Kamis, 22 Agustus 2019

PEMATANGSIANTAR Kota Tempat Bermanja Keluarga

Lanjutan Buku RATNA MUTU MANIKAM (2)

PEMATANGSIANTAR  
Kota Tempat Bermanja Keluarga






Pematangsiantar berhawa sejuk, kota yang subur, indah dan hijau, kota kedua terbesar di Sumatera Utara. Terletak dikaki bukit pegunungan Bukit Barisan, 118 km ke arah selatan Kota Medan, dan 48 km dari arah 
Parapat kota wisata di tepi Danau Toba yang terkenal itu. 
Di tengah kota mengalir sungai Bah Bolon. Selain untuk kepentingan lain juga digunakan untuk pengairan sawah dan tempat rekreasi. Sungai itu juga digunakan untuk pembangkit tenaga listrik dan pabrik es, khusus untuk penduduk kota. Kini pembangkit listrik sudah tidak dipakai lagi.
Jembatan Sungai Bahbolon

Jalan utamanya adalah Jalan Sutomo sejajar dengan Jalan Merdeka. Keduanya adalah pusat kegiatan ekonomi. Di Jalan Sutomo terletak Ru-mah Sakit Umum Pematangsiantar. Rumah sakit yang sangat luas, dikelilingi pohon-pohon rimbun, pohon cemara dan lain-lain, sebelum dikembangkan tahun 2009 yang lalu.

Gambar 4. Gerbang Rumah Sakit Umum Pematangsiantar
Bangunannya adalah bangunan peninggalan Belanda. Gerbang rumah sakit itu berjarak kira-kira lima ratus meter dari Jalan Sutomo. Jalan masuknya  rindang diteduhi pohon cemara. Rumah sakit yang sangat indah, hijau dan asri. Di seberang depan gerbang rumah sakit ada taman berbentuk bulat agak lonjong dikelingi jalan memutar. 
Di seberang jalan taman banyak pedagang makanan seperti: sate padang, lontong kari, pecal, lemang, pisang goreng, ubi goreng dan lain-lain, terutama di pagi hari. Mereka menggunakan kereta dorong. Ada juga yang dijunjung atau digendong seperti halnya pedagang makanan dan minuman khas suku Jawa, karena memang sebagian pedagangnya banyak suku Jawa. Suku Jawa ini terkenal dengan sebutan puja kesuma, singkatan dari Putra Jawa Kelahiran Sumatra. Pedagang ini sangat dibutuhkan oleh pengunjung rumah sakit, terutama ketika menunggu giliran dipanggil menghadap dokter, memerlukan waktu yang cukup lama, bisa satu sampai satu setengah jam, karena pasiennya banyak sekali. Maklum, hampir seluruh kampung disekitar kota dan sebagian dari kabupaten berobat ke sini. Peralatannya sudah cukup lengkap. Biaya berobatnya murah, sehingga terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah. 
Ia sering dibawa ibunya berobat ke rumah sakit ini. Ketika itu sebagian dokternya masih ada warga negara Belanda. Di kompleks rumah sakit ada juga rumah dinas dokter dan ada bangunan untuk asrama perawat dan bidan.
Gedung-gedung pusat pemerintahan dan perwakilan rakyat terletak di Jalan Merdeka. 


Pasar Pajak Horas
Pasar tradisional, Pajak Horas, terletak antara Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka, juga masih peninggalan Belanda, pasar yang luas yang terdiri dari beberapa los-los atau blok yang teratur. 
Pasar sayur mayur, pasar daging sapi dan babi terpisah, jelas tempatnya. Demikian juga untuk penjualan kain, barang kelontong, sepatu dan rumah makan diatur sedemikian rupa sehingga kelihatannya saling melengkapi dan terletak sesuai dengan peruntukannya. Pada salah satu los terbesarnya masih tertulis ANNO 1926. Sesudah pasar Pajak Horas terbakar, tulisan itu juga ikut terhapus karena los dimana tulisan itu berada, juga terbakar.

Lapangan Taman Bunga atau Lapangan Pagoda, terletak di Jalan Merdeka.
Dibelakang taman terletak Hotel Siantar dengan lingkungannya yang hijau, dilindungi oleh pohon-pohon tinggi, sehingga terasa sangat asri. Kalau ada tamu-tamu penting biasanya menginap di Siantar Hotel ini. Ada sekolah-sekolah yang berdiri di sisi kedua Jalan Itu. 

Gambar 7. Lapangan Pagoda 
Di tengah kota tepatnya di Jalan Thamrin,  dulu terdapat pabrik rokok, permen, kacang kering dan kopi. Dari ujung Timur Jalan Sutomo sampai dengan depan Rumah Sakit Umum ada pohon-pohon pelindung dipinggir jalan. Di persimpangan Jalan Sutomo dengan Jalan Pattimura ada penjara di sebelah kiri dan terminal bus Pantoan untuk terminal antarkota di sebelah kanan. Kini pohon, terminal bus dan pabrik itu sudah tidak ada lagi. Di ujung paling Barat terdapat dua buah bioskop terkenal yakni Bioskop Ria dan Riang. Persimpangan dengan jalan Sekolah ada toko serba ada, namanya toko De Zoon. Toko-toko buku yang besar, rumah makan dan kedai kopi, kedai minuman panas dan dingin yang lezat rasanya, banyak terdapat di Jalan Cipto. Di sebelah Barat kota, tepatnya ke arah Parapat dan Sidamanik masih banyak terdapat mata air yang bersih dengan debit air yang cukup melimpah. PDAM setempat mengolah dan mengalirkannya ke rumah penduduk.

Ciri khas kota ini adalah becak, alat angkut yang dibuat dari motor besar. Sering disebut orang sebagai Becak Siantar. Tempat duduk penumpang dicantelkan ke motor di sebelah kiri pengemudi. Motor besar yang dipergunakan adalah merek BSA, Ariel dan lain-lain. Penumpangnya dua orang, nyaman sekali diduduki ketika sedang berjalan karena sistem peredam getar atau shock-absorbernya terbuat dari per keong atau per ulir yang lembut.

Gambar 10.  Becak Siantar


Gambar 11.  Angkutan Kota Sinar Siantar
Alat  transportasi  dalam  kota  yang  lain diantaranya adalah oplet atau angkot “Sinar Siantar” yang menghubungkan terminal Parluasan di Martoba dengan pasar Pajak Horas melalui terminal Pantoan dan melewati Rumah Sakit Umum. Untuk kampung yang lebih jauh jaraknya menggunakan motor beroda empat atau bus yang lebih besar, seperti misalnya ke arah Bahjambi, Perdagangan, Tanah Jawa, Bandar dan Serbelawan. Ada juga bus ke jurusan Sidamanik, Seribudolok, Parapat, Tigaras dan lain-lain. 
Terminal bus jarak dekat itu berada di jalan sekeliling pasar, kecuali itu tidak diperkenankan berhenti di jalan Sutomo dan jalan Merdeka. 

Untuk jarak jauh, alat transportasi itu ditempatkan di 


terminal Parluasan di sebelah  arah ke utara, yang lain-lain terminalnya di terminal Pantoan.  Ke arah Medan ada angkutan Kereta Api dan Bus, ke arah Parapat, Balige, Tarutung dan daerah Tapanuli ada bus PMH, singkatan dari Persatuan Motor Horas. Juga menghubungkan Pematangsiantar dengan kota-kota Kisaran, Tanjung Balai dan Rantau Perapat. Bus jarak jauh Padang Sidempuan-Medan yang biasanya melintasi Pematangsiantar menggunakan bus ALS, singkatan dari Antar Lintas Sumatra, milik pengusaha pribumi.  

Di perbatasan dengan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Deli Serdang (sekarang dengan Kabupaten Serdang Bedagai), banyak dan luas sekali sawah bersusun-susun, ladang dan perkebunan penduduk, kopi, sayur dan kelapa. 


Gambar 12 Pemandangan indah Perkebunan Teh Sidamanik








Gamar 13. Buah Nenas Sidamanik

 Gambar 14. Air Terjun Bah Biak



Gambar 15.  Kelapa sawit dengan buahnya
Juga dikelilingi perkebunan negara penghasil devisa, seperti perkebunan teh Sidamanik dengan Air terjun Bah Biak (lihat video Air terjun Bah Biak, video 1), perkebunan tali rami di Laras (kini sudah berganti menjadi kelapa sawit), kelapa sawit dari perkebunan Bahjambi, karet dan kelapa sawit dari perkebunan Marihat dan sekitarnya. Sebagian sawah yang bersusun-susun itu masih termasuk bagian kota, sehingga Pematangsiantar terkenal sebagai lumbung padi untuk Propinsi Sumatra Utara.



Ketika berkendaraan dari kota Tebing-Tinggi ke Pematangsiantar, akan terlihatlah perkebunan karet atau pohon rambong, penghasil getah karet.


 Gambar 16. Perekbunan karet dengan pohon Rambong

Juga terlihat perkebunan kelapa sawit di kiri kanan jalan. Pada gambar terlihat perkebunan kelapa sawit di waktu pagi, di sisi saluran SUTET Perusahaan Listrik Negara.


Gambar 17. Perkebunan Kelapa sawti disisi SUTET PLN.





















Gambar 19. Perkebunan Kelapa Sawit
 
Dinginnya udara mulai terasa disini, pertanda bahwa kita akan segera tiba di kota Pematangsiantar yang berhawa sejuk itu.   

Toko-toko di Pematangsiantar sudah cukup lengkap, karena semua penduduk di sekeliling kota dan kabupaten-kabupaten yang berbatasan dengannya selalu membeli keperluan sekolah dan keperluan hidup sehari-hari ke kota ini. 

Bermacam-macam sekolah juga tersedia disini, baik Sekolah Kejuruan Teknik (ST dan STM, ST kini berubah menjadi SMP Plus, SMP Negeri 12), Ekonomi (SMEP, kini berubah menjadi SMP Plus dan SMEA), Sekolah Umum (SMP dan SMA), Sekolah Guru (SGB (kini sudah takada lagi), dan SGA) negeri maupun swasta seperti Muhammadiyah, Katholik, Kristen Protestan dan Madrasah Alwashliyah. Juga Perguruan Tinggi Agama Islam UISU Cabang Medan dan perguruan tinggi agama Kristen Protestan, Universitas Nommensen. Buku-buku untuk sekolah-sekolah itu banyak tersedia di sini.  

Kota ini adalah salah satu kota perjuangan melawan Belanda, tempat kelahiran tokoh nasional. salah satunya adalah  Adam Malik. Salah satu nama jalan dan lapangan upacara di kota ini sekarang dinamai Jalan dan Lapangan Adam Malik. Penduduknya adalah campuran atau multi etnis, suku Jawa, suku Batak (Toba, Dairi, Karo, Simalungun, Sipirok Angkola, Mandailing), suku Minang, suku Melayu Deli dan sedikit orang Arab, Cina dan India. 
Mesjid Raya Timbang galung
Oleh karena itu, terkenallah nama-nama kampung berdasarkan suku dan agama, diantaranya ada Kampung Melayu (banyak dihuni penduduk yang beragama Islam karena Melayu disana identik dengan Islam), Kampung Kristen (banyak dihuni oleh penduduk beragama Kristen), Kampung Bantan (banyak dihuni suku dari Jawa, Banten atau Sunda), Kampung Keling (banyak dihuni oleh orang India hitam), Kampung Karo (banyak dihuni oleh suku Batak Karo), Kampung Pematang (banyak dihuni Batak Simalungun), Timbang Galung, Kampung Baru, Martoba dan lain-lain.

Pada waktu itu,  mereka  sekeluarga  bertempat  tinggal  di  Jalan Daliltani nomor 41 Kampung Tomuan, salah satu bagian dari kecamatan Siantar Timur di kota itu. Konon, nama Tomuan adalah nama kampung pertemuan bermacam-macam suku dan penganut agama disana. Perumahan masih sepi, disepanjang Jalan Daliltani yang kurang lebih panjangnya dua kilometer, baru berdiri sedikit rumah. Ujung Jalan Daliltani pada mulanya hanya dari persimpangan Jalan Narumonda, kini telah diperpanjang ke hulu bercabang dua, satu cabang ke kanan tembus ke Jalan Pane, cabang ke kiri tembus ke kampung Karo. Ke hilir, jalan itu berujung di sekitar arah perkampungan Lapangan Bola, masih dipisahkan oleh sungai Bah Sorma. Jalan penghubung sudah ada menggunakan jembatan kayu. Karena sering rusak, jembatannya jarang dipergunakan dan sangat riskan jika dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu, penurunan dan pendakian dari dan ke sisi jembatan itu sangat curam. Kini sudah dibangun jembatan dengan sistem  gorong-gorong  dan  dari  sisi kiri dan kanan ditimbun, sehingga pendakian dan penurunan dari kedua sisi sudah tidak ada lagi. Jalannya sudah mendatar dan sudah ramai dilalui oleh kendaraan.
Sederetan dengan rumah mereka, dari Jalan Narumonda kearah hilir, di kiri jalan hanya ada delapan rumah. Di seberang jalan, ada tiga rumah dengan halaman yang cukup luas, perumahan orang yang lebih dulu berada dan sudah lebih dulu tinggal di sana. Selainnya masih semak belukar, perkebunan karet, ladang penduduk dan sedikit perumahan yang baru dibuka. Tidak jauh ke arah belakang rumah, kira-kira limaratus meter ada rumah sepupu nenek (nenek menurut bahasa Melayu Deli adalah panggilan untuk kakek dan nenek baik dari pihak ibu, maupn pihak ayah. Untuk kakek disebut nenek laki-laki dan yang perempuan disebut nenek perempuan),



Gambar 21. Pematangsiantar di Sumatra Utara

dari silsilah ibunya, nenek M. Dahlan bermarga Pulungan. Rumah itu menghadap ke jalan Pattimura. Halamannya luas, banyak ditanami bunga hebra berwarna-warni. Mereka berasal dari kelompok orang dari Mandailing Tapanuli Selatan, penganjur agama Isalm di kota Pematang-siantar, terutama di kampung Tomuan. Tanah dibelakang rumah itu adalah tanah milik nenek ini, sangat luas hampir dua hektar. 

Di Jalan Pattimura ketika itu masih ada kereta api kecil lengkap dengan relnya, merupakan alat transportasi hasil dari perkebunan ke stasiun Kereta Api mini di kota. Penduduk setempat menyebutnya muntik.

Gambar 22. Kereta Api mini

 
        “Tuiiiit…..tuiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit….tuiiit” begitu suara yang terdengar ketika kereta ini setiap pagi lewat di Jalan               Pattimura.
        Lalu ibunya mengingatkan,
       “Nur, sudah siap berangkat ke sekolah? Muntik sudah lewat, sebentar lagi setengah delapan, lonceng                 sekolah segera berbunyi”, ibunya menyambung.
       “Jangan sering terlambat, nanti kau ketinggalan pelajaran”, tambahnya.
       ”Ya mak..!”, Ia menyahut mempersiapkan diri, lalu berangkat sekolah.

Ketika pukul tujuh pagi muntik melewati jalan Pattimura, diiringi desah mesin lokomotipnya, menarik bergerbong-gerbong muatan penuh karet atau kelapa sawit ke arah stasiun Kereta Api. 

Gambar 23.  Stasiun KA Siantar
Salah satu gerbongnya adalah gerbong yang mengangkut anak sekolah atau pelajar yang bersekolah di kota Pematangsiantar. Ada anak sekolah SD, ada SMP dan SMA, ST dan STM ada SGB dan SGA, ada pula SMEP dan SMEA yang turut serta dalam perjalanan ini. Itu sebabnya kereta muntik ini selalu datang ke kota pada pukul tujuh secara teratur. Begitu juga ketika pulang, siang hari pukul dua belas, pukul dua dan terakhir pukul lima sore hari. Bahan bakar lokomotipnya sebagian masih kayu bakar untuk menghasilkan uap penggerak mesin, sebagian lagi menggunakan mesin diesel dengan bahan bakar solar. 
Ia dan teman-temannya masih sering mengikuti kereta api mini ini ketika ingin berjalan-jalan atau melancong ke perkebunan Marihat. Atau sekedar menumpang ke Masjid kampung Tomuan Hilir yang dekat dengan lintasannya. 
Sejak tahun 1962 kereta muntik itu sudah tidak ada. Digantikan oleh truk-truk besar yang lebih bebas pemakaian dan pemilihan rute-rute yang ditempuh, serta pemeliharaan jalan yang lebih sederhana karena tidak perlu memelihara jalan rel kereta muntik ini.


 
Gambar 24. Buah Manggis muda

Gambar  25. Karamunting, bunga dan buahnya




















Di belakang rumah antara Jalan Daliltani dengan Jalan Pattimura, masih ada hutan semak belukar dan sedikit sisa hutan lebat. Disana masih ada pohon asam belimbing, pohon kelapa, pohon manggis, pohon langsat, rambutan, mangga, pinang, dan nangka. Di sana sini ada pohon perdu yang oleh penduduk setempat dinamakan dengan daun senduduk (Karamunting), khas kekayaan hutan dan semak belukar Pulau Sumatra. Pucuk daunnya bisa dipergunakan sebagai obat sakit perut yang mencret-mencret. Rasanya agak manis, ada kelat-sepat, rasa yang menciutkan rongga mulut ketika dikunyah sebelum ditelan. Khasiatnya hampir sama dengan pucuk daun jambu batu. Cuma rasa pucuk daun jambu batu ini pahit sekali. 


Gambar 26. Pohon petai dan buahnya
Di hutan yang masih lebat ini ada pohon petai yang tinggi menjulang ke angkasa, yang di pangkal pohonnya merapat pohon sukun yang besar dan daunnya lebat. Diapit dua pohon kelapa yang juga sudah tinggi dan sebatang pohon rambutan yang rindang daunnya dan besar batangnya. Di bawahnya banyak pohon ilalang dan semak belukar yang khas tumbuh dibawah pohon rindang, yakni pakis-pakisan. Di cabang dan ranting pohon yang tinggi ada sarang burung hantu, yang kalau malam hari selalu terdengar bernyanyi. Selain itu, di hutan ini masih banyak bersarang burung puyuh, perkutut, tekukur, cucak-rawa, punai, murrai dan lain-lain. Di pohon pinang, bersarang dan sering terlihat tupai atau bajing. Di pelepah daun pohon kelapa yang tinggi masih banyak terlihat sarang burung tempua, atau yang dikenal juga sebagai burung manyar. Masih ingat pepatah melayu? “Kalau tidak karena ada berada, masakan tempua bersarang rendah”, yang artinya, setiap ada perubahan dari hal yang umum, merupakan pertanda akan atau telah terjadinya sesuatu.
Sarang Burung Tempua
di pelepah daun kelapa yang tinggi

Di semak belukar bisa dijumpai sarang burung pipit, burung puyuh dan kadang-kadang masih bisa dijumpai sarang ayam hutan. Kucing peliharaan mereka sering menangkap burung puyuh  dan membawanya pulang ke rumah, ada yang sudah mati tapi ada juga yang masih hidup. Dan tidak ketinggalan banyak monyet pagi hari.
Jalan pintas dari arah Jalan Daliltani ke Jalan Pattimura melintas di bawah hutan yang berdaun sangat lebat ini. Saking lebatnya, di siang hari matahari tidak terlihat dari bawah. Kalau malam hari, persis dibawah pohon yang lebat ini gelap gulita. ***

Sejarah Kota Pematangsiantar
Pada tanggal 24 April 2011 kota Pematangsiantar kini telah berumur 140 tahun. Kota ini pernah berprestasi secara nasional. Atas kebersihan dan kelestarian lingkungannya, pada tahun 1993 kota ini telah menerima Piala Adipura. Sementara itu, karena ketertiban pengaturan lalu lintasnya, pada tahun 1996  telah meraih penghargaan Piala Wahana Tata Nugraha. Sampai sekarang beberapa prestasi telah pernah dicapai kota ini.
Kota Pematangsiantar terletak pada garis 3°01’09” sampai 2°54’40” Lintang Utara dan 99°6’23” sampai  99°1’10” Bujur Timur, berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Simalungun dengan luas 79,97 kilometer persegi. Kota ini terletak 400 meter di atas permukaan laut. Pada waktu siang atau malam hari, kehidupan dan aktivitas masyarakatnya tak pernah surut. Siang hari penduduk disekitar kota yang datang dari Kabupaten Simalungun dan daerah-daerah terdekat lainnya, seperti Seribudolok, Tigaras, Sidamanik, Perdagangan, Bahjambi, Bandar, Serbelawan dan lain-lain datang berbelanja pagi dan siang hari untuk keperluan hidup sehari-hari. Menjelang tengah malam, masih banyak restoran dan rumah makan yang buka sampai pukul sebelas malam. Mulai pukul satu esok paginya dari desa sekeliling banyak berdatangan atau masuk barang-barang dagangan di pasar Pajak Horas yang akan diperjual belikan pagi, siang dan sore hari. Dengan udara yang sejuk dan air yang bening dan melimpah dimana-mana, kehidupan di kota ini aman, makmur, tertib dan tenteram. Keadaan yang dapat  menghidupkan perekonomian dan kesehatan masyarakatnya.
Dengan keadaan tersebut, kota Pematangsiantar mempunyai nilai tersendiri yang baik untuk menanamkan modal atau berinvestasi. Karena disamping aman, tertib dan tenteram, jumlah penduduk sebagai tenaga kerja multi-etnis yang relatif banyak, berpendidikan, kemampuan kerja yang  baik dan juga bahan baku yang mencukupi. Khususnya yang berasal dari interland daerah sekelilingnya. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2000, Pematangsiantar berpenduduk 240.831 jiwa yang menjadikannya kota kedua terbesar setelah Medan, ibu kota Sumatera Utara. Penduduknya terdiri dari campuran beberapa etnis, dengan 49,6 persen dari etnis Batak Toba, 14,2 persen dari etnis Jawa dan 11,43 persen dari etnis Batak Simalungun. Etnis lain kurang dari 10 persen masing-masing dari Melayu, Batak Mandailing, Batak Angkola atau Sipirok, Cina, Minang, Batak Karo, Batak Dairi dan lain-lain. Dari jumlah penduduk tersebut, terdapat angkatan kerja sekitar 85.000 jiwa dengan 86 persen yang bekerja pada lapangan kerja yang bervariasi.
Sektor industri yang menjadi tulang punggung perekonomian kota ini adalah industri besar dan sedang. Dari total kegiatan ekonomi di tahun 1999 yang mencapai Rp 1,5 trilyun, pangsa sektor industri mencapai 38 persen atau Rp 593 milyar. Sektor perdagangan, hotel, dan restoran menyusul di urutan kedua, dengan sumbangan 22 persen atau Rp 335 milyar. Dari ketiga kegiatan di sektor ini, subsektor perdagangan memberikan pemasukan sampai Rp 300 milyar. Diantaranya adalah produksi oleh-oleh khas Pematangsiantar. Para turis atau pelancong yang  mengendarai mobil dari Medan menuju ke Parapat dan Pulau Samosir yang terkenal sangat indah itu, banyak yang singgah barang sejenak di Pematangsiantar, untuk membeli oleh-oleh Teng-Teng, Sarikaya dan Bika Ambon khas Pematangisantar yang sangat lezat, semuanya diproduksi dari hasil pertanian di sekitar Kabupaten Simalungun.
Hasil industri andalan Kota Pematang Siantar adalah rokok putih, filter dan non-filter, serta tepung tapioka. Pada tahun 2000, dengan tenaga kerja sebanyak 2.700 orang, NV Sumatra Tobacco Trading Company (STTC), produsen rokok yang berdiri sejak 1952, menghasilkan 11,06 milyar batang rokok putih filter dan 75 juta batang rokok putih non-filter. Dari seluruh hasil produksi rokok filter tersebut sebagian besar dijual ke luar negeri terutama ke Malaysia, negara-negara Timur Tengah dan Asia Timur. Sisanya dijual di dalam negeri. Sementara itu, Taiwan menjadi negara tujuan penjualan tepung tapi-oka yang diproduksi kota ini.
Sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Pematangsiantar merupakan daerah kerajaan Siantar. Pematangsiantar pada awal-nya berkedudukan di Pulau Holing, suatu tempat di kampung Pematang sekarang, dan raja terakhir dari dinasti keturunan marga Damanik yaitu Tuan Sangnawaluh Damanik, yang memegang kekuasan sebagai raja tahun 1906. Disekitar Pulau Holing kemudian berkembang menjadi perkampungan tempat tinggal penduduk, diantaranya Kampung Suhi Haluan, Siantar Kahean, Pantoan, Suhi Bah Bosar dan Tomuan. Daerah-daerah tersebut kemudian menjadi daerah hukum Kota Pematangsiantar yaitu:
  1.  Pulau Holing menjadi Kampung Pematang 
  2. Siantar Bayu menjadi Kampung Pusat Kota
  3. Suhi Kahean menjadi Kampung Sipinggol-pinggol, Kampung Melayu, Martoba, Sukadame, dan Bane.
  4. Suhi Bah Bosar menjadi Kampung Kristen, Kampung Karo, Kampung Tomuan, Pantoan, Toba dan  Martimbang.



Gambar 27. Peta Administrasi Kota Siantar
Setelah Belanda memamusuki daerah Sumatera Utara, Simalungun menjadi daerah kekuasaan Belanda dan pada tahun 1907 kekuasaan raja-raja berakhir. Controleur Belanda yang semula berkedudukan di Perdagangan pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu Pematangsiantar berkembang menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, diantaranya Bangsa Cina, India dan lain-lain. Mereka banyak mendiami kampung Timbang Galung dan Kampung Melayu. Pada tahun 1910 didirikan Badan Persiapan Kota Pematangsiantar. Kemudian Pada tanggal 1 Juli 1917 berdasarkan Stad Blad No.285, Pematangsiantar berubah menjadi Geemente yang mempunyai otonomi sendiri. Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No.717 berubah menjadi Geemente yang mempunyai Dewan. Pada jaman Jepang berubah menjadi Siantar Estate dan Dewan dihapus. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Pematangsiantar kembali menjadi daerah Otonomi. Berdasarkan UU No.22/1948 status Geemente menjadi ibu kota Kabupaten Simalungun dan Walikota di rangkap oleh Bupati Simalungun sampai 1957. Berturut-turut Pematangsiantar mengalami perubahan menjadi Kota Praja penuh, menjadi Kotamadya dan dengan keluarnya UU No.5/1974 Tentang pokok-pokok pemerintah daerah, berubah lagi menjadi daerah tingkat II Kota Pematangsiantar sampai sekarang.  ***
Ia dan seluruh keluarga besarnya, Nenek laki-laki dan perempuan, paman-paman, beberapa famili dan keluarga kampung yang menumpang, tinggal di Jalan Daliltani No. 41 Kampung Tomuan. Di sekitar kampung inilah cerita masa kecilnya berlangsung, sejak masih Sekolah Dasar, ST dan STM. Di sekitar Masjid, Sungai Bahbolon, Sekolah Dasar, Bah Sorma dan sawah. Kolam renang Swimbath (Sekarang menjadi Detis Sari Indah) di kampung Pematang, Jalan Cipto dan Pajak Horas ada di tengah kota, dan madrasah Alwashliyah berpusat di Timbang Galung. Bengkel sepeda mereka ada di Jalan Asahan, berhadapan langsung dengan rumah salah satu pendeta, pengajar di Universitas Nommensen.
Ke arah Kisaran, bertetangga dengan Universitas Nommensen, pernah ada pabrik Perusahaan Negara pengalengan nenas Sidamanik, sebagai hasil pampasan perang dengan Jepang. Nenas Sidamanik yang sangat terkenal manis, dari ujung sampai pangkal sama manisnya.  Namun karena pengelolaanya yang kurang baik, tak lama kemudian pabrik itu tutup. Juga kelompok tanaman Nenas Sidamanik yang terkenal itu sudah tidak ada lagi, tinggal menjadi kenangan bagi mereka yang pernah mengalami kejayaannya.

******




Sabtu, 17 Agustus 2019

PAGI YANG INDAH

Lanjutan Buku Ratna Mutu Manikan (1)


Prolog
PAGI YANG INDAH




In the name of Allah
Most Gracious, Most Merciful

By the token of Time (through the age)
Verify Man is in loss
Except such have a Faith, and do righteous deeds, and
(Joint together) in the mutual teaching of truth
And of Patience an Constancy
(QS Al Asr, 1:3)

Bandung, 24 Januari 2011 Senin.
Hujan deras yang turun tadi malam, sebentar berhenti, lalu turun lagi. Derasnya berkurang namun lama, gerimis sejak fajar sampai menjelang pagi. Ketika semburat merah sinar fajar di ufuk Timur datang, perlahan tapi pasti, melepas selimut malam, mengusir awan, rintik renainya masih ada. Dan akhirnya berhenti. 
Matahari lamat-lamat muncul, lalu bolanya berangsur-angsur tampak jelas sempurna, merah karena masih pagi. Cerah dan terang datang, gerimis dan samar gelap kemudian menghilang.
Hujan itu masih menyisakan bintik air di dedaunan. Begitu pula pada ujung-ujung daun bambu di pinggir jalan. Bintik air itu bersinar memantulkan sinar mentari pagi, indah bagaikan beribu intan berbentuk bola-bola kristal, berserakan di ujung-ujung daun bambu pringgodani. Tak lama, hanya berbilang menit, angin datang bertiup pelan. Daun-daun bergerak lembut, bintik-bintik air ikut terlepas dari dedaunan lalu jatuh ke tanah. Tak ada lagi pantulan indah itu. Yang ada tinggal pohon yang kembali tegak, karena beban air di daun-daunnya itu telah luruh, dienyahkan oleh angin dan waktu. Selazim proses peristiwa stokastik, untuk esok datang lagi, dengan keadaan yang bisa saja sama atau bebeda dengan hari ini, tergantung musim, tergantung alam, tergantung waktu dan aturan dan kehendakNYA.



Rumah Jalan Cicalengka Raya 49, Bandung

Salah satu pohon palem raja kembar di depan rumah, pelepah pucuk daun mudanya sedang merekah. Warnanya berbeda, karena masih muda, hijau cerah kekuning-kuningan, kini sedang memancarkan pesonanya. Seekor burung cucak rawa, entah datang dari mana, tiba-tiba hinggap di pelepah daun yang sudah lebih tua, tak lama, menggelengkan kepala melihat kanan dan kiri, kemudian terbang lagi, pergi. Tandan pohon buah yang sudah tua dan yang masih muda bergelantungan, dari yang masih mayang terurai sampai buahnya yang ranum, dipersiapkan untuk jatuh ketanah. Beberapa buah yang jatuh lebih dulu telah tumbuh, kecil, bersiap untuk menggantikan pohon besar yang tua yang segera mati dimakan usia.

Gambar 1.
  Halaman Rumah Jalan Cicalengka Raya 49 Bandung

Pohon hanjuang merah tumbuh di halaman sudut rumah. Sebagian pagar halamannya ditanami teh-tehan, sebagian lagi dengan pohon mahkota dewa. Di sana-sini tumbuh pohon kembang perdu wali songo, teronggok rapih. Lalu ada palem udang, palem merah, bersama serumpun suplir dan bunga tandan pisang-pisangan. Bunganya berwarna merah dan kuning, sering dihinggapi burung penghisap madu. Sebatang pohon rambutan dan sebatang pohon lengkeng muda berdiri megah di sana, tumbuh subur dengan daun-daunnya yang hijau, menyejukkan.
Burung tekukur datang, hinggap di salah satu pelepah daun, lalu berkicau, bernyanyi memanggil pasangannya yang hinggap dipohon beringin di dekat masjid belakang rumah. “Dur ku kuuu, dur kur kuu. Dur ku kuuu kuu ku”, berulang-ulang, suaranya bergema, menggetarkan udara sampai berpuluh-puluh meter kesekeliling.
Pasangannya datang, hinggap di dahan lalu saling menggeser mendekat, kemudian terbang menjauh, pergi entah kemana, berdua. Beberapa saat kemudian pasangan tekukur yang lain hinggap lagi. Di kejauhan di atas pohon beringin terdengar burung tekukur lain bernyanyi. Ditingkah suara sepasang burung cucak rawa, yang saling memamerkan suara. Pagi yang indah.
Hujan dan bintik air, angin, terang, cerah dan gelap, tumbuh, mati dan waktu, selalu dengan setia melukis alam, menggambar kehidupan, tak pernah surut tak hendak berhenti. Siang dan malam terus saling menanti. Tak ada yang bisa melawan waktu. Musim kemarau datang dan pergi. Cerah berganti gelap, terang berubah samar redup. Ada yang pulang, ada yang pergi dan ada pula yang datang. Ada yang tumbuh ada pula yang mati. Datang dan pergi, silih berganti, selalu berubah dari hari kehari. Bergelombang, tak pernah datar, bagaikan gambaran kehidupan, ada pendakian, ada penurunan, ada datar dan ada pula belokan. Ada kalanya senang ada pula kalanya susah. Ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah. Life is always changing, never plat. Hidup terus berubah, dari waktu ke waktu, tak pernah tetap datar.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih Lagi Penyayang
Demi waktu,
Sesungguhnya manusia itu ada dalam kerugian,
Kecuali orang-orang yang beriman,
Yang beramal saleh atau berbuat kebajikan,
Saling mengingatkan akan kebenaran,
Dan saling mengingatkan akan kesabaran, (QS Al Asr: 1-3)

Kehidupan selalu berubah, tak pernah tetap. Begitu Allah SWT memperingatkan dengan ayat kauliyahNya. Demi waktu, manusia akan merugi, kecuali yang beriman, beramal saleh dan berbuat kebajikan, saling mengingatkan kepada kebenaran dan kesabaran.
Sejak aku dilahirkan, sampai kini sudah berusia menjelang senja, lukisan kehidupan itu tersamar datang ke pelupuk matanya untuk minta dituliskan. Agar bisa di buat sebagai pedoman, paling tidak buat dirinya sendiri, sebagai penambah semangat hidup, kenangan buat keluarga atau siapa saja, mengingat kembali janjinya kepada Allah yang pernah terucap, baik dikala berdoa atau pada keadaan menyendiri. Dan halaman ini adalah permulaan tulisan itu.
Agar terarah, ia menuliskan karangan ini dengan penjelasan judul, mengapa ia penting diuraikan, dituliskan dan dicatatkan. Lalu catatan kegiatan dan peristiwa apa yang diperlukan, bagaimana memperolehnya, bagaimana ia dibuat menjadi tulisan yang menarik. Hasilnya adalah tulisan pendorong semangat atau motivasi dan kenangan yang berguna untuk menjadi acuan dan petunjuk bagi siapa saja kelak yang membutuhkan.


Gambar 2. Pohon Palem Kembar dan Wali Songo di depan rumah

Tentang kehidupan masa kecilnya mengasuh adik, tentang sekolahnya ketika masih di SD atau SR, Sekolah Rakyat. Begitu juga ketika di Sekolah Teknik, Sekolah Teknik Menengah, masa-masa kuliahnya dan sampai masa-masa ketika dia bekerja. Cerita tentang masa kecilnya, perjalanannya menuju dewasa, tentang kegiatannya selain sekolah dan terutama kissah percintaannya. Kisah yang banyak menarik perhatian siapa saja, mengapa ia bisa sampai berhasil mencapai cita-citanya. Dan bagaimana perjuangannya untuk meraih itu semuanya. Bagaimana Allah SWT itu membimbing langkahnya, sejak ia masih sangat muda, masih sekolah dasar. Bagaimana Allah mengarahkan langkah-langkah kakinya, dengan ketakjubannya akan keindahan alam, ayat-ayat kauniyahNya. Semuaya terekam dalam benaknya, terekam bagaikan RATNA MUTU MANIKAM dalam MERAJUT IMPIAN Menggapai Cita-cita. Bagaikan mutiara berserakan di dalam sajadah panjang waktu kehidupannya. Dari laman Pematang-siantar sampai Bandung. Itulah judul tulisan ini.

Yang secara tidak disadarinya, Allah telah membimbingnya untuk menetapkan tugas pokoknya di dunia, dan bagaimana tugas pokok itu terurai menjadi tugas dari hari kehari, bulan kebulan, tahun ketahun, bahkan sampai berpuluh tahun kemudian. Ketika kecil ia merasa harus membantu kedua orang tuanya mengasuh adik-adik, ketika sudah besar, sesuai petuah ibunya, ia harus menjadi orang pintar. Ia telah mencatatkan cita-cita masa depannya. Dari sana iapun telah mencatatkan apa saja yang harus dikerjakannya untuk mencapai cita-citanya itu. Ia telah mengurainya satu persatu, dimana dia sekarang, hendak kemana ia pergi dan apa yang harus ia capai, dan bagaimana mencapainya. Para arif budiman dan bijak bestari konon mengatakan, ia telah berhasil merumuskan visi dan misinya. Kalau sekarang banyak anak SD yang sudah mulai menyenangi lawan jenisnya, wajar karena banyak faktor stimulus yang datang dari media elektronik, televisi, radio dan media cetak yang sangat kuat. Akan tetapi, ketika saat itu, televisi belum ada, koran masih jarang dibacanya. Namun demikian, ketika sejak usia sangat dini, ia sudah di latihNya menghadapi cinta, atau kesenangannya akan seorang perempuan sekelasnya, yang membuatnya berpeluh sakit dan bersimbah air mata. Yang kelak, ketika datang godaan serupa, ia sudah berpengalaman, dan sudah tidak begitu mengganggu pikirannya. Walaupun tetap masih terasa sangat menyakitkan, tapi tidak sampai bersimbah-derita, karena sudah pernah diberiNya suntikan vaksinasi anti cinta buta. Yakni jatuh cinta ketika masih usia sangat muda, kelas enam Sekolah Dasar. Ia juga diberkahi dengan adanya pembimbing tidak resmi, pembimbing khusus yang mendorongya untuk melihat bagaimana pergaulan keluarga yang baik. Tetangganya, gurunya, masih ada hubungan famili yang jauh, Bapak Abdul Hamid Simbolon tidak ragu-ragu membawanya ke tempat yang baik perilakunya, baik budi pekertinya dan baik pula tutur bahasanya. Ia dapat melihat dan berhubungan langsung, sehingga ia bisa merubah sedikit-demi-sedikit untuk berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Ia menjadi pribadi yang Be myself, pribadi yang dari ke hari semakin membaik, bukan yang berarti Be unchanging myself, pribadi yang tidak mau berubah.
Pelajaran yang diperolehnya dari organisasi pelajar, banyak membantunya dalam pergaulan sehari-hari. Ia mendapatkan latihan-latihan berguna untuk kesempurnaan pergaulan hidupnya dari banyak orang. Tentang lingkungan hidupnya, tentang keadaan bangsa dan negaranya. Tentang kepemimpinan dan manajemen, dan bagaimana merumuskan masa depannya. Tertutama tentang budi pekerti, dan cara bergaul sehari-hari yang baik menurut agama Islam, pergaulan yang Islami. Tentang persiapan berumah tangga. Hal yang tidak pernah diajarkan di sekolah, terutama praktek langsung.

Waktu berjalan terus, berdetak tak terdengar dan berdetik tak terasa. Terutama bagi seseorang dalam keberhasilan, kegembiraan dan kesenangan. Tapi cepatnya detik-detik berbunyi serasa lambat dan pelan tak tertahankan ketika merasa rindu, ketika gelisah, ketika kita diburu waktu penyelesaian tugas tertentu, ketika dalam susah dan hati yang gundah gulana. Dan pada saat telah mempunyai rencana untuk segera mengatasi kesusahan dan berharap segera berhasil menggapai cita-cita. Kegigihannya untuk mencapai cita-citanya selama ini tak perlu diragukan lagi. Termasuk menuliskannya sekarang dan menyelesaikan tulisan ini. Sumbernya adalah dirinya sendiri, hasil kekagumannya akan keindahan alam, hasil perburuannya terhadap presentasi motivasi pendorong semangat, beberapa laman internet dan adik-adiknya sendiri. 

Untuk membangkitan lagi ingatannya saat ia masih Sekolah Dasar, ia mencari lagi lagu Rura Silindung, lagu yang amat disukainya, karena mengandung dendang tentang keindahan alam, megingatkannya kembali ketika masih kecil dan ketika mengasuh adik-adiknya. Dan terakhir kalinya, ia melihat sawah peninggalan ayah dan nenek mereka di kampung Tomuan, Kampung Lapangan Bola, sawah yang pernah digarap ibunya ketika masih hidup. Berikut sungai kecil sumber pengairan sawah yang airnya tidak pernah surut dan rimbunan pohon bambu yang masih setia tetap tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga tidak sukar baginya menuliskan kenang-kenangannya ketika ia harus membantu ibunya.
Ketika masih di ST, Sekolah Teknik Negeri Pematangsiantar, ia banyak menonton pertunjukan band-band lokal yang banyak melantunkan lagu-lagu The Beatles. Untuk lagu-lagu Koes Bersaudara ia sering menonton film yang melantunkan lagu-lagu itu di bioskop Riang. Ketika kini lagu itu diunduh dari internet dan diputar ulang untuk mengenang kembali masa-masa itu, ia dapat mengingatnya dan menuliskannya dengan lancar. Di sekolah teknik ini ia mempunyai seorang guru perempuan yang menurutnya sangat cantik, dijadikannya pelajaran untuk menentukan perempuan yang cantik itu yang bagaimana sebenarnya. Guru atau Encik Hutapea namanya, dijadikannya contoh perempuan yang menjadi idaman hatinya kelak.
Pada masa-masa ketika masih di STM, Sekolah Teknik Menengah, ia sudah mulai dewasa dan banyak aktif di organisasi extra, yang jarang dilakukan oleh pelajar saat itu. Di awal pembukaan tulisan ini ia menggunakan tulisan Al Qur’an Surat Al Asr dalam Bahasa Inggris, selain sebagai dasar dalam menggunakan waktu, juga untuk mengingatkan kembali kemampuan Bahasa Inggrisnya ketika lulus dari kursus Bahasa Inggris di Pematangsiantar. Teman sekelasnya ada beberapa orang perempuan, iapun sudah mulai menyenangi perempuan, namun karena tingkat kedewasaan dan ukuran fisik yang sangat jauh berbeda, ia tidak terpengaruh sama sekali. Ia merasa, dan teman perempuannya juga memperlakukannya sebagai anak yang masih kecil. Ia bagaikan liliput di sisi raksasa perempuan. Hanya seringkali dijadikannya pertanyaan, dalam dirinya atau bahkan kepada gurunya, kenapakah gerangan ukuran fisiknya selalu yang terkecil dikelas maupun di sekolah.
Allah SWT telah menakdirkannya selalu bergaul dengan orang-orang yang baik dan saleh yang dekat dengan agama Islam, orang madrasah Alwashliyah, Muhammadiyah, anak para ustadz dan calon ustadz di Pematangsiantar. Ketika ia aktif di Organisasi IPA, Ikatan Pelajar Alwashliyah, hanya dirinyalah yang dari Sekolah Teknik Menengah, Sekolah Umum. Lagu Selimut Putih dan Madah Terakhir dari Orkes Gambus El Suraya Medan diputar ulang untuk mengingat dan menuliskannya kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi, di sekolah, organisasi maupun ketika bersama keluarga.
Masa-masa ketika ia berangkat ke pulau Jawa dan peristiwa kuliah yang membelok dan beralih ke UPI/IKIP dulu, lalu bekerja di Telkom, ia masih hapal, berhubung banyak peristiwa istimewa disitu, termasuk peristiwa sebelum dan sesudah menikah. Terutama pada masa inilah cintanya berlabuh di Bandung, kepada seorang wanita muslimah yang cantik luar dalam, fisiknya maupun batinnya, bidadari ciptaan Tuhan yang disiapkan khusus untuknya. Begitu juga ketika ia bekerja di Telkom Jakarta, bagaimana perjuangannya sampai ia lulus mencapai gelar insinyur dari STTN/ISTN Yayasan Perguruan Cikini Jakarta sampai ujian negara. Demikian juga ketika ia memimpin di Operasional sekolah ITT/STT Telkom, kesibukannya mengajar, meneliti dan membimbing mahasiswa, ia mengambil kuliah tingkat S2 di ITB, dan lulus tepat waktu. Tahun 1995 ia pernah mengikuti kursus ISDN/New Telecommunication System selama tiga setengah bulan di Paris, Perancis, yang banyak digunakannya untuk menulis tentang Bandung sebagai Paris van Java. Selanjutnya ia meminta pensiun dini dari Telkom dan bekerja di Telkomsel, masih segar dalam ingatannya karena ia sangat banyak berperan dalam pengembangan Telkomsel di tahun-tahun awal berkiprah, sampai ia pensun lagi.
Begitulah caranya ia menuliskan semua kejadian dan peristiwa yang diturunkan dalam tulisan ini. Dengan demikian diharapkan semua tidak terlalu jauh dari keadaan yang sebenarnya. Kalaupun ada pembetulan di sana-sini, itu adalah untuk kesinambungan cerita agar enak dibaca dan perlu.
Tulisan ini ia tujukan kepada siapa saja, bagi yang ingin mengelola kehidupan masa depan, terutama kepada adik-adiknya, keponakan-keponakan baik dari adik kandungnya maupun adik iparnya, yang selama ini masih belum jelas dan menjadi jawaban bagi mereka, kenapa ayah-ibunya yang pendidikannya tidak lulus SD, akhirnya ia bisa mencapai cita-citanya, bisa sekolah setingkat sarjana teknik, insinyur bahkan master. Tulisan ini juga menjelaskan bagaimana semangat hidupnya meraih cita-cita sejak sekolah dasar yang ingin bersekolah hingga perguruan tinggi, dari UPI/IKIP, Pendidikan Akhli Telekomuniaksi berlanjut ke STTN/ISTN Cikini dan terakhir di Program Pascasarjana ITB.
Semuanya berdasarkan petunjuk dan bimbinganNya, kepada ayat-ayat kauniahNYa, kepada keindahan alam semesta. Juga berdasarkan kepada ayat-ayat kauliyahNya, perintah dan larangannya dan latar belakang sejarah. Yang menjadi landasan untuk bergerak, berpetualang dan berjuang mengarungi kehidupan dalam lingkungan alam Indonesia, terutama lingkungan dan perkotaan Jakarta dan Bandung. Dari laman Pematangsiantar, pulau Sumatera dan berakhir di Bandung, pulau Jawa.
Yang kelak bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan untuk meningkatkan semangat dalam perjuangan merangkai hidup dan meraih cita-cita, mengelola hidup dan merencanakan masa depan, bagi siapa saja, terutama kepada generasi muda Indonesia, yang mau dan ingin menggunakannya sebagai bahan dan acuan untuk membangun negara dan bangsanya, Indonesia di masa depan, yang tidak mengenal putus asa, yang selalu yakin akan adanya pertolongan dari Yang Maha Pelimpah Ramat dan Penebar Kasih SayangNya.

.......


******

Jumat, 16 Agustus 2019

Pesan alam, penantian berbatas waktu.


angin yang bertiup, adakah pesan dari belaianmu didedaunan untukku?

burung yang bernyayi di ketinggian pohon, adakah nyanyian pesanNya bagiku?

ada, 
kelak tak lagi aku bisa 
menikmati belaian angin sejuk 
dan tak bisa lagi mendengar merdunya nyanyian burung di atas pohon 
atau yang terbang di angkasa.

andai engkau masih berusia panjang, 
maka syukurilah, karena 
engkau masih bisa melakukan amal shalih yg lebih banyak. 
dan andaipun esok hari engkau tak lagi berpijak di bumi, 
syukuri jugalah, 
karena engkau sudah terhidar dari amalan-amalan yang tidak baik dan tidak berguna...


SEKAPUR SIRIH, pengantar cerita novel RMM

SEKAPUR SIRIH

SEKAPUR SIRIH, pengantar

Bismillaahirohmaanirrohiim,
Dengan namaMu, dan Alhamdulillah, segala puji yang maha tingi hanya untukMu, yang dengan selalu menyebut dan memuji asmaMu ketika memulai sesuatu pekerjaan, buku RATNA MUTU MANIKAM, MERAJUT IMPIAN MENGGAPAI CITA-CITA ini telah selesai ditulis, untuk mendorong semangatku, mengingatkan janji-janji yang pernah kuucapkan dan kusampaikan kepadaNya. Dan menjaga keteguhan imanku ketika kubaca. Juga demi memenuhi permintaan adik-adikku, terutama istriku Siti Nurhayati, anak-anakku Anwar Rizal, Dian Hidayati dan Emil Hilman M, adikku Kamisah, Zuliah, Zahara, Halimah, Nurbaya dan Rahim. Dorongan dan juga desakan dari beberapa sahabat dan teman-temanku yang menginginkannya. Mereka semuanya telah menunggu, untuk dijadikan motivasi dan dorongan semangat, dijadikan acuan kelak ketika ada kejadian yang sama atau yang hampir sama.
Inilah sekapur sirih sebagai pengantar tulisanku ini. Dari semua apa yang telah kucapai ketika itu, barangkali pertanyaan mendasar yang perlu diajukan kepadaku adalah: Dari negeri manakah engkau datang? Siapakah gerangan kedua orangtuamu, sehingga engkau bisa berfikir dan bertindak seperti yang telah engkau lakukan? Apakah yang terjadi sebenarnya atau bagaimanakah engkau bisa merumuskan cita-citamu atau mimpi-mimpimu? Dan kau buat langkah-langkah menyiasati atau langkah strategis yang kau rencanakan? Doa-doamu? Bagaimana ketika engkau masih berusia sangat muda, masih SD, engkau bisa menemukan rumus ajaib ini: sadar keadaanmu ketika itu, menuliskannya dalam-dalam di ingatanmu, apa yang engkau ingin capai, bagaimana engkau mencapainya kelak dan selalu engkau pergunakan sebagai petunjuk perjalanan, sebagai pedoman ketika sedang bergerak menuju cita-cita. Rumusan cara yang engkau gunakan sebagai pedoman atau kompas di siang hari, engkau gunakan sebagai suluh penerang ketika malam hari.  Tidak ada yang mengajarimu. Semua terjadi secara alamiah saja. Kenapa bisa sampai engkau berhasil mencapai cita-citamu setinggi ini? Siapakah gerangan yang menggerakkan langkah-langkahmu, menciptakan lingkunganmu di setiap masa pertumbuhanmu yang demikian teratur, yang membimbingmu terus menerus agar tidak terjerumus kedalam kegagalan yang lebih dalam? Orang tuamu, jelas tidak mungkin, pendidikan dan pengetahuan mereka terbatas. Pertanyaan yang sukar dijawab, karena aku bukanlah anak dari orang tua yang bijak bestari, dan arif bijaksana atau pintar. Aku hanyalah anak seorang petani miskin atau pedagang kelas sangat bawah, yang kalau ditarik lebih dalam lagi, keluarga kami adalah ibarat pencari rejeki, dicari pagi dimakan petang, esok lusa demikian lagi, jarang bersisa, bahkan lebih sering kurang. Tetapi ibuku,  pernah berpesan kepadaku, agar aku bisa membantu ayah dan ibuku, agar aku menjadi orang pintar. Doa ibu, biasanya menjadi kenyataan. Sehingga aku pernah mendengar dengan telingaku sendiri, ketika aku pulang dua minggu sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir,  
“Kau macam emas yang jatuh dari langitnya kau Nurain kepada kami”, kata ibu,
“Dulu ketika kau masih kecil, kami, ayah dan emakmu merokok, tapi kau tak terpengaruh, sampai sekarangpun kau tak merokoknya. Kau bisa menjadi contoh buat adik-adikmu semua. Apapun yang kejadian, adik yang pernah dekatmu, insya Allah semua berhasil menjalankan kehidupannya”, tambahnya, dalam percakapan panjang kami di siang itu.
Dalam hal ini aku hanya diam saja. Yang aku tahu, semua peristiwa dan kejadian yang menimpa diriku, selalu mengarah kepada pencapaian cita-cita dan mimpiku itu. Tanpa aku sadari, mungkin inilah hidayah terbesar yang di limpahkan Allah kepadaku. Aku bertindak secara terbimbing oleh sekolahku di SD, oleh pengajianku di masjid yang tidak pernah aku lalaikan, oleh guru-guru dan ustadz teman-temanku, oleh tetangga-tetanggaku dan oleh teman-temanku yang baik hati semuanya. Mereka memberi nasihat kepadaku dengan tulus ikhlas. Dan yang terakhir, doa ibuku. Apakah ini yang disebut kecerdasan? Kecerdasan ESQ? Aku sendiri tidak tahu, sampai kini.
Ketika aku hanya bisa berjalan mencapai cita-cita, Dia menyongsongku berlari. Kini aku bisa merasakan pertanyaanNya, “Maka Nikmat TuhanMu yang manakah yang engkau dustakan, fa biayya ala irobikumaa tukajjiban?”. Barangkali tulisanku dalam buku ini bisa menjawabnya, bisa semuanya atau bahkan hanya sebagian saja.   
Gaya bahasa di buku ini adalah gaya bahasa dengan latar belakang Sastra Melayu, karena peristiwa yang banyak diceritakan dalam tulisan ini memang berlatar belakang lokasi di Pematangsiantar, Medan dan Pekanbaru,  pusat peradaban Melayu kini. Lalu ketika sudah lama di Bandung dan Jakarta, maka sedikit banyak Sastra Sunda dan Sastra Betawi juga banyak mempengaruhiku. Latar belakang Sastra Melayu masih dominan, disana-sini terkadang bahasa Arab, Inggris, Sunda dan Betawi masuk meramaikan gaya bahasa tulisan. 
Semua isi tulisan yang menyangkut ajaran agama Islam kutuliskan berdasarkan pengetahuan agamaku selama ini. Namun demikian, selalu kudiskusikan dulu dengan rekan guru agama Islam, agar tidak menimbulkan bantah berbantah masalah khilafiyah yang tidak perlu.


Sebenarnya, kesenangan dan minatku kepada Bahasa dan Sastra Indonesia bermula dari ketika aku ditugaskan membuat resume atau ringkasan dari buku novel roman Tenggelamnya Kapal van DerWijk dan Siti Nurbaya. Keduanya tugas dalam rangka Pelajaran Bahasa Indonesia di STM Negeri Pematangsiantar, yang ketika itu sangat jauh dari hiruk-pikuk sastra secara nasional.  Memang sejak Sekolah Dasar aku sangat menyenangi pelajaran Bahasa Indonesia. Selain kedua buku tersebut, hampir semua buku novel roman yang disarankan oleh pak Guru Bahasa Indonesia telah banyak yang kubaca, diantaranya Dibawah Lindungan Kakbah, Merantau ke Deli, Salah Asuhan dan lain-lain. Bapak guruku, ketika itu pak Hutapea, memberi nilai sempurna, dan menyarankan untuk terus memupuk bakat menulisku itu. Akan tetapi, sayang,  karena aku telah membuat rencana hidup bercita-cita menjadi insinyur kelak, maka aku tidak mengembangkan bakat menulis sastra ini. Cuma saja dalam pelajaran Bahasa Indonesia, baik ketika mulai kuliah atau membuat karangan aku sering menulis dengan latar belakang keindahan alam dan rasa ingin tahuku atau curiosity-ku yang lumayan mendalam. Kemampuan dan bakat ini tersalurkan ketika aku ditugasi untuk memimpin majalah kampus di FKIT-IKIP/UPI dan beberapa karangan lepas lainnya.
Pada waktu kuliah, tugas-tugas membuat ringkasan atau sinopsis buku-buku yang sama terulang, hanya saja telah berkembang kepada buku-buku sastra mutakhir.
Pada waktunya aku sudah banyak membaca buku novel dari Motinggo Busye yang sebelum akhir hayatnya banyak menulis novel berlatar belakang Islam yang kaffah. Belakangan ini aku juga membaca novel Ahamad Tohari dengan Ronggeng Dukuh Paruk, Kemusuk Bintang Dinihari, dan satu lagi dari novel triloginya yang terkenal. Lalu cerita Sintren dan Perempuan Mencari Tuhan tulisan Dianingsih dari Pekalongan, dimuat di Harian Umum Republika, yang sedikit banyak mengandung cerita tentang mistik, tentang budaya penduduk di sekitar pantai Utara Pulau Jawa, memanjang dari Cirebon sampai ke Batang. Kemudian novel Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih dari ustadz Habiburrahman el Muhammady, berlatar belakang negeri seribu piramid Mesir, keindahan lingkungan pesantren dan sepotong negeri syurga dari Timur, Indonesia. Dan yang terakhir Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Maryamah Karpov dari bagian tetraloginya Andrea Hirata dan lain-lain yang tidak dapat semuanya disebutkan disini.
Ketika aku diangkat menjadi Ketua  Communication Society, COMSOC dari organisasi International Electric and Electronic Engineering, IEEE, Regional 10 Indonesia, akupun menulis dua buah buku tentang telekom mobil dua jilid, diterbitkankan oleh penerbit ELEX Media KOMPUTINDO Jakarta sampai dengan tahun 2003. Dalam menulis kedua buku ini, hampir tidak ada masalah, karena penguasaan materiku yang cukup baik dan kalau ada yang tidak jelas, aku bisa membaca ke laman COMSOC dari IEEE, dan jika perlu berdiskusi dengan teman-teman di IEEE. Bahasa yang kugunakan adalah bahasa Indonesia standar, yang kalau dilihat dari sudut satra, terkesan sangat kaku. Hal yang diperlukan dalam penulisan ilmiah, agar setiap kalimat yang dituliskan boleh saja indah, tapi tidak boleh mempunyai pengertian yang tidak jelas dan atau pengertian ganda. Setiap kalimat harus punya arti yang tegas, jelas dengan logika dengan tata bahasa yang benar dan tidak boleh multi tafsir.
Dalam sastra tidak ada yang disebut multi tafsir. Karena setiap orang bebas, ketika suatu kata atau kalimat yang mampu menggetarkan hati seseorang yang memang berbeda-beda untuk tiap insan yang berbeda. Bukankah keindahan itu adalah setiap kejadian, setiap lukisan alam, daratan dan lautan, angin yang bertiup, air yang mengalir, burung berkicau, sepatah kata atau kalimat, alunan musik, gambar diam atau bergerak, puisi ataru prosa, sekuntum bunga, sesosok manusia atau sebentuk makhluk ciptaanNya, atau apa saja yang dapat menggetarkan perasaan? Hal mana sangat bersifat perorangan, tergantung kepada masing-masing insan untuk menafsirkan sendiri apa yang dimaksud dengan indah itu, yakni yang menggetarkan perasaan itu.  Termasuklah keindahan tentang sesosok manusia ciptaanNya, perempuan bagi seorang lelaki dan lelaki bagi seorang perempuan. 
Aku menemui kesukaran ketika menulis, karena kesedihan ketika mulai menulis peristiwa saat sedang berdekatan dengan ayah-ibu, yang pada mulanya aku tidak mengerti keadaan orang tuaku, terutama ketika aku masih di SD. Begitu juga aku harus menulis ulang semua kejadian-kejadian di ST dan STM.  Sebenarnya semua peristiwa yang kualami kebanyakan adalah kissah sedih dan gembira silih berganti, ditengah-tengah kesederhanaan keluargaku. Kissah sedih membuat perasaan mengharu biru, sengsara di badan. Kissah gembira menghangatkan fikiran, menaikkan semangat dan menyehatkan kalbu. Dulu ketika aku mengalami peristiwa sedih itu secara langsung, aku tidak perduli dan tidak merasakannya, atau mungkin menutup rasa sedih dan malu demi cita-citaku, yang membuat diriku menjadi pemberani. Karena sukses atau keberhasilan adalah milik mereka yang berani. Beban perasaan rendah diri dari teman-teman yang lebih kaya dan lebih tampan dan gagah, itu adalah hal yang wajar, hal yang dapat kuterima karena memang demikianlah adanya. Sampai seorang bidadari dari Bandung menolongku, menyelamatkanku dengan menghargaiku apa adanya. Bidadariku ini langsung menghilangkan beban jiwa rendah diriku, kurang percaya diriku, yang menurutku, dari semua perempuan keluarganya, dialah yang tercantik, bukan karena ia membelaku. Tapi menurut ukuran logika tentang kecantikan, tentang kebaikan hati, tentang keikhlasan hati. Dan lebih-lebih lagi karena secara sadar ia mau menjadi kekasihku, menjadi penasihat pergaulanku, mendampingiku sepanjang waktu.  
Setiap kutulis satu halaman, hatiku tersedak dan tidak jarang aku menangis. Sepertinya, dalam menulis buku ini, aku bagaikan mengorek dan menguak kesedihan dan luka lama. Maka pada bulan-bulan awal penulisan, jalannya amat lambat, karena tidak tahan akan kesedihan dan luka hati yang lama itu meruak kembali. Ketika menulis, ada kalanya aku amat merindukan kampungku, merindukan teman-teman lamaku, teman-temanku seperjuangan, tepian tempat mandi itu, bahkan ayah-ibuku yang pernah mengharap aku bisa menolong memperbaiki nasib keluarga kami. Bayangan kerinduan ibuku ketika aku jauh darinya bertahun-tahun, anak lelakinya yang tidak pernah menolak ketika diperintah, yang tidak pernah membuat ulah ketika sekolah dan alasan-alasan yang lain-lain. Aku terpaksa berhenti menulis, menumpahkan dulu air mata dalam tangisku. Kadang bisa seminggu.***
Lagu dari Orkes Gambus El-Suraya dari Medan, Selimut Puith dan Madah Terakhir lamat-lamat pernah dinyanyikan adikku Kamisah, sendirian, didepan pintu rumah ketika aku pulang kampung dari perantauan yang pertama kali, sambil menangis, mungkin karena mengingat penderitaan keluarga kami. Ketika itu ayah-ibu masih ada, tapi rumah kami sudah pindah ke gubuk di jalan Terong, ayah sudah sakit-sakitan. Tidak salah rasanya, itulah puncak penderitaan keluarga kami. Aku melihatnya sendiri dan ketika itu aku juga ingin menangis, tapi kutahan. Nah disini pulalah puncak kesedihanku ketika akan menuliskannya. Namun demikian, tulisan ini harus kuselesaikan, walaupun aku harus bersimbah peluh dan tubuhku menyediakan bergantang-gantang air mata, sampai suaraku berubah serak, laiknya suara orang yang telah lama dan baru selesai menangis. Air mataku  tidak perlu di susut, karena bagi lelaki yang menangis, air mata itu lebih banyak jatuh kembali kedalam.     
Enam bulan lebih aku berlelah-lelah dan berkeluh kesah dalam menuliskan buku ini. Istriku memang tidak senang akan bidang seni sastra, sehingga ia sering meradang karena aku terlalu banyak menghadapi labtop komputer daripada menyertainya. Aku meminta maaf yang tulus kepada bidadari penolongku ini. Kini tulisan ini sudah rampung, tinggal menerbitkannya secara massal. Kelak, tentu kalau bisa dan ada asa yang berkenan  dan usia masih memberiku waktu, akan kutuliskan cerita lain, yang masih bersangkut paut dengan tulisan ini.
Dengan rendah hati aku menyatakan, bahwa sebagian besar gambar dalam tulisan ini diunduh dari internet, yang disediakan oleh laman www.google.com dengan laman turunannya. Sebagian lagi menggunakan kamera digital milikku sendiri. Aku berusaha untuk menghindari penggunaan gambar yang berhak cipta tanpa ijin pemiliknya, yang menurut pengetahuanku, jika sudah disebar di laman milik publik, seperti di dunia maya, maka kita akan bebas menggunakannya. Namun, jika ada yang gambar-gambar itu yang merasa adalah milik pribadi, aku mohon maaf dan akan segera aku selesaikan sebagai mana mestinya, atau menggantinya dengan gambar hasil olahanku sendiri. 
Inilah sekapur sirih, seulas pinang serta sepercik tepung tawar sebagai pembuka pintu hati, sambil bersembah dan mengulurkan sepuluh jari tetutup, meminta maaf andai ada kata-kata dalam tulisanku ini yang salah, karena aku juga sadar, pasti ada yang salah dan membuat kesalahan, karena manusia adalah tempat terjadinya kesalahan. 
Akhirnya, semoga buku ini berguna, dan kita semuanya mendapat berkah, panjang usia dalam taat serta mengabdi kepadaNya, rendah rejeki,  dalam lindungan dan selalu berada dalam limpahan rahmat  dan hidayahNya.



Nurain SILALAHI
Penulis

Bandung, Rumahku Istanaku, Antapani Kidul, RT05/RW07, 9 Juli 2011, pagi hari pukul 01.35.
Re edited 16-8-19 

Alamt Email: nurain766hi@yahoo.co.id atau nurain766hi46@gmail.com;


Telepon: 022-7273211 (home & fix phone); +628122048443 (cellular mobil phone), +6281221084343 (, FB, Whatsapp and internet access)

RATNA MUTU MANIKAM (Cover Buku)

RATNA MUTU MANIKAM


MERAJUD IMPIAN
MENGGAPAI CITA-CITA


Gedung ISOLA, UPI Bandung






















ITB Bandung


            Mutiara bertaburan dalam menggapai cita-cita
Laman Pematangsiantar-Bandung 




Daftar Isi