KENANGAN LATIHAN KEPEMIMPINAN
Ia juga aktif di organisasi pelajar IPA, Ikatan Pelajar Alwashliyah cabang Pematangsiantar. Kegiatan utamanya
berada di Madrasah Alwashliya Jl. Sipirok No. 7, atau MTs Alwashliyah Pematangsiantar.
 |
MTs Alwashliyah atau MTS Mesra, sekarang 2019,
Jl Sipirok No. 7 Timbanggalung Pematangsiantar |
Kawasan pergaulannya pun bertambah. Ia mengenal dan dekat dengan para pendakwah senior di Pematangsiantar: pak Ustadz A. Karim Nasution, Bang Zulkarnain Nasution, Pak Drs. Abubakar, Bang Ali dan Bang Usman dari Kampung Melayu, Baharudin Nasution dari Kampung Marihat, Ibu Harahap guru agamanya ketika di STM. Ustadz Mukhtar Batubara dari kampungnya, Tomuan. Termasuk pertemanannya dengan teman sebaya, dengan laki-laki dan juga perempuan. Ada perempuan adik-adik ustadz Mukhtar Batubara, Butet dan Hanum. Ada anak-anak ustadz Ali Nasution dari Timbang Galung: Faujiah, Faijah, Rudy Nasution. Dari kampung Tomuan ada Agus Purba yang pernah mewakili pemilih PPP di DPRD, Rustam Siahaan, Hasan Sembiring vokalis salah satu band beraliran musik keras terkenal di Pematangsiantar, Asmah Marpaung dan lain-lain. Pada hari-hari libur, Minggu atau hari libur kuartalan, mereka sering mengadakan pengkaderan, diskusi dan belajar agama, terkadang bertempat di dalam maupun di luar kota. Asmah sangat rajin dan aktif mengikuti latihan. Pernah diadakan di Serbelawan dan juga di Dolok Merangir. Paling sering adalah di Madrasah Alwashliyah Jalan Sipirok No. 7 Timbang Galung (sebelum berubah menjadi MTs Alwashliyah). Pesertanya datang dari Kampung Melayu, Kampung Marihat, Kampung Tomuan dan dari Timbang Galung sendiri. Dari sini iapun mendapat pengalaman dan ilmu pengetahuan yang luas tentang pergaulan nasional dan internasional, agama, logika, perjuangan dan sedikit ilmu Politik. Ia mahir mengorganisasi kegiatan dan berdiskusi yang santun tapi terarah. Ia menikmati berorganisasi, dan pergaulan-nya semakin membaik karena selalu berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka yang telah baik tata cara bergaulnya. Pelajaran yang tidak pernah diperolehnya, baik dari lingkungan keluarganya di rumah maupun di sekolah. Dengan demikian, perbendaharaan ilmu atau stock-knowledgenya semakin lama semakin banyak dan bervariasi. Lalu, iapun dapat menyelesaikan masalah yang lebih besar dan lebih bervariasi. Ia juga tidak dapat membayangkan, andai ia tidak bergaul dengan teman-temannya di organisasi, maka tata cara pergaulan yang benar dan baik tidak akan pernah dilihat dan dialaminya secara langsung.
Sudah menjadi kelajiman, setiap ada perayaan atau acara yang semi resmi, selalu diisi oleh orkes gambus, paling sedikit angkatan suling dengan seperangkat drum dan tabla.
Pada suatu ketika, pengurus cabang IPA Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun mengadakan perlombaan orkes gambus di lapangan Madrasah Al-Washliyah Kampung Tomuan. Disini ia belajar bagaimana meminta izin kepolisian, mengumpulkan dana, mengirimkan undangan dan menyiapkan panggung ala kadarnya, dibantu oleh pengurus cabang. Ia sendiri bertindak sebagai pembawa acara sekaligus sebagai host atau tuan rumah peneyelenggara. Ada lima peserta dan tiap peserta mendapat jatah 30 menit dengan empat buah lagu. Waktu yang 30 menit itu diserahkan sepenuhnya kepada peserta untuk mengatur penggunaannya. Selama 3 jam semuanya selesai, dimulai setelah shalat magrib, selesai pukul setengah sepuluh malam. Bagi peserta yang jauh, bagi laki-laki dipersiapkan untuk tidur di madrasah, bagi perempuan disediakan di rumah-rumah penduduk yang telah bersedia menerima. Tidak banyak, hanya kurang lebih 10 orang.
Masing-masing peserta menunjukkan kemampuanya. Peserta dari Kampung Tomuan, Jalan Marihat, Kampung Melayu, Timbang Galung, Dolok Melangir dan Serbelawan semuanya unjuk kebolehan di depan juri. Lagu-lagu yang diaransir dengan baik dibantu oleh penyusun irama musik, suara penyanyi dan sistem suara yang lumayan cukup baik, hampir semuanya mempesona penonton yang berjubel dihalaman madrasah. Tepuk tangan menggema setiap grup selesai menyelesaikan lagu-lagu wajib dan lagu pilihannya. Tapi yang lebih lengkap adalah yang dari Serbelawan, lengkap dengan harmonika jinjing, biola, seruling, bas betot yang besar, tabla dan seperangkat drum sederhana. Grup ini tampil sebagai peserta terakhir. Lagu wajib Mars dan Hymne IPA dan dua lagu irama gambus atau padang pasir, menggema menyihir dan membuat bulu kuduk penonton merinding. Terutama lagu Selimut Putih, yang mengingatkan penonton untuk mempersiapkan bekal akhirat. Lagu Madah Terakhir sebagai lagu perpisahan dan lagu penutup. Suara penyanyi perempuan itu terdengar syahdu, merdu mendayu-dayu sebagaimana laiknya musik beraliran Hadramaut dari negeri Yaman di Timur Tengah sana. Nyanyian semakin terdengar syahdu, terutama karena malam hampir larut, suara-suara yang mengganggu sudah sepi. Banyak penonton yang menangis mencucurkan air mata, merasa lagu itu lagu yang menceritakan keadaan dirinya. Terutama ketika bait ini dinyanyikan:
Bila kelak daku terkenang,
Kutatap bintang di malam kelam,
Jika tak dapat ku berenang,
Kurelakan diriku hanyut tenggelam…..
Tepuk tangan menggemuruh, menggema. Sementara juri berunding menentukan pemenang, grup peserta nasyid dari Serbelawan ini diminta menyanyikan dua lagu lagi. Setelah juri selesai menilai, maka yang berhak menjadi juara adalah Grup Nasyid atau gambus dari Serbelawan.
******
Latihan Dasar Kepemimpinan
Pada libur kuartalan pertama, tahun 1967, Latihan Kepemimpinan Dasar atau Basic Training diadakan dan diputuskan untuk dilaksanakan di MTs Alwashliyah Serbelawan. Latihan Dasar Kepemimpinan dan pengkaderan yang diadakan di Serbelawan ini, merupakan kenangan khusus dan tak dapat dilupakannya.
 |
| MTs Alwashliyah Serbelawan |
Ia berada dalam satu kelompok dengan salah seorang murid Madrasah Alwashliyah di Serbelawan, laki-laki, anak petani. Lalu pertemanannya berlangsung semakin akrab karena merasa senasib, semuda usia mereka sudah harus bergelut membantu kedua orang tuanya. Dalam pembicaraan mereka saling memberi semangat. Ia merasa semangatnya bertambah, karena ternyata ada juga teman yang senasib-sepenanggungan. Pada suatu ketika temannya mengajaknya berjalan-jalan di sekitar tempat pelatihan. Mereka berdua pergi ke suatu danau, yang waktu itu airnya bersih dengan pemandangan yang menakjubkan. Sejauh mata memandang, disekitar danau yang terlihat adalah pohon-pohon hijau yang subur dan sedikit atau dua rumah saja, tidak lebih. Mereka mandi dan berenang disana dengan cerianya, sambil bercerita keadaan masing-masing keluarga. Lama, kira-kira satu jam lebih. Setelah selesai mandi dan berpakaian rapi mereka kembali ketempat pelatihan.
 |
| Perkebunan Laras |
Peserta training di Serbelawan itu umumnya adalah murid SMP dan Madrasah Alwashliyah Serbelawan dan Laras yang berjarak hanya tujuh kilometer, berjumlah kurang lebih 50 orang.
