Senin, 09 September 2019

MERAJUT IMPIAN MASA DEPAN

MERAJUT IMPIAN MASA DEPAN





Gambar xx. Lembaga Pasteur
Gambar xx.Peneropong Bintang Lembang
Buku bacaan sekolah dasarnya, dikelas lima dan enam, namanya Buku Bacaan Merdeka, menggambarkan kota Bandung sedemikian indah, menggetarkan persaaannya. Lembaga Pasteur penghasil serum anti penyakit anjing gila, Peneropong Bintang Lembang dan Institut Teknologi Bandung, ITB, yang berada dikota itu, sangat menarik perhatiannya, untuk kelak bisa dikunjungi, bersekolah dan menuntut ilmu disana. 





Buku ini juga menceritakan seorang anak yang ikut orang tuanya bertamasya ke Belanda, Inggris, Italia dan Perancis. Cerita tentang kota Hilversum di Belanda yang berada dibawah permukaan laut, 

Menara Eifel di Paris dan indahnya kota Paris dan Menara Miring Pizza di Roma, diceritakan dengan menarik sehingga sangat terkesan indah dalam hatinya. Ia hanya bertanya dalam hati, bisakah ia pergi kesana kelak? Tentu bisa, asal ada kemauan. Ia ragu-ragu mengingat keadaan ayah-ibunya sekarang ini. Tapi ia sangat ingin pergi ke tempat-tempat itu, cita-cita dipatrikannya dalam hati, agar bisa menginjakkan kaki disana kelak. Dan sering terbawa menjadi mimpinya. Ia masih menyimpan impian dan cita-citanya menjadi insinyur kelak. Atau kalau bisa ketemu Mariana entah dimana. Mungkin nanti di Pulau Jawa, atau di benua Eropa seperti cerita dalam buku bacaan mereka di kelas lima dan enam itu, siapa tahu. Karena orang tua Mariana adalah pejabat yang mungkin saja ditugaskan ke Eropa. Ternyata ia masih ingat Mariana, walaupun hanya ingat saja, tapi sudah tidak terlalu mengganggu pikirannya.

Pada ujian akhir kelas enam, murid dari SD 18 ditempatkan ke beberapa sekolah. Ia ikut ujian akhir di Sekolah Dasar yang berada di Jalan Sekolah. Semua soal berhitung dapat dikerjakannya dengan mudah, kecuali dua persamaan simultan, karena memang belum pernah diajarkan olah gurunya. Pengetahuan Umum juga dapat dikerjakannya dengan baik, apalagi Bahasa Indonesia. Akan tetapi, ia sendiri tak habis pikir, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran kesukaannya. Sehari-hari keluarga dirumah mereka menggunakan bahasa Indonesia, dan ia merasa semua tata bahasa dalam ujian itu dapat dijawabnya dengan sempurna. Tapi yang menjadi kenyataan, nilai Bahasa Indonesianya adalah nilai terkecil, hanya dapat nilai enam. Nilai Pengetahuan Umumnya adalah delapan, berhitung nilainya sembilan, nyaris sempurna. Walaupun demikian ia adalah lulusan dengan nilai tertinggi disekolahnya dan sangat gembira karena ia dapat lulus dengan kedudukan atau peringkat yang terbaik.

