Lanjutan cerita Ratna Mutu Manikam (4)
SEKOLAH DASAR
Pada saat berumur tujuh tahun ia di daftarkan ke sekolah SD swasta di depan rumah Nenek Dahlan yang dijalan Pattimura. Kelas satu SD, ia belum mengerti apa-apa, kecuali menangis, untuk menyatakan maksudnya. Karena ayah-ibunya tidak bisa menemaninya di sekolah, maka kalau ia akan ingin melakukan sesuatu terutama jika ingin buang air, ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ia hanya menangis, tidak ada yang mengerti. Satu bulan lamanya keadaan itu terus menerus terjadi. Bulan kedua ia diingatkan ibunya, jika ingin sesuatu, katakan kepada encik guru. Setelah itu barulah keadaan membaik. Ia mulai bisa menyesuaikan diri. Tak lama kemudian, tidak sampai setahun, sekolah itu bubar, tidak jelas penyebabnya apa. Mungkin izinnya belum ada. Atau pengurusnya sudah tidak bisa bekerja bersama lagi. Lalu ia pun didaftarkan ke sekolah negeri, tapi telah terlambat, iapun harus menunggu. Tahun depannya barulah ia bisa menikmati sekolah di SD Negeri. Hatinya gembira bukan alang kepalang dan senangnya bukan main.
Sekolah di kampung halaman semasa kecil di Pematangsiantar memang sangat menyenangkan. Ia sangat menyenangi alam sekitar rumah dan sekeliling sekolahnya. Sekolah SD Negeri 18 (waktu itu namanya adalah sekolah rakyat, SR) tempat dimana ia bersekolah, dibangun sederhana dan bersahaja, tapi waktu itu sudah cukup baik. Salah satu tempat sekolah SD terbesar saat itu, karena di tempat lain di sekitar kampung-kampung terdekat belum ada sekolah seperti sekarang. Muridnya sangat banyak sehingga ada empat sekolah dasar yang bertempat di sekolah ini. Atapnya terbuat dari seng, berlangit-langit papan, dindingnya dari papan terpilih dicat putih luar dalam. Lantainya sudah disemen. Lapangan bermainnya sangat luas, ada satu setengah kali luas lapangan sepakbola. Lapangan ini sudah ditata sederhana tapi rapi. Pagarnya lamtoro gung, ada lapangan tanah khusus untuk bermain yang perlu lapangan mendatar dan tidak ditumbuhi rumput, seperti bermain kelereng dan lain-lain. Ada lapangan khusus untuk upacara, lengkap dengan tiang benderanya. Kelasnya ada duabelas, ruang kantor ada empat dan kakus atau WC juga sudah tersedia. Bangku sekolahnya khas jaman dahulu, meja dan bangku untuk dua orang, terbuat dari papan yang cukup tebal. Papan tulisnya masih bercat hitam yang belum ada cacadnya, sehingga kalau dipakai menulis masih sangat jelas. Meja guru tersedia dengan meja kerja yang kuat, dan satu lemari untuk menyimpan segala peralatan kelas.
![]() |
Cempedak |
Yang ada disekitarnya adalah hutan semak belukar diselingi beberapa pohon kelapa, petai, mangga, cempedak, manggis, salak, jambu pasir atau jambu kelutuk, jambu air dan jambu bol.Ada pohon durian. Ada juga pohon zirsak, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai durian Belanda. Disana sini tumbuh petai cina dan pohon tebu. Tebu merah ini rasanya manis dan segar.
![]() |
Pohon Sirsak |
Bermacam burung sering hinggap di sini, terutama dipagi hari, saat tinggi matahari di ufuk Timur masih sepenggalah sampai tepat diatas ubun-ubun, atau pukul setengah tujuh pagi sampai pukul sebelas menjelang siang.
![]() |
Gamar 23. Burung Kacer |
![]() |
Gambar 22. Burung Punai |
Ada burung punai, burung murrai, burung kacer, burung perkutut, burung tekukur, burung pipit dengan sarangnya, kadang ada berpasang-pasang burung cucak rawa. Para murid sering menyebutnya burung cerocok. Sesekali muncul juga monyet, terutama pada musim buah mangga dan sekolah sedang libur.
![]() |
Gamar 24. Tupai Dahan |
![]() |
Gambar 25. Tupai Kelapa |
Pada waktu musim mangga, buahnya sangat lebat, tetapi karena tidak ada yang memanen, buahnya banyak berjatuhan ke halaman sekolah, ada yang masih baik matang di pohon, tapi kebanyakan bekas dimakan tupai, kalong dan kadang-kadang monyet atau busuk di atas pohon. Sesekali ada juga anak-anak yang memanjatnya untuk mengambil buah mangga ini, tapi tidak banyak karena batang pohonnya besar, dahan dan rantingnya rimbun sehingga sukar mengambil buahnya tanpa alat khusus berupa galah bambu. Galah bambu ini yang ujungnya dianyam bagaikan keranjang kecil untuk menampung buah-buahan yang dikait. Ketika buah mangga terlepas dari rantingnya akibat kaitan galah, lalu jatuh ke dalam keranjang ini. Di bawah pohon ini murid sering bermain-main, diantaranya bermain kelereng, agar tidak diterpa panas sinar matahari siang hari.
![]() |
Gambar 26. Pohon mangga berbuah |
![]() |
Gambar 27. Pohon Rambutan Hutan |
![]() |
Gambar 28. Sarang burung Tempua |
Kira-kira satu jengkal, lima belas sentimeter panjangnya, bergaris tengah enam sampai tujuh sentimeter. Lalu membelok ke kiri atau ke kanan masing-masing membesar kearah salah satu sisi kurang lebih sampai satu jengkal, tempat burung itu bertelur dan bernaung di malam hari. Lalu mengkerucut ke atas yang panjangnya juga kira-kira duapuluh lima sentimeter. Sarang ini bergantung pada pelepah kelapa, atau bisa juga di dahan pohon lain. Biasanya titik simpul gantungan agak mendekat kearah batang, dengan tali anyaman yang dikerjakan oleh burung tempua itu sendiri. Kalau digambarkan terlihat seperti gambar 14 di atas. Sarang berung tempua di alam terlihat pada gambar 15. Panjang tali gantungan bisa sampai lebih dari empat puluh sentimeter yang juga dianyam oleh burung ini dari bahan rerumputan dan ilalang. Kalau angin bertiup kencang, sarang inipun ikut bergoyang sesuai irama tiupan angin yang menerpa pelepah pohon kelapa atau batang pohon. Tidak terlampau besar goyangannya karena sarang ini bergantung di pelepah yang dekat dengan batang tapi aman dari gangguan binatang lain. Secara instink atau naluriah, burung ini memilih pelepah kelapa yang seumur dengan usia sarang atau usia burung itu sendiri. Sarang yang sudah usang dan tak terpakai lagi, akan jatuh bersama jatuhnya pelepah daun kelapa yang tua.
![]() |
Gambar 29. Sarang burung tempua di alam bebas |
Burung-burung ini sudah langka dan sudah jarang, bahkan tidak pernah lagi kelihatan di Pematangsiantar. Kalaupun ada hanya di hutan dan kampung di sekitar Kabupaten Simalungun atau wilayah Sumatera lainnya. Ia pernah melihat sarang burung tempua di hutan belantara di pinggir jalan Pekanbaru-Taluk Kuantan, Propinsi Riau, saat bertugas disana tahun 1987 silam. Populasinya banyak terdapat di Sumatra Timur yang berbatasan dengan Propinsi Riau. Di sepanjang jalan dari Kota Pinang ke Bagansiapiapi kita dapat menikmati pemandangan sarang burung tempua bergelantungan di pohon kelapa atau kelapa sawit.
******










Tidak ada komentar:
Posting Komentar