Peserta dari Laras, terbanyak adalah wanita, umumnya anak karyawan perkebunan Laras. Sedangkan dari Serbelawan adalah anak petani, lebih banyak laki-laki. Umumnya peserta dari Laras adalah anak-anak karyawan menengah ke atas. Pakaiannya rapih, sedikit banyak mengikuti model-model pakaian orang kaya perkotaan. Salah satu pesertanya dari Laras, anak Ustadz Siregar dari Perkebunan Laras. Namanya Mulyawati kelas 3 SMP dan mengaji di Madrasah sore hari. Cantik menarik, sebagaimana anak ustadz umumnya.
Hampir semua anak ustadz yang dikenalnya semuanya cantik menarik. Fauziah dan Faizah anak pak ustadz Ali Nasution dari Jalan Sipirok Timbang Galung, walapun agak gemuk masih tetap menarik. Farida Nasution apalagi, tak ada banding. Pinggang ramping, tinggi langsing, tapi berisi, nyaris sempurna. Begitu juga adik-adik ustadz Mukhtar Batubara dari Kampung Tomuan, warna kulitnya kuning langsat, rambut ikal hitam berurai rapi, mata hitam bulat bersinar layaknya bintang timur, alisnya serupa semut beriring, pipinya pauh dilayang memerah dan bibir bagaikan delima merekah. Beginilah umumnya teman-teman dari keluarga ustadz, di samping putri atau perempuan cantik menarik, putera atau laki-lakinya gagah dan tampan, baik dan tinggi pula budi pekertinya. Apalagi keluarga kyai! Mereka tidak canggung berteman dengan siapa saja seperti dirinya, yang masih kampungan, masih kurang banyak bergaul, masih banyak perilaku yang lucu dan kadang-kadang konyol yang harus diperbaiki. Dari teman-temannya para anak ustadz inilah ia banyak belajar tentang pergaulan sehari-hari, baik sesama teman laki-laki maupun dengan perempuan, demikian pula bisa langsung melihat tata cara pergaulan keluarga yang baik dari keluarga teman-temannya. Dan juga rumah yang baik dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan pepatah, Baiti Jannati, rumahku surgaku. Mungkin karena didikan keluarga yang baik, lalu mereka pantas ditiru dan dijadikan panutan, role model kata orang sekarang. Benar kata pepatah, bergaul dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut wangi, bergaul dengan penjual bau-amis kita akan ikut bau-amis pula. Alhamdulillah, Allah SWT, Sang Pelimpah Kasih Sayang itu selalu mendekatkannya dengan lingkungan dan pergaulan keluarga dan teman-teman yang baik hati ini. Rekayasa dari yang Maha Perekayasa untuknya, yang tak tertandingi!
Mulyawati sering dijodoh-jodohkan instruktur atau fasilitator kepadanya. Tidak jelas mulanya bagaimana. Mungkin karena sama-sama ngotot, lalu sering beradu pandang. Tidak apalah, mungkin sekedar meramaikan suasana dan menghidupkan diskusi pada saat perkenalan. Namun, alamaa…kk! Galaknyaaaaa… minta ampun, suaranya keras lagi. Baru kali itulah ia melihat seorang perempuan galak bukan kepalang. Galaknya lucu dan menyenangkan, tapi juga kadang-kadang ucapannya keras menyakitkan. Juga sangat teguh kalau mempertahankan pendapatnya, sebelum dipatahkan oleh orang yang dapat menjelaskan mengapa pendapatnya itu secara logis, sampai dapat diterima akal.
Pengisi acara banyak dari ustadz senior dari Pematang Siantar, diantaranya adalah ustadz A. Karim Nasution dari Timbang Galung dan Ustadz Baharudin Nasution dari Kampung Marihat. Ustadz Baharudin sangat menguasai bahasa Batak Toba, Batak Simalungun dan Batak Karo. Kabarnya Ustadz Baharudin adalah kelompok pendakwah atau zending Islam ke kampung-kampung di Sumatra Utara yang masih belum paham menggunakan bahasa Indonesia.
Pada setiap acara pembukaan, terutama pagi dan malam hari, peserta diwajibkan untuk mem-
baca Al Qur’an. Giliran Mulyawati tiba. Ia membacakan QS 48, Alfath 1-7 pilihannya:
A’uju billahi minasyaitonir rojim,
Bismillaahirrohmaanirrohiiiim,
Inna fatahna laka fatham mubina
Liyag firo lakallohu ma takoddama min jambika wa ma ta akhor
Wa yutimma nikmatahu ‘alaika wa yahdiyaka sirotom mustakima
Wa yan surakallohu nasron aziza
Hual lazi anzalas sakinata fi kulubil mukminina liyaz dadu imanam ma ‘a imanihim
Wa lilahi junudis samawati wal ard
Wa kanal lohu ‘aliman hakimaa
Liyud hilal mukminina wal mukminati jannatin tajrimin tah tihal anharu kholidina piha
Wa yukaffori anhum sayyi aatihim, Wa kana jalika ‘indallohi fauzan ‘ajimaaa…
Wa yu’ajimal munafikina wal munafiqoti
Wal musyrikina wal musyrikati jonnina billahi jonna sau’, ‘alayhim daaa irotus sau’
Wa godibal lahu ‘alaihim wa la ‘anahum wa a’adda lahum jahannam
Wa saat masiiiro
Wa lil lahi junudus samawati wal ard
Wa kanal lohu ‘azizan hakiimaaaa……
Terjemahan bebas,
Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata
Allah memberi pengampunan kepadamu terhadap dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyem-purnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus.
Dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat
Dialah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertam-bah dari keimanan yang telah ada.
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Bijaksana.
Dia memasukkan mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya
Dan Dia menutupi kesalah-kesalahan mereka, dan yang demikian itu adalah kemenangan yang besar di sisi Allah
Dan supaya Dia mengazab orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang musyrik laki-laki yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran binasa yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam.
Dan itulah sejahat-jahatnya tempat kembali.
Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi.
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.***
Hening sekeliling, tak ada tepuk tangan, karena memang sudah diingatkan agar tidak bertepuk tangan ketika ayat-ayat suci diperdengarkan. Indah sekali nada dan bacaannya. Bacaannya fasih, lagu pembacaannya berbeda dari yang umum, indah nian, menggetarkan perasaan, susah pula dibandingkan. Ketika pembacaan sedang berlangsung, pendengarnya sampai terdiam, bulu kuduk merinding. Ada juga yang menitikkan air mata. Sampai sekarang, ketika riwayat ini ditorehkan, ia belum pernah mendengar lagu pembacaan Al Quran seindah itu. Maklum, Mulyawati adalah anak seorang ustadz dan ia diajari cara pembacaan ayat suci Al Qur’an dengan cara dan lagu yang sangat baik oleh guru yang sangat pandai. Mungkin ditangani langsung oleh ayahnya, ustadz Siregar dari Laras yang telah diketahui pintar berlagu pembacaan Al Qur’an. Lagi satu ciri tambahan dari anak seorang ustadz, galak tapi hebat dalam membaca Al Qur’an.
Lalu pembawa acara mengingatkan untuk melanjutkan acara hari itu. Acara diskusi tentang pentingnya pendidikan di luar sekolah. Materinya disampaikan oleh Ustadz Zulkarnain Nasution. Salah seorang instruktur bertindak sebagai moderator, atau pengarah jalannya diskusi. Kursi diatur melingkar, sehingga jarak peserta dan pembicara bisa lebih langsung terlihat. Setiap peserta diberi label nama, sehingga memudahkan pembicara untuk memanggil peserta. Selain itu juga untuk mengakrabkan suasana.
“Pendidikan di luar sekolah”, Bang Zul memulai, “adalah pendidikan informal yang diperlukan oleh tiap-tiap orang yang mau maju. Dari pendidikan informal, seorang anak akan mendapat tata cara pergaulan yang baik, yang tidak dicontohkan di sekolah maupun di rumah. Pendidikan informal adalah penyatuan antara pengetahuan yang didapat dari sekolah, dari pelajaran agama dan pengaruh dari lingkungan”, lanjutnya, ”Pendidikan mempunyai dua pengertian, pertama adalah pendidikan itu sendiri dan yang kedua adalah latihan. Pendidikan adalah suatu proses, a series of actions that you take in order to achieve a result, atau suatu urutan tindakan-tindakan yang dilakukan untuk memperoleh hasil demi untuk menghadapi situasi masa depan yang tidak dapat diramalkan, dealing with unpredictable future situation. Misalnya, kenapa orang harus belajar ilmu berhitung atau aljabar, apakah ini perlu untuk menghadapi masa depan?” tanyanya kepada peserta.
“Perlu, karena ilmu berhitung ini sangat erat sekali kegunaannya untuk menentukan jumlah, selisih dan juga cara untuk menentukan jumlah dan selisih itu”, jawab seorang peserta.
“Ilmu berhitung adalah bagian dari matematika, yakni ilmu yang menentukan jumlah, bentuk dan ruang menggunakan alasan-alasan, umumnya dengan sistem atau cara khusus, aturan dan simbol untuk mengerti dan memahaminya” tambah peserta yang lain, “jadi amat berguna untuk melihat, mengatur dan mengendalikan masa depan”, lanjutnya. “Masa depan yang terus berubah, nah oleh karena perubahannya tidak dapat ditentukan oleh manusia, setiap orang perlu menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan itu”.
“Masa depan itu bisa dijadikan model, yakni replica atau bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya. Salah satu cara untuk mengendalikan masa depan itu adalah membentuk dulu modelnya, lalu dengan matematika bisa diuraikan bagaimana jumlah, bentuk dan ruang masa depan itu berubah”, penjelasan lebih rumit.
“Susah kali mengertinya, apa tak ada cara penjelasan yang lain?” Tanya peserta yang lain, yang umumnya sudah sekolah tingkat lanjutan pertama dan atas, bisa SMP, SMA dan bisa juga STM.
“Oh iya, kenapa harus mengambil contoh matematika ya?” kata Bang Zul, “ok, kita sudahi dulu diskusi tentang matematika. Dari sini saja kita sudah mengerti, ilmu tentang matematika memang susah, tapi matematika adalah bahasa untuk mengetahui jumlah, bentuk dan ruang. Jadi erat hubungannya dengan masa depan”.
Diskusi berlanjut, dengan menjelaskan arti yang kedua. Latihan adalah suatu proses belajar mengajar yang bersifat pemahaman terhadap keadaan yang segera kita hadapi. Latihan diperlukan untuk mendapatkan keakhlian untuk keperluan jangka pendek. Misalnya bagaimana menggunakan mesin penggiling padi, bagaimana menggunakan mesin tik, bagaimana membuat pembukuan laporan sederhana, menjalankan mobil dan lain sebagainya. Jadi latihan adalah proses belajar mengajar untuk menghadapi masalah pada masa yang dapat diramalkan, predictable situation, untuk masa jangka pendek, short term planning. Sedangkan pendidikan adalah proses belajar mengajar untuk menghadapi masalah masa yang jauh ke depan yang tidak dapat diramalkan, unpredictable situation. Perencanaan masa yang jauh kedepan, long term planning.
“Dalam Islam” demikian bang Zul melanjutkan, “pendidikan itu berlangsung se umur hidup, minal mahdi ilal lahdi, dari buaian sampan ke liang lahad”.
“Baik itu pendidikan atau latihan, semua disiapkan untuk berubah. Kita sekarang
Latihan Kepemimpinan Dasar. Jadi kita sini berlatih untuk memahami bagaimana memimpin yang baik, bagimana menjalankan organisasi yang benar dan lain-lain. Kita berubah dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak tahu menjadi tahu. Dan ini harus berjalan dengan konsep atau pengertian Pendidikan Seumur Hidup, long life education. Dalam Islam menuntut ilmu itu wajib” pungkasnya.
Setelah selesai diskusi, peserta dibagi menjadi grup untuk selajutnya membuat rangkuman hasil diskusi. Agar benar-benar terpatri dalam ingatan peserta, tiap kelompok membeberkan hasil diskusi, dan dipimpin oleh moderator, hasil yang ada dari tiap kelompok dirangkum menjadi hasil diskusi. Lalu diarsipkan oleh panitia. Acara diskusi selesai, dan ditutup oleh moderator.
Latihan Dasar Kepemiminan berjalan terus sesuai dengan alur waktu yang ditentukan, sampai tiba hari penutupan. Acara penutupan diadakan dengan sangat berkesan, diiringi luluhnya air mata kesedihan berpisah, karena kesadaran akan pentingnya tugas dakwah kepada teman-teman seusia, saudara-saudara seiman dikampung mereka masing-masing. Juga karena harus berpisah dari teman-teman se organisasi yang telah sekian lama berkumpul bersama. Acara penutupan dan perpisahan selesai pukul empat pagi dan dilanjutkan dengan shalat tahajjud dan disudahi dengan shalat subuh bersama. Beberapa peserta pergi tidur dan beristarahat sebentar sampai pukul delapan pagi, lalu beranjak membenahi segala peralatannya untuk kembali ke tempat, ke kampung dan ke rumah masing-masing. Ia harus berpisah dengan teman akrabnya, anak petani penolong keluarga yang gigih itu. Temannya anak petani itupun pamitan untuk pulang, karena ia harus segera membantu kedua orang tuanya. Setelah mengucapkan salam, ia mengambil sepedanya, mendorong sebentar lalu naik ke atas sadel tempat duduk dan mengayuh, perlahan-lahan dan semakin lama semakin cepat dan menghilang dikejauhan sebatas cakrawala pandangan mata.
Kesan pertemanannya itu lama membekas dalam hatinya, mungkin karena latar belakang yang sama. Ia ingin sekali mengulang pertemuan seperti yang mereka lakukan ketika pergi mandi, sambil saling memberi semangat dan bercerita kembali tentang keadaan keluarga masing-masing. Dan kembali melihat pemandangan danau di kampung yang masih bersih dan asri itu.
Ia merindukan temannya ini. Ia sangat berharap, mereka bisa bertemu lagi di lain waktu, tapi sayang harapan tinggallah harapan, ia hanya bisa memendam rasa rindu. Setelah berbilang tahun berlalu, ia tak pernah lagi mendengar kabar temannya itu. Ini jadi kenyataan, mereka yang pergi lebih dulu, selalu datang dengan tabir khayalan, rindu. Ia juga harus berpisah dengan Mulyawati yang cantik rupawan namun galak itu dengan bersalaman dan dengan wajah yang biasa saja, kecuali tiba-tiba tersipu malu ketika digoda oleh teman-temannya. Inilah salah satu lagu dan pantun perpisahan yang menyedihkan itu,
Biarlah segala kegelisahan,
bersama ratap tangis semua
menambah indahnya perpisahan
Dan mesranya masa bersama
andai esok lusa terdengar hamba tak pulang
hilang lenyap tidak kembali
jenguk pusara antarkan doa taburkan kembang
walau setahun hanya sekali
******
Pagi hari pukul setengah delapan, mereka telah siap semuanya untuk pulang ke rumah masing-masing. Pakaian kotor yang belum sempat dicuci, alat-alat tulis dan lain-lain, sudah di masukkah dalam koper atau dipak sesuai dengan kebutuhan. Yang akan pulang ke Pematnag siantar, mereka menanti di pinggir jalan ke arah Dolok Merangir atau Pematang siantar. Mereka menanti bus dari arah Bandar yang menuju Pematangsiantar.. Tak lama kemudian bus datang, dan berhenti. Rombongan yang akan ke Pematangsiantar naik ke bus. Setelah semuanya duduk, pembantu sopir berteriak "tarik...!", dan pak sopir menekan gas seperlunya dan menginjak kopling untuk memasukkan gigi satu. Bus perlahan bergerak, mengambil poisisi di jalan yang sesuai lalu menyesuaikan kecepatan. Selamat tinggal Serbelawan, sampai jumpa lagi di lain kesempatan. ***
Hari pertama setelah selesai acara latihan ini, perasaan sepi sendiri di rumah terasa mencekam. Ketika bangun pagi hari, ia rindu teman-temannya ketika bersama-sama pelatihan. Sekarang tinggal sendirian, teman-teman telah kembali ke tempat masing-masing. Untunglah masa libur sudah hampir selesai, sehingga ia segera bisa ke sekolah bertemu teman-temannya. Kesan selama pelatihan dan acara penutupan itu sangat mendalam mempengaruhi kesadaran akan tanggung jawabnya sehingga sangat sukar dilupakan. Hal yang terus berulang beberapa hari, sampai perlahan-lahan perasaannya biasa kembali, tapi sudah ditambah pengalaman yang amat berarti, yang sangat banyak mempengaruhi tingkah laku, kesadaran akan tanggung jawab masa depan, masa depan agama, masa depan nusa dan bangsanya.
Lanjutan Latihan
Setelah kegiatan berjalan sebagaimana biasa kembali, rapat pengurus di Madrasah Alwashliyah Jalan Sipirok diputuskan untuk mengadakan pengkaderan lanjutan di Serbelawan atau Laras bergantian setiap hari Minggu. Ia dan Bang Ali Nasution dari Kampung Melayu ditugaskan untuk menghadirinya, sekalian ia bertindak sebagai peserta sekaligus juga membantu Bang Ali. Disinipun ia digoda oleh teman-teman dan senior atau yang lebih tinggi kelasnya, Bang Zul, Bang Ali, Rustam, Agus Purba dan lain-lain,
“Jumpa lagi la ya, Nurain”, sela Agus, gaya bahasa Melayu.
“Jumpa sama siapa?” tanyanya. Disebelahnya Bang Zul tertawa menyeringai sambil
melirik kepadanya.
“Alaaaah….Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu, ha ha ha …….” Agus tertawa memanaskan situasi.
“Udah ada yang ngatur, mudah-mudahan jadi atau tidak itu urusan lain”, Bang Zul.
Ia diam saja, karena ia sadar ini hanyalah gurauan untuk menghidupkan susana. Padahal ia sendiri tidaklah ada perasaan sama sekali. Jumpa ya jumpalah, memang sudah tugas, demikian ia bergumam dalam hati.
Minggu pertama berjalan lancar, di madrasah Serbelawan. Materinya tentang pembelajaran Tauhid, disangkut-pautkan dengan Anggran Dasar. Diskusi ramai, saling mengeluarkan pendapat masing-masing. Hubungan ke atas, vertical, hubungan langsung kepada Allah SWT. Ke kiri hubungan dengan lingkungan dan alam, ke kanan hubungan dengan sesama manusia. Pembahasan selalu mendalam, di bawah kendali moderator agar diskusi terarah. Salah seorang peserta, bertanya,
“Bagaimana hubungan dengan dirinya sendiri? Apakah hal ini tidak perlu?” tanyanya. “Oh ya, perlu, perlu sekali. Dalam hidup dan kehidupan, hal ini sangat diperlukan.
Seseorang perlu hidup dalam suatu kehidupan, itu intinya” lanjutnya.
“Tidak ada yang bisa diharapkan dari orang yang sudah meniggal atau mati. Agar hidup
maka seseorang harus menjaga diri, kesehatan terpelihara dan ilmunya bertambah setiap saat, sehingga selalu siap sedia untuk menghadapi kemajuan zaman”.
Inilah kelebihan seorang pelajar yang telah pernah mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan. Paling tidak ia sudah berani mengemukakan pendapat, terkait dari pelajaran sebelumnya, bahkan menghubungkannya dengan pelajaran sekolah atau bacaan surat kabar yang ada. Bagi seorang pelajar yang mempunyai kegiatan dalam organisasi extra di luar sekolah hal seperti ini sudah biasa. Jadi lebih siap dan mampu untuk menghadapi situasi sehari-hari, sambil merencanakan masa depannya. Ia mempunyai keunggulan lebih dibanding dengan mereka yang hanya belajar di kelas sekolah saja. Dan ini sangat mendorong kemampuannya untuk mencapai keberhasilan hidupnya kelak dimasa depan. Bagaikan musafir yang berada dibawah pohon kehidupan masa kini, terus mempersiapkan bekal di bawah pohon kehidupan yang akan datang yang sudah pasti tidak sama dengan keadaan pohon kehidupan saat ini. Masalah yang akan timbul dimasa depan tidak bisa di selesaikan dengan cara seperti sekarang.
Minggu-minggu terus berlalu, ia tidak pernah absen ke Laras. Ia sangat senang ke sana, karena dari sejak kecil ia senang melihat keindahan alam, melihat indahnya jalan yang dilalui. Mungkin juga ingin bertemu Mulyawati. Juga mendapatkan pelajaran kehidupan yang tidak pernah diketahuinya dari sekolah, tapi hanya akan diperolehnya ketika berinteraksi atau berkomunikasi secara langsung. Ia pernah dimarahi Bang Ali, karena perilakunya yang kurang berkenan, tidur di atas bangku madrasah, yang terkesan bermalas-malasan. Ia terkesiap, ia tidak mengetahui hal seperti itu akan menurunkan wibawanya sebagai asisten pelatih. Ia tidak pernah berbalik marah ketika diingatkan. Termasuk kebiasaannya mengetuk meja ketika duduk bersama menghadapi meja. Untuk menghilangkan kebiasaan yang jelek itu, ia diberi petunjuk agar selalu kedua telapak tangan saling berkait, sehingga kebiasaan bergendang meja itu hilang, sampai sekarang. Dan banyak lagi pelajaran yang dapat diambilnya dari setiap pertemuan dan setiap interaksi dengan Bang Ali, Bang Zul, Ustadz Mukhtar atau siapa saja. Pergaulan yang banyak, menambah interaksi komunikasinya dengan banyak orang, sehingga selalu ada perbaikan tingkah laku dirinya dari hari ke hari. Ia menjadi pribadi yang Be my self, yang berubah menjadi pribadi yang lebih baik hari ini dari hari kemarin, bukan Be unchanging my self, pribadi yang tidak mau berubah sama sekali.
Biasanya, pukul setengah tujuh mereka berangkat bersama Bang Ali. Bisa naik sepeda, tapi lebih sering menumpang bus, karena jaraknya yang cukup jauh, 28 kilometer. Kalau ditempuh dengan sepeda, perginya enak dan mudah karena jalan menurun, tapi pulangnya jalannya jalannya mendaki, amat melelahkan dan lama. Pagi itu mereka naik bus. Ia rela saja sebagaian uang tabung-annya dipakai untuk ongkos. Kadang-kadang juga diam-bil dari iuran organisasi. Setelah bus melewati Jalan Patuan Nanggi, lalu persimpangan Marihat Nahor, Dolok Melangir menanti di depan.
 |
| Gambar xxx. pengumpl getah karet |
Pohon karet di perkebunan yang luas, terlihat berdiri, berbaris teratur seakan mengawal negeri, dengan dedaunannya yang berayun lembut ditiup angin. Di sepanjang jalan terlihat hijau dengan rerumputan kacang-kacangan, konon ditanam untuk mencegah erosi. Pengumpul karet dari hasil menakik pohon atau menderes hari kemarin, mengambil mangkok getah dari pohon dan menuangkan isinya ke dalam kaleng pengumpul. Lalu pohon dideres lagi, menempatkan mangkok penampung getah untuk dipanen esok pagi. Setelah kaleng pengumpul penuh, mereka membawanya ke bak pengumpul akhir sebelum dibawa ke pengolahan, yang siap dikirim ke pabrik apa saja yang menggunakan bahan karet. Terutama untuk ban sepeda, ban sepeda motor, ban mobil, juga ban pesawat terbang dan lain-lain. Mereka kelihatan bekerja giat, berpindah dari satu pohon ke pohon berikutnya. Dalam masyarakat setempat mereka disebut sebagai penderes, yakni pekerja yang menakik kulit pohon dengan aturan dan cara tertentu, agar getah pohon karet keluar, tapi tidak merusak pohon atau mengakibatkan pohon mati.
Tidak lama kemudian, petunjuk jalan untuk membelok ke arah kanan, ke Serbelawan, terpampang di depan. Masih terlihat pohon karet di kiri kanan jalan dan penderes bekerja, walaupun hari itu hari Minggu. Mungkin mereka lembur atau mengganti hari dimana mereka berhalangan. Pengemudi atau supir bus mengurangi kecepatan, lalu menyalakan lampu sen kanan sebagai tanda akan membelok ke arah Serbelawan. Sambil melihat kaca spion untuk memantau kendaraan yang datang dari belakang, dan melihat juga kendaraan yang datang dari depan, dengan hati-hati pengemudi membelokkan busnya ke arah Serbelawan. Kemudian lampu sen dimatikan, bus berjalan lurus mengikuti jalan sambil menyesuaikan kecepatan. Kira-kira tujuh kilo meter kemudian, perkampungan kelihatan didepan, pertanda Laras sudah dekat. Kalau diadakan di Serbelawan, mereka terus berlanjut ke sana, tiba di Madrasah tempat lanjutan latihan kepemimpinan. Mulyawati juga rajin ikut pelatihan, karena memang orangnya cerdas dan ingin maju, walau galaknya masih ada tapi sudah mulai berkurang. Karena sering diolok-olok temannya, dan karena seringnya bertemu karena keperluan pelatihan dan diskusi, kelihatannya ia mulai tertarik dan Mulyawati juga kelihatannya lama-lama akhirnya senang juga. Dan oleh karena itu Mulyawati sering berdekatan dengannya, terutama ketika beristirahat sambil melanjutkan diskusi. Peserta yang lainpun mulai mengetahui dan maklum saja akan hal itu. ***
Sebenarnya ia juga mempunyai adik pariban di Laras, anak pamannya Anwar Pulungan. Anwar Pulungan ini adalah adik sepupu ibunya dari bawaan suami nenek ketika menikah dengan almarhum nenek Abul Pulungan dari Tomuan Hilir. Iapun memanggil mamak atau paman kepada Anwar Pulungan, yang ketika itu bekerja sebagai karyawan senior Perkebunan. Pamannya ini mempunyai tiga orang anak, perempuan semuanya. Tapi tidak ikut organisasi IPA di Laras. Suatu saat ia pernah berjumpa dengan salah seorang dari ketiga paribannya ini, berparas cantik, sebut saja namanya Nurbaiti. Ia cantik karena ibunya memang cantik, tercantik dilingkungan perkebunan. Panggilannya sehari-hari sebut saja Nur. Ketika ditanya di mana sekolahnya, kalau tidak sekolah, pekerjaannya apa. Ia tidak banyak bercerita dan tidak menjawab apapun, hanya menundukkan kepala, kelihatan bersedih. Ia tidak meneruskan pertanyaan walau tidak dijawab. Ia takut meneruskan pertanyaan lebih lanjut, karena sepengetahuannya hidup pamannya ini memang kurang bahagia, sehingga Nur hanya lulus SMP dan berhenti sekolah. Ibu Nurbaiti, Maemunah, istri pamannya Anwar Pulungan dan ibu ketiga paribannya ini pergi entah kemana, menikah dengan orang lain, ketika mereka, yang paling besar bernama Butet, masih berumur delapan tahun. Karena ia pernah mendengar Nur sebagai penyanyi, lalu ia bertanya:
“Kabarnya Nur jadi penyanyi, apa masih, dik?”, tanyanya.
“Masih Bang, penyanyi kampung, kadang-kadang ke Siantar”, jawabnya.
“Mamak Anwar dimana sekarang? Apakah dia sehat-sehat saja?”, tanyanya.
“Masih dirumah, kadang pergi entah kemana, tapi sudah mau pensiun, dan sehat kok
Bang”, jawabnya.
“Gini dik Nur. Kami dari sekolah STM Pematangsiantar sedang Kerja Praktek disini, di bagian peralatan listrik. Maaf ya dik, karena padatnya acara, abang tak sempat ke rumah. Sampaikan salam sama Mamak Anwar ya dik”, pungkasnya,
“Iya Bang”, jawab Nur sambil tersenyum. Muka sedihnya sudah hilang. Setelah berjabatan tangan, ia mengucapkan salam, Nur berlalu dan ia beranjak ke penginapan.***
Suatu ketika, naluri ibunya muncul ketika anaknya, Nurain, jarang di rumah pada hari Minggu, didengarnya sering pergi ke Laras. Beberapa minggu sudah ia tidak melihat anaknya dan tidak dijumpainya di rumah setiap hari Minggu. Mungkinkah anaknya mencari jodohnya? Kalau ditanya adik-adiknya, mereka mengatakan tidak tahu.
“Kemana abangmu Kamisah, udah jarang kutengok di rumah kalau hari Minggu”, tanya ibu,
“Mungkin ke Laras, Mak” kata Kamisah, yang waktu itu sedang kelas satu PGA Islam
Negeri di Pematang Siantar.
Mungkin Kamisah juga sudah mendengar selentingan tentang menjodoh-jodohkannya dengan perempuan di Laras.
“Ke Laras ? Ngapain dia ke sana?” tanya ibu lebih lanjut,
Dalam pengelihatannya, dan juga dari adiknya Kamisah, memang Nurain belakangan ini sering pergi ke Laras. Ada apakah gerangan?
Begitulah pembaca! Ibunya pun rupanya karena ingin tahu dan sedikit curiga, tidak sabar dan
bertanya, ketika bertemu dengannya malam hari.
“Ku tengok, kau sekarang suka pergi hari Minggu, kemana sajanya kau melalak rupanya Nurein?” tanya ibunya, dalam Bahasa Indonseia gaya bahasa keluarga.
Melalak artinya pergi berjalan-jalan, pergi kemana saja ke tempat yang kita sukai.
“Ke Laras Mak, kalau ada keperluan langsung ke Serbelawan”, sahutnya.
“Yang adanya calon menantuku di sana?”, nah … mungkin ibunya hanya bercanda, mungkin juga sungguh-sungguh.
Ia terkejut, ibunya curiga, tidak jelas cemas atau senang, kalau ia berhubungan dengan Nurbaiti paribannya itu. Atau dengan perempuan manapun. Padahal sebenarnya tidak demikian.
“Alamaak, …….macam mananya Mak ni! Belum adalah mak, cuma pelatihan organisasi, sambil menemani Bang Ali dari Kampung Melayu”, lanjut sahutannya,
“Mana mungkin memikirkan calon menantu sekarang Mak, orang sekolah pun belum
selesai, kerja apalagi, mau dikasi makan apa anak orang nanti, mak? Lagi pula umur masih muda kali kaaan…Mak!” lanjutnya sambil tersenyum, malu-malu.
Ia berucap demikian, karena memang soal pernikahan ini sering juga dibahas dalam setiap pelatihan. Nama acaranya budi pekerti atau psikologi keluarga. Jadi ia sedikit lebih dewasa dalam hal ini, juga mengingat peristiwa ketika ia masih di SD dulu, rasa senangnya kepada seorang perempuan yang mengharu biru yang hampir membuatnya rusak ingatan.
“Oh… begitu rupanya. Ialah kalau begitu, hati-hati saja jangan sampai salah langkah, ya nak” sahut ibunya, menasihati, senang melihat anaknya bertanggung jawab akan masa depannya.
Lalu ibu terdiam dan kemudian melanjutkan pekerjannya. Ibu merasa tenang dan senang, karena ia yakin dan percaya, apa yang dikatakan anaknya benar adanya.***
Sampai terjadi satu Minggu yang menyesakkan dadanya. Bang Ali tak bisa menemani, digantikan oleh ustadz Mukhtar Batubara dari Kampung Tomuan. Pagi itu mereka berangkat dengan bus. Pelatihan membahas materi tentang ke Alwashliyahan. Setelah selesai, mereka berhenti dan ketika beristirahat, Mulyawati banyak berbicara dengan ustadz Mukhtar, ada rasa cemburu juga dihatinya. Memang ustadz Mukhtar lebih tampan, lebih rapih dan lebih pintar berbicara. Ia merasa tersisihkan. Atau ia tidak bisa mengeluarkan pikiran jernihnya ketika menghadapi masalah rasa cemburu yang tidak bisa diselesaikan dengan akal sehat ini. Selalu bermain perasaan atau emosi, berfikir logis terabaikan. Tapi dibalik kecemburuannya, ia juga merasa terbantu untuk tidak lagi berhubungan degan Mulyawati, karena ia akan bersungguh-sungguh belajar pelajaran sekolah, karena sudah pertengahan tahun ajaran, sebentar lagi akan ujian akhir kelas tiga STM. Sejak kejadian itu, kalau di ajak ke Laras atau ke Serbelawan, ia selalu secara halus menolak, dengan alasan sudah dekat ujian sekolah. Walau awalnya hatinya merasa tersakiti karena harus melawan rasa rindu yang mulai menggelayut dihatinya, yang lama kelamaan dapat dilupakannya dengan menyibukkan diri belajar mempersiapakan diri untuk ujian akhir di STM.
Demikianlah kegiatannya sehari-hari, di organisasi IPA dan sekolah. Ia tetap serius, sungguh-sungguh, kerja keras atau wholehearted dengan sekolahnya di STM. Alhamdulillah, perilaku yang sedikit-banyak kampungan, ndeso kata orang Jawa, atau udik kata orang Betawi, telah banyak berkurang. Ia kini sudah mengerti, bagaimana berpakaian yang sopan dalam pergaulan yang Islami. Ia juga sudah mengerti, kalau hendak makan, kalau tidak menggunakan sendok garpu, cara menyuap nasinya ada aturannya. Tangan tidak boleh berlepotan dan jangan menyuap nasi terlalu besar dan tidak boleh ada butiran nasi yang berceceran disisi piring makan. Kalau hendak cuci tangan sebaiknya ke keran tempat cuci tangan, dan jangan sekali-kali mencuci tangan di atas piring bekas makan. Kalau menggunakan sendok garpu, bagaimana cara memegangnya, mengambilnya dari tempat sendok garpu yang mana yang harus didahulukan, dan ketika memakainya tidak boleh mengeluarkan suara akibat gerakan sendok yang menyentuh piring, kemudian meletakkan tempat sendok garpu di atas piring setelah makan selesai. Bersendawa tidak baik didepan orang banyak, kalau perlu mulut ditutup atau keluar dari kelompok jika tidak bisa ditahan. Tidak boleh berkacak pinggang ketika menghadap seseorang, walaupun yang kita hadapi lebih muda. Menggigit sesuatu ketika berbicara. Selalu mengucapkan salam ketika bertemu siapa saja sesama muslim. Selalu bersalaman ketika bertemu, terutama orang tua teman kita. Tidak bersuara terlalu keras, apalagi terkesan emosi. Jangan tertawa terbahak-bahak, yang bisa membuat kita lupa pada Allah. Tidak membuang muka ketika bersalaman, dan lain-lain masih banyak lagi, tidak semua dapat dituliskan disini.
Lagu-lagu organisasi hampir semua dikuasainya. Termasuk penguasaan lagu-lagu religi khas Sumatra Utara, yakni lagu-lagu ciptaan dari grup gambus atau nasyid El Suraya pimpinan Ahmad Baki Nasution dari Medan. Pernah salah seorang penyanyinya datang dari Pematangsiantar.
Kegiatan organisasi terus dilanjutkannya, juga dengan serius, sungguh-sungguh. Jika ada kegiatan khusus, tidak jarang ia harus pulang pukul dua pagi, dari Timbang Galung ke kampung Tomuan sejauh duabelas kilometer menggunakan sepeda. Ibunya jugalah yang membukakan pintu ketika ia pulang, tiba di rumah dan membangunkan ibu dengan mengetuk jendela kamar tidur ibu. Ibunya tidak pernah marah, walaupun ibu tahu kalau paginya ia harus sekolah, karena selama ini belum pernah ada keluhan dari tempat ia sekolah. Kabar yang diterima ibu akan kelakuan dan kegiatan sekolahnya semuanya dikabarkan kepada ibu baik-baik saja. Ibunya bangga kepadanya. Ibu yang penuh pengertian, walaupun pendidikan sekolahnya amat terbatas. Cuma kasih sayangnya, terasa melebihi kemampuan ibu-ibu yang lain. Terima kasih ibu, untuk kasih sayang yang tak pernah usai.
Ia pernah memimpin dan mengatur pelaksanaan perayaan Maulid Nabi di sekolahnya STM Negeri Pematangsiantar, untuk semua kelas, dan STM swasta yang berada disekolah ini.
“Nurain, jangan lupa, ikutkan teman-temanmu dari sekolah kami ya Nur”, demikian kepala sekolah STM swasta dilingkungan sekolah ini.
”Ya pak”, jawabnya. Lalu,
“Dil, selain SMA, hubungi Sekolah STM swasta yang sore ya?” ia menyuruh temannya, Adil, yang khusus mengkordinir peserta dari sekolah lain di lingkungan dan gedung sekolah yang sama.
Ia mengenal kepala sekolah STM Swasta ini, karena juga sebagai gurunya di STM Negeri. Akhirnya, juga disatukan dengan peserta dari sekolah SMP yang berada satu kompleks sekolah. Dari permintaan izin, mencari penceramah, anggaran pembiayaan, sumbangan per-siswa, bantuan dari sekolah masing-masing, mengatur juadah atau konsumsi, tempat, pengeras suara, undangan, pengisi lagu-lagu dan musik. Semua dilaksanakan berdasarkan pembagian tugas dalam uraian kerja, seperti apa yang dialaminya sejak aktif di organisasi extra sekolah, IPA, sehingga ia tidak canggung sama sekali mengorganisir peringatan ini.
Pada saat acara, aula besar di lingkungan sekolah ini penuh sesak. Ustadz A. Karim Nasution sebagai pengisi ceramah, selama satu jam lebih, berhasil menyampaikan ceramah yang berkaitan Maulid dengan pentingnya pendidikan dimasa yang akan datang. Ceramah yang segar, menggugah dan mendorong pelajar berfikir akan masa depannya.
Rantina
Teman perempuan yang selalu aktif di IPA dari kampung Tomuan adalah Asmah Marpaung, guru di Madrasah Alwashliyah di Jalan Cipto Pematangsiantar. Rumahnya berdekatan dengan rumah pak Abdul Hamid Simbolon, guru bahasa Indonesianya ketika sekolah di ST dulu. Asmah mempunyai seorang adik perempuan, namanya Rantina. Dalam pergaulan dengan perempuan di luar sekolah atau organisasi, ia amat membatasi bertatapan langsung. Atau melihat perempuan berlama-lama, baik di sekolah maupun di pengajiannya.
 |
| Gambar xxx. Kantotr Kelurahan Tomuan |
Kecuali saat berdiskusi. Hal yang sesuai dengan ajaran agama dan budi pekerti yang diperolehnya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk mematuhinya. Ia sudah tidak lagi pergi ke Laras atau Serbelawan karena peristiwa kunjungannya dengan Ustadz Mukhtar Batubara yang dulu.
Tidak terasa, tidak disangka-sangka Rantina selalu memperhatikannya dan ikut aktif di organisasi, walaupun masih malu-malu dan terbatas hanya aktif di kampung Tomuan. Rantina sering kelihatan muncul kalau ia ada, dan berusaha memperhatikan, mendekati dan selalu membantu sebisanya, tanpa kata-kata. Teman-temannya juga melihat hal yang sama. Ia hanya heran saja karena ketika kakaknya, Asmah Marpaung, rupanya melihat dan mengerti hal ini. Lalu Asmah berkata:
“Diam-diam, kalian sering saling memperhatikan rupanya ya, Nurain”, Asmah memulai, melihat wajah Rantina dan wajahnya, bergantian.
Rantina kelihatan malu-malu sambil tersenyum ditahan.
“Kok tidak ke saya aja, Nur? Kan aku sudah lama kenal sama Nurain!”, serunya dalam gaya bahasa setempat, sambil tersenyum penuh arti dan maklum.
Memang ia sangat akrab dengan Asmah, bahkan bukan saja akrab, tetapi sudah menganggapnya sebagai saudara sendiri. Asmah tidak pernah merasa canggung berdekatan dengannya, walaupun penampilannya, termasuk pakaiannya, tidak sebaik teman laki-laki yang lain.
“Ah, masak ia, tak kusangka”, jawabnya juga dengan gaya bahasa logat setempat, sambil bercanda.
Ia tidak banyak mengucapkan kata-kata jawaban selanjutnya. Ia sendiri tersipu-sipu, agak canggung dan ragu-ragu, karena Rantina cantik, matanya agak sipit, warna kulitnya putih mendekati kuning langsat. Asmah juga cantik, warna kulitnya agak lebih gelap, tapi selebihnya cantik dan baik hati. Semua keluarga Asmah kakak beradik yang perempuan cantik rupawan. Ia kenal dengan keluarga Asmah karena sering singgah disana ketika akan berangkat atau pulang dari pelatihan. Ibu bapaknya juga ramah dan selalu menyambutnya tatkala ia singgah. Memang ia pernah membonceng Asmah naik sepeda ketika pulang dari latihan organisasi, perlu cepat karena akan segera turun hujan. Ia akrab dengan Asmah. Ungkapan-ungkapan bahasa Batak sering diperagakan oleh keduanya. Apakah Asmah berbicara dari lubuk hatinya atau bercanda ketika mengucapkan kata-katanya tadi, ia tidak tahu.
Keluarga Asmah dan Rantina lebih berada dan lebih berpendidikan dibanding dengan keluarganya. Rumah mereka besar dan bagus, bersih, rapih dan terletak di daerah yang cukup baik di Jalan Pattimura. Di halamannya terdapat pohon-pohon yang besar dan tinggi, ada rambutan, ada mangga dan beberapa pohon kelapa. Jendela dan ruang tamu tebuat dari kaca putih tembus pandang, dipasang kain gorden atau tirai jendela rumah yang indah dan serasi. Kursi-kursi tamu dan perabotan rumah mereka terbuat dari bahan-bahan yang bagus. Ia merasa malu dan sedikit merasa rendah diri dengan Rantina. Terutama kalau sudah membandingkan dengan keluarga dan rumah mereka.
Di rumah mereka, tidak ada yang namanya kasur, apalagi kursi tamu. Yang ada hanyalah sebuah meja panjang untuk tempat belajar di malam hari dan menyetrika pakaian, lengkap dengan bangku-bangku panjang sederhana. Di kamar depan bersatu dengan ruang belajar, ada tempat tidur terbuat dari kayu, tempat ayahnya selalu tidur di sana. Ruang kamar tidur hanyalah terbuat dari papan yang tersusun, diganjal tiang ujung yang satu dengan yang lainnya, dihubungkan dengan tiang penyangga di tengah, sehingga tidak langsung terletak diatas lantai. Lalu diberi alas tikar, tempat mereka kakak-beradik tidur bersama, dengan bantal dan selimut seadanya. Benar-benar sangat sederhana. Sebuah lemari usang terletak disudut, tempat pakaian mereka disimpan.
Sehari-hari keperluan hidup mereka ditopang oleh penghasilan ibu berdagang di pasar, serta juga dari hasil bengkel sepeda. Pas-pasan, bahkan cenderung kurang. Termasuk keluarga miskinkah mereka? Bisa jadi. Maka kalau ada diantara mereka yang sakit parah, tidaklah mungkin berobat ke dokter, karena tidak mempunyai dana untuk berobat. Keluarga yang serba kekurangan seperti mereka diharapkan tidak boleh sakit, karena kalau sakit sudah pasti biaya berobatnya tidak cukup atau bahkan sampai tidak ada. Akhirnya, semuanya dibiarkan, semuanya diserahkan kepada kemauan Allah terhadap doa mereka serta kemurahan lingkungan dan alam untuk menyembuhkannya. Kalau ada yang sakit parah, kemungkinan tidak akan terobati dengan sempurna. Dengan semua alasan itu pula ia tidak berani mengajak teman-temannya ke rumah.
Rantina kulitnya putih, seorang gadis yang sedang tumbuh berkembang, laiknya sekuntum bunga melati. Saat itu ia kelas tiga salah satu SMP faporit di Pematangsiantar. Ia bagaikan melati putih, terputih dari yang putih, yang daunnya hijau di musim kering kemarau. Kemilau ketika disinari mentari pagi dan senja hari.
 |
Gambar x. Bunga Melati |
Dan kini sedang musim bunga tiba, kembang melati itu mulai merekah, bersinar menebarkan pesona kecantikan dan keharuman ke sekelilingnya. Tahunpun telah berganti, keindahan alis matanya tak lagi menyerupai bulan sabit hari keenam, tapi kini perlahan tapi pasti, raut wajahnya sedang berubah menjadi bulan purnama jelmaan melati. Cahayanya menyinari lingkungan alam sekitar, menonjolkan warna putih dan sejuk, yang bening berseri, yang ketika dilihat selalu menggetarkan hati. Kemasan yang elok rupa. Gerangan apakah yang membuat Rantina selalu memperhatikannya? Ia tidak tahu. Ia tidak berani untuk mendekatkan diri lebih jauh, karena merasa tidak punya kelebihan apapun, baik materi atau fisik tampan yang bisa dijadikan modal untuk mendekati Rantina yang elok rupawan. Namun demikian, sesungguhnya ia tidak mengingkari hatinya, ia merasa senang dan tertarik kepada Rantina. Di samping itu, ia takut diremehkan, dan juga tak sudi dilecehkan, ia menghindar untuk dihina, karena akan sangat menyakitkan hatinya. Lalu ia sedikit-demi-sedikit menjauh dengan sesopan dan sebaik mungkin. Ia berusaha agar tidak seorangpun yang merasa tersakiti. Ia tidak melanjutkan dengan ta’arruf dan memperkenalkan diri lebih jauh, padahal mungkin Rantina menunggu. Ia hanya bangga, bahwa ia yang jauh dari sederhana ini, masih ada seorang perempuan yang cantik yang selalu mau memperhatikannya. Sebenarnya, ternyata ia masih punya arti. Semangatnya tumbuh, kepercayaan dirinya bertambah. Ia sendiri mempunyai kemasan yang kurang memadai, tapi tidaklah miskin isi, karena di sekolahnya ia merasa dirinya cukup memadai kepintarannya. Juga karena saat itu ia sedang bersiap-siap ke Bandung. Sambil dalam hatinya berfikir, kelak jika tak ada aral melintang dan takdir membawanya kesana, tentu ia bisa mendekati Rantina nanti. Satu kesalahan, yang kelak akan dirasakannya ketika ia ingin mendekati Rantina kembali, setelah lulus sarjana muda dan telah bekerja. Dimanakah engkau sekarang, Rantina?****
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, kelas mereka pernah praktek kerja di bengkel perkebunan tali rami di Laras, kota perkebunan dekat dengan Serbelawan selama sebulan penuh. Di sana mesin-mesin penggerak kerja umumnya menggunakan mesin tenaga listrik. Guru pendampingnya adalah pak Sitanggang. Disini mereka dilatih untuk melihat gambar distribusi tenaga listrik, anti petir dan sekring pengaman yang baku. Setelah itu melihat penyambungan dari kabel distribusi SUTM (Saluran Udara Tegangan Menengah) beserta anti petirnya. Tentu ia semakin mahir penggunaan mesin-mesin listrik. Teman-temannya dari IPA untuk cabang Laras dan Serbelawan, sesekali datang juga menjenguknya ke mess perkebunan tempat mereka menginap, bersilaturrahmi. Atau kadang-kadang ia memaksakan diri datang ke madrasah tempat mereka mengaji. Sebelum kembali ke Pematangsiantar, ia pergi ke madrash mohon diri. Ia harus membuat laporan akhir selama kerja praktek. Dari tiap siswa diwajibkan membuat laporan, terutama kepada tuan rumah, bagian perbengkelan perkebunan.