Ia lalu bertanya kepada siapa saja mengenai cara bersekolah di Bandung. Ia mendapat kabar, bahwa konon, kalau bersekolah yang tinggi itu adalah di universtias dan atau institut, sama seperti penjelasan pada buku bacaan sekolah mereka. Menurut keterangan gurunya, jika ingin bersekolah di ITB, maka ia harus menyiapkan diri dengan pengetahuan umum dan aljabar yang baik. Ia merasa beruntung, gurunya banyak yang memberi keterangan yang menyenangkan hatinya. Tapi ada juga gurunya yang mengatakan, yang mengetahui keadaan orang tuanya, bahwa kalau sekolah ke perguruan tinggi, baik di Bandung, Jakarta atau Yogyakarta, ke Pulau Jawa atau di mana saja, perlu biaya yang lumayan besar, mungkin keluarga tidak akan sanggup membiayainya. Selain itu, ada juga cerita, bahwa ada orang yang berdiri sendiri sambil sekolah di perguruan tinggi, ia bekerja mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya, dan berhasil lulus dengan baik. Keterangan yang kedua inilah yang menjadi pedomannya, yang membuat ia mempunyai harapan baik. Ia optimis akan berhasil. Niat telah ditorehkan, terpatri dalam hati. Rencanapun dikembangkan.
Keinginan untuk mencapai cita-citanya menjadi insinyur, membuatnya jadi bersemangat untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri. Ia harus melanjutkan dulu ke SMP dan SMA baru mengikuti testing kelak di ITB. Ia merasa ia sudah punya modal, sudah mempunyai keterampilan teknik perbengkelan sepeda, sejak ia ikut bekerja di bengkel sepeda membantu orang tuanya. Yang bisa ditingkatkannya selama sekolah di SMP dan SMA nanti, dan kelak dapat dipergunakan untuk menopang biaya hidup dan sekolahnya di perantauan. Pelajaran yang menurut keterangan yang harus dikuasainya adalah Aljabar atau Matematika, Fisika atau Ilmu Alam, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dibulatkannya tekad untuk menguasainya. Ia adalah murid yang terbaik dalam hal berhitung, dan ia yakin dapat menguasai Aljabar, Fisika dan Ilmu Alam. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling disenanginya, dan juga sebagai bahasa keluarga mereka sehari-hari. Selain itu ia juga sudah diajari oleh guru mengajinya, ustadznya, untuk berencana sambil berdoa demi keberhasilannya kelak.
“Walaupun keadaan kita sekarang tidak atau masih belum mempunyai dana yang cukup, nasib bisa saja kelak berubah dan membawa kita untuk berhasil” demikian petuah guru mengajinya. Dan,
“Nasib seseorang tidak akan berubah, kecuali ia sendiri mau merubahnya….!!!”
“Tapi harus berencana dan berusaha melaksanakannya dengan baik”, lanjutnya, “Setelah berencana barulah berdoa, semoga Allah SWT menolong kita. Bukankah burung yang keluar dari sarang baru mendapat rejekinya hari itu?”, berhenti sejenak.
Lalu,
“Keluar dari sarang merupakan usaha, dan usaha adalah media atau wasilah datangnya
pertolonganNYA. Maka dari itu berjuang dan berusahalah dan berdoalah”.
“Seperti firman Allah SWT berikut: Hai orang-orang yang beriman, takutlah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu mengingat apa-apa masa lalumu untuk menentukan masa depanmu ….dst…!!!”, tambahan penutup.

Artinya ia harus berusaha untuk merubah nasib, karena Tuhan Allah SWT tidak akan merubah nasib seseorang kecuali ia sendiri yang merubahnya. Ia harus mempunyai rencana saat ini menuju ke masa depan mau menjadi apa, dari hasil apa yang telah dicapainya dimasa lalu. Ia memandang masa depannya nanti harus berlandaskan pengabdian kepada Allah, membawa keluarganya keluar dari lembah kemiskinan dan beroleh kebahagiaan. Ia harus makmur lebih dahulu.
Cita-citanya kelak ia akan mempunyai rumah yang cukup bagus, kendaraan untuk kegiatan pindah barang dan manusia pada tempat yang lebih luas, memperoleh kabar berita dan kenyataan atau informasi tentang kekinian, pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, bermasyarakat  dan keluarga yang baik atau rumah tangga dengan anak-keturunan yang hidup rukun dan memperoleh kebahagiaan. Semuanya didukung oleh keuangan yang cukup. Dalam ukuran kecil, untuk berkembang dengan sempurna dan dapat memutakhirkan atau me-masakini-kan kemampuan mengikuti kemajuan zaman dan daya saing, ia harus mengikuti lancarnya arus barang, arus manusia dan dan arus informasi itu. Ia harus terus berubah menjadi lebih baik dari hari kehari. Atau ia akan menjadi katalisator percepatan pertumbuhan kemajuan. Ia harus mempunyai kendaraan untuk turut serta mempercepat arus barang dan manusia.
Untuk itu ia harus bersekolah setinggi mungkin dan lulus secepatnya menjadi insinyur. Ia harus berani dan bertekad mengubah perilakunya. Yang tadinya suka menunda pekerjaan, kini mengerjakan pekerjaan itu dengan segera, tidak lagi suka menunda. Yang tadinya senang bermalas-malasan menjadi orang yang rajin, ia tidak boleh jadi pemalas. Yang tadinya senang melakukan pekerjaan yang seakan-akan penting tetapi tidak berhubungan dengan cita-citanya untuk tercapainya tujuan, ditinggalkannya. Yang tadinya mengerjakan sesuatu hanya sekedarnya saja, kini ia bertekad untuk selalu menjadi yang terbaik, atau paling sedikit menjadi lebih baik. Sekarang ia selalu berencana pada setiap tindakannya. Ia harus berani berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.  Ia harus terus berubah menjadi lebih baik.

