Minggu, 15 Desember 2019

Perjalanan Dinas 2: PANGKALAN KOTO, KELOK 9 DAN PAYAKUMBUH

PANGKALAN KOTO
KELOK 9 DAN 
PAYAKUMBUH, Bagian 2

Laporan perjalanan ini ditulis pada malam hari, ketika senja telah ditanggalkan waktu, dan matahari telah kembali keperaduannya. Dengan selalu mengingat sang Khalik dan namaNya yang pengasih dan  penebar kasih sayang, Penulis berusaha mengingat-ingat kembali semua perjalanan dinas yang mungkin, ketika singgah di tempat-tempat tertentu, ditambah dengan informasi terkini sebagai tambahan. Seingat yang tersimpan di ingatan, ada 10 kali pergi ke Padang selama 4 tahun bertugas di Riau. Bermula dari hutan lebat sekitar Tanjung Pauh menuju Pangkalan Koto yang termasyhur dengan hasil hutannya, gambir dan karet, dan diakhiri saat keluar di Kota Payakumbuh. Kota dengan berjuta pesona, keindahan alam, sawah-sawah dan ladang tempat mengembala sapi, bukit, air terjun, sungai yang mengalir ke kota, penduduknya yang ramah dan terpelajar dan lain-lain. ****  



Pangkalan Koto, ibu kota Kecamatan Lima Puluh Kota, terkenal dengan TRADISI POTANG BALIMAUnya. 
Potang balimau adalah kegiatan mensucikan diri dengan menyirami tubuh dengan  perasan air jeruk nipis bercampur bunga rampai dengan aroma yang khas. Tradisi ini adalah tradisi menyambut bulan suci Ramdhan, dilaksanakan sesudah shalat Zuhur dan berakhir sore hari menjelang shalat Magrib tiba. Kegiatan ini sudah merupakan tradisi turun temurun dalam “menyucikan diri” yang dilakukan oleh anak nagari di sepanjang aliran sungai Batang Maek Kecamatan Pangkalan Koto Baru di Kecamatan Limapuluh Kota. Selain untuk mensucikan diri, sekaligus sebagai tempat bersilaturahmi antar sesama anak nagari di kampung halaman maupun yang dari perantauan. Setelah selesai, pada sore harinya para pengunjung pulang ke rumah masing-masing untuk mandi balimau dengan ramuan khusus yang dipersiapkan oleh kaum perempuan di Pangkalan.

Masjid Raya Pangkalan Koto, jadul
Mesjid Raya Pangkaan Koto Baru terletak di tepi jalan raya Sumatera Barat - Riau yang merupakan mesjid kebanggaan bagi masyarakat Pangkalan, karena di areal mesjid inilah pusat kegiatan prosesi potang balimau diselenggarakan setiap tahun.

Topografi kecamatan Pangkalan Koto Baru bervariasi antara datar dan berbukit-bukit, daerah terendah dari permukaan laut berada di waduk PLTA di Tanjung Pauh (90 mdpl) dan daerah tertinggi berada pada Bukit Gadih (1330 mdpl) di nagari Koto Alam. Di kecamatan ini banyak sungai-sungai yang dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai sumber air irigasi, mandi, cuci, memancing ikan dan sumber galian C, batu dan pasir. Juga sebagai sarana transportasi yang menggunakan perahu untuk membawa hasil gambir dan karet. Selain di ekspor, di Indonesia gambir dikonsumsi dengan sirih, kapur dan pinang oleh bapak-bapak dan ibu-ibu generasi kolonial, dan masih berlajut ke generasi baby boomers.
Peta Pangkalan = lima Puluh Kota

Gambir.

Gambir sejak lama telah dibudidayakan di Semenanjung Malaya,  Singapura dan Indonesia (Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan dan Maluku).
Asal usulnya diperkirakan dari Sumatera dan Kalimantan, di mana jenis-jenis liarnya didapati tumbuh di alam. Gambir liar kerap  dijumpai di hutan sekunder. Ia tidak tumbuh di wilayah yang kering, namun juga tidak tahan dengan penggenangan. Tumbuh baik dari ketinggian 200 mdpl, gambir bisa juga hidup hingga elevasi 1.000 mdpl, sangat cocok dengan daerah Sumbar, terutama Kabupaten Lima Puluh Kota dan sekitarnya. Gambir berproduksi dengan baik pada jenis tanah podsolik merah kuning sampai merah kecoklatanPada masa lalu gambir dihasilkan dari Sumatera Barat, Riau, Bangka dan Kalimantan Barat, namun kini utamanya diproduksi oleh Sumatera Barat, Riau, Sumatera SelatanJambi dan BengkuluSekitar 90% produksi gambir Indonesia dihasilkan dari Provinsi Sumatera Barat dan Riau. Negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia adalah India dan Eropa. Banyak para saudagar kaya raya di Pangkalan karena berdagang gambir dan karet.

Daun Gambir dan Buahnya.


Karet.

Nagari-nagari di kabupaten Lima puluh Kota dan sekitarnya atau Sumbar dan Riau pada umumnya, banyak pohon karet yang dimiliki oleh rakyat. Indonesia adalah pengekspor karet ke dunia industri, terutama ban, mobil pesawat atau yang bersangkutan dengan ban. Sebelum ada kelapa sawit, penghasilan utama Sumbar adalah Karet dan Gambir. tapi dengan adanya diversifikasi tanaman, sebagian besar menjadi kebun kelapa sawit. Produksi karet sedikit berkurang. Tapi masih tetap sebagai pengekspor karet nomor dua dunia.
Pohon karet rakyat
Sebagian besar adalah ditopang dari perkebunan karet rakyat. Dan saat itu sebagian kebun karet rakyat dan sawah itu dapat dilihat dari sisi jalan. Bagi yang ingin melihat hutan dan kebun karet rakyat itu kini sudah sangat jauh berkurang, sebagian beralih menjadi kelapa sawit. Sebagian lagi tenggelam bersama di bawah atau di dasar waduk Koto Panjang. 

