Kamis, 03 September 2020

Perjalanan menyusuri Payakumbuh, Bukittinggi dan Padang

Payakumbuh, Bukittinggi, Padang Panjang dan Padang 


Di kesunyian dan gelapnya alam, dengan nyanyian margasatwa malam, adalah waktu ketika tulisan ini diuntai dan dipadu menjadi karangan. ditulis dengan semenarik mungkin, dengan rasa yang penuh keindahan alam karunia Ilahi.
Ada empat kota yang menarik untuk  diceritakan dalam perjalanan kali ini, yakni, Payakumbuh, Bukit Tinggi, Padang Panjang dan berakhir di Padang. Perjalanan yang indah menawan, terutama ketika melewati kota Bukittinggi dan Padang panjang

Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat, terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentangan alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografinya terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang AgamBatang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%. 
Di sekeliling kota ini penuh dengan tempat-tempat rekreasi indah yang menggetarkan hati. Penduduknya, terutama anak gadis dan pemudanya, menarik hati yang melihatnya karena cerdas, tampan dan cantik menarik. Salah satu orang cerdas kelahiran Payakumbuh yang melegenda adalah Tan Malaka dan dikota ini pulalah terletak musium Tan Malaka. Banyak pula terdapat lokasi rekreasi, merupakan tempat istirahat yang bagus untuk melepaskan lelah dan menghirup udara segar, yang masih bersih di lingkungan yang asri. Barangkali inilah yang menjadi inspirasi pencipta lagu Ayam Den Lapeh dari penyanyi cantik Nurseha yang pernah termasyhur di jamannya. Dikala itu, banyak orang muda yang berandai-andai, kalaulah seandainya dapat menyunting gadis Payakumbuh, yang putih bersih bagaikan bunga melati, pintar dan terampil memasak, menyanyi dan mengaji, selalu berpakaian syar'i, alangkah senang dan bahagianya jika kelak dapat diletakkan di jambangan hati. 
Peta perjalanan Payakumbuh, Bukittinggi, Padang

Berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Payakumbuh terletak di pertengahan antara Pekanbaru dan Padang. 
Perjalanan dari Bangkinang ke Payakumbuh memang lebih panjang waktunya, karena harus melalui jalan berliku. Dari Bangkinang lewat terowongan di desa Merangin, desa Tanjung Balit, tanjakan dan tikungan berat di daerah Rantau Berangin, Koto Kampar, Tanjung Pauh terus ke Pangkalan. Dari Pangkalan melewati Kelok Sembilan ke Payakumbuh. 
Perjalanan dengan mobil di kedua tempat tersebut memang memerlukan waktu lama, kurang lebih 4 jam, karena jalannya mempunyai kemiringan tanjakan yang lumayan bersudut elevasi besar, penuh pula lika-liku jalan yang berkelok tajam dan sempit, mengikuti kontour sisi Sungai Kampar. 
Apalagi di sekitar lintas kelok sembilan. Kendaraan yang datang dari kelok sembilan di atas biasanya menunggu mobil yang sedang naik ke atas dari kelok satu. Begitu juga sebaliknya. Oleh karena itu pula, kecepatan di kedua tempat itu maksimum 25km perjam dan memerlukan waktu yang lama. 

Berkas:Ko Difoto Dari Puncak Ngalau - panoramio.jpg
Ngalau Indah, jalan ke luar Payakumbuh terlihat dari sini. 













Melewati tempat rekreasi Ngalau Indah, kami meninggalkan kota Payakumbuh menuju Bukittinggi melalui jalan raya Bukittinggi - Payakumbuh. Kami melewati lintas Barat, dari kota Bukittinggi melewati Padang Panjang, Lembah Anai dan langsung ke Padang.
Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.
Image result for keripik sanjai balado
keripik sanjai
Di sisi jalan, yang biasanya banyak penjual keripik sanjai, tinggal beberapa tempat yang masih siap dan setia melayani pembeli. Biasanya kami hanya membeli oleh-oleh ini jika perjalanan kembali ke arah Pekanbaru saja.
Pohon-pohon di pinggir jalan tadinya sudah terlihat agak layu daunnya diterpa sinar matahari siang hari, mulai kembali tegak berdiri. Margasatwa senja, tonggeret, suara burung tekukur meningkahi kesunyian dengan suara khasnya.  Dan tak lama, kota Bukittinggi sudah terlihat di depan. Bang supir juga menjelaskan kepada kami sedikit tentang Bukittinggi. Hari telah senja, matahari yang sedang bersiap masuk peraduannya, seakan mengintip dari balik pepohonan, dari daun yang rindang khas Bukittinggi. Taxi sengaja kami minta supaya berjalan agak perlahan, suara mesinpun lembut, karena memang lalu lintas sedang ramai, dan kamipun dapat dengan leluasa melihat-lihat ke kiri dan ke kanan, mendengar nyanyian alam senja, melihat jam gadang yang terkenal, pasar atas dan pasar bawah. Berikut ini kami tambahkan catatan tentang kota ini.

