Jumat, 01 November 2019

KENANGAN PERJALANAN SELAMA DI PROPINSI RIAU, DUMAI

Kenangan selama di Propinsi Riau


Kenangan selama bertugas di Propinsi Riau adalah kenangan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, disini ada kominasi perjalanan darat, sungai, laut dan udara. Dari Pekanbaru ke Padang, bisa lewat darat, bisa juga via Udara. Perjalanan yang mengarungi Sungai Siak dan Laut Lepas menuju Selat Panjang. Menyusuri jalan darat  atau udara ke Rengat. lalu berlanjut menyusuri sungai Kampar dari Air Molek ke Tembilahan, merupakan kombinasi perjalanan udara, darat dan sungai yang indah. Dalam perjalanan Darat dari Pekanbaru ke Padang dan Pekanbaru ke Dumai. ia selalu bergembira menikmati lebatnya hutan belantara Sumatara serta sebagian Pegunungan Bukit Barisannya.

Perjalanan darat ke Padang, berliku-liku tak lurus dan tak terputus, dan sepanjang jalan tak kunjung henti melihat adanya hutan, gunung, bukit dan jurang ditepi jalan. Ada Kelok empat puluh empat, ketika  melewati perjalanan dari perbatasan Riau dengan Sumbar di Tanjung Pauah sebelum kota Payakumbuh.

Ada pula Kelok Sembilan sebelum menjadi Jembatan Modern yang sekarang. Kalau kita naik bus, ketika melewati jurang-jurang ditepi kelokan, kita bisa melihat, tempat duduk pengemudi berada diatas jurang, Hanya ban depannya yang berada di jalan aspal,

Perjalanan yang pertama adalah ke Dumai, dengan mengendarai mobil dinas, jip Daihatsu Taft tahun 1980. Kami bersama pak JDB Sunarto BCTT sambil perkenalan dengan Kepala Kantor Telepon dan Telegrap di sana, Bapak Muhammad Ilyas. Yang kedua adalah ke Rengat dan Tembilahan. Kota Tembilahan dan Rengat selalu dikunjungi dalam waktu perjalanan yang sama, karena memang satu arah. Biasanya menginap di Rengat atau bisa juga di Tembilahan, tergantung tugas apa yang akan dilaksanakan. Perjalanan ke Selat Panjang. Batam dengan ibukotanya Sekupang dan sekitarnya. Peta berikut ini menunjukkan hal tersebut.

Peta RIAU sebelum dipisah menjadi dua propinsi
Lalu ke Tanjung Pinang. Yang terdekat adalah ke Bangkinang. kota yang selalu dilewati, ketika naik kendaraan darat ke Padang. Padang adalah ibukota propinsi Sumatra Barat tempat Kepala Wilayah Usaha Telekomunikasi II (WITEL II) berkantor. Wilayah Usaha Telekomunikasi II meliputi semua daerah Riau (sekarang terbagi dua, Darat, RIDAR  dan Kepulauan, KEPRI) dan Sumatra Barat.

Pekanbaru - Dumai
Perjalanan Dinas ke Dumai.

Belum genap 1 bulan berdinas di Pekanbaru, yang kantornya masih di Jl. Merbabu 12, pak JDBS Sunarto BcTT mengajaknya ke Dumai, untuk melihat kantor telepon dan telegrap di sana. Jaraknya 238 km. Karena tidak ada kemacetan sama sekali, dengan kecepatan rata-rata 70 km perjam, 2,5 jam kemudian kami sudah tiba di Dumai.
Kami melewati Rumbai, lalu Minas, Duri dan tiba di Dumai, kira-kira pukul 1100.

Dari Rumbai ke Minas saja, kami disuguhi pemandangan hutan belantara, sepi tak berpenghuni, tak ada rumah penduduk sama sekali, hanya ada semak belukar, diselingi tanah gundul berwarna putih. Lalu di pinggir jalan, kami melihat sebuah pompa angguk yang bersejarah, kabarnya lebih dari seratus tahun, tapi masih berproduksi.   
Rumah Dinas Karyawan PT CPI Minas.
Ketika kami mendapatkan kota Minas, terlihat rumah-dinas para karyawan dan pejabat CALTEX (sebelum berubah menjadi Cevron sekarang ini). Perjalanan yang tiba di Simpang Duri Kandis, yang merupakan titik tengah jarak Pekanbaru - DuriBila sudah sampai disini, berarti sudah setengah jalan, antara  Pekanbaru Duri.


Menara Mikrowave Gelombang
Tidak berapa lama, kamipun melewati jalan Gelombang Duri mendapatkan kota Duri yang terkenal, karena jalannya ada beberapa gelombang, turunnya panjang dan jauh dan kemudian naik panjang lagi. Sampai akhirnya ketemu jalan mendatar, pertanda Duri sudah dekat. Dikejauhan dari puncak jalan tampak Menara Radio Mikrowave TELKOM, dipebukitan.
Duri, kotakecamatan terkaya di Indonesia
Duri adalah kota kecil, kota terkaya di seluruh Indonesia, terletak di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, Riau. Duri berada di lajur jalan raya Lintas Sumatera, sekitar 120 km dari Pekanbaru dalam perjalanan menuju Medan, Sumatra Utara. Letaknya  berbatasan langsung dengan Dumai di Utara, Kecamatan Pinggir di Selatan, dan Kecamatan Rantau Kopar di Barat. Kota Duri adalah ibukota Kecamatan Mandau, dipisahkan oleh beberapa kelurahan, seperti Talang Mandi, Titian Antui, dan Balairaja (yang terkenal dengan pusat latihan gajahnya). Kota ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pinggir. Daerah yang dikenal dengan nama Sebanga ini merupakan pusat ekonomi di pinggiran Kota Duri, juga sebagai pintu masuk dari arah jalan raya Pekanbaru-Dumai. 
Duri adalah salah satu ladang minyak di Provinsi Riau. Ladang minyak Duri telah dieksploitasi oleh PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) sejak tahun 50-an dan masih berproduksi. Bersama Minas dan Dumai, Duri menyumbang sekitar 60% produksi minyak mentah Indonesia, dengan rata-rata produksi saat ini 400.000-500.000 barel per hari. Minyak mentah yang dihasilkan, meskipun tidak sebaik lapangan minyak Minas, merupakan salah satu minyak dengan kualitas terbaik di dunia, yakni Duri crude. Pada bulan november 2006, ladang minyak Duri mencapai rekor produksi 2 miliar barel sejak pertama kali dieksplorasi pada 1958. Betapa kayanya kota Duri Propinsi Riau ini.

Kota Dumai

Grapari TELKOM Dumai yang sekarang.
Masjid Raya Dumai
Kalau tidak ada halangan apa-apa ataupun kemacetan di jalan, perjalanan lanjutan ke Dumai hanya perlu waktu 90 menit atau satu setengah jam saja. Di kiri kanan jalan penuh hutan belantara (sebelum menjadi hutan kelapa sawit sekarang ini). Silih berganti, kelihatan rawa di bawah rimbunnya hutan, sesekali kelihatan petunjuk KEEP LEFT yang dibuat oleh PT CPI. Ketika mendekati Dumai, hutan itu semakin lebat, sampai sayup-sayup terlihat menara api dari pengolahan minyak Pertamina di Dumai. Kini sebagian hutan itu menjadi objek hutan wisata, termasuk hutang mangrove, hutan bakau.
Karena sudah diberitahu sebelumnya, pak Muhammad Ilyas sudah siap menerima kami Kantor Telkom Dumai, yang kini menjadi Grapari TELKOM. Dumai. Setelah berbincang-bincang beberapa lama, kamipun diajak santap siang. Selanjutnya berkunjung ke kantor Pertamina yang merupakan kastamer istimewa, yang perlu dilayani secara khusus pula. Kamipun berkeliling Dumai, untuk melihat-lihat keindahan kota Dumai.
Tamasya di Dumai
Dulu masjidnya masih kecil dan belum se modern sekarang. Kamipun melihat kilang minyak Pertamina di Balongan, ketika berkeliling kota dumai. Disini ada makam raja perempuan, ibundanya Putri Tujuh dalam legenda yang sangat terkenal di Riau.






Berikut ini adalah gambar pelabuhan Minyak tanker di dkomplex pengolahan minyak Putri Tujuh.
Kilang Minyak Pertamina Dumai, ada makam Ratu Cik Sima.
Jalanan saat itu masih banyak yang rusak, belum semulus sekarang. Apalagi kalau sehabis banjir, terlihat gengangan air disana-sini. Sangat berbeda dengan kompleks Pertamina dan beberapa konsesi CALTEX, termasuk lapangan terbangnya. 


Kantor Pertamina Dumai. 
Malam harinya kami menginap di salah satu hotel yang terbaik saat itu di Dumai, di Jalan Jenderal Sudirman. Kami tidak tahu, apakah hotel itu yang menjadi hotel Hotel CITY Dumai yang sekarang, atau bukan. Yang jelas, saat itu airnya sudah bening putih. Tidak seperti di rumah-rumah penduduk, airnya masih sedikit kekuning-kuningan dan terasa asin, apalagi yang sangat dekat dengan pantai. Kami menanyakan ke petugas hotel, airnya lumayan bersih. Saat kami bertanya, bagaimna cara mendapatkannya, petugas hotelnya mengatakan, "kami membuat sumur bor dengan kedalam 100 meter pak", jelasnya.  Kunjungan kami yang pertama ini masih bersifat protokoler, sehingga tidak banyak hal-hal yang spesifik bisa kami ketahui. Perjalanan ke Dumai ada dalam rangka perjalanan dinas, tapi juga banyak dalam rangka rekreasi. Pada perjalanan kami ke Dumai yang berikutnya, pada saat pembukaan Telegrap dengan ,mesin tulis teleprinter di Duri,  kami mendapat kesempatan mendengar cerita Legenda Putri Tujuh dari seorang teman, cerita tentang asal-usul Kota Dumai ini. Apakah sipencerita ini memang memiliki bahan cerita dari lingkungannya, walloha aklam bissawab.
Hotel City Dumai
Berikut ini kami sarikan cerita itu dan kami padukan dengan cerita online dan sumber lain-lain.. 
SEJARAH KOTA DUMAI 

A.    Asal Usul Nama Kota Dumai 

Asal-usul Kota Duma dimulai dari versi cerita tentang Putri Tujuh. Putri raja yang menguasai suatu kawasn Kerajaan Sri Bunga Tanjung, yang pada waktu itu diperintah oleh Raut Cik Sima, raja perempuan yang memerintah kerajaan. Dia memiliki Tujuh orang Putri, dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Ketujuh Putri ini terkenal sangat cantik, namun yang paling cantik adalah putri bungsu, Mayang Sari namanya. Keindahan dan kecantikan Mayang Sari ini memberikan satu nama lain baginya, yaitu Mayang Mengurai. 

Menurut cerita rakyat yang berkembang, suatu hari singgahlah di pelabuhan Sri Bunga Tanjung, laskar dari kerajaan Empang Kuala. Pada suatu hari pangeran dari kerajaan tersebut ingin menhirup udara segar dan ingin melihat keindahan alam daerah yang disinggahinya ini. Iyapun pergi berjalan-jalan. dia menyamar sebagai rakyat biasa agar lebih leluasa berjalan. Para pengawal pun menyamar sebagai orang biasa dan bebas kemana-mana. Ketika pengawal sampai di pinggir lubuk pemandian sarang umai, sejenis landak berbulu tegak dan keras seperti duri, mereka tertegun melihat gadis cantik jelita dan mereka segera memberitahukan hal itu kepada pangeran dan pangeranpun terpesona, "ya.... umai.. dumai, ya d'umai itu" kata baginda tergagap takjub. Berasal dari ucapan pangeran itu, yang setiap saat mengatakan di lubuk umai. D'umai.......d'umai akhirnya dua suku kata itu bertaut menjadi Dumai, sehingga daerah atau kampung inipun Bernama Dumai. 

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata "d'umai" yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. 

Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit. 

B.     Terbentuknya Kota Dumai 

Tercatat dalam sejarah, pada era tahun 1930-an, Kota Dumai merupakan sebuah dusun nelayan kecil yang terdiri atas beberapa rumah nelayan di pesisir timur Propinsi Riau. Kini mulai menggeliat menjadi mutiara di pantai timur Sumatera. Kota Dumai dimana status Dumai  adalah Kota Administratif. Pada awal pembentukannya, Kota Dumai hanya terdiri atas 3 kecamatan, 13 kelurahan dan 9 desa dengan jumlah penduduk hanya 15.699 jiwa dengan tingkat kepadatan 83,85 jiwa/km2. Penduduknya bertambah ketika Jepang mendatangkan kaum romusha (pekerja paksa jaman penjajahan Jepang) dari Jawa. 

Berdasar PP No.8 Tahun 1979 tertanggal 11 April 1979, Dumai berubah status menjadi Kota Administratif (merupakan kota administratif pertama di Sumatera dan ke-11 di Indonesia) di bawah Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Bengkalis sampai tahun 1998. Kini Dumai telah berubah status menjadi Kotamadya sehingga menjadi Kotamadya Dati. II Dumai. Seiring perkembangan politik di Indonesia, berdasar UU No. 22 Tahun 1999 maka Kotamadya Dumai berubah menjadi Kota Dumai. 

Masa jabatan Walikota Dumai pertama dari tanggal 27 April 1999 sehingga tanggal 27 April dijadikan hari ulang tahun Kota Dumai. Beberapa aspek filosofis yang cukup mendasar atas peningkatan status Dumai dalam pengelolaan wilayah administrasi pemerintahan adalah untuk memperpendek rentang kendali, mempercepat tingkat pelayanan dan memperbesar peran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, disamping menangkap peluang pengembangan ekonomi. 

Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1982. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari lampu-lampu gemerlapan bagai permata bewrsinar berkilauan. Di dalam sejarah, kota Dumai pernah menjadi kota paling luas nomor dua di Indonesia setelah Kota Manokwari, di Papua. Akan tetapi, semenjak Kota Manokwari tersebut pecah dan kemudian terbentuk kabupaten Wasior, maka Kota Dumai pun menjadi kota terluas di Indonesia. 

C.    Peninggalan Sejarah di Kota Dumai 

Di setiap daerah pasti memiliki cerita dan peninggalan sejarah yang beranekaragam. Keanekaragaman inilah yang membuat suatu daerah itu mempunyai daya tarik tersendiri. Begitu juga di Kota Dumai yang banyak memiliki  cerita dan peninggalan sejarah yang begitu menarik. 

1.  Goa Pelintung 
Terletak di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai. Lokasinya sekitar 35 Km. dari pusat kota. Goa ini dikenal juga dengan Bukit Kerudung (menyerupai kerudung). Konon menurut cerita rakyat, dulunya adalah tempat penyimpanan harta hasil perompakan oleh bajak laut Negeri Siam. Konon dulu di kampong Puak pernah di datangi oleh Armada yang berasal dari Siam. Armada Siam itu adalah perampok kapal kapal yang ada di kawasan selat Malaka. Kedatangan perampok Siam di kampong Puak untuk menyimpan harta harta hasil rampokan mereka. Kisah ini bermula dari suatu gua yang berbentuk bukit. Cerita rakyat yang berkembang di bukit itu dinamakan bukit kerudung. Bukit ini terdapat di kelurahan pelintung, kecamatan Medang Kampai kota Dumai. 

2.  Makam Syech Umar dan Batu Beranak
 Beliau adalah orang yang berkepribadiaan yang amat luhur, serta zuhud dan wara. Beliau adalah orang yang ikut serta dalam pembangun mesjid Agung Al-Karomah martapura. 

3. Makam Siti Laot Dahulu, 
Ada seorang wanita yang setia terhadap raja, kesetiannya disaat menuntunkan Lancang Kuning atau perahu yang membutuhkan wanita hamil jolong (baru pertama kali hamil) untuk dijadikan galang Lancang atau perahu. Alkisah Siti Laot yang dikala itu hamil, bersedia dijadikan galang Lancang untuk menurunkan lancang kuning tersebut. Siti Laot dimakamkan di Keluharan Pangkalan Sesai yang kemudian makamnya dijadikan situs sejarah. 

4.  Batu Tapak Harimau Asuhan Datuk Pawang Leon 
Menurut cerita warga setempat, tapak harimau sakti ini merupakan tapak harimau asuhan Datuk Pawang Leon. Harimau ini memiliki kesaktian yang luar biasa untuk mengusir dan menghadapi musuhnya, hanya dengan sekali hentakan kakinya pada sebuah batu harimau tersebut bisa mengalahkan musuhnya. Hingga kini bekas hentakan kaki tersebut masih membekas di sebuah batu. Situs ini berada di kelurahan Pelintung Kecamatan Medang Kampai sekitar 25 km dari pusat kota. 

5. Makam Pawang Leon
Berada di sekitar 25 km dari pusat kota. Pawang Leon adalah seorang yang memiliki kesaktian sebagai peneroka yang sebelumnya tidak mampu membuka Kampung Pelintung, namun beliau mampu melakukan bersama harimau asuhannya serta para pengikutnya. Objek wisata Makan Datuk Pawang Leon terletak di kawasan jalan lintas antara Kota Pakning dan Dumai. Atau sekitar 25 km dari pusat Kota Dumai, tepatnya di daerah Pelintung. Terletak di daerah perbukitan tinggi di tepian jalan raya, sekitar 20 meter di atas jalan raya. Untuk bisa sampai ke kawasan situs sejarah ini, pengunjung hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum yang melintasi jalan tersebut. Bahkan area ini juga nyaris tak memiliki lahan parkir. Para pengunjung menggunakan sebagian badan jalan untuk memarkinkan kendaraan. Di plank tersebut juga dijelaskan siapa Datuk Pawang Leon dan asal usulnya. Untuk mengunjungi area ini, tidak dipungut bayaran alias gratis. Hanya saja memang terkesan kurang terawat dan kurang memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Dengan ditetapkannya Makam Datuk Pawang Leon sebagai bagian dari peta wisata Kota Dumai, diharapkan kawasan ini bisa lebih ditata lebih baik, sehingga para pengunjung yang ingin mendapatkan informasi bukti sejarah bisa memperolehnya dengan mudah dan lengkap. Pengunjung juga bisa lebih nyaman dan tentunya tetap memperhatikan aspek-aspek keamanan saat mengunjungi.

6. Pesanggrahan Puteri Tujuh 
Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai. 
Pesanggerahan Putri Tujuh, Dumai


7. Makam Ayahanda Puteri Tujuh ( 1776 - 1856 / 1196 - 1276 H )


Makam Tok Kedondong Dumai

8. Makam Tok Kedondong Di Kawasan Patra Dock Dumai.






Malangnya, tak satupun tempat rekreasi itu dapat kami kunjungi, kecuali hutan belantara yang kini berubah juga sebagai tempat rekreasi.
End..



Minggu, 06 Oktober 2019

MENGEMBAN TUGAS di PEKANBARU

MENGEMBAN TUGAS DI PEKANBARU



Sekilas Tentang Pekanbaru dan Riau.


Propinsi Riau dengan ibukotanya Pekanbaru. Riau adalah daerah kaya minyak bumi, kaya akan hutan dengan hasil kayu gelondongan dan kayu lapis, daerah kerja tempat beroperasinya perusahaan minyak multi nasional CHEVRON PASIFIC INDONESIA (dulu bernama CALTEX PASIFIC INDONASIA).
PT CPI  Rumbai Pekanbaru
Hutan-hutannya masih hutan belantara, penghasil kayu gelondongan terbesar saat itu. Saking padatnya hutan, Sungai Siak yang mengalir di kota Pekanbaru airnya berwarna hitam kecoklatan, karena bercampur dengan warna air akar pohon. Sungai Siak airnya mengalir tenang, tak beriak pertanda air yang dalam, dalamnya sampai 13 meter, sehingga dapat dipergunakan sebagai pelabuhan untuk berlayar dari dan ke laut lepas, terutama ke arah Selat Panjang dan atau Bengkalis.


Jembatan Leighton Pekanbaru di waktu malam
Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi, dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang Minangkabau. Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Hal ini tak lepas dari peran Sultan Siak ke 4 Sultan Alamuddin Syah yang memindahkan pusat kekuasaan Siak dari Mempura ke Senapelan pada tahun 1762 demi untuk menghindari campurtangan Belanda ke dalam urusan keluarga kerajaan, setelah sebelumnya beliau berhasil menaiki tahta dengan menggeser keponakannnya Sultan Ismail dengan bantuan Belanda. 

Peta Riau dan sekitarnya
Pekan yang beliau bangun di tempat ini kemudian didukung oleh akses jalan yang menghubungkan dengan daerah-daerah penghasil lada, gambir, damar, kayu, rotan, dan lain-lain. Jalan tersebut menuju ke selatan sampai ke Teratak Buluh dan Buluh Cina dan ke barat sampai ke Bangkinang terus ke Rantau Berangin. Pengembangan pekan ini kemudian dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Ali. Di zamannya, pekan baru ini menjadi bandar yang sangat ramai sehingga lama kelamaan nama Pekanbaru lebih dikenal daripada Senapelan. Pada tanggal 23 Juni1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.

Istana Kesultanan Siak Sri Indera Pura
Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober 1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi ibu kota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942. Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.
Setelah kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatra di Medan tanggal 17 Mei 1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau Kotapraja. Kemudian pada tanggal 19 Maret 1956, berdasarkan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatra Tengah. Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus 1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia,
Kantor Gubernur RIAU
Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi
 
Riau yang baru terbentuk. Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25. Sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).
Geografi
Secara geografis kota Pekanbaru memiliki posisi strategis berada pada jalur Lintas Timur Sumatra, terhubung dengan beberapa kota seperti Medan, Padang dan Jambi, dengan wilayah administratif, diapit oleh Kabupaten Siak pada bagian utara dan timur, sementara bagian barat dan selatan oleh Kabupaten Kampar.
Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan berada pada ketinggian berkisar antara 5 - 50 meter di atas permukaan laut. Kota ini termasuk beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34,1 °C hingga 35,6 °C, dan suhu minimum antara 20,2 °C hingga 23,0 °C.[14]
Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km² yang kemudian bertambah menjadi 62,96 km² dengan 2 kecamatan yaitu kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh. Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan, dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan luas wilayah 446,50 km², setelah Pemerintah daerah Kampar menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987. Kemudian pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan menjadi 12 kecamatan. 
Pada tahun 2014, Pekanbaru telah menjadi kota keempat berpenduduk terbanyak di Pulau Sumatra, setelah Medan dan Palembang. Laju pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup pesat, menjadi pendorong laju pertumbuhan penduduknya.
Pelabuhan Tanjung Duku, Sungai Siak, Pekanbaru
Pelabuhannya berdekatan dengan Pasar Bawah di tepi sungai Siak. Sebelum ke Selatpanjang harus melalui kota Siak-Sri-Indragiri dulu. Dulu, kedua kota ini secara operasionalnya masih dibawah kendali kantor Pekanbaru. Selain itu, Taluk Kuantan, Rengat, Tembilahan, Minas, Duri juga termasuk yang masih di bawah kendali Pekanbaru ini.


Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar 40,96% dari total penduduk kota. Mereka umumnya bekerja sebagai profesional dan pedagang. Populasi yang cukup besar telah mengantarkan Bahasa Minang sebagai bahasa pergaulan yang umum digunakan oleh penduduk kota Pekanbaru, selain Bahasa Indonesia.Selain itu, etnis yang memiliki proporsi cukup besar adalah MelayuJawaTionghoa, dan Batak. Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru tahun 1959, memiliki andil besar menempatkan Suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota, namun sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.Masyarakat Tionghoa Pekanbaru pada umumnya merupakan pengusaha, pedagang dan pelaku ekonomi. Selain berasal dari Pekanbaru sendiri, masyarakat Tionghoa yang bermukim di Pekanbaru banyak yang berasal dari wilayah pesisir Provinsi Riau, seperti dari SelatpanjangBengkalis dan Bagan Siapi-api. Selain itu, masyarakat Tionghoa dari Medan dan Padang juga banyak ditemui di Pekanbaru, terutama setelah era milenium dikarenakan perekonomian Pekanbaru yang bertumbuh sangat pesat hingga sekarang.Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa pendudukan tentara Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai pekerja romusha dalam proyek pembangunan rel kereta api. Sampai tahun 1950 kelompok etnik ini telah menjadi pemilik lahan yang signifikan di Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah fungsi lahan menjadi kawasan perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok masyarakat ini mencari lahan pengganti di luar kota, namun banyak juga yang beralih okupansi.Berkembangnya industri terutama yang berkaitan dengan minyak bumi, membuka banyak peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong berdatangannya masyarakat Batak. Pasca PRRI eksistensi kelompok ini makin menguat setelah beberapa tokoh masyarakatnya memiliki jabatan penting di pemerintahan, terutama pada masa Kaharuddin Nasution menjadi "Penguasa Perang Riau Daratan".
Ke arah Rumbai, terdapat Jembatan Leighton, sesuai dengan nama pembangun jembatan. Kini Propinsi Riau terkenal juga dengan propinsi seribu jembatan, karena propinsi ini banyak sekali mem-bangun jembatan. Lihatlah Jembatan sungai Siak 3 ini.


Jembatan sungai siak 3
Satu dan lain hal karena disesuaikan dengan topografi propinsi Riau, yang banyak terdiri dari pulau-pulau, sungai dan rawa-rawa. Ke arah Bagansiapiapi, kearah Rengat dan Tembilahan, sekitar pulau Batam dan Riau Kepulauan, banyak sekali jembatan dibangun, begitu juga ke arah Sumatra Barat. Inilah dasar keindahan Propindi Riau, yang setiap jembatannya dibuat dengan profil yang kokoh design arsitekturn
ya yang indah menawan. 

Sungai Siak Pekanbaru
Propinsi Riau mengandung kekayaan minyak bumi yang kelihatannya tak 

habis-habisnya. Propinsi ini adalah penghasil minyak bumi terbesar, 44% seluruh hasil minyak bumi Indonesia di eksplorasi di Propinsi Riau.  Minyak dari MINAS menjadi patokan harga minyak internasional. Kota Duri adalah penghasil minyak mentah utama dengan pengolahan minyak mentah di Dumai. Hutan-hutannya ketika itu masih merupakan hutan belantara, masih dihuni oleh binatang buas seperti berunag, harimau dan lain-lain, terutama arah dari Pekanbaru ke Dumai dan arah Pekan Baru ke Taluk Kuantan, Rengat dan Tembilahan. Di komplek perumahan CHEVRON di Rumbai, penghuninya dilarang memelihara binatang piaraan seperti ayam atau binatang lain yang dikahwatirkan akan mengundang harimau datang. Ada perusahaan penambangan minyak yang lain di Air Molek, yang berdekatan dengan kota Rengat, tapi tidak sebesar CHEVRON. 

Kemajuan perekonomian propinsi ini hampir rata-rata 8% pertahun, sehingga occupancy atau rating pemakaian jasa telekomnya juga paling tinggi di Indonesia.  Pertambahan kemajuan kota Pekanbaru terbilang sangat pesat dibanding dengan kota-kota lainnya.
Bandar Udara Simpang Tiga Peknbaru yang lama
Bandar udaranya di Simpang Tiga yang diberi nama Bandar Udara Sultan Syarif Kasim, ramai disinggahi pesawat dalam dan luar negeri. Dari Pekanbaru ada penerbangan dalam negeri ke Rengat, Jambi, Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Batam, Jakarta dan Surabaya. Penerbangan luar negeri ada yang ke Kuala Lumpur, Johor, Malaka, Singapura dan lain-lain. Perusahaan CHEVRON mempunyai pesawat angkutan udara tersendiri. Ada juga pesawat udara atau helikopter milik perusahaan minyak lepas pantai (off-shore) yang parkir dilapangan terbang ini. Dan untuk meliput daerah nusantara bagian barat, Angkata Udara Republik Indonesia menempatkan beberapa pesawat tempurnya di Bandar udara ini.

Sejarah ringkas Pekanbaru

Daerah ini dahulunya dikenal dengan nama “Senapelan” yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi  sungai Siak.Daerah ini dahulunya dikenal dengan nama “Senapelan” yang pada saat itu dipimpin oleh seorang Kepala Suku disebut Batin. Daerah yang mulanya sebagai ladang, lambat laun menjadi perkampungan. Kemudian perkampungan Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki yang terletak di tepi  sungai Siak.
Masjid Raya An Nur Pekanbaru
Nama Payung Sekaki tidak begitu dikenal pada masanya. Yang dikenal adalah Senapelan. Perkembangan Senapelan berhubungan erat dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Semenjak Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah menetap di Senapelan, beliau membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan perkampungan Senapelan. Diperkirakan istana tersebut terletak di sekitar Masjid Raya sekarang. Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah mempunyai inisiatif untuk membuat Pekan di Senapelan tetapi tidak berkembang. Usaha yang telah dirintis tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu disekitar pelabuhan sekarang. Selanjutnya pada hari Selasa tanggal 21 Rajah 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi “Pekan Baharu”, yang selanjutnya diperingati sebagai hari lahir Kota Pekanbaru. Mulai saat itu sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer sebutan “PEKAN BAHARU”, yang dalam bahasa sehari-hari disebutPekan baru Demikian yang tetutlis di laman atau web site Propinsi Riau.

Alih Tugas Ke Pekanbaru - Riau 

Pemberitahuan tentang keberangkatannya untuk bertugas di TELKOM Pekanbaru, telah diterimanya akhir bulan Mei 1984. Ia masih sibuk membuat interfacing atau antar-muka antara on-line komputer dan output paper tape recorder atau alat perekam pita kertas data keluaran tiap panggilan, call data record. Saat itu, pendapatan terbesar TELKOM internasional untuk komunikasi international adalah dari Telex. Data ini diolah untuk pembuatan tagihan telex international secara otomatis. Tidak berapa lama kemudian, modul antarmuka elektronik itu selesai dibuat prototipnya. Semuanya berkat bantuan bawahannya yang banyak mengetahui tentang pembuatan modul elektronik antarmuka. Juga dari bahan teori di tempat kuliahnya ISTN. Perbanyakan empat modul dilaksanakan selama sebulan sebelum keberangkatannya ke Pekanbaru. Untuk keperluan sembilan buah modul interface yang lainnya dilaksanakan setelah ia bertugas di Pekanbaru.
Sebenarnya ia sedikit keberatan untuk berangkat, tapi keluarganya, terutama istrinya --namanya Siti Nurhayati, panggilannya Tati-- mengatakan untuk dicoba saja dan ia setuju untuk ikut mendampingi. Sungguh istri yang bisa menjadi teladan. Istrinya sangat percaya kepadanya. Pada saat pindah ke Jakarta, karena anaknya tidak cocok untuk tinggal di Bandung, ia rela dibawa mengontrak rumah yang kecil di Jalan Paseban. Sepuluh tahun mereka di Jakarta, dengan mengontrak rumah di tiga lokasi. Istrinya adalah putri pertama Bapak Kyai yang keluar dari Bandung. Begitu juga ketika Tati mendengar akan pindah tugas ke Pekanbaru, ke Pulau Sumatera, ia dengan rela dan senang hati ikut serta, walaupun urusan kepindahannya memerlukan usaha yang sangat rumit. Baru Tatilah yang pertama kali pindah ke luar pulau Jawa. Ia juga sangat bangga pada istrinya ini, patuh pada suami, salehah, cantik dan menggiurkan. Dan yang penting sangat mencintai suaminya sepenuh hati
Setelah berdiskusi dengan keluarganya dan merencanakan keberangkatannya, kepindahan
sekolah anak-anaknya selesai, kepindahan istrinya untuk mengajar di Pekanbaru, maka ditulisnyalah segala sesuatu urutan yang perlu dan harus dilakukan. Mana yang prioritas, mana yang harus tapi bisa ditunda, dan mana yang bisa atau tidak dikerjakan tertera dalam kertas agendanya. Iapun mulai melaksanakannya satu persatu. Pembelian tiket, mengurus uang pindah dan biaya perjalanan, keterangan uang perumahan, surat-surat referensi dan lain-lain disiapkannya dengan teliti, tertulis dan jelas tanggal-tanggalnya. Rencana jaringan penjadwalan (network planning) dan hubungan waktu pelaksanaan yang dipelajarinya ketika pelajaran Konsep Teknologi diterapkannya disini. 

Pada tanggal 8 Agustus 1984 Pesawat yang membawanya ke Pekanbaru lepas landas dari lapangan terbang Kemayoran, saat itu masih dari Lapangan Terbang Kemayoran, dan mendarat di Lapangan Terbang Simpang Tiga, dijemput oleh Pak JB Soenarto BcTT, Kepala Kantor yang akan segera digantikannya. Sementara menginap di Hotel dan kemudian di lanjutkan di mess TELKOM, di daerah Pintu Angin yang berdekatan dengan Kantor. 

Kantor KANDATEX awal ahun 1984, Jl. Merbabau No. 12.
kini jadi mes TELKOM
Serah terima dilaksanakan tanggal 12 Agustus 1984, untuk pejabat Darmawanita diwakili oleh Bu Herman, istri Kepala Dinas Teknik. Kemudian, setelah segala urusan kepindahan anak-anak dan istrinya selesai, bulan Desember 1984 semuanya berangkat, dan tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mangga.  
Ketika itu, jalan-jalan di Pekan-baru masih lengang, angkutan kota belum ada. Orang masih banyak yang berjalan kaki,  atau  kalau  karyawan dijemput oleh mobil dinas. Selain itu ia juga diminta menjadi dosen mengajar Sistem Teknik Pengendalian atau Control System Engineering di UNILAK (Universitas Lancang Kuning)  di Rumbai, Pekanbaru.

Universitas Lancang Kuning (UNILAK) Rumbay, Pekanbaru
Hidup rupanya adalah drama dalam sandiwara kehidupan dan mengabdi pada peran dalam sandiwara itu. Peran seseorang sudah ditetapkan oleh Sang Sutradara yang Maha Agung. Bisa peran itu hijau, bisa peran merah, bisa kuning, bisa hitam, dan bisa pula peran itu putih. Tapi jangan lupa, segala sesuatu dari setiap peran ada tanggung jawabnya. Selamat melangkah, selamat jalan dan selamat datang kepada para pemeran dan peran baru di Pekanbaru atau di tempat lain. Ada yang datang dan ada yang pergi. Kami akan merindukan yang pergi dan kami merasa bahagia dan senang kepada yang baru datang. Doa kami, menyertai serta menyampaikan pengharapan, semoga Allah SWT menyertakan kita semuanya dalam perlindungan, dalam keselamatan disertai perkenan maghfirahNya.  
Selanjutnya disela-sela waktunya memimpin kantor, ia ditugaskan untuk menyelesaikan pembangunan gedung Kantor Telkom Pekanbaru di Jalan Jenderal Sudirman. Di ujung Jalan Sudirman terdapat Pasar Bawah, tempat barang-barang luar negeri berharga murah. 


Ex Gedung Kandatex, kini jadi Gerai McD
Tahun pertama ia bertugas, kantornya berada di Jalan Merbabu no. 12, Pintu angin. Masih berbentuk rumah atau rumah dinas yang dijadikan kantor. Beberapa bulan kemudian, karyawan baru datang, diantaranya Zulfahmi, Wazhur, Hari Muani dan Makmur. Ada yang mempunyai keahlian teknik, operasi maupun keuangan. Lalu yang putrinya ada Zulyetti, Magdalena, Nurhemiati, Ratinur, Tati, lastri, Marni, Nuraini dan lain-lain. Karyawan lamanya adalah Pak Muharudin sebagai kepala Dinas Tata usaha Keuangan, Pak Arif Sugihardi sebagai kepala pembukuan. Kepala Dinas Operasi dipegang oleh pak Ali Cecilia orang Jakarta dengan bawahannya pak Sabirin dan pak Norman dan lain-lain. Kepala Bagian Tekniknya Pak Herman, orang dari Pekalongan beserta beberapa orang anak buahnya masing-masing Tri Sumarsono Wilis, Hermawanto, Iim Ibrahim dan lain-lain. Loket yang hanya satu tempat di Jalan Merbabu Pintuangin, bersatu dengan kantor, sudah terlalu sempit dan jauh dari kegiatan perekonomian di sekitar Jalan Sudirman. Lagi pula kantor layanan ini berakhir pukul lima sore. Banyak pelanggan dan pengguna jasa yang merasa kecewa, ketika tiba di kantor Layanan di Pintu Angin ternyata sudah tutup. Sentral Telex ditempatkan di gedung kantor telepon dengan mengambil satu lantai. 

Gedung baru di Jalan Jenderal Sudirman sudah ada instalasi listrik dan sebuah generator 3,3 Mega-watt, tapi belum sempurna dan belum diserah-terimakan. Setelah diperiksa, ternyata generator sudah dapat dipergunakan, khusus untuk jaringan telex dan telegrap saja. Instalasi listrik diteruskan, kepada kontraktor diminta untuk menuntaskan instalasi listrik gedung. Lalu loket dibuka 2 posisi menggunakan infrastruktur seadanya dan langsung pelanggan dan pengguna ramai sekali. Demikian juga Bank BNI yang bersebelahan tepatnya di sebelah kiri, dan sebelah kanannya segera dibuka TOSERBA Ramayana beberapa bulan kemudian.

Toserba RAMAYANA Suka ramai, disebelan Kantor 
Semuanya semakin menambah ramainya sekitar kantor. Pendapatan meningkat tiga kali lipat, yang semula hanya 40 juta menjadi 120 juta perbulan, pendapatan terbesar untuk unit pelaksana teknis bisnis di Pekanbaru. Proses izin PLN sedang berlangsung, selama instalasi dan izin belum keluar, kantor menggunakan generator. 


Dua bulan kemudian instalasi dan izin PLN selesai dan kantor pindah dari Pintu-angin ke Jalan Sudirman. Kantor Pelayanan ini resmi dibuka untuk umum, dan kantor di Jalan Merbabu 12 Pintu Angin kemudian ditutup. 
Untuk memudahkan pelanggan membayar tagihan rekeningnya, dibuka rekening giro di lima bank Negara di Pekanbaru. Tidak berapa lama kemudian, semua unit pelayanan dipindah ke kantor baru ini, termasuk KBU, Kamar Bicara Umum, dari unit pelayanan Telepon. Oplet atau angkotpun sudah ramai yang melintas di depan kantor. Layanan loket diperpanjang sampai dengan pukul sembilan malam, dengan pengaturan giliran tugas yang tepat. Karyawan pun sudah banyak yang menggunakan motor atau yang menurut istilah setempat adalah kereta. Bahkan ada yang sudah mempunyai kendaraan roda empat.
Kegiatan rutin kantor seperti biasanya, ada pembinaan karyawan, diantaranya senam pagi dan ceramah agama setiap sebulan sekali oleh penceramah dari luar. Ada juga acara pertemuan Darma Wanita Kantor, dan ada juga Darma wanita Propinsi yang dipimpin oleh istri Gubernur. Setiap Senin pagi ada apel pagi, termasuk hari-hari besar Nasional. Hari besar Agama Islam dirayakan juga dengan membuat kegiatan khusus, biasanya disatukan seluruh unit kegiatan TELKOM di Pekanbaru. Pada tiap hari Jum’at pagi dilaksanakan senam pagi. Jika tidak harus mengikuti upacara di Gubernuran Propinsi Riau, maka mereka mengadakan appel pagi di Kantor pada setiap hari-hari besar Nasional.
Ia berharap semoga ia termasuk yang berhasil mengelola kantor, karena tidak ada kasus yang menyangkut penyelewengan, percaloan, masalah teknik dan lain-lain. Yang ada adalah seorang pegawai yang sering meninggalkan tugas pada jam kerja atau datang terlambat sampai dua jam. Setelah diingatkan berulang kali tidak juga berubah, maka kepada atasan langsungnya supaya ditegur lisan dan dicatat dalam catatan DP3 atau rapornya. Karyawan yang seperti ini memang selalu saja ada, mungkin sudah karakter yang bersangkutan. Ada juga masalah karyawan yang menyangkut a-susila, perbuatan yang menyangkut antar unit pelayanan tugas yang berbeda. Oleh karena itu penyelesaiannya diserahkan kepada atasannya yang lebih tinggi.

Modernisasi Ruang Pelayanan

Penyelesaian gedung baru di Jalan Sudirman Pekanbaru dapat diselesaikannya dengan cepat dan tuntas. Jika masalah teknik muncul, ia amat menguasainya karena memang ia adalah seorang ahli teknik yang telah banyak berpengalaman di Jakarta. Sambil mengajari anak buahnya, ia selalu berhasil mengatasi gangguan yang timbul di lapangan. Tidak jarang ia harus turun tangan sendiri untuk menyelesaikan masalah teknik, karena ia adalah karyawan senior dalam bidang teknik secara nasional. Ia juga pernah memimpin proyek pemindahan dan pemasangan sentral di Pulau Batam atas penunjukan dari atasannya di WITEL II,  Wilayah Usaha Telekomunikasi II, Sumbar dan Riau. Ia juga beberapa kali ke Rengat dan Tembilahan memasang instalasi telex disana, sebagai perintis masuknya kedua kota itu ke dalam komunikasi telex nasional dan internasional, terutama untuk keperluan komunikasi perbankan.
Di bagian operator ada Ratinur yang pintar memilih cara dan model berpakaian, yang selalu serasi dan pantas sehingga kelihatan sangat menarik, bagaikan artis penyanyi dan model ketika itu, Anita Mokhede. Menggiurkan dan menggairahkan. Mungkin kalau ia lebih berdandan dan ingin bersolek menambah kemolekannya, ia pantas menjadi ratu atau bidadari. Hal ini tampak ketika diadakan perayaan pelepasan pensiun pak Muharudin Kepala Dinas Keuangan. Ratinur didandani berpakaian gadis minang, bersama Nurhemiati. Dengan warna kerudung bergonjong khas Minangkabau, pakaian atau kain pembalut tubuh yang menonjol warna merahnya, garis dan titik berwarna kuning emas dan hitam, terkesan bagaikan mutiara berserakan di atas permadani. Senyumnya sangat mirip, kulitnya kuning langsat, bentuk tubuhnya yang langsing sesuai pula. Cuma Ratinur lebih kecil, lebih langsing saja. 
Mimi dan Irat,
foto Oktober 2o10
Nurhemiati juga sama. Ia adalah putri Taluk Kuantan yang melegenda dan pantas menjadi permaisuri. Mereka berdua layaknya bintang gemerlap saat itu, yang membuat acara kian semerbak, bak bidadari yang diterjunkan ke kantor Pekanbaru.
Lalu ada Tati, ada Marni, ada Lastri, ada Zulyetti ahli bermain volly, ada Magdalena. Di samping rekan-rekan karyawan lama, pak Bukhari Bus ahli komunikasi morse telegrap dan penulis lepas majalah intern telekom, pak Sabarudin, pak Norman dan lain-lain. Bagian Operasi ini dipimpin oleh pak Ali Cecilia dari Jakarta sebagai kepala Bagian Operasi. Semuanya cekatan dalam bekerja. Pada bagian keuangan ada Pak Muharudin, Arif Suguhardi, bu Yusnida, Emi yang telah lebih dulu bertugas, Nuhemiati dan Wazhur yang baru. Wazur selalu semangat dan pintar menyanyi. Bagian kepegawaian dipegang oleh Pak Sawier.

Tahun 1985 ia mengadakan perubahan pelayanan secara dramatis, terutama loket pelayanan. Petugas loket perempuan disarankan untuk memakai baju jas yang biru dengan baju dalam yang putih sebagai seragam yang baku dan yang lelakinya berdasi. Saat itu belum ada model ruang atau kantor pelayanan yang demikian maju. Ruang pelayanan yang berpendingin udara ditambah dengan musik pop yang lembut, siaran TV terpilih membuat para pelanggan merasa nyaman. Bila ada karyawan yang ulang tahun, dirayakan secara sederhana dan kantor pelayanan diputar lagu-lagu selamat ulang tahun dan nada lembut sampai pukul sebelas. Pintu utama menggunakan pintu otomatis dengan proximity sensor, akan terbuka setiap orang mendekatinya dan kemudian otomatis tertutup jika pelanggan telah menjauh dari pintu tersebut. Pintu tertutup diperlukan karena ruangan dipasang pendingin udara AC, air conditioning

Ditengah ruang pelayanan disediakan meja untuk formulir layanan telegrap dengan warna-warni menarik yang menunjukkan tingkat layanan yang diajukan oleh pelanggan, biasa, dinas atau kilat-express. Keterangan mengenai formulir permintaan berlangganan telepon dan telex, bagaimana mengisinya di tempelkan di dekat meja, sehingga pelanggan mendapat informasi yang tepat dan cepat. Demikian juga informasi layanan lainnya. Di dekat setiap loket disediakan permen bagi pengunjung, yang biasanya akan habis satu bungkus besar berisi satu kilogram permen aneka rasa sampai siang hari.
Iklan layanan ditempatkan di beberapa titik di kota Pekanbaru sendiri dan tiga titik di pintu masuk kota. Dari arah Sumbar diletakkan di Rantau Berangin, dari arah Dumai diletakkan di sekitar Rumbai dan dari arah bandara ditempatkan di sekitar pintu masuk kota, Simpang Tiga. Hal ini membuat situasi ruangan pelayanan  semakin  ramai  dan  bersinar,  dan  ketika  datang  pemeriksa  dari  kantor wilayah, beberapa pemeriksa merasa senang, kagum dan menyatakan penghargaannya.

Di loket pelayanan ia melihat Nurhemiati atau Mimi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Konon kabarnya ia adalah putri dari Taluk Kuantan, negeri penghasil sumber daya manusia yang cantik, pintar, istimewa dan baik hati itu. Mimi warna kulitnya kuning langsat, cantik menarik, terutama ketika mengenakan seragam jas biru di loket pelayanan. Teliti dan jarang melakukan kesalahan, berwibawa melayani pelanggan, mahir menghitung dan menutup buku harian. Mimi mempunyai kemampuan, bukan hanya kecantikan. Ia bukan hanya punya kemasan yang baik karena ia cantik, tapi juga juga punya isi otak yang elok dan bermutu karena ia terampil melayani pelanggan. Pelanggan senang kepadanya, karena ia bisa ramah dengan senyum manis dan lesung pipitnya yang khas, tapi bisa juga tegas dan sangat jarang membuat kesalahan. Mimi cukup cerdas menangani pelayanan. Mimi melayani pelanggan dengan baik dan cepat. Produktivitasnya tertinggi di antara petugas loket. Melihat kemampuannya, ia berharap, Mimi kelak menjadi seorang bendaharawan yang pintar dan ahli keuangan, jika ia mau melanjutkan sekolahnya. Untuk itu di setiap kesempatan, bersama karyawan lain, ia sering memberi nasihat kepada mereka semua supaya melanjutkan sekolah menggapai cita-cita setinggi langit, asal tidak mengganggu jam kerja masing-masing, yang bisa di atur dengan sebaik-baiknya 

Sampai ketika suatu hari,  undangan datang dari Mimi.
“Pak, ini undangan, undangan dari Mimi”, menyerahkan undangan sambil tersenyum, lesung pipitnya merekah.
“Undangan apa Mi?” bertanya padanya.
“Mau menikah pak”, sahut Mimi.   “Oh iya ? kok….” Terdiam sejenak, kaget.
“Kok baru tau ya. Siapakah gerangan laki-laki yang beruntung itu Mi? Dimana kerjanya?” tanyanya kembali.
“Teman lha pak, teman sekampung yang sudah lama“, sambung Mimi.
“Dia bekerja di kantor pos Pekanbaru”.
“Ooo  begitu. Baiklah, terima kasih undangannya Mi. Persiapkan surat-surat yang diperlukan. Surat keterangan belum pernah menikah dari kampung untuk kantor dan surat permohonan cuti nikah. Selebihnya, untuk urusan selanjutnya tanyakan langsung ke Pak Sawier” lanjutnya. 

Pak Sawier adalah kepala seksi kepegawaian yang amat berpengalaman dan amat paham seluk-beluk aturan kepegawaian. Kepadanya disampaikan bahwa Mimi akan menikah dengan kekasih hatinya, seorang karyawan kantor pos di Pekanbaru, agar supaya dipersiapkan kunjungan dan kado pengantin dari kantor dan karyawan. Acara kenduri atau perhelatan pernikahannya bertempat di Taluk Kuantan, kampung halamannya. Rupanya cita-cita Mimi terlalu sederhana. Cukuplah baginya jika sudah bekerja dan berpenghasilan yang layak. Mungkin juga karena latar belakangnya sebagai anak yatim.  Apalagi calon suaminya juga sudah bekerja di kantor pos, sehingga sudah merasa aman dalam hal keuangan. Ia merasa gagal menasihati Mimi untuk sekolah lebih tinggi. Berbeda dengan Makmur, yang kini sudah menyelesaikan S3, doctor dalam bidang hukum dan kini bertugas di Kantor Pusat TELKOM Bandung, dan bertugas sebagai dosen di Institut Manajemen Telkom Bandung.
Namun demikian, semua karyawan ikut serta ke pesta pernikahan Mimi, menumpang dua mobil dinas dan menyewa satu kendaraan umum. Ia sendiri berada dalam mobil jip Daihatsu Taft, bergantian menyetir dengan pak Anwar supir kantor. 
Perjalanan yang melewati hutan belantara diselingi hutan karet rakyat di sana-sini, diselingi jembatan kayu yang sedang diperbaiki. 

Hutan Belantara Taluk Kuantan.
Di salah satu pohon yang tinggi dilihatnya beberapa sarang burung tempua, tinggi di atas dahan, dengan latar belakang langit biru dan awan putih yang berarak tak kasat mata.  Di kiri kanan  jalan banyak  terlihat rawa-rawa, hutan dan perkebunan karet rakyat silih berganti. Dan masih sepi penduduk.
Sesampainya di Taluk Kuantan, alunan musik khas talempong yang sederhana terdengar menggema, sayup-sayup sampai di tepi hutan belantara. Terkesan indah dan bersuasana magis. Acara ucapan selamat sambil makan siang dan ramah tamah berlangsung meriah. Kedua pengantin kelihatan berbahagia, gagah dan cantik, menebarkan pesona harum semerbak bunga sedap malam, hiasan pengantin, ke sekeliling ruangan.

Kunjungan ke perayaan pernikahan Mimi di Taluk Kuantan ini juga sekaligus dalam rangka rekreasi, melihat Sungai Kampar Kiri tempat pesta pacu jalur perahu tradisional tahunan. Di sepanjang sungai sejauh mata memandang masih terhampar hutan yang luas. Sungai Kampar yang lebar, airnya mengalir tenang. Tak beriak, pertanda sungai yang dalam. Pada saat mereka di sana, acara lomba perahu tradisional itu belum dilaksanakan. Konon kabarnya acara pesta perahu Sungai Kampar di Taluk Kuantan adalah acara yang dapat dijadikan arena perjumpaan muda-mudi atau dijadikan tempat mencari jodoh. Benar tidaknya wallohu a’lam bi sawab. Setelah pukul dua sore hari, rombongan pamit pulang ke Pekanbaru.

Waktu berjalan terus, berdetak tak terdengar dan berdetik tak terasa. Terutama bagi seseorang dalam keberhasilan, kegembiraan dan kesenangan. Tapi cepatnya detik-detik berbunyi serasa tak tertahankan ketika merasa rindu, ketika gelisah, ketika kita diburu waktu penyelesaian tugas tertentu, ketika berada dalam susah dan hati yang gundah gulana. Dan pada saat telah mempunyai rencana untuk segera mengatasi kesusahan dan berharap segera berhasil menggapai cita-cita.

Hari-hari berganti bulan, berkali-kali, sampai berbilang empat tahun. Ya, empat tahun ia mengemban tugas di Propinsi Riau. Semua karyawan dibuatnya merasa senang dengan pembagian tugas yang pas, acara olahraga yang baik dan pembinaan jenjang karir dan rohani yang berkelanjutan. Wajah-wajah ceria selalu kelihatan sepanjang hari, terutama di saat pulang kerja. Hampir semua karyawannya adalah Muslim, kecuali seorang Satpam. Dan semuanya alhamdulillah selalu mendirikan shalat. Di kantor mereka disediakan sebuah mushalla, ruangan khusus untuk shalat. Untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, ada karyawan yang dikirim untuk training atau latihan, yang dapat dipergunakannya segera dalam pekerjaannya sehari-hari. Ada yang mengikuti pendidikan yang lebih tinggi dengan biaya sendiri di perguruan tinggi di Pekanbaru, yang kelak berguna menghadapai masa depan yang tidak dapat diramalkan. Bagi mereka yang akan sekolah lagi ke Diklat Telkom di Bandung, cara-cara menghafal dan apa saja yang akan dikerjakan agar lulus ujian dilatihnya terlebih dulu, termasuk psikotest. Karyawan yang sering sakit dicarikan penyebabnya dan diberi petunjuk untuk menyembuhkannya, dibantu oleh dokter kesehatan TELKOM di Pekanbaru. Bagi karyawan yang mempunyai hutang, diberikan cara mengatasinya, kalau perlu menggunakan pinjaman dari koperasi. Bagi mereka yang belum menikah, segeralah berdoa agar diberiNYA jodoh yang baik dan sesuai. Dan alhamdulillah, semua karyawannya tidak ada yang tidak menikah, semua mendapat jodoh sesuai dengan 
idaman hatinya.

Foto Reuni 2010 di depan Istana Siak Sri Indrapura.

Kemampuan dan karir karyawannya terus membaik dan beberapa karyawannya menunjukkan kinerja yang terus meningkat. Semuanya ini dilakukannya bersama kepala-kepala dinas dalam rangka pengembangan professional atau keahlian karyawan yang berkelanjutan. Semuanya untuk penyempurnaan dalam melaksanakan tugas kini dan nanti. Oleh karena itu pula, karyawannya sering dipinjam oleh atasannya di WITEL II Padang dalam rangka pembangunan. Ada yang harus ke Dumai memasang alat transmisi, ada yang ke Rengat, ada yang ke Bagansiapi-api, ke Taluk Kuantan, Tembilahan, Bangkinang, Bengkalis dan Selat Panjang. Ada juga dalam rangka pembinaan dan pengawasan operasional dan lain-lain. Dan beberapa karyawannya dialih-tugaskan untuk membantu unit pelaksana teknis lainnya di Sumbar-Riau.

Ia juga dipilih sebagai ketua Organisasi Koperasi Karyawan TELKOM se Propinsi Riau. Jika ada yang mengalami kesulitan, baik masalah keluarga atau keuangan, sebisanya dicarikan jalan keluarnya. Ada yang dibantu dengan cuti diluar tanggungan negara karena harus menemani suaminya berobat ke Jakarta selama empat bulan. Ada yang harus menyelesaikan perkuliahannya di Bandung, karena hanya tinggal ujian sidang agar lulus sarjana. Karena karyawannya banyak yang masih gadis dan perjaka, ia juga sering mengurus pernikahan anak buahnya. Karena perempuan punya perhatian khusus dalam berdandan, tidak jarang pula istrinya ikut mengatur acara dan dandanan terutama untuk calon pengantin. Jika ada karyawannya yang meninggal, ia juga diminta untuk memberi sambutan dan doa.

Kenangan selama bertugas


Kenangan manis

Kisah kehidupan yang terlukis selama empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak kenangan manis terjadi disini. Kenangan manis karena ia merasa telah berhasil mengangkat semangat kerja karyawannya dan membuat mereka bahagia. Ia telah berhasil membuat selaras antara visi dan misi perusahan dengan visi dan misi karyawan. Dan yang tidak kalah manisnya adalah ketika ia dapat mengikuti ujian negara di kampusnya ISTN Jakarta tahun 1986 dan lulus. Ia pernah merasa mempunyai perhatian khusus dan dekat dengan salah seorang karyawan yang sangat dikaguminya, yang cantik menarik dan pintar, baik pula budi pekertinya. Hatinya selalu saja berdebar bila mengingatnya. Hanya saja dalam melakukan dan memerankan persasaan khusus itu, ia selalu menahan diri, karena ia yakin, ini adalah cobaan baginya. Ia selalu menjaga pandangannya, dan diarahkannya untuk mencapai yang baik, tidak pernah dan selalu terhindar dari perbuatan tercela, karena ia telah terlatih untuk menghadapi hal yang sama. Ia selalu berdoa dan bermunajat kepadaNya agar terhindar dari dosa-dosa yang sadar maupun tidak sadar dilakukannya. 


Kenangan manis buat istrinya Siti Nurhayati yang telah banyak berpengalaman bergaul dengan istri para Kepala Kantor se propinsi Riau, dan juga dalam lingkup Dinas Perhubungan dan Parawisata. Dan banyak mendapat pelatihan manajemen dan kepemimpinan. Istrinya pernah mendapat predikat wanita berbusana dan merias diri terbaik dalam perlombaan di lingkungan Kepala Kantor se Pekanbaru. Istrinya memang yang paling menarik di antara istri-istri kepala kantor sepropinsi Riau dan Pekanbaru. Maklum, istrinya ini adalah perempuan khas Parahyangan, yang kalau sudah berdandan, apalagi  mengenakan  kebaya, amat  susah mengalihkan pandangan dan decak kagum kepadanya. Paling tidak menurut suaminya.

SMP Negeri 1 Pekanbaru.
Kenangan manis buat anaknya Anwar Rizal yang mendapat perhatian khusus dari seorang anak perempuan teman sekelasnya, Riri, anak Dr. Zaimi Z, seorang dokter spesialis anak di Pekanbaru.
Riri berhasil membuat Anwar Rizal semangat lagi belajar, setelah semangatnya turun sejak meninggalkan teman-temannya di Jakarta pada saat kedatangannya ke Pekanbaru. Sampai akhirnya mereka sama-sama masuk sekolah ke SMP Negeri 1 Pekanbaru, tapi berbeda kelas. Karena alih tugas orang tuanya ke Jakarta, Anwar terpaksa pindah lagi ke SMP di komplek sekolahnya yang lama, di Komplex SD, SMP dan SMA  Kramat di Jalan Kramat Jakarta Pusat. Di kompleks ini Rizal sekolah selama setahun untuk kemudian pindah lagi ke SMP Negeri 5 di Bandung, mengikuti tugas kepindahan ayahnya ke kantor pusat TELKOM pada Bagian Teknik  Telepon.

SD Negeri 51, Rintis Pekanbaru.
Kenangan manis buat Dian karena banyak temannya di SD Rintis dan pengajian disekitar tempat tinggal mereka di Jalan Mangga, walaupun ia hanya tiga tahun bersekolah disini. Ia telah belajar tari Melayu, tari Lancang Kuning yang terkenal bagus dengan lagu dan rantak yang berbeda-beda. Ketika bulan Ramadlan ia pernah pulang berjalan kaki sendiri dari sekolahnya, berjemur panas terik kota Pekanbaru yang tersohor amat panas, dan tiba di rumah Jalan Mangga satu jam kemudian. Kelelahan dan tertidur dalam keadaan sedang melaksanakan puasa bulan Ramadlan. Ia sangat mengerti bahasa Melayu Riau, demikian juga bahasa Minang. Seperti halnya Anwar, tak lama kemudian ia ikut pindah sekolah ke Jakarta juga mengikuti kepindahan orang tuanya yang kembali mengemban tugas di Jakarta. Dian sempat sekolah di SD Kodam di Jalan Malang dengan mobil antar jemput, sebelum akhirnya pindah lagi ke SD Darul Hikam di Bandung, bersama adiknya Emil Himan. Yang kelak, ketika memimpin Student Attachment ke Malaysia dari DHIS tahun 2008, kemampuannya berbahasa Melayu Riau, sangat banyak membantunya bersilaturrahim di sana, dan selalu berhasil. Dan di antara teman-temannya, mereka masih berhubungan setelah beberapa tahun meninggalkan Pekanbaru.

Kenangan manis buat Emil Hilman yang sangat disayangi oleh Bu Herman dan Bu Ali sampai kini. Walaupun Emil sering bertindak dan membuat orang khawatir karena ia sering pergi bersepeda sendirian, lalu kelelahan, dan nyaris hilang kalau tidak ditemukan oleh teman kakaknya, teman Anwar Rizal, dan diantar pulang ke Jalan Mangga. Emil bisa mengendarai sepeda dan berhasil belajar membaca huruf latin dan Al Qur’an di TK Darmawanita TELKOM di Pekanbaru. 

Kenangan perjalanan dinas ke Kota-kota lain, akan ditulis terpisah, insya allah. 

Alih tugas ke Jakarta

Sampai akhirnya tiba saatnya untuk berpisah karena alih tugas. Serah terima dilaksanakan di kantor Geburnur Riau di Pekanbaru, awal Agustus 1988. Ada yang datang dan ada yang pergi. Kata-kata yang pernah disampaikannya ketika baru datang dan melaksanakan tugas di Pekan-baru, kini terulang menimpa dirinya, dengan tambahan pengalamannya.

Hidup adalah drama dalam sandiwara dan mengabdi pada peran dalam sandiwara kehidupan. Peran seseorang sudah ditetapkan olehNYA, oleh Sutradara Hidup dan Kehidupan yang Maha Agung. Bisa peran itu hijau, bisa peran merah, bisa kuning, bisa hitam, dan bisa pula peran itu putih. Tapi jangan lupa, segala sesuatu dan setiap peran ada tanggung jawabnya.
Selamat melangkah, selamat jalan bagi yang pergi dan selamat datang kepada para pemeran dan peran baru di Pekanbaru. Bagi siapa yang pergi dulu, ia akan menjadi kenangan dan sejarah. Kadang ia datang menjenguk dengan tabir 'rindu' yang sering membuat hati hiba. Pada sebuah kenangan lalu yang mengukirkan pengalaman berjuta. Rahmat Allah sangat luas untuk diteruskan ketika memendam hati. Ternyata rindu itu perlu. Rindu terkadang mengajar manusia untuk menjadi penyabar
Doa kami menyertai dan berharap, semoga rendah rejeki, panjang usia dalam taat serta mengabdi kepadaNYA, dan kalau dapat, kelak berjumpa lagi. Lagu sekapur sirih, lagu yang sering terdengan ketika masih sekolah rakyat, yang datang dari penyanyi Malaysia, Saloma:

Sekapur sirih, sekapur sirih, seulas pinang,
Diberi bekal, diberi bekal buat perangsang
Pergilah intan, pergilah sayang,
ke tengah medan,
ke tengah medan pergilah berjuang

Biarlah gugur, biarlah gugur bersimbah darah  
Biar berlengkar, biar berlengkar di medan perang
Janganlah undur, janganlah undur menyerah kalah
Pantang pendekar, 
patang pendekar di tengah gelanggang

Jangan bersedih, jangan bersedih meninggalkan kami,
Senjata disandang, senjata disandang sebagai pengganti
Kami berdoa, kami berdoa setiap hari
Selamt pergi,
selamat pergi, selamatlah kembali...