Di akhir tahun 1979 salah seorang dari temannya ketika di STM pernah bertemu dan kuliah bersamanya di ISTN Yaperci Jakarta namun berbeda jurusan. Namanya Besli. Tapi tak lama kemudian tak ada kabarnya lagi. Zuraida bekerja di sekolah STM dimana dulu mereka bersekolah dan satu kelas bersama, yang alamat barunya di Jalan Asahan itu. Ketika ia pulang dan mendatangi sekolah untuk melegalisir fotokopi ijazahnya untuk ujian akhir sarjana di ISTN, ia tak berjumpa, kabarnya Zuraida sedang ikut kursus di Bandung. Kristina tidak jelas hutan rimbanya dimana. Ia hanya jumpa dengan pak Gultom guru Matematika, pak Hutapea guru Bahasa Indonesia dan Pak Nainggolan Kepala Sekolah. Guru Rangkaian Listrik Ibu Simare-mare sudah pindah ke Medan, dan pak Sitanggang guru pembangkit dan mesin listrik telah meninggal dunia. Guru-guru baru tidak mengenalnya. Demikianlah, Pematangsiantar adalah kota pendidikan, banyak sekolah berdiri disana, baik yang berstatus negeri maupun swasta, sekolah kejuruan atau umum. Banyak kenangan manis tertera di kota ini. Beribu masalah pelajarpun sering dijumpai di sini.***
Keadaan kehidupan mereka bersama orang tua dan adik-adiknya yang serba terbatas, cita-citanya untuk melanjutkan sekolah ke Bandung itu terkadang datang menjadi pendorong atau motivasi yang kuat untuk terus berusaha mencapainya. Terkadang seakan hilang, sirna diterpa kesulitan hidup kedua orang tua dan niatnya untuk membantu. Meski demikian, satu demi satu persiapan untuk sekolah di Bandung tetap ditempuhnya, belajar berenang dan terutama mata pelajaran yang diperlukan kelak di perkuliahan sesuai dengan apa yang telah diangankannya ketika di SD dulu. Kursus Bahasa Inggris dengan usaha sendiri.
Beruntung ia lulusan sekolah teknik, sehingga banyak yang membutuhkan tenaganya untuk pekerjaan mekanik, khususnya mekanik sepeda, lampu tekan minyak tanah dan listrik, disamping aktivitasnya di sekolah dan organisasi extra kurikuler, Ikatan Pelajar Alwashliyah, IPA.
Ia sangat mengerti seluk beluk sepeda saat itu, mahir memperbaiki dan mengelas batang sepeda dan merakitnya, begitu juga memperbaiki lampu tekan minyak tanah dan menginstalasi listrik, sehingga ia bisa menambah penghasilan kedua orang tua dan tabungan dirinya sendiri. Demikian juga, ia tetap masih bersemangat hidup yang tinggi, untuk selalu bertindak dengan teratur, pelatihan kepemimpinan, manajemen, perencanaan masa depan dan pergaulan yang baik, yang sangat banyak diperolehnya dari kegiatan extra kurikuler di IPA.
Lagi-lagi ia merasa, lingkungan dimana ia berada sangat ramah kepadanya. Pelajaran sekolah sangat dikuasainya, walaupun kegiatan di organisasi IPA sangat banyak menyita waktu. Pada suatu ketika, esok harinya ia harus ujian Mesin-mesin listrik, malamnya ia masih bertugas sebagai asisten pelatihan. Karena pada saat pak gurunya mengajar, ia selalu aktif mendengarkan, membuat catatan-catatan kecil dalam bukunya, sehingga ia menguasainya, dan tersimpan dengan baik di benaknya. Ia masih saja lulus dengan nilai terbaik.
Begitu juga ia selalu memperhatikan kedua orang tuanya dan berusaha terus membantu. Ia sudah dapat mengerti dan maklum akan keadaan dan kemampuan orang tuanya, dan oleh karena itu ia harus membantu mereka sebisa mungkin. Ia tidak lagi terlalu banyak menuntut karena ia telah mengerti keadaan dan kemampuan mereka. Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Ketika itu ia telah mempunyai kemampuan perbengkelan sepeda yang dapat diandalkan untuk kehidupan dimana saja. Ia sudah juga mengerti cara pergaulan yang baik dengan sesama teman, karena sering bergaul dengan teman-temannya di IPA dan sering membahas perilaku dan budi pekerti yang baik, termasuk sopan-santun dalam pergaulan, terutama dengan perempuan di organisasi.
Pelajaran agamanya juga terus meningkat di luar sekolah. Apa-apa yang didapatnya ketika belajar di organisasi selalu di mintakan penjelasan kepada ibu Harahap, guru agamanya di sekolah STM. Ibu Harahap tidak pernah marah jika ia bertanya tentang hubungan agama dengan kehidupan sehari-hari, malah ia membanggakannya dan meminta kepada teman-temannya sekelas agar mereka semua, kalau bisa mencontoh apa yang dilakukannya. Terutama tentang ilmu tauhid, hubungan manusia dengan tuhan, alam dan lingkungannya. Ketika dibandingkannya apa yang diperolehnya di sekolah dengan apa yang diperolehnya dari kegiatan organisasi tidak jauh perbedaannya. Hanya yang diperolehnya dari organisasi adalah untuk keperluan keakhlian kehidupan, life skill atau attitude yang berisikan nilai dan sikap, sedangkan yang dari sekolah kebanyakan hanya teori, kognitif atau knowledge saja. Di sekolah kejuruan STM, ia mendapatkan keahlian tambahan, skill. Sampai ia lulus STM sebagai yang terbaik diantara teman-temannya, dengan kemampuan lifeskill, kowledge dan skill yang telah memadai.
 |
| Segitiga sukses |
Konon, menurut orang bijak bestari, orang pintar atau pakar, yang dibacanya akhir-akhir ini, di kala itu ia telah mengembangkan KSA, dan EQ, SQ dan IQ sekaligus di dalam dan di luar sekolah. KSA adalah singkatan dari Knowledge, Skill and Attitude yang berarti pengetahuan, keakhlian, nilai dan sikap. Sedangkan EQ singkatan dari Emotional Quotient, yang berarti kecerdasan emosional, SQ singkatan dari Sipiritual Quotient, yang berarti kecerdasan spiritual dan IQ singkatan dari Intelligence Quotient, yang berarti kecerdasan intelektual.
 |
| Prinsip IQ, SQ dan EQ |
Secara tidak sadar, dengan seringnya ia bergaul di luar dan dilingkungan sekolah. Ternyata ia selalu mengembangkan ilmunya agar selalu mempunyai Competitive Advantages, keunggulan kompetitif, keunggulan bersaing. Selain itu dengan menambah pergaulan dan keahliannya agar mempunyai Comparative Advantage, keunggulan komparatif, keunggulan pembanding yang terus meningkat. Nasib baik selalu memeluknya, hidayah Allah sering bahkan selalu menyertainya. Semuanya berlangsung sebagaimana rekayasa Penebar Kasih Sayang Allah untuknya. Di sekolah ia adalah murid yang menguasai hampir semua mata pelajaran, sedikit di atas teman-temannya. Di luar sekolah ia adalah pekerja keras yang senang membantu siapa saja dengan sukarela.
******