Bukittinggi adalah kota dengan perekonomian terbesar kedua di Provinsi Sumatra Barat. Pernah menjadi ibu kota Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia., juga pernah menjadi ibu kota Provinsi Sumatra dan Provinsi Sumatra Tengah. Pada zaman kolonial Belanda disebut dengan Fort de Kock dan mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatra. Dikenal sebagai kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia, di antaranya adalah Mohammad Hatta dan Assaat yang masing-masing merupakan proklamator dan pejabat presiden Republik Indonesia.
Bukittinggi terletak pada rangkaian Pegunungan Bukit Barisan atau sekitar 90 km arah utara dari Kota Padang. Kota ini berada di tepi Ngarai Sianok dan dikelilingi oleh dua gunung yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Dari dalam Taxi kami dapat melihat ke dua gunung tersebut. 
Berkas:Bukittinggi2009.jpg
Kota Bukittinggi
Lokasi Bukittinggi berada pada ketinggian 909–941mdpl menjadikan Bukittinggi kota berhawa sejuk dengan suhu berkisar antara 16.1–24.9 °C. 
Kota Bukittinggi merupakan salah satu pusat perdagangan grosir terbesar di Pulau Sumatra. Pusat perdagangan utamanya terdapat di Pasar Atas, Pasar Bawah, dan Pasar Aur Kuning. Dari sektor perekonomian, Bukittinggi merupakan kota dengan PDRB (Product Domestic Regional Bruto, Indikator Pendapatan Regional Domestik) terbesar kedua di Sumatra Barat, setelah Kota Padang. Tempat wisata yang ramai dikunjungi adalah Jam Gadang, yaitu sebuah menara jam yang terletak di jantung kota sekaligus menjadi simbol bagi Bukittinggi.
Kota Bukittinggi semula merupakan pasar (pekan) bagi masyarakat Agam Tuo. Setelah kedatangan Belanda, kota ini menjadi kubu pertahanan mereka untuk melawan Kaum Padri. Pada tahun 1825, Belanda mendirikan benteng di salah satu bukit yang terdapat di dalam kota ini, dikenal sebagai benteng Fort de Kock, sekaligus menjadi tempat peristirahatan opsir-opsir Belanda yang berada di wilayah jajahannya. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, kawasan ini selalu ditingkatkan perannya dalam ketatanegaraan yang kemudian berkembang menjadi sebuah stadsgemeente (kota), dan juga berfungsi sebagai ibu kota Afdeeling Padangsche Bovenlanden dan Onderafdeeling Oud Agam.
Kota Bukittinggi terletak pada rangkaian Bukit Barisan yang membujur sepanjang pulau Sumatra, dan dikelilingi oleh dua gunung berapi yaitu Gunung Singgalang dan Gunung Marapi. Kota ini berada pada ketinggian 909–941 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, dari total luas wilayah Kota Bukittinggi saat ini (25,24 km²), 82,8% telah diperuntukkan menjadi lahan budidaya, sedangkan sisanya merupakan hutan lindung.
Topografinya berbukit dan berlembah, beberapa bukit tersebut rebah dalam pelukan wilayah perkotaan, di antaranya Bukit Ambacang, Bukit Tambun Tulang, Bukit Mandiangin, Bukit Campago, Bukit Kubangankabau, Bukit Pinang Nan Sabatang, Bukit Canggang, Bukit Paninjauan, dan sebagainya. Selain itu, terdapat lembah yang dikenal dengan Ngarai Sianok dengan kedalaman yang bervariasi antara 75–110 m, yang di dasarnya mengalir sebuah sungai yang disebut dengan Batang Masang. Sayang dari mobil taxi yang kami tumpangi kurang jelas kelihatan.


Berkas:PemandanganNgarai.png
Ngarai Sianok terlihat dari Panorama Bukititnggi.
Ngarai Sianok merupakan salah satu objek wisata utama. Taman Panorama yang terletak di dalam kota Bukittinggi memungkinkan wisatawan untuk melihat keindahan pemandangan Ngarai Sianok. Di dalam Taman Panorama juga terdapat gua bekas persembunyian tentara Jepang sewaktu Perang Dunia II yang disebut dengan Lubang Japang. Untuk mengunjungi nagari Koto Gadang di bawah ngarai, wisatawan bisa melalui Janjang Koto Gadang. Jenjang yang memiliki panjang sekitar 1 km ini, memiliki desain seperti Tembok Besar Tiongkok.
Di Taman Bundo Kanduang terdapat replika Rumah Gadang yang berfungsi sebagai museum kebudayaan MinangkabauKebun Binatang Bukittinggi dan Benteng Fort de Kock, dihubungkan oleh jembatan penyeberangan yang disebut Jembatan Limpapeh. Jembatan penyeberangan Limpapeh berada di atas Jalan A. Yani yang merupakan jalan utama di Kota Bukittinggi.
Image result for Pasar di aTAS bUKITITNGGI
Pasar Ateh (Pasar Atas) letaknya berada berdekatan dengan Jam Gadang yang merupakan pusat keramaian kota. Di Pasar Ateh terdapat banyak penjual kerajinan tangan dan bordir, serta makanan kecil oleh-oleh khas Sumatra Barat, seperti keripik sanjai (keripik singkong ala daerah Sanjai di Bukittinggi) yang terbuat dari singkong, karupuak jangek yang dibuat dari bahan kulit sapi atau kerbau, dan karak kaliang, sejenis makanan kecil khas Bukittinggi yang berbentuk seperti angka 8.

Bang supir menjalankan mobil agak perlahan, karena dia juga maklum kami sedang menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Pasar Atas, pasar bawah dan Jam gadang terlihat jelas dan kami lewati dengan tenang dan hati-hati. 
Pukul 1700 kami sudah siap untuk meninggalkan kota bukittinggi, secara perlahan tapi pasti, kami mengarah ke kota Padang Panjang. Mentari senja dengan malu-malu menunjukkan dirinya kembali, margasatwa senja masih bernyanyi riang, terkadang diselingin bunyi burung lain yang kami tidak tahu dengan jelas darimana arah bunyi burung itu. Semuanya terdengar datang dari dari sela-sela daun rimbun hutan kota Bukittinggi, merupakan lagu alam yang menyambut datangnya malam..  

Padang Panjang, kota dengan luas wilayah terkecil di Sumatra Barat, memiliki julukan sebagai Kota Serambi Mekkah, dan juga dikenal sebagai Mesir van Andalas (Egypte van Andalas). Sementara wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar.
Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM)
Perpustakan Minang di Padang Panjang
Kota ini juga disebut kota dingin, berada di daerah ketinggian yang terletak antara 650 sampai 850 meter di atas permukaan laut, di kawasan pegunungan yang berhawa dingin dengan suhu udara yang pada umumnya maksimum 26 derajat Celsius.minimum 17 derajat, dengan curah hujan yang cukup tinggi. Di bagian utara dan agak ke barat berjejer tiga gunung: Gunung MarapiGunung Singgalang dan Gunung Tandikek.
Secara topografi kota ini berada pada dataran tinggi yang bergelombang, di mana sekitar 20,17 % dari keseluruhan wilayahnya merupakan kawasan relatif landai (kemiringan di bawah 15 %), sedangkan selebihnya merupakan kawasan miring, curam dan perbukitan, serta sering terjadi longsor akibat struktur tanah yang labil dan curah hujan yang cukup tinggi. Namun pada kawasan yang landai di kota ini merupakan tanah jenis andosol yang subur dan sangat baik untuk pertanian.

Di kota ini berdiri sekolah agama Islam yang terkenal Sumatra Thawalib, yang merupakan kelanjutan dari sekolah agama yang bernama Surau Djembatan Besi yang didirikan oleh Syekh Abdullah pada masa peralihan abad ke-20, Perguruan Diniyah Putri dan Pesantren Terpadu Serambi Mekkah. Selain itu juga terdapat pula Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang.
Kota Padang Panjang merupakan kota yang berada pada jalur silang dan terhubung dengan jalur lintas Sumatra, berada pada posisi yang cukup strategis. Terrletak pada lintasan regional antara Kota Padang dengan Kota Bukittinggi, juga dengan Kabupaten Tanah DatarKabupaten Solok dan Kota Solok.
Kota ini juga merupakan pertemuan jalur kereta api dari kota Bukittinggi dengan dari Kabupaten Solok yang akan menuju Kota Padang atau sebaliknya, percabangan jalur kereta api ini terdapat pada Stasiun Padang Panjang. Ketika taksi melewati kota ini, disepanjang jalan kelihatan rumah-rumah penduduk dengan kolam dan air mancur yang menghias di depan rumah. dan ketika keluar dari kota Padang panjang, kembali hutan menyambut kami, terutama ketika meuju air terjun yang terkenal, Lembah Anai  yang indah permai. Jalanan masih banyak yang berliku dan menurun. 

Lembah Anai dengan latar belakang
Jembatan KA dan Jalan berliku
Air Terjun Lembah Anai adalah sebuah air terjun yang terletak di Kabupaten Tanah DatarSumatra Barat. Air terjun setinggi sekira 35 meter ini berada tepat di tepi Jalan Raya Padang-Bukittinggi di kaki Gunung Singgalang. Air Terjun Lembah Anai merupakan bagian dari aliran Sungai Batang Lurah, anak Sungai Batang Anai yang berhulu di Gunung Singgalang di ketinggian 400 Mdpl. Air terjun ini terletak di batas barat kawasan Cagar Alam Lembah Anai sehingga suasana masih alami dengan hutan lebat serta pepohonan rimbun. Disekitar air terjun pun terdapat monyet yang yang berkeliaran. Pada saat liburan, air terjun ini dikunjungi oleh ratusan pengunjung..Airnya yang jernih berlari seakan mengejar waktu, tak mengenal lelah, mengalir menyusuri perbukitan menuju lereng, lalu mengalir terus melewati hutan Gunung Singgalang sebelum sampai di tepi tebing yang curam. 
Air terjun dipinggir jalan Raya
Dari tebing ini, aliran air kemudian terjun ke dasar lembah Anai dan membentuk kolam tempat air berkumpul. Pantulan-pantulan air yang menghunjam ke air di bawah, menimbulkan titik-titik air yang sangat kecil, dapat diterbangkan angin, kabutpun tercipta. Air terjun yang berkabut membentuk gugusan indah yang berwarna-warni ketika disinari oleh cahaya mentari dikala pagi hari. Begitu cerita dari bang supir. Debit airnya cukup deras dan stabil di musim penghujan namun akan sangat deras saat hujan lebat turun. Tak jarang air terjun ini akan membuat banjir dan airnya meluap ke jalan raya.
Air Terjun Lembah Anai berlokasi di Nagari SinggalangKecamatan Sepuluh KotoKabupaten Tanah DatarSumatra Barat, berada tepat di pinggir jalan yang menghubungkan Kota Padang dan Kota Bukittinggi, yang dapat kami nikamti di senja itu. Kata bang supir, untuk mencapai tempat tersebut dari Kota Padang bisa ditempuh perjalanan selama lebih-kurang 46 menit menggunakan angkutan umum, kendaraan pribadi atau kereta api pariwisata. Rumah makan di sisi jalan kelihatan tersedia  areal parkir yang cukup luas. Kami tak berhenti di sini, bang supir dengan hati-hati mengarahkan taksi  lanjut ke arah Padang. Lembah Anai kami tinggalkan dengan segenap pesonanya dan langsung menuju kota Padang.


Related image
Pasar Raya Padang Thun 1985
Jalan yang kami tempuh sudah lebar dan jalanan mulus. Tidak banyak lagi yang dapat dicertakan pada perjalanan ini, kecuali beberapa hutan dengan rumah-rumah penduduk yang terpencar di sana-sini. Bang supir bisa ngebut dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, dan kami tiba di Kota Bengkuang, Padang, 60 menit kemudian. Persis jam mennunjukkan pukul 1845. Lampu-lapu jalanan sudah mulai dinyalakan. Kami langsung diantar bang supir ke hotel langganan kami, Hotel Machudum (kala itu, mungkin sekarang sdah tak ada lagi). Masing-masing masuk ke kamarnya, untuk kemudian berjanji mencari makan malam di sana, di sekitar hotel atau di Pasar Raya Padang yang tidak jauh dari hotel. Setelah selesai makan malam, ada sebagian teman-teman yang membeli jajanan utk dibawa ke hotel sebelum tidur, sambil menanti datangnya tugas-tugas esok paginya. The end
  



Minggu, 15 Desember 2019

Perjalanan Dinas 2: PANGKALAN KOTO, KELOK 9 DAN PAYAKUMBUH

PANGKALAN KOTO
KELOK 9 DAN 
PAYAKUMBUH, Bagian 2

Laporan perjalanan ini ditulis pada malam hari, ketika senja telah ditanggalkan waktu, dan matahari telah kembali keperaduannya. Dengan selalu mengingat sang Khalik dan namaNya yang pengasih dan  penebar kasih sayang, Penulis berusaha mengingat-ingat kembali semua perjalanan dinas yang mungkin, ketika singgah di tempat-tempat tertentu, ditambah dengan informasi terkini sebagai tambahan. Seingat yang tersimpan di ingatan, ada 10 kali pergi ke Padang selama 4 tahun bertugas di Riau. Bermula dari hutan lebat sekitar Tanjung Pauh menuju Pangkalan Koto yang termasyhur dengan hasil hutannya, gambir dan karet, dan diakhiri saat keluar di Kota Payakumbuh. Kota dengan berjuta pesona, keindahan alam, sawah-sawah dan ladang tempat mengembala sapi, bukit, air terjun, sungai yang mengalir ke kota, penduduknya yang ramah dan terpelajar dan lain-lain. ****  



Pangkalan Koto, ibu kota Kecamatan Lima Puluh Kota, terkenal dengan TRADISI POTANG BALIMAUnya. 
Potang balimau adalah kegiatan mensucikan diri dengan menyirami tubuh dengan  perasan air jeruk nipis bercampur bunga rampai dengan aroma yang khas. Tradisi ini adalah tradisi menyambut bulan suci Ramdhan, dilaksanakan sesudah shalat Zuhur dan berakhir sore hari menjelang shalat Magrib tiba. Kegiatan ini sudah merupakan tradisi turun temurun dalam “menyucikan diri” yang dilakukan oleh anak nagari di sepanjang aliran sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Koto Baru di Kecamatan Limapuluh Kota. Selain untuk mensucikan diri, sekaligus sebagai tempat bersilaturahmi antar sesama anak nagari di kampung halaman maupun yang dari perantauan. Setelah selesai, pada sore harinya para pengunjung pulang ke rumah masing-masing untuk mandi balimau dengan ramuan khusus yang dipersiapkan oleh kaum perempuan di Pangkalan.

Masjid Raya Pangkalan Koto, jadul
Mesjid Raya Pangkaan Koto Baru terletak di tepi jalan raya Sumatera Barat - Riau yang merupakan mesjid kebanggaan bagi masyarakat Pangkalan, karena di areal mesjid inilah pusat kegiatan prosesi potang balimau diselenggarakan setiap tahun.

Topografi kecamatan Pangkalan Koto Baru bervariasi antara datar dan berbukit-bukit, daerah terendah dari permukaan laut berada di waduk PLTA di Tanjung Pauh (90 mdpl) dan daerah tertinggi berada pada Bukit Gadih (1330 mdpl) di nagari Koto Alam. Di kecamatan ini banyak sungai-sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air irigasi, mandi, cuci, memancing ikan dan sumber galian C, batu dan pasir. Juga sebagai sarana transportasi yang menggunakan perahu untuk membawa hasil gambir dan karet. Selain di ekspor, di Indonesia gambir dikonsumsi dengan sirih, kapur dan pinang oleh bapak-bapak dan ibu-ibu generasi kolonial, dan masih berlajut ke generasi baby boomers.
Peta Pangkalan = lima Puluh Kota

Gambir.

Gambir sejak lama telah dibudidayakan di Semenanjung Malaya,  Singapura dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Maluku).
Asal usulnya diperkirakan dari Sumatera dan Kalimantan, di mana jenis-jenis liarnya didapati tumbuh di alam. Gambir liar kerap  dijumpai di hutan sekunder. Ia tidak tumbuh di wilayah yang kering, namun juga tidak tahan dengan penggenangan. Tumbuh baik dari ketinggian 200 mdpl, gambir bisa juga hidup hingga elevasi 1.000 mdpl, sangat cocok dengan daerah Sumbar, terutama Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Gambir berproduksi dengan baik pada jenis tanah podsolik merah kuning sampai merah kecoklatanPada masa lalu gambir dihasilkan dari Sumatera Barat, Riau, Bangka dan Kalimantan Barat, namun kini utamanya diproduksi oleh Sumatera Barat, Riau, Sumatera SelatanJambi dan BengkuluSekitar 90% produksi gambir Indonesia dihasilkan dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia adalah India dan Eropa. Banyak para saudagar kaya raya di Pangkalan karena berdagang gambir dan karet.

Daun Gambir dan Buahnya.


Karet.

Nagari-nagari di kabupaten Lima puluh Kota dan sekitarnya atau Sumbar dan Riau pada umumnya, banyak pohon karet yang dimiliki oleh rakyat. Indonesia adalah pengekspor karet ke dunia industri, terutama ban, mobil pesawat atau yang bersangkutan dengan ban. Sebelum ada kelapa sawit, penghasilan utama Sumbar adalah Karet dan Gambir. tapi dengan adanya diversifikasi tanaman, sebagian besar menjadi kebun kelapa sawit. Produksi karet sedikit berkurang. Tapi masih tetap sebagai pengekspor karet nomor dua dunia.
Pohon karet rakyat
Sebagian besar adalah ditopang dari perkebunan karet rakyat. Dan saat itu sebagian kebun karet rakyat dan sawah itu dapat dilihat dari sisi jalan. Bagi yang ingin melihat hutan dan kebun karet rakyat itu kini sudah sangat jauh berkurang, sebagian beralih menjadi kelapa sawit. Sebagian lagi tenggelam bersama di bawah atau di dasar waduk Koto Panjang. 

Adapun sungai-sungai yang mengalir di nagari Gunung Malintang ada 6 buah, yaitu Batang Mahat, Batang Malutu, sungai Pimpiang, sungai Luhu dan sungai Lowan. Sungai yang mengaliri di nagari Pangkalan ada 5, yaitu Batang Mahat, sungai Maik, sungai Manggilang, sungai Samo, dan sungai Kasok. Di nagari Koto Alam ada 3 sungai, yaitu sungai Air Gadang, sungai Air Koto Lamo, dan Batang Lui. Di nagari Gunung Malintang ada 2, yaitu Batang Manggilang dan Batang Malagiri. Di nagari Tanjung Balit ada Batang Mahat yang telah mengaliri  daratannya menjadi waduk. Sementara di nagari Tanjung Pauh ada 5, yaitu sungai Cilatio, sungai Permato, sungai Picang, sungai Angki, dan sungai Marang. 
Semuanya, sangat sempurna sebagai penopang kehidupan masyarakat Pangkalan yang diciptakanNya, masyarakat yang insya Allah tak lagi mendustakan nikmat yang di tebar oleh Penebar kasih sayang itu.

Waduk PLTA Koto Panjang di Ulo Kasok

Berangkat lagi.

Perjalanan di hutan Rantau Berangin
Beberapa saat setelah beristirahat, bang supir  menghidupkan mesin sebagai pertanda taxi akan segera berangkat. Musik-musik berirama minang mulai bergema kembali. Laruik sanjo, kampuang nan jauah di mato, uda pulanglah dan lain-lain yang judulnya tidak kami kenal.  Perjalanan masih jauh, kira-kira 260km lagi sampai tiba di Padang, atau 8 km lagi menuju Pangkalan dan 17 km lagi tiba di Payakumbuh. Perjalanan menembus hutan belantara dimulai dari hutan Rantau Berangin. Pohon-pohon tinggi yang menaungi jalan, terkadang terlihat burung terbang melayang di angkasa, kadang juga ada monyet hitam ekor panjang bergelantungan di cabang dan ranting pohon.
Jalan yang kami lalui mulai banyak bertemu dengan tanjakan dan tikungan mengikuti alur sungai. Di sisi kiri sungai Kampar mengalir tenang, adakalanya beriak pelan, adakalanya juga suara air berdesau mengalir deras diatas bebatuan ketika kontour sungai menurun tajam..
Rute 1 bagian 2
Bangkinang-Payakumbuh
Banyak pohon-pohon tinggi yang menjulang ke angkasa tumbuh subur di kiri-kanan jalan dengan dedaunannya yang lebat. Beberapa di antaranya telah berumur tua. Pohonnya besar, dengan kulit yang coklat tua bersisik tebal. Beberapa cabang dan rantingnya ada yang mati, kering tak berdaun. Akarnya  sebagian kelihatan menonjol kekar, sebagian lagi tertimbun dedaunan kering yang jatuh dan  berwarna kecoklatan. Sesekali juga terlihat dekat akar itu tanah berwarna hitam seperti aspal jalanan, yang menurut beberapa keterangan, mungkin saja itu adalah batu bara terpendam di sana.
Tugu Perbatasn Sumbar -Riau
Danau PLTA Koto Panjang di Ulo Kasok,
sebagian masuk Kabupaten Lima Puuh Kota
Taxi yang kami tumpangi mulai menanjak dan memindah gigi pemindah kecepatan mesin bergantian, gigi dua ke gigi tiga dan sebaliknya. Mesinnya berderum lebih keras, karena memerlukan tenaga dorong yang lebih besar ketika menanjak. Perjalanan banyak menenemui tanjakan, maklum karena posisi kontour daerah Pangkalan itu brervariasi dari 90mdpl ke 1200mdpl,

Kami pernah dua kali menjadi driver melewati daerah ini. Agak gamang juga membawa mobil disini. Pernah kami alami, naik taxi yang membawa kami ketika pulang ke Pekanbaru, bertemu daerah ini pada malam hari. Jalanan sangat gelap, tertutup oleh dedaunan pohon rindang yang tinggi. Penerangan jalan hanyalah bersumber dari lampu mobil. Kelihatan supirnya  berdoa khusuk dan membaca al Qur'an, Ayat Kursi dari surah Al Baqoroh. Kami juga turut berdoa, semoga perjalanan berakhir selamat.

Di kiri jalan ada jurang yang 75m dalamnya, dengan sungai Kampar ada di bawah. Di sisi kanan ada bukit dengan hutan lebat. Kami memasuki kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar di Propinsi Riau, yakni Kecamatan Limapuluh Kota, yang ibukotanya adalah Pangkalan Koto Baru, disingkat menjadi Pangkalan saja.
Jembatan di atas waduk PLTA Koto Panjang, sekarang.