Nasihat Bijak Bestari
Ia selalu ingin lebih tahu tentang sesuatu. Sejalan dengan cita-citanya, ia tidak bosan-bosannya meminta kabar berita keadaan atau informasi diperantauan, ditempatnya memulai sejarah baru nanti. Lalu berjumpa seorang yang berpengalaman, ia dinasihati oleh seorang ustadz yang bijak bestari, yang telah banyak bergaul dan berpengalaman dalam menjalani kehidupan secara nasional. Nasihat itu adalah bagaimana memilih sahabat, menyikapi kegagalan, agar tidak gampang menyerah, sebagai berikut:

Memilih Sahabat
Dalam rangka mencapai cita-citamu, hubungan yang sehat dengan sesama teman, hubungan silaturrahim, memang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan jiwamu. Namun, kerapkali engkau terjebak dalam hubungan dengan sosok manusia yang memiliki sifat yang tidak baik. Mereka umumnya sering mengeluh, mudah marah, atau tidak sabaran. Atau gampang menyerah.
Mengenali sifat-sifat seseorang di awal perkenalanmu kelak menjadi sesuatu hal penting. Apalagi jika ada kehendakmu untuk melanjutkan dalam hubungan yang lebih serius. Ada delapan jenis orang perlu engkau jauhi, seperti yang akan kuterangkan satu persatu berikut ini:
Yang pertama, 
Orang yang Memelihara Masa Lalu. Beberapa orang menolak melepaskan kenangan masa lalu dan cenderung merawat kenangan pahit yang menyakitkan. Akibatnya orang ini selalu hidup terpenjara dalam kemarahan dan kepahitan. Bila terjadi terus menerus, akan dapat mempengaruhi orang yang berada disekitarnya. Jika mereka mulai memunculkan masalah masa lalu, jangan ragu untuk memberitahu kepadanya bahwa engkau tidak ingin membicarakannya. Jika ia masih berkehendak juga, usahakanlah menjauh darinya.

Yang kedua, 
Orang yang Mengasihani Diri Sendiri. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari pada orang yang merasa menanggung beban yang amat berat, bisa jadi beban seluruh dunia merasa berada dipundaknya. Jangankan mencari jalan keluar, orang seperti ini terus mengasihani diri sendiri dan selalu tidak melihat jalan keluar. Baginya pintu-pintu keluar dari masalahnya selalu tertutup. Tawarkanlah bantuan yang bisa engkau berikan kepadanya. Beritahukan kepadanya, agar tetap bersemangat. Bagi mereka yang bersemangat, didepannya selalu terbuka pintu penyelesaian masalah. Dan jika tetap tidak mau berubah, sebaiknya menjauhlah darinya.
 
Yang ketiga, 
Orang yang Munafik. Berhubungan dengan orang yang memiliki sifat  lain dimulut lain dihati, sangat tidak menyenangkan. Ketika di depanmu ia bisa muncul sebagai orang yang paling manis, namun bersikap sebaliknya dibelakangmu. Jika engkau menangkap hal ini terjadi berulang kali walaupun hanya kepada orang lain, segeralah jauhi. Berhati-hatilah dengan orang seperti ini. Bukan tidak mungkin kelak ia melakukan hal yang serupa kepadamu.
 
Yang keempat, 
Orang yang selalu Berfikiran Negatif. Orang ini selalu memandang hal-hal yang negatif dari hidupnya. Bantulah ia melihat sisi positif dari dirinya. Jika tidak mau menerima, jangan biarkan hal negatif itu mempengaruhimu.
 
Yang kelima, 
Orang merasa yang Paling Sempurna. Orang seperti ini biasanya merasa lebih baik dan menarik dari pada orang lain. Ia sangat menikmati aktivitas mengkritik dan menerta-wai orang lain. Bersikap sabarlah dengan perilakunya. Namun jika ia tidak berubah, saatnya engkau meninggalkannya.
 
Yang keenam, 
Orang yang Bangga Mengumbar Rahasia. Mereka sangat bangga menceritakan skandal dalam hidup dan senang melibatkan sebanyak mungkin orang dalam perdebatan. Dengarkanlah dia, namun jika sampai mempengaruhimu kepada jalan yang tidak baik, segera-lah menjauhinya.
 
Yang ketujuh, 
Orang yang memelihara Perasaan Kecewa. Orang ini selalu merasa kecewa dengan hidupnya dan melampiaskannya kepada orang lain di sekitarnya, bahkan seringkali mereka mengambil kesimpulan yang tidak masuk akal. Jika ia mulai merencanakan sesuatu yang aneh yang terkait dengan rasa kecewanya, katakan bahwa hal itu mengganggumu. Jika ia tidak mau berubah juga, segeralah menjauh darinya.
 
Yang kedelapan, 
Orang yang Senang Mengulas Kejadian.  Orang seperti ini mengulas semua yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Seringkali perkataan mereka menimbulkan perkela-hian. Berhati-hatilah bila berada di sekitar orang tersebut dan berhati-hati dengan perkataanmu.

Never Ever Give-up

Yang terakhir,

Hidup ini adalah petualangan dan perjuangan, jangan pernah engkau menyerah, never ever give up. Rencanakanlah hidupmu, masa depanmu dan jalan hidupmu. Kalau harus ada jalan yang melingkar, engkau tidak boleh menghindar, kalaupun ada jalan mendaki dan terjal, engkau tidak harus atau jangan membuang bekal. Kalaulah masih gagal, bukan berarti engkau akan selamanya gagal. Lebih baik maju selangkah demi selangkah, berlelah-lelah, berurai air mata, bersimbah peluh dan kalau perlu bergelimang darah, akan lebih berarti dibanding engkau beranjak mengambil selimut, pergi tidur lagi dan menyerah! 

Lalu, disetiap kesempatan, berdoalah selalu dengan ikhlas. Ketika engkau penat memikirkan dunia, maka berwudhu’lah. Ketika tanganmu letih menggapai cita-cita, maka bertasbihlah. Ketika pundakmu serasa tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah pada ALLAH, ikhlaskan semuanya serta selalu mendekat kepada-Nya. Jangan pernah berputus asa, jangan pernah menyerah!

 Demikianlah nasihat dari ustadz yang bijak bestari itu. Ia mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Pada awalnya ia tidak begitu mengerti nasihat ini, tapi ketika satu persatu butir-butir ini dialaminya, ia sudah dapat menyikapinya dengan baik. Nasihat yang amat berguna dalam pencapaian cita-citanya kelak di kemudian hari.

Ia bersyukur, ia didekatkan dengan orang-orang yang bijak, dengan para ustadz, orang yang dekat dengan Allah, yang telah mengatur semuanya agar terarah langkahnya untuk masa yang akan datang. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar