Minggu, 08 September 2019

MASA INDAH SEKOLAH DASAR

MASA INDAH SEKOLAH DASAR
Lanjutan Cerita RATNA MUTU MANIKAN, cinta monyet?






Inilah kehidupannya, hari-hari sekolah di SD. 
Ketika fajar menyingsing di ufuk Timur, langit memerah terlihat malu-malu, muncul dari balik garis cakrawala dan rumpun pepohonan. Perlahan, gelap dan kelamnya malam berangsur terang, dienyahkan oleh munculnya cahaya merah fajar menyambut siang. Iapun pergi ke masjid di tepi sungai Bah Bolon untuk mandi dan shalat subuh, lalu pagi hari ia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ketika matahari membuka semua selimut gelap ufuk Timur, ia melangkahkan kakinya berangkat ke sekolah. Disekelilingnya terlihat rerumputan ialang yang berdesir di tiup angin.
Rumput bergoyang ditiup angin

Berpasang-pasang burung tekukur keluar dari sarangnya, mulai bernyanyi, terbang dari satu pohon kepohon lain. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup nyanyian perkutut. Seakan menemani, ditingkahi cicit burung pipit.
Di sekolah ia juga berkesempatan untuk bermain-main dengan teman-temannya. Bermain kelereng, bermain kasti, patuk lele, gangsing, bola kasti dan alip-alipan   Alip-alipan bola adalah permainan untuk melempar teman dengan bola tennis, biasanya enam  orang   lawan enam orang.2) di halaman sekolah yang luas. Tergantung permainan apa yang lagi musim. Kalau sedang belajar agama, karena temannya sekelas hanya ada lima orang yang beragama Islam, mereka dijinkan untuk tidak ikut belajar. Kesempatan ini mereka gunakan untuk bermain-main di sungai Bah Sorma atau pergi kerumah temannya Sulaiman Purba di Tomuan hilir.
Siang hari setelah pulang sekolah, ia harus mengasuh adik-adiknya, diantaranya Kamisah, Nurhayati (kini almarhum), Zahara, Misnah Addrah (juga almarhum).

Pada suatu hari libur, ia membawa adik-adiknya ini ke kebun binatang di Jalan Gunung Simanuk-manuk tanpa ditemani ayah-ibunya. Kebun bintang ini sangat bagus dan indah, penuh dengan pepohonan yang besar serta binatang yang cukup banyak dan terawat. Kebun Binatang atau taman hewan Pematangsiantar merupakan taman hewan yang cukup tua di Indonesia. Pagi hari, sekira pukul tujuh, mereka berangkat dengan berjalan kaki dari rumah di jalan Daliltani, disambung dengan oplet kearah Kampung Kristen. Jarak kebun binatang dengan rumah mereka kira-kira berjarak sepuluh kilometer. 



Gambar satwa di kebun binatang Pematangsiantar



Sesampainya disana, ia heran kenapa banyak orang yang melihat dan memperhatikannya. Mungkinkah karena tidak ada orang tua yang menemani?  Mungkinkah  karena  ia  masih  kecil, dengan pakaian adik-adiknya serta kain gendong yang dipergunakannya biasa-biasa saja? Kadang-kadang terdengar ucapan orang yang merasa belas kasihan. Kenapakah gerangan? Pada mulanya ia sendiri tidak tahu. Akhirnya, dari ucapan-ucapan pengunjung yang didengarnya ketika melihat mereka, iapun tahu apa sebabnya. Kebun bintang adalah tempat rekreasi, umumnya orang datang ke sana  berpakaian yang bagus dan indah, bukan pakaian sehari-hari seperti yang dikenakannya bersama adik-adiknya. Dan bukan dengan berjalan kaki. Pengunjung lain banyak yang membawa makanan ke sana dan makan bersama, sedangkan ia bersama adik-adiknya tidak membawa apa-apa. Ia malu juga akhirnya.

Meskipun demikian, mereka tetap berkeliling melihat binatang yang ada. Seperti Harimau Sumatera, gajah, ular sawah atau ular sanca beserta jenis-jenis ular lainnya, buaya, berjenis-jenis burung, monyet, siamang dan lain-lain.
Burung Engang, Taman Hewan Pematangsiantar
Ia juga melihat aliran sungai Bah Bolon yang mengalir di sebelah bawah kebun binatang. Aliran deras di tengah sungai berdesau menyapu bebatuan. Sebagian air yang mengalir dipinggir hanya berdesir, beriak dan terus mengalir kehilir. Setelah merasa puas dan lelah, ia mengajak adik-adiknya pulang dengan terus menyusuri jalan yang mereka tempuh ketika berangkat. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi membawa adik-adiknya ke kebun binatang tanpa persiapan yang baik.
Ia sudah mulai merasa malu melakukan hal yang sama. Ia belajar dari lingkungannya. Kalaupun ia harus mengulangi membawa adik-adiknya ke kebun binatang atau ketempat keramaian lainnya, ia selalu mendandani adik-adiknya dengan baik serta dengan persiapan sewajarnya.  
Ibunya saat itu masih bertani di ladang yang dekat di belakang rumah. Ada kalanya bercocok-tanam jagung, bengkuang lalu diselingi dengan sayur bayam. Memang ibunya sangat rajin dan pandai bercocok-tanam. Di sekeliling rumah, ibunya memelihara seledri dalam pot-pot yang terbuat dari bahan kaleng bekas, di atur berjejer diatas papan. Tapi, karena tempat hunian monyet di tempat lain banyak yang mulai berubah menjadi pemukiman, monyet  lalu sering kali datang mendekati kota, ke sekitar tempat mereka tinggal. Bengkuang atau jagung yang siap panen digali dan dirusak monyet, habis tak bersisa. Karena gangguan monyet ini, akhirnya ibunya berhenti berladang.   

Pada hari-hari libur tertentu ia pergi ke sawah untuk melihat petani bekerja membajak sawah. Ia senang melihat keindahan sawah dan alam sekelilingnya. Inilah pembicaraan dengan ibunya,
“Nur, bawa adikmu jalan-jalan, ya nak? Emak mau ada kerjaan ke ladang kita yang di    
belakang”, demikian pesan ibunya.
“Ya mak, kami mau pergi ke sawah melihat orang yang membajak sawah, boleh ya
mak?”, sahutnya.   
“Ya, tapi hati-hati ya”, ibunya member ijin.
“Ya mak”, lalu iapun bersiap berangkat dan mengajak adiknya.

Hari itu ia membawa adik-adiknya ke sawah. Makanan ringan berupa ubi jalar atau pisang rebus dibawanya serta. Adik-adiknya, Nurhayati digendongnya dan Kamisah berjalan mengikutinya perlahan-lahan. Di tengah sawah ia melihat petani sedang membajak sawah. 


Membajak sawah dengan kerbau
Pisau bajak sudah di letakkan di atas lumpur sawah dengan batang penghubung berada di pundak dan leher kerbau pembajak. Petani terdengar berteriak menyemangati kerbaunya membajak, “EEAH…!!! EEEAHHH… Hayooo…”. Kadang diiringi senandung. Kerbau bergerak melangkah di lumpur sawah, menarik bajak. Lalu sebagian batang padi bekas panen dan tunggulnya berbalik berada di bawah lumpur yang kelak menjadi pupuk alam. Sampai akhirnya permukaan sawah sudah datar dan tidak ada lagi bekas batang dan tunggul padi yang terlihat.

Ketika terdengar suara azan berkumandang sayup-sayup dari kejauhan, istirahat sebentar, shalat Zuhur dan makan siang di gubuk sawah bagi mereka yang Muslim. Di kampung mereka, banyak petani Muslim dari suku Batak Toba. Ketika itu ia sendiri belum melaksanakan shalat yang lima waktu sepenuhnya. Ia memberi adiknya pisang atau ubi rebus dan untuk dirinya sediri juga untuk dimakan. Lalu dilanjutkan sampai menjelang senja. Setelah selesai membajak, anak gembala duduk diatas kerbaunya yang sedang merumput, sambil meniup serunai puput yang terbuat dari batang padi atau seruling bambu, melagukan nada sedih, diselingi nada gembira.
Tonggeret bernyany di pohon,
pertanda senja datang
Haripun berangsur senja. Matahari di ufuk Barat tinggal sepenggalah tingginya, bersiap menebar selimut malam. Sinarnya semakin memudar. Kerbau dengan pengembalanya berhenti bekerja. Alampun perlahan merangkak dan hari mulai gelap. Perlahan-lahan tapi pasti, matahari mulai turun ke ufuk Barat, mulai bersembunyi di balik rindangnya pepohonan. Yang tidak lama lagi akan segera menghilang dibalik cakrawala malam. Cuaca mulai samar redup matahari mulai kelihatan memerah.
Serangga senja oer-oer atau tonggeret terdengar mengeluarkan nyanyian khas dari batang pepohonan. Bahasa Bataknya disebut Sese. Senandung Batak Rura Silindung terdengar sayup-sayup dinyanyikan pengembala, menyambut senja,

Makuling sese, sese di balian iiiiiii…..
Na paboahon, naung bot do  arii
Rura Silindung, rura na dumenggani…..
Lambok malilung na marbaju na disi

Di pukul opat, di ro bot ni borngini
Disi pe mulak sidoli pangaririti  …….
Huhut makkuling, sese di baliani
Namangendehon, rura na dumenggani….

Suasana mulai sunyi dan kicau burung tak terdengar lagi. Burung-burung telah berhenti bernyanyi. Ia melihat anak gembala menghalau ternaknya, pulang menuju dangau, dan iapun pulang membawa adik-adiknya kembali ke rumah.

Senja menjelang, mereka pulang
Pohon bambu yang rindang disepanjang jalan,
 mengeluarkan desauan dibelai tiupan angin senja yang kencang menyapu dedaunan. Tiupan angin yang menyegarkan. Terkadang juga terdengar suara detakan keras, “Tak….., tak….., tak…., tak…, rrrratak.., tak, tak, tak!!!!”. Suara ini akan terdengar tatkala bambu yang panjang bergerak, batangnya bergesekan satu sama lain ditiup angin kencang. Ketika angin kencang itu berlalu, sayup-sayup terdengar suara gesekan daunnya berdesir dibelai angin semilir. Dari balik dedaunannya terlihat matahari senja merona memerah di ufuk Barat, pertanda segera datangnya malam menggantikan siang. Suara riak air terdengar dari sungai kecil pengairan sawah yang harus mereka seberangi. Alangkah indahnya orkestrasi dan nyanyian alam disenja seperti ini.


Gambar Pohon bambu  di jalan pulang.
.
Sebelum magrib mereka tiba di rumah. Ia bergegas melaksanakan shalat Ashar yang waktunya hampir habis. Ibunya telah selesai mencuci pakaian dan sedang memasak makanan malam mereka. Setelah shalat magrib dan mengaji selesai, malam harinya ia belajar, terutama kalau ada PR, pekerjaan rumah, ditemani musik alam, suara jangkrik dan suara serangga malam lainnya. Kadang-kadang ada suara burung hantu di kejauhan di balik rimbunan pepohonan, atau musik gondang Batak pengiring tarian Batak, tor-tor, sayup-sayup sampai, sumbernya entah dari mana. Ia tidak pernah bertanya tentang PR atau pekerjaan rumah dari sekolah kepada ayah-ibunya, karena kalau ditanya mereka hanya bilang mereka tidak tahu.

“Makanya nak, kau disekolahkan agar pintar”, jawab ibunya.
“Tidak seperti kami ini, yang tidak banyak mengetahui apa-apa”, memberikan alasan.
“Kaulah nanti Nur, yang membantu kami”, ibunya berkata  memelas, mengharap.
 “Ya Mak…”, jawabnya. Ibunya benar, ia harus terus berusaha dengan gigihnya, sampai bisa dan mengerti, tanpa ada yang mengajarinya di rumah.  

Atau membaca majalah yang dibeli ayahnya. Ia senang sekali membaca cerita dari buku bacaan wajib mereka di sekolah, atau kumpulan buku cerita tentang Ciung Wanara, Budi yang hidup di desa, kehidupan sehari-hari pengembala, anak yang rajin dan berhasil dan lain-lain. Sebagaimana biasa, kalau sekolahnya dimulai siang hari, pagi hari ia mengasuh kedua adiknya, Nurhayati dan Kamisah, karena ayah-ibunya biasanya bekerja dan berdagang sayuran di pasar Pajak Horas. Ayahnya berangkat setelah shalat subuh mencari sayuran ke kampung untuk di jual ibunya dipasar. Pagi harinya ayah juga bertugas sebagai pengantar sayuran ke RS Umum Pematangsiantar. Kalau sekolahnya masuk pagi, ia menjemput Nurhayati kecil ke pasar setelah pulang sekolah. Kalau masuk siang dan akan pergi ke sekolah, Nurhayati diantarkannya ke pasar Pajak Horas untuk diasuh oleh ibunya di pasar sampai menjelang sore saat pulang ke rumah. Kamisah ditinggal sendirian di rumah sambil menunggu ayah pulang dari pasar. Kalau ada vaksinasi massal ia jugalah yang membawa Nurhayati ke kelurahan untuk vaksinasi batuk, typus, kolera atau cacar. Sayang, adiknya Nurhayati kurang sehat. Suatu hari Nurhayati jatuh sakit. Tidak lama kemudian, sakitnya semakin parah, tapi karena Nurhayati tidak banyak menangis dan pengobatannya tidak sempurna, akhirnya meninggal dunia di hadapannya. Inna lillahi wa inna lillahi roji’un. Ia amat bersedih hati, adik yang sehari-hari diasuhnya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia pergi menjauh, menangis seorang diri agar tidak dilihat oleh orang lain. Tapi karena ia masih kanak-kanak, tidak berapa lama kemudian ia telah dapat melupakan kesedihan hatinya.

Tonil atau opera Batak Serindo, SITILHANG sering datang mengunjungi kampung mereka untuk mementaskan sandiwara. Ia sangat senang menonton dan hampir tidak pernah melewatkan malam tanpa menonton. Salah satu episodenya yang terkenal adalah Si Boru Tumbaga (https://youtu.be/rXo1gModpuA). Ada saja alasannya untuk pergi menonton.

Opera Batak, Episode Si Boru Tumbaga
dapat di lihat di You tube
Untuk kenangan, lagu-lagu Tonil Serindo, yang juga disebut sebagai uning-uningan, dapat di lihat di https://youtu.be/ZHG70Ha1OP4. Lagu-lagu Batak banyak dipelajarinya dari tonil ini, seperti lagu-lagu
Inang Sarge, Siksik Sibatu Manikkam, Rura Silindung, Sing Sing So, Madekdek ma Gambiri, Parmitu dan lain-lain.  Beberapa lagu kenangan dapat di lihat di Lagu-agu Siksik Sibatu Manikkam kini dipopulerkan lagi oleh pemusik cadas, oleh kelompok musik rock Zamrud asuhan Leg Zelebor yang kondang itu. Lagu Parmitu tidak disenanginya, karena ia sering mendengar lagu itu dinyanyikan dari kedai minuman keras khas budaya Batak, nira yang sudah dipermentasi yang disebut tuak. Parmitu sendiri artinya adalah peminum, dan ucapan dan teriakan lissoy dalam lagu itu adalah dalam rangka ucapan selamat kepada sesama peminum. Di persimpangan Jalan Daliltani dengan Jalan Narumonda, banyak sekali kedai kopi yang juga menjual minuman tuak. Sering terjadi dan melihatnya dengan mata kepala sendiri, perkelahian timbul karena sudah tidak lagi bisa mengontrol diri karena mabuk. Kalau tidak berkelahi, pulang kerumah sempoyongan, kadang terjerembab ke parit tak ada yang menolong sampai akhirnya sadar sendiri. Kalau sampai ke rumah, ketika pintu dibuka, pemabuk ini langsung terjerembab lagi, bisa di depan pintu, bisa juga setelah di dalam rumah, di ruang tamu. Agar cepat sadar, biasanya diguyur dengan air dingin dan langsung tertidur sampai sadar keesokan harinya. Dengan pakaian kotor yang berlumur muntahan yang bercampur dan berbau minuman tuak. 
Cerita tonil yang dipentaskan diantaranya adalah kepahlawanan Sisingamangaraja melawan penjajah, dibantu oleh seorang panglima perangnya dari Aceh dan seorang lagi dari Minangkabau. Atau kisah cinta antara dua sejoli yang dipaksa nikah dengan pariban1)nya, dan bermacam-macam cerita lain-lain. Bahasa pengantarnya tidak selamanya bahasa Batak, ada kalanya campuran dengan bahasa Indonesia, tergantung isi ceritanya. Diselingi nyanyian, diringi orkestra musik Batak yang didominasi oleh seruling dan kecapi. Indah menggetarkan hati. Bintang tonilnya waktu itu adalah Boru Situmorang. Tinggi badannya sedang, warna kulitnya putih kuning langsat. Kalau sedang menyanyi, ia bisa menitikkan air mata atau gembira ketika muncul keatas panggung membawakan lagu-lagu gembira atau sedih. Ketika ditimpa lampu sorot panggung dengan latar belakang layar dengan warna yang serasi, alamaaak… cantiknya! Ya cantiknya bukan kepalang, karena memang dianya sudah cantik, ditambah lagi karena dirias oleh juru rias yang berpengalaman dan disiram oleh cahaya lampu warna warni. Sehingga banyak yang tertarik, dan kalau ia menyanyi atau menari tortor, banyak yang memberi saweran atau olop-olop kepadanya. Saweran berarti atau sama dengan olop-olop  dalam bahasa Batak. Dari sinilah rasa seninya berkembang dan sedikit banyak mengerti perempuan yang cantik itu yang bagaimana. Ya seperti Boru Situmorang bintang tonil opera Batak itu. Karena seringnya menonton tonil ini, ia sangat senang mendengar musikalisasinya. Alat musik yang disenanginya adalah seruling dan kecapi. Akan tetapi karena kecapi harganya
_____________
2) Pariban adalah calon jodoh dari silsilah keluarga. Lelaki yang mempunyai saudara sepupu perempuan, anak paman dari adik ibu lelaki, disebut pariban atau sebaliknya. Anak lelaki ini disebut ‘bere’ oleh pamannya ini, dan ia memanggil ‘tulang’ kepada ayah anak perempuan itu. Sebaliknya, anak perempuan akan memanggil ‘namboru’ atau ‘bunde’ kepada ibu anak lelaki paribannya dan “amang boru” bapaknya.  Biasanya banyak yang memang jodoh dengan cara atau budaya ini, cuma satu dua yang gagal.

mahal dan amat sudah dibuat sendiri, ia hanya bisa membuat seruling. Bahannya bambu, banyak terdapat disekitar kampungnya. Untuk membuat satu  lubang  tiup dan enam lubang pengatur nada yang sesuai, dapat dibuat dengan cara menggunakan paku yang dibakar sampai merah dan ditusukkan ke titik lubang yang telah ditentukan ukuran jaraknya. Tinggi nada dapat ditentukan dari besar garis tengah bambu. Itulah pula  sebabnya pemain  suling  sering  memegang lebih dari satu seruling. Ia mampu bermain seruling  menirukan beberapa lagu-lagu Batak. Ketika ia aktif di organisasi pemuda iapun bisa menirukan suling pemain gambusnya. Begitu juga ketika lagu Melayu Boneka dari India itu disiarkan RRI, yang dinyanyikan oleh Elya Khadam, penyanyi tersohor ketika itu, yang dominan suara serulingnya. Namun ia tidak serius menggeluti seni ini karena waktunya banyak digunakan untuk membantu ayah-ibunya. Tidak heran, ia adalah anak yang selalu juara dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan mahir bercerita.

Ketika bersekolah di SD Negeri 18 Pematangsiantar, ia dan teman-temannya sangat menyayangi guru-guru, walaupun kalau tidak bisa menghafal ilmu bumi, atau tidak mengerjakan PR, sebagai hukumannya sering kali betis kaki menjadi sasaran pukulan guru yang amat menyakitkan. Tentu ada juga guru yang galak terutama kalau ada muridnya susah diajar dan tidak mengerjakan PR. Karena rajin mengerjakan PR, ia jarang kena hukum. Bahkan ia lebih cepat paham ketika belajar di sekolah. Ia sangat senang menerima pengetahuan baru yang diterangkan atau dari dongeng encik atau pak guru. Ketika itu ibu guru disebut encik, bahasa dasar Melayu Deli untuk panggilan bu guru. Kepala sekolahnya adalah pak Sipayung. Beberapa orang gurunya yang lain adalah pak Simanjuntak, pak Purba, encik Ramcik, encik Sianipar, encik Sihombing, pak Sinaga dan lain-lain yang ia sudah lupa namanya. Semuanya guru ini pintar mengajar dan berwibawa. Setiap guru mampu mengajarkan pelajaran apa saja, termasuk seni suara. Saat itu setiap guru menjadi guru kelas, kecuali untuk guru kelas enam. Umumnya pak guru cukup gagah dan encik guru umumnya cantik, ramah dan pintar mengajar. Mungkin guru-guru yang datang atau ditempatkan disekolah ini adalah guru pilihan, karena sekolah ini adalah sekolah yang lebih dahulu dibangun untuk melayani murid-murid dari beberapa kampung yang jauh maupun yang dekat disekitarnya. Sekolah-sekolah SD belum tersebar seperti sekarang ini. Memang agak menyedihkan juga di waktu itu. Kalau murid ditugaskan mengerjakan PR, banyak orang tua yang tidak mampu membimbing anaknya mengerjakan PR. Maklum, banyak orang tua murid yang hanya bertani. Kebanyakan tidak lulus sekolah dasar. Atau bahkan tidak pernah sekolah.  
Saat istirahat, murid-murid bermain kelereng atau lainnya di halaman sekolah. Umumnya ditempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari. Guru-guru ada yang selalu ikut mengawasi dan menunggui murid-muridnya bermain dan bercanda ria. Terkadang ikut memberi komentar lucu dan menyenangkan. Memang saat itu guru tidak disibukkan membuat persiapan mengajar dan sillabus atau daftar mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh murid dalam proses pembelajaran. Mereka tinggal mengikuti saja buku yang dikeluarkan oleh pemerintah yang sudah sangat sesuai dengan kurikulum. Dan soal-soal untuk ujian akhir diambil atau diolah dari buku itu. Mereka juga mengawasi murid perempuan yang sedang bermain, agar tidak diganggu oleh murid laki-laki yang suka nakal dan usil merampas mainan anak perempuan.
Guru yang amat disukainya adalah encik Ramcik, orang Nias, cantik, putih, tinggi, langsing dan
pakaiannya selalu rapih, guru kelasnya ketika kelas dua dan empat. Encik Ramcik ini Bahasa Indonesianya bagus, orangnya jarang sekali menghukum atau marah, namun demikian karena kewibawaan dan kepintarannya mengajar, murid-muridnya selalu patuh kepadanya dan selalu dapat memahami apa yang diajarkannya.
Jika ada perlombaan baris berbaris dan pertandingan olah raga bola kasti antar sekolah, bersama murid-murid dari kelas yang lain dilatih dengan serius. Tapi ia jarang diikut-sertakan karena badannya terlalu kecil. Dan tidak jarang sekolahnya menjadi juara baris berbaris dan bola kasti antar sekolah se kota Pematangsiantar. Pelatihnya adalah pak Simanjuntak, orangnya tinggi besar dan gagah. Begitu juga dengan seni suara dan seni tari. Rata-rata guru pintar mengajarkan tari dan nyanyian dengan dasar not angka, suaranya merdu dan jarang yang sumbang. Ia sendiri hapal lagu kanak-kanak karangan ibu Sud dan AT Mahmud dan pengarang lainnya, karena diajarkan menggunakan not angka, hampir setiap hari di waktu akhir pelajaran. Pernah ada acara untuk memperingati HUT RI, mereka dilatih tari massal, namun karena tidak sanggup membeli pakaian seragam khusus tari, maka iapun gagal ikut serta padahal ia sangat ingin tampil.
Ketekunannya belajar dan rajin membaca tak pernah surut, walaupun hanya kadang-kadang menggunakan lampu tekan minyak tanah pada malam hari atau bahkan lampu teplok. Orang kampung di sana menyebutnya lampu semprong. Tak heran jika ia sangat lancar menghitung dan membaca, sehingga pengetahuannya mengenai Bahasa Indonesia dan pengetahuan umum juga turut berkembang dengan cepat. Maklum ayahnya senang juga membaca buku dan berlangganan majalah, diantaranya buku Sejarah 25 Nabi dan Rasul, dan majalah Panji Masyarakat. Setelah majalah ini dilarang terbit dikala itu, langganan majalahnya diganti dengan majalah lain. Dan ia juga senang membacanya. Atas saran guru-guru yang mengerti kemampuannya dalam penguasaan pengetahuan umum, berhitung, Bahasa Indonesia dan menghapal sejak ia mengikuti sekolah, ia merencanakan untuk menjadi seorang insinyur kelak.
Kelas satu, dua, tiga dan empat dilaluinya dengan tanpa masalah, nilainya untuk setiap mata-
pelajaran seringkali mendapat angka sepuluh, menjawab semua soal dengan benar. Ia juga sering disuruh mendongeng di depan kelas. Ia sendirilah yang gembira, karena jika dilaporkan kepada orang tuanya, mereka  tidak begitu mengerti akan hal seperti ini. Ia juga masih ingat, temannya satu kelas di kelas 4, perempuan, namanya Tiopan, menyanyi lagu Batak, tentang percintaan. Ia masih mengingat sebait lagu itu:

«Boasa ma, sai paksahon mu au inang,to anak ni namboru i ……. »

Saking khusuknya, tak jarang Tiopan, gurunya encik Sianipar dan anak perempuan ikut menitikkan air mata ketika Tiopan menyanyi. Ibu gurunya menjelaskan arti dari lagu ini. Lagu yang menceritakan kawin paksa antara perempuan yang dijodohkan dengan pariban sedangkan ia sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri. Haruskah ia putus cinta dengan pilihan hatinya? Lagu ini amat indah dan mengharukan. Saat itu, banyak temannya yang perempuan sudah berusia di atas empat belas tahun dan sudah siap menikah. Maklum, dikampung, saat itu sekolah belum sangat mereka pentingkan. Bahkan ada teman sekelas namanya Khalijah Manurung, menikah pada saat masih kelas lima. Maka tidaklah mengherankan, mereka sudah bisa menghayati lagu-lagu cinta dengan bahasa daerah Batak. Sedikit banyak iapun mulai mengerti hubungan antara laki-laki dan perempuan dewasa.

Keadaan perekonomian bangsa saat itu (tahun 1960-1961) mulai memburuk.  Gaji guru sudah  tidak cukup lagi untuk membiayai satu keluarga selama sebulan penuh. Ketika kelas enam, kelas mereka ditangani oleh dua orang guru, pak Sinaga dan encik Sihombing. Pak Sinaga harus bekerja sangat keras, sore dan malam hari sehabis mengajar, ia harus merangkap sebagai pengemudi becak. Kehidupan semakin susah ditahun 1962. Pembelian minyak tanah harus antri berjam-jam. Gula menghilang, beras sukar didapat, kalau ada membelinya harus mengantri, bergilir. Hasil antrian itu semuanya tidak mencukupi kebutuhan selama sebulan. Mereka sekeluarga sudah jarang makan nasi. Maka mulai kelas lima, iapun ikut membantu ayahnya di bengkel sepeda. Dari hasil bengkel ini, ia sudah bisa sedikit mempunyai uang saku yang dipergunakannya untuk keperluan sekolah.

Selain diajari ayahnya, setelah selesai shalat magrib ia juga mengaji pada malam hari di masjid pinggir sungai Bah Bolon, khusus anak lelaki. Alhamdulillah, ia menguasai ilmu tahsin Al Qur’an. Cuma suaranya kurang merdu. Ada teman mengajinya Adnan Tampubolon, yang suaranya sangat baik, dari pengajian di masjid Kampung Tomuan hilir. Oleh karena itu ia tidak pernah ikut perlombaan pembacaan atau musabaqoh tilawatil Al Quran. Ketika di kelas enam ia sudah khatam Al Qur’an di bawah bimbingan guru ngajinya, pak Haji Umar Alie, Ustadz Arsyad Lubis dan kadang-kadang juga Pak Zainal Nasution. Mengaji tata cara shalat, rukun Islam dan rukun Iman, cara berwuduk dan syarat rukun wudju, beberapa nasihat yang disesuaikan dengan hadist dan membaca Al Quran, selalu dilaksanakannya setiap malam setelah selesai shalat magrib. Pernah juga diajari menyanyi lagu-lagu religi oleh ustadz Mahmud, lagu melayu, diantaranya lagu Bunga Seroja ciptaan Said Efendi:

              Mari menyusun seroja
Bunga seroja, aaaa…….
Hiasan sanggul remaja
Putri remaja

Mengapa adikku termenung
Oh adik berhati bingung…..dst.

Lagu yang akhir-akhir ini kembali sering terdengar didendangkan orang. Terlebih-lebih lagi, lagu ini semakin terkenal pada saat film Laskar Pelangi diputar di bioskop-bioskop, film yang diangkat dari novel Andrea Hirata yang terkenal itu.
Jarak dari rumahnya ke masjid kurang-lebih satu kilometer. Pada saat pulang mengaji, kira-kira pukul sembilan malam, ia sering kali harus melewati jalan pintas, jalan setapak dibawah rimbunan pohon-pohon besar yang gelap gulita (seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya) , terkadang berdua pamannya. Dengan lampu lilin yang dinyalakan di dalam tempurung kelapa agar tidak mati tertiup angin, mereka pergunakan untuk penerangan jalan dikala pulang mengaji. Sejak itu ia sudah mulai shalat yang lima waktu, terutama shalat Jumat. ***

Mariana Murid Pindahan

Mungkin karena kepintarannya, ia selalu mendapat perhatian khusus dari guru-guru dan sering ditunjuk sebagai pengibar bendera saat upacara hari Senin. Padahal, badannya terbilang paling kecil dibanding dengan teman-temannya sekelas. Namun demikian, ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Teman-teman dan guru-gurunya senang kepadanya.

Rupanya, pada masa ini mulai ada perubahan pada dirinya. Ada murid perempuan pindahan ke kelas lima dari Kalimantan, Banjarmasin, yang cantik dan menarik hatinya. Ia anak seorang pejabat, mempunyai pakaian yang bagus, indah dan menarik. Pintar bergaul, ramah, tidak sombong, Mariana namanya. Mariana murah senyum, selalu ceria dan riang gembira. Entah apa sebabnya, kalau ia berdekatan dengan Mariana, ada perasaan senang dan bahagia. Udara sekelilingnya terasa segar menyejukkan, seakan-akan dikelilingi bunga warna-warni yang harum semerbak mewangi. Ia sering belajar, bermain dan bercanda bersama dan kalau menemui kesulitan, Mariana selalu minta diajarin terutama berhitung. Dengan senang hati ia mengajarinya. Oleh karena itu, ia tidak merasa rendah diri, walaupun ia hanya seorang anak pedagang atau petani dan tidak segagah teman lelaki sekelasnya. Sedangkan Mariana adalah anak orang kaya, berpendidikan dan cantik rupawan. 

Namun tak lama kemudian, belum genap setahun di SD ini, Mariana pun harus pindah mengikuti kepindahan kedua orang tuanya  ketempat tugas baru. Ia sempat berbincang berdua dengan Mariana seminggu sebelum pindah mengikuti orangtuanya di belakang kantor kepala sekolah, meminta Mariana untuk tidak pindah. Ternyata tidak bisa, karena tidak ada familinya di Pematangsiantar. Pada hari terakhir sebelum pindah, Mariana pamit dengan teman-teman sekelas. Hari itu ia hanya menikmati senyum terakhir dari Mariana sebelum berpisah, lalu melambaikan tangan sambil mengayunkan langkah, perlahan-lahan tapi pasti, Mariana pergi meninggalkan dirinya. Menjauh, lalu menghilang di balik tikungan jalan.

Di belakang sekolah tempat mereka pernah berbincang berdua, ia termenung. Sambil menatap ke depan, sendirian, jauh ke seberang sungai Bah Sorma, ke arah rimbunan pepohonan berbatas hutan bambu, ia melihat seekor burung elang terbang tinggi di udara. Pikirannya lantas melayang jauh tak berbatas awan, berkhayal menembus cakrawala batin, alangkah enaknya menjadi orang kaya, anak pejabat pula. Pakaian selalu rapih, sepatu putih bersih, diasuh oleh ibu yang penuh perhatian, sehingga hampir setiap hari pakaiannya berganti. Tas bukunya berwarna merah jambu, kadang warna biru muda, sampul bukunya bagus dan bersih, serasi dengan baju yang dikenakannya.

Sedangkan ia sendiri, sebelum mengenal Mariana, masih sering ke sekolah tanpa memakai sepatu. Pakaiannya hanya ada tiga pasang, dua pasang seragam untuk sekolah dan satu pasang untuk bekerja membantu kedua orang tuanya. Apalagi yang namanya tas sekolah, baru kali itulah ia mengenalnya, sejak melihat sering dipakai oleh Mariana. Ayah-ibunya hanyalah petani sambil juga pedagang sayuran. Pendidikan ayahnya amat rendah, bahkan belum lulus SD. Ibunya masih harus diajarin membaca. Maklum, waktu itu Republik masih sangat muda dan ia dilahirkan pada aksi polisionil Belanda di tahun 1948, di kampung pengungsian pula. Buku-buku pelajaran miliknya kebanyakan hanya buku bekas pakai, tetapi lengkap dan bersampul rapih, demikian pula dengan teman-teman sekelasnya. Sampul buku memang diwajibkan oleh
encik guru, sampul berwarna kuning tua kecoklatan.

Pertemanannya dengan Mariana membuka matanya terhadap kerapihan berpakaian. Terutama ketika ke sekolah, termasuk bersepatu. Walaupun selama ini ia sebangku dengan teman perempuan yang juga cukup pintar, rapih dan bersih namanya Furiska Simanjuntak, tapi tidak menarik perhatiannya sama sekali. Waktu itu, guru kelas menempatkan murid lelaki dan perempuan dalam satu bangku dan meja panjang sekolah, agar tidak bikin ribut di kelas. Sejak mengenal Mariana iapun rajin mengenakan pakaian yang disetrika, masih menggunakan setrika arang, dan sepatu yang bersih. Ia rajin mencuci dan mengapuri sepatunya sendiri menggunakan sisa kapur tulis sekolah agar selalu tampak putih bersih. Rambutpun sudah mulai dipangkas dan disisir dengan rapih, sering berkaca mematut-matut diri di depan cermin, membeli minyak rambut dan peralatan rias secukup uang yang dimilikinya. Ibunya senang dan hanya tersenyum penuh arti saja melihat perubahan ini. Iapun meminta dibelikan sepatu. Ibunya yang baik hati itu membawanya ke pasar Pajak Horas, mencari dan membeli sepasang sepatu yang pas harga dan pas ukuran untuknya. Ah, alangkah indahnya kehidupan di masa sekolah dasar ini, didampingi oleh ibu yang baik hati, yang selalu mengerti dan melindungi. Tidak salah kalau ada hadist Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, Syurga itu berada dibawah telapak kaki Ibu. Atau penghormatan, yang pertama…. ibumu, yang kedua…. ibumu dan yang ketiga…. ibumu, baru kemudian ayah. Ia teringat lagu Kasih Ibu yang diajarkan gurunya,

Kasih ibu,
Kepada beta,
Tak terhingga,
sepanjang masa,

Hanya memberi,
tak harap meminta,
Bagai sang surya,
menyinari dunia.

Sejak saat itu ia bertambah sayang kepada ibunya. Yang dapat diingatnya, ia belum pernah membantah ibunya. Kalau ada yang menurutnya tidak baik, ia selalu menanyakan atau mebicarakan dengan ibunya. Setiap kali disuruh, ia dengan cekatan mengerjakannya. Mengasuh adik, memandikan dan membawa mereka berjalan-jalan ke sawah atau ke kebun binatang. Mengambil dan memikul air minum dari pancuran mata air di tepi Sungai Bah Bolon atau sumur di tepi sungai Bah Sorma. Terkadang belanja keperluan dapur. Semua dikerjakannya dengan senang hati dan diusahakannya secepat mungkin.

Setelah kepergian Mariana, ia merasa ada yang hilang. Ternyata ia sudah mulai menyenangi perempuan, lawan jenisnya. Padahal ia masih kelas enam SD, baru berumur tigabelas tahun! Ketika itu ia belum sadar apa yang terjadi. Iapun ingin dan bermimpi, andaikan kedua orangtuanya menjadi orang kaya atau menjadi pejabat, ia bisa seperti Mariana, atau kalau bisa ikut pindah bersama Mariana. Alangkah senangnya, bisa menjelajahi tanah air bahkan dunia.

Hampir sebulan lebih ia selalu mengingat Mariana. Setiap kali teringat, hatinya merasa sedih, rindu dendam dan nelangsa. Sahabat karibnya itu telah menawan hatinya. Ia merasa sunyi, sepi, sendiri, setelah ditinggal pergi. Tak ada lagi canda ceria bersama. Tak ada lagi bunga warna-warni yang harum semerbak mewangi. Yang ada hanyalah bayang-bayang Mariana. Tidak pernah ada kabar berita, tidak ada alamat kemana gerangan surat dikirimkan, hidupnya sempat merana, semangatnya turun. Ibunya kebingungan menghadapinya. Hampir setiap hari ia bermuram durja, berkeluh kesah. Tanpa Mariana, ia merasa seakan-akan dunia ini sudah tak berarti lagi baginya. Pikirannya kacau-balau. Ibarat sebuah komputer, otaknya yang menyimpan arsip pikirannya dalam cakram penyimpan data atau harddisknya berserakan tidak menentu, terpecah-pecah berantakan, centang perenang, fragmented, sehingga susah atau bahkan hampir tidak dapat diakses atau dicapai ketika perlu dipergunakan. Yang membuat ia sering kelihatan seperti orang bingung, membuat kepalanya pening, pusing tujuh keliling. Kiranya, otaknya perlu di defragment, arsip-arsip datanya perlu disusun ulang kembali setelah diacak-acak oleh pikiran yang buta karena didera oleh rasa rindu yang tidak alang kepalang. Nafsu makannya hilang. Tidurnya tidak bisa lelap, selalu terganggu oleh bayang-bayang Mariana. Di sekolah ia sering bermenung, selalu susah berkonsentrasi, tak bisa memusatkan pikiran atau berfikir berhati-hati untuk mengerjakan soal atau menyelesaikan pekerjaan harian. Konsentrasinya terpecah, porak-poranda. Ketika siang hari di sekolah, mukanya bersemu merah, ia menjadi pendiam. Guru-gurunya juga tidak mengerti, mengapa dan perubahan apa yang terjadi pada muridnya ini.

Seminggu kemudian ia sempat jatuh sakit, beberapa hari. Suhu badannya meninggi. Kembali ibunya mengasuhnya dengan kesabaran tak berujung dan tak pernah usai menungguinya malam hari, disertai berucap-rangkum rangkaian doa disampaikan, bermohon kepadaNya agar anaknya cepat sembuh. Untunglah dengan doa dan kasih sayang ibunya, ia kembali sadar akan keadaan dirinya dan siapa dia sebenarnya. Defragment otaknya terjadi secara alamiah, arsip-arsip pola berfikirnya mulai tersusun kembali dari waktu ke waktu. Ia mulai bisa bangkit dari tidurnya. Panas badannya menurun. Setelah dua minggu berlalu, sakitnya sembuh, akal sehatnya muncul, normal kembali dan masih bekerja dengan baik. Belum tertutup, belum patah arang, sehingga belum ada terlintas dalam pikirannya untuk bunuh diri. Subhanallah, kiranya Allah SWT yang Maha Pelindung, masih melindungi dan mengasihinya.

Setelah keadaan dan kesadaran dirinya membaik, iapun bertekad untuk sekolah setinggi mungkin, atau paling tidak menjadi orang yang kaya. Ia belum mengerti sekolah setinggi mungkin itu yang bagaimana, yang penting menurutnya adalah dapat mengerjakan semua soal-soal ujian dengan baik, dan lulus dengan peringkat baik, kalau bisa yang terbaik. Lalu melanjutkan sekolah, bisa menjadi kaya seperti keluarga Mariana.
Inilah batu pijakan pertama langkah atau simpul awal dalam merajut impiannya: menjadi orang kaya atau berpendidikan tinggi. Ia ingin berubah, keluar dari kungkungan kemiskinan keluarga. Dalam hatinya ia berencana, dan rencananya itu tidak pernah lepas dari ingatannya, terekam lekat di benaknya, karena perubahan itu terjadi disebabkan oleh peristiwa yang sangat istimewa, patah hati karena seorang teman perempuan, yang hampir merenggut nyawanya.

Apakah yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Cinta monyet?  Atau cinta buta? Apakah cinta itu buta atau membutakan? Entahlah ia sendiri tidak bisa mengerti. Saat itu hanya ada perasaan senang dan bahagia berdekatan dengan Mariana. Ia belum pernah mendengar kata-kata cinta dan apa arti cinta saat itu. Ah iya, senang, tapi siapa tahu, apakah ia jatuh hati pada Mariana? Apakah demikian orang yang jatuh cinta? Mungkin, bisa jadi. Ia sendiri tidak tahu.
Kalaulah itu memang jatuh cinta, alangkah berat, alangkah sakit dan sungguh lelah melaluinya. Berat, tapi menyehatkan. Sakit, tapi sakit yang menyenangkan. Lelah, tapi lelah yang membahagiakan.  

Waktu terus berpacu, berlari, detik menjadi menit dan menit menjadi hari. Pertemanannya dengan Mariana itu merupakan kisah pada laman waktu yang telah ditetapkanNYA terjadi di kehidupan dalam menjalani kissah perjalanan hidup selanjutnya. Maka, La hu Kun… fa ya kun, sekali IA berkata jadi, maka jadilah. 

Hari berganti hari, setelah genap, berganti bulan, disusul datangnya tahun. Lambat laun, dengan kesibukan belajar, bermain bersama teman-teman sebaya di sekolah dan kesibukan membantu kedua orang tua serta mengasuh adik-adiknya, kesedihan karena berpisah itupun sedikit demi sedikit berlalu, kemudian terlupakan sama sekali dan hilang ditelan sang waktu.

Kesedihannya memang hilang, tapi kesan karena peristiwa ini tak pernah bisa pergi dari ingatannya. Ibarat pohon yang ditancapkan paku kebatangnya. Setelah paku itu dicabut, bekas paku itu tak pernah bisa hilang. Ketika pohon itu ditebang dan dibelah, kelihatanlah bekas paku itu berwarna hitam, susunan lapisan kayu yang berkelok, berbelit. Namun demikian, pohon itu tetap tumbuh dengan noda akibat paku itu tersimpan rapi. Demikianlah, ia masih sering mengingat Mariana, lalu muncul perasaan nelangsa dan rindu. Konon, bagi yang pergi meninggalkan lebih dulu, selalu datang menghampiri dengan tabir rindu. Rasa rindu yang membuatnya menjadi penyabar. Rindu yang dihilangkannya dengan menarik nafas yang dalam dan hembusan yang panjang. Sedikit demi sedikit, ingatannya kepada Mariana semakin jarang datang. Akhirnya kalaupun ingat, sudah tidak mengganggu pikiran dan kesehatannya lagi.  

******

Jumat, 30 Agustus 2019

INDAHNYA LINGKUNGAN SEKOLAH DASAR

Lanjutan cerita Ratna Mutu Manikam (4)

SEKOLAH DASAR




Pada saat berumur tujuh tahun ia di daftarkan ke sekolah SD swasta di depan rumah Nenek Dahlan yang dijalan Pattimura. Kelas satu SD, ia belum mengerti apa-apa, kecuali menangis, untuk menyatakan maksudnya. Karena ayah-ibunya tidak bisa menemaninya di sekolah, maka kalau ia akan ingin melakukan sesuatu terutama jika ingin buang air, ia tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Ia hanya menangis, tidak ada yang mengerti. Satu bulan lamanya keadaan itu terus menerus terjadi. Bulan kedua ia diingatkan ibunya, jika ingin sesuatu, katakan kepada encik guru. Setelah itu barulah keadaan membaik. Ia mulai bisa menyesuaikan diri. Tak lama kemudian, tidak sampai setahun, sekolah itu bubar, tidak jelas penyebabnya apa. Mungkin izinnya belum ada. Atau pengurusnya sudah tidak bisa bekerja bersama lagi. Lalu ia pun didaftarkan ke sekolah negeri, tapi telah terlambat, iapun harus menunggu. Tahun depannya barulah ia bisa menikmati sekolah di SD Negeri. Hatinya gembira bukan alang kepalang dan senangnya bukan main.
Sekolah di kampung halaman semasa kecil di Pematangsiantar memang sangat menyenangkan. Ia sangat menyenangi alam sekitar rumah dan sekeliling sekolahnya. Sekolah SD Negeri 18 (waktu itu namanya adalah sekolah rakyat, SR) tempat dimana ia bersekolah, dibangun sederhana dan bersahaja, tapi waktu itu sudah cukup baik. Salah satu tempat sekolah SD terbesar saat itu, karena di tempat lain di sekitar kampung-kampung terdekat belum ada sekolah seperti sekarang. Muridnya sangat banyak sehingga ada empat  sekolah dasar yang bertempat di sekolah ini. Atapnya terbuat dari seng, berlangit-langit papan, dindingnya dari papan terpilih dicat putih luar dalam. Lantainya sudah disemen. Lapangan bermainnya sangat luas, ada satu setengah kali luas lapangan sepakbola. Lapangan ini sudah ditata sederhana tapi rapi. Pagarnya lamtoro gung, ada lapangan tanah khusus untuk bermain yang perlu lapangan mendatar dan tidak ditumbuhi rumput, seperti bermain kelereng dan lain-lain. Ada lapangan khusus untuk upacara, lengkap dengan tiang benderanya. Kelasnya ada duabelas, ruang kantor ada empat dan kakus atau WC juga sudah tersedia. Bangku sekolahnya khas jaman dahulu, meja dan bangku untuk dua orang, terbuat dari papan yang cukup tebal. Papan tulisnya masih bercat hitam yang belum ada cacadnya, sehingga kalau dipakai menulis masih sangat jelas. Meja guru tersedia dengan meja kerja yang kuat, dan satu lemari untuk menyimpan segala peralatan kelas.


Cempedak
Sekolah ini dibangun bersama pembukaan pemukiman dan perumahan baru disana. Tak heran, pada tahun-tahun pertama sekolah, perumahan masih sepi penduduk. 
Yang ada disekitarnya adalah hutan semak belukar diselingi beberapa pohon kelapa, petai, mangga, cempedak, manggis, salak, jambu pasir atau jambu kelutuk, jambu air dan jambu bol.Ada pohon durian. Ada juga pohon zirsak, yang oleh penduduk setempat disebut sebagai durian Belanda. Disana sini tumbuh petai cina dan  pohon tebu. Tebu merah ini rasanya manis dan segar. 



Pohon Sirsak
Jalan-jalan belum diaspal, masih dilapis batu cadas yang bersusun kasar dan belum diberi nama, hanya disebut dengan lorong satu, dua, tiga dan seterusnya. Begitu juga rumah penduduk masih jarang. Di belakang sekolah mengalir sungai kecil bernama Bah Sorma, tempat bermain air dan mencari ikan bersama-sama temannya dikala waktu senggang, biasanya setelah pulang sekolah. Di arah Barat, sekolah langsung berbatasan dengan jalan. Gerbang atau pintu utamanya tebuat dari bambu, menghadap ke Utara, agak kesudut Barat. Di halaman belakang arah ke Timur ada sebatang pohon mangga yang besar dan daunnya sangat lebat, berada di dalam pagar sekolah. Bersebelahan di luar pagar ada pohon mangga yang lain milik penduduk setempat tetapi daunnya terpisah, sehingga menyulitkan monyet untuk datang ke pohon ini. 

Bermacam burung sering hinggap di sini, terutama dipagi hari, saat tinggi matahari di ufuk Timur masih sepenggalah sampai tepat diatas ubun-ubun, atau pukul setengah tujuh pagi sampai pukul sebelas menjelang siang. 



Gamar 23.  Burung Kacer


Gambar 22. Burung Punai












Ada burung punai, burung murrai, burung kacer, burung perkutut, burung tekukur, burung pipit dengan sarangnya, kadang ada berpasang-pasang burung cucak rawa. Para murid sering menyebutnya burung cerocok. Sesekali muncul juga monyet, terutama pada musim buah mangga dan sekolah sedang libur. 



Gamar 24.  Tupai Dahan


Gambar 25. Tupai Kelapa
Yang hampir tiap hari ada adalah bajing atau tupai. Ekornya bagus, kalau melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, ekor ini berputar-putar bagaikan baling-baling untuk menjaga keseimbangan. Bajing sanggup melompat dari pohon pinang yang tingginya dua puluh meter ke pohon mangga yang tingginya delapan meter. Ketika hari menjelang senja, juga terdengar nyanyian burung tekukur bersahut-sahutan dengan burung tekukur di pohon-pohon lain dari kejauhan, dari luar pagar.

Pada waktu musim mangga, buahnya sangat lebat, tetapi karena tidak ada yang memanen, buahnya banyak berjatuhan ke halaman sekolah, ada yang masih baik matang di pohon, tapi kebanyakan bekas dimakan tupai, kalong dan kadang-kadang monyet atau busuk di atas pohon. Sesekali ada juga anak-anak yang memanjatnya untuk mengambil buah mangga ini, tapi tidak banyak karena batang pohonnya besar, dahan dan rantingnya rimbun sehingga sukar mengambil buahnya tanpa alat khusus berupa galah bambu. Galah bambu ini yang ujungnya dianyam bagaikan keranjang kecil untuk menampung buah-buahan yang dikait. Ketika buah mangga terlepas dari rantingnya akibat kaitan galah, lalu jatuh ke dalam keranjang ini. Di bawah pohon ini murid sering bermain-main, diantaranya bermain kelereng, agar tidak diterpa panas sinar matahari siang hari.


Gambar 26. Pohon mangga berbuah
Di kompleks ini ada empat Sekolah Dasar, yakni SD 9, 18, 27 dan 30. Konon kabarnya pernah mencapai enam sekolah dasar dengan bangunan gedung bertingkat. Ia sendiri bersekolah di SD 18. Pagar sekolah mereka adalah pohon lamtoro gung (murid menyebutnya pohon sengon), yang ketika ada kerja bakti untuk menghadapi hari-hari besar Nasional, tiap murid diwajibkan membawa sebatang lamtoro gung untuk dijadikan pagar. Jadilah sekolah SD yang berpagar lamtoro gung, kecuali kearah Selatan langsung berbatasan dengan sungai Bah Sorma. Ke arah sungai ini ada pohon bambu dan tebingnya curam, hampir tegak lurus. Juga ada semak belukar dan tumbuhan sanggar yang batangnya sering dipergunakan untuk membuat kerangka perangkap dan sangkar burung pipit. Kerangka ini kemudian diberi dinding dari lidi daun kelapa atau bambu yang diraut menyerupai lidi. Diseberang sungai Bah Sorma banyak ladang penduduk dengan bermacam aneka tanaman keras, diantaranya pohon petai, kelapa, salak, rukam, jambu-jambuan, pisang, langsat atau duku, rambutan, mangga dan lain-lain. Lingkungan yang sangat lestari. Lokasi seberang sungai ini bukan lagi masuk  kampung Tomuan, tapi sudah masuk ke kampung tetangga, kampung Lapangan Bola.

Di luar pagar Timur, berdekatan dengan pohon mangga sekolah ada pohon rambutan hutan, batangnya besar karena sudah lama tumbuh disana. Buahnya besar-besar tapi isinya kecil, karena kulitnya sangat tebal. Rasanya juga hambar, terkadang juga asam, walapun sudah cukup matang yang ditandai dengan kulitnya berwarna merah kecoklatan. Dan juga tidak lekang dari bijinya. Sangat jauh berbeda dengan rambutan Binjai yang terkenal itu. 

Gambar 27. Pohon Rambutan Hutan
Masih berdekatan dengan pohon rambutan ini, tumbuh beberapa pohon kelapa yang sudah tinggi, juga banyak tandan buahnya, jarang dipanen kecuali jatuh sendiri setelah buah kelapanya cukup tua. Di atas pelepah daunnya banyak sarang burung tempua yang bergelantungan, indah dipandang dari kejauhan. Ia sering mengamatinya dan kalau sempat dibawanya pulang untuk melihat keindahan sarang ini. Sarang yang unik, karena masuknya burung dari bawah sarang, terutama yang betina, yang oleh burung ini juga dianyam dari bahan ilalang dan rerumputan lain sebagai pipa jalan masuk dari arah bawah.


Gambar 28.  Sarang burung Tempua
Kira-kira satu jengkal, lima belas sentimeter panjangnya, bergaris tengah enam sampai tujuh sentimeter. Lalu membelok ke kiri atau ke kanan masing-masing membesar kearah salah satu sisi kurang lebih sampai satu jengkal, tempat burung itu bertelur dan bernaung di malam hari. Lalu mengkerucut ke atas yang panjangnya juga kira-kira duapuluh lima sentimeter. Sarang ini bergantung pada pelepah kelapa, atau bisa juga di dahan pohon lain. Biasanya titik simpul gantungan agak mendekat kearah batang, dengan tali anyaman yang dikerjakan oleh burung tempua itu sendiri. Kalau digambarkan terlihat seperti gambar 14 di atas. Sarang berung tempua di alam terlihat pada gambar 15. Panjang tali gantungan bisa sampai lebih dari empat puluh sentimeter yang juga dianyam oleh burung ini dari bahan rerumputan dan ilalang. Kalau angin bertiup kencang, sarang inipun ikut  bergoyang sesuai irama tiupan angin yang menerpa pelepah pohon kelapa atau batang pohon. Tidak terlampau besar goyangannya karena sarang ini bergantung di pelepah yang dekat dengan batang tapi aman dari gangguan binatang lain. Secara instink atau naluriah, burung ini memilih pelepah kelapa yang seumur dengan usia sarang atau usia burung itu sendiri. Sarang yang sudah usang dan tak terpakai lagi, akan jatuh bersama jatuhnya pelepah daun kelapa yang  tua.




Gambar 29. Sarang burung tempua di alam bebas

Saat itu, masih banyak jenis burung yang lain seperti murrai batu, elang Sumatra, burung puyuh, burung pipit kepala putih, ayam hutan dan lain-lain di hutan di belakang rumah ini. Kini hutan itu telah berubah menjadi perumahan dan padat penduduk.
Burung-burung ini sudah langka dan sudah jarang, bahkan tidak pernah lagi kelihatan di Pematangsiantar. Kalaupun ada hanya di hutan dan kampung di sekitar Kabupaten Simalungun atau wilayah Sumatera lainnya. Ia pernah melihat sarang burung tempua di hutan belantara di pinggir jalan Pekanbaru-Taluk Kuantan, Propinsi Riau, saat bertugas disana tahun 1987 silam. Populasinya banyak terdapat di Sumatra Timur yang berbatasan dengan Propinsi Riau. Di sepanjang jalan dari Kota Pinang ke Bagansiapiapi kita dapat  menikmati pemandangan sarang burung tempua bergelantungan di pohon kelapa atau kelapa sawit.
******

Minggu, 25 Agustus 2019

MUTIARA KISAH KASIH KELUARGA

Lanjutan Cierta Ratna Mutu manikam (3) 

MUTIARA KISAH KASIH KELUARGA




Nurain, demikian ia diberi nama oleh ayah-ibunya, dilahirkan di pengungsian, di Kecamatan Siantar Marihat, kampung Silau Malaha. Nama yang baik, yang berati cahaya mata, mungkin dimaksud dan doa agar ia menjadi cahaya mata ayah-ibunya kelak. Ayahnya bernama Nurdin Silalahi dan ibunya Nurmiah Saragi. Ia adalah anak yang pertama atau paling besar. Pekerjaan kedua orang tuanya adalah berdagang sayuran di pasar tradisional, ‘Pajak Horas’ begitu penduduk Pematangsiantar menyebutnya. Terakhir setelah pasar itu terbakar, mereka beralih perkerjaan, kembali bertani di sawah mereka.
Mereka bersaudara ada sebelas orang, yang masih hidup sebanyak tujuh orang termasuk dirinya. Ada empat adiknya yang telah meninggal dunia. Yang pertama adalah mendiang almarhum Sain, ia tidak pernah mengenalnya. Yang kedua almarhumah atau mendiang Nurhayati yang sehari-hari diasuh dan dibawanya kemana-mana. Yang ketiga mendiang Misnah Addrah dan yang keempat meninggal ketika masih berumur dibawah setahun, keduanya  meninggal setelah ia merantau ke Bandung.

Bermacam tingkah laku, sifat dan tabiat masing-masing adik-adiknya ini. Tiga orang di antaranya: Kamisah, Zahara, dan Zuliah tinggal menetap di Pematangsiantar. Yang pernah tinggal bersamanya dan kini telah bekerja adalah Nurbaya, Sakdiyah dan Abdul Rahim. Kini Kamisah bekerja sebagai guru Agama Islam di SD, Zahara bekerja sebagai wiraswasta kecil-kecilan. Zuliah lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Inggris, saat ini mengajar Bahasa Inggris di salah satu SLTA di Pematangsiantar.  

Pada saat ia pulang setelah lima tahun diperantauan, banyak hal terjadi di kampungnya. Rumah mereka sudah pindah dari Jalan Daliltani ke Jalan Terong, ia sendiri tidak tahu sebabnya. Kabar dari tetangga yang sama-sama berjualan di pasar Pajak Horas, mengatakan bahwa rumah itu di jual untuk membayar hutang. 

Rumah di Jalan Terong sebenarnya tidak pantas disebut rumah, hanya pantas disebut sebagai gubuk. Lantainya masih tanah, dindingnya sebagian papan, sebagian lagi gedeg atau anyaman bambu, atapnya atap rumbia dan sering bocor diwaktu hujan. Kalau matahari bersinar cerah, cahayanya masuk ke rumah bagaikan pedang-pedang sakti menerobos dari lubang anyaman bambu itu. Malam hari, angin masih bisa akrab membelai  penghuni  rumah.  Mereka  adik-beradik tidur di atas tanah beralaskan tikar,  kesehatan penghuninya kurang terjamin, lalu ayahnya sakit berkepanjangan.
Perekonomian keluarga di dukung sebagian besar oleh adiknya Kamisah, sebagian lagi dari penghasilan sawah, upahan membuat kotak korek api, dan selebihnya kiriman dari abangnya di perantauan seadanya, termasuk biaya kuliah adiknya Zuliah. Kamisah nasibnya lebih baik karena telah diangkat sebagai guru agama di sekolah dasar, setelah beberapa tahun lulus dari PGA Islam di Pematangsiantar. Keadaan ekonomi seperti ini, yang sangat sederhana, sangat berpengaruh pada semua adik-adiknya, terutama Nurbaya dan Rahim, yang kelak terlihat pada saat keduanya datang ke Bandung. ***

Nurbaya tinggal bersamanya di Bandung dan Jakarta sejak lulus SD tahun 1974. Ia membawanya ke Bandung, berusaha mengarahkan kembali pendidikan dan program masa depannya. Pada saat pulang setelah lima tahun merantau, ia melihat Nurbaya telah pasrah dengan keadaan kedua orang tuanya yang hidup dalam keadaan yang serba kekurangan. Telah setahun Nurbaya tak bersekolah lagi setelah lulus SD. Ia banyak berharap dari belas kasihan orang lain, dengan berjualan entah apa sambil mengumbar penderitaan dan keadaan dirinya, berkeliling kampung. Dan sudah tidak berfikir lagi untuk sekolah. Terbersit dari dalam batinnya, kalau Nurbaya tak sekolah, tentu kehidupan masa depannya kelak lebih suram lagi dan akan menjadi beban dan menyusahkan orang lain. Lalu ia berunding dengan ayah-ibunya, dan Nurbaya setuju di bawa ke Bandung. Dalam hal ini, ibunya diam saja, sudah tidak bisa lagi menitikkan air mata, dengan muka merah memelas. 

Air mata ibu telah kering, karena telah puas di dera derita kehidupan yang tak kunjung berhenti. Pasar tempat mereka berdagang sayur terbakar, setelah pasar itu di perbaiki atau renovasi, tak sanggup membayar tebusan, karena terlalu mahal. Akhirnya rumah mereka terjual untuk membayar hutang dan kembali bekerja di sawah. Bengkel sepeda sudah lama tidak berjalan lagi, karena tenaga ayahnya sudah jauh menurun, satu dan lain hal juga karena banyaknya saingan bengkel sepeda yang lain dengan layanan yang lebih baik. Rumah sementara di bangun seadanya di atas tanah orang lain, gubuk di Jalan Terong itu. Sawah sering kebanjiran, padi rusak dan ikan di kolam limpas terbawa air bah yang sering banjir. Ayahnya juga sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kamisah sampai berucap:
“Kalau keadaan kita lebih baik, tentu kita tidak akan terserak-serak, berpisah jauh seperti ini ya Bang”, sambil mengusap aimatanya.
Ia hanya diam seribu bahasa, tak kuasa berkata-kata. Ia tidak mau ikut bersedih hati agar ayah ibunya tidak terus menerus larut dalam kesedihan. Yang masih tetap dibanggakan, adik adiknya ini tidak ada yang tidak bersekolah, walau sesusah apa kehidupan ayah-ibunya. Umumnya semua mereka lulus tingkat SLTA. Hanya Nurbaya saja yang nyaris, itupun setelah lulus SD. Dengan dibawa ke Bandung, ia berharap Nurbaya bisa menyesuaikan diri, paling tidak bisa mendapatkan pendidikan yang kelak bisa menopang hidupnya. Selain itu tujuan membawa ke Bandung, paling tidak bisalah Nurbaya yang menemaninya pada saat ia menikah, karena ayah-ibunya tidak bisa datang. Namun ia tidak mau terus berlarut-larut dalam kesedihan ini. Ia yakin, lambat laun akan ada jalan keluar dari masalah, mengingat ia sudah mengikuti pendidikan untuk siap bekerja. Keadaan keluarganya menjadi begini, adalah akibat tidak bisa meningkatkan kemampuan untuk bisa bersaing dalam kehidupan yang semakin lama semakin memerlukan pemikiran dan tindakan yang lebih baik. Mereka sudah tidak mempunyai keunggulan lagi, karena memang tidak mempunyai kemampuan meningkatkannya sesuai keperluan zaman.  Nyaris terlempar dari kancah kehidupan. ***

Penyesuaian kembali Nurbaya untuk mau sekolah, ternyata tidak mudah, dengan segala tingkah polah yang kadang dapat menyesakkan dada. Perilakunya sangat memprihatinkan, ia hendak mengatur di rumah orang lain, makanannya harus sama ketika ia seperti makanan yang di Pematangsiantar, hal yang mustahil dilaksanakan. Ketika itu ia tidak mau makan kalau tidak ada ikan asin. Kadang-kadang ia membuat sambal sendiri, hal yang tidak mungkin untuk dipertahankan. Perilaku yang menjengkelkan, yang sering membuat malu abangnya. Cara bergaulnya dengan orang lain masih harus diperbaiki. Kebiasaannya minta dikasihani oleh orang lain seperti ketika ia di Pematangsiantar, seakan-akan dialah yang paling menderita, terulang lagi. Ia selalu menceritakan penderitaannya kepada orang lain, ketika ia bersama-sama mencuci pakaian di saluran air dekat rumah kontrakan mereka. Begitu juga kepada mertua, hanya tidak ditanggapi. Termasuk kesehatannya yang tidak prima. Waktu itu penyakit lambung atau magnya sudah kronis. Kalau sudah kumat, ia bisa menjerit-jerit sambil terduduk memegangi perutnya yang sakit. Apakah benar sakit, atau mencari perhatian orang lain, tidak ada yang tahu. Apalagi ia tinggal bersama kakak iparnya di Bandung, ia harus menyesuaikan dengan budaya Bandung dan itu tidaklah gampang. Konflik dan keributan kecil-kecilan sering terjadi. Namun demikian, dengan kesabaran semua ditangani dan ditanggulangi sebaik-baiknya, karena ia dan istrinya yang penyabar maklum  akan keadaan itu. Nurbaya kemudian didaftarkan untuk melanjutkan sekolah di SMP PGII Bandung, ketika ia awal bertugas di Jakarta. Kemajuan pelajarannya sangat lambat, karena sering menentang kalau disuruh belajar. Pernah ditawari untuk pulang lagi ke Pematang-siantar, tapi tidak mau.
“Karena dibiayai sekolahku, jadi aku musti rajin belajar, ya kan?” ucapnya dengan
mimik agak menantang kalau disuruh belajar.
Kepadanya diingatkan, kalau tidak sekolah dan tidak belajar dengan baik dan rajin, tidak akan ada gunanya nanti. Akhirnya, setelah diberi pengertian dengan susah payah, maka,
“Ya ialah, jelas. Kalau bicara pakai fikiran yang benar! Ke Bandung bukan untuk bersenang-senang, bukan untuk bersedih-sedih lalu minta dikasihani, tapi untuk belajar, kalau tidak mau belajar, ya pulang ke Siantar,” tegas abangnya.
“Baya belajar bukan untuk kepentingan abang, tapi untuk kepentingan Baya sendiri.
Mumpung ada kesempatan, belajarlah baik-baik. Abang sudah ada di sini, tempat berteduh dan mendapatkan kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak mau ya pulang”.
Nurbaya terdiam, kedengaran menggerutu. Dengan berjalannya waktu, sedikit-demi sedikit kelakuannya berubah. Demikian perilaku adiknya ini selama sekolah dan sampai lulus dari SMP PGII di Bandung.  
Salah asuhkah adiknya ini? Mungkin, benar salah asuh. Ketika di Siantar, di rumah sehari-hari tidak ada panutan yang baik sehingga pengasuhan di lingkungan keluarga kurang baik. Mungkin juga sekolahnya tidak mengajarkan cara berpikir yang benar. Kenapa ia tidak bisa berpikir, atau bahkan belum menghayati sebab-akibat? Apakah tidak pernah dijelaskan kepadanya supaya berpikir logis? Seperti kalau lapar, ya makan supaya kenyang. Jadi ya akibat makan maka perutnya kenyang. Begitu juga, pepatah: rajin pangkal pandai. Artinya, kalau orang rajin belajar, maka tentu ia akan pandai. Bukankah guru Bahasa Indonesianya sudah menjelaskan arti pepatah ini? Menjelaskan sebab-akibat dan berpikir logis? Pepatah dalam Bahasa Indonesia sangat baik digunakan untuk memperdalam pengetahuan sebab-akibat. Kalimat yang muncul dalam dialog di atas tidak akan muncul kalau biasa berfikir logis. Itulah sebabnya bagi setiap murid kalau belajar bahasa harus memperhatikan benar-benar sebab-akibat yang sederhana. Begitu juga kepada guru Bahasa Indonesia, pada saat menjelaskan arti pepatah jangan lupa menjelaskan artinya dalam rangkaian sebab-akibat. Berpikir logis.
Guru yang tidak acuh terhadap kemajuan anak-didiknya, yang kalau datang ke kelas menyuruh murid menyalin ke papan tulis, lalu ia mengobrol di kantor atau jajan di kantin, sudah tidak saatnya lagi dipertahankan. Atau guru yang selalu sibuk membuat rencana program pembelajaran dan syllabus, proses pembelajaran terabaikan. Mengutamakan administrasi dari pada proses. CBSA, Cara Belajar Siswa Aktif hendaknya jangan diterjemahkan menjadi Cul Budak Sina Anteng dalam bahasa Sunda, yang artinya membiarkan anak didik aktif semaunya asal mereka senang. Guru senang, murid senang, proses pembelajaran berantakan, berfikir logis murid terbang menghilang. Atau PAKIEM, Pembelajaran Aktif, Kreatif, Innovatif, Efektif dan Menyenangkan. Aktif memang ketika pembelajaran di luar kelas. Sebagian aktif bermain bola, sebagian aktif meninggalkan guru yang sedang berteriak-teriak menerangkan. Kreatif menanyakan dan memberi saran sesuai dengan pelajaran yang sedang berlangsung. Bisa juga terjadi kreatif membelokkan pertanyaan karena melihat suasana di luar kelas. Kreativitas yang harus dapat dikendalikan guru pengajar. Inovatif, selalu mendahulukan penggunaan ide-ide baru.  Efektif bagi segelintir siswa yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh. Menyenangkan bagi yang senang bermain bola ketika pelajaran di luar kelas, menyenangkan bagi mereka yang bisa mengalihkan konsentrasi di kelas menjadi konsentrasi di luar kelas. Juga menyenangkan bagi semua siswa untuk menghindari rasa bosan dalam kelas yang passif, tidak ada perubahan dari hari ke hari. Akhirnya tidak semua siswa mendapat manfaat yang sama. Yang serius juga terganggu oleh kegiatan siswa lain yang tidak sungguh-sungguh belajar. Bagi guru harus bisa memilah-milah, pelajaran mana yang baik dan mana yang tidak baik dilaksanakan diluar kelas.  

Pembelajaran di daerah tertentu yang masih ada team sukses untuk meluluskan murid mencapai target kelulusan seratus persen, sebagian besar jawaban dikerjakan guru agar kelulusan sesuai target. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru-guru yang kreatif untuk mencapai kelulusan sesuai dengan target, termasuk peniruan atau nyontek massal. Hal semacam ini akan berdampak pada menurunnya wibawa guru dalam menyampaikan ilmu pengetahuan. Berdampak juga pada terkikisnya idealisme dan inovasi pelajar. Karena mereka tahu bahwa nanti ketika ujian akan dibantu oleh guru demi target daerah setempat, lalu mereka belajar tidak maksimal, bahkan bisa jadi melecehkan guru mereka.
“Ah, nanti juga dibantu menjawabnya, bisa guru bisa siapa saja”,  gumam mereka dalam pembicaraan sehari-hari.
“Buat apa sih belajar susah-susah?”, lanjutannya.
Maka ketika dikelas, buku mereka hilang, dan ketika ditanya dimana buku pelajarannya, ia hanya tertawa sinis. Ketika ditanya mengapa pekerjaan rumah mereka tidak dikerjakan, berbagai macam alasan dikemukakan untuk tidak mengumpulkan tugas. Ketika ditanya mana tugas yang telah diberikan, dengan gampangnya siswa menjawab, “lupa pak!”. Atau adanya tindak lanjut remedial bagi mereka yang tidak atau belum lulus, anak didik merasa mereka pasti lulus.  Buat apa susah-susah belajar, kalau bisa lulus dengan tanpa belajar. “Kan ada remedial!”, begitu pikir mereka. Maka sewaktu ujian block atau tengah dan akhir semester, belum sampai lima belas menit siswa peserta test sudah keluar, mengharapkan lulus lewat remedial. Apa lagi kalau ketuntasan belajar minimal, atau nilai terkecil yang harus dicapai bukan ditetapkan oleh guru sesuai dengan syarat: kualitas masukan anak didik yang ada (in take), tersedianya sarana dan prasarana (availability of cost, equipment and infrastructure) dan kemampuan dan penguasaan guru terhadap materi pelajaran (teacher capability of subject matter). Adakalanya syarat yang ada sudah ditetapkan oleh sekolah dan guru harus mencapai itu. Dan yang pasti, menurunnya kualitas lulusan. Jika pelajar diluluskan dengan cara seperti ini, maka tidaklah heran kalau produktivitas, kemampuan dan integritas bangsa akan tergerus oleh lulusan yang tidak berkualitas ini. Wibawa guru dalam proses belajar mengajar, hampir hilang atau turun secara cepat ke titik terendah.
Untuk menghindari ini bisa diberlakukan sistem kredit semester, SKS. Bagi mereka yang potensinya kurang, lulusnya lebih lama, yang potensinya baik dan berkualitas, lulus lebih cepat. Karena konsep pendidikan bagi siswa adalah based on potential not on the age, bergantung kepada kemampuan atau potensi, bukan kepada umur. Potensi setiap siswa berbeda, jangan dilupakan dan oleh karena itu tidak boleh disamakan.  Mungkin dalam pengajaran bahasa, cara ini banyak terlupakan. Kebanyakan guru Bahasa Indonesia menganggap pelajarannya tidak begitu penting, sehingga cara penyampaiannya kurang sempurna.
Kalau pelajaran bahasa memang seperti ini, maka penguasaan bahasa dalam pengertian sebab-akibat dan berpikir logis akan menurun drastis. Maka pengajar juga harus ditingkatkan kemampuannya secara berkesinambungan, dan berkat pengalamannya bisa memilih metode pembelajaran apa yang paling efektif ketika dihubungkan dengan situasi pembelajaran. Ditingkatkan kemampuannya untuk menerapkan PAKIEM secara benar dengan kendali proses pembelajaran berbasis-pengetahuan (learning control and knowledge-based system). Pengajar hendaknya sadar bahwa pelajaran bahasa sangat penting, karena bahasa adalah pintu untuk masuknya ilmu pengetahuan kedalam pikiran peserta didik. Termasuk bahasa pemrograman computer, yang akhir-akhir ini sangat penting untuk mengakses informasi untuk pemutakhiran kekinian, memperlancar arus informasi. Bila logika bahasanya sudah benar, maka bahasa pemrograman tidak lah susah untuk diikuti. Mungkin adiknya Nurbaya ini adalah salah satu korban akibat penerapan proses yang kurang matang ketika di Pematangsiantar, mungkin juga karena sudah tidak ada semangat belajar. Atau kombinasi keduanya.

Setelah lulus SMP, Nurbaya kemudian ikut serta ke Jakarta, melanjutkan di SMA Indonesia Raya di Jalan Rawasari Jakarta Pusat. Rumah abangnya ada di Jalan Penggalang I, dekat pasar Pramuka dan Pasar Burung Jakarta. Kalau naik Metromini hanya sekali dari Jalan Pramuka ke sekolah ini. Disini juga ia masih susah disuruh belajar serius. Pernah dipersiapkan untuk mengikuti testing calon karyawan TELKOM setingkat lulusan SMP, tapi bukannya menghapal, malah menulis puisi yang tidak jelas. Akhirnya testingnya tidak lulus. Perilaku yang susah diterima akal. Namun demikian, dengan kesabaran, ia dan istrinya tetap mengasuhnya. Sampai akhirnya Nurbaya berhasil lulus dari SMA. Setelah lulus SMA, sambil mengajar di SD swasta, Nurbaya ikut belajar di KPG sampai tahun 1984. Ia tinggal sendirian di Jakarta, dekat rumah dan sekalian dititipkan pada keluarga Pak Zainal Solihin, sepupu atau adik mertuanya yang tinggal di Jalan Penggalang, Jakarta Timur. Sedangkan ia bersama keluarganya pindah karena alih tugas ke Pekanbaru.  

Nurbaya mengajar SD di Jakarta setelah lulus KPG. Tak lama kemudian ia menikah dengan suaminya Yoyo, pemuda tampan yang berasal dari Kawali, Ciamis. Perjuangan hidup bersama suaminya tercinta penuh dengan pergolakan nasib. Anak mereka yang baru semata wayang dititipkan kemana-mana di sekitar Jalan Penggalang, karena suaminya dan ia sendiri bekerja. Akhirnya mereka dapat mengatasinya sendiri. Ya itulah, hidup ternyata adalah perjuangan, dan sambil berdoa, Nurabaya dan suaminya tak kenal menyerah. Sampai akhirnya nasib baik memeluknya.

Tidak lama kemudian Nurbaya diangkat jadi PNS sebagai guru. Setelah beberapa tahun mengajar, untuk peningkatan mutu dirinya agar terus bisa mengikuti kemajuan pendidikan, ia pun diberi kesempatan oleh atasannya untuk kuliah lagi di UNJ Jakarta. Kini ia telah lulus sebagai Sarjana Pendidikan. Sekarang Nurbaya mengajar di SD di daerah Pisangan, Rawamangun, di Jakarta Timur. Ia pernah tinggal di Cibitung Bekasi bersama suaminya tercinta, salah satu perjuangan hidupnya, setiap hari ulang-alik Jakarta-Cibitung dengan berbagai macam kissah yang memilukan hati. Komplek perumahan mereka pernah dilingkup banjir, ketika di kereta listrik uang dan barang berharga lainnya hilang karena kurang waspada. Dan bermacam-macam kejadian lain-lainnya. Sebelum akhirnya kembali ke Jakarta, mendekatkan diri dengan tempatnya mengajar.
Nurbaya dikaruniai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan satu perempuan.  Doa dari semua abangnya, semoga ia sehat-sehat selalu, agar ia  dapat membesarkan buah hatinya itu dengan sebaik-baiknya. ***

Adiknya Zuliah, Sekolah SD Muhammadiyah di Jalan Merdeka, Setelah lulus SD, melnjutkan SMP dan SMA di sekolahMuhammadiyah yang sama.
Tidak  lama akemudian ia mengikuti kuliah UNIVERSITAS NOMMENSEN  di jalan Asahan, kampus yang modern saat itu.  Tak banyak yang dekrtahinya mengenai adinya Zuliah. Yang diketahuinya adalah, semenjak semester 1 sampai dengan semester lima, aku selalu mengirim uang lewat Bank Mandiri, karena itulah satu-satunya bank di kota itu. 
Setelah aku mengirim lewat loket, lewat alamat Kamisah di SD 129567 di kompleks stadion, dengan telegram aku kirimkah konfirmasi ke kKamisahuntuk diambil, dengan engirim telegram gaya orang keuangan bank:

        "kuhi 50rb utk kuliah Zuliah via bank mandiri, hrp cekdan cairkan", send by ns."
        artmya, kiriman uang utk Zuliah, hari ini lima puluh ribu rupiah, harp cek dan cairkan.

 Tidak berapa lama, Zuliah membukan rekening di Bank Mandiri. Oleh karena itu, uang mantan kuliah dan sedikit bantuan utk keluarga, dikirim lewat rekening Zuliah, dengan mengambilnya dari ATM yang ada. Konfrimasi kiriman dikirim ke Kamisah. Ternyata, Zuliah tak bisa mengambil uang lewat ATM, keto
ika i cek utk menambil uang di Bank Mandiri.  Aku sangat kesal, karena uantk bantuan keluarga tak pernah diserahkan ke Ibu/Omak dan  Kamisah utk tambahan biaya keluarga.  Saking kesalnya, ketika kiriman komputer di cek cara pengunaannya utk keperluan kuliah, ternya tak bisa sama sekali.   
Dan akhirnya, kiriman uang aku berhentikan.

Untunglah ia dengan gigh meneruskan kuliahnya sambil membiayai kuliahnya sendiri. Entah dengan cara bagaimana aku sendiri tidak parnah mengetahuinya. Tetiba saja ada berita , Zuliah menginap di uamh adik ibu di Medan, ocik Saini, bahwa Zuliah ituk Wisud di Medam sebagai jurusan  pendidikan Bahasa Inggris. Alhamdulillah, rupnay Zuliah juga seorang pejuang gigih yang tak mau menyerah dengan keadaan. 
Ketika ada pendaftaran sebagai pengajar berhomor, ia di terima sengai guru Bahasa Inggris di SD, Beberapa tahun kemudian, ia minta dipihdahgkan ke SMA 6, salah satu Sekolah Menegah Atas yang muridnya ramai dari kampung sekitarnya. Alamatnya SMA 6 Negeri Pemtang Siantar, di Jalan Raya P. Siantar - Medan..

Yang paling dahulu lulus sarjana adalah adiknya Halimah Sa’diyah. Ia lulus UMPTN tahun 1986 untuk program D3 Pendidikan Matematika, dan oleh ibunya diantar ke Pekanbaru. Lalu Sa’diyah ikut tinggal bersamanya menuntut ilmu di FKIP-UNRI selama ia bertugas di Pekanbaru, sampai lulus D3 berstatus ikatan dinas untuk guru SLTA. Sa’diyah adalah adiknya yang tidak atau jarang menentang kalau dinasihati. Kalau diajarin matematika di rumah ia selalu menurut, yang akhirnya pengetahuan matematikanya meningkat pesat. Kalau dinasihati agar berbicara jangan teralu keras-keras, ia juga selalu menurut.
Tahun 1988, setahun sebelum lulus, Sa’diyah ditinggal di Pekanbaru karena abangnya dialih-tugaskan lagi ke Jakarta. Ibu datang dari Pematangsiantar untuk bertemu sebelum pindah dan sekaligus mempersiapkan dan mengurus indekos Sa’diyah. Peralatan dapur disiapkan seperlunya. Bersama ibu, mereka mengantar Sa’diyah yang akan segera indekos di dekat kampusnya FKIP-UNRI Simpang Panam, di dekat Lapangan Terbang Simpang Tiga Pekanbaru.
Betapa sangat perhatian ibu mereka ini pada nasib anak-anaknya. Walaupun ibu adalah pemabuk kendaraan yang berat, tapi demi anak-anaknya, beliau datang juga dari Pematangsiantar. Menempuh perjalan jauh, kurang lebih lima ratus kilometer, berbilang waktu enam belas jam. Sungguh penderitaan yang cukup berat, tapi letih dan lelah ibu diperjalanan seakan sirna demi setelah melihat mereka, anak-anaknya. Sampai akhirnya ibu mereka pulang kembali ke Pematangsiantar, ia tak dapat membayangkan bagaimana kelak ibu mereka ini mabuk berat lagi diperjalanan. Serangkum doalah yang bisa disampaikan kepadaNya agar ibunya selamat tiba di Pematangsiantar, dan alhamdulillah, kabar yang diterimanya tiba dengan selamat, walaupun harus istirahat selama satu hari.  
Peralatan sehari-hari untuk dipergunakan di tempat indekos Sa’diyah, dipersiapkan dengan baik. Biaya bulanan yang tidak seberapa masih terus dibantu dari Jakarta. Belajar di tempat indekos, kuliah di kampus dan berorganisasi di masyarakat bersama teman-temannya mahasiswa, dilakoninya dengan sabar, sampai akhirnya ia dinyatakan lulus dengan peringkat yang baik. Setelah lulus ia pulang dulu ke Pematangsiantar dan sempat bertugas mengajar Madrasah Aliyah selama setahun disana. Ia meminta doa restu ibu sebelum akhirnya ditugaskan mengajar di Bagansiapiapi. Ia bertemu calon suaminya di Bagansiapiapi. Pada waktu lebaran, atas permintaannya, ia dan calon suaminya datang ke Bandung untuk menikah di rumah abangnya, di Jalan Pekalongan, Antapani Kidul, Bandung.
Setelah bertahun-tahun mengajar, Sa’diyah berkesempatan menyelesaikan kuliah tingkat S1 di UNM (IKIP Medan waktu itu). Izin untuk pergi kuliah ke Medan dari sekolahnya tak kunjung keluar. Bahkan cenderung untuk melarang pergi. Iapun mengadu kepada abangnya,
“Bang aku ada program kuliah lagi di UNM/IKIP Medan. Tapi izin dari Kepala Sekolah tak kunjungnya keluar, macam mananya pendapat dan saran Abang?” meminta saran dari abangnya, dengan gaya bahasa keluarga.
“Izin-izin dari Propinsi dan pusat bagaimana dik?”, tanyanya
“Izin dari Propinsi dan dari Kementrian Pendidikan di Jakarta sudah ada”, lanjutnya,
“Termasuk anggarannya“.
“Kalau begitu, ikuti saja kuliahnya, apalagi sudah ada anggaran dan sudah terdaftar di UNM/IKIP Medan” saran dari abangnya.  
“Jika nanti tidak diterima lagi di sekolah yang lama, akan kita carikan sekolah yang mau menerima. Insya Allah, niatkan untuk berbuat yang lebih baik dan jangan lupa minta petunjukNya”.
Sa’diyahpun mempersiapkan segala keperluan. Anak-anaknya dibawa ke Pematangsiantar, tinggal bersama neneknya. Dan ia kuliah ulang-alik Pematangsiantar-Medan, semua demi menghemat biaya dan demi anak-anaknya. Setahun kemudian, ia lulus dengan peringkat yang baik. Setelah kembali ke Bagansiapiapi, ia ditegur oleh atasannya. Ia disuruh melapor ke Bengkalis, atasan yang lebih tinggi, tetapi ia tidak kena hukuman disiplin, bahkan teman guru-guru yang lain akhirnya diizinkan pergi kuliah lagi.
Sa’diyah lalu kembali mengajar di SMA Bagansiapiapi. Ia tinggal dan menetap di sana bersama suaminya tercinta, Basuki. Mereka dikaruniai lima anak, empat perempuan yang cantik-manis dan satu laki-laki. Kini Sa’diyah sedang mengikuti kuliah S2 jurusan Matematika di UPI Bandung, semester pertamanya dimuai akhir tahun 2010. Itulah sekelumit kisah Sa’diyah, terucap sebait doa, semoga mereka selalu bahagia untuk membesarkan kelima anak-anaknya.***
Adiknya yang paling kecil, Abdul Rahim ikut bersamanya ketika ia bertugas di ITT/STT Telkom Bandung tahun 1991. Hal yang hampir sama dengan Nurbaya, ia sudah tidak ingin lagi sekolah, hanya mau ikut sekolah pertanian di Pematangraya, Kabupaten Simalungun. Ayah-ibunya sudah dalam keadaan serba kekurangan, anak-anak terkena dampaknya. Akibatnya malah bermanja-manja tidak menentu dan tak mau membantu atau mungkin tidak mengerti untuk meningkatkan diri. Hanya karena sedikit dipaksa Rahim ikut ke Bandung, dan karena itu ia kerap menunjukkan sikap yang kurang menguntungkan dirinya sendiri. Kurang rasa saling menyayangi, miskin empati. Ia harus meningkatkan rasa empati ini, yakni meningkatkan kemampuan untuk berbagi perasaan kepada orang lain, dengan membayangkan apa jadinya pada situasi seperti itu jika terjadi pada dirinya.
Kemudian Abdul Rahim didaftarkan di ITT/STT Telkom ber ID (ikatan dinas) dari TELKOM. Pada saat test masuk ternyata tidak lulus. Ia diambil untuk lulus pada periode terakhir, calon dari pimpinan sekolah. Pendirian dan hatinya keras, maunya mengatur di rumah orang lain, hanya mementingkan dan menuruti kemauannya sendiri, sangat susah untuk dinasihati. Belajar kurang serius dan seenaknya. Daya juangnya amat rendah. Inginnya serba segera jadi, serta merta atau sesaat, tanpa atau hanya dengan sedikit usaha (completly instant without any or a little effort). Suatu hal yang tak mungkin. Seharusnya, kalau seseorang hidup dan menumpang di tempat orang lain, maka dialah yang menyesuaikan diri dengan aturan di tempatnya menumpang. Rahim tidak belajar sungguh-sungguh, tidak maksimal. Dan pada saat tingkat dua, ia dinyatakan drop-out atau dikeluarkan dari mahasiswa peserta ID karena nilainya tidak memenuhi syarat. Ia sudah tidak bisa lagi di atur, mungkin dulu terlalu manja, kemanjaan yang tidak menentu, ketika dekat dengan ibu. Atau bisa juga akibat keadaan ayah-ibunya ketika itu, tidak ada teladan yang baik yang harus ditiru. Setelah dikeluarkan dari status ID, ia sering pergi entah kemana, kadang berminggu-minggu baru pulang. Kabarnya mencari uang.
Akhirnya Rahim berusaha sendiri, menyewa tempat tinggal sendiri karena tak mau diatur. Ia bebas dan ingin mengatur dirinya sendiri. Walaupun dilarang dengan sangat keras, ia tetap menjadi juragan atau pengusaha angkot di Bandung. Pengusaha angkot itu bertahan sampai tiga tahun, dan kemudian berhenti setelah ia sadar kesehatannya tidak mengijinkan untuk terus menjadi pengusaha angkot, apalagi merangkap supir. Pada waktu yang sama, ia terus kuliah dengan sungguh-sungguh, setelah sadar bahwa kurang serius belajar akan mengakibatkan peruntungan nasib yang kurang baik. Sampai akhirnya lulus sarjana teknik dari ITT/STT Telkom. Saat wisuda diurus oleh Siti Nurhayati istri abangnya, kakak iparnya, mengantar dan menjemput ketika wisuda.
Setelah lulus ia banyak mengikuti dan bekerja di proyek-proyek TELKOM baik di darat maupun lepas pantai (off shore). Ia pernah bekerja di BUKAKA TELKOM, kemudian diajak dosennya, Nurbajaya, bekerja di ASTRATEL (ASTRA Telekom). Tapi karena keadaan ekonomi yang memburuk akibat krisis keuangan tahun 1998, iapun diberhentikan dan juga karena  ASTRATEL tidak aktif lagi.
Rahim pernah lama menjadi guru fisika dan matematika di SMP Darul Hikam, sambil juga mengelola UPT Laboratorium Komputer dan Fisika. Ia mahir memotivasi siswa agar tidak takut terhadap mata pelajaran matematika. Ketika sering melihat segala sesuatunya di SMP Darul Hikam yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya, maka Rahim sering bereaksi dengan keras. Baginya Darul Hikam bukan tempat yang tepat untuk mengembangkan diri. Karena merasa sudah tidak cocok, tahun 2005 ia minta keluar dari Perguruan Darul Hikam dan banyak mengikuti Proyek-proyek Telekomunikasi bersama teman-temannya.
Demikian juga pada saat menikah, Rahim tidak memberi tahu abangnya, tidak jelas kenapa. Abangnya mengetahuinya dari orang lain. Ia malah menyuruh orang lain yang menemaninya tatkala menikah. Ia sudah tidak menganggap abangnya sebagai saudaranya lagi. Walapun tidak diundang, abangnya bersama istri datang juga ke Cipanas saat pesta pernikahannya berlangsung, karena mereka sudah mengerti sifat Rahim. Segala sesuatu yang dilihat Rahim yang menurutnya tidak baik atau buruk, apalagi kalau tidak menguntungkan dirinya, ia selalu bereaksi keras menantangnya. Ia bukanlah jenis orang yang sabar dan mengayomi orang lain. Seperti telah dijelaskan sebelunya, kurang rasa empati. Narsis? Merasa dirinya paling hebat? Siapa tahu, mungkin saja. Padahal Rahim adalah orang yang cerdas dan sudah belajar agama cukup banyak, dan sering dipergunakannya untuk bisa menyelesaikan masalah, baik teknik apalagi masalah pendidikan matematika. Dan ini adalah ciri khas Rahim, yang mungkin saja ia tidak menyadarinya. Seharusnya Rahim bertindak yang baik apabila melihat atau menyikapi keadaan yang buruk, sehingga yang buruk itu akan menjadi baik, atau bahkan lebih baik.
Akhirnya di tahun 2009 Rahim melamar menjadi guru dan syukur alhamdulillah, ia lulus, dan kini sebagai guru PNS di salah satu SMK di Cianjur, Jawa Barat. Ia menikah dengan Nurlaila, perempuan kelahiran Cipanas Cianjur, lulusan Sarjana Pendidikan UPI dan bertugas mengajar di Cipanas. Mereka tinggal menetap di Cipanas Cianjur dan kini telah dikaruniai dua orang anak laki-laki yang sehat, gagah dan tampan. Demi membesarkan anak-anak mereka, semogalah mereka berbahagia selalu, sepanjang hidupnya. ***

Difficult yes, Imposible No!
Demikianlah gerak-langkah atau dinamika keadaan kehidupan mereka, ia dan adik-adiknya masa lalu dan kini. Satu persatu mereka telah berhasil dalam pendidikan dan kehidupannya. Dan iapun merasa senang, karena tidaklah banyak keluarga yang bisa seperti mereka. Dari keadaan pergaulan rumah tangga yang berpendidikan rendah, yang tidak sanggup menyediakan biaya pendidikan untuk meningkatkan dan menyesuaikan kemampuan terhadap perubahan zaman. Penghasilan pas-pasan bahkan cenderung kurang. Kurang berdaya untuk meningkatkan keunggulan. Kurang daya saing sehingga nyaris terlempar dari lingkungan kehidupan. Yang tadinya kurang berdaya untuk meningkatkan kemampuan sesuai dengan perkembangan zaman menjadi mereka seperti sekarang ini. Tapi, itulah berkat dari doa yang tulus ikhlas dari kedua orang tuanya. Berkat kegigihan ayah-ibunya untuk menyuruh mereka sekolah, belajar mengaji dan mengutamakan shalat berjamaah di masjid, akhirnya semua menjadi pejuang yang gigih untuk merubah nasib. Walau disana-sini terjadi benturan yang bisa lembut, bisa juga keras. Laiknya gelas yang diletakkan berdekatan, bisa jadi bersenggolan dan mengeluarkan suara. Suara itu lembut ketika senggolan itu pelan saja: “Triling…triling.. !!!”  ketika satu persatu gelas itu disusun dan beradu, dan ”berelaak… !!!”, ketika digeser bersamaan. Akan tetapi jika senggolan berubah menjadi antukan atau benturan yang keras, dentingannya bisa menggema, menggelegar dalam ruangan: “Bluaarrrr…. !!! trat… trangng…. !!!, krompyangng… wangng…. wang… wang.. wang., wang…!!!”, campur aduk suara piring kaleng terjatuh, piring kaca pecah, gelas remuk dan lain-lain bunyi saling beradu. Bagai musik cadas atau musik rock yang keras tapi harmoninya berantakan, tidak enak didengar telinga. Alhamdulillah, belum ada persenggolan itu yang teramat keras sehingga semua perabotan itu musnah. Selalu saja masih banyak yang tersisa.
Budaya hidup keluarganya memang memerlukan proses menuju perubahan yang harus dihadapi dengan sabar, perlu waktu, karena landasan budaya yang ada, sudah sangat tidak sesuai lagi dengan tuntutan perkembangan jaman. Landasan itu harus diubah dan diperbaiki. Mendobrak resistensi atau keengganan untuk berubah. Bagaikan kupu-kupu yang berjuang memecah kepompong untuk bisa terbang dengan warna-warni keindahannya. Mereka harus terus berusaha membuka diri terhadap perubahan dan menghadapinya dengan sebaik-baiknya serta menyiapkan diri untuk meningkatkan kemampuan yang berkesinambungan. Sukar memang, tapi bukan tidak mungkin. Diificult yes, imposible no!
Ia terus berupaya sambil berdoa, agar semua mereka, ia dan adik-adiknya ini kelak berhasil dan berubah menjadi orang yang berguna bagi sesama, bagi lingkungannya, bagi agamanya dan bagi negaranya. Selaras dengan tugas utama mereka hidup di dunia, mengabdi kepadaNYA, bahagia di dunia, bahagia di akhirat, terhindar dari siksa api neraka. Agar selalu insyaf dan mawas diri, hidup berbakti sepanjang zaman, tak kenal henti. Sebelum datang masanya selimut putih membalut badan dan semua yang dikasihi akan ditinggalkan, meninggalkan dunia. Sampai kelak tabungan akhirat mereka cukup karena banyak bersedekah dan beramal shaleh, ketika malaikat Izrail pencabut nyawa datang, membawa mereka kealam barzah dan untuk menanti di padang mashar. Ia lalu mengingat senandung nasyid Selimut Putih,

Selimut Putih   
Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan

Tak ada lagi…i.. guna harta,
kawan karib, sanak saudara
jikalah ada amal di dunia
itulah hanya kan membela kita

Janganlah mau disanjung-sanjung
Engkau digelar manusia agung
Sadarlah diri, tahu di untung
Sebelum masa keranda diusung

Datang masanya insyaf lah diri
Selimut putih membalut badan
Tinggal semua yang dikasihi
Berbaktilah hidup sepanjang zaman

Bila Izrail, datang memanggil,
jasad terbujur di pembaringan
Seluruh tubuh akan menggigil
sekujur badan…. kan Kedinginan ….

Nasyid yang selalu dikenangnya, yang mengingatkannya akan arti kehidupan di dunia, agar selalu mengingat kehidupan setelah kehidupan dunia ini.

******