PULANG KAMPUNG, MENIKAH DAN BEKERJA DI JAKARTA.
Pada lebaran awal bulan September dan akhir tahun 1974 kuliah libur, ia berkesempatan pulang kampung yang petama kali ke Pematangsiantar setelah lima tahun di perantauan. Ia menggunakan kapal laut Tampomas, untuk menghemat biaya. Ia membawa oleh-oleh sekedarnya saja, beberapa kotak dodol garut, oncom dan dodol sirsak seadanya.
Di atas kapal, ia melihat Bu Maria temannya mengajar dulu di SMP PGII Bandung, bersama seorang pria tampan, sedang menikmati indahnya perjalanan kapal Tampomas di buritan. Tapi bu Maria hanya melihat sekilas, tak berbicara apapun, mungkin ia sudah tidak mengenalnya karena sudah berpisah selama dua tahun. Iapun segan menegur, takut kalau pria itu salah mengerti.
Setibanya di Pematangsiantar, ia sempat terkejut setelah mengetahui, rumah mereka yang di jalan Dalil Tani sudah dijual, ayah-ibu dan adik-adiknya tinggal di sebuah rumah kecil amat sederhana di Jalan Terong.
Pekerjaan mereka ketika itu kembali bertani seperti telah dijelaskan sebelumnya, karena pasar Pajak Horas tempat mereka berdagang habis terbakar.
Ayah-bundanya masih ada, tapi ayahandanya sudah sering sakit. Pada saat bertemu ayahandanya, mereka berpelukan sambil ayahandanya berkata, ", masih pergi lagi kau nak?" dan ia mengangguk. Lalu ia mengunjungi kerabat-kerabat dan famili terdekat, sambil bicara segala macam masalah keluarga mereka, terbakar dan terjualnya lapak mereka di Pajak Horas, pindahnya rumah dari Jalan Daliltani karena terjual untuk membayar hutang yang masih harus di bayar dan lain sebagainya. Sejak saat itu, ayahbundanya kembali bertani ke sawah mereka di kampung Lapangan Bola di seberang sungai Bah Sorma.
Tak lupa ia berkunjung ke BT 7 tempat pak Rahman dan pak Abudl hamid.
Saat itu, pak AH masih tinggal di Jalan Pattimura, agak masuk kedalam kompleks. Setelah beramah-tamah lalu ia minta izin ke rumah Rantina Marpaung yang kebetulan berdekatan. Pak Marpaung, sepupu Rantina dari kampung, dan masih non-Muslim, dulu juga gurunya di STM Negeri Pematangsiantar. Kakak Rantina, Asmah Marpaung, guru madrasah Al Washliyah di Jalan Cipto adalah temannya sesama aktifis di IPA. Mereka sering bersama mengikuti latihan-latihan atau training-training kepemimpinan, tingkat dasar atau lanjutan dan rapat-rapat organisasi di pengurus cabang. Konon kabarnya kini, Asmah telah menikah dan bertempat tinggal di Medan.
Rupanya pak Abdul Hamid Simbolon ini, agak curiga juga dan sambil bercanda berkata, “Wah kalau kalian jadi nantinya, anak kalian putih-putih la semuanya”, katanya sambil tersenyum dengan logat Melayu Deli yang khas. Rantina memang pernah menaruh hati padanya saat ia masih sekolah di STM Pematangsiantar dan aktif di IPA. Ia hanya menjawab dengan senyum, tanpa bicara apaun.
Ia kerumah Rantina setelah bertahun-tahun dinegeri orang. Ia berani datang, karena merasa sudah punya kelebihan untuk segera menjalin kembali hubungan yang pernah terasa ada, siapa tahu silaturahmi dan ta’arruf atau perkenalan bisa berlanjut, tentu kalau masih bisa. Ia masih ragu, karena ia sudah mempunyai kekasih hati di Bandung. Ada rencananya, kalau Rantina bisa didekatinya kembali, ia akan berfikir ulang untuk menata kehidupannya dimasa mendatang, termasuk menilai ulang hubungannya dengan Tati. Tapi pada saat di rumahnya, ia hanya berbicara dengan orang tua Rantina. Rantina memang ada, tapi ia hanya berbicara sebentar, hanya dua patah kata, sesudah itu menghilang. Ketika ditanya dulu pernah surat dikirim dari Bandung, apakah sampai dan kenapa tidak dibalas, Rantina tidak menjawab. Setelah itu Rantina menghilang, pergi entah kemana. Tinggallah ia berdua dengan ibunya Rantina, karena Asmah telah berumah tangga dan tinggal di Medan. Tentu hal ini wajar saja terjadi, karena ketika dulu ia akan pergi dari Pematangsiantar, tidak pernah ta’aruf secara khusus, tidak permisi, tidak mengadakan perpisahan khusus dengannya, karena keadaan keluarga dan dirinya yang memprihatinkan. Padahal, mungkin Rantina sudah mengharap akan ta’aruf lebih jauh, tapi tidak kesampaian. Soal waktu, tentu Rantina masih bisa menunggu, sampai ia pulang membawa hasil kelak. Oleh karena itu pula mungkin Rantina tidak enak hati, mungkin saja ia sudah punya pilihan hati. Rantina lalu pergi menjauh.
Kesalahan yang wajar saja, karena memang cinta dan jodoh, lahir ke dunia dan maut kelak adalah masalah misteri, masalah yang merupakan hak Tuhan Pencipta Alam yang menetapkannya. Cuma saja, Sang Penebar Kasih Sayang dan Pelimpah Rahmat itu telah mengatur semua. Ada saja caraNya untuk mendekatkan orang dengan jodohnya. Ia sangat yakin akan hal itu. Setelah berbincang-bincang dengan ibunya Rantina seperlunya, iapun pamitan. Harapan yang tadinya dipendam, hilang dan musnah sudah. Ia tak berhasil mendekati Rantina kembali. Rantina memang bukan jodohnya.***
Dan tak lama kemudian ia pulang kembali ke Bandung dengan kapal yang sama. Ia sempat turun di Tanjung Pinang, dan belanja oleh-oleh untuk bibik asrama. Untuk ke Bandung, ia hanya membawa seikat Rambutan Binjei dan Markisa, oleh-oleh yang terlalu sedikit.
Kepulangannya yang kedua, ada kesempatan pulang karena pendidikannya di Telkom sudah hampir selesai. Masih tetap memakai kapal laut, Tampomas. Ia membawa gambar kekasih hati dan calon istrinya Siti Nurhayati, dan menunjukkannya kepada ayah-ibu dan makcik istri pakcik Ajim Silalahi almarhum dari Medan.
Makcik sengaja datang ke Pematangsiantar karena diberitahu ia akan pulang dari Bandung.
![]() |
| Pulang kamung dengan Kapal Tampomas II |
Di atas kapal, ia melihat Bu Maria temannya mengajar dulu di SMP PGII Bandung, bersama seorang pria tampan, sedang menikmati indahnya perjalanan kapal Tampomas di buritan. Tapi bu Maria hanya melihat sekilas, tak berbicara apapun, mungkin ia sudah tidak mengenalnya karena sudah berpisah selama dua tahun. Iapun segan menegur, takut kalau pria itu salah mengerti.
Setibanya di Pematangsiantar, ia sempat terkejut setelah mengetahui, rumah mereka yang di jalan Dalil Tani sudah dijual, ayah-ibu dan adik-adiknya tinggal di sebuah rumah kecil amat sederhana di Jalan Terong.
![]() |
| Rumah Jl.Terong Yang sekarang, perbaikan ketiga, yg lama diambil alih oleh pemilik tanah. |
Ayah-bundanya masih ada, tapi ayahandanya sudah sering sakit. Pada saat bertemu ayahandanya, mereka berpelukan sambil ayahandanya berkata, ", masih pergi lagi kau nak?" dan ia mengangguk. Lalu ia mengunjungi kerabat-kerabat dan famili terdekat, sambil bicara segala macam masalah keluarga mereka, terbakar dan terjualnya lapak mereka di Pajak Horas, pindahnya rumah dari Jalan Daliltani karena terjual untuk membayar hutang yang masih harus di bayar dan lain sebagainya. Sejak saat itu, ayahbundanya kembali bertani ke sawah mereka di kampung Lapangan Bola di seberang sungai Bah Sorma.
Tak lupa ia berkunjung ke BT 7 tempat pak Rahman dan pak Abudl hamid.
Yang paling dulu ditemuinya adalah Pak Abdul Hamid Simbolon dan istrinya makcik Zubaidah sekeluarga.
Kantor BALAI KOTA kota Pematang Siantar
|
Rupanya pak Abdul Hamid Simbolon ini, agak curiga juga dan sambil bercanda berkata, “Wah kalau kalian jadi nantinya, anak kalian putih-putih la semuanya”, katanya sambil tersenyum dengan logat Melayu Deli yang khas. Rantina memang pernah menaruh hati padanya saat ia masih sekolah di STM Pematangsiantar dan aktif di IPA. Ia hanya menjawab dengan senyum, tanpa bicara apaun.
Iapun berusaha menemui sanak famili dan teman-temannya selama masa remaja. Terutama Rantina.
Ketika dulu, ia sendiri masih takut dan merasa rendah diri karena Rantina sangat cantik, putih dan lebih berada dari keluarga mereka. Rantina sekolah di SMP Negeri 2, sekolah pavorit di Pematangsiantar.
SMP Negeri 2 Pematangsiantar
|
Sedangkan pada saat yang sama ia masih sibuk membantu orangtuanya di bengkel sepeda. Ia sebenarnya juga ada perasaan hati pada Rantina, tapi ia merasa tidak punya kelebihan apapun untuk memulai mendekatkan diri. Ketika ingat Rantina, ia berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh. Untunglah pada saat itu pikiran logisnya masih belum tertutup oleh rasa cinta. Perasaan yang biasanya penuh emosi dan bisa jadi menghilangkan akal sehat.***
Ia kerumah Rantina setelah bertahun-tahun dinegeri orang. Ia berani datang, karena merasa sudah punya kelebihan untuk segera menjalin kembali hubungan yang pernah terasa ada, siapa tahu silaturahmi dan ta’arruf atau perkenalan bisa berlanjut, tentu kalau masih bisa. Ia masih ragu, karena ia sudah mempunyai kekasih hati di Bandung. Ada rencananya, kalau Rantina bisa didekatinya kembali, ia akan berfikir ulang untuk menata kehidupannya dimasa mendatang, termasuk menilai ulang hubungannya dengan Tati. Tapi pada saat di rumahnya, ia hanya berbicara dengan orang tua Rantina. Rantina memang ada, tapi ia hanya berbicara sebentar, hanya dua patah kata, sesudah itu menghilang. Ketika ditanya dulu pernah surat dikirim dari Bandung, apakah sampai dan kenapa tidak dibalas, Rantina tidak menjawab. Setelah itu Rantina menghilang, pergi entah kemana. Tinggallah ia berdua dengan ibunya Rantina, karena Asmah telah berumah tangga dan tinggal di Medan. Tentu hal ini wajar saja terjadi, karena ketika dulu ia akan pergi dari Pematangsiantar, tidak pernah ta’aruf secara khusus, tidak permisi, tidak mengadakan perpisahan khusus dengannya, karena keadaan keluarga dan dirinya yang memprihatinkan. Padahal, mungkin Rantina sudah mengharap akan ta’aruf lebih jauh, tapi tidak kesampaian. Soal waktu, tentu Rantina masih bisa menunggu, sampai ia pulang membawa hasil kelak. Oleh karena itu pula mungkin Rantina tidak enak hati, mungkin saja ia sudah punya pilihan hati. Rantina lalu pergi menjauh.