Sepanjang perjalanan banyak melewati jembatan kecil, karena kabupaten ini banyak memiliki anak sungai yang berkuala di Sungai Mahat dan Sungai Batang Malintang. Kedua sungai ini berkuala pula ke Sungai Kampar, yang kini airnya dialirkan dan dikumpulkan menjadi danau pembangkit listrik turbin air PLTA Koto Panjang. Kehulu jembatan, sungai Kampar telah lenyap ditelan waduk.

Peta Pangkalan = lima Puluh Kota
Kembali ke situasi perjalanan, bang supir menjalankan mobil taxi dengan tenang dan penuh konsentrasi. Pangkalan telah dilalui dengan selamat dengan melewati hutan belantara Tanjung Pauh dan Tanjung Balit (sebelum ditenggelamkan waduk).
Tugu Khatulistiwa di Bonjol 
Di tepi jalan kelihatan Tugu Khatulistiwa di Bonjol, sebagai pertanda bahwa Sumatra Barat memang dilalui oleh garis edar matahari di lingkaran tengah globe bumi. Panas matahari siang terasa menggigit, terutama di daerah terbuka ketika hutan tidak melindungi jalan. Akan tetapi panas itu tidak terasa ketika di sisi kanan dan kiri jalan ada hutan dengan pemandangan yang memanjakan mata, bagi siapa saja yang melihatnya. Bisa jadi, bagi pengembara jalanan tugu khatulistiwa ini tidak kelihatan karena tidak memperhatikan atau lupa, atau karena tertidur kelelahan dalam perjalanan jauh. Namun, pemandangan di sisi-sisi kiri dan kanan jalan, tetaplah menghijau, disela-selanya ada rumah penduduk. Di desa ini kelihatan kebun atau ladang penduduk dengan pohon kelapa, pinang dan pohon-pohon  pendukung kehidupan pedesaan yang subur. 

Persiapan memasuki Kelok Sembilan.
Daerah Harau memperlihatkan tebing-tebingnya yang indah, sebelum melaju ke depan, ke kelok sembilan yang legendaris dan terkenal itu. Hutan yang rimbun menyambut taxi kami, sebelum mulai menuruni kelok sembilan, kelok yang pertama menuju Payakumbuh. Jurang yang dalam menganga di sisi jalan, dan tikungan yang tajam kami lalui dengan berhati-hati. Bang supir tentu saja sudah berpengalaman dan mahir bermanuver di tikungan kelok-kelok ini.  Kelok 9 lama dimulai dari atas, menurun mulai kelok sembilan dari arah Pekanbaru atau Pangkalan,
Dalam gambara ini terlihat kelok sembilan yang lama. lebarnya lebih kecil
Dalam gambar terlihat,
berakhir di kelok satu. Yang lainnya adalah kelok sembilan yang baru dan jalan yang lama terlihat lebarnya lebih kecil..
Kelok sembilan yang lama   ke arah Payakumbuh, tahun 1985
Di tikungan terakhir, kelok satu, sudah mulai berjumpa dengan warung-warung kecil. Kami tidak minta bang supir untuk berhenti sejenak, karena hari telah senja. Tikungan terpanjang di lalui, kemudian kecamatan Lima Puluh Kota pun kami tinggalkan.

Kelok 9 lama dan baru dipadukan...
Perjalanan di Ranah Minang berlanjut, kini menuju Payakumbuh kota batiah. Sebagian lagu-lagu minang kembali diputar bang supir, berdendang lembut dan riang gembira. Asyik juga, karena bukan lagu gundah gulana, tapi memuja budaya setempat.
Wahai pembaca, sebagian liriknya ada yang berbunyi:
"Baranak ampek .... den nanti juo...", masya Allah, sampai sedalam itu kiranya dendam kesumat cinta, sengsara dan merana badan, bisa jadi menanti dan sabar meunggu hingga lebih 6 tahun.
Tapi, apakah yang tidak mungkin demi cinta? Ketika cinta melanda, banyak waktu untuk tak bisa menggunakan akal sehat. Memang cinta tak bermain dengan akal, tapi bergelora dengan perasaan, kadang rindu tapi benci, kadang dendam amarah, tapi  hati memaafkan, apapun perilaku orang yang dicintai. Sang kekasih hati selalu dirindukan. Dekat terasa jauh, tapi jauh terasa dekat pula. Demikianlah keagungan cinta, cita rasa keindahan yang dianugerahkan tuhan kepada makhlukNya, manusia. Cinta itu memang melelahkan, tapi menyehatkan, menyakitkan tapi membahagiakan, dendam amarah tapi rela memaafkan. "Baranak ampek...den nanti juoooo...."...
Lembah harau, ketika memasuki Kota Payakumbuh
Berjumpa dengan Lembah Harau, di sisi jalan ketika taxi kami akan memasuki kota Payakumbuh. Jalan yang di lalui sudah agak lurus, sudah tidak banyak tikungan atau kelokan. Dinding lembah yang berupa tebing batu berwarna coklat muda, yang nyaris tegak lurus terlihat di kiri-kanan jalan. Ada beberapa rumah di bawahnya selain bentangan sawah yang tertata rapi, indah menghijau pahatan Ilahi Rabbi.

Ketika matahari senja tinggal sepenggalah tingginya, pukul 1600, kami memasuki kota Payakumbuh, ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Lembah harau pun kemudian dilalui. Petani di sawah tidak lagi bekerja di sawah, tidak terlihat lagi kecipak cangkul membelah lumpur, menyiangi padi dari rumput liar. Kerbau pembajak sudah dipersiapkan untuk pulang. Margawatwa senja, tonggeret, telah bernyanyi menggantikan kicauan burung pagi hari.  Kota Payakumbuh sudah di depan mata. Selamat datang di Payakumbuh, begitu bunyi gerbang yang menyambut kami. Keramaian kota langsung terlihat. Bang supir kembali mebawa mobil dengan tenang dan berhati-hati, karena ramainya lalu lintas. Matahari senja dilindungi awan tipis, warnanya mulai memerah, pertanda senja akan menjemput malam.

Kota Payakumbuh terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentang alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografi daerah kota ini terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang AgamBatang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Payakumbuh berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Dengan luas wilayah 80,43 km² atau setara dengan 0,19% dari luas wilayah Sumatra Barat, Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat. 

Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kendaraan yang di depan memberi kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.

Agar jangan terlalu panjang, mungkin saja agak lelah mata membacanya, kami sudahi dulu disini, nanti pada episode terakhir, Paya kumbuh - Bukit Tinggi - Padang, kita sambung lagi.
Gerbang Kota Payakumbuh.
Bagi yang ingin mendengarkan dendang minang yang mirip selama perjalanan, silahkan di putar di you tube: https://youtu.be/O0XyelYDIiI,

the end..  ns 11/12/19, ankid cicalengka raya 49






Selasa, 10 Desember 2019

Perjalanan Dinas 1: BANGKINANG, PANGKALAN KOTO

BANGKINANG, 
PANGKALAN KOTO
Bagian 1



Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, berjarak kurang lebih 63 km dari Pekanbaru ibu kota provinsi Riau. Ia juga sebagai ibu kota kabupaten yang berdekatan dengan ibu kota provinsi, dan menjadi daerah penghubung dengan Propinsi tetangga, Sumatra Barat. Mayoritas penduduk Bangkinang beragama Islam berlatar belakang budaya Minang dan Melayu. Tidaklah mengherankan, kalau masjid tertua di Riau ada disini, berumur ratusan tahun.
Islamic Center Bangkinang, Masjid Al Ikhsan Bangkinang
Kota ini juga memberikan alumni madrasahnya sebagai karyawan di Telkom Pekanbaru. Lima dari sepuluh karyawan bagian operasi kami adalah lulusan madrasah MTsN dari Bangkinang dan Air Tiris. 

Daerah ini awalnya merupakan bagian dari Sumatra Barat, tetapi setelah penjajahan Jepang, dengan pembagian distrik yang ditentukan oleh Jepang, Bangkinang dan Kabupaten Kampar dipindahkan ke dalam Propinsi Riau bersama  Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu. 
Rute 1 bagian 2
Bangkinang-Payakumbuh

Pukul setengah sepuluh kami sudah berada di kota Bangkinang ini. Cukup cepat, karena jalannya relatip lurus dan tanjakannya tidak ada yang curam. Kami tidak singgah, karena masih pagi, belum tiba saatnya makan siang. Beberapa sepeda, motor (kereta menurut istilah di daerah ini) dan mobil tampak parkir di sisi jalan. Saat itu, kira-kira tahun 1983, para wanita muslimahnya, memang masih belum banyak yang mengenakan hijab, hanya baju kurung saja, pakaian yang cukup sopan secara syar'i.
Sesekali ada bus yang membawa penumpang dari daerah-daerah sub-urbannya untuk datang ke kota, atau akan melanjutkan perjalanan jauh, ke Pekanbaru atau ke Padang. Ada juga truk yang membawa barang keperluan sembako dan lain-lain. Anak sekolah madrasah dan sekolah umum sedang belajar, sehingga kegiatan kota Bangkinang kelihatan agak sepi. Hanya ada kegiatan pedagang, ada yang sedang menerima sales, meladeni beberapa pembeli, ada pula yang sedang menyiapkan sarapan pagi, dengan kopi khas minuman daerah sini.

Perlahan dan hati-hati, bang supir membawa taxi di tengah kota dengan tenang, melewati Islamic Center, Masjid Al-Ikhsan. masjid yang menjadi lambang keagungan kabupaten Kampar. Dulu masih belum seindah ini, karena dibangun dengan multi-years project. Satu persatu tempat indah di Bangkinang dilewati, sampai jumpa batas kota, menuju propinsi Sumatra Barat. Kontour jalannya lurus, tidak banyak tanjakan atau penurunan. Kalaupun ada tanjakan, itu tak membuat taxi yang kami tumpangi melambat dan mesinnya berderam lebih keras karena memerlukan tenaga ekstra di tanjakan. Pohon pinang di sisi jalan selalu ada, karena sejarah penduduk Riau dan Minang yang selalu makan sirih merupakan bagian adat pergaulan di kala itu. Masih ingatkan lagu Sekapur sirih seulas pinang, bukan?

Perjalanan berlanjut. Kini memasuki hutan rimba kabupaten Kampar, yang mengarah ke Sumbar, Kota Pangkalan sebelum Payakumbuh. Dari Bangkinang ke Payakumbuh berjarak 131 km, mengikuti panjang jalan raya yang berbelok ke kiri dan berbelok ke kanan, lurus, menurun dan ataupun mendaki. Sebenarnya secara line-of sight (pandangan garis lurus yang ditarik di peta) jarak fisiknya hanya 77 km saja.
Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang seperti keberangkatan kami. dari Pekanbaru

Pintu masuk jalan terowongan
Relief-relief dalam terowongan


Dalam perjalanan, taxi-taxi ini akan berhenti dan bertemu di  Rantau Berangin. Kota dekat Perbatasan Riau-Sumbar, masih daerah Kecamatan Koto Panjang yang bernama Tanjung Pauh, Kuok. Tempat pemberhentian istirahat bagi supir taxi dan penumpang. Berada di tengah rimba belantara, ditepi sungai Kampar, di tengah hutan rimba lebat pegunungan Bukit Barisan. Kini menjadi sebuah objek wisata sejarah yang terletak di Desa Merangin, Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Dari Bangkinang, jalan harus melalui terowongan yang berjarak lebih kurang 
25km. Setelah melewati beberapa desa, di depan telah menanti jalan yang memasuki terowongan.  Lokasinya terlihat jelas di depan jalan. Bang supir bersiap memasuki terowongan. Lampu dinyalakan dan aba-aba atau klakson dibunyikan, lampu jauh dikedap-kedipkan, agar ketahuan jika ada mobil lain yang sedang melintas berlawanan dari arah depan. Biasanya diatur, masuk dan keluar mobil secara bergantian. Karena tak ada kode bunyi klakson balasan, dan tak ada kode cahaya lampu dimmer berkedip sebagai balasan, bang supir membawa kami segera masuk. Di tengah-tengah terowongan gelap, ketika mobil kami lewat, banyak kelelawar terbang berhamburan dari sarangnya.  


Pintu Keluar Terowongan
Relief-relief terowongan disorot lampu mobil jelas kelihatan, dan tahun pembuatannya, masih kelihatan, tahun 1929, juga menempel di dinding terowongan. Beberapa tempat ada genangan air, tapi tidak menjadi berlumpur, karena memang beralaskan batu terowongan. Bang supir tidak menyalakan tape utk memutar lagu-lagu, karena di terowongan ini suara akan bergema.  Setelah keluar dari terowongan, sungai Kampar terlihat di sebelah kiri. Hutan yang subur dan lebat, hutan rimba Sumatra yang terkenal itu menaungi jalan dengan pohon-pohon besar. Saking lebatnya, diatas jalan ranting dan dahannya banyak yang bersambungan di atas jalan, sehingga membentuk gerbang jalan yang berpayung hutan. Beberapa desa kami lalui dan akhirnya terdengar sayup-sayup suara aliran sungai Kampar, desiran lembut suara air mengalir di kiri jalan. Ada beberapa tanjakan dan jembatan kami lalui.
Sungai Kampar di sebelah Kiri pintu keluar terowongan.
Di kejauhan tampak bendungan PLTA Kotopanjang

Selama satu jam setengah kami melipir dari Bangkinang hingga tempat ini. Lalu kamipun beristirahat di daerah pemberhentian taxi dan bus di Rantau Berangin. Rumah makan kampung yang terkenal saat itu adalah rumah makan Densiko, termasyhur  dengan gulai ikan emas, ayam goreng serundeng, telor dadar, dendeng badariak, sayur lalap, sambal hijau, daun ubi rebus, selain rendang minang yang legendaris dan masakan lain-lain yang lezat cita rasanya. Kini rumah makan itu telah ditenggelamkan bersama kampung tempat peristirahatan itu. Ujung jalan setelah terowongan terputus di tembok bendungan PLTA Koto Kampar itu.

Pada saat kami bertugas di Pekanbaru, kamipun sudah mendengar tentang PLTA ini. Cuma waktu itu kamipun tidak tahu batas-batas perencanaan danau PLTA Koto Panjang itu. Kami juga sering membayangkan, ketika lewat terowongan, andai kata bendungan di buat lebih ke hilir sungai Kampar, maka bendungan akan menelan terowongan, dan jalan akan beralih ke arah Pasir Pengarayan. Dalam kenyataan, bendungan dibangun sebelum terowongan, jalan baru di buat diatas terowongan. sampai melewati bendungan. Terowongan itu kini menjadi objek wisata terkenal di Bangkinang, Riau.
Setelah keluar dari pintu terowongan,
jalan lama berakhir disini, 

Pada musim kemarau, air danau surut, ujung dahan dan ranting yang belum membusuk, terlihat muncul kepermukaan. Jika kemarau berkepanjangan, air penggerak turbin tidak cukup debitnya, dan pembangkit listrikpun mungkin saja di matikan sebagian atau bahkan seluruhnya. Tapi pada musin penghujan, air bisa melimpah, bahkan 5 pintu-pintu spill-over tak mampu melepaskan air ke hilir. Kalau sudah begini tak jarang membuat banjir di hilir, termasuk di kota Bangkinang. Kalau sebelum PLTA dibangun, hutan sawit belum meraja lela seperti sekarang ini, debit air sungai Kampar itu relatif stabil. Kecuali kalau musin hujan yang berlebihan, bisa membawa bencana banjir dihilir, di sekitar Bangkinang. Dan dalam kenyataannya, kota Bangkinang itu dikelilingi oleh danau, sungai dan kolam-kolam bekas galian.

Setelah selesai istirahat dan makan siang, hari telah menunjukkan pukul 1230 menjelang senja. Kami melaksanakan shalat zuhur di jamak dengan asar, di musholla sederhana yang disediakan oleh masyarakat setempat. Airnya bersih, bersumber dari mata air. Kami tak lupa berdo'a, semoga nanti setelah berwudlu dan shalat, air dan hati kami bersih pula adanya. Demikian juga badan sudah bertambah segar, sebagian kelelahan telah pulih, siap melanjutkan perjalanan yang masih jauh ke tujuan, Padang kota idaman.

Jembatan Rantau Berangin lama di atas Sungai Kampar.
Inilah jembatan indah Rantau Berangin dan hutan yang menghubungkan kedua sisi sungai Kampar. Kami akan melewati ini, sebelum lanjut ke Propinsi tetangga, di Kabupaten Lima Puluh Kota.  Hutan Lebat disekelilingnya membuat mata kita yang melewatinya sejuk, nyaman dan menenangkan hati. Semuanya berkat karuniaNya, Pemilik Alam Semesta, Ilahi Rabbi.***

Perjalanan berikutnya akan di sambung pada bagian 2.