TERDAMPAR DI JAKARTA
Berangkat ke Bandung
Berangkat ke Bandung
Tiket kapal laut Tampomas untuk pelayaran Belawan-Tanjung Priok dibeli dan sudah di tangan. Temannya Rustam Siahaan, tetangga dan satu organisasi di IPA ikut menemaninya dengan sukarela. Persiapan Ijazah dan foto kopi yang telah di legalisir disiapkan. Surat-surat yang diperlukan dilengkapi, beserta biaya dan ongkos saat tiba di Jakarta dan Bandung.
![]() |
| Kapal Tampomas berangkat dari Pelabuhan Belawan |
Sehari sebelum berangkat berlayar, acara syukuran perpisahan dengan warga sekampung dilangsungkan di rumah Jalan Dalil Tani No. 41 Kampung Tomuan. Keberangkatan ke kerumah pakcik Ajim Silalahi di Medan yang akan dilanjutkan ke Tanjung Priok Jakarta, dilepas oleh tetangga sambil berderai air mata. Mereka mendoakan agar ia berhasil dan sambil memberi uang seadanya. Ya, dengan doa, wujud kasih sayang mereka akan anak kandung kampung Tomuan yang segera meninggalkan mereka setelah bertahun-tahun bersama dan bercengkerama, yang selama ini menjadi harapan untuk mengelola dan meramaikan kampung. Pada hari itulah ia baru merasakan bahwa orang sekampung amat menyayanginya, ibu-ibu pengajian, serikat tolong menolong, teman-teman sekolahnya ketika di Sekolah Teknik, teman-teman pengajiannya dan juga famili yang non-Muslim. Mereka berdatangan melepas keberangkatannya. Petuah-petuah para kaum kerabat dan keluarga, wakil dari teman-teman pengajian dan teman ibunya telah disampaikan, tak ada yang ketinggalan. Dengan takjim ia mendengarkan dengan hati lapang.
Ketika ia diberi kesempatan menyampaikan madah terakhir sebagai sambutan, ia mohon doa dari semuanya agar ia berhasil nanti di perantauan dalam pencapaian cita-citanya. Ia mengucapkan terima kasih kepada semuanya, atas kebaikan dan bantuannya selama beraktifitas di Kampung Tomuan. Terutama kepada ibu-ibu, yang selalu menyediakan penganan ketika mereka mengaji dan belajar membaca Al Qur’an dengan baik.
Yang namanya takdir merantau, yang diharapkan tentulah berhasil. Jika gagal, maka mungkin yang kembali hanya jasad tanpa nyawa, atau ia tak pernah kembali, raib entah kemana dan tidak diketahui rimba keberadaanya, yang kembali hanyalah nama. Ia hanya bisa berpesan, kalau kelak takdir jatuh, bila esok lusa ia hilang, tak pernah lagi kembali dan tak kunjung pulang, berdoalah untuknya dari mana saja setelah shalat, setelah sembahyang. Jika memang kembali hanya jasad, jenguk pusaranya walau setahun sekali dengan doa, tanamkan sebatang kembang mawar dan serumpun selasih, percikkan air dan taburkan bunga rampai penyejuk diatas pusaranya.
Dengan sedikit linangan air mata semua di ucapkannya dengan baik dan lancar, berkat latihannya di organisasi. Terbayang juga olehnya, keramaian kampung yang selalu mereka kembangkan, kelak akan berkurang akibat kepergiannya. Masjid Kampung Tomuan, teman-teman IPA dan tepian tempat mereka mandi dan berenang akan kehilangan dirinya. Demikian juga, ketika ia pamitan dengan keluarga Madrasah Alwashliyah Jalan Sipirok, kelihatan muka Fauziah dan Faijah agak muram. Terutama Faijah, ia kelihatan membuang muka karena sedih, mungkin malu kalau kelihatan ia mengeluarkan air mata. Namun langkah tidak bisa lagi surut, ia harus segera melangkah untuk segera berangkat ke tujuan.***
Ia menginap di rumah pakciknya di Medan semalam sebelum berangkat. Esok harinya pukul 08.00 berangkat ke Belawan, pukul 10.00 pagi masuk ke kapal dan pukul 13.00 kapal Tampomas angkat sauh, berlayar menuju Tanjung Priok. Dan perjalanan panjang kehidupan di negeri rantau Pulau Jawa, Jakarta dan Bandung pun dimulai. Selamat tinggal Pematangsiantar, kota tempatnya dibesarkan, tempat ia bermanja, tempat pertama kali ia jatuh hati pada seorang perempuan teman sekelasnya, tempat bersenda gurau dan berjuang….. !!! Ia teringat lagu Madah Terakhir, ciptaan Ahmad Baki Nasution dari orkes gambus El Suraya Medan, diiringi sedikit linangan air matanya, ia bersenandung,
Jika terdengar suara adzan,
Bergema sayup menjelang pagi,
Dalam irama kukirim pesan,
sebagai tanda aku ..dah pergi……….!!!
Jangan ditanya sebab kerena,
Mengapa aku pergi menghindar
Dari nan dekat tapi merana
Elok ku jauh tinggal mendengar
Biarlah aku pergi dahulu
Tidak tertahan lagi derita
Semoga yang tinggal senyum selalu
Yang pergi hilang lenyap berita
Bila kelak daku terkenang
Kutatap bintang di malam kelam
Bila tak sanggup daku berenang
Kurelakan diri hanyut tenggelam
Jika terdengar suara adzan,
Bergema sayup menjelang pagi,
Dalam irama kukirim pesan,
sebagai tanda aku ..dah pergi……….!!!
******
Di perjalanan, selepas dari Pelabuhan Belawan, Kapal Tampomas dengan tenang berlayar mengarungi Selat Malaka, perairan Kepulauan Riau dan Tanjung Pinang, Selat Bangka dan Mentok, Selat Sunda, Laut Jawa kemudian merapat dan buang sauh di Pelabuhan Tanjung Priok.
Di perjalanan siang hari, ia melihat lumba-lumba ikut berenang timbul tenggelam mengikuti kapal, seakan-akan mengawal kapal melepas kepergiannya, dan setelah jarak tertentu mereka menghilang. Di malam hari, setelah shalat maghrib sampai menjelang shalat Isya, sebelum tidur, dilaksanakan ceramah agama, biasanya dari dan untuk penumpang kapal.
Hari kedua Tampomas singgah sebentar menurunkan
![]() |
Lumba-lumba di laut lepas |
Di perjalanan siang hari, ia melihat lumba-lumba ikut berenang timbul tenggelam mengikuti kapal, seakan-akan mengawal kapal melepas kepergiannya, dan setelah jarak tertentu mereka menghilang. Di malam hari, setelah shalat maghrib sampai menjelang shalat Isya, sebelum tidur, dilaksanakan ceramah agama, biasanya dari dan untuk penumpang kapal.
![]() |
Mentok Kelihatan dari jauh |
dan menaikkan penumpang di Tanjung Pinang di Propinsi Riau Kepulauan dan malam hari singgah juga di MENTOK, pulau
Bangka, Propinsi Sumatra Selatan. Hari ketiga, kapal memasuki perairan Selat Sunda, yang ombaknya terkenal tinggi dan besar. Karena belum pernah naik kapal laut, iapun mabuk laut dan kurang waspada. Uang yang sedikit dibawanya, hilang di kapal. Ia hampir panik, tapi untunglah temannya Rustam Siahaan yang menyertainya menenangkan hatinya. Soal hidup di Jakarta, akan mereka atasi bersama.
Bangka, Propinsi Sumatra Selatan. Hari ketiga, kapal memasuki perairan Selat Sunda, yang ombaknya terkenal tinggi dan besar. Karena belum pernah naik kapal laut, iapun mabuk laut dan kurang waspada. Uang yang sedikit dibawanya, hilang di kapal. Ia hampir panik, tapi untunglah temannya Rustam Siahaan yang menyertainya menenangkan hatinya. Soal hidup di Jakarta, akan mereka atasi bersama.
Tiga hari di perjalanan, akhir bulan Oktober 1968, kapal tiba. Gedung-gedung dari jauh kelihatan bagaikan titik, lalu lamat-lamat kelihatan wujud bangunan, diselang-seling tangan-tangan besi yang bergerak kesana kemari sedang menurunkan dan menaikkan muatan barang dari kapal yang telah lebih dulu sandar.
Lalu Kapal Tampomas melambat, dipandu kapal tugboat, buang sauh dan bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok.
Disambut oleh hiruk pikuk penjemput dan yang menawarkan alat angkut. Bersama teman-teman lain sewaktu di kapal, mereka menyewa satu mobil pick-up besar, berangkat ke alamat tujuan masing-masing dan ia sendiri bersama Rustam menuju Kramat Sentiong 17, Kantor Perwakilan Alwashliyah Jakarta, untuk menginap sementara.
![]() |
| Pelabuhan Tanjung Priok |
![]() |
| Pemandu kapal sandar |
Berjuang untuk Hidup
Keesokan harinya iapun pergi ke Jalan Tegalan mengantarkan kiriman dari Medan. Untuk bekal makan selama di Kramat Sentiong, secara diam-diam ia menjual kain sarung pemberian ayah-ibunya ketika berangkat, disekitar antara Jalan Salemba Raya, persis didepan SMA 68 Jakarta sekarang.
![]() |
SMA 68 Salemba Jakarta |
Tiga hari kemudian, bersama Rustam Siahaan, pergi menemui teman mereka, Bilson Silalahi ke Tanah Abang, tetangga di Kampung Tomuan yang telah lebih dulu ke Jakarta. Ada juga paman sepupu jauhnya Bahrum Pulungan anak neneknya yang di jalan Pattimura Pematangsiantar dulu yang tinggal di Tanah Abang ini. Setelah dijumpai, ternyata ia tidak memberi nasihat apapun. Bilson tinggal di sekitar Stasiun KA Tanah Abang dan ia minta nasehat dan saran kepadanya untuk bekerja mencari makan sehari-hari di Jakarta, berhubung uang persediaanya hilang dikapal.
Pendaftaran di ITB untuk seleksi mahasiswa dari luar Pulau Jawa akan dilaksanakan tanggal 4-6 Desember 1968. Hampir sebulan lamanya ia di Jakarta, tinggal di sekitar Stasiun KA Tanah Abang, terkadang di sekitar Gereja Advent di Jalan Salemba Jakarta Pusat, rumah Pendeta Silalahi di sana.
Sesuai nasihat Bilson, pergilah ke stasiun, lihat orang bagaimana membantu orang lain, bisa mengangkut barang yang akan dimuat ke kereta api. Atau membantu membeli tiket karcis kereta api jurusan Tanah Abang-Rangkas Bitung bagi yang memerlukan. Dari kegiatan itu ia mendapat upah sekedarnya, ia tidak pernah memaksa. Kalau ada orang yang tidak memberi upah, ia diam saja dan maklum, mungkin orang itu tidak punya uang lebihan lagi yang akan diberikan kepadanya.
Kadang ia juga berjualan roti di pasar Tanah Abang, membantu temannya. Pada setiap waktu shalat di masjid yang dekat dengan Stasiun Tanah Abang, ia tak pernah lupa untuk berdoa agar di berikan jalan keluar yang baik. Semua pekerjaan dilakukannya agar ia bisa membeli makanan sehari-harI, sebelum kiriman uang dari ayah-ibunya datang. Sampai akhirnya kiriman uang datang dan ia segera mempersiapkan diri berangkat ke Bandung, yang menjadi kota idamannya selama ini.***
Sesuai nasihat Bilson, pergilah ke stasiun, lihat orang bagaimana membantu orang lain, bisa mengangkut barang yang akan dimuat ke kereta api. Atau membantu membeli tiket karcis kereta api jurusan Tanah Abang-Rangkas Bitung bagi yang memerlukan. Dari kegiatan itu ia mendapat upah sekedarnya, ia tidak pernah memaksa. Kalau ada orang yang tidak memberi upah, ia diam saja dan maklum, mungkin orang itu tidak punya uang lebihan lagi yang akan diberikan kepadanya.
![]() |
| Stasiun KA Tanah Abang (yang lama) |
Kadang ia juga berjualan roti di pasar Tanah Abang, membantu temannya. Pada setiap waktu shalat di masjid yang dekat dengan Stasiun Tanah Abang, ia tak pernah lupa untuk berdoa agar di berikan jalan keluar yang baik. Semua pekerjaan dilakukannya agar ia bisa membeli makanan sehari-harI, sebelum kiriman uang dari ayah-ibunya datang. Sampai akhirnya kiriman uang datang dan ia segera mempersiapkan diri berangkat ke Bandung, yang menjadi kota idamannya selama ini.***
Berangkat ke Bandung
Kiriman wesel dari adiknya Kamisah, atas nama ayahanda dikirim ke alamat yang tak jelas, di Tanah Abang Jakarta, tapi sampai juga akhirnya di tangannya. Ia sendiri tak punya kenalan yang sudah mengetahui seluk-beluk kehidupan dan tujuannya datang ke Jakarta. Masalah pengambilan kiriman wessel, dibantu oleh temannya Bilson Silalahi di kantor Pos Pasarbaru Jakarta.
Karena pengalaman Bilson membantu para perantau yang akan melanjutkan sekolahnya di pulau Jawa, teman tersebutpun dapat memberi otorisasi pengambilan uang. Singkat cerita, uang diterima, dan persiapan berangkat ke Bandung dimulai.
Pembelian tiket, mengantar ke stasiun Gambir ditemani oleh Rustam Siahaan dan Bilson Silalahi, dengan pesan agar berhati-hati. Tempat kami menginap sementara di Tanah Abang, dan kadang-kadang juga diberi makan grastis, ia mengucapkan terima kasih atas bantuannya, dan pamit untuk segera berangkat ke tujuan semula, ke Bandung.
Kereta Expres Jakarta - Bandung dimasuki dan mencari tempat duduk sesuai dengan nomor pada tiket. Tidak sampai berbilang menit, peluit petugas berbunyi diiringi nada khas stasiun kereta api, untuk mempersilahkan penumpang yang masih belum memasuki kereta tujuan Jakarta - Bandung, agar segera naik ke kereta api.
Gerakan tarikan lokomotif mula-mula pelan, lalu menyesuaikan dengan gerakan gerbong yang ditarik agar tidak terjadi sentakan. Setelah semua gerbong bergerak, perlahan-lahan kecepatan disesuaikan. Lambaian tangan para pengantar lamat-lamat tak terlihat lagi, lalu lenyap tertinggal. Setelah melewati Stasiun Klender, kecepatannya dinaikkan. Tidak semua stasiun yang dilalui disinggahi, hanya stasiun besar saja. Beberapa penumpang mulai mengantuk. Sawah-sawah disepanjang jalan, di daerah Krawang-Bekasi, seakan tertinggal dibelakang. Setelah stasiun Prwakarta, kecepatan tidak lagi maksimum, karena rel keretanya masih satu antara yang datang dari dan menuju Bandung, dengan satu terowongan dan kelokan-kelaokan panjang.
Tiba di Bandung kira-kira pukul 07.00 malam, dan dengan beca menuju rumah para anggota Pengurus Alwashliyah di Jalan Pasir Kaliki no. 175 Bandung. Karena belum kenal lapangan, ia berani saja berkorban naik becak dari stasiun ke Pasir Kaliki 175 itu. Setelah mengetahui alamat dan para penduduk setempat menunjukkan rumah Pasir Kaliki 175, dan setelah yakin penghuninya adalah anggota Alwashliyah, ia tidak langsung mengetuk pintu, tapi tidur didepan pintu, sambil menunggu waktu subuh. Sebelum subuh ia sudah bangun menanti tuan rumah keluar utk shalat. Esok paginya, ia pun diterima oleh pimpinan yang tertua di sana, Bang Mukti Ritonga. Selain itu ada Bang Gahara Nauli Rambe, ada Bang Mahyudin Rambe, Bang Suhaemi dan Ibrahim Ritonga. dan ia dititip dikamar bang Suhaemi, orang Rantau Perapat.
![]() |
| Kantor Pos Pasar Baru Jakarta |
Pembelian tiket, mengantar ke stasiun Gambir ditemani oleh Rustam Siahaan dan Bilson Silalahi, dengan pesan agar berhati-hati. Tempat kami menginap sementara di Tanah Abang, dan kadang-kadang juga diberi makan grastis, ia mengucapkan terima kasih atas bantuannya, dan pamit untuk segera berangkat ke tujuan semula, ke Bandung.
Kereta Expres Jakarta - Bandung dimasuki dan mencari tempat duduk sesuai dengan nomor pada tiket. Tidak sampai berbilang menit, peluit petugas berbunyi diiringi nada khas stasiun kereta api, untuk mempersilahkan penumpang yang masih belum memasuki kereta tujuan Jakarta - Bandung, agar segera naik ke kereta api.
Gerakan tarikan lokomotif mula-mula pelan, lalu menyesuaikan dengan gerakan gerbong yang ditarik agar tidak terjadi sentakan. Setelah semua gerbong bergerak, perlahan-lahan kecepatan disesuaikan. Lambaian tangan para pengantar lamat-lamat tak terlihat lagi, lalu lenyap tertinggal. Setelah melewati Stasiun Klender, kecepatannya dinaikkan. Tidak semua stasiun yang dilalui disinggahi, hanya stasiun besar saja. Beberapa penumpang mulai mengantuk. Sawah-sawah disepanjang jalan, di daerah Krawang-Bekasi, seakan tertinggal dibelakang. Setelah stasiun Prwakarta, kecepatan tidak lagi maksimum, karena rel keretanya masih satu antara yang datang dari dan menuju Bandung, dengan satu terowongan dan kelokan-kelaokan panjang.
![]() |
| Perjalanan KA Jakarta Bandung (sumber: javamilk.com) |
Bang Mukti menjelaskan, bahwa kalau mau ke ITB, yang sekolah dari STM harus punya pengalaman kerja 2 tahun, baru boleh mendaftar. Dengan menunjukkan peraturan itu, ia akhirnya tidak mendaftar kesana, dan Bang Suhaimipun ditunjuk untuk menemani, mencari sekolah yang tepat.
***









Tidak ada komentar:
Posting Komentar