Kamis, 21 November 2019

PERJALANAN DINAS PEKANBARU, RENGAT DAN TEMBILAHAN

Perjalanan Dinas Pekanbaru, Rengat danTembilahan


Ada lima kali kami ke Tembilahan dan Rengat ini. Yang pertama dan yang kedua adalah perjalanan Dinas bersama Psikolog dari Padang, untuk mengetest psikologi calon satpam di Tembilahan, yang ketiga dalam rangka pengawasan teknik pesawat morse dan operasional rutin, yang keempat memasang kanal-kanal VFT (Voice Freqwency Telepgrap) di Tembilahan.yang kelima memasang sistem alarm signal VFT yang terganggu buatan team teknik Pekanbaru sendiri. test penyambungan mesin telex (teleprinter exchange, komunikasi text real time via mesin teleprinter dengan sistem akses by dialed, telex signaling system CCITT) di setiap perbankan, BRI di Tembilahan dan menyusul BNI,  terakhir di Rengat ada BRI dan BNI. Kedua Peta ini menunjukkan rute perjalanan itu. 

Peta Perjalanan Pekanbaru, Rengat, Tembilahan
Untuk menghindari waktu perjalanan yang panjang, 7 jam 40 menit, biasanya kami menggunakan pesawat udara, Pekanbaru - Rengat dengan pesawat kecil, 30 menit, muatan 14 penumpang termasuk pilotnya. Kami turun di laparang terbang Rengat, Japura Airport. Kalau ada pertemuan dengan pelanggan di Rengat, biasanya kami jumpai setelah dari Tembilahan, sambil menunggu pesawat tinggal landas esok harinya dari Rengat ke Pekanbaru.

Perjalanan Dengan Speedboat.

Ada nota dari WITEL II, agar segera menemani Ibu Psikolog dari Padang Ke TEMBILAHAN. Kami diperintahkan untuk menemani dan mengawal beliau sampai di Tembilahan, dan kembali lagi ke Pekanbaru, dalam rangka mengetest calon SATPAM Telkom di Tembilahan. Di Pelabuhan udara Simpang tiga, beliau ibu psikolog telkom ini, menginap dulu semalam di Hotel, karena harus menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan pesawat ke Rengat.****

Pagi sekali, pak Anwar supir kantor sudah menjemput ke rumah di Jl. Mangga. Selanjutnya menjemput ibu Psikolognya di Mess TELKOM Jl. Merbabu, melaju ke arah Lepangan Terbang di Simpang Tiga. Tiket sudah diurus oleh karyawan yang ada, dan kami tinggal cek in saja.

Terbang dengan pesawat kecil, kru pesawat dirangkap oleh pilotnya, atau teknisinya kalau ada. di udara kami hanya melihat titik-titik kendaraan yang melaju dari Pekan baru - Taluk kuantan, atau taluk kuantan ke Air Molek.  Juga kota Rengat ke hulunya terlihat sungai kampar dan kearah hilir, kearah kota Tembilahan, terlihat bagian dari taman nasional Bukit 30, hutan belantara dan sedikit ada danau yang membiru, ditengah hutan belantara itu.
Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Kala itu belum ada hutan kelapa sawit. Sayup-sayup dari udara.terlihat pula kota Taluk Kuantan, dan beberapa perahu di Sungai Kampar, kota dan sungai yang terkenal dengan pacu jalurnya.  Setelah setengah jam di udara, kami mendarat di Bandara Kota Rengat, JAPURA.Dengan taksi lokal kami bergerak ke arah Air Molek menyeberang sungai dengan berjalan kaki ke seberang melewati jembatan darurat, dimana Speedbaot yang membawa kami ke Tembilhan menunggu di sana.






Perjalanan Air Molek - Tembilahan dengan speedboat

Ketika itu, sekitar tahun 1985, perjalanan darat ke Tembilahan belum ada, satu-satunya adalah lintas sungai Batang Indragiri dari Air Molek dengan speedboat, atau lewat laut lepas, dari Batam, Tanjung Pinang, atau kota-kota di kepulauan sekitarnya.
Jembatan Baru Air molek Dusun Tua - Rengat.
Dibelakangnya terlihat dermaga speedboat
Dengan adanya lintas Darat Pekanbaru Tembilahan penyeberangan dengan kapal tunda sudah tidak ada, 

Jembatannya Dari Dusun Tua Air m
Molek ke arah Rengat bisa terlihat seperti ini. Dibelakangnya ada pelabuhan speedboat, mungkin masih ada yang menggunakannya. Biasanya kami menunggu hingga penumpang penuh, sambil menikmati penyeberangan bus dari arah Air Molek Ke Rengat dangan kapal penyeberangan di Dusun Tua.  

Karena perlu waktu yang lebih singkat, kami memborong sebuah speedboat dengan tiga penumpang, kami berdua bersama ibu psikolog dan seorang lagi penumpang lain yang setuju memborong, walau ia berkeberatan menambah biaya selain biaya satu orang penumpang. Kamipun memborong sisa tempat duduk penumpang yang 5 orang lagi. dan berangkat. 
Pelabuhan Lama di tepi Sungai.

Karena masih ada penumpang yang memaksa ikut, walaupun sudah kami borong, pengemudi speedboat tanpa bertanya kepada kami apakah boleh menaikkan penumpang, dengan seenaknya saja ia menaikkan penumpang. Tak lama kemudian, mesin speed boat dihudupkan, haluannya diarahkan driver ke hilir, menuju Tembilahan dan perlahan bergerak meluruskan arah speedboat dengan sungai untuk kemudian meningkatkan kecepatannya, meninggalkan pelabuhan lama Dusun Tua. Speedboat terus melaju,  berbelok kiri dan kanan, lurus mengikuti alur lintasan sungai, menghindari penghalang pohon yang menjorok kesungai, sampai akhirnya  mendarat di Pelabuhan Lama Tembilahan. 

Beginilah Speedboat Airmolek - Tembilahan
Dari sisi speedboat yang terlihat adalah hutan belantara dan hutan kelapa, Hutan belantara ini adalah bagian dari taman Nasional  Bukit 30. Hutan kelapa yang di antaranya banyak sungai-sungai, yang menurut istilah orang di sana adalah parit-parit. Konon parit-parit ini diperlukan untuk mengairi perkebunan kelapa yang sangat luas. Perkebunan kelapa di Kabupaten Tembilahan, termasuk Kuala Enok, adalah  perkebunan kelapa terluas yang ada di Indonesia dan dunia.
Kebun Kelapadi sepanjang lintasan sungai Kampar
Di sepanjang sungai yang kami tempuh, ada pula desa-sesa kecil, selain Tempuling. Jika ada telegram yang harus ditujukan atau diantarkan kesana, kami hanya menitipkan kepada petugas telegrap Rengat utk dititipkan kepada Kepala Desa di Tempuling, lalu kepala desa inilah yang berinisiaptip mengantarkannya ke alamat, yang hanya dia yang mengetahuinya. Ada kalanya sampai, ada pula kalanya tidak. Tidak terbayangkan ketika itu, kalau sakit, berapa lama mereka akan mencapai kota Rengat?
Bakau sungai, ketika air surut
Karena memikirkan hal tersebut, dan indahnya perjalan sungai yang lebar, di sisinya banyak terlihat rawa dan pohon bakau, banyak pula burung beterbangan di udara. Sesekali kelihatan juga monyet, lalu tibalah kami di Tembilahan setelah 90 menit menyusuri sungai. .
Ketika itu air sedang surut, kami harus mendaki tangga khusus dari speedboat ke darat, yang kalau kurang lihai atau kalau sudah tidak terlatih, bisa jatuh terjerembab ke tepi sungai. Untungnya banyak petugas yang suka rela menolong, begitu pula petugas TELKOM yang telah diberitahu, datang menjemput kami.

Seperti inilah pelabuhan speedboat di Tembilahan, dulu

Pengalaman yang mengerikan.

Perjalanan ketiga masih menemani ibu Psikolog, perjalanan ke empat memasang Alarm sistem VFT, kami pulang berpisah dengan team teknis, pulang sendiri. Kebetulan sungai lagi surut, driver speedboat harus super hati-hati terhadap adanya pohon yang terendam dalam air yang tidak terlihat. Benar saja, di tengah perjalanan, di sisi kiri dan kanan kelihatan akar pohon bakau yang muncul, dan lebar sungai menyusut. Dengan kecepatan sedang saja, speedboat melaju dengan tenangnya, sangat berhati-harti sambil meyakinkannya walaupun tidak terlihat adanya batang pohon yang terendam dalam air. Tetiba, speedboat mendongak keatas, hampir saja semua terlempar ke sungai, tapi alhamdulillah, driver speedboatnya rupanya telah berpengalaman, mesin langsung dimatikan, sehingga speed boat tidak terbalik serta tidak terlalu jauh menggeser dari arah tujuan. Mesin yang mati dibiarkan dulu agar semua tenang, didayung ke tepi. Setelah tenang, dan setelah semua penumpang diperiksa dan lengkap, mesin speedboat dihidupkan kembali, lalu mengambil posisi ke arah Air Molek, melaju dengan tenang dan tiba dengan selamat di Dusun Tua Air Molek. Demikianlah, tidak banyak yang dikisahkan lagi untuk perjalanan selanjutnya.

Peta Lokasi Kantor Telkom Tembilahan

Sebagai Tambahan, kami lampirkan alamat kantor Telekom terkahir di Tembilahan.






































1 komentar: