Senin, 09 September 2019

MERAJUT IMPIAN MASA DEPAN

MERAJUT IMPIAN MASA DEPAN





Gambar xx. Lembaga Pasteur
Gambar xx.Peneropong Bintang Lembang
Buku bacaan sekolah dasarnya, dikelas lima dan enam, namanya Buku Bacaan Merdeka, menggambarkan kota Bandung sedemikian indah, menggetarkan persaaannya. Lembaga Pasteur penghasil serum anti penyakit anjing gila, Peneropong Bintang Lembang dan Institut Teknologi Bandung, ITB, yang berada dikota itu, sangat menarik perhatiannya, untuk kelak bisa dikunjungi, bersekolah dan menuntut ilmu disana. 





Buku ini juga menceritakan seorang anak yang ikut orang tuanya bertamasya ke Belanda, Inggris, Italia dan Perancis. Cerita tentang kota Hilversum di Belanda yang berada dibawah permukaan laut, 

Menara Eifel di Paris dan indahnya kota Paris dan Menara Miring Pizza di Roma, diceritakan dengan menarik sehingga sangat terkesan indah dalam hatinya. Ia hanya bertanya dalam hati, bisakah ia pergi kesana kelak? Tentu bisa, asal ada kemauan. Ia ragu-ragu mengingat keadaan ayah-ibunya sekarang ini. Tapi ia sangat ingin pergi ke tempat-tempat itu, cita-cita dipatrikannya dalam hati, agar bisa menginjakkan kaki disana kelak. Dan sering terbawa menjadi mimpinya. Ia masih menyimpan impian dan cita-citanya menjadi insinyur kelak. Atau kalau bisa ketemu Mariana entah dimana. Mungkin nanti di Pulau Jawa, atau di benua Eropa seperti cerita dalam buku bacaan mereka di kelas lima dan enam itu, siapa tahu. Karena orang tua Mariana adalah pejabat yang mungkin saja ditugaskan ke Eropa. Ternyata ia masih ingat Mariana, walaupun hanya ingat saja, tapi sudah tidak terlalu mengganggu pikirannya.

Pada ujian akhir kelas enam, murid dari SD 18 ditempatkan ke beberapa sekolah. Ia ikut ujian akhir di Sekolah Dasar yang berada di Jalan Sekolah. Semua soal berhitung dapat dikerjakannya dengan mudah, kecuali dua persamaan simultan, karena memang belum pernah diajarkan olah gurunya. Pengetahuan Umum juga dapat dikerjakannya dengan baik, apalagi Bahasa Indonesia. Akan tetapi, ia sendiri tak habis pikir, Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran kesukaannya. Sehari-hari keluarga dirumah mereka menggunakan bahasa Indonesia, dan ia merasa semua tata bahasa dalam ujian itu dapat dijawabnya dengan sempurna. Tapi yang menjadi kenyataan, nilai Bahasa Indonesianya adalah nilai terkecil, hanya dapat nilai enam. Nilai Pengetahuan Umumnya adalah delapan, berhitung nilainya sembilan, nyaris sempurna. Walaupun demikian ia adalah lulusan dengan nilai tertinggi disekolahnya dan sangat gembira karena ia dapat lulus dengan kedudukan atau peringkat yang terbaik.

Ia lalu bertanya kepada siapa saja mengenai cara bersekolah di Bandung. Ia mendapat kabar, bahwa konon, kalau bersekolah yang tinggi itu adalah di universtias dan atau institut, sama seperti penjelasan pada buku bacaan sekolah mereka. Menurut keterangan gurunya, jika ingin bersekolah di ITB, maka ia harus menyiapkan diri dengan pengetahuan umum dan aljabar yang baik. Ia merasa beruntung, gurunya banyak yang memberi keterangan yang menyenangkan hatinya. Tapi ada juga gurunya yang mengatakan, yang mengetahui keadaan orang tuanya, bahwa kalau sekolah ke perguruan tinggi, baik di Bandung, Jakarta atau Yogyakarta, ke Pulau Jawa atau di mana saja, perlu biaya yang lumayan besar, mungkin keluarga tidak akan sanggup membiayainya. Selain itu, ada juga cerita, bahwa ada orang yang berdiri sendiri sambil sekolah di perguruan tinggi, ia bekerja mencari nafkah untuk membiayai sekolahnya, dan berhasil lulus dengan baik. Keterangan yang kedua inilah yang menjadi pedomannya, yang membuat ia mempunyai harapan baik. Ia optimis akan berhasil. Niat telah ditorehkan, terpatri dalam hati. Rencanapun dikembangkan.
Keinginan untuk mencapai cita-citanya menjadi insinyur, membuatnya jadi bersemangat untuk sungguh-sungguh mempersiapkan diri. Ia harus melanjutkan dulu ke SMP dan SMA baru mengikuti testing kelak di ITB. Ia merasa ia sudah punya modal, sudah mempunyai keterampilan teknik perbengkelan sepeda, sejak ia ikut bekerja di bengkel sepeda membantu orang tuanya. Yang bisa ditingkatkannya selama sekolah di SMP dan SMA nanti, dan kelak dapat dipergunakan untuk menopang biaya hidup dan sekolahnya di perantauan. Pelajaran yang menurut keterangan yang harus dikuasainya adalah Aljabar atau Matematika, Fisika atau Ilmu Alam, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, dibulatkannya tekad untuk menguasainya. Ia adalah murid yang terbaik dalam hal berhitung, dan ia yakin dapat menguasai Aljabar, Fisika dan Ilmu Alam. Bahasa Indonesia adalah pelajaran yang paling disenanginya, dan juga sebagai bahasa keluarga mereka sehari-hari. Selain itu ia juga sudah diajari oleh guru mengajinya, ustadznya, untuk berencana sambil berdoa demi keberhasilannya kelak.
“Walaupun keadaan kita sekarang tidak atau masih belum mempunyai dana yang cukup, nasib bisa saja kelak berubah dan membawa kita untuk berhasil” demikian petuah guru mengajinya. Dan,
“Nasib seseorang tidak akan berubah, kecuali ia sendiri mau merubahnya….!!!”
“Tapi harus berencana dan berusaha melaksanakannya dengan baik”, lanjutnya, “Setelah berencana barulah berdoa, semoga Allah SWT menolong kita. Bukankah burung yang keluar dari sarang baru mendapat rejekinya hari itu?”, berhenti sejenak.
Lalu,
“Keluar dari sarang merupakan usaha, dan usaha adalah media atau wasilah datangnya
pertolonganNYA. Maka dari itu berjuang dan berusahalah dan berdoalah”.
“Seperti firman Allah SWT berikut: Hai orang-orang yang beriman, takutlah kamu kepada Allah, dan hendaklah kamu mengingat apa-apa masa lalumu untuk menentukan masa depanmu ….dst…!!!”, tambahan penutup.

Artinya ia harus berusaha untuk merubah nasib, karena Tuhan Allah SWT tidak akan merubah nasib seseorang kecuali ia sendiri yang merubahnya. Ia harus mempunyai rencana saat ini menuju ke masa depan mau menjadi apa, dari hasil apa yang telah dicapainya dimasa lalu. Ia memandang masa depannya nanti harus berlandaskan pengabdian kepada Allah, membawa keluarganya keluar dari lembah kemiskinan dan beroleh kebahagiaan. Ia harus makmur lebih dahulu.
Cita-citanya kelak ia akan mempunyai rumah yang cukup bagus, kendaraan untuk kegiatan pindah barang dan manusia pada tempat yang lebih luas, memperoleh kabar berita dan kenyataan atau informasi tentang kekinian, pekerjaan dengan penghasilan yang cukup, bermasyarakat  dan keluarga yang baik atau rumah tangga dengan anak-keturunan yang hidup rukun dan memperoleh kebahagiaan. Semuanya didukung oleh keuangan yang cukup. Dalam ukuran kecil, untuk berkembang dengan sempurna dan dapat memutakhirkan atau me-masakini-kan kemampuan mengikuti kemajuan zaman dan daya saing, ia harus mengikuti lancarnya arus barang, arus manusia dan dan arus informasi itu. Ia harus terus berubah menjadi lebih baik dari hari kehari. Atau ia akan menjadi katalisator percepatan pertumbuhan kemajuan. Ia harus mempunyai kendaraan untuk turut serta mempercepat arus barang dan manusia.
Untuk itu ia harus bersekolah setinggi mungkin dan lulus secepatnya menjadi insinyur. Ia harus berani dan bertekad mengubah perilakunya. Yang tadinya suka menunda pekerjaan, kini mengerjakan pekerjaan itu dengan segera, tidak lagi suka menunda. Yang tadinya senang bermalas-malasan menjadi orang yang rajin, ia tidak boleh jadi pemalas. Yang tadinya senang melakukan pekerjaan yang seakan-akan penting tetapi tidak berhubungan dengan cita-citanya untuk tercapainya tujuan, ditinggalkannya. Yang tadinya mengerjakan sesuatu hanya sekedarnya saja, kini ia bertekad untuk selalu menjadi yang terbaik, atau paling sedikit menjadi lebih baik. Sekarang ia selalu berencana pada setiap tindakannya. Ia harus berani berpindah dari satu takdir ke takdir yang lain.  Ia harus terus berubah menjadi lebih baik.

Nasihat Bijak Bestari
Ia selalu ingin lebih tahu tentang sesuatu. Sejalan dengan cita-citanya, ia tidak bosan-bosannya meminta kabar berita keadaan atau informasi diperantauan, ditempatnya memulai sejarah baru nanti. Lalu berjumpa seorang yang berpengalaman, ia dinasihati oleh seorang ustadz yang bijak bestari, yang telah banyak bergaul dan berpengalaman dalam menjalani kehidupan secara nasional. Nasihat itu adalah bagaimana memilih sahabat, menyikapi kegagalan, agar tidak gampang menyerah, sebagai berikut:

Memilih Sahabat
Dalam rangka mencapai cita-citamu, hubungan yang sehat dengan sesama teman, hubungan silaturrahim, memang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan jiwamu. Namun, kerapkali engkau terjebak dalam hubungan dengan sosok manusia yang memiliki sifat yang tidak baik. Mereka umumnya sering mengeluh, mudah marah, atau tidak sabaran. Atau gampang menyerah.
Mengenali sifat-sifat seseorang di awal perkenalanmu kelak menjadi sesuatu hal penting. Apalagi jika ada kehendakmu untuk melanjutkan dalam hubungan yang lebih serius. Ada delapan jenis orang perlu engkau jauhi, seperti yang akan kuterangkan satu persatu berikut ini:
Yang pertama, 
Orang yang Memelihara Masa Lalu. Beberapa orang menolak melepaskan kenangan masa lalu dan cenderung merawat kenangan pahit yang menyakitkan. Akibatnya orang ini selalu hidup terpenjara dalam kemarahan dan kepahitan. Bila terjadi terus menerus, akan dapat mempengaruhi orang yang berada disekitarnya. Jika mereka mulai memunculkan masalah masa lalu, jangan ragu untuk memberitahu kepadanya bahwa engkau tidak ingin membicarakannya. Jika ia masih berkehendak juga, usahakanlah menjauh darinya.

Yang kedua, 
Orang yang Mengasihani Diri Sendiri. Tidak ada yang lebih menjengkelkan dari pada orang yang merasa menanggung beban yang amat berat, bisa jadi beban seluruh dunia merasa berada dipundaknya. Jangankan mencari jalan keluar, orang seperti ini terus mengasihani diri sendiri dan selalu tidak melihat jalan keluar. Baginya pintu-pintu keluar dari masalahnya selalu tertutup. Tawarkanlah bantuan yang bisa engkau berikan kepadanya. Beritahukan kepadanya, agar tetap bersemangat. Bagi mereka yang bersemangat, didepannya selalu terbuka pintu penyelesaian masalah. Dan jika tetap tidak mau berubah, sebaiknya menjauhlah darinya.
 
Yang ketiga, 
Orang yang Munafik. Berhubungan dengan orang yang memiliki sifat  lain dimulut lain dihati, sangat tidak menyenangkan. Ketika di depanmu ia bisa muncul sebagai orang yang paling manis, namun bersikap sebaliknya dibelakangmu. Jika engkau menangkap hal ini terjadi berulang kali walaupun hanya kepada orang lain, segeralah jauhi. Berhati-hatilah dengan orang seperti ini. Bukan tidak mungkin kelak ia melakukan hal yang serupa kepadamu.
 
Yang keempat, 
Orang yang selalu Berfikiran Negatif. Orang ini selalu memandang hal-hal yang negatif dari hidupnya. Bantulah ia melihat sisi positif dari dirinya. Jika tidak mau menerima, jangan biarkan hal negatif itu mempengaruhimu.
 
Yang kelima, 
Orang merasa yang Paling Sempurna. Orang seperti ini biasanya merasa lebih baik dan menarik dari pada orang lain. Ia sangat menikmati aktivitas mengkritik dan menerta-wai orang lain. Bersikap sabarlah dengan perilakunya. Namun jika ia tidak berubah, saatnya engkau meninggalkannya.
 
Yang keenam, 
Orang yang Bangga Mengumbar Rahasia. Mereka sangat bangga menceritakan skandal dalam hidup dan senang melibatkan sebanyak mungkin orang dalam perdebatan. Dengarkanlah dia, namun jika sampai mempengaruhimu kepada jalan yang tidak baik, segera-lah menjauhinya.
 
Yang ketujuh, 
Orang yang memelihara Perasaan Kecewa. Orang ini selalu merasa kecewa dengan hidupnya dan melampiaskannya kepada orang lain di sekitarnya, bahkan seringkali mereka mengambil kesimpulan yang tidak masuk akal. Jika ia mulai merencanakan sesuatu yang aneh yang terkait dengan rasa kecewanya, katakan bahwa hal itu mengganggumu. Jika ia tidak mau berubah juga, segeralah menjauh darinya.
 
Yang kedelapan, 
Orang yang Senang Mengulas Kejadian.  Orang seperti ini mengulas semua yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Seringkali perkataan mereka menimbulkan perkela-hian. Berhati-hatilah bila berada di sekitar orang tersebut dan berhati-hati dengan perkataanmu.

Never Ever Give-up

Yang terakhir,

Hidup ini adalah petualangan dan perjuangan, jangan pernah engkau menyerah, never ever give up. Rencanakanlah hidupmu, masa depanmu dan jalan hidupmu. Kalau harus ada jalan yang melingkar, engkau tidak boleh menghindar, kalaupun ada jalan mendaki dan terjal, engkau tidak harus atau jangan membuang bekal. Kalaulah masih gagal, bukan berarti engkau akan selamanya gagal. Lebih baik maju selangkah demi selangkah, berlelah-lelah, berurai air mata, bersimbah peluh dan kalau perlu bergelimang darah, akan lebih berarti dibanding engkau beranjak mengambil selimut, pergi tidur lagi dan menyerah! 

Lalu, disetiap kesempatan, berdoalah selalu dengan ikhlas. Ketika engkau penat memikirkan dunia, maka berwudhu’lah. Ketika tanganmu letih menggapai cita-cita, maka bertasbihlah. Ketika pundakmu serasa tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah pada ALLAH, ikhlaskan semuanya serta selalu mendekat kepada-Nya. Jangan pernah berputus asa, jangan pernah menyerah!

 Demikianlah nasihat dari ustadz yang bijak bestari itu. Ia mengucapkan terimakasih yang tak terhingga. Pada awalnya ia tidak begitu mengerti nasihat ini, tapi ketika satu persatu butir-butir ini dialaminya, ia sudah dapat menyikapinya dengan baik. Nasihat yang amat berguna dalam pencapaian cita-citanya kelak di kemudian hari.

Ia bersyukur, ia didekatkan dengan orang-orang yang bijak, dengan para ustadz, orang yang dekat dengan Allah, yang telah mengatur semuanya agar terarah langkahnya untuk masa yang akan datang. 



Minggu, 08 September 2019

MASA INDAH SEKOLAH DASAR

MASA INDAH SEKOLAH DASAR
Lanjutan Cerita RATNA MUTU MANIKAN, cinta monyet?






Inilah kehidupannya, hari-hari sekolah di SD. 
Ketika fajar menyingsing di ufuk Timur, langit memerah terlihat malu-malu, muncul dari balik garis cakrawala dan rumpun pepohonan. Perlahan, gelap dan kelamnya malam berangsur terang, dienyahkan oleh munculnya cahaya merah fajar menyambut siang. Iapun pergi ke masjid di tepi sungai Bah Bolon untuk mandi dan shalat subuh, lalu pagi hari ia bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ketika matahari membuka semua selimut gelap ufuk Timur, ia melangkahkan kakinya berangkat ke sekolah. Disekelilingnya terlihat rerumputan ialang yang berdesir di tiup angin.
Rumput bergoyang ditiup angin

Berpasang-pasang burung tekukur keluar dari sarangnya, mulai bernyanyi, terbang dari satu pohon kepohon lain. Dari kejauhan terdengar sayup-sayup nyanyian perkutut. Seakan menemani, ditingkahi cicit burung pipit.
Di sekolah ia juga berkesempatan untuk bermain-main dengan teman-temannya. Bermain kelereng, bermain kasti, patuk lele, gangsing, bola kasti dan alip-alipan   Alip-alipan bola adalah permainan untuk melempar teman dengan bola tennis, biasanya enam  orang   lawan enam orang.2) di halaman sekolah yang luas. Tergantung permainan apa yang lagi musim. Kalau sedang belajar agama, karena temannya sekelas hanya ada lima orang yang beragama Islam, mereka dijinkan untuk tidak ikut belajar. Kesempatan ini mereka gunakan untuk bermain-main di sungai Bah Sorma atau pergi kerumah temannya Sulaiman Purba di Tomuan hilir.
Siang hari setelah pulang sekolah, ia harus mengasuh adik-adiknya, diantaranya Kamisah, Nurhayati (kini almarhum), Zahara, Misnah Addrah (juga almarhum).

Pada suatu hari libur, ia membawa adik-adiknya ini ke kebun binatang di Jalan Gunung Simanuk-manuk tanpa ditemani ayah-ibunya. Kebun bintang ini sangat bagus dan indah, penuh dengan pepohonan yang besar serta binatang yang cukup banyak dan terawat. Kebun Binatang atau taman hewan Pematangsiantar merupakan taman hewan yang cukup tua di Indonesia. Pagi hari, sekira pukul tujuh, mereka berangkat dengan berjalan kaki dari rumah di jalan Daliltani, disambung dengan oplet kearah Kampung Kristen. Jarak kebun binatang dengan rumah mereka kira-kira berjarak sepuluh kilometer. 



Gambar satwa di kebun binatang Pematangsiantar



Sesampainya disana, ia heran kenapa banyak orang yang melihat dan memperhatikannya. Mungkinkah karena tidak ada orang tua yang menemani?  Mungkinkah  karena  ia  masih  kecil, dengan pakaian adik-adiknya serta kain gendong yang dipergunakannya biasa-biasa saja? Kadang-kadang terdengar ucapan orang yang merasa belas kasihan. Kenapakah gerangan? Pada mulanya ia sendiri tidak tahu. Akhirnya, dari ucapan-ucapan pengunjung yang didengarnya ketika melihat mereka, iapun tahu apa sebabnya. Kebun bintang adalah tempat rekreasi, umumnya orang datang ke sana  berpakaian yang bagus dan indah, bukan pakaian sehari-hari seperti yang dikenakannya bersama adik-adiknya. Dan bukan dengan berjalan kaki. Pengunjung lain banyak yang membawa makanan ke sana dan makan bersama, sedangkan ia bersama adik-adiknya tidak membawa apa-apa. Ia malu juga akhirnya.

Meskipun demikian, mereka tetap berkeliling melihat binatang yang ada. Seperti Harimau Sumatera, gajah, ular sawah atau ular sanca beserta jenis-jenis ular lainnya, buaya, berjenis-jenis burung, monyet, siamang dan lain-lain.
Burung Engang, Taman Hewan Pematangsiantar
Ia juga melihat aliran sungai Bah Bolon yang mengalir di sebelah bawah kebun binatang. Aliran deras di tengah sungai berdesau menyapu bebatuan. Sebagian air yang mengalir dipinggir hanya berdesir, beriak dan terus mengalir kehilir. Setelah merasa puas dan lelah, ia mengajak adik-adiknya pulang dengan terus menyusuri jalan yang mereka tempuh ketika berangkat. Sejak saat itu, ia tidak pernah lagi membawa adik-adiknya ke kebun binatang tanpa persiapan yang baik.
Ia sudah mulai merasa malu melakukan hal yang sama. Ia belajar dari lingkungannya. Kalaupun ia harus mengulangi membawa adik-adiknya ke kebun binatang atau ketempat keramaian lainnya, ia selalu mendandani adik-adiknya dengan baik serta dengan persiapan sewajarnya.  
Ibunya saat itu masih bertani di ladang yang dekat di belakang rumah. Ada kalanya bercocok-tanam jagung, bengkuang lalu diselingi dengan sayur bayam. Memang ibunya sangat rajin dan pandai bercocok-tanam. Di sekeliling rumah, ibunya memelihara seledri dalam pot-pot yang terbuat dari bahan kaleng bekas, di atur berjejer diatas papan. Tapi, karena tempat hunian monyet di tempat lain banyak yang mulai berubah menjadi pemukiman, monyet  lalu sering kali datang mendekati kota, ke sekitar tempat mereka tinggal. Bengkuang atau jagung yang siap panen digali dan dirusak monyet, habis tak bersisa. Karena gangguan monyet ini, akhirnya ibunya berhenti berladang.   

Pada hari-hari libur tertentu ia pergi ke sawah untuk melihat petani bekerja membajak sawah. Ia senang melihat keindahan sawah dan alam sekelilingnya. Inilah pembicaraan dengan ibunya,
“Nur, bawa adikmu jalan-jalan, ya nak? Emak mau ada kerjaan ke ladang kita yang di    
belakang”, demikian pesan ibunya.
“Ya mak, kami mau pergi ke sawah melihat orang yang membajak sawah, boleh ya
mak?”, sahutnya.   
“Ya, tapi hati-hati ya”, ibunya member ijin.
“Ya mak”, lalu iapun bersiap berangkat dan mengajak adiknya.

Hari itu ia membawa adik-adiknya ke sawah. Makanan ringan berupa ubi jalar atau pisang rebus dibawanya serta. Adik-adiknya, Nurhayati digendongnya dan Kamisah berjalan mengikutinya perlahan-lahan. Di tengah sawah ia melihat petani sedang membajak sawah. 


Membajak sawah dengan kerbau
Pisau bajak sudah di letakkan di atas lumpur sawah dengan batang penghubung berada di pundak dan leher kerbau pembajak. Petani terdengar berteriak menyemangati kerbaunya membajak, “EEAH…!!! EEEAHHH… Hayooo…”. Kadang diiringi senandung. Kerbau bergerak melangkah di lumpur sawah, menarik bajak. Lalu sebagian batang padi bekas panen dan tunggulnya berbalik berada di bawah lumpur yang kelak menjadi pupuk alam. Sampai akhirnya permukaan sawah sudah datar dan tidak ada lagi bekas batang dan tunggul padi yang terlihat.

Ketika terdengar suara azan berkumandang sayup-sayup dari kejauhan, istirahat sebentar, shalat Zuhur dan makan siang di gubuk sawah bagi mereka yang Muslim. Di kampung mereka, banyak petani Muslim dari suku Batak Toba. Ketika itu ia sendiri belum melaksanakan shalat yang lima waktu sepenuhnya. Ia memberi adiknya pisang atau ubi rebus dan untuk dirinya sediri juga untuk dimakan. Lalu dilanjutkan sampai menjelang senja. Setelah selesai membajak, anak gembala duduk diatas kerbaunya yang sedang merumput, sambil meniup serunai puput yang terbuat dari batang padi atau seruling bambu, melagukan nada sedih, diselingi nada gembira.
Tonggeret bernyany di pohon,
pertanda senja datang
Haripun berangsur senja. Matahari di ufuk Barat tinggal sepenggalah tingginya, bersiap menebar selimut malam. Sinarnya semakin memudar. Kerbau dengan pengembalanya berhenti bekerja. Alampun perlahan merangkak dan hari mulai gelap. Perlahan-lahan tapi pasti, matahari mulai turun ke ufuk Barat, mulai bersembunyi di balik rindangnya pepohonan. Yang tidak lama lagi akan segera menghilang dibalik cakrawala malam. Cuaca mulai samar redup matahari mulai kelihatan memerah.
Serangga senja oer-oer atau tonggeret terdengar mengeluarkan nyanyian khas dari batang pepohonan. Bahasa Bataknya disebut Sese. Senandung Batak Rura Silindung terdengar sayup-sayup dinyanyikan pengembala, menyambut senja,

Makuling sese, sese di balian iiiiiii…..
Na paboahon, naung bot do  arii
Rura Silindung, rura na dumenggani…..
Lambok malilung na marbaju na disi

Di pukul opat, di ro bot ni borngini
Disi pe mulak sidoli pangaririti  …….
Huhut makkuling, sese di baliani
Namangendehon, rura na dumenggani….

Suasana mulai sunyi dan kicau burung tak terdengar lagi. Burung-burung telah berhenti bernyanyi. Ia melihat anak gembala menghalau ternaknya, pulang menuju dangau, dan iapun pulang membawa adik-adiknya kembali ke rumah.

Senja menjelang, mereka pulang
Pohon bambu yang rindang disepanjang jalan,
 mengeluarkan desauan dibelai tiupan angin senja yang kencang menyapu dedaunan. Tiupan angin yang menyegarkan. Terkadang juga terdengar suara detakan keras, “Tak….., tak….., tak…., tak…, rrrratak.., tak, tak, tak!!!!”. Suara ini akan terdengar tatkala bambu yang panjang bergerak, batangnya bergesekan satu sama lain ditiup angin kencang. Ketika angin kencang itu berlalu, sayup-sayup terdengar suara gesekan daunnya berdesir dibelai angin semilir. Dari balik dedaunannya terlihat matahari senja merona memerah di ufuk Barat, pertanda segera datangnya malam menggantikan siang. Suara riak air terdengar dari sungai kecil pengairan sawah yang harus mereka seberangi. Alangkah indahnya orkestrasi dan nyanyian alam disenja seperti ini.


Gambar Pohon bambu  di jalan pulang.
.
Sebelum magrib mereka tiba di rumah. Ia bergegas melaksanakan shalat Ashar yang waktunya hampir habis. Ibunya telah selesai mencuci pakaian dan sedang memasak makanan malam mereka. Setelah shalat magrib dan mengaji selesai, malam harinya ia belajar, terutama kalau ada PR, pekerjaan rumah, ditemani musik alam, suara jangkrik dan suara serangga malam lainnya. Kadang-kadang ada suara burung hantu di kejauhan di balik rimbunan pepohonan, atau musik gondang Batak pengiring tarian Batak, tor-tor, sayup-sayup sampai, sumbernya entah dari mana. Ia tidak pernah bertanya tentang PR atau pekerjaan rumah dari sekolah kepada ayah-ibunya, karena kalau ditanya mereka hanya bilang mereka tidak tahu.

“Makanya nak, kau disekolahkan agar pintar”, jawab ibunya.
“Tidak seperti kami ini, yang tidak banyak mengetahui apa-apa”, memberikan alasan.
“Kaulah nanti Nur, yang membantu kami”, ibunya berkata  memelas, mengharap.
 “Ya Mak…”, jawabnya. Ibunya benar, ia harus terus berusaha dengan gigihnya, sampai bisa dan mengerti, tanpa ada yang mengajarinya di rumah.  

Atau membaca majalah yang dibeli ayahnya. Ia senang sekali membaca cerita dari buku bacaan wajib mereka di sekolah, atau kumpulan buku cerita tentang Ciung Wanara, Budi yang hidup di desa, kehidupan sehari-hari pengembala, anak yang rajin dan berhasil dan lain-lain. Sebagaimana biasa, kalau sekolahnya dimulai siang hari, pagi hari ia mengasuh kedua adiknya, Nurhayati dan Kamisah, karena ayah-ibunya biasanya bekerja dan berdagang sayuran di pasar Pajak Horas. Ayahnya berangkat setelah shalat subuh mencari sayuran ke kampung untuk di jual ibunya dipasar. Pagi harinya ayah juga bertugas sebagai pengantar sayuran ke RS Umum Pematangsiantar. Kalau sekolahnya masuk pagi, ia menjemput Nurhayati kecil ke pasar setelah pulang sekolah. Kalau masuk siang dan akan pergi ke sekolah, Nurhayati diantarkannya ke pasar Pajak Horas untuk diasuh oleh ibunya di pasar sampai menjelang sore saat pulang ke rumah. Kamisah ditinggal sendirian di rumah sambil menunggu ayah pulang dari pasar. Kalau ada vaksinasi massal ia jugalah yang membawa Nurhayati ke kelurahan untuk vaksinasi batuk, typus, kolera atau cacar. Sayang, adiknya Nurhayati kurang sehat. Suatu hari Nurhayati jatuh sakit. Tidak lama kemudian, sakitnya semakin parah, tapi karena Nurhayati tidak banyak menangis dan pengobatannya tidak sempurna, akhirnya meninggal dunia di hadapannya. Inna lillahi wa inna lillahi roji’un. Ia amat bersedih hati, adik yang sehari-hari diasuhnya telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Ia pergi menjauh, menangis seorang diri agar tidak dilihat oleh orang lain. Tapi karena ia masih kanak-kanak, tidak berapa lama kemudian ia telah dapat melupakan kesedihan hatinya.

Tonil atau opera Batak Serindo, SITILHANG sering datang mengunjungi kampung mereka untuk mementaskan sandiwara. Ia sangat senang menonton dan hampir tidak pernah melewatkan malam tanpa menonton. Salah satu episodenya yang terkenal adalah Si Boru Tumbaga (https://youtu.be/rXo1gModpuA). Ada saja alasannya untuk pergi menonton.

Opera Batak, Episode Si Boru Tumbaga
dapat di lihat di You tube
Untuk kenangan, lagu-lagu Tonil Serindo, yang juga disebut sebagai uning-uningan, dapat di lihat di https://youtu.be/ZHG70Ha1OP4. Lagu-lagu Batak banyak dipelajarinya dari tonil ini, seperti lagu-lagu
Inang Sarge, Siksik Sibatu Manikkam, Rura Silindung, Sing Sing So, Madekdek ma Gambiri, Parmitu dan lain-lain.  Beberapa lagu kenangan dapat di lihat di Lagu-agu Siksik Sibatu Manikkam kini dipopulerkan lagi oleh pemusik cadas, oleh kelompok musik rock Zamrud asuhan Leg Zelebor yang kondang itu. Lagu Parmitu tidak disenanginya, karena ia sering mendengar lagu itu dinyanyikan dari kedai minuman keras khas budaya Batak, nira yang sudah dipermentasi yang disebut tuak. Parmitu sendiri artinya adalah peminum, dan ucapan dan teriakan lissoy dalam lagu itu adalah dalam rangka ucapan selamat kepada sesama peminum. Di persimpangan Jalan Daliltani dengan Jalan Narumonda, banyak sekali kedai kopi yang juga menjual minuman tuak. Sering terjadi dan melihatnya dengan mata kepala sendiri, perkelahian timbul karena sudah tidak lagi bisa mengontrol diri karena mabuk. Kalau tidak berkelahi, pulang kerumah sempoyongan, kadang terjerembab ke parit tak ada yang menolong sampai akhirnya sadar sendiri. Kalau sampai ke rumah, ketika pintu dibuka, pemabuk ini langsung terjerembab lagi, bisa di depan pintu, bisa juga setelah di dalam rumah, di ruang tamu. Agar cepat sadar, biasanya diguyur dengan air dingin dan langsung tertidur sampai sadar keesokan harinya. Dengan pakaian kotor yang berlumur muntahan yang bercampur dan berbau minuman tuak. 
Cerita tonil yang dipentaskan diantaranya adalah kepahlawanan Sisingamangaraja melawan penjajah, dibantu oleh seorang panglima perangnya dari Aceh dan seorang lagi dari Minangkabau. Atau kisah cinta antara dua sejoli yang dipaksa nikah dengan pariban1)nya, dan bermacam-macam cerita lain-lain. Bahasa pengantarnya tidak selamanya bahasa Batak, ada kalanya campuran dengan bahasa Indonesia, tergantung isi ceritanya. Diselingi nyanyian, diringi orkestra musik Batak yang didominasi oleh seruling dan kecapi. Indah menggetarkan hati. Bintang tonilnya waktu itu adalah Boru Situmorang. Tinggi badannya sedang, warna kulitnya putih kuning langsat. Kalau sedang menyanyi, ia bisa menitikkan air mata atau gembira ketika muncul keatas panggung membawakan lagu-lagu gembira atau sedih. Ketika ditimpa lampu sorot panggung dengan latar belakang layar dengan warna yang serasi, alamaaak… cantiknya! Ya cantiknya bukan kepalang, karena memang dianya sudah cantik, ditambah lagi karena dirias oleh juru rias yang berpengalaman dan disiram oleh cahaya lampu warna warni. Sehingga banyak yang tertarik, dan kalau ia menyanyi atau menari tortor, banyak yang memberi saweran atau olop-olop kepadanya. Saweran berarti atau sama dengan olop-olop  dalam bahasa Batak. Dari sinilah rasa seninya berkembang dan sedikit banyak mengerti perempuan yang cantik itu yang bagaimana. Ya seperti Boru Situmorang bintang tonil opera Batak itu. Karena seringnya menonton tonil ini, ia sangat senang mendengar musikalisasinya. Alat musik yang disenanginya adalah seruling dan kecapi. Akan tetapi karena kecapi harganya
_____________
2) Pariban adalah calon jodoh dari silsilah keluarga. Lelaki yang mempunyai saudara sepupu perempuan, anak paman dari adik ibu lelaki, disebut pariban atau sebaliknya. Anak lelaki ini disebut ‘bere’ oleh pamannya ini, dan ia memanggil ‘tulang’ kepada ayah anak perempuan itu. Sebaliknya, anak perempuan akan memanggil ‘namboru’ atau ‘bunde’ kepada ibu anak lelaki paribannya dan “amang boru” bapaknya.  Biasanya banyak yang memang jodoh dengan cara atau budaya ini, cuma satu dua yang gagal.

mahal dan amat sudah dibuat sendiri, ia hanya bisa membuat seruling. Bahannya bambu, banyak terdapat disekitar kampungnya. Untuk membuat satu  lubang  tiup dan enam lubang pengatur nada yang sesuai, dapat dibuat dengan cara menggunakan paku yang dibakar sampai merah dan ditusukkan ke titik lubang yang telah ditentukan ukuran jaraknya. Tinggi nada dapat ditentukan dari besar garis tengah bambu. Itulah pula  sebabnya pemain  suling  sering  memegang lebih dari satu seruling. Ia mampu bermain seruling  menirukan beberapa lagu-lagu Batak. Ketika ia aktif di organisasi pemuda iapun bisa menirukan suling pemain gambusnya. Begitu juga ketika lagu Melayu Boneka dari India itu disiarkan RRI, yang dinyanyikan oleh Elya Khadam, penyanyi tersohor ketika itu, yang dominan suara serulingnya. Namun ia tidak serius menggeluti seni ini karena waktunya banyak digunakan untuk membantu ayah-ibunya. Tidak heran, ia adalah anak yang selalu juara dalam pelajaran Bahasa Indonesia dan mahir bercerita.

Ketika bersekolah di SD Negeri 18 Pematangsiantar, ia dan teman-temannya sangat menyayangi guru-guru, walaupun kalau tidak bisa menghafal ilmu bumi, atau tidak mengerjakan PR, sebagai hukumannya sering kali betis kaki menjadi sasaran pukulan guru yang amat menyakitkan. Tentu ada juga guru yang galak terutama kalau ada muridnya susah diajar dan tidak mengerjakan PR. Karena rajin mengerjakan PR, ia jarang kena hukum. Bahkan ia lebih cepat paham ketika belajar di sekolah. Ia sangat senang menerima pengetahuan baru yang diterangkan atau dari dongeng encik atau pak guru. Ketika itu ibu guru disebut encik, bahasa dasar Melayu Deli untuk panggilan bu guru. Kepala sekolahnya adalah pak Sipayung. Beberapa orang gurunya yang lain adalah pak Simanjuntak, pak Purba, encik Ramcik, encik Sianipar, encik Sihombing, pak Sinaga dan lain-lain yang ia sudah lupa namanya. Semuanya guru ini pintar mengajar dan berwibawa. Setiap guru mampu mengajarkan pelajaran apa saja, termasuk seni suara. Saat itu setiap guru menjadi guru kelas, kecuali untuk guru kelas enam. Umumnya pak guru cukup gagah dan encik guru umumnya cantik, ramah dan pintar mengajar. Mungkin guru-guru yang datang atau ditempatkan disekolah ini adalah guru pilihan, karena sekolah ini adalah sekolah yang lebih dahulu dibangun untuk melayani murid-murid dari beberapa kampung yang jauh maupun yang dekat disekitarnya. Sekolah-sekolah SD belum tersebar seperti sekarang ini. Memang agak menyedihkan juga di waktu itu. Kalau murid ditugaskan mengerjakan PR, banyak orang tua yang tidak mampu membimbing anaknya mengerjakan PR. Maklum, banyak orang tua murid yang hanya bertani. Kebanyakan tidak lulus sekolah dasar. Atau bahkan tidak pernah sekolah.  
Saat istirahat, murid-murid bermain kelereng atau lainnya di halaman sekolah. Umumnya ditempat yang teduh, terlindung dari sinar matahari. Guru-guru ada yang selalu ikut mengawasi dan menunggui murid-muridnya bermain dan bercanda ria. Terkadang ikut memberi komentar lucu dan menyenangkan. Memang saat itu guru tidak disibukkan membuat persiapan mengajar dan sillabus atau daftar mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh murid dalam proses pembelajaran. Mereka tinggal mengikuti saja buku yang dikeluarkan oleh pemerintah yang sudah sangat sesuai dengan kurikulum. Dan soal-soal untuk ujian akhir diambil atau diolah dari buku itu. Mereka juga mengawasi murid perempuan yang sedang bermain, agar tidak diganggu oleh murid laki-laki yang suka nakal dan usil merampas mainan anak perempuan.
Guru yang amat disukainya adalah encik Ramcik, orang Nias, cantik, putih, tinggi, langsing dan
pakaiannya selalu rapih, guru kelasnya ketika kelas dua dan empat. Encik Ramcik ini Bahasa Indonesianya bagus, orangnya jarang sekali menghukum atau marah, namun demikian karena kewibawaan dan kepintarannya mengajar, murid-muridnya selalu patuh kepadanya dan selalu dapat memahami apa yang diajarkannya.
Jika ada perlombaan baris berbaris dan pertandingan olah raga bola kasti antar sekolah, bersama murid-murid dari kelas yang lain dilatih dengan serius. Tapi ia jarang diikut-sertakan karena badannya terlalu kecil. Dan tidak jarang sekolahnya menjadi juara baris berbaris dan bola kasti antar sekolah se kota Pematangsiantar. Pelatihnya adalah pak Simanjuntak, orangnya tinggi besar dan gagah. Begitu juga dengan seni suara dan seni tari. Rata-rata guru pintar mengajarkan tari dan nyanyian dengan dasar not angka, suaranya merdu dan jarang yang sumbang. Ia sendiri hapal lagu kanak-kanak karangan ibu Sud dan AT Mahmud dan pengarang lainnya, karena diajarkan menggunakan not angka, hampir setiap hari di waktu akhir pelajaran. Pernah ada acara untuk memperingati HUT RI, mereka dilatih tari massal, namun karena tidak sanggup membeli pakaian seragam khusus tari, maka iapun gagal ikut serta padahal ia sangat ingin tampil.
Ketekunannya belajar dan rajin membaca tak pernah surut, walaupun hanya kadang-kadang menggunakan lampu tekan minyak tanah pada malam hari atau bahkan lampu teplok. Orang kampung di sana menyebutnya lampu semprong. Tak heran jika ia sangat lancar menghitung dan membaca, sehingga pengetahuannya mengenai Bahasa Indonesia dan pengetahuan umum juga turut berkembang dengan cepat. Maklum ayahnya senang juga membaca buku dan berlangganan majalah, diantaranya buku Sejarah 25 Nabi dan Rasul, dan majalah Panji Masyarakat. Setelah majalah ini dilarang terbit dikala itu, langganan majalahnya diganti dengan majalah lain. Dan ia juga senang membacanya. Atas saran guru-guru yang mengerti kemampuannya dalam penguasaan pengetahuan umum, berhitung, Bahasa Indonesia dan menghapal sejak ia mengikuti sekolah, ia merencanakan untuk menjadi seorang insinyur kelak.
Kelas satu, dua, tiga dan empat dilaluinya dengan tanpa masalah, nilainya untuk setiap mata-
pelajaran seringkali mendapat angka sepuluh, menjawab semua soal dengan benar. Ia juga sering disuruh mendongeng di depan kelas. Ia sendirilah yang gembira, karena jika dilaporkan kepada orang tuanya, mereka  tidak begitu mengerti akan hal seperti ini. Ia juga masih ingat, temannya satu kelas di kelas 4, perempuan, namanya Tiopan, menyanyi lagu Batak, tentang percintaan. Ia masih mengingat sebait lagu itu:

«Boasa ma, sai paksahon mu au inang,to anak ni namboru i ……. »

Saking khusuknya, tak jarang Tiopan, gurunya encik Sianipar dan anak perempuan ikut menitikkan air mata ketika Tiopan menyanyi. Ibu gurunya menjelaskan arti dari lagu ini. Lagu yang menceritakan kawin paksa antara perempuan yang dijodohkan dengan pariban sedangkan ia sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri. Haruskah ia putus cinta dengan pilihan hatinya? Lagu ini amat indah dan mengharukan. Saat itu, banyak temannya yang perempuan sudah berusia di atas empat belas tahun dan sudah siap menikah. Maklum, dikampung, saat itu sekolah belum sangat mereka pentingkan. Bahkan ada teman sekelas namanya Khalijah Manurung, menikah pada saat masih kelas lima. Maka tidaklah mengherankan, mereka sudah bisa menghayati lagu-lagu cinta dengan bahasa daerah Batak. Sedikit banyak iapun mulai mengerti hubungan antara laki-laki dan perempuan dewasa.

Keadaan perekonomian bangsa saat itu (tahun 1960-1961) mulai memburuk.  Gaji guru sudah  tidak cukup lagi untuk membiayai satu keluarga selama sebulan penuh. Ketika kelas enam, kelas mereka ditangani oleh dua orang guru, pak Sinaga dan encik Sihombing. Pak Sinaga harus bekerja sangat keras, sore dan malam hari sehabis mengajar, ia harus merangkap sebagai pengemudi becak. Kehidupan semakin susah ditahun 1962. Pembelian minyak tanah harus antri berjam-jam. Gula menghilang, beras sukar didapat, kalau ada membelinya harus mengantri, bergilir. Hasil antrian itu semuanya tidak mencukupi kebutuhan selama sebulan. Mereka sekeluarga sudah jarang makan nasi. Maka mulai kelas lima, iapun ikut membantu ayahnya di bengkel sepeda. Dari hasil bengkel ini, ia sudah bisa sedikit mempunyai uang saku yang dipergunakannya untuk keperluan sekolah.

Selain diajari ayahnya, setelah selesai shalat magrib ia juga mengaji pada malam hari di masjid pinggir sungai Bah Bolon, khusus anak lelaki. Alhamdulillah, ia menguasai ilmu tahsin Al Qur’an. Cuma suaranya kurang merdu. Ada teman mengajinya Adnan Tampubolon, yang suaranya sangat baik, dari pengajian di masjid Kampung Tomuan hilir. Oleh karena itu ia tidak pernah ikut perlombaan pembacaan atau musabaqoh tilawatil Al Quran. Ketika di kelas enam ia sudah khatam Al Qur’an di bawah bimbingan guru ngajinya, pak Haji Umar Alie, Ustadz Arsyad Lubis dan kadang-kadang juga Pak Zainal Nasution. Mengaji tata cara shalat, rukun Islam dan rukun Iman, cara berwuduk dan syarat rukun wudju, beberapa nasihat yang disesuaikan dengan hadist dan membaca Al Quran, selalu dilaksanakannya setiap malam setelah selesai shalat magrib. Pernah juga diajari menyanyi lagu-lagu religi oleh ustadz Mahmud, lagu melayu, diantaranya lagu Bunga Seroja ciptaan Said Efendi:

              Mari menyusun seroja
Bunga seroja, aaaa…….
Hiasan sanggul remaja
Putri remaja

Mengapa adikku termenung
Oh adik berhati bingung…..dst.

Lagu yang akhir-akhir ini kembali sering terdengar didendangkan orang. Terlebih-lebih lagi, lagu ini semakin terkenal pada saat film Laskar Pelangi diputar di bioskop-bioskop, film yang diangkat dari novel Andrea Hirata yang terkenal itu.
Jarak dari rumahnya ke masjid kurang-lebih satu kilometer. Pada saat pulang mengaji, kira-kira pukul sembilan malam, ia sering kali harus melewati jalan pintas, jalan setapak dibawah rimbunan pohon-pohon besar yang gelap gulita (seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya) , terkadang berdua pamannya. Dengan lampu lilin yang dinyalakan di dalam tempurung kelapa agar tidak mati tertiup angin, mereka pergunakan untuk penerangan jalan dikala pulang mengaji. Sejak itu ia sudah mulai shalat yang lima waktu, terutama shalat Jumat. ***

Mariana Murid Pindahan

Mungkin karena kepintarannya, ia selalu mendapat perhatian khusus dari guru-guru dan sering ditunjuk sebagai pengibar bendera saat upacara hari Senin. Padahal, badannya terbilang paling kecil dibanding dengan teman-temannya sekelas. Namun demikian, ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Teman-teman dan guru-gurunya senang kepadanya.

Rupanya, pada masa ini mulai ada perubahan pada dirinya. Ada murid perempuan pindahan ke kelas lima dari Kalimantan, Banjarmasin, yang cantik dan menarik hatinya. Ia anak seorang pejabat, mempunyai pakaian yang bagus, indah dan menarik. Pintar bergaul, ramah, tidak sombong, Mariana namanya. Mariana murah senyum, selalu ceria dan riang gembira. Entah apa sebabnya, kalau ia berdekatan dengan Mariana, ada perasaan senang dan bahagia. Udara sekelilingnya terasa segar menyejukkan, seakan-akan dikelilingi bunga warna-warni yang harum semerbak mewangi. Ia sering belajar, bermain dan bercanda bersama dan kalau menemui kesulitan, Mariana selalu minta diajarin terutama berhitung. Dengan senang hati ia mengajarinya. Oleh karena itu, ia tidak merasa rendah diri, walaupun ia hanya seorang anak pedagang atau petani dan tidak segagah teman lelaki sekelasnya. Sedangkan Mariana adalah anak orang kaya, berpendidikan dan cantik rupawan. 

Namun tak lama kemudian, belum genap setahun di SD ini, Mariana pun harus pindah mengikuti kepindahan kedua orang tuanya  ketempat tugas baru. Ia sempat berbincang berdua dengan Mariana seminggu sebelum pindah mengikuti orangtuanya di belakang kantor kepala sekolah, meminta Mariana untuk tidak pindah. Ternyata tidak bisa, karena tidak ada familinya di Pematangsiantar. Pada hari terakhir sebelum pindah, Mariana pamit dengan teman-teman sekelas. Hari itu ia hanya menikmati senyum terakhir dari Mariana sebelum berpisah, lalu melambaikan tangan sambil mengayunkan langkah, perlahan-lahan tapi pasti, Mariana pergi meninggalkan dirinya. Menjauh, lalu menghilang di balik tikungan jalan.

Di belakang sekolah tempat mereka pernah berbincang berdua, ia termenung. Sambil menatap ke depan, sendirian, jauh ke seberang sungai Bah Sorma, ke arah rimbunan pepohonan berbatas hutan bambu, ia melihat seekor burung elang terbang tinggi di udara. Pikirannya lantas melayang jauh tak berbatas awan, berkhayal menembus cakrawala batin, alangkah enaknya menjadi orang kaya, anak pejabat pula. Pakaian selalu rapih, sepatu putih bersih, diasuh oleh ibu yang penuh perhatian, sehingga hampir setiap hari pakaiannya berganti. Tas bukunya berwarna merah jambu, kadang warna biru muda, sampul bukunya bagus dan bersih, serasi dengan baju yang dikenakannya.

Sedangkan ia sendiri, sebelum mengenal Mariana, masih sering ke sekolah tanpa memakai sepatu. Pakaiannya hanya ada tiga pasang, dua pasang seragam untuk sekolah dan satu pasang untuk bekerja membantu kedua orang tuanya. Apalagi yang namanya tas sekolah, baru kali itulah ia mengenalnya, sejak melihat sering dipakai oleh Mariana. Ayah-ibunya hanyalah petani sambil juga pedagang sayuran. Pendidikan ayahnya amat rendah, bahkan belum lulus SD. Ibunya masih harus diajarin membaca. Maklum, waktu itu Republik masih sangat muda dan ia dilahirkan pada aksi polisionil Belanda di tahun 1948, di kampung pengungsian pula. Buku-buku pelajaran miliknya kebanyakan hanya buku bekas pakai, tetapi lengkap dan bersampul rapih, demikian pula dengan teman-teman sekelasnya. Sampul buku memang diwajibkan oleh
encik guru, sampul berwarna kuning tua kecoklatan.

Pertemanannya dengan Mariana membuka matanya terhadap kerapihan berpakaian. Terutama ketika ke sekolah, termasuk bersepatu. Walaupun selama ini ia sebangku dengan teman perempuan yang juga cukup pintar, rapih dan bersih namanya Furiska Simanjuntak, tapi tidak menarik perhatiannya sama sekali. Waktu itu, guru kelas menempatkan murid lelaki dan perempuan dalam satu bangku dan meja panjang sekolah, agar tidak bikin ribut di kelas. Sejak mengenal Mariana iapun rajin mengenakan pakaian yang disetrika, masih menggunakan setrika arang, dan sepatu yang bersih. Ia rajin mencuci dan mengapuri sepatunya sendiri menggunakan sisa kapur tulis sekolah agar selalu tampak putih bersih. Rambutpun sudah mulai dipangkas dan disisir dengan rapih, sering berkaca mematut-matut diri di depan cermin, membeli minyak rambut dan peralatan rias secukup uang yang dimilikinya. Ibunya senang dan hanya tersenyum penuh arti saja melihat perubahan ini. Iapun meminta dibelikan sepatu. Ibunya yang baik hati itu membawanya ke pasar Pajak Horas, mencari dan membeli sepasang sepatu yang pas harga dan pas ukuran untuknya. Ah, alangkah indahnya kehidupan di masa sekolah dasar ini, didampingi oleh ibu yang baik hati, yang selalu mengerti dan melindungi. Tidak salah kalau ada hadist Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, Syurga itu berada dibawah telapak kaki Ibu. Atau penghormatan, yang pertama…. ibumu, yang kedua…. ibumu dan yang ketiga…. ibumu, baru kemudian ayah. Ia teringat lagu Kasih Ibu yang diajarkan gurunya,

Kasih ibu,
Kepada beta,
Tak terhingga,
sepanjang masa,

Hanya memberi,
tak harap meminta,
Bagai sang surya,
menyinari dunia.

Sejak saat itu ia bertambah sayang kepada ibunya. Yang dapat diingatnya, ia belum pernah membantah ibunya. Kalau ada yang menurutnya tidak baik, ia selalu menanyakan atau mebicarakan dengan ibunya. Setiap kali disuruh, ia dengan cekatan mengerjakannya. Mengasuh adik, memandikan dan membawa mereka berjalan-jalan ke sawah atau ke kebun binatang. Mengambil dan memikul air minum dari pancuran mata air di tepi Sungai Bah Bolon atau sumur di tepi sungai Bah Sorma. Terkadang belanja keperluan dapur. Semua dikerjakannya dengan senang hati dan diusahakannya secepat mungkin.

Setelah kepergian Mariana, ia merasa ada yang hilang. Ternyata ia sudah mulai menyenangi perempuan, lawan jenisnya. Padahal ia masih kelas enam SD, baru berumur tigabelas tahun! Ketika itu ia belum sadar apa yang terjadi. Iapun ingin dan bermimpi, andaikan kedua orangtuanya menjadi orang kaya atau menjadi pejabat, ia bisa seperti Mariana, atau kalau bisa ikut pindah bersama Mariana. Alangkah senangnya, bisa menjelajahi tanah air bahkan dunia.

Hampir sebulan lebih ia selalu mengingat Mariana. Setiap kali teringat, hatinya merasa sedih, rindu dendam dan nelangsa. Sahabat karibnya itu telah menawan hatinya. Ia merasa sunyi, sepi, sendiri, setelah ditinggal pergi. Tak ada lagi canda ceria bersama. Tak ada lagi bunga warna-warni yang harum semerbak mewangi. Yang ada hanyalah bayang-bayang Mariana. Tidak pernah ada kabar berita, tidak ada alamat kemana gerangan surat dikirimkan, hidupnya sempat merana, semangatnya turun. Ibunya kebingungan menghadapinya. Hampir setiap hari ia bermuram durja, berkeluh kesah. Tanpa Mariana, ia merasa seakan-akan dunia ini sudah tak berarti lagi baginya. Pikirannya kacau-balau. Ibarat sebuah komputer, otaknya yang menyimpan arsip pikirannya dalam cakram penyimpan data atau harddisknya berserakan tidak menentu, terpecah-pecah berantakan, centang perenang, fragmented, sehingga susah atau bahkan hampir tidak dapat diakses atau dicapai ketika perlu dipergunakan. Yang membuat ia sering kelihatan seperti orang bingung, membuat kepalanya pening, pusing tujuh keliling. Kiranya, otaknya perlu di defragment, arsip-arsip datanya perlu disusun ulang kembali setelah diacak-acak oleh pikiran yang buta karena didera oleh rasa rindu yang tidak alang kepalang. Nafsu makannya hilang. Tidurnya tidak bisa lelap, selalu terganggu oleh bayang-bayang Mariana. Di sekolah ia sering bermenung, selalu susah berkonsentrasi, tak bisa memusatkan pikiran atau berfikir berhati-hati untuk mengerjakan soal atau menyelesaikan pekerjaan harian. Konsentrasinya terpecah, porak-poranda. Ketika siang hari di sekolah, mukanya bersemu merah, ia menjadi pendiam. Guru-gurunya juga tidak mengerti, mengapa dan perubahan apa yang terjadi pada muridnya ini.

Seminggu kemudian ia sempat jatuh sakit, beberapa hari. Suhu badannya meninggi. Kembali ibunya mengasuhnya dengan kesabaran tak berujung dan tak pernah usai menungguinya malam hari, disertai berucap-rangkum rangkaian doa disampaikan, bermohon kepadaNya agar anaknya cepat sembuh. Untunglah dengan doa dan kasih sayang ibunya, ia kembali sadar akan keadaan dirinya dan siapa dia sebenarnya. Defragment otaknya terjadi secara alamiah, arsip-arsip pola berfikirnya mulai tersusun kembali dari waktu ke waktu. Ia mulai bisa bangkit dari tidurnya. Panas badannya menurun. Setelah dua minggu berlalu, sakitnya sembuh, akal sehatnya muncul, normal kembali dan masih bekerja dengan baik. Belum tertutup, belum patah arang, sehingga belum ada terlintas dalam pikirannya untuk bunuh diri. Subhanallah, kiranya Allah SWT yang Maha Pelindung, masih melindungi dan mengasihinya.

Setelah keadaan dan kesadaran dirinya membaik, iapun bertekad untuk sekolah setinggi mungkin, atau paling tidak menjadi orang yang kaya. Ia belum mengerti sekolah setinggi mungkin itu yang bagaimana, yang penting menurutnya adalah dapat mengerjakan semua soal-soal ujian dengan baik, dan lulus dengan peringkat baik, kalau bisa yang terbaik. Lalu melanjutkan sekolah, bisa menjadi kaya seperti keluarga Mariana.
Inilah batu pijakan pertama langkah atau simpul awal dalam merajut impiannya: menjadi orang kaya atau berpendidikan tinggi. Ia ingin berubah, keluar dari kungkungan kemiskinan keluarga. Dalam hatinya ia berencana, dan rencananya itu tidak pernah lepas dari ingatannya, terekam lekat di benaknya, karena perubahan itu terjadi disebabkan oleh peristiwa yang sangat istimewa, patah hati karena seorang teman perempuan, yang hampir merenggut nyawanya.

Apakah yang sebenarnya terjadi pada dirinya? Cinta monyet?  Atau cinta buta? Apakah cinta itu buta atau membutakan? Entahlah ia sendiri tidak bisa mengerti. Saat itu hanya ada perasaan senang dan bahagia berdekatan dengan Mariana. Ia belum pernah mendengar kata-kata cinta dan apa arti cinta saat itu. Ah iya, senang, tapi siapa tahu, apakah ia jatuh hati pada Mariana? Apakah demikian orang yang jatuh cinta? Mungkin, bisa jadi. Ia sendiri tidak tahu.
Kalaulah itu memang jatuh cinta, alangkah berat, alangkah sakit dan sungguh lelah melaluinya. Berat, tapi menyehatkan. Sakit, tapi sakit yang menyenangkan. Lelah, tapi lelah yang membahagiakan.  

Waktu terus berpacu, berlari, detik menjadi menit dan menit menjadi hari. Pertemanannya dengan Mariana itu merupakan kisah pada laman waktu yang telah ditetapkanNYA terjadi di kehidupan dalam menjalani kissah perjalanan hidup selanjutnya. Maka, La hu Kun… fa ya kun, sekali IA berkata jadi, maka jadilah. 

Hari berganti hari, setelah genap, berganti bulan, disusul datangnya tahun. Lambat laun, dengan kesibukan belajar, bermain bersama teman-teman sebaya di sekolah dan kesibukan membantu kedua orang tua serta mengasuh adik-adiknya, kesedihan karena berpisah itupun sedikit demi sedikit berlalu, kemudian terlupakan sama sekali dan hilang ditelan sang waktu.

Kesedihannya memang hilang, tapi kesan karena peristiwa ini tak pernah bisa pergi dari ingatannya. Ibarat pohon yang ditancapkan paku kebatangnya. Setelah paku itu dicabut, bekas paku itu tak pernah bisa hilang. Ketika pohon itu ditebang dan dibelah, kelihatanlah bekas paku itu berwarna hitam, susunan lapisan kayu yang berkelok, berbelit. Namun demikian, pohon itu tetap tumbuh dengan noda akibat paku itu tersimpan rapi. Demikianlah, ia masih sering mengingat Mariana, lalu muncul perasaan nelangsa dan rindu. Konon, bagi yang pergi meninggalkan lebih dulu, selalu datang menghampiri dengan tabir rindu. Rasa rindu yang membuatnya menjadi penyabar. Rindu yang dihilangkannya dengan menarik nafas yang dalam dan hembusan yang panjang. Sedikit demi sedikit, ingatannya kepada Mariana semakin jarang datang. Akhirnya kalaupun ingat, sudah tidak mengganggu pikiran dan kesehatannya lagi.  

******