Lanjutan Buku Ratna Mutu Manikan (1)
Bandung, 24 Januari 2011 Senin.
Hujan deras yang turun tadi malam, sebentar berhenti, lalu turun lagi. Derasnya berkurang namun lama, gerimis sejak fajar sampai menjelang pagi. Ketika semburat merah sinar fajar di ufuk Timur datang, perlahan tapi pasti, melepas selimut malam, mengusir awan, rintik renainya masih ada. Dan akhirnya berhenti.
Prolog
PAGI YANG INDAH
In the name of Allah
Most Gracious, Most Merciful
By the token of Time (through the age)
Verify Man is in loss
Except such have a Faith, and do righteous deeds, and
(Joint together) in the mutual teaching of truth
And of Patience an Constancy
(QS Al Asr, 1:3)
Hujan deras yang turun tadi malam, sebentar berhenti, lalu turun lagi. Derasnya berkurang namun lama, gerimis sejak fajar sampai menjelang pagi. Ketika semburat merah sinar fajar di ufuk Timur datang, perlahan tapi pasti, melepas selimut malam, mengusir awan, rintik renainya masih ada. Dan akhirnya berhenti.
Matahari lamat-lamat muncul, lalu bolanya berangsur-angsur tampak jelas sempurna, merah karena masih pagi. Cerah dan terang datang, gerimis dan samar gelap kemudian menghilang.
Hujan itu masih menyisakan bintik air di dedaunan. Begitu pula pada ujung-ujung daun bambu di pinggir jalan. Bintik air itu bersinar memantulkan sinar mentari pagi, indah bagaikan beribu intan berbentuk bola-bola kristal, berserakan di ujung-ujung daun bambu pringgodani. Tak lama, hanya berbilang menit, angin datang bertiup pelan. Daun-daun bergerak lembut, bintik-bintik air ikut terlepas dari dedaunan lalu jatuh ke tanah. Tak ada lagi pantulan indah itu. Yang ada tinggal pohon yang kembali tegak, karena beban air di daun-daunnya itu telah luruh, dienyahkan oleh angin dan waktu. Selazim proses peristiwa stokastik, untuk esok datang lagi, dengan keadaan yang bisa saja sama atau bebeda dengan hari ini, tergantung musim, tergantung alam, tergantung waktu dan aturan dan kehendakNYA.
Rumah Jalan Cicalengka Raya 49, Bandung
Salah satu pohon palem raja kembar di depan rumah, pelepah pucuk daun mudanya sedang merekah. Warnanya berbeda, karena masih muda, hijau cerah kekuning-kuningan, kini sedang memancarkan pesonanya. Seekor burung cucak rawa, entah datang dari mana, tiba-tiba hinggap di pelepah daun yang sudah lebih tua, tak lama, menggelengkan kepala melihat kanan dan kiri, kemudian terbang lagi, pergi. Tandan pohon buah yang sudah tua dan yang masih muda bergelantungan, dari yang masih mayang terurai sampai buahnya yang ranum, dipersiapkan untuk jatuh ketanah. Beberapa buah yang jatuh lebih dulu telah tumbuh, kecil, bersiap untuk menggantikan pohon besar yang tua yang segera mati dimakan usia.
Pohon hanjuang merah tumbuh di halaman sudut rumah. Sebagian pagar halamannya ditanami teh-tehan, sebagian lagi dengan pohon mahkota dewa. Di sana-sini tumbuh pohon kembang perdu wali songo, teronggok rapih. Lalu ada palem udang, palem merah, bersama serumpun suplir dan bunga tandan pisang-pisangan. Bunganya berwarna merah dan kuning, sering dihinggapi burung penghisap madu. Sebatang pohon rambutan dan sebatang pohon lengkeng muda berdiri megah di sana, tumbuh subur dengan daun-daunnya yang hijau, menyejukkan.
Burung tekukur datang, hinggap di salah satu pelepah daun, lalu berkicau, bernyanyi memanggil pasangannya yang hinggap dipohon beringin di dekat masjid belakang rumah. “Dur ku kuuu, dur kur kuu. Dur ku kuuu kuu ku”, berulang-ulang, suaranya bergema, menggetarkan udara sampai berpuluh-puluh meter kesekeliling.
Pasangannya datang, hinggap di dahan lalu saling menggeser mendekat, kemudian terbang menjauh, pergi entah kemana, berdua. Beberapa saat kemudian pasangan tekukur yang lain hinggap lagi. Di kejauhan di atas pohon beringin terdengar burung tekukur lain bernyanyi. Ditingkah suara sepasang burung cucak rawa, yang saling memamerkan suara. Pagi yang indah.
Hujan dan bintik air, angin, terang, cerah dan gelap, tumbuh, mati dan waktu, selalu dengan setia melukis alam, menggambar kehidupan, tak pernah surut tak hendak berhenti. Siang dan malam terus saling menanti. Tak ada yang bisa melawan waktu. Musim kemarau datang dan pergi. Cerah berganti gelap, terang berubah samar redup. Ada yang pulang, ada yang pergi dan ada pula yang datang. Ada yang tumbuh ada pula yang mati. Datang dan pergi, silih berganti, selalu berubah dari hari kehari. Bergelombang, tak pernah datar, bagaikan gambaran kehidupan, ada pendakian, ada penurunan, ada datar dan ada pula belokan. Ada kalanya senang ada pula kalanya susah. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Life is always changing, never plat. Hidup terus berubah, dari waktu ke waktu, tak pernah tetap datar.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Kehidupan selalu berubah, tak pernah tetap. Begitu Allah SWT memperingatkan dengan ayat kauliyahNya. Demi waktu, manusia akan merugi, kecuali yang beriman, beramal saleh dan berbuat kebajikan, saling mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran.
Sejak aku dilahirkan, sampai kini sudah berusia menjelang senja, lukisan kehidupan itu tersamar datang ke pelupuk matanya untuk minta dituliskan. Agar bisa di buat sebagai pedoman, paling tidak buat dirinya sendiri, sebagai penambah semangat hidup, kenangan buat keluarga atau siapa saja, mengingat kembali janjinya kepada Allah yang pernah terucap, baik dikala berdoa atau pada keadaan menyendiri. Dan halaman ini adalah permulaan tulisan itu.
Tentang kehidupan masa kecilnya mengasuh adik, tentang sekolahnya ketika masih di SD atau SR, Sekolah Rakyat. Begitu juga ketika di Sekolah Teknik, Sekolah Teknik Menengah, masa-masa kuliahnya dan sampai masa-masa ketika dia bekerja. Cerita tentang masa kecilnya, perjalanannya menuju dewasa, tentang kegiatannya selain sekolah dan terutama kissah percintaannya. Kisah yang banyak menarik perhatian siapa saja, mengapa ia bisa sampai berhasil mencapai cita-citanya. Dan bagaimana perjuangannya untuk meraih itu semuanya. Bagaimana Allah SWT itu membimbing langkahnya, sejak ia masih sangat muda, masih sekolah dasar. Bagaimana Allah mengarahkan langkah-langkah kakinya, dengan ketakjubannya akan keindahan alam, ayat-ayat kauniyahNya. Semuaya terekam dalam benaknya, terekam bagaikan RATNA MUTU MANIKAM dalam MERAJUT IMPIAN Menggapai Cita-cita. Bagaikan mutiara berserakan di dalam sajadah panjang waktu kehidupannya. Dari laman Pematang-siantar sampai Bandung. Itulah judul tulisan ini.
Hujan itu masih menyisakan bintik air di dedaunan. Begitu pula pada ujung-ujung daun bambu di pinggir jalan. Bintik air itu bersinar memantulkan sinar mentari pagi, indah bagaikan beribu intan berbentuk bola-bola kristal, berserakan di ujung-ujung daun bambu pringgodani. Tak lama, hanya berbilang menit, angin datang bertiup pelan. Daun-daun bergerak lembut, bintik-bintik air ikut terlepas dari dedaunan lalu jatuh ke tanah. Tak ada lagi pantulan indah itu. Yang ada tinggal pohon yang kembali tegak, karena beban air di daun-daunnya itu telah luruh, dienyahkan oleh angin dan waktu. Selazim proses peristiwa stokastik, untuk esok datang lagi, dengan keadaan yang bisa saja sama atau bebeda dengan hari ini, tergantung musim, tergantung alam, tergantung waktu dan aturan dan kehendakNYA.
Rumah Jalan Cicalengka Raya 49, Bandung
Salah satu pohon palem raja kembar di depan rumah, pelepah pucuk daun mudanya sedang merekah. Warnanya berbeda, karena masih muda, hijau cerah kekuning-kuningan, kini sedang memancarkan pesonanya. Seekor burung cucak rawa, entah datang dari mana, tiba-tiba hinggap di pelepah daun yang sudah lebih tua, tak lama, menggelengkan kepala melihat kanan dan kiri, kemudian terbang lagi, pergi. Tandan pohon buah yang sudah tua dan yang masih muda bergelantungan, dari yang masih mayang terurai sampai buahnya yang ranum, dipersiapkan untuk jatuh ketanah. Beberapa buah yang jatuh lebih dulu telah tumbuh, kecil, bersiap untuk menggantikan pohon besar yang tua yang segera mati dimakan usia.
![]() |
Gambar 1. Halaman Rumah Jalan Cicalengka Raya 49 Bandung |
Burung tekukur datang, hinggap di salah satu pelepah daun, lalu berkicau, bernyanyi memanggil pasangannya yang hinggap dipohon beringin di dekat masjid belakang rumah. “Dur ku kuuu, dur kur kuu. Dur ku kuuu kuu ku”, berulang-ulang, suaranya bergema, menggetarkan udara sampai berpuluh-puluh meter kesekeliling.
Pasangannya datang, hinggap di dahan lalu saling menggeser mendekat, kemudian terbang menjauh, pergi entah kemana, berdua. Beberapa saat kemudian pasangan tekukur yang lain hinggap lagi. Di kejauhan di atas pohon beringin terdengar burung tekukur lain bernyanyi. Ditingkah suara sepasang burung cucak rawa, yang saling memamerkan suara. Pagi yang indah.
Hujan dan bintik air, angin, terang, cerah dan gelap, tumbuh, mati dan waktu, selalu dengan setia melukis alam, menggambar kehidupan, tak pernah surut tak hendak berhenti. Siang dan malam terus saling menanti. Tak ada yang bisa melawan waktu. Musim kemarau datang dan pergi. Cerah berganti gelap, terang berubah samar redup. Ada yang pulang, ada yang pergi dan ada pula yang datang. Ada yang tumbuh ada pula yang mati. Datang dan pergi, silih berganti, selalu berubah dari hari kehari. Bergelombang, tak pernah datar, bagaikan gambaran kehidupan, ada pendakian, ada penurunan, ada datar dan ada pula belokan. Ada kalanya senang ada pula kalanya susah. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Life is always changing, never plat. Hidup terus berubah, dari waktu ke waktu, tak pernah tetap datar.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Demi waktu,
Sesungguhnya manusia itu ada dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman,
Yang beramal saleh atau berbuat kebajikan,
Saling mengingatkan akan kebenaran,
Dan saling mengingatkan akan kesabaran, (QS Al Asr: 1-3)
Sejak aku dilahirkan, sampai kini sudah berusia menjelang senja, lukisan kehidupan itu tersamar datang ke pelupuk matanya untuk minta dituliskan. Agar bisa di buat sebagai pedoman, paling tidak buat dirinya sendiri, sebagai penambah semangat hidup, kenangan buat keluarga atau siapa saja, mengingat kembali janjinya kepada Allah yang pernah terucap, baik dikala berdoa atau pada keadaan menyendiri. Dan halaman ini adalah permulaan tulisan itu.
Agar terarah, ia menuliskan karangan ini dengan penjelasan judul, mengapa ia penting diuraikan, dituliskan dan dicatatkan. Lalu catatan kegiatan dan peristiwa apa yang diperlukan, bagaimana memperolehnya, bagaimana ia dibuat menjadi tulisan yang menarik. Hasilnya adalah tulisan pendorong semangat atau motivasi dan kenangan yang berguna untuk menjadi acuan dan petunjuk bagi siapa saja kelak yang membutuhkan.
Gambar 2. Pohon Palem Kembar dan Wali Songo di depan rumah
Gambar 2. Pohon Palem Kembar dan Wali Songo di depan rumah
Yang secara tidak disadarinya, Allah telah membimbingnya untuk menetapkan tugas pokoknya di dunia, dan bagaimana tugas pokok itu terurai menjadi tugas dari hari kehari, bulan kebulan, tahun ketahun, bahkan sampai berpuluh tahun kemudian. Ketika kecil ia merasa harus membantu kedua orang tuanya mengasuh adik-adik, ketika sudah besar, sesuai petuah ibunya, ia harus menjadi orang pintar. Ia telah mencatatkan cita-cita masa depannya. Dari sana iapun telah mencatatkan apa saja yang harus dikerjakannya untuk mencapai cita-citanya itu. Ia telah mengurainya satu persatu, dimana dia sekarang, hendak kemana ia pergi dan apa yang harus ia capai, dan bagaimana mencapainya. Para arif budiman dan bijak bestari konon mengatakan, ia telah berhasil merumuskan visi dan misinya. Kalau sekarang banyak anak SD yang sudah mulai menyenangi lawan jenisnya, wajar karena banyak faktor stimulus yang datang dari media elektronik, televisi, radio dan media cetak yang sangat kuat. Akan tetapi, ketika saat itu, televisi belum ada, koran masih jarang dibacanya. Namun demikian, ketika sejak usia sangat dini, ia sudah di latihNya menghadapi cinta, atau kesenangannya akan seorang perempuan sekelasnya, yang membuatnya berpeluh sakit dan bersimbah air mata. Yang kelak, ketika datang godaan serupa, ia sudah berpengalaman, dan sudah tidak begitu mengganggu pikirannya. Walaupun tetap masih terasa sangat menyakitkan, tapi tidak sampai bersimbah-derita, karena sudah pernah diberiNya suntikan vaksinasi anti cinta buta. Yakni jatuh cinta ketika masih usia sangat muda, kelas enam Sekolah Dasar. Ia juga diberkahi dengan adanya pembimbing tidak resmi, pembimbing khusus yang mendorongya untuk melihat bagaimana pergaulan keluarga yang baik. Tetangganya, gurunya, masih ada hubungan famili yang jauh, Bapak Abdul Hamid Simbolon tidak ragu-ragu membawanya ke tempat yang baik perilakunya, baik budi pekertinya dan baik pula tutur bahasanya. Ia dapat melihat dan berhubungan langsung, sehingga ia bisa merubah sedikit-demi-sedikit untuk berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Ia menjadi pribadi yang Be myself, pribadi yang dari ke hari semakin membaik, bukan yang berarti Be unchanging myself, pribadi yang tidak mau berubah.
Pelajaran yang diperolehnya dari organisasi pelajar, banyak membantunya dalam pergaulan sehari-hari. Ia mendapatkan latihan-latihan berguna untuk kesempurnaan pergaulan hidupnya dari banyak orang. Tentang lingkungan hidupnya, tentang keadaan bangsa dan negaranya. Tentang kepemimpinan dan manajemen, dan bagaimana merumuskan masa depannya. Tertutama tentang budi pekerti, dan cara bergaul sehari-hari yang baik menurut agama Islam, pergaulan yang Islami. Tentang persiapan berumah tangga. Hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah, terutama praktek langsung.
Waktu berjalan terus, berdetak tak terdengar dan berdetik tak terasa. Terutama bagi seseorang dalam keberhasilan, kegembiraan dan kesenangan. Tapi cepatnya detik-detik berbunyi serasa lambat dan pelan tak tertahankan ketika merasa rindu, ketika gelisah, ketika kita diburu waktu penyelesaian tugas tertentu, ketika dalam susah dan hati yang gundah gulana. Dan pada saat telah mempunyai rencana untuk segera mengatasi kesusahan dan berharap segera berhasil menggapai cita-cita. Kegigihannya untuk mencapai cita-citanya selama ini tak perlu diragukan lagi. Termasuk menuliskannya sekarang dan menyelesaikan tulisan ini. Sumbernya adalah dirinya sendiri, hasil kekagumannya akan keindahan alam, hasil perburuannya terhadap presentasi motivasi pendorong semangat, beberapa laman internet dan adik-adiknya sendiri.
Untuk membangkitan lagi ingatannya saat ia masih Sekolah Dasar, ia mencari lagi lagu Rura Silindung, lagu yang amat disukainya, karena mengandung dendang tentang keindahan alam, megingatkannya kembali ketika masih kecil dan ketika mengasuh adik-adiknya. Dan terakhir kalinya, ia melihat sawah peninggalan ayah dan nenek mereka di kampung Tomuan, Kampung Lapangan Bola, sawah yang pernah digarap ibunya ketika masih hidup. Berikut sungai kecil sumber pengairan sawah yang airnya tidak pernah surut dan rimbunan pohon bambu yang masih setia tetap tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga tidak sukar baginya menuliskan kenang-kenangannya ketika ia harus membantu ibunya.
Ketika masih di ST, Sekolah Teknik Negeri Pematangsiantar, ia banyak menonton pertunjukan band-band lokal yang banyak melantunkan lagu-lagu The Beatles. Untuk lagu-lagu Koes Bersaudara ia sering menonton film yang melantunkan lagu-lagu itu di bioskop Riang. Ketika kini lagu itu diunduh dari internet dan diputar ulang untuk mengenang kembali masa-masa itu, ia dapat mengingatnya dan menuliskannya dengan lancar. Di sekolah teknik ini ia mempunyai seorang guru perempuan yang menurutnya sangat cantik, dijadikannya pelajaran untuk menentukan perempuan yang cantik itu yang bagaimana sebenarnya. Guru atau Encik Hutapea namanya, dijadikannya contoh perempuan yang menjadi idaman hatinya kelak.
Pada masa-masa ketika masih di STM, Sekolah Teknik Menengah, ia sudah mulai dewasa dan banyak aktif di organisasi extra, yang jarang dilakukan oleh pelajar saat itu. Di awal pembukaan tulisan ini ia menggunakan tulisan Al Qur’an Surat Al Asr dalam Bahasa Inggris, selain sebagai dasar dalam menggunakan waktu, juga untuk mengingatkan kembali kemampuan Bahasa Inggrisnya ketika lulus dari kursus Bahasa Inggris di Pematangsiantar. Teman sekelasnya ada beberapa orang perempuan, iapun sudah mulai menyenangi perempuan, namun karena tingkat kedewasaan dan ukuran fisik yang sangat jauh berbeda, ia tidak terpengaruh sama sekali. Ia merasa, dan teman perempuannya juga memperlakukannya sebagai anak yang masih kecil. Ia bagaikan liliput di sisi raksasa perempuan. Hanya seringkali dijadikannya pertanyaan, dalam dirinya atau bahkan kepada gurunya, kenapakah gerangan ukuran fisiknya selalu yang terkecil dikelas maupun di sekolah.
Allah SWT telah menakdirkannya selalu bergaul dengan orang-orang yang baik dan saleh yang dekat dengan agama Islam, orang madrasah Alwashliyah, Muhammadiyah, anak para ustadz dan calon ustadz di Pematangsiantar. Ketika ia aktif di Organisasi IPA, Ikatan Pelajar Alwashliyah, hanya dirinyalah yang dari Sekolah Teknik Menengah, Sekolah Umum. Lagu Selimut Putih dan Madah Terakhir dari Orkes Gambus El Suraya Medan diputar ulang untuk mengingat dan menuliskannya kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi, di sekolah, organisasi maupun ketika bersama keluarga.
Masa-masa ketika ia berangkat ke pulau Jawa dan peristiwa kuliah yang membelok dan beralih ke UPI/IKIP dulu, lalu bekerja di Telkom, ia masih hapal, berhubung banyak peristiwa istimewa disitu, termasuk peristiwa sebelum dan sesudah menikah. Terutama pada masa inilah cintanya berlabuh di Bandung, kepada seorang wanita muslimah yang cantik luar dalam, fisiknya maupun batinnya, bidadari ciptaan Tuhan yang disiapkan khusus untuknya. Begitu juga ketika ia bekerja di Telkom Jakarta, bagaimana perjuangannya sampai ia lulus mencapai gelar insinyur dari STTN/ISTN Yayasan Perguruan Cikini Jakarta sampai ujian negara. Demikian juga ketika ia memimpin di Operasional sekolah ITT/STT Telkom, kesibukannya mengajar, meneliti dan membimbing mahasiswa, ia mengambil kuliah tingkat S2 di ITB, dan lulus tepat waktu. Tahun 1995 ia pernah mengikuti kursus ISDN/New Telecommunication System selama tiga setengah bulan di Paris, Perancis, yang banyak digunakannya untuk menulis tentang Bandung sebagai Paris van Java. Selanjutnya ia meminta pensiun dini dari Telkom dan bekerja di Telkomsel, masih segar dalam ingatannya karena ia sangat banyak berperan dalam pengembangan Telkomsel di tahun-tahun awal berkiprah, sampai ia pensun lagi.
Begitulah caranya ia menuliskan semua kejadian dan peristiwa yang diturunkan dalam tulisan ini. Dengan demikian diharapkan semua tidak terlalu jauh dari keadaan yang sebenarnya. Kalaupun ada pembetulan di sana-sini, itu adalah untuk kesinambungan cerita agar enak dibaca dan perlu.
Tulisan ini ia tujukan kepada siapa saja, bagi yang ingin mengelola kehidupan masa depan, terutama kepada adik-adiknya, keponakan-keponakan baik dari adik kandungnya maupun adik iparnya, yang selama ini masih belum jelas dan menjadi jawaban bagi mereka, kenapa ayah-ibunya yang pendidikannya tidak lulus SD, akhirnya ia bisa mencapai cita-citanya, bisa sekolah setingkat sarjana teknik, insinyur bahkan master. Tulisan ini juga menjelaskan bagaimana semangat hidupnya meraih cita-cita sejak sekolah dasar yang ingin bersekolah hingga perguruan tinggi, dari UPI/IKIP, Pendidikan Akhli Telekomuniaksi berlanjut ke STTN/ISTN Cikini dan terakhir di Program Pascasarjana ITB.
Semuanya berdasarkan petunjuk dan bimbinganNya, kepada ayat-ayat kauniahNYa, kepada keindahan alam semesta. Juga berdasarkan kepada ayat-ayat kauliyahNya, perintah dan larangannya dan latar belakang sejarah. Yang menjadi landasan untuk bergerak, berpetualang dan berjuang mengarungi kehidupan dalam lingkungan alam Indonesia, terutama lingkungan dan perkotaan Jakarta dan Bandung. Dari laman Pematangsiantar, pulau Sumatera dan berakhir di Bandung, pulau Jawa.
Yang kelak bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan semangat dalam perjuangan merangkai hidup dan meraih cita-cita, mengelola hidup dan merencanakan masa depan, bagi siapa saja, terutama kepada generasi muda Indonesia, yang mau dan ingin menggunakannya sebagai bahan dan acuan untuk membangun negara dan bangsanya, Indonesia di masa depan, yang tidak mengenal putus asa, yang selalu yakin akan adanya pertolongan dari Yang Maha Pelimpah Ramat dan Penebar Kasih SayangNya.
.......
******

Tidak ada komentar:
Posting Komentar