“Kita belok atau terus ke Purnawarman mencegat oplet Dago, Tat?”, tanyanya.
“Karena diskusinya masih panjang, kita belok Tamansari aja. Nanti dimana diskusi telah selesai, kita belok ke jalan Dago dan naik oplet”, Tati menjawab.
Langkah diayunkan membelok ke Jalan Taman Sari, melewati Kampus Kayu UNISBA Jaman Dulu di sebelah kiri. Di depannya ada kampus universitas Pasundan di bawah rimbunan pohon-pohon menghijau dan disebelahnya ada gereja Advent. Lewat Kampus UNISBA terkini, jumpa sekolah SLB asuhan Dr. Anna Alisyahbana, di depan telah menanti Jalan Sulanjana.
 |
UNISBA Terkini
|
 |
Taman Geusan Ulun, ITB |
Berikutnya terlihat perkantoran PDAM di bawah rimbunnya pepohonan di Jalan Badak Singa. Jalan Geusan Ulun memamerkan taman Ganesha yang indah dan Masjid Salman ITB yang megah di kejauhan.
Di depan Masjid ada gedung kayu tempat kantin mahasiswa serba murah, yang sekarang menjadi gedung Bank Muamalat. Kebun Binatang di sebelah kiri mulai menampakkan pintu masuknya, di tingkahi lampu gantung Jalan Ganesha masuk Kampus ITB, dihiasi pohon-rindang menghijau sepanjang jalan, kampus idolanya. Meng-ambil jalan lurus Jalan Tamansari, antenna parabola laboratorium TV pendidikan jurusan teknik elektro ITB menampakkan wajahnya yang syahdu, dengan catnya yang kusam tergerus waktu, mungkin juga karena harus berdiri terus disana entah sampai kapan, lelah karena terus menunggu, tak berbilang waktu. Sekarang menara antenna itu sudah tidak ada lagi, kelihatannya sudah dibongkar. Menyusul Laboratorium Jurusan Mesin, kebun binatang sebelah kiri dan beberapa ekor rusa menampakkan dirinya. Jalan Tamansari ternyata masih panjang.
 |
| Kebun Binatang Bandung. |
Kebun binatang pun berlalu, lalu gedung PRAB, Pusat Reaktor Atom Bandung, kampung lebak Siliwangi dekat sungai, waktu itu, di sebelah kiri dan gedung-gedung lain kampus ITB disebelah kanan. Sampai akhirnya jumpa gedung PAU, Pusat Antar Universitas. Jalan Dayang Sumbi telah di depan, setia menanti dimasuki para pejalan kaki, pengendara motor dan mobil menuju ke arah Jalan Dago atau sebaliknya.
Kabut senja jatuh, menggelayut diatas rimbunan pepohonan mahoni, angsana, kenari dan lain-lain. Lalu turun bak selimut di sepanjang Jalan Taman Sari dan Jalan Dayang Sumbi, menemani perjalanan dua insan, aktivis organisasi pelajar. Pukul setengah lima sore, dinginnya senja tidak terasa karena mereka sedang berjalan dan sudah menempuh jarak yang jauh.
 |
| Kabut Senja di Jalan Dayang Sumbi |
Setelah hampir satu jam mereka berjalan, diskusi tentang organisasi sudah selesai, lalu mulai diskusi tentang pribadi, dari hati ke hati. Entah siapa dulu yang mulai.
 |
Jl. Tamansari Bandung |
Bagaimanakah gerangan memulainya? Apakah yang ditanyakan? Siapakah yang menunggu, siapa pula yang memulai? Ia ingin bertanya, apakah ia sudah mepunyai calon pasangan hidup, tapi tidak tahu caranya. Hatinya gelisah, karena itu ia terdiam, tidak tahu harus bicara apa. Bagaimana pintu masuk pembicaraan kesana? Oh, ya bisa menanyakan atau mengingatkan keberuntungan lelaki yang mengawalnya ketika latihan kepemimpinan di madrasah Al Amin Cisitu dulu. Atau cerita tentang keluarga masing-masing untuk mengetahui jumlah yang masih ada, lalu bertanya kapankah rencana Tati menikah. Atau menanyakan keadaan sekolah TK Bukit Dago dimana Tati mengajar. Bagaimanakah memulainya para pembaca? “Ah biarlah, aku kan hanya menemani” bisiknya dalam hati. Sambil terus mengayunkan langkah, ia bingung, lama terdiam sampai Tati membuyarkan lamunannya dan mencairkan kembali suasana.
“Kok diam aja, apa yang dipikirkan kak Nur?”, Tati menyapa, ia terkejut. Inspirasinya muncul,
“Ingat dulu waktu kita Latihan Kepemimpinan di Madrasah Al Amin, Cisitu. Kalau ada Tati, pasti lelaki itu ada. Siapa sih lelaki yang beruntung itu, Tat?”, tanyanya.
“Laki-laki yang mana?”, balik bertanya.
“Itu, lelaki yang kalau bicara suaranya pelan dan halus, selalu senyum, tampan menawan”, lebih lanjut.
“Saya lihat, ketika pulang juga berjalan bersama mendampingi Tati kearah Jalan Dago, ke Coblong, bersama rombongan”, memperjelas gambaran suasana ketika itu.
“Dan selanjutnya ia kelihatan singgah di rumah Tati dan berbicara dengan Bapak. Siapakah dia itu Tat, kalau boleh tahu”, pertanyaan berlanjut.
Ia bertanya agar kalau kelak lelaki itu nanti berjumpa dengannya, ia dapat menjelaskan kenapa harus berjalan berdua. Juga sebagai jalan masuk untuk pembicaraan lanjut. Ia tidak bermaksud mengganggu hubungan mereka kalau memang sudah ada janji khusus, karena hal seperti itu sudah diniatkannya untuk tidak mengganggu.
“Oh itu, itu Kang Maman kakaknya Toyalis” sahut Tati.
Toyalis adalah teman mereka ketika bersama-sama menjadi anggota PII. Yang dimakud Kang Maman adalah kang Maman Suparman, teman mereka juga di PII, yang pernah menjadi Sekda di Kota Bandung. Ia banyak belajar dari Kang Maman ini.
“Jadi bukan pengawal pribadi khusus, atau calon suami barangkali”, ia bicara hati-hati.
“Oh tidak, kang Maman diminta Bapak untuk menemani kalau ada kegiatan PII atau kegiatan yang jauh dari rumah. Karena itu, kalau sudah selesai, kang Maman melapor” lanjutnya.
Ya, mungkin Bapak berfikir, bahwa anak gadisnya harus dilindungi, karena saat itu belum lulus SPG. Diam lagi. Langkah kaki sudah mendekati gedung Sekretariat Fakultas Pascasarjana yang sekarang. Sebentar lagi akan melewati gedung PAU.
 |
Gedung PAU ITB |
“Oh jadi bukan calon suami, atau bukan pacar juga barangkali? Kalau begitu, siapa calon suaminya Tat? Lagi-lagi kalau boleh tahu. Kalau tidak boleh ya tidak apa-apa“, katanya datar-datar saja, takut kalau Tatinya ngambeg atau tersinggung.
Kalau ngambeg, bisa bahaya, menjalankan organisasi pasti tersendat-sendat. Di luar dugaannya, Tati menjawab,
“Belum, belum punya calon suami dan belum punya pacar. Siapa sih yang mau sama saya kak Nur, teu aya, kabisa mah ngan sakieu-kieuna, ngan guruTK di TK Bukit Dago”, sambungnya campur aduk dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda.
Menoleh kepadanya sebentar, tersenyum lalu merunduk dan langkah kaki berlanjut. Lalu serius, sungguh-sungguh, tanpa senyum, muka merunduk melihat kebawah, memperhatikan langkah dan aspal hitam jalanan.
“Elmu saya mah rendah kak Nur, tidak seperti mereka yang kuliah, dan sebagian telah sarjana, palalinter, balenghar sareng gareulis deuih”, sahut Tati merendah, melanjutkan dengan Bahasa Indonesia latar bahasa Sunda.
Tati yakin ia telah mengerti bahasa Sunda, walau belum mahir.
Memang mereka punya teman seperti yang disebutkan Tati ini. Banyak teman-temannya perempuan sudah bekerja, cantik menarik dan sebagian ada yang sudah siap menikah, tapi banyak juga yang masih lajang belum bertemu dengan jodohnya.
“Tidak seperti Kak Nur”, lanjut,
“Kak Nur mah, kan mahasiswa, aktifis kampus, pintar menulis, dan bicara bahasa Indonesianya ketika diskusi sangat baguslah”, lanjutnya dengan bahasa Indonesia logat Sundanya yang kental.
“Pimpinan Mahasiswa lagi”, tambahnya memuji. Benarkah memuji?
Bagaimana selanjutnya diskusi jalanan ini? Ia berharap pembaca agar sabar. Silahkan ikuti dulu kissah yang tidak kalah menarik berikut ini. ***
Lelah Membawa Berkah
Pada hari-hari sebelumnya, dalam kegiatan organisasi maupun ketika kuliah, ia selalu berusaha hadir tepat waktu. Jadwal mengajarnya sudah diatur agar sejalan dengan kegiatan kuliah di kampus Jalan Dr. Rum dengan jadwal mengajarnya di SMP , SMEA PGII di Jalan Panataydha dan di SMP Darul Hikam di Dago Coblong.
 |
| Gedung PGII 1 terkini |
Setelah selesai mengajar di PGII, ia berjalan kaki sebentar ke arah Jalan Dago dan dengan menumpang oplet atau angkot langsung ke Coblong. Selesai mengajar, ia sering berjumpa dengan Bapak, lalu kalau sudah selesai pamitan untuk pulang. Ada kalanya, bahkan sering kali ia tidak berjumpa dengan Tati karena sedang mengajar di TK Bukit Dago. Paling jumpa kalau ada kegiatan organisasi, itupun belum tentu seminggu sekali. Kalaupun jumpa, biasanya habis mengajar hari Jumat, tentu saja sehabis shalat Jum’at. Nah disinilah dan pada waktu inilah, sambil berdiskusi tentang organisasi tentu saja, Tati sering menyuguhinya makan siang. Malah dengan Bapak paling sering berjumpa, di PGII jumpa dan ketika di Dago jumpa lagi. Oh ya hampir lupa, ia mengajar di PGII atas rekomendasi Bapak Kyai. Bapak juga sering minta bantuan mengetik teks khutbahnya, karena Bapak tahu bahwa ia mahir mengetik sepuluh jari dan mampu menulis karangan dengan baik. Ia juga diminta mengedit kalau-kalau ada yang tidak pas kalimat maupun susunan kata dan isinya. Kalau ada yang perlu ditambahkan, ia mendiskusikannya dengan Bapak. Biasanya Bapak setuju saja koreksinya.
Ketika di PGII, ia selalu aktif berdiskusi dengan bu Maria guru Matematika, bukan berarti dengan guru lainnya ia tidak berdiskusi. Ia berdiskusi juga dengan pak Uci Sanusi, Pak Jalaludin Rahmat (sekarang menjadi ustadz terkenal di Bandung, nasional maupun internasional, pimpinan sekolah SMA Muntahari di sekitar Jalan Kebaktian Bandung). Juga dengan guru agama pak Dedi, pak Yusran, Pak Drs. A Latif, beberapa guru wanita yang senior dan pak Nursyaf kepala sekolah SMA merangkap sebagai pengurus PGII. Ia sangat senang dan bersemangat berdiskusi, hasil latihannya di IPA dulu dan saat itu, dan kini di PII, bisa sampai lupa makan siang.
Yang paling tidak disenanginya adalah apabila ada guru yang merendahkan dirinya, karena kurang tampan dan kurang pas pula pakaiannya. Dan yang seperti itu selalu saja ada, mau tidak mau, sengaja atau tidak. Ia maklum saja hal yang seperti itu, tidak usah jadi masalah. Memang ia tidak tampan dan tidak punya banyak pakaian, yang penting ia tidak membuat kesalahan, tapi ia berusaha memberikan hasil pengajaran terbaik. Untuk yang menyangkut urusan politik dan agama, ia berdiskusi dengan pak Jalaludin Rahmat yang pintar dan menguasai tujuh bahasa asing. Berdiskusi dengan pak Jalaludin Rahmat selalu menghasilkan ilmu baru baginya, terutama tentang toeri Darwin tentang asal-usul manusia. Tidak seperti guru agama yang lain, selalu bicara secara dogmatis tanpa alasan yang realistis. Kalau didebat pendapatnya, timbul amarah. Kalau sudah begini ia memilih diam.
Yang paling sering dan relevan berdiskusi dengan guru-guru adalah tentang pelajaran, tentang membuat soal dan kisi-kisi. Pada waktu itu ia telah mulai membuat soal dengan lima bentuk test, yakni Essay, Menjodohkan, Isian, Benar Salah dan Pilihan Ganda, yang disaat itu masih langka. Pada saat itupun ia mahir membuat soal dengan bobot Mudah, Sedang dan Sukar, dan jumlah soal minimal untuk setiap item test. Untuk Pilihan Ganda paling sedikit 20 nomor dengan tiap soal mempunyai empat pilihan agar dapat diterima dan cukup secara statistik. Test uraian atau Essay bisa berapa saja, disarankan tidak kurang dari tiga nomor, isian lima nomor, Salah-Benar sepuluh nomor dan Menjodohkan paling sedikit lima nomor dan paling banyak sepuluh nomor. Hal ini sesuai dengan Teknik Evaluasi yang dipelajarinya di perkuliahan, termasuk menganalisis soal dengan statistik. Ketika itu komputer masih belum banyak dipergunakan sebagai alat bantu pendidikan. Pekerjaan menilai hasil test dan analisis soal dilakukan dengan bantuan kalkulator, yang tentu membutuhkan waktu yang panjang. Dan semua itu didiskusikan dengan rekannya Bu Maria, guru matematika perempuan, perlu waktu dan dilakukan berulang-ulang. Saking seringnya berdiskusi setiap jumpa di kantor guru, banyak guru yang menyangka dan bergossip-ria bahwa ia menaruh hati kepada bu Maria. Kelopak dan biji mata guru-guru terasa aneh memandangnya. Ia juga tidak pernah menyangka dan tidak pernah merasa akan menjalin hubungan khusus dengan bu Maria. Bahkan muridnya kelas tiga SMP juga mengatakan hal yang sama,
“Pak, Bapak pacarnya bu Maria ya?” celoteh murid, maklum siswa SMP kelas tiga yang sedang berkembang, selalu ingin tahu.
Ia terkejut mendengar pertanyaan muridnya ini, padahal tidak ada terjadi apa-apa antara dia dengan bu Maria. Mungkin murid melihat, ia sering berjalan pulang dari kantor bersama Bu Maria, tapi mereka tidak melihat, setelah pintu gerbang mereka langsung berpisah.
“Ah, tidak, kenapa kalian bertanya demikian?”, tanyanya.
“Kelihatannya akrab Pak, sering kelihatan di kantor berbicara serius dan ramai, pulang sering kelihatan bersama”, jawab murid-muridnya.
“Oh, itu, kita sedang diskusi tentang bagaimana cara membuat soal ujian yang baik”, tambahnya,
“Karena sulit, ya harus di ulang-ulang, jadi kita sering membicarakannya” pungkasnya.
Bu Maria memang cantik, tinggi, langsing tapi tidak sampai kutilangdara alias kurus, tinggi, langsing dan dada rata. Bu Maria lebih tinggi dibanding dengan tinggi badannya. Dadanya tidak rata-rata amat, masih kelihatan isinya menonjol indah. Matanya bagus, dengan alis mata tebal hitam, rapih dan asli. Kakinya panjang, kulitnya pun kuning langsat. Bentuk tubuh yang bagus. Mungkin senyumnya juga bagus, tapi tidak pernah diperhatikannya. Hanya itu yang ia ketahui tentang bu Maria, karena ia tidak punya kepentingan untuk mengetahui lebih jauh tentang pribadi Bu Maria ini. Ia tidak menanyakan alamat di mana, karena baginya tak penting, buat apa? Ia sendiri tidak tahu, tidak sadar kalau sebenarnya ia bisa saja mendekati Bu Maria. Tidak ada yang kurang dari Bu Maria, cantik, tinggi, pintar matematika kalau tidak salah keturunan orang kaya pula. Kesempatan untuk mendekatkan diri juga ada. Tapi, itulah misteri jodoh. Atau mungkin kebodohan yang timbul dari akibat rasa rendah diri. Kenapa ia tidak tertarik kepada bu Maria, juga merupakan rahasia Ilahi. Juga rahasia Ilahi, yang selalu mendekatkan setiap orang kepada jodohnya. Kalau bukan jodoh tentu tidak akan menjadi pasangan yang terwujud.
Memang guru dimana-mana umumnya senang gossip dan menebar gossip sebagai hiburan belaka. Ketika di gossipin di kantor guru PGII pendekatannya dengan bu Maria, Bapak diam dan hanya tersenyum saja mendengarnya. Mungkin Bapak juga sudah melihat, ia dan Tati sedang mengadakan pendekatan pribadi. Di waktu berikutnya gossip guru-guru berkembang semakin jauh. Gossip baru itu ialah tentang Bapak Kyai. Apa isi gossip itu gerangan? Para guru-guru di PGII mengatakan, biasanya kalau sudah akrab dengan pak Kyai, ada harapan dan besar kemungkinan akan dijadikan menantu. Lho, kok gitu? Suatu pengamatan yang jitu atau karena kebetulan? Mungkin saja, siapa tahu. Sedalam-dalamnya laut dapat diduga, tetapi dalamnya hati tak ada yang tahu.
Suatu kali ia di suruh khotbah Jum’at di Aula PGII Jalan Panathayudha. Ketika itu Aula yang ada ditengah-tengah sekolah di sebelah lapangan Basket, sebelum dijadikan ruang kelas seperti sekarang ini. Iapun menyiapkan khotbah Jum’at dengan sebaik-baiknya. Buku tentang khutbah dibeli dan dipelajarinya, lalu ia memilih judul tentang persaudaraan Muslim. Pukul 11.30 bel istirahat berbunyi. Semua murid laki-laki diperintahkan untuk berwudlu, karena shalat jumat dimulai pukul 12.00 tepat. Sudah lazim, anak murid lelaki harus diawasi berwudlu yang benar, dengan menempatkan seorang guru ditempat wudlu. Murid-murid perempuan tidak ikut serta shalat Jumat, mereka dipisahkan untuk dibekali pengetahuan yang khusus untuk perempuan. Singkat cerita, selesai khutbah, pak Uci Sanusi dan guru-guru lain mengucapkan selamat kepadanya, karena sudah menunaikan tugasnya dengan baik. Hal ini menjadi gossip lagi.
“Hari ini pak Nurain sudah di test khutbah Jumat, dan berhasil. Jadi deh, menantu pak
Kyai”, komentar para guru. Ia hanya tersenyum saja mendengarnya. Sambil bercanda
ia menjawab,
“Kemarin digossipin sama Bu Maria. Sekarang jadi menantu Kyai. Yang benar yang mana sih Pak, Bu?”, jawabnya sambil bercanda.
“Mungkin pak Nur ada maksud, dengan siapa saja, bisa jadi ke Bu Maria, atau jadi
menantu Kyai. Kami cuma ingin mempercepat kejadian suatu peristiwa, sekedar mengingatkan barang kali lupa. Bagi kami ya yang mana saja boleh dah, asal semuanya senang dan bahagia” kata pak Guru sambil tertawa, ramai.
Mungkin ada benarnya, juga membantu mendekatkan orang dengan jodohnya.
Kehidupan sehari-harinya masih susah, karena uang yang dikumpulkannya masih belum cukup untuk registrasi ulang. Ia hanya yakin, pasti bisa mengatasi hal ini. Benar saja, tidak lama kemudian, ada yang menyuruhnya mengetik skripsi, dengan bayaran yang biasa-biasa saja. Ia berusaha mengetiknya dengan cepat, karena ia memang mengetik dengan sepuluh jari. Ia tidak meminta bayaran yang tinggi, karena ia juga bermaksud menolong temannya yang membutuhkan pertolongan mengetik. Setelah selesai, ia mendapat pesanan mengetik skripsi dari dua mahasiswa lagi. Sedemikian banyak kegiatan, ia merasa lelah juga. Tapi karena ia juga belajar olahraga bela diri, kelelahan itu dapat diatasinya dengan olah pernafasan.
Sekarang dengan jumlah yang diperolehnya dari PGII, Darul Hikam dan dari hasil mengetik skripsi teman kuliahnya, uang untuk registrasi ulang terkumpul dan ia dengan cepat menyelesaikan urusan registrasi ulangnya. Untuk biaya hidupnya sehari-hari, ia harus menggunakannya sehemat mungkin. Sampai akhirnya tibalah saat perayaan Hari Idul Adha yang bersejarah dalam kehidupannya, berjalan berdua sambil diskusi, sambil menikmati indahnya Bandung di senja hari itu.***
Berlabuh di Dermaga Cinta
Baiklah pembaca, kita ulangi pembicaraan keduanya terutama ucapan Tati, untuk diteruskan.
“Tidak seperti Kak Nur”, lanjut,
“Kak Nur kan mahasiswa, aktifis kampus, pintar menulis, dan bicara bahasa Indonesianya ketika diskusi sangat baik”, lanjutnya.
“Pimpinan Mahasiswa lagi”, tambahnya memuji.
Benarkah memuji? Mungkin saja.
“Kak Nur, punya kelebihan yang saya tidak bisa menyebutkan apa, tapi memang punya kelebihanlah”, tambahnya lagi.
Dipuji seperti itu, dalam hatinya ia menangis. Ia tahu diri. Air matanya tidak keluar tetapi jatuh ke dalam. Tidak tahukah Tati keadaan yang sebenarnya? Ia takut, kalau Tati ingin ditemani, ia minta ditemani dengan pakaian yang pantas. Padahal, Tati sendiri sering melihat ia hanya mempunyai tiga pasang pakaian, berganti dari hari kehari yang tiga pasang itu. Bahkan kalau hujan, salah satu dari pakaian itu dicuci, maka ia harus rela berkorban memakai pakaian yang sedikit cacad, sobek tapi tidak kelihatan. Apakah jadinya nanti kalau Tati mengajak jalan atau menemani kegiatannya di PIIwati atau tempat kerjanya TK Bukit Dago? Atau kalau ia minta dibelikan sesuatu sangat berharga baginya, akan kah ia sanggup membelikannya? Bukankah Tatinya lebih baik memilih orang lain yang lebih mampu, lebih gagah, lebih tampan dan…. lebih kaya? Berbilang pertanyaan muncul dalam pikirannya. Untunglah ia masih bisa mempertimbangkan yang terbaik baginya, kalau bisa yang dicintainya juga. Ini mungkin karena ia sudah pernah mengalami cinta monyet yang mengharu biru ketika ia di SD, sehingga sedikit banyak sangat mempengaruhinya dan dapat bertahan dari deraan cinta. Namun, karena kepercayaan dirinya yang tinggi, apapun yang terjadi kalau hanya membiayai seorang istri kelak kalau sudah bekerja tidaklah terlalu sulit. Ia sebenarnya ingin menjadi kekasih Tati, sejak bayangannya selalu berkelebat dalam pikirannya. Sudah satu setengah tahun ia berusaha menekan perasaannya, selalu mempertimbangkan akibatnya, baik bagi dirinya, bagi Tati sendiri maupun organisasi yang sedang mereka jalankan. Karena dirinya tidak mampu, tidak banyak mempunyai uang untuk keperluan di luar dari target yang telah ditetapkannya. Tapi, kini Tati ada disebelahnya dan sedikit merendahkan diri. “Tuhanku Allah SWT, lihatlah hambaMu ini sedang dirundung derita hati, lindungi aku ya Allah, beri aku jalan yang terbaik”, rintihnya dalam hati. Ia ingin sebenarnya menjadi kekasih Tati, namun seperti sudah dijelaskan, ia selalu mengingkari hatinya. Ia lalu menjawab,
“Mungkin kalau dilihat dari situ ya benar, karena itu adalah pekerjaan saya setiap hari di Kampus”, jawabnya.
“Tapi lihatlah, Tati sendiri tahu, kalau sudah dekat awal tahun, saya harus banting tulang untuk mencari biaya untuk registrasi ulang. Begitu juga, Tati sendiri kan melihat, bagaimana pakaian saya sehari-hari. Jauh dari bagus, hanya sekedarnya saja, sepantasnya kalau lagi kuliah itu-itu saja. Takut mengecewakan perempuan yang dekat nantinya”, lanjutnya. Diam sejenak.
“Dan yang paling penting lagi, saya ini hanyalah anak seorang ayah yang tidak bisa berbuat banyak, karena pendidikannya yang sangat rendah, ibu harus pula diajari membaca. Kami miskin harta, tak punya apa-apa. Walaupun demikian, ibu sangat rajin mengaji, sehingga ia hapal bacaan shalat. Dan ibu sangat rajin bersilaturrahmi kepada teman-temannya sekampung. Kalau ia sempat, pastilah tidak ada yang terlewat baginya untuk menjenguk orang yang sakit, apalagi kemalangan”, lanjutnya.
“Nah itulah keadaan saya Tat. Tidak untuk membuat Tati ikut bersedih hati, hanya untuk penjelasan lebih jauh, kiranya saya ini siapa. Saya merasa diri tak pantas di sayangi orang, apalagi dikasihi sehebat, sebaik, seramah Tati. Itulah pula sebabnya, saya merasa tidak akan ada orang sebaik Tati yang akan mau mendekati saya”, lanjutnya, “Hanya itulah modal kami, modal semangat untuk sekolah dan bersilaturrahmi dari ibu”, lanjut penjelasan.
“Maka”, lanjutnya, “Perempuan manakah nanti yang mau kepada orang seperti saya ini, Tat, mungkin susah di dapat“ lanjutnya.
“Sudahlah Tat, saya sudah sangat bangga hari ini, semangat saya naik ketaraf yang tertinggi, semenjak Tati mau saya antar sambil berjalan berdampingan seperti ini. Tati mau saya antar saja rasanya sudah sangat membanggakan dan memberi semangat saya, terima kasih. Bahwa masih ada kiranya orang yang bisa menghargainya, mau berjalan di sisinya, jadi masih bisa merasa dirinya berarti”, menjelaskan keadaan dirinya.
“Kalaupun ada nanti perempuan yang mau sama saya, tentulah orang itu tidak sehebat Tati, anak seorang ustadz, bahkan Kyai terkenal di Bandung. Pastilah yang sederajat, dan tentulah tidak secantik Tati dan kawan-kawan di PIIwati” lanjutnya.
“Banyak kok yang mau sama Kak Nur, tidak usahlah terlalu merendahkan diri. Lihatlah orang disekeliling Kak Nur, pasti ada yang mau sama Kak Nur”, Tati memotong.
“Siapa kira-kira orang itu Tat? Adakah orang yang titip salam pada saya?”, tanyanya, sambil menghindar.
“Tidak, sampai saat ini tidak ada yang titip salam”, jawabnya. Tati lalu diam.
Merunduk, jalan bertambah perlahan. Ada batu kerikil jalanan yang ditendang pelan berdetak ketika beradu dengan batu kerikil yang lain. Gedung PAU di kanan jalan menjadi saksi kata-kata ini. Ia mulai merasa, Tatilah orang yang dimaksudkan oleh Tati sendiri.
“Mungkinkah orang yang disebelah saya ini yang titip salam?”, tanyanya. “Maukah ia titip salam pada saya?” lanjutnya, maksudnya menggoda, agar kalau ia tidak mau tidak terlalu sakit ke hati.
“Ya iyalah, siapa sih yang tidak mau nitip salam buat Kak Nur, orang yang penuh semangat hidup seperti Kak Nur!” jawab Tati lebih tegas lagi.
“Maaf ya Tat, jangan tersinggung, jangan marah, kalau pertanyaan saya ini salah, lupakan saja. Jangan karena pertanyaan, yang menurut saya kurang baik ini semua program organisasi kita jadi berantakan. Saya juga tidak mau persahabatan kita yang telah terbangun sekian lama, lalu hilang, hanya karena pertanyaan konyol seperti ini. Nah, yang mau sama saya itu Tati kah? Betulkah Tati mau menjadi calon pendamping hidup saya? Maukah Tati sama saya?” tanyanya memperjelas.
“Ah, Kak Nur, abdi mah jalmi anu henteu pantes kangge Kak Nur. Ngan, upami kak Nur bade atanapi resep ka abdi, Tati bingah pisan sareng ngarasa asa dihormat”, jawabnya dalam bahasa Sunda.
“Tati tidak memandang orang itu kaya, gagah dan tampan. Tapi orang yang mempunyai semangat menghadapi hidup, tidak gampang putus asa, itulah yang membuat saya senang kepada Kak Nur”, jawabnya belum tegas.
“Jadi, benarkah Tati mau menikah sama saya nantinya? ”,tanyanya.
Tati tidak menjawab, hanya sambil melirik, ia menundukkan kepala.
“Mau”, jawabnya kemudian,
“Bawalah Tati ini terbang bersama ke syurgaNya, dengan sayap-sayap harap, takut dan cinta kepadaNya”, tambahnya, indah tak terperi.
“Oh….., ya Allah, subhanallah”, hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya.
“Alhamdulillah….!”, bingung, bersyukur, bangga, tapi takut, sedih, bahagia, campur aduk berkecamuk dalam dadanya.
Kakinya lemas, seakan tak kuasa mehahan berat tubuhnya, ia hampir jatuh. Ia lalu menguatkan hatinya. Lalu normal lagi. Tanpa sadar, ia mencoba meraih tangan Tati, tangan yang halus, halus sekali bagai kapas. Dipegang sebentar, lalu kemudian segera dilepaskannya kembali, karena ia segera sadar itu adalah perbuatan yang tidak baik. Iapun sadar dan mengetahuinya, hari itu, cinta mereka berdua telah berlabuh di dermaga yang sama. Untuk bersiap berlayar ke tujuan yang jauh, teramat jauh.
Pohon kenari, pohon sena dan pohon di sekeliling jalan dekat dengan PAU itu seakan merunduk memberi selamat. Kabut senja tadi, seakan selimut sendja hari bagi dua insan yang berikrar untuk mengharungi hidup masa depan, agar tidak kedinginan. Suara-suara mobil yang lalu lalang bagaikan musik alam bertingkahan dengan suara serangga senja, oer-oer atau tonggeret, yang masih mau menyanyi, membuat senja itu bagaikan setetes laman surgawi yang jatuh menimpa mereka berdua, sesaat. Ah, alangkah dahsyat indahnya cinta! Mereka masih terdiam beberapa saat, menikmati ikrar dari hati mereka yang tulus ikhlas, didasari oleh rasa sayang, rasa senang, rasa rindu dendam lama yang telah keluar, lepas. Dada seakan lapang, bernafas seakan lebih mudah. Semuanya mudah, dan semuanya… indah, dahsyat, menakjubkan, menggetarkan perasaan.
Ia melirik sahabatnya itu, Tati, disebelahnya, berjalan normal kembali. Semangatnya timbul, karena kiranya ada orang sebaik Tati, mau jadi kekasih hatinya. Perasaan indah tak terlukiskan, dan terciptalah sebuah puisi kekekalan atau keabadian cinta dalam hatinya, pendorong semangatnya, pelapang dadanya, yang ketika setelah diedit menjadi,
Keabadian dan kekuatan cinta
Kadang aku merasa segera sirna
Karena terlihat tak berarti
Tapi, kemudian engkau tersenyum,
engkau lihat ke mataku
Berkata betapa engkau cinta padaku
Dan aku teringat mengapa aku disini
Ternyata IA mengutusmu
Tanpamu aku merana, Tanpamu aku tak berarti
Engkau yang setiap hari memberiku sebab
Walau hanya sekedar mendengar tawamu
Seakan engkau menyentuhku, seakan melihat bayanganmu
Engkau yang selalu tersenyum padaku
Derita panjang dalam dada terasa hilang, berlalu
Ketika engkau dekat, ketika engkau menatap mata
bagaikan engkau merasuk kejiwa, menghiburku
Hati ini terbuka dan kegelapan sirna, berlalu
Kau beri aku harapan, engkau tunjukkan cintamu
Hidup dan kehidupan mesti terjadi
Aku akan mencintaimu
demi kekuatan, kekekalan dan keabadian cinta
***
Sebenarnya ia sudah banyak mengetahui tentang Tati, baik dari temannya maupun Bapak yang juga sering cerita tentang anak-anaknya, tentang kekurangan dan kelebihannya. Tentang sakit dan tentang kebahagiaanya. Tentang apa yang disukai dan apa yang dibencinya. Tentang kepintarannya bercerita dan mengasuh anak. Dalam hatinya ia berjanji kepada dirinya sendiri sambil berdoa kepadaNya, apapun kekurangan Tati kelak, bidadari penolong itu, ia akan berusaha menutupinya dan akan selalu melindunginya. Karena Tati sudah menyatakan cinta kepadanya, yang membuatnya merasa punya arti. Beban perasaan rendah dirinya, perasaan sakit ketika diacuhkan karena tidak setampan dan segagah orang lain hilang sudah, hanya karena setiap ia bertatapan dengan Tati ia merasa jiwanya sedang dihibur. Jika ia mendengar tawanya, merasakan sentuhan dan menatap senyumnya, hatinya terbuka dan kegelapan semakin sirna. Itulah konon dahsyatnya kekuatan cinta. Semoga Allah, Tuhan Pemberi Kasih Sayang dan Penebar Rahmat bagi hamba-hambaNya itu berkenan mengabulkan doanya, memberinya kesempatan untuk melaksanakan niatnya, serta mengekalkan hubungan mereka.
Di depan mereka Jalan Dayang Sumbi menanti dengan sederet pohon-pohon rindang, kenari, mahoni, palem raja dan lain-lain.
 |
Peta Jalan Sumur Bandung |
Mereka tidak berbelok ke Jalan Dayang Sumbi, tapi mengambil agak lurus, memasuki Jalan Sumur Bandung. Senyum keduanya tak pernah surut, sesekali melirik kearah pasangan, bertemu pandang sebentar, hatinya pun berdebar dan kembali melangkah, berjalan menyusuri Jalan Sumur Bandung. Jalan yang tak kalah hijaunya, yang tak kalah indahnya. Di halaman gedung-gedung kiri-kanan ada beberapa pohon cemara, desauannya sayup terdengar ditiup angin. Daun-daun angsana dan mahoni yang jatuh ke halaman, membuat halaman menjadi lukisan mozaik warna kuning dan coklat tak beraturan tapi indah, bagaikan permadani luas berlukisan jalan dan noktah dedaunan yang terhampar di halaman.
 |
Pesimpangan Jl. Dago -Siliwangi, lampu merah, oplet berhenti disini |
Akhirnya mereka tiba di Jalan Siliwangi, dan sepuluh meter di depan kanan, Jalan Dago menanti. Pada lampu merah, oplet Dago yang datang dari arah stasiun berhenti, Tati naik dan ia sendiri menyeberang setelah mengucap salam dan saling melambaikan tangan perpisahan. Ia kemudian mengambil oplet kearah yang berlawanan, ke arah stasiun.
Perasaan senangnya belum hilang, masih berada dipuncak. Dari atas oplet, ia melihat pohon-pohon damar sepanjang Jalan Dago terasa bagaikan barisan pasukan indah yang menyambutnya dari perjuangan dan memperoleh kemenangan.
 |
Pohon Damar Jl. Dago Bandung
ke arah Stasiun |
Bagaikan gambar pohon gunungan dalam pewayangan bentuknya, berbaris panjang sepanjang Jalan Dago hingga Jalan Sulanjana, berdiri mengawalnya pulang ke Sukajadi. Karena ditiup angin senja, pohon damar itu bergerak lembut. Ketika ditiup angin yang kencang lalu melengkung, kemudian lurus kembali ketika angin yang bertiup itu melambat atau berhenti. Kalau dilihat oleh hati yang sedang berbunga-bunga, sedang penuh sukacita, pohon itu seakan melambai-lambai kepadanya, mengucap selamat. Di jalan Sulanjana ia turun dari oplet, berjalan lalu menyeberang jalan Tamansari, dan segera masuk ke Gang Plesiran, melewati jembatan kecil Sungai Cikapundung.
 |
Jembatan kecil Sungai Cikapundung, Gang Plesiran |
Tiba di Jalan Cihampelas, ia mengambil Jalan Eickman, memotong Jalan Cipaganti dan tidak lama kemudian tiba di Masjid Asysyifaa, tempat dimana ia sering menginap dan dalam mengatur segala rencananya.***
Jumpa Bapak dan Ibu
Pada suatu ketika, mereka pergi berdua pergi membeli barang-barang keperlua TK Bukit Dago di Jalan ABC Bandung. Mereka berdua hanya berani bersama di tengah-tengah fasilitas publik atau umum, seperti oplet dan jalan kaki ditempat keramaian, agar mereka terhindar dari perbuatan tercela. Dengan oplet mereka berangkat ke stasiun Kereta Api, turun di persimpangn Jalan Kebon Jati – Otista, berjalan kaki melewati Pasar Baru, lalu membelok ke kiri dan tiba di Jalan ABC.
 |
| Jembatan Viaduct Bandung |
Belanja kertas berwarna, pita-pita, dan segala macam pernik-pernik pengajaran di TK dari beberapa toko. Sehabis belanja Tati mengajak makan siang di Stasiun. Setelah makan siang, mereka memilih naik oplet ke Dago, menyusuri jalan stasiun dan keluar di viaduct. Dari sana oplet menyusuri Jalan Wastu kencana, Jalan Riau lalu tiba di Jalan Dago. Apa yag terjadi? Bapak dan Ibu juga sedang menuggu oplet di sana. Akhirnya mereka bertemu dan naik oplet yang sama dengan Bapak dan Ibu ke Coblong, Dago. Mereka berdua salah tingkah, terutama Tati.
“Ti mana Tat, duaan wae ieuh” sapa Bapak dengan senyum ramah, dalam bahasa Sunda, tidak menunjukkan kemarahan.
“Tos balanja ti jalan ABC” Tati menjawab.
Dengan cekatan Tati memberi tahu, bahwa mereka habis belanja di Jalan ABC untuk keperluan TK. Tati belum memberi tahu bahwa mereka mempunyai hubungan khusus, hanya sekedar membantu menemani belanja saja. Mereka masih malu-malu memberitahu. Bapak dan Ibu rupanya maklum.
Godaan dan Cobaan datang
Begitulah kehidupannya sehari-hari. Sampai kuliahnya sudah memasuki semester keenam, sebentar lagi, jika tak ada aral melintang, jika ada ijin dari NYA, tidak lama lagi ia akan lulus sarjana muda pendidikan.
 |
| Pasar Pramuka Jakarta |
Dalam perjalanan waktu itu, Tati pernah ditugaskan mengajar di Bekasi, lalu mereka berpisah. Ia tinggal di rumah mamang atau paman kandungnya, Drs. Zainal Solihin, pegawai Departemen Agama, di Jalan Penggalang, di dekat Pasar Pramuka di belakang Pasar Burung Jakarta.
 |
Pasar Burung Jakarta |
Setahun lebih ia di sana. Pada saat pulang dan berjumpa lagi di Bandung, mereka menceritakan pengalaman masing-masing ketika berpisah. Tati bercerita, bahwa ia sudah menjadi pembina pramuka yang baik, syukurlah. Tidak lama ia bisa berada di Bandung, karena Senin pagi harinya ia harus segera mengajar lagi di Bekasi. Ada kalanya ia ikut ke Jakarta mengantarkannya sambil melepas rindu.
Kabar gembira, ia sudah selesai sidang Sajana muda dan lulus, dan sedang mencari pekerjaan yang lumayan baiklah buat ia bekerja. Ia juga bercerita, ia pernah diserahi tugas mengajar Rangkaian Listrik di STM Instruktor (sekarang menjadi SMK Negeri 6 Bandung), honornya sebulan hanya cukup untuk enam kali makan saja. Ia masih saja aktif mengajar di PGII, dan SMP Darul Hikam, sebagai pendukung utama biaya hidupnya sehari-hari. Selain itu, demo mahasiswa menjelang peristiwa MALARI (Malapetaka Limabelas Januari) yang menentang konsep NKK/BKK bentukan Menteri Pendidikan Daud Yusuf ketika itu. Ia sendiri telah ditetapkan sebagai Ketua Satu Senat Mahasiwa Fakultas Teknik. Bersama dengan teman-temannya dari Dewan Mahasiswa, ia ikut merancang demo mahasiswa di kampus. Bersamaan dengan tahun yang sama pula, Tati sendiri sedang diusahakan pindah dari Bekasi ke Bandung.
Dalam masa penyesuaian budaya mereka, masing-masing kini mempunyai kesempatan untuk menilai lagi hubungan mereka. Rasa kemenangan dan bulan penuh madu ketika mereka pernah berikrar sebagai sepasang kekasih, rasa cinta yang dinyatakan dengan hati yang berbunga-bunga kini sudah lewat, sudah kembali kepada keadaan yang normal dan akal budi mulai bekerja. Dengan berjalannya waktu, cobaan demi cobaan, godaan demi godaan datang. Banyak teman-teman mereka yang tidak percaya bahwa mereka bisa menjadi sepasang kekasih. Pada suatu masa, ketika pulang dari acara di kampus lama UNISBA selesai, rombongan mereka keluar dari ruangan dan bergerak ke arah Jalan Taman sari. Sebagian teman mereka yang masih dalam ruangan segera keluar menyaksikan, seakan melihat tontonan yang aneh tapi menarik, yang selama ini masih samar-samar dan sayup terdengar, ternyata benar adanya.
Dari seorang temannya di Bogor, Tati pernah mendengar, bahwa orang Batak itu nantinya kurang mesra, tidak semesra pemuda dari suku Sunda. Dan lagi, apa sih lebihnya Nurain itu? Tidak kaya, tidak tampan, apa yang diharapkan dari seorang Nurain? Teman-teman lainnya ada yang menggoda, kenapa harus ke orang Batak sih? Apa tidak ada orang Sunda lagi! Bukan hanya temannya, bahkan juga datang dari famili dekatnya sendiri. Lama-lama Tati tergoda juga akhirnya, yang membuat ia kurang memperhatikannya lagi. Kedalaman cinta makin hari makin tergerus dan semakin dangkal. Sampai tiba puncaknya, ada orang yang mengatakan bahwa Tati merasa diguna-gunai sehingga ia bisa merasa tertarik kepadanya. Hal yang tidak mungkin terjadi, tapi akibat hasutan orang lain, lama-lama masuk juga di akal Tati. Bukankah perilaku demikian itu musyrik? Perilaku yang selama ini tidak pernah dilakukannya. Akhirnya mereka sudah jarang bertemu, dan pada suatu saat, dengan alasan malu, Tati berkata agar jangan teralu sering datang ke rumahnya. Lalu, hampir empat bulan mereka sudah tidak bertemu lagi.
Hal yang baik juga, karena cinta mereka akan diuji, apakah cinta loyang yang mengkilap sesaat, yang gampang pudar warnanya dan yang susah dikembalikan. Atau cinta emas murni, yang warnanya kembali bersinar dengan gampangnya sesaat setelah digosok dan dibersihkan. Bagi Tati sendiri, biarlah dia berpikir panjang lagi, apakah pilihannya sudah tepat, berpasangan kelak dengan seorang yang bukan sesuku, dengan seorang dari suku Batak yang sangat jauh berbeda, walaupun sudah sangat banyak berubah. Tati orangnya lemah lembut, didikan ustadz dan ustadzah yang sudah tidak diragukan lagi. Ia sendiri kelihatan cenderung kasar, kurang lemah lembut atau kalau boleh dikatakan, masih kurang memahami budaya Sunda, budaya Tati sekeluarga. Dengan latar belakang seorang pemuda miskin, miskin kemasan karena tidak tampan dan gagah, juga tidak mempunyai harta yang cukup, ia tidak sampai hati, jika kelak karena keputusan yang terburu-buru, Tati merana sepanjang hidup, mempunyai suami yang tidak tepat dengan apa yang dicita-citakannya. Walaupun ia terus berusaha berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tati pernah menyatakan cita-cita pilihannya, ia ingin mempunyai suami seorang pengajar di Perguran Tinggi, punya rumah sendiri dan punya anak-anak yang manis-manis dan baik akhlak atau budi pekertinya.
Dengan perantara orang tua, Tati pernah dijodohkan dengan seorang insinyur dari Bangbayang, dengan perantara temannya guru di SMP Darul Hikam, pak Drs. Sudardja. Tapi Tati sendiri tidak setuju dan tidak mau. Pada saat dalamnya cinta mereka pernah mencapai kedalaman dangkal, seorang ustadz yang telah beristri dua juga menggodanya. Ketika kedalaman cinta mereka hampir mencapai titik nol, nyaris putus, bahkan telah pernah putus, dan pada saat perasaan cinta yang hampir punah, datang pula cobaan dari seorang jejaka dari Cianjur. Ia hanya bisa melihat peristiwa itu satu persatu, tidak bisa berbuat apa-apa lagi, tergantung sepenuhnya kepada Tati seorang, walau hatinya meradang karena cemburu.
Badai Berlalu
Waktu terus berlalu. Sudah berbilang setahun sejak mereka berikrar sebagai pasangan kekasih. Ia sendiri sudah lulus sarjana muda. Tati sudah pindah ke Bandung, mengajar di SD Negeri 2 Coblong, dekat dengan rumah mereka,
 |
| SDN 2 Coblong lama |
merangkap sebagai pengajar di TK Bukit Dago dan TK Muhammadiyah Gang Tilil, tiga sekolah sekaligus.
Ia, ya aku sendiri, masih terus berjuang untuk mencari pekerjaan disamping mengajar. Sayup-sayup aku pernah mendengar, entah dari siapa, belakangan ini Tati sering menangis panjang karena putus cinta dengannya. Ibunya bingung tidak tahu harus berbuat apa. Ketika ditanya kenapa, Tati mengatakan ia ingin jumpa kak Nur. Ibunya hanya mengusap dada, setelah peristiwa yang menjodohkannya dengan orang dari Bangbayang itu gagal. Ia terharu mendengarnya. Lagu Bila Kau kan Kembali dari Koes Bersaudara dan Senandung Rindu Teti Kadi yang terdengar di radio pemilik warung di pinggir jalan, dinyanyikan oleh Koes Bersaudara dan Teti Kadi berurutan sempat mengiris hatinya, sakit, sedih. Walaupun demikian, ia belum berani datang menjenguk Tati, karena memang pernah dilarang untuk tidak usah datang-datang lagi.
Sampai akhirnya, pada suatu hari, di hari Jumat setelah selesai mengajar, ia mencoba datang kerumah menjumpai Tati. Ia sendiri tidak membantah suara hatinya yang juga masih cinta dan mulai rindu, rindu dendam yang semakin mendalam setelah lama putus hubungan dan tidak bertemu. Ketika ia muncul di halaman rumah, suara Bapak terdengar,
“Tat, eta kak Nur datang”, kata Bapak.
Memang barangkali, Bapak tidak mengetahui kalau mereka sudah pernah berikrar akan sehidup semati sebagai sepasang kekasih. Dan juga Bapak tidak tahu perihal mereka putus cinta. Atau sebaliknya. Yang ia tahu, hanya ibu yang tahu.
“Assalamu’alaikum”, ia berucap salam di depan pintu.
Entah sudah diatur atau tidak, yang membukakan pintu adalah Tati sendiri.
“Wa ’alaikum salam. Mangga, ka lebet Kak Nur”, sapanya ramah dalam bahasa Sunda, disertai senyumnya yang menyejukkan.
Tati menyajikan segelas air putih. Ibu ikut duduk bersama di ruang tamu dan berkata,
“Katanya lagi melamar ke Telkom ya Kak Nur”, ibu memulai pembicaraan
“Ya bu, sedang mempersiapkan mengikuti test”, ia menjawab.
“Sudah sampai mana, apa perlu bantuan, mungkin ibu bisa bantu minta pertolongan
kepada kenalan ibu disana, kenalan di pengajian”, tambah ibunya yang baik hati itu
memberi semangat.
“Tidak usah Bu, terima kasih. Insya Allah, mohon juga do’anya, agar saya nanti dapat
menyelesaikan semua test yang ada dengan baik”, jawabnya.
“Oh, iya kalau begitu. Kalau perlu sesuatu yang bisa ibu tolong akan ibu bantu, jangan ragu-ragu memberitahu” lanjut ibu.
Ibu rupanya mengerti, lalu pamit, undur diri, memberi kesempatan mereka berdua memadu kasih kembali kalau masih mungkin. Lalu percakapan dimulai oleh Tati,
“Kak Nur kemana saja, sudah lama ditungguin tidak pernah datang ke rumah, kenapa?” tanyanya.
Ia tidak menyinggung bahwa mereka sudah pernah putus beberapa bulan yang lalu.
“Ada, tidak mengapa dan tidak kemana-mana, menghemat ongkos. Kebetulan lagi
menyiapkan ujian sarjana muda, dan mudah-mudahan luluslah”, jawabnya.
“Lagi pula sedang sibuk mencari dana untuk sidang, sudah dimintakan ke ayah-ibu di Pematangsiantar, mungkin mereka bisa bantu”, lanjutnya.
“Dan juga, mudah-mudahan saya yang salah mengerti, Ntat sendiri yang melarang saya untuk seterusnya tidak usah datang-datang lagi. Saya tak bisa berbuat apa-apa, demi Ntatlah, orang yang saya hormati dan kalau bisa dicintainya sepenuh hati”.
Diam sejenak. Tati mendengarkan dengan menundukkan wajah, juga terus diam.
“Walaupun rasanya hati ini hancur, beginilah nasib orang yang kehidupannya sangat sederhana. Kalau-kalau memang ada yang lebih pantas menurut Tati, bisalah Tati memakai hati nurani yang bersih, biar tidak menyesal nanti dikemudian hari”, lanjutnya.
“Sebagai pengobat hati, Kak Nur cuma bisa bilang, cinta Kak Nur adalah cinta yang sesungguhnya, yang keluar dari hati nurani yang paling dalam. Karena itu pulalah Kak Nur merasa, cinta yang tulus ikhlas itu, mungkin tidak harus memiliki”, tambahnya lagi.
Tati memotong, matanya mulai kelihatan berair, lalu berujar,
“Ah, udah lah Kak Nur, tidak usah dipanjang-panjangi lagi, Kak Nur boleh datang kapan
saja, pintu rumah kami terbuka. Memang dulu ada yang salah, maafkanlah, itupun kalau Kak Nur memang masih sayang dan mau sama Ntat”, jawabnya, sambil menyeka air matanya.
Ia sangat terharu mendengarnya, kata-kata yang terasa menghunjam dalam ke sanubarinya.
“Godaan selalu banyak datang, Alhamdulillah, rasanya pilihan itu tetap ke Kak Nur, alasannya tidak bisa saya jelaskan, rasa sayang dan cinta ini jugalah yang berbicara”, tambahan,
“Datanglah minggu depan lagi, kalau bisa malam Jum’at. Insya Allah, marilah kita berdoa agar kita tetap sehat minggu depan”, pungkasnya.
Setelah berbincang-bincang seperlunya, sambil mengingatkan apa yang telah terjadi, dan
saling memohon maaf jika ada yang salah, karena manusia adalah tempat kesalahan, iapun pamitan,
“Karena saya sedang ada pekerjaan di kampus, di Senat Mahasiswa, saya permisi, minta diri dulu, sampai jumpa minggu depan, assalamu’alaikum”, sambil berdiri, melambaikan tangan, melangkah keluar.
“Wa’alaikum salam, ulah hilap diantos minggu payun”, jawab Tati disela-sela airmatanya, sambil menyeka air mata, tak lupa menebar senyumnya yang teramat manis yang bisa menaklukkan hati siapa saja.
Sejak saat itu, hubungan mereka membaik kembali. Acara rutin kembali dilakoni dengan sepenuh hati, membantu dan menemani Tati mengurusi TK Bukit Dago dan Gang Tilil, bergantian, sebisanya, dalam selang waktu yang ada. Dalam suasana yang indah, setelah putus hubungan cinta sekian lama.
 |
Kegiatan TK BUKIT DAGO |
Diselingi makan sate dan gulai kambing berdua di Terminal Kebon Kelapa Bandung.
 |
Terminal Kebon Kelapa Bandung. Ia sering kesini, ketika pulang pergi Bandung Jakarta. |
Atau buka puasa bersama, dilanjutkan shalat magrib di masjid atau mushola yang ada. Di TK Gang Tilil, Tati mempunyai guru lain yang menggantikannya kalau ia tidak datang, karena ia dituntut sebagai pengelola utama, disamping Bu May sebagai pemilik. Begitu juga di TK Bukit Dago, ia diserahin mengelola TK dengan seorang guru bantu, dengan bu DR. Melly sebagai pemilik. Sambil menunggu saat mereka menikah.***