Lanjutan Buku RATNA MUTU MANIKAM (2)
PEMATANGSIANTAR
Kota Tempat Bermanja Keluarga
Pematangsiantar berhawa sejuk, kota yang subur, indah dan hijau, kota kedua terbesar di Sumatera Utara. Terletak dikaki bukit pegunungan Bukit Barisan, 118 km ke arah selatan Kota Medan, dan 48 km dari arah
Parapat kota wisata di tepi Danau Toba yang terkenal itu.
Di tengah kota mengalir sungai Bah Bolon. Selain untuk kepentingan lain juga digunakan untuk pengairan sawah dan tempat rekreasi. Sungai itu juga digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan pabrik es, khusus untuk penduduk kota. Kini pembangkit listrik sudah tidak dipakai lagi.
Jalan utamanya adalah Jalan Sutomo sejajar dengan Jalan Merdeka. Keduanya adalah pusat kegiatan ekonomi. Di Jalan Sutomo terletak Ru-mah Sakit Umum Pematangsiantar. Rumah sakit yang sangat luas, dikelilingi pohon-pohon rimbun, pohon cemara dan lain-lain, sebelum dikembangkan tahun 2009 yang lalu.
![]() |
| Gambar 4. Gerbang Rumah Sakit Umum Pematangsiantar |
Bangunannya adalah bangunan peninggalan Belanda. Gerbang rumah sakit itu berjarak kira-kira lima ratus meter dari Jalan Sutomo. Jalan masuknya rindang diteduhi pohon cemara. Rumah sakit yang sangat indah, hijau dan asri. Di seberang depan gerbang rumah sakit ada taman berbentuk bulat agak lonjong dikelingi jalan memutar.
Di seberang jalan taman banyak pedagang makanan seperti: sate padang, lontong kari, pecal, lemang, pisang goreng, ubi goreng dan lain-lain, terutama di pagi hari. Mereka menggunakan kereta dorong. Ada juga yang dijunjung atau digendong seperti halnya pedagang makanan dan minuman khas suku Jawa, karena memang sebagian pedagangnya banyak suku Jawa. Suku Jawa ini terkenal dengan sebutan puja kesuma, singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Pedagang ini sangat dibutuhkan oleh pengunjung rumah sakit, terutama ketika menunggu giliran dipanggil menghadap dokter, memerlukan waktu yang cukup lama, bisa satu sampai satu setengah jam, karena pasiennya banyak sekali. Maklum, hampir seluruh kampung disekitar kota dan sebagian dari kabupaten berobat ke sini. Peralatannya sudah cukup lengkap. Biaya berobatnya murah, sehingga terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Ia sering dibawa ibunya berobat ke rumah sakit ini. Ketika itu sebagian dokternya masih ada warga negara Belanda. Di kompleks rumah sakit ada juga rumah dinas dokter dan ada bangunan untuk asrama perawat dan bidan.
Gedung-gedung pusat pemerintahan dan perwakilan rakyat terletak di Jalan Merdeka.
![]() |
Pasar Pajak Horas |
Pasar sayur mayur, pasar daging sapi dan babi terpisah, jelas tempatnya. Demikian juga untuk penjualan kain, barang kelontong, sepatu dan rumah makan diatur sedemikian rupa sehingga kelihatannya saling melengkapi dan terletak sesuai dengan peruntukannya. Pada salah satu los terbesarnya masih tertulis ANNO 1926. Sesudah pasar Pajak Horas terbakar, tulisan itu juga ikut terhapus karena los dimana tulisan itu berada, juga terbakar.
Dibelakang taman terletak Hotel Siantar dengan lingkungannya yang hijau, dilindungi oleh pohon-pohon tinggi, sehingga terasa sangat asri. Kalau ada tamu-tamu penting biasanya menginap di Siantar Hotel ini. Ada sekolah-sekolah yang berdiri di sisi kedua Jalan Itu.
![]() |
| Gambar 7. Lapangan Pagoda |
Di tengah kota tepatnya di Jalan Thamrin, dulu terdapat pabrik rokok, permen, kacang kering dan kopi. Dari ujung Timur Jalan Sutomo sampai dengan depan Rumah Sakit Umum ada pohon-pohon pelindung dipinggir jalan. Di persimpangan Jalan Sutomo dengan Jalan Pattimura ada penjara di sebelah kiri dan terminal bus Pantoan untuk terminal antarkota di sebelah kanan. Kini pohon, terminal bus dan pabrik itu sudah tidak ada lagi. Di ujung paling Barat terdapat dua buah bioskop terkenal yakni Bioskop Ria dan Riang. Persimpangan dengan jalan Sekolah ada toko serba ada, namanya toko De Zoon. Toko-toko buku yang besar, rumah makan dan kedai kopi, kedai minuman panas dan dingin yang lezat rasanya, banyak terdapat di Jalan Cipto. Di sebelah Barat kota, tepatnya ke arah Parapat dan Sidamanik masih banyak terdapat mata air yang bersih dengan debit air yang cukup melimpah. PDAM setempat mengolah dan mengalirkannya ke rumah penduduk.
Ciri khas kota ini adalah becak, alat angkut yang dibuat dari motor besar. Sering disebut orang sebagai Becak Siantar. Tempat duduk penumpang dicantelkan ke motor di sebelah kiri pengemudi. Motor besar yang dipergunakan adalah merek BSA, Ariel dan lain-lain. Penumpangnya dua orang, nyaman sekali diduduki ketika sedang berjalan karena sistem peredam getar atau shock-absorbernya terbuat dari per keong atau per ulir yang lembut.
![]() |
Gambar 11. Angkutan Kota Sinar Siantar |
Terminal bus jarak dekat itu berada di jalan sekeliling pasar, kecuali itu tidak diperkenankan berhenti di jalan Sutomo dan jalan Merdeka.
Untuk jarak jauh, alat transportasi itu ditempatkan di
terminal Parluasan di sebelah arah ke utara, yang lain-lain terminalnya di terminal Pantoan. Ke arah Medan ada angkutan Kereta Api dan Bus, ke arah Parapat, Balige, Tarutung dan daerah Tapanuli ada bus PMH, singkatan dari Persatuan Motor Horas. Juga menghubungkan Pematangsiantar dengan kota-kota Kisaran, Tanjung Balai dan Rantau Perapat. Bus jarak jauh Padang Sidempuan-Medan yang biasanya melintasi Pematangsiantar menggunakan bus ALS, singkatan dari Antar Lintas Sumatra, milik pengusaha pribumi.
Di perbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Deli Serdang (sekarang dengan Kabupaten Serdang Bedagai), banyak dan luas sekali sawah bersusun-susun, ladang dan perkebunan penduduk, kopi, sayur dan kelapa.
![]() |
Gambar 12 Pemandangan indah Perkebunan Teh Sidamanik |
![]() |
Gamar 13. Buah Nenas Sidamanik |
![]() |
| Gambar 14. Air Terjun Bah Biak |
![]() |
| Gambar 15. Kelapa sawit dengan buahnya |
Ketika berkendaraan dari kota Tebing-Tinggi ke Pematangsiantar, akan terlihatlah perkebunan karet atau pohon rambong, penghasil getah karet.
![]() |
| Gambar 16. Perekbunan karet dengan pohon Rambong |
Juga terlihat perkebunan kelapa sawit di kiri kanan jalan. Pada gambar terlihat perkebunan kelapa sawit di waktu pagi, di sisi saluran SUTET Perusahaan Listrik Negara.
![]() |
Gambar 17. Perkebunan Kelapa sawti disisi SUTET PLN. |
![]() |
Gambar 19. Perkebunan Kelapa Sawit |
Dinginnya udara mulai terasa disini, pertanda bahwa kita akan segera tiba di kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk itu.
Toko-toko di Pematangsiantar sudah cukup lengkap, karena semua penduduk di sekeliling kota dan kabupaten-kabupaten yang berbatasan dengannya selalu membeli keperluan sekolah dan keperluan hidup sehari-hari ke kota ini.
Bermacam-macam sekolah juga tersedia disini, baik Sekolah Kejuruan Teknik (ST dan STM, ST kini berubah menjadi SMP Plus, SMP Negeri 12), Ekonomi (SMEP, kini berubah menjadi SMP Plus dan SMEA), Sekolah Umum (SMP dan SMA), Sekolah Guru (SGB (kini sudah takada lagi), dan SGA) negeri maupun swasta seperti Muhammadiyah, Katholik, Kristen Protestan dan Madrasah Alwashliyah. Juga Perguruan Tinggi Agama Islam UISU Cabang Medan dan perguruan tinggi agama Kristen Protestan, Universitas Nommensen. Buku-buku untuk sekolah-sekolah itu banyak tersedia di sini.
Bermacam-macam sekolah juga tersedia disini, baik Sekolah Kejuruan Teknik (ST dan STM, ST kini berubah menjadi SMP Plus, SMP Negeri 12), Ekonomi (SMEP, kini berubah menjadi SMP Plus dan SMEA), Sekolah Umum (SMP dan SMA), Sekolah Guru (SGB (kini sudah takada lagi), dan SGA) negeri maupun swasta seperti Muhammadiyah, Katholik, Kristen Protestan dan Madrasah Alwashliyah. Juga Perguruan Tinggi Agama Islam UISU Cabang Medan dan perguruan tinggi agama Kristen Protestan, Universitas Nommensen. Buku-buku untuk sekolah-sekolah itu banyak tersedia di sini.
Kota ini adalah salah satu kota perjuangan melawan Belanda, tempat kelahiran tokoh nasional. salah satunya adalah Adam Malik. Salah satu nama jalan dan lapangan upacara di kota ini sekarang dinamai Jalan dan Lapangan Adam Malik. Penduduknya adalah campuran atau multi etnis, suku Jawa, suku Batak (Toba, Dairi, Karo, Simalungun, Sipirok Angkola, Mandailing), suku Minang, suku Melayu Deli dan sedikit orang Arab, Cina dan India.
Oleh karena itu, terkenallah nama-nama kampung berdasarkan suku dan agama, diantaranya ada Kampung Melayu (banyak dihuni penduduk yang beragama Islam karena Melayu disana identik dengan Islam), Kampung Kristen (banyak dihuni oleh penduduk beragama Kristen), Kampung Bantan (banyak dihuni suku dari Jawa, Banten atau Sunda), Kampung Keling (banyak dihuni oleh orang India hitam), Kampung Karo (banyak dihuni oleh suku Batak Karo), Kampung Pematang (banyak dihuni Batak Simalungun), Timbang Galung, Kampung Baru, Martoba dan lain-lain.
![]() |
| Mesjid Raya Timbang galung |
Pada waktu itu, mereka sekeluarga bertempat tinggal di Jalan Daliltani nomor 41 Kampung Tomuan, salah satu bagian dari kecamatan Siantar Timur di kota itu. Konon, nama Tomuan adalah nama kampung pertemuan bermacam-macam suku dan penganut agama disana. Perumahan masih sepi, disepanjang Jalan Daliltani yang kurang lebih panjangnya dua kilometer, baru berdiri sedikit rumah. Ujung Jalan Daliltani pada mulanya hanya dari persimpangan Jalan Narumonda, kini telah diperpanjang ke hulu bercabang dua, satu cabang ke kanan tembus ke Jalan Pane, cabang ke kiri tembus ke kampung Karo. Ke hilir, jalan itu berujung di sekitar arah perkampungan Lapangan Bola, masih dipisahkan oleh sungai Bah Sorma. Jalan penghubung sudah ada menggunakan jembatan kayu. Karena sering rusak, jembatannya jarang dipergunakan dan sangat riskan jika dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu, penurunan dan pendakian dari dan ke sisi jembatan itu sangat curam. Kini sudah dibangun jembatan dengan sistem gorong-gorong dan dari sisi kiri dan kanan ditimbun, sehingga pendakian dan penurunan dari kedua sisi sudah tidak ada lagi. Jalannya sudah mendatar dan sudah ramai dilalui oleh kendaraan.
Sederetan dengan rumah mereka, dari Jalan Narumonda kearah hilir, di kiri jalan hanya ada delapan rumah. Di seberang jalan, ada tiga rumah dengan halaman yang cukup luas, perumahan orang yang lebih dulu berada dan sudah lebih dulu tinggal di sana. Selainnya masih semak belukar, perkebunan karet, ladang penduduk dan sedikit perumahan yang baru dibuka. Tidak jauh ke arah belakang rumah, kira-kira limaratus meter ada rumah sepupu nenek (nenek menurut bahasa Melayu Deli adalah panggilan untuk kakek dan nenek baik dari pihak ibu, maupn pihak ayah. Untuk kakek disebut nenek laki-laki dan yang perempuan disebut nenek perempuan),
dari silsilah ibunya, nenek M. Dahlan bermarga Pulungan. Rumah itu menghadap ke jalan Pattimura. Halamannya luas, banyak ditanami bunga hebra berwarna-warni. Mereka berasal dari kelompok orang dari Mandailing Tapanuli Selatan, penganjur agama Isalm di kota Pematang-siantar, terutama di kampung Tomuan. Tanah dibelakang rumah itu adalah tanah milik nenek ini, sangat luas hampir dua hektar.
Di Jalan Pattimura ketika itu masih ada kereta api kecil lengkap dengan relnya, merupakan alat transportasi hasil dari perkebunan ke stasiun Kereta Api mini di kota. Penduduk setempat menyebutnya muntik.
![]() |
| Gambar 22. Kereta Api mini |
“Tuiiiit…..tuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit….tuiiit” begitu suara yang terdengar ketika kereta ini setiap pagi lewat di Jalan Pattimura.
Lalu ibunya mengingatkan,
“Nur, sudah siap berangkat ke sekolah? Muntik sudah lewat, sebentar lagi setengah delapan, lonceng sekolah segera berbunyi”, ibunya menyambung.
“Jangan sering terlambat, nanti kau ketinggalan pelajaran”, tambahnya.
”Ya mak..!”, Ia menyahut mempersiapkan diri, lalu berangkat sekolah.
Ketika pukul tujuh pagi muntik melewati jalan Pattimura, diiringi desah mesin lokomotipnya, menarik bergerbong-gerbong muatan penuh karet atau kelapa sawit ke arah stasiun Kereta Api.
![]() |
| Gambar 23. Stasiun KA Siantar |
Salah satu gerbongnya adalah gerbong yang mengangkut anak sekolah atau pelajar yang bersekolah di kota Pematangsiantar. Ada anak sekolah SD, ada SMP dan SMA, ST dan STM ada SGB dan SGA, ada pula SMEP dan SMEA yang turut serta dalam perjalanan ini. Itu sebabnya kereta muntik ini selalu datang ke kota pada pukul tujuh secara teratur. Begitu juga ketika pulang, siang hari pukul dua belas, pukul dua dan terakhir pukul lima sore hari. Bahan bakar lokomotipnya sebagian masih kayu bakar untuk menghasilkan uap penggerak mesin, sebagian lagi menggunakan mesin diesel dengan bahan bakar solar.
Ia dan teman-temannya masih sering mengikuti kereta api mini ini ketika ingin berjalan-jalan atau melancong ke perkebunan Marihat. Atau sekedar menumpang ke Masjid kampung Tomuan Hilir yang dekat dengan lintasannya.
Sejak tahun 1962 kereta muntik itu sudah tidak ada. Digantikan oleh truk-truk besar yang lebih bebas pemakaian dan pemilihan rute-rute yang ditempuh, serta pemeliharaan jalan yang lebih sederhana karena tidak perlu memelihara jalan rel kereta muntik ini.
![]() |
| Gambar 24. Buah Manggis muda |
![]() |
Gambar 25. Karamunting, bunga dan buahnya |
Di belakang rumah antara Jalan Daliltani dengan Jalan Pattimura, masih ada hutan semak belukar dan sedikit sisa hutan lebat. Disana masih ada pohon asam belimbing, pohon kelapa, pohon manggis, pohon langsat, rambutan, mangga, pinang, dan nangka. Di sana sini ada pohon perdu yang oleh penduduk setempat dinamakan dengan daun senduduk (Karamunting), khas kekayaan hutan dan semak belukar Pulau Sumatra. Pucuk daunnya bisa dipergunakan sebagai obat sakit perut yang mencret-mencret. Rasanya agak manis, ada kelat-sepat, rasa yang menciutkan rongga mulut ketika dikunyah sebelum ditelan. Khasiatnya hampir sama dengan pucuk daun jambu batu. Cuma rasa pucuk daun jambu batu ini pahit sekali.
![]() |
Gambar 26. Pohon petai dan buahnya |
![]() |
| Sarang Burung Tempua di pelepah daun kelapa yang tinggi |
Di semak belukar bisa dijumpai sarang burung pipit, burung puyuh dan kadang-kadang masih bisa dijumpai sarang ayam hutan. Kucing peliharaan mereka sering menangkap burung puyuh dan membawanya pulang ke rumah, ada yang sudah mati tapi ada juga yang masih hidup. Dan tidak ketinggalan banyak monyet pagi hari.
Jalan pintas dari arah Jalan Daliltani ke Jalan Pattimura melintas di bawah hutan yang berdaun sangat lebat ini. Saking lebatnya, di siang hari matahari tidak terlihat dari bawah. Kalau malam hari, persis dibawah pohon yang lebat ini gelap gulita. ***
Sejarah Kota Pematangsiantar
Pada tanggal 24 April 2011 kota Pematangsiantar kini telah berumur 140 tahun. Kota ini pernah berprestasi secara nasional. Atas kebersihan dan kelestarian lingkungannya, pada tahun 1993 kota ini telah menerima Piala Adipura. Sementara itu, karena ketertiban pengaturan lalu lintasnya, pada tahun 1996 telah meraih penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha. Sampai sekarang beberapa prestasi telah pernah dicapai kota ini.
Kota Pematangsiantar terletak pada garis 3°01’09” sampai 2°54’40” Lintang Utara dan 99°6’23” sampai 99°1’10” Bujur Timur, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dengan luas 79,97 kilometer persegi. Kota ini terletak 400 meter di atas permukaan laut. Pada waktu siang atau malam hari, kehidupan dan aktivitas masyarakatnya tak pernah surut. Siang hari penduduk disekitar kota yang datang dari Kabupaten Simalungun dan daerah-daerah terdekat lainnya, seperti Seribudolok, Tigaras, Sidamanik, Perdagangan, Bahjambi, Bandar, Serbelawan dan lain-lain datang berbelanja pagi dan siang hari untuk keperluan hidup sehari-hari. Menjelang tengah malam, masih banyak restoran dan rumah makan yang buka sampai pukul sebelas malam. Mulai pukul satu esok paginya dari desa sekeliling banyak berdatangan atau masuk barang-barang dagangan di pasar Pajak Horas yang akan diperjual belikan pagi, siang dan sore hari. Dengan udara yang sejuk dan air yang bening dan melimpah dimana-mana, kehidupan di kota ini aman, makmur, tertib dan tenteram. Keadaan yang dapat menghidupkan perekonomian dan kesehatan masyarakatnya.
Dengan keadaan tersebut, kota Pematangsiantar mempunyai nilai tersendiri yang baik untuk menanamkan modal atau berinvestasi. Karena disamping aman, tertib dan tenteram, jumlah penduduk sebagai tenaga kerja multi-etnis yang relatif banyak, berpendidikan, kemampuan kerja yang baik dan juga bahan baku yang mencukupi. Khususnya yang berasal dari interland daerah sekelilingnya. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, Pematangsiantar berpenduduk 240.831 jiwa yang menjadikannya kota kedua terbesar setelah Medan, ibu kota Sumatera Utara. Penduduknya terdiri dari campuran beberapa etnis, dengan 49,6 persen dari etnis Batak Toba, 14,2 persen dari etnis Jawa dan 11,43 persen dari etnis Batak Simalungun. Etnis lain kurang dari 10 persen masing-masing dari Melayu, Batak Mandailing, Batak Angkola atau Sipirok, Cina, Minang, Batak Karo, Batak Dairi dan lain-lain. Dari jumlah penduduk tersebut, terdapat angkatan kerja sekitar 85.000 jiwa dengan 86 persen yang bekerja pada lapangan kerja yang bervariasi.
Sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian kota ini adalah industri besar dan sedang. Dari total kegiatan ekonomi di tahun 1999 yang mencapai Rp 1,5 trilyun, pangsa sektor industri mencapai 38 persen atau Rp 593 milyar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyusul di urutan kedua, dengan sumbangan 22 persen atau Rp 335 milyar. Dari ketiga kegiatan di sektor ini, subsektor perdagangan memberikan pemasukan sampai Rp 300 milyar. Diantaranya adalah produksi oleh-oleh khas Pematangsiantar. Para turis atau pelancong yang mengendarai mobil dari Medan menuju ke Parapat dan Pulau Samosir yang terkenal sangat indah itu, banyak yang singgah barang sejenak di Pematangsiantar, untuk membeli oleh-oleh Teng-Teng, Sarikaya dan Bika Ambon khas Pematangisantar yang sangat lezat, semuanya diproduksi dari hasil pertanian di sekitar Kabupaten Simalungun.
Hasil industri andalan Kota Pematang Siantar adalah rokok putih, filter dan non-filter, serta tepung tapioka. Pada tahun 2000, dengan tenaga kerja sebanyak 2.700 orang, NV Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), produsen rokok yang berdiri sejak 1952, menghasilkan 11,06 milyar batang rokok putih filter dan 75 juta batang rokok putih non-filter. Dari seluruh hasil produksi rokok filter tersebut sebagian besar dijual ke luar negeri terutama ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur. Sisanya dijual di dalam negeri. Sementara itu, Taiwan menjadi negara tujuan penjualan tepung tapi-oka yang diproduksi kota ini.
Sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Pematangsiantar merupakan daerah kerajaan Siantar. Pematangsiantar pada awal-nya berkedudukan di Pulau Holing, suatu tempat di kampung Pematang sekarang, dan raja terakhir dari dinasti keturunan marga Damanik yaitu Tuan Sangnawaluh Damanik, yang memegang kekuasan sebagai raja tahun 1906. Disekitar Pulau Holing kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk, diantaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu:
- Pulau Holing menjadi Kampung Pematang
- Siantar Bayu menjadi Kampung Pusat Kota
- Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame, dan Bane.
- Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Kampung Karo, Kampung Tomuan, Pantoan, Toba dan Martimbang.
![]() |
Gambar 27. Peta Administrasi Kota Siantar |
Setelah Belanda memamusuki daerah Sumatera Utara, Simalungun menjadi daerah kekuasaan Belanda dan pada tahun 1907 kekuasaan raja-raja berakhir. Controleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, diantaranya Bangsa Cina, India dan lain-lain. Mereka banyak mendiami kampung Timbang Galung dan Kampung Melayu. Pada tahun 1910 didirikan Badan Persiapan Kota Pematangsiantar. Kemudian Pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Stad Blad No.285, Pematangsiantar berubah menjadi Geemente yang mempunyai otonomi sendiri. Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No.717 berubah menjadi Geemente yang mempunyai Dewan. Pada jaman Jepang berubah menjadi Siantar Estate dan Dewan dihapus. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Pematangsiantar kembali menjadi daerah Otonomi. Berdasarkan UU No.22/1948 status Geemente menjadi ibu kota Kabupaten Simalungun dan Walikota di rangkap oleh Bupati Simalungun sampai 1957. Berturut-turut Pematangsiantar mengalami perubahan menjadi Kota Praja penuh, menjadi Kotamadya dan dengan keluarnya UU No.5/1974 Tentang pokok-pokok pemerintah daerah, berubah lagi menjadi daerah tingkat II Kota Pematangsiantar sampai sekarang. ***
Ia dan seluruh keluarga besarnya, Nenek laki-laki dan perempuan, paman-paman, beberapa famili dan keluarga kampung yang menumpang, tinggal di Jalan Daliltani No. 41 Kampung Tomuan. Di sekitar kampung inilah cerita masa kecilnya berlangsung, sejak masih Sekolah Dasar, ST dan STM. Di sekitar Masjid, Sungai Bahbolon, Sekolah Dasar, Bah Sorma dan sawah. Kolam renang Swimbath (Sekarang menjadi Detis Sari Indah) di kampung Pematang, Jalan Cipto dan Pajak Horas ada di tengah kota, dan madrasah Alwashliyah berpusat di Timbang Galung. Bengkel sepeda mereka ada di Jalan Asahan, berhadapan langsung dengan rumah salah satu pendeta, pengajar di Universitas Nommensen.
Ke arah Kisaran, bertetangga dengan Universitas Nommensen, pernah ada pabrik Perusahaan Negara pengalengan nenas Sidamanik, sebagai hasil pampasan perang dengan Jepang. Nenas Sidamanik yang sangat terkenal manis, dari ujung sampai pangkal sama manisnya. Namun karena pengelolaanya yang kurang baik, tak lama kemudian pabrik itu tutup. Juga kelompok tanaman Nenas Sidamanik yang terkenal itu sudah tidak ada lagi, tinggal menjadi kenangan bagi mereka yang pernah mengalami kejayaannya.
******


