Kesalahan yang wajar saja, karena memang cinta dan jodoh, lahir ke dunia dan maut kelak adalah masalah misteri, masalah yang merupakan hak Tuhan Pencipta Alam yang menetapkannya. Cuma saja, Sang Penebar Kasih Sayang dan Pelimpah Rahmat itu telah mengatur semua. Ada saja caraNya untuk mendekatkan orang dengan jodohnya. Ia sangat yakin akan hal itu. Setelah berbincang-bincang dengan ibunya Rantina seperlunya, iapun pamitan. Harapan yang tadinya dipendam, hilang dan musnah sudah. Ia tak berhasil mendekati Rantina kembali. Rantina memang bukan jodohnya.***
Dan tak lama kemudian ia pulang kembali ke Bandung dengan kapal yang sama. Ia sempat turun di Tanjung Pinang, dan belanja oleh-oleh untuk bibik asrama. Untuk ke Bandung, ia hanya membawa seikat Rambutan Binjei dan Markisa, oleh-oleh yang terlalu sedikit.
Kepulangannya yang kedua, ada kesempatan pulang karena pendidikannya di Telkom sudah hampir selesai. Masih tetap memakai kapal laut, Tampomas. Ia membawa gambar kekasih hati dan calon istrinya Siti Nurhayati, dan menunjukkannya kepada ayah-ibu dan makcik istri pakcik Ajim Silalahi almarhum dari Medan.
Di Pematangsiantar itu perbincangan selama di perantauan berlangsung hampir setiap malam. Berlanjut dengan keadaan adik-adiknya, dan singkat cerita adiknya Nurbaya akan dibawa ke Bandung dan bersekolah SMP disana. Sehari sebelum kembali ke Bandung, iapun menunjukkan calon istrinya dan berdiskusi dengan ayah-ibu dan makcik dari Medan. Semua setuju dengan pilihannya. Sekalian minta izin dan memberitahu rencana pernikahannya, semuanya merestui dan mengijinkan. Dengan beberapa kalimat saja dari ibunya:
“Unang hassit rohami amang, ai dang sanggup jala dang adong ongkos nami tu Bandung. Sai na hipas-hipas maho amang dohot boru nami na sian Bandungi jala gabe ma hamu. Pasahat ma tabekku tu simatuam na burjui” tuturnya.
Kira-kira artinya begini: “Jangan sakit hatimu nak, kami tak sanggup dan tidak mempunyai ongkos untuk datang ke Bandung. Semogalah engkau sejahtera nak, dengan menantu kami dari Bandung itu dan semoga nanti menjadi pasangan yang berhasil dan bahagia. Sampaikan salamku kepada mertuamu yang baik hati itu”.
Setelah menemui para kerabat dan para tetangga yang dulu ikut mengantar ketika pergi ke Jawa yang pertama kali, persiapan kembali ke Jakarta di persiapkan. Oleh-oleh, pakaian Baya yang seadanya pula dikemas. Baya sendiri kelihatannya agak canggung, maklum belum terbiasa akan pergi jauh. Tiket kapal Tampomas dipesan dari Pematangsiantar. Ia dan Baya berangkat ke pelabuhan Belawan untuk naik kapal Tampomas menuju Jakarta. Selamat tinggal Pematangsiantar, selamat tinggal kampung Tomuan, semoga kita bisa berjumpa lagi.***
Setelah menemui para kerabat dan para tetangga yang dulu ikut mengantar ketika pergi ke Jawa yang pertama kali, persiapan kembali ke Jakarta di persiapkan. Oleh-oleh, pakaian Baya yang seadanya pula dikemas. Baya sendiri kelihatannya agak canggung, maklum belum terbiasa akan pergi jauh. Tiket kapal Tampomas dipesan dari Pematangsiantar. Ia dan Baya berangkat ke pelabuhan Belawan untuk naik kapal Tampomas menuju Jakarta. Selamat tinggal Pematangsiantar, selamat tinggal kampung Tomuan, semoga kita bisa berjumpa lagi.***
Menikah
Demikianlah, ia sudah selesai sidang ujian sarjana muda pendidikan, melamar menjadi karyawan Telkom, tak lama kemudian ia diterima dan lulus sebagai calon karyawan di Telkom. Di usianya yang dua puluh enam tahun, karena tuntutan nafsu fisiknya, ia selalu gelisah, ia ingin segera menikah. Pada saat Tati bertugas di Bekasi, ia selalu merasa kesepian. Kalau sudah tidak bertemu dua bulan, ia sering gelisah, ia ingin mendengar suara Tati. Karena ia tinggal di asrama, suara bibik pembantupun terdengar merdu sekali.
Kuliah di LEMDIK POSTEL terus berlanjut. Uang saku di asrama berkurang drastis karena uang makan dan cuci pakaian sudah disediakan. Pelajaran Propagasi Radio, Deret Fourier, Rangkaian Listrik, Matematika dan Kalkulus, Transformasi Laplace, Teori Switching, Teknik Telepon, Teknik Telegrap, Bolean Algebra dan lain-lain, memerlukan perhatian khusus dan fokus. Lulus dari LEMDIK POSTEL setingkat sarjana muda Telekom pertengahan tahun 1975, masih yang terbaik. Kemudian setelah menyelesaikan kursus sentral switching dua bulan, ia dilantik sebagai karyawan penuh tanggal 28 September 1975. Hari itu bertepatan dengan hari Bakti POSTEL, bertepatan pula dengan bulan Puasa Ramadlan.
Esok harinya, 29 September 1975, setelah selesai shalat tarwih, pernikahan dengan Siti Nurhayati kekasih hatinya, bidadari penyemangat hidupnya, segera dilangsungkan di Masjid Darul Hikam Jalan Dago 285 Bandung.
Tati sendiri dirias seadanya di Ledia Wave Salon dari Jalan Siliwangi, namun demikian, harum semerbak bunga sedap malam yang dikalungkan di leher dan dilingkarkan di kerudung amat terasa menyebar keseluruhan ruangan masjid. Didandani berpakaian kebaya putih, bersarung batik yang di”lamban” atau kain dilipat-lipat disalah satu sisi kain batiknya. Pesona kecantikannya ketika menggunakan kebaya tidak diragukan lagi, langsung menyebar ke sekeliling di seluruh ruangan, terutama ketika melihat bola matanya yang hitam berbinar-binar, berseri. Ia sendiri memakai jas sederhana, didampingi teman-temannya dari Telkom dan PII. Pengucapan akad nikah berlangsung lancar, tidak ada yang harus diulang, dan langsung sah saja. Acara sederhana makan malam dilaksanakan di rumah Tati sekeluarga. Setelah selesai pernikahan dan makan malam, ia kembali pulang dulu ke asrama Jalan Dago 10.
![]() |
| Masjid DH yang lama, tempt menikah kini jadi Gedung SD |
![]() |
| Trotoar Jl. Dago, Bandung |
Walaupun sudah menikah, meraka masih tetap pisah rumah, ia sendiri di asrama sambil menunggu penempatan kerja. Masa lebaran setelah bulan Ramadlan, mereka masih menikmati masa-masa bulan madu yang demikian indah. Berjalan kaki berdua dari rumah Dago menyeberang jembatan kecil pada jurang pemisah ke Cisitu. Ketika itu, suara saluran air masih deras disekitar persawahan Cisitu dan perumahan masih sepi, masih bisa mereka nikmati, sambil berjalan berduaan sebagai suami istri, bertabur senyum, saling menggoda dan bahagia. Mengunjungi teman mereka yang menikah di Sukajadi, berdua menaiki oplet, ya, hanya dengan oplet, karena hanya itulah kesanggupannya. Dan lain-lain lagi.
Bekerja Di Jakarta
Selanjutnya ia ditempatkan di TELKOM Gambir, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat sebagai staf dan tenaga ahli pemeliharaan dan operasi. Sebulan setelah ditempatkan, sebelum lebaran, perayaan pernikahan dilangsungkan di Bandung. Bang Mukti Ritonga, teman dan pengasuhnya sejak tinggal di Jalan Pasirkaliki 175, bertindak sebagai pendampingnya. Lumayan banyak tamu dan teman-teman yang datang.
Selanjutnya ia ditempatkan di TELKOM Gambir, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat sebagai staf dan tenaga ahli pemeliharaan dan operasi. Sebulan setelah ditempatkan, sebelum lebaran, perayaan pernikahan dilangsungkan di Bandung. Bang Mukti Ritonga, teman dan pengasuhnya sejak tinggal di Jalan Pasirkaliki 175, bertindak sebagai pendampingnya. Lumayan banyak tamu dan teman-teman yang datang.
![]() |
| Gedung TELKOM Gambir, antara gedung depan dan belakang |
Setelah perayaan pernikahan, iapun berangkat ke Jakarta. Untuk sementara menginap di rumah adik mertua di Jalan Pramuka Penggalang, rumah pak Zainal Solichin. Keesokan harinya pindah ke Hotel di Jalan Paseban selama empat hari, untuk kemudian kembali ke rumah pak Zainal Solichin lagi sambil mencari rumah kontrakan untuk dirinya sendiri, karena istrinya masih tetap tinggal di Bandung. Sebulan kemudian, ia menyewa kamar di Jalan Paseban. Setiap pagi ia berangkat dan pulang dengan bus-kota ke TELKOM Gambir tempatnya bekerja di Jalan Merdeka Selatan. Setiap Sabtu ia pulang ke Bandung untuk melihat rumah kontrakan mereka bersama istrinya.
Karena sering mendengar lagu Jali-jali lagu khas dari Betawi, lama-lama enak juga terdengar ditelinganya ketika diperdengarkan lewat radio atau acara Televisi. Termasuk menyenangi Bang Benyamin dengan lawakannya. Iapun mulai menyenangi kesenian Betawi. Lagu-lagu,
“Iniii dia si jali-jali, lagunya enak, merdu sekali…. ”,
“Nyok kite nonton ondel-ondel…”. Atau
“Cikini, si Gondangdia,boleh tak boleh di bawa saja…… ”, menjadi sering didengarnya.
Ia telah mulai menjadi orang Betawi, orang Jakarta….!
Terlebih ketika anaknya, Anwar Rizal di latih menari ondel-ondel di sekolahnya. Aksen logatnyapun sudah mulai menyesuaikan dengan langgam Betawi, karena sering mendengar khutbah di lingkungan orang yang sehari-hari berbahasa Betawi. Kemana menjadi kemane, tidak tahu menjadi tau, kenalin kite dong, dan lain sebagainya. Ketiga daerah tersebut, Cikini, Gondangdia dan Menteng sangat berdekatan dengan kantor TELKOM Gambir. Demikian juga dengan Tugu MONAS Jakarta.
Untuk mengenang nya, disini ditampilkan lagu Ondel-ondel Betawi, selamat menikmati.
![]() |
| Stasiun Gondangdia |
Untuk mengenang nya, disini ditampilkan lagu Ondel-ondel Betawi, selamat menikmati.
![]() |
| Tugu Monas Jakarta |
![]() |
| Jl. Menteng Raya Jakarta |
Lagu Ondel-Ondel Betawi
By Benyamin S
nyok kite nonton ondel-ondelnyok kite ngarak ondel-ondelOndel-ondel ade anaknyeanaknye ngigel ter iteran
Mak Bapak ondel-ondel ngibingngarak penganten disunatingoyangnye asyik ndut-ndutaneh nyang ngiring igel-igelan
Pak pak dung pak dung pak pak pak gendang nyaring ditepaknyang ngiringin nyandak pade surak surakTangan iseng jailin pale anak ondel-ondeltaroin puntungan rambut kebakaran
Anak ondel-ondel jejingkrakanpalenye nyale bekobaranNyang ngarak pade kebingungandisiramin air comberan
Mak Bapak ondel-ondel ngibingngarak penganten disunatingoyangnye asyik ndut-ndutaneh nyang ngiring igel-igelan
Pak pak dung pak dung pak pak pak gendang nyaring ditepaknyang ngiringin nyandak pade surak surakTangan iseng jailin pale anak ondel-ondeltaroin puntungan rambut kebakaran
Anak ondel-ondel jejingkrakanpalenye nyale bekobaranNyang ngarak pade kebingungandisiramin air comberan
Video Klip ONDEL-ONDEL, sumber you tube
******










Tidak ada komentar:
Posting Komentar