Jumat, 16 Agustus 2019

SEKAPUR SIRIH, pengantar cerita novel RMM

SEKAPUR SIRIH

SEKAPUR SIRIH, pengantar

Bismillaahirohmaanirrohiim,
Dengan namaMu, dan Alhamdulillah, segala puji yang maha tingi hanya untukMu, yang dengan selalu menyebut dan memuji asmaMu ketika memulai sesuatu pekerjaan, buku RATNA MUTU MANIKAM, MERAJUT IMPIAN MENGGAPAI CITA-CITA ini telah selesai ditulis, untuk mendorong semangatku, mengingatkan janji-janji yang pernah kuucapkan dan kusampaikan kepadaNya. Dan menjaga keteguhan imanku ketika kubaca. Juga demi memenuhi permintaan adik-adikku, terutama istriku Siti Nurhayati, anak-anakku Anwar Rizal, Dian Hidayati dan Emil Hilman M, adikku Kamisah, Zuliah, Zahara, Halimah, Nurbaya dan Rahim. Dorongan dan juga desakan dari beberapa sahabat dan teman-temanku yang menginginkannya. Mereka semuanya telah menunggu, untuk dijadikan motivasi dan dorongan semangat, dijadikan acuan kelak ketika ada kejadian yang sama atau yang hampir sama.
Inilah sekapur sirih sebagai pengantar tulisanku ini. Dari semua apa yang telah kucapai ketika itu, barangkali pertanyaan mendasar yang perlu diajukan kepadaku adalah: Dari negeri manakah engkau datang? Siapakah gerangan kedua orangtuamu, sehingga engkau bisa berfikir dan bertindak seperti yang telah engkau lakukan? Apakah yang terjadi sebenarnya atau bagaimanakah engkau bisa merumuskan cita-citamu atau mimpi-mimpimu? Dan kau buat langkah-langkah menyiasati atau langkah strategis yang kau rencanakan? Doa-doamu? Bagaimana ketika engkau masih berusia sangat muda, masih SD, engkau bisa menemukan rumus ajaib ini: sadar keadaanmu ketika itu, menuliskannya dalam-dalam di ingatanmu, apa yang engkau ingin capai, bagaimana engkau mencapainya kelak dan selalu engkau pergunakan sebagai petunjuk perjalanan, sebagai pedoman ketika sedang bergerak menuju cita-cita. Rumusan cara yang engkau gunakan sebagai pedoman atau kompas di siang hari, engkau gunakan sebagai suluh penerang ketika malam hari.  Tidak ada yang mengajarimu. Semua terjadi secara alamiah saja. Kenapa bisa sampai engkau berhasil mencapai cita-citamu setinggi ini? Siapakah gerangan yang menggerakkan langkah-langkahmu, menciptakan lingkunganmu di setiap masa pertumbuhanmu yang demikian teratur, yang membimbingmu terus menerus agar tidak terjerumus kedalam kegagalan yang lebih dalam? Orang tuamu, jelas tidak mungkin, pendidikan dan pengetahuan mereka terbatas. Pertanyaan yang sukar dijawab, karena aku bukanlah anak dari orang tua yang bijak bestari, dan arif bijaksana atau pintar. Aku hanyalah anak seorang petani miskin atau pedagang kelas sangat bawah, yang kalau ditarik lebih dalam lagi, keluarga kami adalah ibarat pencari rejeki, dicari pagi dimakan petang, esok lusa demikian lagi, jarang bersisa, bahkan lebih sering kurang. Tetapi ibuku,  pernah berpesan kepadaku, agar aku bisa membantu ayah dan ibuku, agar aku menjadi orang pintar. Doa ibu, biasanya menjadi kenyataan. Sehingga aku pernah mendengar dengan telingaku sendiri, ketika aku pulang dua minggu sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir,  
“Kau macam emas yang jatuh dari langitnya kau Nurain kepada kami”, kata ibu,
“Dulu ketika kau masih kecil, kami, ayah dan emakmu merokok, tapi kau tak terpengaruh, sampai sekarangpun kau tak merokoknya. Kau bisa menjadi contoh buat adik-adikmu semua. Apapun yang kejadian, adik yang pernah dekatmu, insya Allah semua berhasil menjalankan kehidupannya”, tambahnya, dalam percakapan panjang kami di siang itu.
Dalam hal ini aku hanya diam saja. Yang aku tahu, semua peristiwa dan kejadian yang menimpa diriku, selalu mengarah kepada pencapaian cita-cita dan mimpiku itu. Tanpa aku sadari, mungkin inilah hidayah terbesar yang di limpahkan Allah kepadaku. Aku bertindak secara terbimbing oleh sekolahku di SD, oleh pengajianku di masjid yang tidak pernah aku lalaikan, oleh guru-guru dan ustadz teman-temanku, oleh tetangga-tetanggaku dan oleh teman-temanku yang baik hati semuanya. Mereka memberi nasihat kepadaku dengan tulus ikhlas. Dan yang terakhir, doa ibuku. Apakah ini yang disebut kecerdasan? Kecerdasan ESQ? Aku sendiri tidak tahu, sampai kini.
Ketika aku hanya bisa berjalan mencapai cita-cita, Dia menyongsongku berlari. Kini aku bisa merasakan pertanyaanNya, “Maka Nikmat TuhanMu yang manakah yang engkau dustakan, fa biayya ala irobikumaa tukajjiban?”. Barangkali tulisanku dalam buku ini bisa menjawabnya, bisa semuanya atau bahkan hanya sebagian saja.   
Gaya bahasa di buku ini adalah gaya bahasa dengan latar belakang Sastra Melayu, karena peristiwa yang banyak diceritakan dalam tulisan ini memang berlatar belakang lokasi di Pematangsiantar, Medan dan Pekanbaru,  pusat peradaban Melayu kini. Lalu ketika sudah lama di Bandung dan Jakarta, maka sedikit banyak Sastra Sunda dan Sastra Betawi juga banyak mempengaruhiku. Latar belakang Sastra Melayu masih dominan, disana-sini terkadang bahasa Arab, Inggris, Sunda dan Betawi masuk meramaikan gaya bahasa tulisan. 
Semua isi tulisan yang menyangkut ajaran agama Islam kutuliskan berdasarkan pengetahuan agamaku selama ini. Namun demikian, selalu kudiskusikan dulu dengan rekan guru agama Islam, agar tidak menimbulkan bantah berbantah masalah khilafiyah yang tidak perlu.


Sebenarnya, kesenangan dan minatku kepada Bahasa dan Sastra Indonesia bermula dari ketika aku ditugaskan membuat resume atau ringkasan dari buku novel roman Tenggelamnya Kapal van DerWijk dan Siti Nurbaya. Keduanya tugas dalam rangka Pelajaran Bahasa Indonesia di STM Negeri Pematangsiantar, yang ketika itu sangat jauh dari hiruk-pikuk sastra secara nasional.  Memang sejak Sekolah Dasar aku sangat menyenangi pelajaran Bahasa Indonesia. Selain kedua buku tersebut, hampir semua buku novel roman yang disarankan oleh pak Guru Bahasa Indonesia telah banyak yang kubaca, diantaranya Dibawah Lindungan Kakbah, Merantau ke Deli, Salah Asuhan dan lain-lain. Bapak guruku, ketika itu pak Hutapea, memberi nilai sempurna, dan menyarankan untuk terus memupuk bakat menulisku itu. Akan tetapi, sayang,  karena aku telah membuat rencana hidup bercita-cita menjadi insinyur kelak, maka aku tidak mengembangkan bakat menulis sastra ini. Cuma saja dalam pelajaran Bahasa Indonesia, baik ketika mulai kuliah atau membuat karangan aku sering menulis dengan latar belakang keindahan alam dan rasa ingin tahuku atau curiosity-ku yang lumayan mendalam. Kemampuan dan bakat ini tersalurkan ketika aku ditugasi untuk memimpin majalah kampus di FKIT-IKIP/UPI dan beberapa karangan lepas lainnya.
Pada waktu kuliah, tugas-tugas membuat ringkasan atau sinopsis buku-buku yang sama terulang, hanya saja telah berkembang kepada buku-buku sastra mutakhir.
Pada waktunya aku sudah banyak membaca buku novel dari Motinggo Busye yang sebelum akhir hayatnya banyak menulis novel berlatar belakang Islam yang kaffah. Belakangan ini aku juga membaca novel Ahamad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk, Kemusuk Bintang Dinihari, dan satu lagi dari novel triloginya yang terkenal. Lalu cerita Sintren dan Perempuan Mencari Tuhan tulisan Dianingsih dari Pekalongan, dimuat di Harian Umum Republika, yang sedikit banyak mengandung cerita tentang mistik, tentang budaya penduduk di sekitar pantai Utara Pulau Jawa, memanjang dari Cirebon sampai ke Batang. Kemudian novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih dari ustadz Habiburrahman el Muhammady, berlatar belakang negeri seribu piramid Mesir, keindahan lingkungan pesantren dan sepotong negeri syurga dari Timur, Indonesia. Dan yang terakhir Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Maryamah Karpov dari bagian tetraloginya Andrea Hirata dan lain-lain yang tidak dapat semuanya disebutkan disini.
Ketika aku diangkat menjadi Ketua  Communication Society, COMSOC dari organisasi International Electric and Electronic Engineering, IEEE, Regional 10 Indonesia, akupun menulis dua buah buku tentang telekom mobil dua jilid, diterbitkankan oleh penerbit ELEX Media KOMPUTINDO Jakarta sampai dengan tahun 2003. Dalam menulis kedua buku ini, hampir tidak ada masalah, karena penguasaan materiku yang cukup baik dan kalau ada yang tidak jelas, aku bisa membaca ke laman COMSOC dari IEEE, dan jika perlu berdiskusi dengan teman-teman di IEEE. Bahasa yang kugunakan adalah bahasa Indonesia standar, yang kalau dilihat dari sudut satra, terkesan sangat kaku. Hal yang diperlukan dalam penulisan ilmiah, agar setiap kalimat yang dituliskan boleh saja indah, tapi tidak boleh mempunyai pengertian yang tidak jelas dan atau pengertian ganda. Setiap kalimat harus punya arti yang tegas, jelas dengan logika dengan tata bahasa yang benar dan tidak boleh multi tafsir.
Dalam sastra tidak ada yang disebut multi tafsir. Karena setiap orang bebas, ketika suatu kata atau kalimat yang mampu menggetarkan hati seseorang yang memang berbeda-beda untuk tiap insan yang berbeda. Bukankah keindahan itu adalah setiap kejadian, setiap lukisan alam, daratan dan lautan, angin yang bertiup, air yang mengalir, burung berkicau, sepatah kata atau kalimat, alunan musik, gambar diam atau bergerak, puisi ataru prosa, sekuntum bunga, sesosok manusia atau sebentuk makhluk ciptaanNya, atau apa saja yang dapat menggetarkan perasaan? Hal mana sangat bersifat perorangan, tergantung kepada masing-masing insan untuk menafsirkan sendiri apa yang dimaksud dengan indah itu, yakni yang menggetarkan perasaan itu.  Termasuklah keindahan tentang sesosok manusia ciptaanNya, perempuan bagi seorang lelaki dan lelaki bagi seorang perempuan. 
Aku menemui kesukaran ketika menulis, karena kesedihan ketika mulai menulis peristiwa saat sedang berdekatan dengan ayah-ibu, yang pada mulanya aku tidak mengerti keadaan orang tuaku, terutama ketika aku masih di SD. Begitu juga aku harus menulis ulang semua kejadian-kejadian di ST dan STM.  Sebenarnya semua peristiwa yang kualami kebanyakan adalah kissah sedih dan gembira silih berganti, ditengah-tengah kesederhanaan keluargaku. Kissah sedih membuat perasaan mengharu biru, sengsara di badan. Kissah gembira menghangatkan fikiran, menaikkan semangat dan menyehatkan kalbu. Dulu ketika aku mengalami peristiwa sedih itu secara langsung, aku tidak perduli dan tidak merasakannya, atau mungkin menutup rasa sedih dan malu demi cita-citaku, yang membuat diriku menjadi pemberani. Karena sukses atau keberhasilan adalah milik mereka yang berani. Beban perasaan rendah diri dari teman-teman yang lebih kaya dan lebih tampan dan gagah, itu adalah hal yang wajar, hal yang dapat kuterima karena memang demikianlah adanya. Sampai seorang bidadari dari Bandung menolongku, menyelamatkanku dengan menghargaiku apa adanya. Bidadariku ini langsung menghilangkan beban jiwa rendah diriku, kurang percaya diriku, yang menurutku, dari semua perempuan keluarganya, dialah yang tercantik, bukan karena ia membelaku. Tapi menurut ukuran logika tentang kecantikan, tentang kebaikan hati, tentang keikhlasan hati. Dan lebih-lebih lagi karena secara sadar ia mau menjadi kekasihku, menjadi penasihat pergaulanku, mendampingiku sepanjang waktu.  
Setiap kutulis satu halaman, hatiku tersedak dan tidak jarang aku menangis. Sepertinya, dalam menulis buku ini, aku bagaikan mengorek dan menguak kesedihan dan luka lama. Maka pada bulan-bulan awal penulisan, jalannya amat lambat, karena tidak tahan akan kesedihan dan luka hati yang lama itu meruak kembali. Ketika menulis, ada kalanya aku amat merindukan kampungku, merindukan teman-teman lamaku, teman-temanku seperjuangan, tepian tempat mandi itu, bahkan ayah-ibuku yang pernah mengharap aku bisa menolong memperbaiki nasib keluarga kami. Bayangan kerinduan ibuku ketika aku jauh darinya bertahun-tahun, anak lelakinya yang tidak pernah menolak ketika diperintah, yang tidak pernah membuat ulah ketika sekolah dan alasan-alasan yang lain-lain. Aku terpaksa berhenti menulis, menumpahkan dulu air mata dalam tangisku. Kadang bisa seminggu.***
