-kata lucu yang menyenangkan. Buku yang dipergunakan adalah buku khusus untuk Sekolah Teknik yang setara dengan buku aljabar SMP, karena memang bahan pelajarannya dan tingkat sekolahnya sama. Hanya ST adalah sekolah Kejuruan, sedang SMP adalah sekolah umum. Rumus pq atau  rumus abc untuk mencari akar persamaan kuadrat dengan mudah dipahaminya. Hukum Binomial dengan segitiga Paskal untuk menghitung uraian dan kepangkatan, KPK atau Kelipatan Persektuan Terkecil dan PPT atau Pembagi Persekututan Terbesar dipahaminya dengan baik.
Kombinasi menggambar teknik dengan gambar permukaan tampak atas, tampak samping, tampak depan dan potongan benda kerja dengan ilmu proyeksi menambah kemudahan baginya untuk memahami dan menentukan gambar bidang datar. Termasuk menghitung panjang dan menggambar potongan limas T-ABCD oleh bidang potong PQRS, yang sangat berguna baginya untuk menggambar benda kerja yang akan di buat. Jika perlu dipergunakan-nya juga Rumus Phytagoras, yakni kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat kedua sisi yang saling tegak lurus. Pak Sianipar menerangkan dengan cepat, mengatur penggunaan papan tulis yang baik dengan catatan-catatan yang jelas. Pak Sianipar juga selalu mengatakan bahwa aljabar itu gampang, tidak susah. Mempelajarinya menyenangkan, membuka logika berfikir yang luas. Tak heran, pada ujian yang pertama, nilainya langsung delapan, walaupun dalam pengerjaannya banyak coretan-coretan. Kelak, ketika ia menjadi guru, ia banyak terpengaruh gaya mengajar pak Sianipar ini.

Mata pelajaran yang paling disukainya adalah Bahasa Indonesia, Aljabar, Menggambar Teknik dan Proyeksi, Ilmu Alam, praktek mengikir, menempa, membuat benda kerja dan Ilmu Gaya atau Mekanika tentang vektor dan kinematika. Pelajaran aljabar, sangat disenanginya, karena sebagian telah dipelajarinya ketika di SD. Persamaan gerak pada mekanika, yang menggunakan rumus persamaan kuadrat untuk mencari t1 dan t2 dalam waktu kecepatan, percepatan, tinggi dan waktu jatuh dengan gravitasi buminya, sama dengan mencari x1 dan x2 pada persamaan kuadrat dengan rumus abc. Waktu t1 dan t2 yang diperoleh dari hasil perhitungan tidak selalu dipakai kedua-duanya, tergantung waktu t yang mana yang memang sesuai dengan keadaan penyelesaian soal.
Juga untuk konstruksi baja, menghitung momen pada jembatan dengan dua persamaan, dikombinasikan dengan vector untuk batang jembatan yang dipasang tidak tegak lurus terhadap tiang penyangga, dikombinasikan dan diselesaikan dengan menggunakan persamaan simultan untuk menghitung gaya tarik dan gaya tekan kepada tiang penyangga. Gaya tarik dan gaya tekan dipergunakan untuk menentukan kekuatan komponen, bahan jembatan dan angka keamanan proyek sebuah jembatan. Untuk mengadaptasi pemuaian akibat pemanasan dan kembali menyusut pada saat temperature menurun, salah satu sisi jembatan diletakkan di atas bantalan beroda, sedangkan sisi lainnya disambung dengan bantalan tetap.




Gambar 17
.  Bantalan Penyangga Jembatan, 

bantalan tetap dan bantalan beroda
Demikian pula perpaduan antara gaya, massa dengan percepatan F = ma dan masing-masing pengaruhnya pada percepatan dan kecepatan sesaat, khusus untuk benda-benda bergerak. Secara sederhana hal ini diuraikan dan dijelaskan dalam buku pelajaran yang berjudul Ilmu Gaya untuk Sekolah Teknik dua jilid,  ditulis oleh seorang Insinyur lulusan ITB, yang membuatnya semakin penasaran ingin menuntut ilmu di ITB sana. Juga dijelaskan apa yang dimaksud dengan tenaga atau enersi. Demikian pula hubungan Enersi dengan Enersi diam dan Enersi gerak atau kinetis, dengan rumus, . Enersi total pada suatu benda adalah Enersi diam ditambah enersi gerak. Jika benda diam, maka Ek = 0 dan E = Ep. Sebaliknya, jika benda itu bergerak, dan jika semuanya enersi berubah menjadi enersi kinetis, maka benda itu dapat terbang. Dalam hal ini E = Ek dan Ep = 0. Itulah sebabnya, benda-benda yang bergerak terasa lebih ringan. Atau pesawat bisa terbang setelah merubah semua energi menjadi enersi kinetis. Semuanya dijelaskan secara sederhana. Lalu dihubungkan dengan perputaran bumi dan kenapa bumi harus berputar, pergantian siang dan malam, cara menentukan waktu perdetik, permenit, perjam dan seterusnya. Ia sangat terkesan dengan penggunaan bahasa dan aljabar dalam bidang fisika dan teknik.
Dalam pelajaran bahasa dan aljabar, ia sudah bisa menggunakan definisi berat atau massa jenis dan rumus untuk menghitung berat benda dan isinya. Dari sini ia sadar, bahwa pelajaran aljabar atau matematika sangat menarik, sangat berguna untuk mekanika teknik dan ilmu alam. Tapi pelajaran ini memerlukan pemahaman bahasa atau logika bahasa yang kuat. Banyak teman-temannya sekelas sangat lambat untuk mengerti hal ini. Mungkin mereka berfikir, setelah lulus langsung bekerja, tidak perlu memikirkan ilmu yang susah-susah karena tidak jelas untuk apa nantinya.

Selama di sekolah ini,  kemahirannya  dalam  perbengkelan meningkat pesat.  Mengikir benda kerja, hasilnya sangat bagus. Membuat engsel pintu, sempurna. Menempa dan membentuk benda kerja dengan pembakaran besi di ruang tempa, dapat dikerjakannya degan baik. Bahan bakarnya masih terbuat dari arang kayu. Landasan kerjanya adalah standar landasan kerja untuk menempa besi panas, ada pembuat lubang dengan ‘drip’ yakni besi baja yang ujungnya dibuat pas dengan lubang yang akan dibuat pada benda kerja. Saat besi memerah dan berpijar, benda kerja diangkat, diletakkan di landasan, lalu dengan palu dan landasan bersama membentuk benda kerja. Kalau perlu lubang yang kasar dibuat pada saat besi memerah. Walaupun penjepit benda kerja yang dipegangnya di tangan kiri dan palu di tangan kanan sangat pas beratnya dengan tenaga yang dimilikinya, ia dapat mengaturnya. Penyelesaian akhir dilakukan dengan mengikir, kalau perlu dengan mesin bubut.

Peraturan keselamatan kerja di ruang tempa ini sangat ketat, satu dan lain hal untuk menghindari kecelakaan kerja, karena ada benda kerja besi yang memerah dan berpijar sangat panas saat diangkat ke landasan tempa. Ada tungku pembakar besi tempa. Ada arang yang sedang menyala-nyala. Ada penjepit benda kerja panas membara yang dipegang oleh murid, yang kalau mengenai bagian tubuh sangat berbahaya, karena bisa hangus terbakar.

Dalam perbengkelan sepeda membantu orang tuanya, semua bisa dikerjakannya tanpa salah. Ia juga sudah mampu mengelas batang sepeda dengan pembakar kompor tekan minyak tanah, dengan bahan las kuningan. Biasanya batang rangka sepeda yang rusak akibat tabrakan, patah karena jatuh atau keropos karena berkarat, diganti dengan batang yang masih baru. Dan ini perlu proses pembukaan sambungan lasnya dan mengelasnya kembali setelah diganti yang baru sebelum dikirim ke tempat pengecatan dan penyelesaian akhir. Begitu juga ia sudah dapat membuat anak kunci pintu dan lain-lain. Kemajuan keahlian tekniknya terus bertambah. Iapun sudah mahir membuat atau mengganti anak kunci sepeda yang hilang, tang, bahkan kunci Inggris.

Ketika ujian akhir prakteknya membuat satu sisi benda kerja tang penjepit, harus selesai 4 jam, mulai dari bahan mentah, ditempa sesuai petunjuk gambar, dan terakhir menghaluskannya dengan kikir, membuat lubang dengan mesin bor duduk untuk penyatuannya menjadi tang, selesai dengan baik. Sekolah dan pekerjaannya sehari-hari saling mendukung keterampilan tekniknya. Keinginannya belajar Aljabar dan Ilmu Gaya yang lebih tinggi lagi, mengingat cita-citanya kelak menjadi insinyur terus mendorongnya untuk selalu mempelajari ilmu ini.

Pada masa itu, ia rajin bertanya kepada siapa saja, terutama kepada guru olahraga, bagaimana agar badannya bertambah tinggi dan besar. Jawabannya adalah rajin berolahraga, terutama berenang. Iapun belajar berenang sendiri di sungai sambil mandi dan shalat magrib, dan ketika ada pelajaran olahraga berenang di kolam renang, iapun sudah mahir berenang gaya bebas. Gaya-gaya lain dipelajarinya dari guru olah raga ketika ada pelajaran wajib di kolam renang, tapi ia tidak pernah ikut lomba, karena waktunya yang terus disibukkan membantu kedua orang tuanya.  Karena seringnya, baginya air yang masuk melalui hidung sudah biasa dan tidak menjadi masalah lagi. Ia bisa  menyelam di  kolam  renang selama  dua menit tanpa muncul ke permukaan dengan menjelajahi jarak sejauh tujuh puluh lima meter!
Begitu juga dengan pelajaran agama dari gurunya pak Zainal Nasution. Pertanyaan-pertanyaan anak usia yang sedang menuju masa remaja dapat ditanyakan langsung, dan pak Zainal tidak ragu-ragu menjawab, karena tidak ada murid perempuan. Termasuk ketika menjelaskan jimak, mimpi basah dan keluar air mani dengan sengaja yang membatalkan wuduk. Gurunya menyebut wuduk ini dengan ‘air sembahyang’.   
Ketika itu, sehari-hari kegiatannya hanyalah ke sekolah dan membantu ayah-ibunya. Masih mengasuh adik-adik, mengaji lanjutan di madrasah bekas sekolah SDnya yang dulu, yang telah berubah menjadi madrasah di sore hari. Pergi ke sekolah selalu menggunakan sepeda. Karena di bengkel sering ada yang menaksir sepeda yang dipakainya, ia tidak keberatan untuk dijual. Kemudian ia merakit kembali sepeda bekas yang diperbaikinya dan cat diperbaharui untuk sepedanya sehari-hari. Kemahiran tekniknya terus berkembang baik ketika membantu ayah-ibunya maupun ketika di sekolah ST.

Kolam Renang Detis Sari Indah
Ia juga sering diminta menemani anak perempuan tetangganya murid SMP Negeri Pematang-siantar untuk tugas berenang dari sekolahnya, pukul lima pagi setelah shalat subuh, di kolam renang Swim bath (kini namanya kolam renang Detis Sari Indah) di Kampung Pematang. Namanya Nurhayati, tetangga dekatnya dari jalan Pattimura, anak pak Arifin Situmorang, pemilik alat angkut mobil bus. 

Dengan Nurhayati, ia dan teman-teman pemuda dan pemudi sekampungnya selalu bekerja sama dalam kegiatan kampung, perayaan Maulid, Isyra’ Mikraj Nabi SAW, Nuzulul Qur’an dan lain-lain, yang diadakan di madrasah tempat mengaji mereka. Ia merasa bagaikan anak kecil yang wajib membantu kakaknya agar tidak diganggu orang ketika berangkat ke kolam renang. Ia merasa adik karena badannya yang terbilang kecil. Terkadang ia ikut juga berenang, dengan mengambil tempat di kolam yang jauh dari tempat Nurhayati berenang.

Berbilang bulan dan lama waktu tiga tahunpun berlalu di sekolah ini. Hasilnya, iapun lulus secara keseluruhan dengan nilai terbaik, kecuali olah raga, karena badannya yang terbilang paling kecil. Sesuai dengan tujuannya semula, ia sudah langsung bisa membantu orangtuanya dalam kehidupan sehari-hari. Membantu ayahnya di bengkel sepeda, juga membantu ibunya menjajakan dagangan dipasar Pajak Horas sore hari.
Ia lulus sebagai peringkat kedua sedikit dibawah temannya Syafrudin Nasution dari Timbang Galung. Syafrudin  Nasution  ini umurnya satu tahun lebih tua darinya. Tulisan tangannya sangat bagus, sangat baik hati dan ramah. Untuk mata pelajaran Praktek, Bahasa Indonesia, Ilmu Gaya atau Mekanika, Ilmu Alam, Menggambar Teknik dan Aljabar, ia lulus dengan nilai rata-rata diatas tujuh setengah. Kalau saja waktu itu ada industri mobil atau bengkel besar di Pematangsiantar, maka tentu ia sudah siap untuk terjun kelapangan kerja. Waktu itu industri otomotif dan konstruksi baja belum berkembang seperti saat ini.
Sebenarnya, jika ia ingin, ia sudah bisa bekerja di toko dan bengkel sepeda milik seorang Cina keturunan, langganan mereka selama ini untuk membeli onderdil atau suku cadang sepeda, mengecat batang sepeda dan bagian-bagian yang perlu dicat. Demikian pula, ia sudah sering berdagang sayuran di sore hari, menjajakan sayur ibu mereka di pintu-pintu jalan keluar pasar Pajak Horas. Banyak temannya sekampung yang seusia dengannya bekerja di daerah pertokoan di sepanjang jalan Sutomo dan Jalan Merdeka. Tapi ia lebih memilih melanjutkan sekolah ke Sekolah Teknik Menengah atau lanjutan sekolahnya di SLTA.

******

Tidak ada komentar:

Posting Komentar