MENGEMBAN TUGAS DI PEKANBARU
Sekilas Tentang Pekanbaru dan Riau.
Propinsi Riau dengan ibukotanya Pekanbaru. Riau adalah daerah kaya minyak bumi, kaya akan hutan dengan hasil kayu gelondongan dan kayu lapis, daerah kerja tempat beroperasinya perusahaan minyak multi nasional CHEVRON PASIFIC INDONESIA (dulu bernama CALTEX PASIFIC INDONASIA).
![]() |
| PT CPI Rumbai Pekanbaru |
![]() |
| Jembatan Leighton Pekanbaru di waktu malam |
Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi, dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Hal ini tak lepas dari peran Sultan Siak ke 4 Sultan Alamuddin Syah yang memindahkan pusat kekuasaan Siak dari Mempura ke Senapelan pada tahun 1762 demi untuk menghindari campurtangan Belanda ke dalam urusan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya beliau berhasil menaiki tahta dengan menggeser keponakannnya Sultan Ismail dengan bantuan Belanda.
Pekan yang beliau bangun di tempat ini kemudian didukung oleh akses jalan yang menghubungkan dengan daerah-daerah penghasil lada, gambir, damar, kayu, rotan, dan lain-lain. Jalan tersebut menuju ke selatan sampai ke Teratak Buluh dan Buluh Cina dan ke barat sampai ke Bangkinang terus ke Rantau Berangin. Pengembangan pekan ini kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Ali. Di zamannya, pekan baru ini menjadi bandar yang sangat ramai sehingga lama kelamaan nama Pekanbaru lebih dikenal daripada Senapelan. Pada tanggal 23 Juni1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.
![]() |
| Istana Kesultanan Siak Sri Indera Pura |
Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi ibu kota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942. Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.
Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatra di Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatra Tengah. Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia,
Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25. Sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).
![]() |
| Kantor Gubernur RIAU |
Geografi
Secara geografis kota Pekanbaru memiliki posisi strategis berada pada jalur Lintas Timur Sumatra, terhubung dengan beberapa kota seperti Medan, Padang dan Jambi, dengan wilayah administratif, diapit oleh Kabupaten Siak pada bagian utara dan timur, sementara bagian barat dan selatan oleh Kabupaten Kampar.
Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan berada pada ketinggian berkisar antara 5 - 50 meter di atas permukaan laut. Kota ini termasuk beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34,1 °C hingga 35,6 °C, dan suhu minimum antara 20,2 °C hingga 23,0 °C.[14]
Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km² yang kemudian bertambah menjadi 62,96 km² dengan 2 kecamatan yaitu kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh. Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan, dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan luas wilayah 446,50 km², setelah Pemerintah daerah Kampar menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987. Kemudian pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan menjadi 12 kecamatan.
Pada tahun 2014, Pekanbaru telah menjadi kota keempat berpenduduk terbanyak di Pulau Sumatra, setelah Medan dan Palembang. Laju pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup pesat, menjadi pendorong laju pertumbuhan penduduknya.
![]() |
| Pelabuhan Tanjung Duku, Sungai Siak, Pekanbaru |
Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar 40,96% dari total penduduk kota. Mereka umumnya bekerja sebagai profesional dan pedagang. Populasi yang cukup besar telah mengantarkan Bahasa Minang sebagai bahasa pergaulan yang umum digunakan oleh penduduk kota Pekanbaru, selain Bahasa Indonesia.Selain itu, etnis yang memiliki proporsi cukup besar adalah Melayu, Jawa, Tionghoa, dan Batak. Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, memiliki andil besar menempatkan Suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota, namun sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.Masyarakat Tionghoa Pekanbaru pada umumnya merupakan pengusaha, pedagang dan pelaku ekonomi. Selain berasal dari Pekanbaru sendiri, masyarakat Tionghoa yang bermukim di Pekanbaru banyak yang berasal dari wilayah pesisir Provinsi Riau, seperti dari Selatpanjang, Bengkalis dan Bagan Siapi-api. Selain itu, masyarakat Tionghoa dari Medan dan Padang juga banyak ditemui di Pekanbaru, terutama setelah era milenium dikarenakan perekonomian Pekanbaru yang bertumbuh sangat pesat hingga sekarang.Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa pendudukan tentara Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai pekerja romusha dalam proyek pembangunan rel kereta api. Sampai tahun 1950 kelompok etnik ini telah menjadi pemilik lahan yang signifikan di Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah fungsi lahan menjadi kawasan perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok masyarakat ini mencari lahan pengganti di luar kota, namun banyak juga yang beralih okupansi.Berkembangnya industri terutama yang berkaitan dengan minyak bumi, membuka banyak peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong berdatangannya masyarakat Batak. Pasca PRRI eksistensi kelompok ini makin menguat setelah beberapa tokoh masyarakatnya memiliki jabatan penting di pemerintahan, terutama pada masa Kaharuddin Nasution menjadi "Penguasa Perang Riau Daratan".
Ke arah Rumbai, terdapat Jembatan Leighton, sesuai dengan nama pembangun jembatan. Kini Propinsi Riau terkenal juga dengan propinsi seribu jembatan, karena propinsi ini banyak sekali mem-bangun jembatan. Lihatlah Jembatan sungai Siak 3 ini.
Satu dan lain hal karena disesuaikan dengan topografi propinsi Riau, yang banyak terdiri dari pulau-pulau, sungai dan rawa-rawa. Ke arah Bagansiapiapi, kearah Rengat dan Tembilahan, sekitar pulau Batam dan Riau Kepulauan, banyak sekali jembatan dibangun, begitu juga ke arah Sumatra Barat. Inilah dasar keindahan Propindi Riau, yang setiap jembatannya dibuat dengan profil yang kokoh design arsitekturnya yang indah menawan.
![]() |
| Jembatan sungai siak 3 |
![]() |
Sungai Siak Pekanbaru |
Propinsi Riau mengandung kekayaan minyak bumi yang kelihatannya tak
habis-habisnya. Propinsi ini adalah penghasil minyak bumi terbesar, 44% seluruh hasil minyak bumi Indonesia di eksplorasi di Propinsi Riau. Minyak dari MINAS menjadi patokan harga minyak internasional. Kota Duri adalah penghasil minyak mentah utama dengan pengolahan minyak mentah di Dumai. Hutan-hutannya ketika itu masih merupakan hutan belantara, masih dihuni oleh binatang buas seperti berunag, harimau dan lain-lain, terutama arah dari Pekanbaru ke Dumai dan arah Pekan Baru ke Taluk Kuantan, Rengat dan Tembilahan. Di komplek perumahan CHEVRON di Rumbai, penghuninya dilarang memelihara binatang piaraan seperti ayam atau binatang lain yang dikahwatirkan akan mengundang harimau datang. Ada perusahaan penambangan minyak yang lain di Air Molek, yang berdekatan dengan kota Rengat, tapi tidak sebesar CHEVRON.
Kemajuan perekonomian propinsi ini hampir rata-rata 8% pertahun, sehingga occupancy atau rating pemakaian jasa telekomnya juga paling tinggi di Indonesia. Pertambahan kemajuan kota Pekanbaru terbilang sangat pesat dibanding dengan kota-kota lainnya.
![]() |
| Bandar Udara Simpang Tiga Peknbaru yang lama |
Bandar udaranya di Simpang Tiga yang diberi nama Bandar Udara Sultan Syarif Kasim, ramai disinggahi pesawat dalam dan luar negeri. Dari Pekanbaru ada penerbangan dalam negeri ke Rengat, Jambi, Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Batam, Jakarta dan Surabaya. Penerbangan luar negeri ada yang ke Kuala Lumpur, Johor, Malaka, Singapura dan lain-lain. Perusahaan CHEVRON mempunyai pesawat angkutan udara tersendiri. Ada juga pesawat udara atau helikopter milik perusahaan minyak lepas pantai (off-shore) yang parkir dilapangan terbang ini. Dan untuk meliput daerah nusantara bagian barat, Angkata Udara Republik Indonesia menempatkan beberapa pesawat tempurnya di Bandar udara ini.
Sejarah ringkas Pekanbaru
Daerah ini dahulunya dikenal dengan nama “Senapelan” yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi sungai Siak.Daerah ini dahulunya dikenal dengan nama “Senapelan” yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi sungai Siak.
![]() |
| Masjid Raya An Nur Pekanbaru |
Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya. Yang dikenal adalah Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Masjid Raya sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang. Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi “Pekan Baharu”, yang selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan “PEKAN BAHARU”, yang dalam bahasa sehari-hari disebutPekan baru Demikian yang tetutlis di laman atau web site Propinsi Riau.
Alih Tugas Ke Pekanbaru - Riau
Pemberitahuan tentang keberangkatannya untuk bertugas di TELKOM Pekanbaru, telah diterimanya akhir bulan Mei 1984. Ia masih sibuk membuat interfacing atau antar-muka antara on-line komputer dan output paper tape recorder atau alat perekam pita kertas data keluaran tiap panggilan, call data record. Saat itu, pendapatan terbesar TELKOM internasional untuk komunikasi international adalah dari Telex. Data ini diolah untuk pembuatan tagihan telex international secara otomatis. Tidak berapa lama kemudian, modul antarmuka elektronik itu selesai dibuat prototipnya. Semuanya berkat bantuan bawahannya yang banyak mengetahui tentang pembuatan modul elektronik antarmuka. Juga dari bahan teori di tempat kuliahnya ISTN. Perbanyakan empat modul dilaksanakan selama sebulan sebelum keberangkatannya ke Pekanbaru. Untuk keperluan sembilan buah modul interface yang lainnya dilaksanakan setelah ia bertugas di Pekanbaru.
Sebenarnya ia sedikit keberatan untuk berangkat, tapi keluarganya, terutama istrinya --namanya Siti Nurhayati, panggilannya Tati-- mengatakan untuk dicoba saja dan ia setuju untuk ikut mendampingi. Sungguh istri yang bisa menjadi teladan. Istrinya sangat percaya kepadanya. Pada saat pindah ke Jakarta, karena anaknya tidak cocok untuk tinggal di Bandung, ia rela dibawa mengontrak rumah yang kecil di Jalan Paseban. Sepuluh tahun mereka di Jakarta, dengan mengontrak rumah di tiga lokasi. Istrinya adalah putri pertama Bapak Kyai yang keluar dari Bandung. Begitu juga ketika Tati mendengar akan pindah tugas ke Pekanbaru, ke Pulau Sumatera, ia dengan rela dan senang hati ikut serta, walaupun urusan kepindahannya memerlukan usaha yang sangat rumit. Baru Tatilah yang pertama kali pindah ke luar pulau Jawa. Ia juga sangat bangga pada istrinya ini, patuh pada suami, salehah, cantik dan menggiurkan. Dan yang penting sangat mencintai suaminya sepenuh hati
Setelah berdiskusi dengan keluarganya dan merencanakan keberangkatannya, kepindahan
sekolah anak-anaknya selesai, kepindahan istrinya untuk mengajar di Pekanbaru, maka ditulisnyalah segala sesuatu urutan yang perlu dan harus dilakukan. Mana yang prioritas, mana yang harus tapi bisa ditunda, dan mana yang bisa atau tidak dikerjakan tertera dalam kertas agendanya. Iapun mulai melaksanakannya satu persatu. Pembelian tiket, mengurus uang pindah dan biaya perjalanan, keterangan uang perumahan, surat-surat referensi dan lain-lain disiapkannya dengan teliti, tertulis dan jelas tanggal-tanggalnya. Rencana jaringan penjadwalan (network planning) dan hubungan waktu pelaksanaan yang dipelajarinya ketika pelajaran Konsep Teknologi diterapkannya disini.
Pada tanggal 8 Agustus 1984 Pesawat yang membawanya ke Pekanbaru lepas landas dari lapangan terbang Kemayoran, saat itu masih dari Lapangan Terbang Kemayoran, dan mendarat di Lapangan Terbang Simpang Tiga, dijemput oleh Pak JB Soenarto BcTT, Kepala Kantor yang akan segera digantikannya. Sementara menginap di Hotel dan kemudian di lanjutkan di mess TELKOM, di daerah Pintu Angin yang berdekatan dengan Kantor.
![]() |
Kantor KANDATEX awal ahun 1984, Jl. Merbabau No. 12. kini jadi mes TELKOM |
Serah terima dilaksanakan tanggal 12 Agustus 1984, untuk pejabat Darmawanita diwakili oleh Bu Herman, istri Kepala Dinas Teknik. Kemudian, setelah segala urusan kepindahan anak-anak dan istrinya selesai, bulan Desember 1984 semuanya berangkat, dan tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mangga.
Ketika itu, jalan-jalan di Pekan-baru masih lengang, angkutan kota belum ada. Orang masih banyak yang berjalan kaki, atau kalau karyawan dijemput oleh mobil dinas. Selain itu ia juga diminta menjadi dosen mengajar Sistem Teknik Pengendalian atau Control System Engineering di UNILAK (Universitas Lancang Kuning) di Rumbai, Pekanbaru.
![]() |
| Universitas Lancang Kuning (UNILAK) Rumbay, Pekanbaru |
Selanjutnya disela-sela waktunya memimpin kantor, ia ditugaskan untuk menyelesaikan pembangunan gedung Kantor Telkom Pekanbaru di Jalan Jenderal Sudirman. Di ujung Jalan Sudirman terdapat Pasar Bawah, tempat barang-barang luar negeri berharga murah.
![]() |
Ex Gedung Kandatex, kini jadi Gerai McD |
Tahun pertama ia bertugas, kantornya berada di Jalan Merbabu no. 12, Pintu angin. Masih berbentuk rumah atau rumah dinas yang dijadikan kantor. Beberapa bulan kemudian, karyawan baru datang, diantaranya Zulfahmi, Wazhur, Hari Muani dan Makmur. Ada yang mempunyai keahlian teknik, operasi maupun keuangan. Lalu yang putrinya ada Zulyetti, Magdalena, Nurhemiati, Ratinur, Tati, lastri, Marni, Nuraini dan lain-lain. Karyawan lamanya adalah Pak Muharudin sebagai kepala Dinas Tata usaha Keuangan, Pak Arif Sugihardi sebagai kepala pembukuan. Kepala Dinas Operasi dipegang oleh pak Ali Cecilia orang Jakarta dengan bawahannya pak Sabirin dan pak Norman dan lain-lain. Kepala Bagian Tekniknya Pak Herman, orang dari Pekalongan beserta beberapa orang anak buahnya masing-masing Tri Sumarsono Wilis, Hermawanto, Iim Ibrahim dan lain-lain. Loket yang hanya satu tempat di Jalan Merbabu Pintuangin, bersatu dengan kantor, sudah terlalu sempit dan jauh dari kegiatan perekonomian di sekitar Jalan Sudirman. Lagi pula kantor layanan ini berakhir pukul lima sore. Banyak pelanggan dan pengguna jasa yang merasa kecewa, ketika tiba di kantor Layanan di Pintu Angin ternyata sudah tutup. Sentral Telex ditempatkan di gedung kantor telepon dengan mengambil satu lantai.
Gedung baru di Jalan Jenderal Sudirman sudah ada instalasi listrik dan sebuah generator 3,3 Mega-watt, tapi belum sempurna dan belum diserah-terimakan. Setelah diperiksa, ternyata generator sudah dapat dipergunakan, khusus untuk jaringan telex dan telegrap saja. Instalasi listrik diteruskan, kepada kontraktor diminta untuk menuntaskan instalasi listrik gedung. Lalu loket dibuka 2 posisi menggunakan infrastruktur seadanya dan langsung pelanggan dan pengguna ramai sekali. Demikian juga Bank BNI yang bersebelahan tepatnya di sebelah kiri, dan sebelah kanannya segera dibuka TOSERBA Ramayana beberapa bulan kemudian.
![]() |
| Toserba RAMAYANA Suka ramai, disebelan Kantor |
Dua bulan kemudian instalasi dan izin PLN selesai dan kantor pindah dari Pintu-angin ke Jalan Sudirman. Kantor Pelayanan ini resmi dibuka untuk umum, dan kantor di Jalan Merbabu 12 Pintu Angin kemudian ditutup.
Untuk memudahkan pelanggan membayar tagihan rekeningnya, dibuka rekening giro di lima bank Negara di Pekanbaru. Tidak berapa lama kemudian, semua unit pelayanan dipindah ke kantor baru ini, termasuk KBU, Kamar Bicara Umum, dari unit pelayanan Telepon. Oplet atau angkotpun sudah ramai yang melintas di depan kantor. Layanan loket diperpanjang sampai dengan pukul sembilan malam, dengan pengaturan giliran tugas yang tepat. Karyawan pun sudah banyak yang menggunakan motor atau yang menurut istilah setempat adalah kereta. Bahkan ada yang sudah mempunyai kendaraan roda empat.
Kegiatan rutin kantor seperti biasanya, ada pembinaan karyawan, diantaranya senam pagi dan ceramah agama setiap sebulan sekali oleh penceramah dari luar. Ada juga acara pertemuan Darma Wanita Kantor, dan ada juga Darma wanita Propinsi yang dipimpin oleh istri Gubernur. Setiap Senin pagi ada apel pagi, termasuk hari-hari besar Nasional. Hari besar Agama Islam dirayakan juga dengan membuat kegiatan khusus, biasanya disatukan seluruh unit kegiatan TELKOM di Pekanbaru. Pada tiap hari Jum’at pagi dilaksanakan senam pagi. Jika tidak harus mengikuti upacara di Gubernuran Propinsi Riau, maka mereka mengadakan appel pagi di Kantor pada setiap hari-hari besar Nasional.
Ia berharap semoga ia termasuk yang berhasil mengelola kantor, karena tidak ada kasus yang menyangkut penyelewengan, percaloan, masalah teknik dan lain-lain. Yang ada adalah seorang pegawai yang sering meninggalkan tugas pada jam kerja atau datang terlambat sampai dua jam. Setelah diingatkan berulang kali tidak juga berubah, maka kepada atasan langsungnya supaya ditegur lisan dan dicatat dalam catatan DP3 atau rapornya. Karyawan yang seperti ini memang selalu saja ada, mungkin sudah karakter yang bersangkutan. Ada juga masalah karyawan yang menyangkut a-susila, perbuatan yang menyangkut antar unit pelayanan tugas yang berbeda. Oleh karena itu penyelesaiannya diserahkan kepada atasannya yang lebih tinggi.
Modernisasi Ruang Pelayanan
Penyelesaian gedung baru di Jalan Sudirman Pekanbaru dapat diselesaikannya dengan cepat dan tuntas. Jika masalah teknik muncul, ia amat menguasainya karena memang ia adalah seorang ahli teknik yang telah banyak berpengalaman di Jakarta. Sambil mengajari anak buahnya, ia selalu berhasil mengatasi gangguan yang timbul di lapangan. Tidak jarang ia harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah teknik, karena ia adalah karyawan senior dalam bidang teknik secara nasional. Ia juga pernah memimpin proyek pemindahan dan pemasangan sentral di Pulau Batam atas penunjukan dari atasannya di WITEL II, Wilayah Usaha Telekomunikasi II, Sumbar dan Riau. Ia juga beberapa kali ke Rengat dan Tembilahan memasang instalasi telex disana, sebagai perintis masuknya kedua kota itu ke dalam komunikasi telex nasional dan internasional, terutama untuk keperluan komunikasi perbankan.
Di bagian operator ada Ratinur yang pintar memilih cara dan model berpakaian, yang selalu serasi dan pantas sehingga kelihatan sangat menarik, bagaikan artis penyanyi dan model ketika itu, Anita Mokhede. Menggiurkan dan menggairahkan. Mungkin kalau ia lebih berdandan dan ingin bersolek menambah kemolekannya, ia pantas menjadi ratu atau bidadari. Hal ini tampak ketika diadakan perayaan pelepasan pensiun pak Muharudin Kepala Dinas Keuangan. Ratinur didandani berpakaian gadis minang, bersama Nurhemiati. Dengan warna kerudung bergonjong khas Minangkabau, pakaian atau kain pembalut tubuh yang menonjol warna merahnya, garis dan titik berwarna kuning emas dan hitam, terkesan bagaikan mutiara berserakan di atas permadani. Senyumnya sangat mirip, kulitnya kuning langsat, bentuk tubuhnya yang langsing sesuai pula. Cuma Ratinur lebih kecil, lebih langsing saja.
![]() |
| Mimi dan Irat, foto Oktober 2o10 |
Nurhemiati juga sama. Ia adalah putri Taluk Kuantan yang melegenda dan pantas menjadi permaisuri. Mereka berdua layaknya bintang gemerlap saat itu, yang membuat acara kian semerbak, bak bidadari yang diterjunkan ke kantor Pekanbaru.
Lalu ada Tati, ada Marni, ada Lastri, ada Zulyetti ahli bermain volly, ada Magdalena. Di samping rekan-rekan karyawan lama, pak Bukhari Bus ahli komunikasi morse telegrap dan penulis lepas majalah intern telekom, pak Sabarudin, pak Norman dan lain-lain. Bagian Operasi ini dipimpin oleh pak Ali Cecilia dari Jakarta sebagai kepala Bagian Operasi. Semuanya cekatan dalam bekerja. Pada bagian keuangan ada Pak Muharudin, Arif Suguhardi, bu Yusnida, Emi yang telah lebih dulu bertugas, Nuhemiati dan Wazhur yang baru. Wazur selalu semangat dan pintar menyanyi. Bagian kepegawaian dipegang oleh Pak Sawier.
Tahun 1985 ia mengadakan perubahan pelayanan secara dramatis, terutama loket pelayanan. Petugas loket perempuan disarankan untuk memakai baju jas yang biru dengan baju dalam yang putih sebagai seragam yang baku dan yang lelakinya berdasi. Saat itu belum ada model ruang atau kantor pelayanan yang demikian maju. Ruang pelayanan yang berpendingin udara ditambah dengan musik pop yang lembut, siaran TV terpilih membuat para pelanggan merasa nyaman. Bila ada karyawan yang ulang tahun, dirayakan secara sederhana dan kantor pelayanan diputar lagu-lagu selamat ulang tahun dan nada lembut sampai pukul sebelas. Pintu utama menggunakan pintu otomatis dengan proximity sensor, akan terbuka setiap orang mendekatinya dan kemudian otomatis tertutup jika pelanggan telah menjauh dari pintu tersebut. Pintu tertutup diperlukan karena ruangan dipasang pendingin udara AC, air conditioning.
Ditengah ruang pelayanan disediakan meja untuk formulir layanan telegrap dengan warna-warni menarik yang menunjukkan tingkat layanan yang diajukan oleh pelanggan, biasa, dinas atau kilat-express. Keterangan mengenai formulir permintaan berlangganan telepon dan telex, bagaimana mengisinya di tempelkan di dekat meja, sehingga pelanggan mendapat informasi yang tepat dan cepat. Demikian juga informasi layanan lainnya. Di dekat setiap loket disediakan permen bagi pengunjung, yang biasanya akan habis satu bungkus besar berisi satu kilogram permen aneka rasa sampai siang hari.
Iklan layanan ditempatkan di beberapa titik di kota Pekanbaru sendiri dan tiga titik di pintu masuk kota. Dari arah Sumbar diletakkan di Rantau Berangin, dari arah Dumai diletakkan di sekitar Rumbai dan dari arah bandara ditempatkan di sekitar pintu masuk kota, Simpang Tiga. Hal ini membuat situasi ruangan pelayanan semakin ramai dan bersinar, dan ketika datang pemeriksa dari kantor wilayah, beberapa pemeriksa merasa senang, kagum dan menyatakan penghargaannya.
Sampai ketika suatu hari, undangan datang dari Mimi.
“Pak, ini undangan, undangan dari Mimi”, menyerahkan undangan sambil tersenyum, lesung pipitnya merekah.
“Undangan apa Mi?” bertanya padanya.
“Mau menikah pak”, sahut Mimi. “Oh iya ? kok….” Terdiam sejenak, kaget.
“Kok baru tau ya. Siapakah gerangan laki-laki yang beruntung itu Mi? Dimana kerjanya?” tanyanya kembali.
“Teman lha pak, teman sekampung yang sudah lama“, sambung Mimi.
“Dia bekerja di kantor pos Pekanbaru”.
“Ooo begitu. Baiklah, terima kasih undangannya Mi. Persiapkan surat-surat yang diperlukan. Surat keterangan belum pernah menikah dari kampung untuk kantor dan surat permohonan cuti nikah. Selebihnya, untuk urusan selanjutnya tanyakan langsung ke Pak Sawier” lanjutnya.
Pak Sawier adalah kepala seksi kepegawaian yang amat berpengalaman dan amat paham seluk-beluk aturan kepegawaian. Kepadanya disampaikan bahwa Mimi akan menikah dengan kekasih hatinya, seorang karyawan kantor pos di Pekanbaru, agar supaya dipersiapkan kunjungan dan kado pengantin dari kantor dan karyawan. Acara kenduri atau perhelatan pernikahannya bertempat di Taluk Kuantan, kampung halamannya. Rupanya cita-cita Mimi terlalu sederhana. Cukuplah baginya jika sudah bekerja dan berpenghasilan yang layak. Mungkin juga karena latar belakangnya sebagai anak yatim. Apalagi calon suaminya juga sudah bekerja di kantor pos, sehingga sudah merasa aman dalam hal keuangan. Ia merasa gagal menasihati Mimi untuk sekolah lebih tinggi. Berbeda dengan Makmur, yang kini sudah menyelesaikan S3, doctor dalam bidang hukum dan kini bertugas di Kantor Pusat TELKOM Bandung, dan bertugas sebagai dosen di Institut Manajemen Telkom Bandung.
Namun demikian, semua karyawan ikut serta ke pesta pernikahan Mimi, menumpang dua mobil dinas dan menyewa satu kendaraan umum. Ia sendiri berada dalam mobil jip Daihatsu Taft, bergantian menyetir dengan pak Anwar supir kantor.
Perjalanan yang melewati hutan belantara diselingi hutan karet rakyat di sana-sini, diselingi jembatan kayu yang sedang diperbaiki.
![]() |
| Hutan Belantara Taluk Kuantan. |
Di salah satu pohon yang tinggi dilihatnya beberapa sarang burung tempua, tinggi di atas dahan, dengan latar belakang langit biru dan awan putih yang berarak tak kasat mata. Di kiri kanan jalan banyak terlihat rawa-rawa, hutan dan perkebunan karet rakyat silih berganti. Dan masih sepi penduduk.
Sesampainya di Taluk Kuantan, alunan musik khas talempong yang sederhana terdengar menggema, sayup-sayup sampai di tepi hutan belantara. Terkesan indah dan bersuasana magis. Acara ucapan selamat sambil makan siang dan ramah tamah berlangsung meriah. Kedua pengantin kelihatan berbahagia, gagah dan cantik, menebarkan pesona harum semerbak bunga sedap malam, hiasan pengantin, ke sekeliling ruangan.
Kunjungan ke perayaan pernikahan Mimi di Taluk Kuantan ini juga sekaligus dalam rangka rekreasi, melihat Sungai Kampar Kiri tempat pesta pacu jalur perahu tradisional tahunan. Di sepanjang sungai sejauh mata memandang masih terhampar hutan yang luas. Sungai Kampar yang lebar, airnya mengalir tenang. Tak beriak, pertanda sungai yang dalam. Pada saat mereka di sana, acara lomba perahu tradisional itu belum dilaksanakan. Konon kabarnya acara pesta perahu Sungai Kampar di Taluk Kuantan adalah acara yang dapat dijadikan arena perjumpaan muda-mudi atau dijadikan tempat mencari jodoh. Benar tidaknya wallohu a’lam bi sawab. Setelah pukul dua sore hari, rombongan pamit pulang ke Pekanbaru.
Waktu berjalan terus, berdetak tak terdengar dan berdetik tak terasa. Terutama bagi seseorang dalam keberhasilan, kegembiraan dan kesenangan. Tapi cepatnya detik-detik berbunyi serasa tak tertahankan ketika merasa rindu, ketika gelisah, ketika kita diburu waktu penyelesaian tugas tertentu, ketika berada dalam susah dan hati yang gundah gulana. Dan pada saat telah mempunyai rencana untuk segera mengatasi kesusahan dan berharap segera berhasil menggapai cita-cita.
Hari-hari berganti bulan, berkali-kali, sampai berbilang empat tahun. Ya, empat tahun ia mengemban tugas di Propinsi Riau. Semua karyawan dibuatnya merasa senang dengan pembagian tugas yang pas, acara olahraga yang baik dan pembinaan jenjang karir dan rohani yang berkelanjutan. Wajah-wajah ceria selalu kelihatan sepanjang hari, terutama di saat pulang kerja. Hampir semua karyawannya adalah Muslim, kecuali seorang Satpam. Dan semuanya alhamdulillah selalu mendirikan shalat. Di kantor mereka disediakan sebuah mushalla, ruangan khusus untuk shalat. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ada karyawan yang dikirim untuk training atau latihan, yang dapat dipergunakannya segera dalam pekerjaannya sehari-hari. Ada yang mengikuti pendidikan yang lebih tinggi dengan biaya sendiri di perguruan tinggi di Pekanbaru, yang kelak berguna menghadapai masa depan yang tidak dapat diramalkan. Bagi mereka yang akan sekolah lagi ke Diklat Telkom di Bandung, cara-cara menghafal dan apa saja yang akan dikerjakan agar lulus ujian dilatihnya terlebih dulu, termasuk psikotest. Karyawan yang sering sakit dicarikan penyebabnya dan diberi petunjuk untuk menyembuhkannya, dibantu oleh dokter kesehatan TELKOM di Pekanbaru. Bagi karyawan yang mempunyai hutang, diberikan cara mengatasinya, kalau perlu menggunakan pinjaman dari koperasi. Bagi mereka yang belum menikah, segeralah berdoa agar diberiNYA jodoh yang baik dan sesuai. Dan alhamdulillah, semua karyawannya tidak ada yang tidak menikah, semua mendapat jodoh sesuai dengan
idaman hatinya.
![]() |
| Foto Reuni 2010 di depan Istana Siak Sri Indrapura. |
Kemampuan dan karir karyawannya terus membaik dan beberapa karyawannya menunjukkan kinerja yang terus meningkat. Semuanya ini dilakukannya bersama kepala-kepala dinas dalam rangka pengembangan professional atau keahlian karyawan yang berkelanjutan. Semuanya untuk penyempurnaan dalam melaksanakan tugas kini dan nanti. Oleh karena itu pula, karyawannya sering dipinjam oleh atasannya di WITEL II Padang dalam rangka pembangunan. Ada yang harus ke Dumai memasang alat transmisi, ada yang ke Rengat, ada yang ke Bagansiapi-api, ke Taluk Kuantan, Tembilahan, Bangkinang, Bengkalis dan Selat Panjang. Ada juga dalam rangka pembinaan dan pengawasan operasional dan lain-lain. Dan beberapa karyawannya dialih-tugaskan untuk membantu unit pelaksana teknis lainnya di Sumbar-Riau.
Ia juga dipilih sebagai ketua Organisasi Koperasi Karyawan TELKOM se Propinsi Riau. Jika ada yang mengalami kesulitan, baik masalah keluarga atau keuangan, sebisanya dicarikan jalan keluarnya. Ada yang dibantu dengan cuti diluar tanggungan negara karena harus menemani suaminya berobat ke Jakarta selama empat bulan. Ada yang harus menyelesaikan perkuliahannya di Bandung, karena hanya tinggal ujian sidang agar lulus sarjana. Karena karyawannya banyak yang masih gadis dan perjaka, ia juga sering mengurus pernikahan anak buahnya. Karena perempuan punya perhatian khusus dalam berdandan, tidak jarang pula istrinya ikut mengatur acara dan dandanan terutama untuk calon pengantin. Jika ada karyawannya yang meninggal, ia juga diminta untuk memberi sambutan dan doa.
Kenangan selama bertugas
Kenangan manis
Kisah kehidupan yang terlukis selama empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan manis terjadi disini. Kenangan manis karena ia merasa telah berhasil mengangkat semangat kerja karyawannya dan membuat mereka bahagia. Ia telah berhasil membuat selaras antara visi dan misi perusahan dengan visi dan misi karyawan. Dan yang tidak kalah manisnya adalah ketika ia dapat mengikuti ujian negara di kampusnya ISTN Jakarta tahun 1986 dan lulus. Ia pernah merasa mempunyai perhatian khusus dan dekat dengan salah seorang karyawan yang sangat dikaguminya, yang cantik menarik dan pintar, baik pula budi pekertinya. Hatinya selalu saja berdebar bila mengingatnya. Hanya saja dalam melakukan dan memerankan persasaan khusus itu, ia selalu menahan diri, karena ia yakin, ini adalah cobaan baginya. Ia selalu menjaga pandangannya, dan diarahkannya untuk mencapai yang baik, tidak pernah dan selalu terhindar dari perbuatan tercela, karena ia telah terlatih untuk menghadapi hal yang sama. Ia selalu berdoa dan bermunajat kepadaNya agar terhindar dari dosa-dosa yang sadar maupun tidak sadar dilakukannya.
Kenangan manis buat istrinya Siti Nurhayati yang telah banyak berpengalaman bergaul dengan istri para Kepala Kantor se propinsi Riau, dan juga dalam lingkup Dinas Perhubungan dan Parawisata. Dan banyak mendapat pelatihan manajemen dan kepemimpinan. Istrinya pernah mendapat predikat wanita berbusana dan merias diri terbaik dalam perlombaan di lingkungan Kepala Kantor se Pekanbaru. Istrinya memang yang paling menarik di antara istri-istri kepala kantor sepropinsi Riau dan Pekanbaru. Maklum, istrinya ini adalah perempuan khas Parahyangan, yang kalau sudah berdandan, apalagi mengenakan kebaya, amat susah mengalihkan pandangan dan decak kagum kepadanya. Paling tidak menurut suaminya.
![]() |
| SMP Negeri 1 Pekanbaru. |
Kenangan manis buat anaknya Anwar Rizal yang mendapat perhatian khusus dari seorang anak perempuan teman sekelasnya, Riri, anak Dr. Zaimi Z, seorang dokter spesialis anak di Pekanbaru.
Riri berhasil membuat Anwar Rizal semangat lagi belajar, setelah semangatnya turun sejak meninggalkan teman-temannya di Jakarta pada saat kedatangannya ke Pekanbaru. Sampai akhirnya mereka sama-sama masuk sekolah ke SMP Negeri 1 Pekanbaru, tapi berbeda kelas. Karena alih tugas orang tuanya ke Jakarta, Anwar terpaksa pindah lagi ke SMP di komplek sekolahnya yang lama, di Komplex SD, SMP dan SMA Kramat di Jalan Kramat Jakarta Pusat. Di kompleks ini Rizal sekolah selama setahun untuk kemudian pindah lagi ke SMP Negeri 5 di Bandung, mengikuti tugas kepindahan ayahnya ke kantor pusat TELKOM pada Bagian Teknik Telepon.
![]() |
| SD Negeri 51, Rintis Pekanbaru. |
Kenangan manis buat Dian karena banyak temannya di SD Rintis dan pengajian disekitar tempat tinggal mereka di Jalan Mangga, walaupun ia hanya tiga tahun bersekolah disini. Ia telah belajar tari Melayu, tari Lancang Kuning yang terkenal bagus dengan lagu dan rantak yang berbeda-beda. Ketika bulan Ramadlan ia pernah pulang berjalan kaki sendiri dari sekolahnya, berjemur panas terik kota Pekanbaru yang tersohor amat panas, dan tiba di rumah Jalan Mangga satu jam kemudian. Kelelahan dan tertidur dalam keadaan sedang melaksanakan puasa bulan Ramadlan. Ia sangat mengerti bahasa Melayu Riau, demikian juga bahasa Minang. Seperti halnya Anwar, tak lama kemudian ia ikut pindah sekolah ke Jakarta juga mengikuti kepindahan orang tuanya yang kembali mengemban tugas di Jakarta. Dian sempat sekolah di SD Kodam di Jalan Malang dengan mobil antar jemput, sebelum akhirnya pindah lagi ke SD Darul Hikam di Bandung, bersama adiknya Emil Himan. Yang kelak, ketika memimpin Student Attachment ke Malaysia dari DHIS tahun 2008, kemampuannya berbahasa Melayu Riau, sangat banyak membantunya bersilaturrahim di sana, dan selalu berhasil. Dan di antara teman-temannya, mereka masih berhubungan setelah beberapa tahun meninggalkan Pekanbaru.
Kenangan manis buat Emil Hilman yang sangat disayangi oleh Bu Herman dan Bu Ali sampai kini. Walaupun Emil sering bertindak dan membuat orang khawatir karena ia sering pergi bersepeda sendirian, lalu kelelahan, dan nyaris hilang kalau tidak ditemukan oleh teman kakaknya, teman Anwar Rizal, dan diantar pulang ke Jalan Mangga. Emil bisa mengendarai sepeda dan berhasil belajar membaca huruf latin dan Al Qur’an di TK Darmawanita TELKOM di Pekanbaru.
Kenangan perjalanan dinas ke Kota-kota lain, akan ditulis terpisah, insya allah.
Alih tugas ke Jakarta
Sampai akhirnya tiba saatnya untuk berpisah karena alih tugas. Serah terima dilaksanakan di kantor Geburnur Riau di Pekanbaru, awal Agustus 1988. Ada yang datang dan ada yang pergi. Kata-kata yang pernah disampaikannya ketika baru datang dan melaksanakan tugas di Pekan-baru, kini terulang menimpa dirinya, dengan tambahan pengalamannya.
Hidup adalah drama dalam sandiwara dan mengabdi pada peran dalam sandiwara kehidupan. Peran seseorang sudah ditetapkan olehNYA, oleh Sutradara Hidup dan Kehidupan yang Maha Agung. Bisa peran itu hijau, bisa peran merah, bisa kuning, bisa hitam, dan bisa pula peran itu putih. Tapi jangan lupa, segala sesuatu dan setiap peran ada tanggung jawabnya.
Selamat melangkah, selamat jalan bagi yang pergi dan selamat datang kepada para pemeran dan peran baru di Pekanbaru. Bagi siapa yang pergi dulu, ia akan menjadi kenangan dan sejarah. Kadang ia datang menjenguk dengan tabir 'rindu' yang sering membuat hati hiba. Pada sebuah kenangan lalu yang mengukirkan pengalaman berjuta. Rahmat Allah sangat luas untuk diteruskan ketika memendam hati. Ternyata rindu itu perlu. Rindu terkadang mengajar manusia untuk menjadi penyabar.
Doa kami menyertai dan berharap, semoga rendah rejeki, panjang usia dalam taat serta mengabdi kepadaNYA, dan kalau dapat, kelak berjumpa lagi. Lagu sekapur sirih, lagu yang sering terdengan ketika masih sekolah rakyat, yang datang dari penyanyi Malaysia, Saloma:
Sekapur sirih, sekapur sirih, seulas pinang,
Diberi bekal, diberi bekal buat perangsang
Pergilah intan, pergilah sayang,
ke tengah medan,
ke tengah medan pergilah berjuang
Biarlah gugur, biarlah gugur bersimbah darah
Biar berlengkar, biar berlengkar di medan perang
Janganlah undur, janganlah undur menyerah kalah
Pantang pendekar,
patang pendekar di tengah gelanggang
Jangan bersedih, jangan bersedih meninggalkan kami,
Senjata disandang, senjata disandang sebagai pengganti
Kami berdoa, kami berdoa setiap hari
Selamt pergi,
selamat pergi, selamatlah kembali...



















Tidak ada komentar:
Posting Komentar