Lagu dari Orkes Gambus El-Suraya dari Medan, Selimut Puith dan Madah Terakhir lamat-lamat pernah dinyanyikan adikku Kamisah, sendirian, didepan pintu rumah ketika aku pulang kampung dari perantauan yang pertama kali, sambil menangis, mungkin karena mengingat penderitaan keluarga kami. Ketika itu ayah-ibu masih ada, tapi rumah kami sudah pindah ke gubuk di jalan Terong, ayah sudah sakit-sakitan. Tidak salah rasanya, itulah puncak penderitaan keluarga kami. Aku melihatnya sendiri dan ketika itu aku juga ingin menangis, tapi kutahan. Nah disini pulalah puncak kesedihanku ketika akan menuliskannya. Namun demikian, tulisan ini harus kuselesaikan, walaupun aku harus bersimbah peluh dan tubuhku menyediakan bergantang-gantang air mata, sampai suaraku berubah serak, laiknya suara orang yang telah lama dan baru selesai menangis. Air mataku  tidak perlu di susut, karena bagi lelaki yang menangis, air mata itu lebih banyak jatuh kembali kedalam.     
Enam bulan lebih aku berlelah-lelah dan berkeluh kesah dalam menuliskan buku ini. Istriku memang tidak senang akan bidang seni sastra, sehingga ia sering meradang karena aku terlalu banyak menghadapi labtop komputer daripada menyertainya. Aku meminta maaf yang tulus kepada bidadari penolongku ini. Kini tulisan ini sudah rampung, tinggal menerbitkannya secara massal. Kelak, tentu kalau bisa dan ada asa yang berkenan  dan usia masih memberiku waktu, akan kutuliskan cerita lain, yang masih bersangkut paut dengan tulisan ini.
Dengan rendah hati aku menyatakan, bahwa sebagian besar gambar dalam tulisan ini diunduh dari internet, yang disediakan oleh laman www.google.com dengan laman turunannya. Sebagian lagi menggunakan kamera digital milikku sendiri. Aku berusaha untuk menghindari penggunaan gambar yang berhak cipta tanpa ijin pemiliknya, yang menurut pengetahuanku, jika sudah disebar di laman milik publik, seperti di dunia maya, maka kita akan bebas menggunakannya. Namun, jika ada yang gambar-gambar itu yang merasa adalah milik pribadi, aku mohon maaf dan akan segera aku selesaikan sebagai mana mestinya, atau menggantinya dengan gambar hasil olahanku sendiri. 
Inilah sekapur sirih, seulas pinang serta sepercik tepung tawar sebagai pembuka pintu hati, sambil bersembah dan mengulurkan sepuluh jari tetutup, meminta maaf andai ada kata-kata dalam tulisanku ini yang salah, karena aku juga sadar, pasti ada yang salah dan membuat kesalahan, karena manusia adalah tempat terjadinya kesalahan. 
Akhirnya, semoga buku ini berguna, dan kita semuanya mendapat berkah, panjang usia dalam taat serta mengabdi kepadaNya, rendah rejeki,  dalam lindungan dan selalu berada dalam limpahan rahmat  dan hidayahNya.



Nurain SILALAHI
Penulis

Bandung, Rumahku Istanaku, Antapani Kidul, RT05/RW07, 9 Juli 2011, pagi hari pukul 01.35.
Re edited 16-8-19 

Alamt Email: nurain766hi@yahoo.co.id atau nurain766hi46@gmail.com;


Telepon: 022-7273211 (home & fix phone); +628122048443 (cellular mobil phone), +6281221084343 (, FB, Whatsapp and internet access)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar