Kenangan selama di Propinsi Riau
Kenangan selama bertugas di Propinsi Riau adalah kenangan yang mengasyikkan. Bagaimana tidak, disini ada kominasi perjalanan darat, sungai, laut dan udara. Dari Pekanbaru ke Padang, bisa lewat darat, bisa juga via Udara. Perjalanan yang mengarungi Sungai Siak dan Laut Lepas menuju Selat Panjang. Menyusuri jalan darat atau udara ke Rengat. lalu berlanjut menyusuri sungai Kampar dari Air Molek ke Tembilahan, merupakan kombinasi perjalanan udara, darat dan sungai yang indah. Dalam perjalanan Darat dari Pekanbaru ke Padang dan Pekanbaru ke Dumai. ia selalu bergembira menikmati lebatnya hutan belantara Sumatara serta sebagian Pegunungan Bukit Barisannya.
Perjalanan darat ke Padang, berliku-liku tak lurus dan tak terputus, dan sepanjang jalan tak kunjung henti melihat adanya hutan, gunung, bukit dan jurang ditepi jalan. Ada Kelok empat puluh empat, ketika melewati perjalanan dari perbatasan Riau dengan Sumbar di Tanjung Pauah sebelum kota Payakumbuh.
Ada pula Kelok Sembilan sebelum menjadi Jembatan Modern yang sekarang. Kalau kita naik bus, ketika melewati jurang-jurang ditepi kelokan, kita bisa melihat, tempat duduk pengemudi berada diatas jurang, Hanya ban depannya yang berada di jalan aspal,
Perjalanan yang pertama adalah ke Dumai, dengan mengendarai mobil dinas, jip Daihatsu Taft tahun 1980. Kami bersama pak JDB Sunarto BCTT sambil perkenalan dengan Kepala Kantor Telepon dan Telegrap di sana, Bapak Muhammad Ilyas. Yang kedua adalah ke Rengat dan Tembilahan. Kota Tembilahan dan Rengat selalu dikunjungi dalam waktu perjalanan yang sama, karena memang satu arah. Biasanya menginap di Rengat atau bisa juga di Tembilahan, tergantung tugas apa yang akan dilaksanakan. Perjalanan ke Selat Panjang. Batam dengan ibukotanya Sekupang dan sekitarnya. Peta berikut ini menunjukkan hal tersebut.
Lalu ke Tanjung Pinang. Yang terdekat adalah ke Bangkinang. kota yang selalu dilewati, ketika naik kendaraan darat ke Padang. Padang adalah ibukota propinsi Sumatra Barat tempat Kepala Wilayah Usaha Telekomunikasi II (WITEL II) berkantor. Wilayah Usaha Telekomunikasi II meliputi semua daerah Riau (sekarang terbagi dua, Darat, RIDAR dan Kepulauan, KEPRI) dan Sumatra Barat.
Perjalanan Dinas ke Dumai.
Belum genap 1 bulan berdinas di Pekanbaru, yang kantornya masih di Jl. Merbabu 12, pak JDBS Sunarto BcTT mengajaknya ke Dumai, untuk melihat kantor telepon dan telegrap di sana. Jaraknya 238 km. Karena tidak ada kemacetan sama sekali, dengan kecepatan rata-rata 70 km perjam, 2,5 jam kemudian kami sudah tiba di Dumai.
Kami melewati Rumbai, lalu Minas, Duri dan tiba di Dumai, kira-kira pukul 1100.
Dari Rumbai ke Minas saja, kami disuguhi pemandangan hutan belantara, sepi tak berpenghuni, tak ada rumah penduduk sama sekali, hanya ada semak belukar, diselingi tanah gundul berwarna putih. Lalu di pinggir jalan, kami melihat sebuah pompa angguk yang bersejarah, kabarnya lebih dari seratus tahun, tapi masih berproduksi.
Ketika kami mendapatkan kota Minas, terlihat rumah-dinas para karyawan dan pejabat CALTEX (sebelum berubah menjadi Cevron sekarang ini). Perjalanan yang tiba di Simpang Duri Kandis, yang merupakan titik tengah jarak Pekanbaru - Duri. Bila sudah sampai disini, berarti sudah setengah jalan, antara Pekanbaru Duri.
Tidak berapa lama, kamipun melewati jalan Gelombang Duri mendapatkan kota Duri yang terkenal, karena jalannya ada beberapa gelombang, turunnya panjang dan jauh dan kemudian naik panjang lagi. Sampai akhirnya ketemu jalan mendatar, pertanda Duri sudah dekat. Dikejauhan dari puncak jalan tampak Menara Radio Mikrowave TELKOM, dipebukitan.
Kalau tidak ada halangan apa-apa ataupun kemacetan di jalan, perjalanan lanjutan ke Dumai hanya perlu waktu 90 menit atau satu setengah jam saja. Di kiri kanan jalan penuh hutan belantara (sebelum menjadi hutan kelapa sawit sekarang ini). Silih berganti, kelihatan rawa di bawah rimbunnya hutan, sesekali kelihatan petunjuk KEEP LEFT yang dibuat oleh PT CPI. Ketika mendekati Dumai, hutan itu semakin lebat, sampai sayup-sayup terlihat menara api dari pengolahan minyak Pertamina di Dumai. Kini sebagian hutan itu menjadi objek hutan wisata, termasuk hutang mangrove, hutan bakau.
Karena sudah diberitahu sebelumnya, pak Muhammad Ilyas sudah siap menerima kami Kantor Telkom Dumai, yang kini menjadi Grapari TELKOM. Dumai. Setelah berbincang-bincang beberapa lama, kamipun diajak santap siang. Selanjutnya berkunjung ke kantor Pertamina yang merupakan kastamer istimewa, yang perlu dilayani secara khusus pula. Kamipun berkeliling Dumai, untuk melihat-lihat keindahan kota Dumai.
Dulu masjidnya masih kecil dan belum se modern sekarang. Kamipun melihat kilang minyak Pertamina di Balongan, ketika berkeliling kota dumai. Disini ada makam raja perempuan, ibundanya Putri Tujuh dalam legenda yang sangat terkenal di Riau.
Berikut ini adalah gambar pelabuhan Minyak tanker di dkomplex pengolahan minyak Putri Tujuh.
Jalanan saat itu masih banyak yang rusak, belum semulus sekarang. Apalagi kalau sehabis banjir, terlihat gengangan air disana-sini. Sangat berbeda dengan kompleks Pertamina dan beberapa konsesi CALTEX, termasuk lapangan terbangnya.
Malam harinya kami menginap di salah satu hotel yang terbaik saat itu di Dumai, di Jalan Jenderal Sudirman. Kami tidak tahu, apakah hotel itu yang menjadi hotel Hotel CITY Dumai yang sekarang, atau bukan. Yang jelas, saat itu airnya sudah bening putih. Tidak seperti di rumah-rumah penduduk, airnya masih sedikit kekuning-kuningan dan terasa asin, apalagi yang sangat dekat dengan pantai. Kami menanyakan ke petugas hotel, airnya lumayan bersih. Saat kami bertanya, bagaimna cara mendapatkannya, petugas hotelnya mengatakan, "kami membuat sumur bor dengan kedalam 100 meter pak", jelasnya. Kunjungan kami yang pertama ini masih bersifat protokoler, sehingga tidak banyak hal-hal yang spesifik bisa kami ketahui. Perjalanan ke Dumai ada dalam rangka perjalanan dinas, tapi juga banyak dalam rangka rekreasi. Pada perjalanan kami ke Dumai yang berikutnya, pada saat pembukaan Telegrap dengan ,mesin tulis teleprinter di Duri, kami mendapat kesempatan mendengar cerita Legenda Putri Tujuh dari seorang teman, cerita tentang asal-usul Kota Dumai ini. Apakah sipencerita ini memang memiliki bahan cerita dari lingkungannya, walloha aklam bissawab.
Berikut ini kami sarikan cerita itu dan kami padukan dengan cerita online dan sumber lain-lain..
A. Asal Usul Nama Kota Dumai
Asal-usul Kota Duma dimulai dari versi cerita tentang Putri Tujuh. Putri raja yang menguasai suatu kawasn Kerajaan Sri Bunga Tanjung, yang pada waktu itu diperintah oleh Raut Cik Sima, raja perempuan yang memerintah kerajaan. Dia memiliki Tujuh orang Putri, dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Ketujuh Putri ini terkenal sangat cantik, namun yang paling cantik adalah putri bungsu, Mayang Sari namanya. Keindahan dan kecantikan Mayang Sari ini memberikan satu nama lain baginya, yaitu Mayang Mengurai.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, suatu hari singgahlah di pelabuhan Sri Bunga Tanjung, laskar dari kerajaan Empang Kuala. Pada suatu hari pangeran dari kerajaan tersebut ingin menhirup udara segar dan ingin melihat keindahan alam daerah yang disinggahinya ini. Iyapun pergi berjalan-jalan. dia menyamar sebagai rakyat biasa agar lebih leluasa berjalan. Para pengawal pun menyamar sebagai orang biasa dan bebas kemana-mana. Ketika pengawal sampai di pinggir lubuk pemandian sarang umai, sejenis landak berbulu tegak dan keras seperti duri, mereka tertegun melihat gadis cantik jelita dan mereka segera memberitahukan hal itu kepada pangeran dan pangeranpun terpesona, "ya.... umai.. dumai, ya d'umai itu" kata baginda tergagap takjub. Berasal dari ucapan pangeran itu, yang setiap saat mengatakan di lubuk umai. D'umai.......d'umai akhirnya dua suku kata itu bertaut menjadi Dumai, sehingga daerah atau kampung inipun Bernama Dumai.
Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata "d'umai" yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai.
Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.
B. Terbentuknya Kota Dumai
Tercatat dalam sejarah, pada era tahun 1930-an, Kota Dumai merupakan sebuah dusun nelayan kecil yang terdiri atas beberapa rumah nelayan di pesisir timur Propinsi Riau. Kini mulai menggeliat menjadi mutiara di pantai timur Sumatera. Kota Dumai dimana status Dumai adalah Kota Administratif. Pada awal pembentukannya, Kota Dumai hanya terdiri atas 3 kecamatan, 13 kelurahan dan 9 desa dengan jumlah penduduk hanya 15.699 jiwa dengan tingkat kepadatan 83,85 jiwa/km2. Penduduknya bertambah ketika Jepang mendatangkan kaum romusha (pekerja paksa jaman penjajahan Jepang) dari Jawa.
Berdasar PP No.8 Tahun 1979 tertanggal 11 April 1979, Dumai berubah status menjadi Kota Administratif (merupakan kota administratif pertama di Sumatera dan ke-11 di Indonesia) di bawah Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Bengkalis sampai tahun 1998. Kini Dumai telah berubah status menjadi Kotamadya sehingga menjadi Kotamadya Dati. II Dumai. Seiring perkembangan politik di Indonesia, berdasar UU No. 22 Tahun 1999 maka Kotamadya Dumai berubah menjadi Kota Dumai.
Masa jabatan Walikota Dumai pertama dari tanggal 27 April 1999 sehingga tanggal 27 April dijadikan hari ulang tahun Kota Dumai. Beberapa aspek filosofis yang cukup mendasar atas peningkatan status Dumai dalam pengelolaan wilayah administrasi pemerintahan adalah untuk memperpendek rentang kendali, mempercepat tingkat pelayanan dan memperbesar peran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, disamping menangkap peluang pengembangan ekonomi.
Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1982. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari lampu-lampu gemerlapan bagai permata bewrsinar berkilauan. Di dalam sejarah, kota Dumai pernah menjadi kota paling luas nomor dua di Indonesia setelah Kota Manokwari, di Papua. Akan tetapi, semenjak Kota Manokwari tersebut pecah dan kemudian terbentuk kabupaten Wasior, maka Kota Dumai pun menjadi kota terluas di Indonesia.
C. Peninggalan Sejarah di Kota Dumai
Di setiap daerah pasti memiliki cerita dan peninggalan sejarah yang beranekaragam. Keanekaragaman inilah yang membuat suatu daerah itu mempunyai daya tarik tersendiri. Begitu juga di Kota Dumai yang banyak memiliki cerita dan peninggalan sejarah yang begitu menarik.
1. Goa Pelintung
Terletak di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai. Lokasinya sekitar 35 Km. dari pusat kota. Goa ini dikenal juga dengan Bukit Kerudung (menyerupai kerudung). Konon menurut cerita rakyat, dulunya adalah tempat penyimpanan harta hasil perompakan oleh bajak laut Negeri Siam. Konon dulu di kampong Puak pernah di datangi oleh Armada yang berasal dari Siam. Armada Siam itu adalah perampok kapal kapal yang ada di kawasan selat Malaka. Kedatangan perampok Siam di kampong Puak untuk menyimpan harta harta hasil rampokan mereka. Kisah ini bermula dari suatu gua yang berbentuk bukit. Cerita rakyat yang berkembang di bukit itu dinamakan bukit kerudung. Bukit ini terdapat di kelurahan pelintung, kecamatan Medang Kampai kota Dumai.
2. Makam Syech Umar dan Batu Beranak
Beliau adalah orang yang berkepribadiaan yang amat luhur, serta zuhud dan wara. Beliau adalah orang yang ikut serta dalam pembangun mesjid Agung Al-Karomah martapura.
3. Makam Siti Laot Dahulu,
Ada seorang wanita yang setia terhadap raja, kesetiannya disaat menuntunkan Lancang Kuning atau perahu yang membutuhkan wanita hamil jolong (baru pertama kali hamil) untuk dijadikan galang Lancang atau perahu. Alkisah Siti Laot yang dikala itu hamil, bersedia dijadikan galang Lancang untuk menurunkan lancang kuning tersebut. Siti Laot dimakamkan di Keluharan Pangkalan Sesai yang kemudian makamnya dijadikan situs sejarah.
4. Batu Tapak Harimau Asuhan Datuk Pawang Leon
Menurut cerita warga setempat, tapak harimau sakti ini merupakan tapak harimau asuhan Datuk Pawang Leon. Harimau ini memiliki kesaktian yang luar biasa untuk mengusir dan menghadapi musuhnya, hanya dengan sekali hentakan kakinya pada sebuah batu harimau tersebut bisa mengalahkan musuhnya. Hingga kini bekas hentakan kaki tersebut masih membekas di sebuah batu. Situs ini berada di kelurahan Pelintung Kecamatan Medang Kampai sekitar 25 km dari pusat kota.
5. Makam Pawang Leon
Berada di sekitar 25 km dari pusat kota. Pawang Leon adalah seorang yang memiliki kesaktian sebagai peneroka yang sebelumnya tidak mampu membuka Kampung Pelintung, namun beliau mampu melakukan bersama harimau asuhannya serta para pengikutnya. Objek wisata Makan Datuk Pawang Leon terletak di kawasan jalan lintas antara Kota Pakning dan Dumai. Atau sekitar 25 km dari pusat Kota Dumai, tepatnya di daerah Pelintung. Terletak di daerah perbukitan tinggi di tepian jalan raya, sekitar 20 meter di atas jalan raya. Untuk bisa sampai ke kawasan situs sejarah ini, pengunjung hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum yang melintasi jalan tersebut. Bahkan area ini juga nyaris tak memiliki lahan parkir. Para pengunjung menggunakan sebagian badan jalan untuk memarkinkan kendaraan. Di plank tersebut juga dijelaskan siapa Datuk Pawang Leon dan asal usulnya. Untuk mengunjungi area ini, tidak dipungut bayaran alias gratis. Hanya saja memang terkesan kurang terawat dan kurang memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Dengan ditetapkannya Makam Datuk Pawang Leon sebagai bagian dari peta wisata Kota Dumai, diharapkan kawasan ini bisa lebih ditata lebih baik, sehingga para pengunjung yang ingin mendapatkan informasi bukti sejarah bisa memperolehnya dengan mudah dan lengkap. Pengunjung juga bisa lebih nyaman dan tentunya tetap memperhatikan aspek-aspek keamanan saat mengunjungi.
6. Pesanggrahan Puteri Tujuh
Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.
7. Makam Ayahanda Puteri Tujuh ( 1776 - 1856 / 1196 - 1276 H )
8. Makam Tok Kedondong Di Kawasan Patra Dock Dumai.
Malangnya, tak satupun tempat rekreasi itu dapat kami kunjungi, kecuali hutan belantara yang kini berubah juga sebagai tempat rekreasi.
Perjalanan darat ke Padang, berliku-liku tak lurus dan tak terputus, dan sepanjang jalan tak kunjung henti melihat adanya hutan, gunung, bukit dan jurang ditepi jalan. Ada Kelok empat puluh empat, ketika melewati perjalanan dari perbatasan Riau dengan Sumbar di Tanjung Pauah sebelum kota Payakumbuh.
Ada pula Kelok Sembilan sebelum menjadi Jembatan Modern yang sekarang. Kalau kita naik bus, ketika melewati jurang-jurang ditepi kelokan, kita bisa melihat, tempat duduk pengemudi berada diatas jurang, Hanya ban depannya yang berada di jalan aspal,
Perjalanan yang pertama adalah ke Dumai, dengan mengendarai mobil dinas, jip Daihatsu Taft tahun 1980. Kami bersama pak JDB Sunarto BCTT sambil perkenalan dengan Kepala Kantor Telepon dan Telegrap di sana, Bapak Muhammad Ilyas. Yang kedua adalah ke Rengat dan Tembilahan. Kota Tembilahan dan Rengat selalu dikunjungi dalam waktu perjalanan yang sama, karena memang satu arah. Biasanya menginap di Rengat atau bisa juga di Tembilahan, tergantung tugas apa yang akan dilaksanakan. Perjalanan ke Selat Panjang. Batam dengan ibukotanya Sekupang dan sekitarnya. Peta berikut ini menunjukkan hal tersebut.
![]() |
| Peta RIAU sebelum dipisah menjadi dua propinsi |
![]() |
| Pekanbaru - Dumai |
Belum genap 1 bulan berdinas di Pekanbaru, yang kantornya masih di Jl. Merbabu 12, pak JDBS Sunarto BcTT mengajaknya ke Dumai, untuk melihat kantor telepon dan telegrap di sana. Jaraknya 238 km. Karena tidak ada kemacetan sama sekali, dengan kecepatan rata-rata 70 km perjam, 2,5 jam kemudian kami sudah tiba di Dumai.
Kami melewati Rumbai, lalu Minas, Duri dan tiba di Dumai, kira-kira pukul 1100.
Dari Rumbai ke Minas saja, kami disuguhi pemandangan hutan belantara, sepi tak berpenghuni, tak ada rumah penduduk sama sekali, hanya ada semak belukar, diselingi tanah gundul berwarna putih. Lalu di pinggir jalan, kami melihat sebuah pompa angguk yang bersejarah, kabarnya lebih dari seratus tahun, tapi masih berproduksi.
![]() |
| Rumah Dinas Karyawan PT CPI Minas. |
![]() |
| Menara Mikrowave Gelombang |
![]() |
| Duri, kotakecamatan terkaya di Indonesia |
Duri adalah kota kecil, kota terkaya di seluruh Indonesia, terletak di Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, Riau. Duri berada di lajur jalan raya Lintas Sumatera, sekitar 120 km dari Pekanbaru dalam perjalanan menuju Medan, Sumatra Utara. Letaknya berbatasan langsung dengan Dumai di Utara, Kecamatan Pinggir di Selatan, dan Kecamatan Rantau Kopar di Barat. Kota Duri adalah ibukota Kecamatan Mandau, dipisahkan oleh beberapa kelurahan, seperti Talang Mandi, Titian Antui, dan Balairaja (yang terkenal dengan pusat latihan gajahnya). Kota ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Pinggir. Daerah yang dikenal dengan nama Sebanga ini merupakan pusat ekonomi di pinggiran Kota Duri, juga sebagai pintu masuk dari arah jalan raya Pekanbaru-Dumai.
Duri adalah salah satu ladang minyak di Provinsi Riau. Ladang minyak Duri telah dieksploitasi oleh PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) sejak tahun 50-an dan masih berproduksi. Bersama Minas dan Dumai, Duri menyumbang sekitar 60% produksi minyak mentah Indonesia, dengan rata-rata produksi saat ini 400.000-500.000 barel per hari. Minyak mentah yang dihasilkan, meskipun tidak sebaik lapangan minyak Minas, merupakan salah satu minyak dengan kualitas terbaik di dunia, yakni Duri crude. Pada bulan november 2006, ladang minyak Duri mencapai rekor produksi 2 miliar barel sejak pertama kali dieksplorasi pada 1958. Betapa kayanya kota Duri Propinsi Riau ini.
Kota Dumai
![]() |
| Grapari TELKOM Dumai yang sekarang. |
![]() |
| Masjid Raya Dumai |
Karena sudah diberitahu sebelumnya, pak Muhammad Ilyas sudah siap menerima kami Kantor Telkom Dumai, yang kini menjadi Grapari TELKOM. Dumai. Setelah berbincang-bincang beberapa lama, kamipun diajak santap siang. Selanjutnya berkunjung ke kantor Pertamina yang merupakan kastamer istimewa, yang perlu dilayani secara khusus pula. Kamipun berkeliling Dumai, untuk melihat-lihat keindahan kota Dumai.
![]() |
| Tamasya di Dumai |
Berikut ini adalah gambar pelabuhan Minyak tanker di dkomplex pengolahan minyak Putri Tujuh.
![]() |
| Kilang Minyak Pertamina Dumai, ada makam Ratu Cik Sima. |
![]() |
| Kantor Pertamina Dumai. |
![]() |
| Hotel City Dumai |
SEJARAH KOTA DUMAI
Asal-usul Kota Duma dimulai dari versi cerita tentang Putri Tujuh. Putri raja yang menguasai suatu kawasn Kerajaan Sri Bunga Tanjung, yang pada waktu itu diperintah oleh Raut Cik Sima, raja perempuan yang memerintah kerajaan. Dia memiliki Tujuh orang Putri, dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Ketujuh Putri ini terkenal sangat cantik, namun yang paling cantik adalah putri bungsu, Mayang Sari namanya. Keindahan dan kecantikan Mayang Sari ini memberikan satu nama lain baginya, yaitu Mayang Mengurai.
Menurut cerita rakyat yang berkembang, suatu hari singgahlah di pelabuhan Sri Bunga Tanjung, laskar dari kerajaan Empang Kuala. Pada suatu hari pangeran dari kerajaan tersebut ingin menhirup udara segar dan ingin melihat keindahan alam daerah yang disinggahinya ini. Iyapun pergi berjalan-jalan. dia menyamar sebagai rakyat biasa agar lebih leluasa berjalan. Para pengawal pun menyamar sebagai orang biasa dan bebas kemana-mana. Ketika pengawal sampai di pinggir lubuk pemandian sarang umai, sejenis landak berbulu tegak dan keras seperti duri, mereka tertegun melihat gadis cantik jelita dan mereka segera memberitahukan hal itu kepada pangeran dan pangeranpun terpesona, "ya.... umai.. dumai, ya d'umai itu" kata baginda tergagap takjub. Berasal dari ucapan pangeran itu, yang setiap saat mengatakan di lubuk umai. D'umai.......d'umai akhirnya dua suku kata itu bertaut menjadi Dumai, sehingga daerah atau kampung inipun Bernama Dumai.
Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata "d'umai" yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai.
Selain itu, ada beberapa nama tempat di kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.
B. Terbentuknya Kota Dumai
Tercatat dalam sejarah, pada era tahun 1930-an, Kota Dumai merupakan sebuah dusun nelayan kecil yang terdiri atas beberapa rumah nelayan di pesisir timur Propinsi Riau. Kini mulai menggeliat menjadi mutiara di pantai timur Sumatera. Kota Dumai dimana status Dumai adalah Kota Administratif. Pada awal pembentukannya, Kota Dumai hanya terdiri atas 3 kecamatan, 13 kelurahan dan 9 desa dengan jumlah penduduk hanya 15.699 jiwa dengan tingkat kepadatan 83,85 jiwa/km2. Penduduknya bertambah ketika Jepang mendatangkan kaum romusha (pekerja paksa jaman penjajahan Jepang) dari Jawa.
Berdasar PP No.8 Tahun 1979 tertanggal 11 April 1979, Dumai berubah status menjadi Kota Administratif (merupakan kota administratif pertama di Sumatera dan ke-11 di Indonesia) di bawah Kabupaten Daerah Tingkat (Dati) II Bengkalis sampai tahun 1998. Kini Dumai telah berubah status menjadi Kotamadya sehingga menjadi Kotamadya Dati. II Dumai. Seiring perkembangan politik di Indonesia, berdasar UU No. 22 Tahun 1999 maka Kotamadya Dumai berubah menjadi Kota Dumai.
Masa jabatan Walikota Dumai pertama dari tanggal 27 April 1999 sehingga tanggal 27 April dijadikan hari ulang tahun Kota Dumai. Beberapa aspek filosofis yang cukup mendasar atas peningkatan status Dumai dalam pengelolaan wilayah administrasi pemerintahan adalah untuk memperpendek rentang kendali, mempercepat tingkat pelayanan dan memperbesar peran masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan, pengelolaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat, disamping menangkap peluang pengembangan ekonomi.
Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1982. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari lampu-lampu gemerlapan bagai permata bewrsinar berkilauan. Di dalam sejarah, kota Dumai pernah menjadi kota paling luas nomor dua di Indonesia setelah Kota Manokwari, di Papua. Akan tetapi, semenjak Kota Manokwari tersebut pecah dan kemudian terbentuk kabupaten Wasior, maka Kota Dumai pun menjadi kota terluas di Indonesia.
C. Peninggalan Sejarah di Kota Dumai
Di setiap daerah pasti memiliki cerita dan peninggalan sejarah yang beranekaragam. Keanekaragaman inilah yang membuat suatu daerah itu mempunyai daya tarik tersendiri. Begitu juga di Kota Dumai yang banyak memiliki cerita dan peninggalan sejarah yang begitu menarik.
1. Goa Pelintung
Terletak di Kelurahan Pelintung, Kecamatan Medang Kampai. Lokasinya sekitar 35 Km. dari pusat kota. Goa ini dikenal juga dengan Bukit Kerudung (menyerupai kerudung). Konon menurut cerita rakyat, dulunya adalah tempat penyimpanan harta hasil perompakan oleh bajak laut Negeri Siam. Konon dulu di kampong Puak pernah di datangi oleh Armada yang berasal dari Siam. Armada Siam itu adalah perampok kapal kapal yang ada di kawasan selat Malaka. Kedatangan perampok Siam di kampong Puak untuk menyimpan harta harta hasil rampokan mereka. Kisah ini bermula dari suatu gua yang berbentuk bukit. Cerita rakyat yang berkembang di bukit itu dinamakan bukit kerudung. Bukit ini terdapat di kelurahan pelintung, kecamatan Medang Kampai kota Dumai.
2. Makam Syech Umar dan Batu Beranak
Beliau adalah orang yang berkepribadiaan yang amat luhur, serta zuhud dan wara. Beliau adalah orang yang ikut serta dalam pembangun mesjid Agung Al-Karomah martapura.
3. Makam Siti Laot Dahulu,
Ada seorang wanita yang setia terhadap raja, kesetiannya disaat menuntunkan Lancang Kuning atau perahu yang membutuhkan wanita hamil jolong (baru pertama kali hamil) untuk dijadikan galang Lancang atau perahu. Alkisah Siti Laot yang dikala itu hamil, bersedia dijadikan galang Lancang untuk menurunkan lancang kuning tersebut. Siti Laot dimakamkan di Keluharan Pangkalan Sesai yang kemudian makamnya dijadikan situs sejarah.
4. Batu Tapak Harimau Asuhan Datuk Pawang Leon
Menurut cerita warga setempat, tapak harimau sakti ini merupakan tapak harimau asuhan Datuk Pawang Leon. Harimau ini memiliki kesaktian yang luar biasa untuk mengusir dan menghadapi musuhnya, hanya dengan sekali hentakan kakinya pada sebuah batu harimau tersebut bisa mengalahkan musuhnya. Hingga kini bekas hentakan kaki tersebut masih membekas di sebuah batu. Situs ini berada di kelurahan Pelintung Kecamatan Medang Kampai sekitar 25 km dari pusat kota.
5. Makam Pawang Leon
Berada di sekitar 25 km dari pusat kota. Pawang Leon adalah seorang yang memiliki kesaktian sebagai peneroka yang sebelumnya tidak mampu membuka Kampung Pelintung, namun beliau mampu melakukan bersama harimau asuhannya serta para pengikutnya. Objek wisata Makan Datuk Pawang Leon terletak di kawasan jalan lintas antara Kota Pakning dan Dumai. Atau sekitar 25 km dari pusat Kota Dumai, tepatnya di daerah Pelintung. Terletak di daerah perbukitan tinggi di tepian jalan raya, sekitar 20 meter di atas jalan raya. Untuk bisa sampai ke kawasan situs sejarah ini, pengunjung hanya bisa menggunakan kendaraan pribadi karena tidak ada angkutan umum yang melintasi jalan tersebut. Bahkan area ini juga nyaris tak memiliki lahan parkir. Para pengunjung menggunakan sebagian badan jalan untuk memarkinkan kendaraan. Di plank tersebut juga dijelaskan siapa Datuk Pawang Leon dan asal usulnya. Untuk mengunjungi area ini, tidak dipungut bayaran alias gratis. Hanya saja memang terkesan kurang terawat dan kurang memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Dengan ditetapkannya Makam Datuk Pawang Leon sebagai bagian dari peta wisata Kota Dumai, diharapkan kawasan ini bisa lebih ditata lebih baik, sehingga para pengunjung yang ingin mendapatkan informasi bukti sejarah bisa memperolehnya dengan mudah dan lengkap. Pengunjung juga bisa lebih nyaman dan tentunya tetap memperhatikan aspek-aspek keamanan saat mengunjungi.
6. Pesanggrahan Puteri Tujuh
Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.
![]() |
| Pesanggerahan Putri Tujuh, Dumai |
7. Makam Ayahanda Puteri Tujuh ( 1776 - 1856 / 1196 - 1276 H )
![]() |
| Makam Tok Kedondong Dumai |
8. Makam Tok Kedondong Di Kawasan Patra Dock Dumai.
Malangnya, tak satupun tempat rekreasi itu dapat kami kunjungi, kecuali hutan belantara yang kini berubah juga sebagai tempat rekreasi.
End..
