Adapun sungai-sungai yang mengalir di nagari Gunung Malintang ada 6 buah, yaitu Batang Mahat, Batang Malutu, sungai Pimpiang, sungai Luhu dan sungai Lowan. Sungai yang mengaliri di nagari Pangkalan ada 5, yaitu Batang Mahat, sungai Maik, sungai Manggilang, sungai Samo, dan sungai Kasok. Di nagari Koto Alam ada 3 sungai, yaitu sungai Air Gadang, sungai Air Koto Lamo, dan Batang Lui. Di nagari Gunung Malintang ada 2, yaitu Batang Manggilang dan Batang Malagiri. Di nagari Tanjung Balit ada Batang Mahat yang telah mengaliri  daratannya menjadi waduk. Sementara di nagari Tanjung Pauh ada 5, yaitu sungai Cilatio, sungai Permato, sungai Picang, sungai Angki, dan sungai Marang. 
Semuanya, sangat sempurna sebagai penopang kehidupan masyarakat Pangkalan yang diciptakanNya, masyarakat yang insya Allah tak lagi mendustakan nikmat yang di tebar oleh Penebar kasih sayang itu.

Waduk PLTA Koto Panjang di Ulo Kasok

Berangkat lagi.

Perjalanan di hutan Rantau Berangin
Beberapa saat setelah beristirahat, bang supir  menghidupkan mesin sebagai pertanda taxi akan segera berangkat. Musik-musik berirama minang mulai bergema kembali. Laruik sanjo, kampuang nan jauah di mato, uda pulanglah dan lain-lain yang judulnya tidak kami kenal.  Perjalanan masih jauh, kira-kira 260km lagi sampai tiba di Padang, atau 8 km lagi menuju Pangkalan dan 17 km lagi tiba di Payakumbuh. Perjalanan menembus hutan belantara dimulai dari hutan Rantau Berangin. Pohon-pohon tinggi yang menaungi jalan, terkadang terlihat burung terbang melayang di angkasa, kadang juga ada monyet hitam ekor panjang bergelantungan di cabang dan ranting pohon.
Jalan yang kami lalui mulai banyak bertemu dengan tanjakan dan tikungan mengikuti alur sungai. Di sisi kiri sungai Kampar mengalir tenang, adakalanya beriak pelan, adakalanya juga suara air berdesau mengalir deras diatas bebatuan ketika kontour sungai menurun tajam..
Rute 1 bagian 2
Bangkinang-Payakumbuh
Banyak pohon-pohon tinggi yang menjulang ke angkasa tumbuh subur di kiri-kanan jalan dengan dedaunannya yang lebat. Beberapa di antaranya telah berumur tua. Pohonnya besar, dengan kulit yang coklat tua bersisik tebal. Beberapa cabang dan rantingnya ada yang mati, kering tak berdaun. Akarnya  sebagian kelihatan menonjol kekar, sebagian lagi tertimbun dedaunan kering yang jatuh dan  berwarna kecoklatan. Sesekali juga terlihat dekat akar itu tanah berwarna hitam seperti aspal jalanan, yang menurut beberapa keterangan, mungkin saja itu adalah batu bara terpendam di sana.
Tugu Perbatasn Sumbar -Riau
Danau PLTA Koto Panjang di Ulo Kasok,
sebagian masuk Kabupaten Lima Puuh Kota
Taxi yang kami tumpangi mulai menanjak dan memindah gigi pemindah kecepatan mesin bergantian, gigi dua ke gigi tiga dan sebaliknya. Mesinnya berderum lebih keras, karena memerlukan tenaga dorong yang lebih besar ketika menanjak. Perjalanan banyak menenemui tanjakan, maklum karena posisi kontour daerah Pangkalan itu brervariasi dari 90mdpl ke 1200mdpl,

Kami pernah dua kali menjadi driver melewati daerah ini. Agak gamang juga membawa mobil disini. Pernah kami alami, naik taxi yang membawa kami ketika pulang ke Pekanbaru, bertemu daerah ini pada malam hari. Jalanan sangat gelap, tertutup oleh dedaunan pohon rindang yang tinggi. Penerangan jalan hanyalah bersumber dari lampu mobil. Kelihatan supirnya  berdoa khusuk dan membaca al Qur'an, Ayat Kursi dari surah Al Baqoroh. Kami juga turut berdoa, semoga perjalanan berakhir selamat.

Di kiri jalan ada jurang yang 75m dalamnya, dengan sungai Kampar ada di bawah. Di sisi kanan ada bukit dengan hutan lebat. Kami memasuki kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kampar di Propinsi Riau, yakni Kecamatan Limapuluh Kota, yang ibukotanya adalah Pangkalan Koto Baru, disingkat menjadi Pangkalan saja.
Jembatan di atas waduk PLTA Koto Panjang, sekarang.

Sepanjang perjalanan banyak melewati jembatan kecil, karena kabupaten ini banyak memiliki anak sungai yang berkuala di Sungai Mahat dan Sungai Batang Malintang. Kedua sungai ini berkuala pula ke Sungai Kampar, yang kini airnya dialirkan dan dikumpulkan menjadi danau pembangkit listrik turbin air PLTA Koto Panjang. Kehulu jembatan, sungai Kampar telah lenyap ditelan waduk.

Peta Pangkalan = lima Puluh Kota
Kembali ke situasi perjalanan, bang supir menjalankan mobil taxi dengan tenang dan penuh konsentrasi. Pangkalan telah dilalui dengan selamat dengan melewati hutan belantara Tanjung Pauh dan Tanjung Balit (sebelum ditenggelamkan waduk).
Tugu Khatulistiwa di Bonjol 
Di tepi jalan kelihatan Tugu Khatulistiwa di Bonjol, sebagai pertanda bahwa Sumatra Barat memang dilalui oleh garis edar matahari di lingkaran tengah globe bumi. Panas matahari siang terasa menggigit, terutama di daerah terbuka ketika hutan tidak melindungi jalan. Akan tetapi panas itu tidak terasa ketika di sisi kanan dan kiri jalan ada hutan dengan pemandangan yang memanjakan mata, bagi siapa saja yang melihatnya. Bisa jadi, bagi pengembara jalanan tugu khatulistiwa ini tidak kelihatan karena tidak memperhatikan atau lupa, atau karena tertidur kelelahan dalam perjalanan jauh. Namun, pemandangan di sisi-sisi kiri dan kanan jalan, tetaplah menghijau, disela-selanya ada rumah penduduk. Di desa ini kelihatan kebun atau ladang penduduk dengan pohon kelapa, pinang dan pohon-pohon  pendukung kehidupan pedesaan yang subur. 

Persiapan memasuki Kelok Sembilan.
Daerah Harau memperlihatkan tebing-tebingnya yang indah, sebelum melaju ke depan, ke kelok sembilan yang legendaris dan terkenal itu. Hutan yang rimbun menyambut taxi kami, sebelum mulai menuruni kelok sembilan, kelok yang pertama menuju Payakumbuh. Jurang yang dalam menganga di sisi jalan, dan tikungan yang tajam kami lalui dengan berhati-hati. Bang supir tentu saja sudah berpengalaman dan mahir bermanuver di tikungan kelok-kelok ini.  Kelok 9 lama dimulai dari atas, menurun mulai kelok sembilan dari arah Pekanbaru atau Pangkalan,
Dalam gambara ini terlihat kelok sembilan yang lama. lebarnya lebih kecil
Dalam gambar terlihat,
berakhir di kelok satu. Yang lainnya adalah kelok sembilan yang baru dan jalan yang lama terlihat lebarnya lebih kecil..
Kelok sembilan yang lama   ke arah Payakumbuh, tahun 1985
Di tikungan terakhir, kelok satu, sudah mulai berjumpa dengan warung-warung kecil. Kami tidak minta bang supir untuk berhenti sejenak, karena hari telah senja. Tikungan terpanjang di lalui, kemudian kecamatan Lima Puluh Kota pun kami tinggalkan.

Kelok 9 lama dan baru dipadukan...
Perjalanan di Ranah Minang berlanjut, kini menuju Payakumbuh kota batiah. Sebagian lagu-lagu minang kembali diputar bang supir, berdendang lembut dan riang gembira. Asyik juga, karena bukan lagu gundah gulana, tapi memuja budaya setempat.
Wahai pembaca, sebagian liriknya ada yang berbunyi:
"Baranak ampek .... den nanti juo...", masya Allah, sampai sedalam itu kiranya dendam kesumat cinta, sengsara dan merana badan, bisa jadi menanti dan sabar meunggu hingga lebih 6 tahun.
Tapi, apakah yang tidak mungkin demi cinta? Ketika cinta melanda, banyak waktu untuk tak bisa menggunakan akal sehat. Memang cinta tak bermain dengan akal, tapi bergelora dengan perasaan, kadang rindu tapi benci, kadang dendam amarah, tapi  hati memaafkan, apapun perilaku orang yang dicintai. Sang kekasih hati selalu dirindukan. Dekat terasa jauh, tapi jauh terasa dekat pula. Demikianlah keagungan cinta, cita rasa keindahan yang dianugerahkan tuhan kepada makhlukNya, manusia. Cinta itu memang melelahkan, tapi menyehatkan, menyakitkan tapi membahagiakan, dendam amarah tapi rela memaafkan. "Baranak ampek...den nanti juoooo...."...
Lembah harau, ketika memasuki Kota Payakumbuh
Berjumpa dengan Lembah Harau, di sisi jalan ketika taxi kami akan memasuki kota Payakumbuh. Jalan yang di lalui sudah agak lurus, sudah tidak banyak tikungan atau kelokan. Dinding lembah yang berupa tebing batu berwarna coklat muda, yang nyaris tegak lurus terlihat di kiri-kanan jalan. Ada beberapa rumah di bawahnya selain bentangan sawah yang tertata rapi, indah menghijau pahatan Ilahi Rabbi.

Ketika matahari senja tinggal sepenggalah tingginya, pukul 1600, kami memasuki kota Payakumbuh, ibukota Kabupaten Lima Puluh Kota. Lembah harau pun kemudian dilalui. Petani di sawah tidak lagi bekerja di sawah, tidak terlihat lagi kecipak cangkul membelah lumpur, menyiangi padi dari rumput liar. Kerbau pembajak sudah dipersiapkan untuk pulang. Margawatwa senja, tonggeret, telah bernyanyi menggantikan kicauan burung pagi hari.  Kota Payakumbuh sudah di depan mata. Selamat datang di Payakumbuh, begitu bunyi gerbang yang menyambut kami. Keramaian kota langsung terlihat. Bang supir kembali mebawa mobil dengan tenang dan berhati-hati, karena ramainya lalu lintas. Matahari senja dilindungi awan tipis, warnanya mulai memerah, pertanda senja akan menjemput malam.

Kota Payakumbuh terletak di daerah dataran tinggi yang merupakan bagian dari Bukit Barisan. Berada pada hamparan kaki Gunung Sago, bentang alam kota ini memiliki ketinggian yang bervariasi. Topografi daerah kota ini terdiri dari perbukitan dengan rata-rata ketinggian 514 m di atas permukaan laut. Wilayahnya dilalui oleh tiga sungai, yaitu Batang AgamBatang Lampasi, dan Batang Sinama. Suhu udaranya rata-rata berkisar antara 26 °C dengan kelembapan udara antara 45–50%.
Payakumbuh berjarak sekitar 30 km dari Kota Bukittinggi atau 120 km dari Kota Padang dan 188 km dari Kota Pekanbaru. Wilayah administratif kota ini dikelilingi oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Dengan luas wilayah 80,43 km² atau setara dengan 0,19% dari luas wilayah Sumatra Barat, Payakumbuh merupakan kota terluas ketiga di Sumatra Barat. 

Bang supir membunyikan klakson, karena jalan di depannya terhalang oleh mobil yang bergerak lambat. Setelah kendaraan yang di depan memberi kesempatan dan jalan menyalipnya terbuka, kamipun melaju terus utk menuju Bukittinggi.

Agar jangan terlalu panjang, mungkin saja agak lelah mata membacanya, kami sudahi dulu disini, nanti pada episode terakhir, Paya kumbuh - Bukit Tinggi - Padang, kita sambung lagi.
Gerbang Kota Payakumbuh.
Bagi yang ingin mendengarkan dendang minang yang mirip selama perjalanan, silahkan di putar di you tube: https://youtu.be/O0XyelYDIiI,

the end..  ns 11/12/19, ankid cicalengka raya 49






Selasa, 10 Desember 2019

Perjalanan Dinas 1: BANGKINANG, PANGKALAN KOTO

BANGKINANG, 
PANGKALAN KOTO
Bagian 1



Bangkinang, ibu kota Kabupaten Kampar, berjarak kurang lebih 63 km dari Pekanbaru ibu kota provinsi Riau. Ia juga sebagai ibu kota kabupaten yang berdekatan dengan ibu kota provinsi, dan menjadi daerah penghubung dengan Propinsi tetangga, Sumatra Barat. Mayoritas penduduk Bangkinang beragama Islam berlatar belakang budaya Minang dan Melayu. Tidaklah mengherankan, kalau masjid tertua di Riau ada disini, berumur ratusan tahun.
Islamic Center Bangkinang, Masjid Al Ikhsan Bangkinang
Kota ini juga memberikan alumni madrasahnya sebagai karyawan di Telkom Pekanbaru. Lima dari sepuluh karyawan bagian operasi kami adalah lulusan madrasah MTsN dari Bangkinang dan Air Tiris. 

Daerah ini awalnya merupakan bagian dari Sumatra Barat, tetapi setelah penjajahan Jepang, dengan pembagian distrik yang ditentukan oleh Jepang, Bangkinang dan Kabupaten Kampar dipindahkan ke dalam Propinsi Riau bersama  Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hulu. 
Rute 1 bagian 2
Bangkinang-Payakumbuh

Pukul setengah sepuluh kami sudah berada di kota Bangkinang ini. Cukup cepat, karena jalannya relatip lurus dan tanjakannya tidak ada yang curam. Kami tidak singgah, karena masih pagi, belum tiba saatnya makan siang. Beberapa sepeda, motor (kereta menurut istilah di daerah ini) dan mobil tampak parkir di sisi jalan. Saat itu, kira-kira tahun 1983, para wanita muslimahnya, memang masih belum banyak yang mengenakan hijab, hanya baju kurung saja, pakaian yang cukup sopan secara syar'i.
Sesekali ada bus yang membawa penumpang dari daerah-daerah sub-urbannya untuk datang ke kota, atau akan melanjutkan perjalanan jauh, ke Pekanbaru atau ke Padang. Ada juga truk yang membawa barang keperluan sembako dan lain-lain. Anak sekolah madrasah dan sekolah umum sedang belajar, sehingga kegiatan kota Bangkinang kelihatan agak sepi. Hanya ada kegiatan pedagang, ada yang sedang menerima sales, meladeni beberapa pembeli, ada pula yang sedang menyiapkan sarapan pagi, dengan kopi khas minuman daerah sini.

Perlahan dan hati-hati, bang supir membawa taxi di tengah kota dengan tenang, melewati Islamic Center, Masjid Al-Ikhsan. masjid yang menjadi lambang keagungan kabupaten Kampar. Dulu masih belum seindah ini, karena dibangun dengan multi-years project. Satu persatu tempat indah di Bangkinang dilewati, sampai jumpa batas kota, menuju propinsi Sumatra Barat. Kontour jalannya lurus, tidak banyak tanjakan atau penurunan. Kalaupun ada tanjakan, itu tak membuat taxi yang kami tumpangi melambat dan mesinnya berderam lebih keras karena memerlukan tenaga ekstra di tanjakan. Pohon pinang di sisi jalan selalu ada, karena sejarah penduduk Riau dan Minang yang selalu makan sirih merupakan bagian adat pergaulan di kala itu. Masih ingatkan lagu Sekapur sirih seulas pinang, bukan?

Perjalanan berlanjut. Kini memasuki hutan rimba kabupaten Kampar, yang mengarah ke Sumbar, Kota Pangkalan sebelum Payakumbuh. Dari Bangkinang ke Payakumbuh berjarak 131 km, mengikuti panjang jalan raya yang berbelok ke kiri dan berbelok ke kanan, lurus, menurun dan ataupun mendaki. Sebenarnya secara line-of sight (pandangan garis lurus yang ditarik di peta) jarak fisiknya hanya 77 km saja.
Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang seperti keberangkatan kami. dari Pekanbaru

Pintu masuk jalan terowongan
Relief-relief dalam terowongan


Dalam perjalanan, taxi-taxi ini akan berhenti dan bertemu di  Rantau Berangin. Kota dekat Perbatasan Riau-Sumbar, masih daerah Kecamatan Koto Panjang yang bernama Tanjung Pauh, Kuok. Tempat pemberhentian istirahat bagi supir taxi dan penumpang. Berada di tengah rimba belantara, ditepi sungai Kampar, di tengah hutan rimba lebat pegunungan Bukit Barisan. Kini menjadi sebuah objek wisata sejarah yang terletak di Desa Merangin, Kecamatan Kuok Kabupaten Kampar. Dari Bangkinang, jalan harus melalui terowongan yang berjarak lebih kurang 
25km. Setelah melewati beberapa desa, di depan telah menanti jalan yang memasuki terowongan.  Lokasinya terlihat jelas di depan jalan. Bang supir bersiap memasuki terowongan. Lampu dinyalakan dan aba-aba atau klakson dibunyikan, lampu jauh dikedap-kedipkan, agar ketahuan jika ada mobil lain yang sedang melintas berlawanan dari arah depan. Biasanya diatur, masuk dan keluar mobil secara bergantian. Karena tak ada kode bunyi klakson balasan, dan tak ada kode cahaya lampu dimmer berkedip sebagai balasan, bang supir membawa kami segera masuk. Di tengah-tengah terowongan gelap, ketika mobil kami lewat, banyak kelelawar terbang berhamburan dari sarangnya.  


Pintu Keluar Terowongan
Relief-relief terowongan disorot lampu mobil jelas kelihatan, dan tahun pembuatannya, masih kelihatan, tahun 1929, juga menempel di dinding terowongan. Beberapa tempat ada genangan air, tapi tidak menjadi berlumpur, karena memang beralaskan batu terowongan. Bang supir tidak menyalakan tape utk memutar lagu-lagu, karena di terowongan ini suara akan bergema.  Setelah keluar dari terowongan, sungai Kampar terlihat di sebelah kiri. Hutan yang subur dan lebat, hutan rimba Sumatra yang terkenal itu menaungi jalan dengan pohon-pohon besar. Saking lebatnya, diatas jalan ranting dan dahannya banyak yang bersambungan di atas jalan, sehingga membentuk gerbang jalan yang berpayung hutan. Beberapa desa kami lalui dan akhirnya terdengar sayup-sayup suara aliran sungai Kampar, desiran lembut suara air mengalir di kiri jalan. Ada beberapa tanjakan dan jembatan kami lalui.
Sungai Kampar di sebelah Kiri pintu keluar terowongan.
Di kejauhan tampak bendungan PLTA Kotopanjang

Selama satu jam setengah kami melipir dari Bangkinang hingga tempat ini. Lalu kamipun beristirahat di daerah pemberhentian taxi dan bus di Rantau Berangin. Rumah makan kampung yang terkenal saat itu adalah rumah makan Densiko, termasyhur  dengan gulai ikan emas, ayam goreng serundeng, telor dadar, dendeng badariak, sayur lalap, sambal hijau, daun ubi rebus, selain rendang minang yang legendaris dan masakan lain-lain yang lezat cita rasanya. Kini rumah makan itu telah ditenggelamkan bersama kampung tempat peristirahatan itu. Ujung jalan setelah terowongan terputus di tembok bendungan PLTA Koto Kampar itu.

Pada saat kami bertugas di Pekanbaru, kamipun sudah mendengar tentang PLTA ini. Cuma waktu itu kamipun tidak tahu batas-batas perencanaan danau PLTA Koto Panjang itu. Kami juga sering membayangkan, ketika lewat terowongan, andai kata bendungan di buat lebih ke hilir sungai Kampar, maka bendungan akan menelan terowongan, dan jalan akan beralih ke arah Pasir Pengarayan. Dalam kenyataan, bendungan dibangun sebelum terowongan, jalan baru di buat diatas terowongan. sampai melewati bendungan. Terowongan itu kini menjadi objek wisata terkenal di Bangkinang, Riau.
Setelah keluar dari pintu terowongan,
jalan lama berakhir disini, 

Pada musim kemarau, air danau surut, ujung dahan dan ranting yang belum membusuk, terlihat muncul kepermukaan. Jika kemarau berkepanjangan, air penggerak turbin tidak cukup debitnya, dan pembangkit listrikpun mungkin saja di matikan sebagian atau bahkan seluruhnya. Tapi pada musin penghujan, air bisa melimpah, bahkan 5 pintu-pintu spill-over tak mampu melepaskan air ke hilir. Kalau sudah begini tak jarang membuat banjir di hilir, termasuk di kota Bangkinang. Kalau sebelum PLTA dibangun, hutan sawit belum meraja lela seperti sekarang ini, debit air sungai Kampar itu relatif stabil. Kecuali kalau musin hujan yang berlebihan, bisa membawa bencana banjir dihilir, di sekitar Bangkinang. Dan dalam kenyataannya, kota Bangkinang itu dikelilingi oleh danau, sungai dan kolam-kolam bekas galian.

Setelah selesai istirahat dan makan siang, hari telah menunjukkan pukul 1230 menjelang senja. Kami melaksanakan shalat zuhur di jamak dengan asar, di musholla sederhana yang disediakan oleh masyarakat setempat. Airnya bersih, bersumber dari mata air. Kami tak lupa berdo'a, semoga nanti setelah berwudlu dan shalat, air dan hati kami bersih pula adanya. Demikian juga badan sudah bertambah segar, sebagian kelelahan telah pulih, siap melanjutkan perjalanan yang masih jauh ke tujuan, Padang kota idaman.

Jembatan Rantau Berangin lama di atas Sungai Kampar.
Inilah jembatan indah Rantau Berangin dan hutan yang menghubungkan kedua sisi sungai Kampar. Kami akan melewati ini, sebelum lanjut ke Propinsi tetangga, di Kabupaten Lima Puluh Kota.  Hutan Lebat disekelilingnya membuat mata kita yang melewatinya sejuk, nyaman dan menenangkan hati. Semuanya berkat karuniaNya, Pemilik Alam Semesta, Ilahi Rabbi.***

Perjalanan berikutnya akan di sambung pada bagian 2.




Selasa, 03 Desember 2019

Menyusuri Jalan lintas Pekanbaru - Padang.

Perjalanan Menyusuri Sumatera Bagian Tengah, Pekanbaru - Padang

Rute lintasan Darat Pekanbaru - Padang.
Tulisan ini menceritakan pengalaman perjalanan dinas dari Pekanbaru-Riau ke Padang-Sumatra Barat, perjalanan lintas provinsi. 
Selain rute dengan pesawat, ada tiga rute lintasan yang banyak dilalui untuk keperluan perjalanan Pekanbaru-Padang atau sebaliknya. Baik itu perjalanan dinas, turis lokal, maupun turis manca negara. Rute satu adalah rute yang terpendek waktu 7 jam 2 menit dan jaraknya 311km, yakni: Pekanbaru, Bangkinang, Tanjung Pauh, Kelok 9, Andalas, Payakumbuh, Padang Panjang, Bukittinggi dan Padang. Rute yang kedua, adalah lintasan Pekanbaru, Bangkinang, Kuok, Tanjung Pauh, Kelok 9, Andalas, lalu mengambil jalan ke arah Danau Singkarak, Solok, Cupak, lanjut ke Padang melaui tanjakan atau penurunan Sitinjau Lawuik. Tergantung dari arah mana melihatnya. Jika dari arah Padang, maka Sitinjau Lauik ini adalah tanjakan maut, tapi jika dari arah Solok, ini merupakan penurunan maut juga. Sedangkan rute lintasan ketiga adalah yang paling seru dan jauh, adalah rute yang melewati Taluk Kuantan, desa Lanki, kemudian bertemu dengan pertemuan simpang tiga dari arah Sawah Lunto, lanjut ke Solok dengan lintasan yang sama, via Sitinjau Lauik. Penulis hanya memnceritakan rute satu dan rute dua. Rute pesawat tidak banyak yang akan diceritakan, selain waktunya sangat pendek, hanya 20 menit saja. pandangan dan pengelihatan pun terbatas.

Rute satu Pekanbaru-Padang

Rute 1 Pekanbaru - Padang- via Padang Panjang.
Tulisan ini seakan-akan bersenandung dengan cerita tentang perjalanan dengan taxi. Taxi Legendaris Pekanbaru-Padang pp, merek HOLDEN Buatan Australia.


Jenis Mobil Holden Taxi Pekanbaru - Padang
Dalam gambar dibawah terlihat mobil jenis taxi Holden yang sejenis taxi Pekanbaru-Padang. Jarang sekali ada yang baru, semuanya mobil bekas, buatan tahun tahun 80an ke bawah. Penumpangnya lima orang, dua orang di depan bertiga dengan supir, di barisan kedua bangku belakang bisa tiga orang. Bagasi lumayan besar. Sebenarnya taksi ini cukup nyaman, handal dan stabil, kecuali kalau sudah ada bagian yang bocor dari mesin ke runag penumpang atau peredam kejutnya (shock breaker) yang sudah tidak sempurna. Jika bagian dari mesin ada yang bocor ke ruang penumpang, asap mesin yang masuk ke 

ruang penumpang ini tidak enak untuk pernafasan, terkadang menyesakkan.

Dalam perjalanan terasa sangat nyaman dengan taxi ini, juga gerakannya yang stabil dan lembut, karena cc mesin dan bodinya yang besar. Jika jalan yang dilalui nya kurang mulus, ketika shock braker taxinya sudah tidak berfungsi dengan baik, maka terasa sangat melelahkan dalam kendaraan ini.

Inilah penggalan cerita dan latar belakang perjalanan Pekanbaru-Air Tiris-Bangkinang. Penggalan cerita berikutnya adalah Perbatasan Riau, Tanjung Pauah, Kelok 9 dan Payakumbuh, Payakumbuh-Bukitinggi dan terakhir Bukittinggi-Padang panjang  terus ke Padang. Inilah penggalan pertama.

Lintasan Pekanbaru, Air Tiris dan Bangkinang

Pekanbaru, kota yang terkenal dengan budaya Melayunya, dengan lambang proinsinya adalah Lambang Perahu Lancang Kuning. 
Disana, dari jauh, sayup terdengar, lamat-lamat, seakan-akan ada dan tiada, hilang lalu terdengar lagi. Suara azan subuh menjelang pagi hari. Pertanda orang harus siap membuka hari, menanti mentari menggantikan malam dengan siang, yang didahului embun pagi.

Pagi yang indah
Pohon pinang yang tinggi di sekitar jl. Mangga, samar-samar terlihat matahari mengintip dari balik daunnya dan  dedaunan pohon-pohon lain, pertanda hari sudah menjelang siang. Pucuk daun pinang yang baru keluar dari pelepahnya, merekah berwarna kuning cerah ke hijau-hijauan masih samar dan belum terlihat. Begitu pula dengan tandan buahnya yang telah ranum, berwarna merah tua cerah, masih kelihatan hitam di kegelapan pagi menjelang siang. Burung-burung tekukur telah bangun dan mulai benyanyi satu persatu, entah dari pohon yang mana,  membangunkan ummat yang masih terlena di tempat tidur untuk segera bangun, mengais rezeki, anugrah Ilahi.

Penulis bangun dari peraduannya, mengemas surat-surat, pakaian untuk dua hari dan tas seperlunya. Mungkin begitu juga anggota rombongan lain yang akan berangkat. 
Kami berlima berangkat, penulis, pak Muharudin (almarhum), Arief Sugihardi (Bagin Keuangan), Pak Herman (Dinas Teknik dan Umum, sudah almarhum juga), Pak Ali (Dinas Operasi) harus menghadiri RAKER di WITEL II Padang, untuk menentukan RAPB tahun 1985. Pukul 0700 teng, pak Anwar, Siddik, supir kantor yang sudah siap mengantar kami ke tempat taksi, datang ke rumah dan menjemput yang lain.

Taksi Pekanbaru-Padang waktu itu adalah taxi bermesin diesel, merek HOLDEN, 2500 cc buatan Australia. Saat itu kami mendapatkan taksi yang lumayan bagus, taxinya mempunyai bodi, shock breaker dan sound sistem yang baik. Pak Arif Sugihardi biasanya membawa kaset-kaset yang bernada jass, karena kalau nada melow memang tidak enak di dengar dalam perjalanan dengan taxi.


Bus Sinar Riau yang legendaris, ada lirik lagu khusus

Bang supir juga menyediakan kaset-kaset yang khas melayu dan minang. Dari Pekanbaru sampai perbatasan dengan Sumatera Barat, bang supir memutar kaset dengan lagu-lagu melayu non-dangdut, seperti lancang kuning, nirmala, sekapur sirih, timang-timang, rantak dua belas, diselingi lagu "SINAR RIAU" dari penyanyi minang legendaris, Elly Kasim. Walaupun saat itu tidak dapat menikmatinya dengan baik.

Setelah kami naik ke mobil, barang-barang bawaan sudah masuk bagasi, bang supir menghidupkan mesin, memasukkan gigi terendah untuk mulai bergerak ke depan. Ia melihat kearah kanan belakang sambil menghidupkan lampu sain kanan, perlahan-lahan masuk ke jalan Sudirman, dan sambil waspada, ia memindahkan roda gigi pengatur kecepatan ke kecepatan normal dalam kota, gigi tiga atau empat. Dengan kecepatan normal ini, taxi melaju melewati toko-toko kiri kanan jalan, pasar pusat, Kantor Gubernur Riau yang megah,  dan mengarah ke Tangkerang. Musik melayu mulai berdendang, Lancang Kuning disambung dengan Nirmala dan Bunga Seroja. Sebelum Bandar Udara Simpang tiga kami membelok ke arah kanan, masuk jalan Arifin Ahmad yang sedikit menanjak dan di persimpangan depan, belok ke kiri, masuk jalan Sukarno Hatta, di perempatan berikutnya kami belok kanan memasuki Jalan Raya Pekan. Lalu menyusul perempatan ke arah Talu dan Bangkinang, masuk ke Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, di daerah yang bernama Tampan.
Ini gambaran bagaimana sebenarnya perjalanan itu, ada yang lurus, ada yang belok ke kanan dan ada pula yang belok ke kiri. Ada yang datar, ada pendakian dan ada pula penurunan.
Mengarah ke Bangkinang, hutan belantara menyambut kami. ada satu dua rumah dipinggir jalan, berjarak satu sama lain yang cukup jauh. Di pingir jalan di kiri, ada rumah makan khas ikan patin, udang sungai dan burung puyuh sebelum mendapatkan Rimbo Bujang. 
Taxi melaju terus. Jalanan sepi, sesekali berselisih dengan mobil bus, angkutan pedesaan atau taxi jarak dekat. Belum kelihatan taxi yang datang dari Padang, karena biasanya mereka berangkat pagi, pukul 0800, sama juga dengan taxi yang dari Pekanbaru seperti keberangkatan kami. Dalam perjalanan, taxi-taxi ini akan berhenti dan bertemu di  Rantau Berangin. Kota dekat Perbatasan Riau-Sumbar, masih daerah yang bernama Tanjung Pauh, tempat pemberhentian istirahat bagi supir taxi dan penumpang. di tengah rimba belantara, rimba lebat Bukit Barisan, setelah melewati terowongan Koto Kampar. Rumah makan kampung yang terkenal saat itu adalah rumah makan Densiko, termasyhur  dengan gulai ikan emas, sayur lalap, sambal hijau, daun ubi rebus dan lain-lain.

Tak lama kemudian, taxi kami sudah mendekati jembatan, yang dikirinya adalah sungai Kampar dan di sebelah kanannya ada kolam atau rawa yang penuh dengan tumbuhan air, seperti enceng gondok, nipah dan lain-lain. Gerbang Air Tiris sudah dimasuki Ini berarti jarak ke Bangkinang tinggal 27 km lagi, sesuai batu petunjuk di sisi jalan. Dibaliknya ada rumah yang besar, tapi kelihatan samar-samar. Dari perbincangan dengan pak Muhar (yang paling senior di antara kami) itu adalah pesantren, yang beliaupun tidak mengetahu namanya, pesantren apa. Mungkin inilah pesantren yang kini beralih nama menjadi menjadi Pondok Pesantren Assalam Naga Beralih namanya kini, wallohu aklam bis sawab.

Taman Enceng gondok Pinggir jalan Pekanbaru Bangkinang, terlihat indah, walau dari kejauhan dan dari dalam taxi yang melaju dengan kecepatan 60 km perjam. Tak lama kemudian kami tiba di Bangkinang, akhir perjalanan untuk memulai memasuki wilayah Sumbar yang indah, dari Bangkinang Riau lalu ke Payakumbuh. Lagu Sinar Riau dari Elly Kaim berakhir disini. tapi kami tidak berhenti di Bangkinang, ....


kita sudahi dulu disini, nantikan kami di seri Riau, Kelok Sembilan dan Payakumbuh berikutnya. Bagi yang ingin melihat bgmn keqadaan Bankinang, sebagian, dapat dilihat di video ini,

the end..




























Kamis, 21 November 2019

PERJALANAN DINAS PEKANBARU, RENGAT DAN TEMBILAHAN

Perjalanan Dinas Pekanbaru, Rengat danTembilahan


Ada lima kali kami ke Tembilahan dan Rengat ini. Yang pertama dan yang kedua adalah perjalanan Dinas bersama Psikolog dari Padang, untuk mengetest psikologi calon satpam di Tembilahan, yang ketiga dalam rangka pengawasan teknik pesawat morse dan operasional rutin, yang keempat memasang kanal-kanal VFT (Voice Freqwency Telepgrap) di Tembilahan.yang kelima memasang sistem alarm signal VFT yang terganggu buatan team teknik Pekanbaru sendiri. test penyambungan mesin telex (teleprinter exchange, komunikasi text real time via mesin teleprinter dengan sistem akses by dialed, telex signaling system CCITT) di setiap perbankan, BRI di Tembilahan dan menyusul BNI,  terakhir di Rengat ada BRI dan BNI. Kedua Peta ini menunjukkan rute perjalanan itu. 

Peta Perjalanan Pekanbaru, Rengat, Tembilahan
Untuk menghindari waktu perjalanan yang panjang, 7 jam 40 menit, biasanya kami menggunakan pesawat udara, Pekanbaru - Rengat dengan pesawat kecil, 30 menit, muatan 14 penumpang termasuk pilotnya. Kami turun di laparang terbang Rengat, Japura Airport. Kalau ada pertemuan dengan pelanggan di Rengat, biasanya kami jumpai setelah dari Tembilahan, sambil menunggu pesawat tinggal landas esok harinya dari Rengat ke Pekanbaru.

Perjalanan Dengan Speedboat.

Ada nota dari WITEL II, agar segera menemani Ibu Psikolog dari Padang Ke TEMBILAHAN. Kami diperintahkan untuk menemani dan mengawal beliau sampai di Tembilahan, dan kembali lagi ke Pekanbaru, dalam rangka mengetest calon SATPAM Telkom di Tembilahan. Di Pelabuhan udara Simpang tiga, beliau ibu psikolog telkom ini, menginap dulu semalam di Hotel, karena harus menyesuaikan dengan jadwal keberangkatan pesawat ke Rengat.****

Pagi sekali, pak Anwar supir kantor sudah menjemput ke rumah di Jl. Mangga. Selanjutnya menjemput ibu Psikolognya di Mess TELKOM Jl. Merbabu, melaju ke arah Lepangan Terbang di Simpang Tiga. Tiket sudah diurus oleh karyawan yang ada, dan kami tinggal cek in saja.

Terbang dengan pesawat kecil, kru pesawat dirangkap oleh pilotnya, atau teknisinya kalau ada. di udara kami hanya melihat titik-titik kendaraan yang melaju dari Pekan baru - Taluk kuantan, atau taluk kuantan ke Air Molek.  Juga kota Rengat ke hulunya terlihat sungai kampar dan kearah hilir, kearah kota Tembilahan, terlihat bagian dari taman nasional Bukit 30, hutan belantara dan sedikit ada danau yang membiru, ditengah hutan belantara itu.
Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Kala itu belum ada hutan kelapa sawit. Sayup-sayup dari udara.terlihat pula kota Taluk Kuantan, dan beberapa perahu di Sungai Kampar, kota dan sungai yang terkenal dengan pacu jalurnya.  Setelah setengah jam di udara, kami mendarat di Bandara Kota Rengat, JAPURA.Dengan taksi lokal kami bergerak ke arah Air Molek menyeberang sungai dengan berjalan kaki ke seberang melewati jembatan darurat, dimana Speedbaot yang membawa kami ke Tembilhan menunggu di sana.






Perjalanan Air Molek - Tembilahan dengan speedboat

Ketika itu, sekitar tahun 1985, perjalanan darat ke Tembilahan belum ada, satu-satunya adalah lintas sungai Batang Indragiri dari Air Molek dengan speedboat, atau lewat laut lepas, dari Batam, Tanjung Pinang, atau kota-kota di kepulauan sekitarnya.
Jembatan Baru Air molek Dusun Tua - Rengat.
Dibelakangnya terlihat dermaga speedboat
Dengan adanya lintas Darat Pekanbaru Tembilahan penyeberangan dengan kapal tunda sudah tidak ada, 

Jembatannya Dari Dusun Tua Air m
Molek ke arah Rengat bisa terlihat seperti ini. Dibelakangnya ada pelabuhan speedboat, mungkin masih ada yang menggunakannya. Biasanya kami menunggu hingga penumpang penuh, sambil menikmati penyeberangan bus dari arah Air Molek Ke Rengat dangan kapal penyeberangan di Dusun Tua.  

Karena perlu waktu yang lebih singkat, kami memborong sebuah speedboat dengan tiga penumpang, kami berdua bersama ibu psikolog dan seorang lagi penumpang lain yang setuju memborong, walau ia berkeberatan menambah biaya selain biaya satu orang penumpang. Kamipun memborong sisa tempat duduk penumpang yang 5 orang lagi. dan berangkat. 
Pelabuhan Lama di tepi Sungai.

Karena masih ada penumpang yang memaksa ikut, walaupun sudah kami borong, pengemudi speedboat tanpa bertanya kepada kami apakah boleh menaikkan penumpang, dengan seenaknya saja ia menaikkan penumpang. Tak lama kemudian, mesin speed boat dihudupkan, haluannya diarahkan driver ke hilir, menuju Tembilahan dan perlahan bergerak meluruskan arah speedboat dengan sungai untuk kemudian meningkatkan kecepatannya, meninggalkan pelabuhan lama Dusun Tua. Speedboat terus melaju,  berbelok kiri dan kanan, lurus mengikuti alur lintasan sungai, menghindari penghalang pohon yang menjorok kesungai, sampai akhirnya  mendarat di Pelabuhan Lama Tembilahan. 

Beginilah Speedboat Airmolek - Tembilahan
Dari sisi speedboat yang terlihat adalah hutan belantara dan hutan kelapa, Hutan belantara ini adalah bagian dari taman Nasional  Bukit 30. Hutan kelapa yang di antaranya banyak sungai-sungai, yang menurut istilah orang di sana adalah parit-parit. Konon parit-parit ini diperlukan untuk mengairi perkebunan kelapa yang sangat luas. Perkebunan kelapa di Kabupaten Tembilahan, termasuk Kuala Enok, adalah  perkebunan kelapa terluas yang ada di Indonesia dan dunia.
Kebun Kelapadi sepanjang lintasan sungai Kampar
Di sepanjang sungai yang kami tempuh, ada pula desa-sesa kecil, selain Tempuling. Jika ada telegram yang harus ditujukan atau diantarkan kesana, kami hanya menitipkan kepada petugas telegrap Rengat utk dititipkan kepada Kepala Desa di Tempuling, lalu kepala desa inilah yang berinisiaptip mengantarkannya ke alamat, yang hanya dia yang mengetahuinya. Ada kalanya sampai, ada pula kalanya tidak. Tidak terbayangkan ketika itu, kalau sakit, berapa lama mereka akan mencapai kota Rengat?
Bakau sungai, ketika air surut
Karena memikirkan hal tersebut, dan indahnya perjalan sungai yang lebar, di sisinya banyak terlihat rawa dan pohon bakau, banyak pula burung beterbangan di udara. Sesekali kelihatan juga monyet, lalu tibalah kami di Tembilahan setelah 90 menit menyusuri sungai. .
Ketika itu air sedang surut, kami harus mendaki tangga khusus dari speedboat ke darat, yang kalau kurang lihai atau kalau sudah tidak terlatih, bisa jatuh terjerembab ke tepi sungai. Untungnya banyak petugas yang suka rela menolong, begitu pula petugas TELKOM yang telah diberitahu, datang menjemput kami.

Seperti inilah pelabuhan speedboat di Tembilahan, dulu

Pengalaman yang mengerikan.

Perjalanan ketiga masih menemani ibu Psikolog, perjalanan ke empat memasang Alarm sistem VFT, kami pulang berpisah dengan team teknis, pulang sendiri. Kebetulan sungai lagi surut, driver speedboat harus super hati-hati terhadap adanya pohon yang terendam dalam air yang tidak terlihat. Benar saja, di tengah perjalanan, di sisi kiri dan kanan kelihatan akar pohon bakau yang muncul, dan lebar sungai menyusut. Dengan kecepatan sedang saja, speedboat melaju dengan tenangnya, sangat berhati-harti sambil meyakinkannya walaupun tidak terlihat adanya batang pohon yang terendam dalam air. Tetiba, speedboat mendongak keatas, hampir saja semua terlempar ke sungai, tapi alhamdulillah, driver speedboatnya rupanya telah berpengalaman, mesin langsung dimatikan, sehingga speed boat tidak terbalik serta tidak terlalu jauh menggeser dari arah tujuan. Mesin yang mati dibiarkan dulu agar semua tenang, didayung ke tepi. Setelah tenang, dan setelah semua penumpang diperiksa dan lengkap, mesin speedboat dihidupkan kembali, lalu mengambil posisi ke arah Air Molek, melaju dengan tenang dan tiba dengan selamat di Dusun Tua Air Molek. Demikianlah, tidak banyak yang dikisahkan lagi untuk perjalanan selanjutnya.

Peta Lokasi Kantor Telkom Tembilahan

Sebagai Tambahan, kami lampirkan alamat kantor Telekom terkahir di Tembilahan.